web hit counter

Mengalahkan Gadis Bagian 2 Part 9

0
468

Mengalahkan Gadis Bagian 2 Part 9

What’s Wrong With Me?

POV Indah

“Uuuugggghhhh,, hoaheemmmm…”

Mataku mulai terbuka karena merasakan cahaya matahari menembus jendela dan menerangi kamarku. Aku meraih ponselku, 07.40, huft sudah siang rupanya. Dan sekarang aku masih malas sekali untuk bangun. Ini hari minggu, ingin rasanya aku menghabiskan hari ini dengan bersantai dan memanjakan diri, seperti yang kulakukan kemarin.

Kulihat ada beberapa notifikasi di ponselku. Kuusapkan jariku perlahan di layar cantik itu, scroll terus kebawah untuk melewatkan beberapa chat dari grup yang kukira tak begitu penting. Hampir kutaruh lagi ponselku saat tiba-tiba ada sebuah pesan yang baru masuk. Tertulis nama Mbak Ara disana.

Hey cantik, bangun! Sibuk nggak hari ini?

Aku tersenyum membacanya. Hey cantik, selalu begitu Mbak Ara kalau menyapaku tiap kali chatting. Aku memang sudah sangat akrab dengannya, seperti saudara saja. Mungkin karena aku yang tak pernah punya kakak, dan dia yang tak pernah punya adik, yang membuat kami bisa sedekat ini. Hmm, dia menanyakan aku sibuk apa nggak, pasti diminta main ke rumahnya deh.

‘Iya Mbakku sayang, aku udah bangun kok. Masih ngulet-ngulet manja ini, hehe. Kayaknya nggak Mbak, gimana?’

Tak lama kemudian masuk lagi balasan dari Mbak Ara.

Huu baru bangun pasti. Subuhan nggak tadi?

‘Subuhan kok Mbak, tapi abis itu tidur lagi, hehe.’

Hadeeh dasar kamu tuh. Eh Ndah, kamu dicariin Ardi tuh, sama ayahnya juga, haha.

Tuh kan bener. Rupanya dia nagih janjiku. Minggu kemarin aku sebenarnya sudah diminta datang ke rumahnya, tapi aku beralasan sudah ada janji, padahal seharian aku hanya di rumah saja. Aku menolak karena masih enggan ketemu sama Mas Budi. Sejak kejadian 2 minggu yang lalu di pantai itu, aku benar-benar merasa nggak enak sama Mbak Ara, juga merasa canggung sama Mas Budi.

Karena itulah aku menjanjikan kepada Mbak Ara minggu ini aku akan kesana, dan ternyata hari ini dia menagihnya. Aku sebenarnya masih canggung, tapi nggak enak kalau harus menolak lagi. Nanti bisa-bisa Mbak Ara malah curiga ke aku. Ya sudah lah, mau nggak mau hari ini aku harus kesana.

‘Iya Mbakku, entar aku kesana. Aku juga udah kangen kok.’

Kangen sama siapa nih? Ardi apa ayahnya? Haha.

Duh Mbak Ara ini, malah ngegodain gini sih. Nggak tahu apa aku ngerasa nggak enak banget sama dia.

‘Ya sama Ardi lah, masak sama ayahnya. Entar kalau aku kangen sama ayahnya, bisa kena amuk sama bundanya, hehe.’

Kalau yang kangen kamu sih, bundanya nggak akan ngamuk kok Ndah, haha.

Aku baca itu malah senyum-senyum sendiri. Entah kenapa, setelah kejadian 2 minggu yang lalu itu, meskipun merasa begitu nggak enak sama Mbak Ara dan Mas Budi, tapi aku terus terusan kebayang wajah Mas Budi, dan kebayang kejadian itu, kebayang ciuman pertamaku.

Eh, duh Indah, mikirin apa sih. Itu bukan ciuman, itu cuma, hnng, sentuhan bibir. Iya bener, sentuhan bibir yang nggak disengaja sama sekali. Nggak boleh, aku nggak boleh mikir kayak gitu lagi. Mas Budi itu suaminya Mbak Ara, orang yang udah aku anggap sebagai kakakku sendiri.

‘Haha Mbak Ara bisa aja. Yaudah Mbak, aku mandi dulu ya.’

Iya Ndah, abis itu dandan yang cantik ya, haha.

‘Nggak usah dandan ah, udah cantik kok, weeek. Mbak masak apa hari ini?’

Haha dasar anak kost. Tenang aja, Mbak udah masakin kesukaan kamu, makanya buruan kesini, keburu dingin.

‘Asyiiik. Tunggu aku ya Mbak :*’

Iya cantik :*

Kuletakkan kembali ponselku, lalu menggeliat sebentar sebelum kupaksakan badanku untuk bangun. Namun belum sempat aku beranjak dari tempat tidurku ini, tatapanku tertuju pada sebuah foto yang tergantung di dinding. Sebuah foto usang yang masih terbingkai dengan rapi. Foto usang? Ya, karena di dalam foto itu aku masih sangatlah kecil, berdiri di tengah kedua orang tuaku. Foto itu diambil saat kedua orang tuaku masih bersama, beberapa bulan sebelum perceraian mereka.

Huft, aku jadi teringat masa-masa itu. Masa dimana kehidupan begitu keras untuk aku dan ibuku jalani. Masa dimana aku merasa begitu bangga dengan ibuku, sekaligus masa dimana aku begitu membenci ayahku. Dan kini, setelah aku mendengar dari Mbak Beti bagaimana kelakuan ayahku selama ini, bertambahlah rasa benciku kepadanya.

*****

Saat itu aku masih kecil, masih belum cukup mengerti dengan apa yang terjadi dengan kedua orang tuaku. Belum cukup mengerti dengan masalah-masalah yang dihadapi oleh orang dewasa, dan belum mengerti arti sebuah perceraian. Yang aku tahu adalah, pada akhirnya ibuku membawaku pergi meninggalkan ayah seorang diri.

Ibu dan ayahku memang sudah tinggal berjauhan bahkan sebelum mereka menikah. Meskipun ibuku asli berasal dari kota ini, namun karena pekerjaan dia harus ditempatkan di kota lain. Sedangkan ayahku yang saat itu ditugasi untuk mengurus penginapan di salah satu kawasan wisata di pantai selatan, menolak untuk ikut pindah bersama ibuku.

Sampai sekian tahun lamanya, aku hanya sesekali saja bertemu dengan ayahku, paling banyak setahun 4 kali. Setiap kali bertemupun tak pernah lama, paling hanya seminggu. Sejak SD aku merasa iri pada teman-temanku karena mereka sering diantar jemput oleh ayah ibunya. Aku memang setiap hari diantar oleh ibu, namun pulangnya Mbok Ijah, pembantu kami, yang menjemputku.

Namun saat aku menginjak kelas 4 SD, ayahku sama sekali tak pernah datang lagi menemui kami. Saat itu aku bertanya, dan ibu hanya menjawab, “Ayah masih sibuk banget sama kerjaannya nak, nanti kalau udah senggang pasti kesini kok”. Saat itu aku percaya saja, aku masih terlalu polos untuk memprotes ataupun mempertanyakannya lagi.

Saar aku menginjak SMP, mungkin karena ibu merasa aku sudah bisa lebih berpikir dewasa, barulah ibu menceritakan yang sebenarnya terjadi. Dengan berhati-hati ibu mengatakan padaku bahwa mereka telah berpisah, dan tak mungkin bisa bersama lagi, mereka telah bercerai.

Awalnya aku tak bisa menerima keadaan ini, karena yang aku tahu selama ini ayah dan ibuku baik-baik saja, lalu kenapa bisa sampai bercerai seperti itu? Berulang kali aku bertanya alasannya, namun ibu hanya menjawab tidak ada lagi kecocokan diantara mereka. Tak terima dengan jawaban seperti itu aku terus mendesaknya, dan beliau hanya mengatakan, “Suatu saat kamu akan mengerti nak.”

Aku marah, aku benar-benar tak terima dengan keadaan ini. Berbagai hal buruk masuk ke pikiranku. Bagaimana aku harus menjawab kalau ada temanku yang menanyakan tentang keluargaku? Bagaimana pandangan teman-teman terhadapku kalau mereka tahu kedua orang tuaku telah bercerai? Memikirkan hal-hal itu membuat otak remajaku kalut. Aku bahkan sampai tak masuk sekolah beberapa hari.

Perlu waktu yang tidak sebentar bagi ibuku untuk membujukku. Beliau bahkan sampai mengambil cuti hanya untuk memberiku pengertian. Dengan dibantu oleh Mbok Ijah, akhirnya aku luluh juga. Melihat bagaimana jerih payah ibu selama ini menghidupiku, membuatku bisa memaafkannya, bisa menerima kenyataan yang harus aku hadapi. Disisi lain, membuatku mulai membenci ayahku, dan tak lagi peduli beliau mau menemuiku atau tidak.

Aku bangga dengan ibuku yang bersusah payah membanting tulang untuk menghidupi kami. Setiap senin sampai jumat, ibu bekerja dari pagi hingga petang. Bahkan kadang lembur sampai malam. Meski begitu ibu tak pernah melewatkan perkembanganku. Setiap pulang kerja, beliau selalu menanyai tentang hari-hariku. Setiap akhir pekan, kecuali ada acara yang benar-benar penting, ibu selalu menghabiskan waktunya denganku. Bahkan jika ada acara sekalipun, sering kali ibu mengajakku.

Rasa banggaku semakin bertambah lagi karena ibu menolak untuk menikah lagi, meskipun setahuku saat itu tidak sedikit laki-laki yang mencoba mendekatinya, bahkan lewat aku. Padahal rasanya kalau ibu menikah lagi, tidak akan seberat itu perjuangannya.

Aku juga merasa beruntung memiliki pembantu seperti Mbok Ijah, yang begitu setia bersama sampai ibuku meninggal dunia. Mbok Ijah sebenarnya adalah tetanggaku. Rumahnya tak jauh dari rumah yang dikontak, lalu akhirnya dibeli oleh ibuku. Dia menjadi pembantu sejak sebelum ibuku menikah. Dialah yang merawatku dari bayi. Dia begitu menyayangiku layaknya menyayangi seorang cucu.

Mbok Ijah juga yang menyuruhku untuk merubah penampilanku kala aku SMP. Dia memaksaku untuk memakai pakaian yang tertutup. Awalnya memang aku kurang nyaman, tapi nyatanya sampai sekarang aku berpenampilan seperti ini. Mbok Ijah juga mengajarkanku banyak hal, terutama tentang norma dan nilai hidup, yang tak diajarkan di sekolah, atau tak sempat diajarkan oleh ibuku.

Selain itu Mbok Ijah juga teman curhat yang menyenangkan bagiku. Hampir semua yang aku alami aku ceritakan padanya, seperti apa yang aku ceritakan kepada ibuku. Mulai dari kegiatan sehari-hari di sekolah, sampai ketika ada teman cowok yang mendekatiku. Mbok Ijah melarangku untuk pacaran. Ya, bukan ibuku, tapi Mbok Ijahlah yang melarang, dan tentu saja ibu sangat mendukungnya.

Saat SMA dan kuliah aku sebenarnya sempat dekat dengan beberapa pria, lebih tepatnya pria-pria itu yang mendekatiku, namun pada akhirnya mereka semua mundur teratur karena setiap main ke rumahku selalu berhadapan dengan ratusan pertanyaan dari Mbok Ijah. Bahkan saat itu sulit sekali untuk mendapatkan ijin dari Mbok Ijah jika ingin mengajakku keluar.

Pernah suatu kali ada pria yang benar-benar nekat mengajakku keluar, akhirnya diijinkan oleh Mbok Ijah tapi dengan syarat, dia harus ikut. Jadilah pada saat itu teman priaku bete sebete-betenya, karena selama jalan aku lebih banyak ngobrol dan tertawa dengan Mbok Ijah. Setelah itu, teman priaku itu tak pernah lagi mengajakku keluar, bahkan main ke rumahku saja tak pernah. Aku menceritakan semua itu pada ibuku. Beliau tertawa-tawa dan menyebutnya sebagai “The Power of Mbok Ijah.”

Saat ibuku harus pergi untuk selama-lamanya beberapa tahun lalu, aku sedemikian terpukulnya. Seolah olah separuh jiwaku pergi. Apalagi belum genap 40 hari dari kepergian ibu, aku mendengar kabar ayahku juga meninggal. Meskipun aku membenci ayah, namun kabar kematian tetaplah membawa duka bagiku. Namun lagi-lagi aku beruntung memiliki Mbok Ijah, yang terus memberiku dukungan dan semangat sehingga aku bisa lebih tabah saat itu.

Sepeninggal ibuku Mbok Ijah masih terus bekerja di rumahku sampai aku lulus kuliahku. Dan ketika aku diterima bekerja di kota kelahiranku, aku ingin sekali mengajak Mbok Ijah kesini, namun dia menolaknya. Dia ingin menghabiskan masa tuanya di kota kelahirannya itu. Aku tak bisa memaksanya meskipun telah membujuk berulang kali.

Nduk, sudah saatnya kamu belajar untuk menghadapi duniamu sendiri. Dunia di luar sana memang keras, tapi mendiang ibumu dan Mbok sudah banyak memberikan bekal buat kamu, Mbok yakin kamu pasti bisa. Setiap ada masalah yang sulit kamu hadapi, berserah dirilah pada sang pencipta.”

Nasehat itu tak pernah aku lupakan sampai sekarang, selain juga wejangan dan permintaan kepadaku untuk selalu menjaga diri, sikap dan pergaulanku, terlebih saat ini aku harus hidup sendiri, tanpa adanya kedua orang tua dan keluarga dekat. Oh iya, satu lagi nasehatnya adalah tetap melarangku pacaran, jika sudah menemukan lelaki yang baik untukku, langsung meminta lelaki itu untuk menikahiku.

Sampai saat ini aku belum pernah sekalipun pacaran, atau berteman sangat dekat dengan seorang pria. Apalagi sekarang, mungkin karena pergaulanku yang hanya terbatas di tempat kerja, tak banyak pria yang mendekatiku seperti saat kuliah dulu. Ada sih beberapa, dan bukannya nggak ada yang aku suka, tapi mereka semua langsung mundur teratur waktu aku bilang ingin langsung menikah. Mereka maunya pacaran dulu, entah apa tujuannya. Karena itulah aku masih menjomblo sampai sekarang. Eh bukan jomblo, tapi single, hehe.

Di kantor, aku sering digoda oleh senior-seniorku. Mereka meledekku, beberepa coba-coba menjodoh-jodohkan. Seperti terakhir sekitar 2 minggu yang lalu sebelum acara gathering kantorku, Mbak Ara menggodaku menjodoh-jodohkan dengan Mas Eko, padahal jelas-jelas Mas Eko sudah punya tunangan. Bukannya membelaku, Mas Eko malah ikut-ikutan menggodaku sampai mukaku benar-benar merah.

Tapi aku tahu, mereka hanya bercanda. Semua itu mereka lakukan bukan karena nggak suka denganku, tapi justru karena mereka menyayangiku. Ah, lagi-lagi aku beruntung dikelilingi oleh orang yang menyayangiku. Setelah acara gathering itupun rasanya kami semakin dekat dan akrab saja, seperti tujuan awal Pak Hamid.

Hmm, acara gathering itu. Aku selalu malu sendiri kalau mengingat-ingatnya. Apalagi kalau bukan kejadian waktu aku menggantikan Mbak Ara untuk bermain games. Meskipun kejadian itu benar-benar tidak disengaja, tapi itu adalah pertama kalinya bibirku bersentuhan dengan bibir seorang pria. Apalagi pria itu adalah Mas Budi, suami Mbak Ara. Pria yang, hmm, aku kagumi.

Aku memang mengagumi Mas Budi sejak pertama kali bertemu. Kalau bicara masalah tampan, sebenarnya banyak pria lain yang lebih tampan, tapi entah kenapa aku begitu mengaguminya. Kharisma yang dia pancarkan itu, benar-benar membiusku. Sayangnya dia sudah milik Mbak Ara. Ah, coba aku ketemu Mas Budi lebih dulu daripada Mbak Ara. Atau, coba Mas Budi itu ada kembarannya.

Eh aduh, aku ini kenapa sih? Kok jadi mikirin Mas Budi gini. Nggak boleh Indah, nggak boleh. Mas Budi itu suaminya Mbak Ara, nggak boleh mikir macem-macem. Bukankah itu alasan kenapa aku jadi benar-benar nggak enak sama Mbak Ara setelah kejadian itu, yang bahkan membuatku menolak untuk main ke rumahnya minggu lalu.

Haduuuuh, sudahlah, nggak usah dipikirin. Mending aku mandi aja, terus ke rumah Mbak Ara. Perutku juga udah mulai lapar ini, hehe. Moga-moga aja nanti di rumah Mbak Ara aku cukup main dengan Ardi saja, nggak lama-lama ketemu sama Mas Budi, bisa makin salah tingkah aku nanti.

*****

Duh, ini kenapa yaa? Sejak masuk gerbang rumahnya Mbak Ara, kok rasanya makin deg-degan gini? Padahal tadi sepanjang jalan biasa aja lho. Tapi semakin lama detak jantungku kok rasanya makin cepet aja. Aku kemudian memarkirkan motorku di sebelah mobil Mas Budi. Kulihat Mbak Ara sedang duduk di teras sendirian. Segera aku menghampirinya.

“Pagi Mbak Ara.”

“Pagi cantik, kok lama sih? Udah ditunggu sama Ardi lho,” sahut Mbak Ara kemudian kami berpelukan dan cipika cipiki. “Eh bentar bentar, kok kayaknya ada yang beda Ndah?”

“Hah, beda gimana Mbak?” tanyaku keheranan, sementara Mbak Ara menatapi wajahku.

“Dandanan kamu kok beda, lebih cantik. Hmm pantesan, pasti dandannya lama nih tadi. Adekku ini udah mulai bersolek yaa,” goda Mbak Ara, menyadari perubahan di wajahku.

Dandan? Ya, entah kenapa tadi sebelum berangkat, aku ingin sekali berdandan. Padahal biasanya kalau ke rumah Mbak Ara, aku nggak pernah kayak gini. Paling cuma bedak tipis saja. Tapi hari ini tadi, aku ingin sekali menambah sedikit riasan di wajahku. Memang tidak terlalu mencolok sih, tapi Mbak Ara yang sehari-hari bertemu denganku rupanya menyadari hal ini.

“Ah nggak kok Mbak, biasanya juga gini,” jawabku tersipu malu.

“Halah kamu tuh, kayak Mbak nggak tahu kamu aja. Hmm, biasanya nih ya, biasanya lho Ndah, cewek yang jarang dandan, trus tiba-tiba dandan kayak gini, dia lagi jatuh cinta. Jangan-jangan kamu lagi jatuh cinta ya? Wah acara gathering kemarin berhasil mempersatukan kamu sama Eko?”

Tuh kan, mulai usilnya. Siapa juga yang jatuh cinta sama Mas Eko. Aku dandan kayak gini juga bukan buat Mas Eko kali, tapi buat, hmm, eh nggak jadi deh, hehe.

“Ih Mbak ngaco deh. Ardi mana Mbak?” aku coba untuk mengalihkan pembicaraan, sebelum aku benar-benar habis digoda oleh Mbak Ara.

“Haha, salah tingkah gitu. Ardiii, ini tante Indah udah datang sayang,” teriak Mbak Ara memanggil si kecil Ardi. Tak lama kemudian Ardi dengan gaya larinya yang menggemaskan terlihat keluar dan segera menghambur memelukku.

“Atee, aneeen,” ucap Ardi dengan manjanya. Sebenarnya anak ini sudah bisa lancar ngomong, tapi yaa gini kalau sudah manja.

“Iyaa sayang, Ate juga anen sama Ardi,” dengan gemas aku menciumi pipinya.

“Duh anak Bunda, ketemu cewek cantik langsung main peluk aja nih,” Mbak Ara cekikikan mengomentari tingkah anaknya itu.

“Iya nih, Ardi kalau ketemu tante kok main peluk aja? Siapa yang ngajarin sayang?” aku ikutan menggoda Ardi dan menowel pipinya yang menggemaskan itu.

“Ayah yang ngajarin,” jawab Ardi dengan polosnya.

“Wah wah, curiga nih kelakuan ayahnya kayak gini,” sahut Mbak Ara yang membuat aku ikut tertawa.

“Loh loh ada apa ini? Kok jadi Ayah yang disalahin?” tiba-tiba Mas Budi muncul dari dalam rumah.

“Ini lho Yah, si Ardi main peluk aja ketemu cewek cantik. Pasti turunan dari ayahnya ini,” jawab Mbak Ara dengan mimik muka yang lucu.

“Lha kok Ayah? Nih buktinya ayah nggak meluk Indah,” sahut Mas Budi.

“Yee maunya,” Mbak Ara mencubit lengan Mas Budi, bukan cubitan serius tentunya karena keduanya kini tertawa. Menyenangkan sekali melihatnya.

“Pagi Indah,” Mas Budi mengulurkan tangannya padaku.

“Pagi Mas,” dan entah bagaimana, tiba-tiba aku memajukan kepalaku, menempelkan punggung tangan Mas Budi di pipiku.

Seketika aku tersentak, menarik kepala dan tanganku. Bodoh bodoh bodoh. Aku ini kenapa sih? Mukaku menghangat, aku yakin pasti terlihat merah sekali di hadapan Mas Budi dan Mbak Ara, apalagi kan tadi aku sempat menambahkan sedikit perona di pipiku. Mereka berdua juga nampak kaget dengan tingkahku barusan. Haduuuh, piye iki? Aku bener-bener malu sama Mbak Ara dan Mas Budi.

Sesaat suasana menjadi canggung, kami bertiga terdiam. Namun tak lama aku melihat Mbak Ara seperti menahan tawa. Saat kupalingkan pandangan ke Mas Budi, dia pun seperti itu. Loh, mereka ini kenapa sih? Kenapa malah mau ketawa? Bukankah harusnya Mbak Ara marah sama aku ya?

“Mukanya Indah udah kayak kepiting rebus gitu Yah, haha,” akhirnya Mbak Ara tak kuat dan tertawa lepas, diikuti oleh Mas Budi.

“Iya tuh, dikit lagi mateng Bun.”

Aku hanya bengong melihat reaksi berdua. Tapi aku juga sedemikian malunya. Seingatku, selain mencium tangan ayahku saat aku masih kecil, belum pernah aku melakukan itu lagi pada lelaki lain. Dan tadi, entah bagaimana, tiba-tiba saja seperti itu. Tanpa sadar aku terus menatap Mas Budi yang masih saja tertawa.

“Ciyee ngeliatinnya gitu amat Ndah? Kenapa? Masih dendam ya? Pengen ngebales Mas Budi?” tanya Mbak Ara yang mengagetkanku.

“Eh, balas dendam apaan Mbak?”

“Itu yang games kemarin, yang kepalamu disundul Mas Budi. Kalau mau ngebales toyor aja kepala Masmu ini Ndah, haha,” ujar Mbak Ara yang malah mengingatkanku pada kejadian itu, membuatku semakin malu saja.

“Haha, udah udah, ni anak kalau digodain terus bisa mateng beneran lho Bun. Ayok kita masuk, sarapan dulu.”

“Haha iya. Ayok Ndah kita makan dulu, perutmu pasti udah keroncongan nih,” Mbak Ara tiba-tiba mengelus perutku.

“Ih apaan sih Mbak Ara,” jawabku melengos, merengut, tapi bersamaan dengan itu terdengar bunyi yang begitu merdu dari perutku, tanda bahwa aku memang sudah lapar. Bunyi itu terdengar cukup jelas sampai membuat Mbak Ara dan Mas Budi makin lebar tawanya. Aku yang terlanjur malupun segera menggendong Ardi dan masuk mendahului mereka.

Pagi itu kamipun sarapan berempat. Mbak Ara sudah menyiapkan makanan kesukaanku. Memang setelah beberapa kali berkunjung kemari, baik Mbak Ara maupun Mas Budi sedikit banyak mengetahui apa saja yang kusukai dan tidak kusukai. Suasana sarapan pagi ini begitu hangat, tidak lagi mereka menggodaku seperti tadi.

Si kecil Ardi duduk di sampingku karena dia ingin disuapi olehku. Aku sih nggak keberatan, apalagi anak ini makannya cukup banyak, malah senang aku jadinya. Mas Budi dan Mbak Ara yang duduk bersebelahan juga nampak mesra sekali. Duh bikin iri aja, aku kalau punya suami juga pengen kayak Mas Budi ini. Dan kalau aku jadi istri, aku pengen seperti Mbak Ara. Coba yaa yang duduk di sebelah Mas Budi itu aku, hmm. Eh, duh, kan mulai ngaco lagi deh.

Setelah sarapan, kamipun duduk bersantai di teras rumah. Aku lebih banyak bermain dengan Ardi sehingga bisa mengalihkan perhatianku dari Mas Budi. Hmm, maksudku, dari rasa kecanggunganku terhadap Mas Budi. Meskipun suasana sudah cukup mencair, namun dalam hati aku masih merasa canggung. Beberapa kali aku curi-curi pandang ke arah Mas Budi, dan saat dia balas menatapku, langsung saja kualihkan tatapanmu. Malu juga kalau ketahuan.

Tak terasa hari sudah beranjak siang. Setelah makan siang nampaknya Ardi mulai mengantuk dan Mbak Ara pun membawanya ke kamar. Agak lama Mbak Ara berada di kamar Ardi, membuatku kikuk berduaan dengan Mas Budi di ruang keluarga ini. Kami sedang menonton TV dan ngobrol, namun dalam benakku memikirkan hal yang lain.

Mas Budi banyak menanyakan tentangku, tentang latar belakangku. Akupun dengan lancar menceritakan semua padanya. Termasuk soal perceraian orang tuaku, kehidupanku bersama ibuku, hingga saat kematian ibu dan ayahku. Namun aku sama sekali tak menyebut nama kedua orang tuaku, Mas Budipun tidak menanyakannya.

Entah kenapa saat ini aku bisa begitu nyaman bercerita pada Mas Budi. Sebelumnya obrolan kami nggak pernah sampai seserius ini. Namun kali ini aku menceritakannya dengan gamblang, apa yang dia tanya aku jawab begitu saja. Padahal aku belum pernah menceritakan hal-hal mengenai masa laluku ke orang lain, kecuali Mbak Ara yang memang sudah kuanggap sebagai kakakku. Itupun aku memintanya untuk tidak sampai menceritakan kepada orang lain.

Setelah cukup lama akhirnya Mbak Arapun keluar dari kamar Ardi dan bergabung dengan kami. Kami masih melanjutkan obrolan, namun tak lama aku pamit pulang. Mereka sempat menahan sebenarnya, tapi aku beralasan masih ada yang harus aku kerjakan sehingga benar-benar harus pulang, lagipula Ardi sudah tidur, dan juga, aku sudah kenyang, hehe.

Saat berpamitan, aku berpelukan dan bercipika cipiki dengan Mbak Ara. Lalu dengan Mas Budi aku kembali mencium tangannya, kali ini dengan kesadaran karena melihat reaksi Mbak Ara yang biasa-biasa saja. Mungkin dia berpikir bahwa aku sudah menganggap Mas Budi sebagai kakakku, sama sepertinya. Yah, mungkin itu benar, tapi sepertinya ada hal lain yang kurasa.

Dalam perjalanan pulang akupun masih kepikiran Mas Budi. Bahkan aku sempat terkejut waktu diklakson mobil di belakangku karena traffic light sudah hijau dan aku masih melamun saja. Sampai di rumah aku bingung sendiri. Tadi pamit pulang beralasan ada yang mau dikerjakan, padahal sebenarnya tidak ada. Semua pekerjaanku sudah kuselesaikan kemarin.

Akhirnya kuputuskan untuk menonton TV saja, meskipun menurutku tidak acara yang menarik. Tanganku terus memindahkan channel TV tanpa aku memperhatikannya, karena saat ini aku sedang memikirkan hal lain. Aku tahu pikiranku ini salah, tapi entah kenapa hal itu tak bisa lepas dari benakku. Aku tak pernah merasa seperti ini sebelumnya, terbayang dan memikirkan suatu hal sampai seperti ini. Apa mungkin yang dikatakan Mbak Ara tadi benar? Apakah mungkin sekarang aku sedang, jatuh cinta?

*****

3[SUP]rd[/SUP] POV

“Indah kayaknya masih kepikiran yang kemarin Yah,” ujar Ara sesaat setelah Indah hilang dari pandangan mereka.

“Iya Bun, beberapa kali Ayah lihat dia kayak salah tingkah gitu, kadang bengong juga.”

“Ayah sih, pakai nyium dia segala. Anaknya polos gitu, belum pernah pacaran juga. Jangan-jangan itu ciuman pertamanya Yah.”

“Hadeeh Bunda nih, kan Ayah udah bilang itu nggak sengaja. Lagian, mana berani Ayah nyium dia di depan Bunda.”

“Ooh jadi kalau nggak ada Bunda Ayah bakalan nyium Indah gitu?” mata Ara melotot pada Budi, namun suaminya itu tahu kalau Ara tidak benar-benar marah.

“Haha, nggak Bun nggak.”

“Huu dasar. Eh tapi hari ini dia beda lho, dandannya nggak kayak biasanya. Kayak pengen tampil lebih cantik gitu. Jangan-jangan dia beneran jatuh cinta sama Ayah tuh.”

“Ah masa segitunya sih Bun?”

“Yaa siapa tahu Yah. Hayoo lho tanggung jawab udah bikin anak orang jatuh cinta.”

“Yaah kalau itu sih tergantung Bunda aja.”

“Lho kok tergantung Bunda?”

“Iya, Bunda udah siap buat berbagi apa belum, haha.”

“Ciyee ngarep ciyee, haha.”

Mereka berdua sama-sama tertawa, kemudian masuk ke dalam rumah bersamaan. Budi memang sudah menceritakan apa yang sebenarnya terjadi saat games 2 minggu yang lalu, sepulang mereka dari acara gathering itu. Dia menceritakan dengan gamblang bahwa sebenarnya saat itu bukan kepalanya menyundul kepala Indah, tapi bibir mereka secara tak sengaja bersentuhan.

Ara sempat terkejut mendengarnya, tapi dia tahu suaminya berkata jujur sehingga tak sampai marah kepadanya, juga Indah. Ara memang sudah terlanjur menyayangi Indah, ketimbang merasa marah padanya. Ara seperti memiliki sebuah firasat tentang gadis itu. Bukan firasat yang buruk memang, tapi Ara sendiri juga sulit untuk bisa menjelaskannya.

Selama beberapa hari setelah acara itu memang terlihat Indah sedikit menghindar dari Ara. Tapi Ara yang sudah tahu permasalahan yang sebenarnya seperti berusaha untuk terus mencairkan suasana. Dia paham kalau Indah pasti merasa sangat tidak enak kepadanya, namun bagaimanapun juga Ara mengerti bahwa kejadian itu benar-benar bukanlah kejadian yang disengaja oleh keduanya.

Akhirnya setelah beberapa hari Indah mulai bisa bersikap seperti biasanya kepada Ara, terlebih karena Ara tak pernah mengungkit kejadian itu. Namun kedatangannya hari ini memang terasa penuh dengan kecanggungan. Sangat jelas terlihat karena Ara tahu Indah bukanlah orang yang pandai menyembunyikan apa yang dia rasa, ekspresi wajahnya menunjukkan hal itu.

Sebagai sesama wanita tentu saja Ara bisa merasakannya, karena dulu dia pernah mengalaminya saat jatuh cinta kepada suaminya itu. Ara yang sebelumnya jarang sekali berdandan, mulai belajar sedikit memoles wajahnya, terutama saat akan bertemu dengan Budi. Dia ingin terlihat cantik dan menarik di hadapan Budi. Naluriah sekali sebagai seorang wanita, seperti halnya Indah hari ini.

Ara merasa yakin kalau perubahan Indah hari ini didasari oleh adanya perubahan rasa kepada Budi suaminya. Namun dirinya tidak memprotes. Mungkin kalau wanita lain yang seperti itu, dia sudah akan bereaksi keras, namun dengan Indah? Dia sendiri juga bingung harus menjawab apa jika ada yang bertanya kenapa dia tidak marah.

Satu-satunya alasan yang bisa dia katakan mungkin adalah karena kedekatannya, dan rasa sayangnya kepada Indah sebagai seorang adik. Namun alasan yang sebenarnya, dia tidak bisa mengatakannya. Jangan mengatakan, untuk mengerti hal itu saja dia sendiri sulit. Entahlah, yang jelas saat ini Arapun mencoba untuk tak terlalu memikirkannya, membiarkan semuanya berjalan dan melihat apa yang akan terjadi nanti.

Sedangkan bagi Budi, meskipun dia juga merasakan perubahan yang terjadi pada diri Indah, dia lebih cuek ketimbang Ara, karena memang jarang berinteraksi langsung, kecuali saat Indah berkunjung ke rumahnya. Budi memang langsung memberi tahu Ara begitu mereka sampai di rumah selepas acara itu. Selain karena memang dia ingin berterus terang kepada istrinya, dia sudah menyadari perubahan Indah sesaat setelah games itu selesai mereka mainkan.

Budi berharap dengan memberi tahu Ara, istrinya itu bisa melakukan sesuatu bila nantinya sikap Indah berbeda terhadapnya, karena yang dia tahu selama ini keduanya sudah sangat dekat. Dan ternyata benar, dari cerita Ara dia tahu kalau Indah beberapa kali berusaha untuk menghindar, sudah pasti penyebabnya adalah kejadian itu.

Budi bersyukur memiliki istri seperti Ara yang begitu pengertian dan percaya kepadanya. Karena itulah Budi tak ingin menyembunyikan hal-hal seperti itu. Mungkin terlihat sepele, tapi jika tak segera dibereskan bisa menjadi duri dalam pernikahan mereka kelak.

Namun satu hal yang belum diceritakan Budi kepada istrinya adalah, bahwa dia juga memiliki sebuah firasat terhadap Indah. Sama seperti yang dirasa oleh Ara, firasat itu bukanlah firasat buruk, namun untuk menjelaskannya Budipun juga kesulitan. Firasat itu bahkan muncul jauh-jauh hari, sejak pertama kalinya dia bertemu dengan gadis itu. Ada sesuatu, entah apa, dia benar-benar tak mengerti. Namun untuk saat ini, Budi belum tertarik untuk mencari tahu lebih jauh tentang Indah dan firasat itu. Dia merasa firasat itu belum terlalu mengganggu dirinya dan keluarganya.

*****

Dua minggu sudah berlalu sejak pertemuannya dengan wanita itu, masih terngiang di benak Marto apa yang mereka bicarakan malam itu. Pembicaraan yang sebenarnya tidak lama, tapi apa yang disampaikan oleh wanita itu tentu saja sangat mengejutkan bagi Marto. Dia sudah lama menarik diri dari dunia itu karena merasa semuanya telah selesai, tapi ternyata dia salah. Masih belum selesai, dan kemungkinan akan lebih dari apa yang pernah terjadi dulu.

Wanita itu tak terlalu banyak memberikan info kepada Marto, karena sejauh ini memang baru itulah yang dia tahu. Tapi dia merasa perlu untuk segera memberitahukan kepada Marto karena tahu Marto pernah terlibat di dalamnya beberapa tahun yang lalu. Dengan berbekal apa saja yang pernah diketahui oleh Marto, dia berharap lelaki itu bisa membantunya.

Dua minggu ini Marto lebih banyak diam ketika berada di tempat usaha miliknya, seperti saat ini. Untuk operasional usahanya, dia mempercayakan kepada para anak buahnya. Kini dia sedang mencoba mengingat ingat kejadian beberapa tahun silam, dan mencoba untuk mengais kepingan puzzle yang bisa saja berhubungan dengan informasi yang disampaikan oleh wanita yang menemuinya.

Sejauh ini belum banyak yang bisa dia simpulkan. Dia juga tidak mau menghubungi rekan-rekannya dulu, karena itu kemungkinan bisa berakibat hal yang lebih berbahaya lagi, kata wanita itu. Tapi jika harus sendiri seperti ini, waktu yang dibutuhkan pastinya akan lebih lama, karena dia juga tidak ingin istrinya mengetahui hal ini.

‘Ah sial, kenapa harus disaat seperti ini. Udah enak, hidup tenang dan damai, malah datang persoalan kayak gini. Lagipula dia datang cuma ngasih informasi sedikit, tapi pesen-pesennya banyak banget, haah.’

Marto mengeluh, mengurut kepalanya yang mulai pusing. Pesan dari wanita itu memang cukup banyak, namun intinya dia harus berusaha sendiri, tidak boleh ada yang tahu, termasuk mantan rekan-rekannya maupun keluarganya. Marto juga harus melakukannya senormal mungkin agar tidak mengundang kecurigaan siapapun.

“Marto, aku minta kamu benar-benar waspada. Aku tahu kemampuanmu seperti apa, tapi kamu sudah terlalu lama vakum. Satu lagi, kamu jangan sekali-kali mencari atau menghubungiku, bisa sangat berbahaya. Biar aku yang menemui kamu di waktu dan tempat yang tak terduga, seperti malam ini.”

Itulah perkataan terakhirnya sebelum wanita itu beranjak meninggalkannya. Harus berusaha sendiri, tidak melibatkan siapapun, tidak boleh mencarinya? Untuk mencari wanita itu ataupun menghubunginya sebenarnya bukanlah hal yang sulit bagi Marto, dilakukan sekarang pun bisa, tapi jika apa yang dikatakan wanita itu benar adanya, maka hal itu memang akan sangat berbahaya, bukan hanya bagi dirinya, namun juga orang-orang terdekatnya.

“Mas, woy Mas Marto,” bentak Agus, salah satu anak buah Marto.

“Eh, apa sih Gus ngagetin aja?!” Marto tersentak, jengkel dengan kelakuan Agus.

“Malah ngelamun, kesambet lho entar. Ini jadi beli perlengkapan tambahan nggak?” tanya Agus memaparkan maksudnya menemui Marto.

“Ya jadilah, tapi nggak usah pake bentak bentak kan bisa,” Marto masih saja sewot dengan Agus.

“Lha gimana nggak bentak Mas? Orang dari tadi dipanggil nggak nyahut gitu lho. Gini nih si boss kalau udah ngelamun jorok,” sindir Agus yang memang sudah sedari tadi melihat Marto melamun.

Ndasmu sempal, ngelamun jorok apaan?! Udah sana berangkat, ngapain masih disini?” makin sewot Marto dibuat oleh sindiran Agus.

“Lha duite endi Mas? Uangnya mana? Nyuruh belanja nggak ngasih uang, piye sih?”

“Uang ya minta sama Tutik lah, kan dia yang ngurusin, ngapain minta kesini?”

“Nah kan, ngelamun jorok nih pasti tadi, ampe lupa gitu. Tutik kan cuti Mas.”

“Eh iya ya? Lha lupa aku Gus, haha,” Marto baru ingat kalau anak buahnya cuti, malah tertawa.

Sekarepmu lah Mas. Mana sini duitnya?” ganti Agus yang sekarang sewot pada Marto

“Iya bentar.”

Marto pun bergegas menuju brankas yang berada di ruangannya itu. Sehari-hari urusan keuangan memang dipegang oleh Tutik, namun anak buahnya itu sudah 3 hari ini cuti. Pikiran Marto yang sedang penuh dan suntuk itu, terlebih tadi juga dikagetkan oleh Agus membuatnya lupa. Setelah memberikan uang kepada Agus untuk berbelanja keperluan usahanya, Marto kembali duduk di kursinya, kembali larut dengan pikirannya, dengan pembicaraannya bersama wanita itu tempo hari.

‘Huuft merepotkan saja. Tapi yaudah lah, nggak bisa nggak, akan aku usahakan.’

Kini yang bisa dilakukan Marto hanyalah berusaha mengikuti permintaan dari wanita itu. Dia harus bersabar, tidak boleh gegabah, sambil berharap kejadian itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat ini. Mengingat betapa genting dan berbahayanya hal ini, dia juga harus menyiapkan dirinya sendiri, karena terus terang saja dia belum siap untuk menghadapinya saat ini.

*****

Di sebuah ruangan berukuran 4×4 meter, nampak seseorang sedang duduk menyandarkan punggungnya di kursi. Kedua tangannya terlihat memegang sebuah buku catatan yang cukup tebal. Buku yang berisi curahan hatinya selama beberapa tahun ini. Sedari tadi dia membolak balikan lembaran dalam buku itu. sampai di halaman terakhir, dia kembali membaca catatan yang baru saja ditulis kemarin.

Ekspresinya berubah-ubah ketika membaca catatan di halaman terakhir itu. Kadang terlihat sedih, kadang marah, lalu terakhir tersenyum. Namun bukan karena kebahagiaan, melainkan sebuah senyum yang terasa penuh dengan kelicikan.

***
Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂