web hit counter

Merindukan Kesederhanaan Part 17

0
384

Merindukan Kesederhanaan Part 17

Kita Sayang Sama Kamu

“Maaas…bangun! Temennya udah pada dateng tuh,” sayup-sayup aku mendengar seseorang membangun ku. Owh, si Binar. Aku bangun sebentar lalu dengan malas aku kembali tidur. Rasanya tidak ingin bangun, pengennya terus tidur, selamanya sekalian kalau bisa. Apa lagi kalau teringat peristiwa semalam. Rasanya pengen lupa segalanya. Kalau perlu amnesia sekalian. Biar ga perlu inget gimana sakitnya saat keluarga dihina.

Aku juga teringat bagaimana Diah memohon agar aku mau memaafkan hinaan ayahnya. Meskipun selama ini orang tua ku selalu mengajarkan untuk selalu memaafkan, apapun kesalahannya, tapi apakah aku harus memaafkan orang yang telah menghina bapak ibuk ku? Aku rasa tidak. Tapi, entahlah. Dengan malas, bukannya malah bangun, aku malah meringkuk memunggungi Binar dan memeluk guling.

“Maaasss…,” panggilnya lagi dengan gemas. Tangannya pun tak henti-hentinya menggoyang-goyangkan punggung ku.

“Apaan sih de?” balas ku kesal.

“Itu temennya gimana?”

“Suruh pulang aja, aku males.”

“Ihh kok gitu? Masa tamu disuruh pulang?”

“Lagian pagi-pagi namu,” omel ku.

“Pagi apanya?”

Sreeekkh

Binar membuka gordeyn jendela kamar. Dan seketika itu juga sinar matahari masuk menembus kaca menerangi kamar ku ini.

“Pagi apanya? Tuh matahari udah tinggi,” gantian ade ku yang cantik ini mengomeli ku.

Reflek aku mengangkat kepala ku dan menoleh ke jendela. Eh iya ya. Udah siang. Aku lalu mengucek mata ku. Kemudian masih dengan mengantuk aku bangun dan duduk, tapi masih di tempat tidur.

“Jam berapa sih ini?” tanya ku.

“Hampir jam sebelas siang mas Ian ganteeeng. Hmm…tumben-tumbenan sih bangun siang?”

“Hah?”

“Hah heh hah heh. Temennya dah nungguin tuh dari tadi, kan jadi aku yang harus nemenin. Mana genit banget lagi tuh temen mas yang cowok. Siapa namanya? Ard-ardoni ya? Kok mas bisa temenan sih ama makhluk kaya gitu?” omel binar. Sedikit lagi kayanya bawelnya Binar bakal menyamai Mba Endang nih pikir ku.

Temen ku ada yang genit? Ah iya Doni. Anak itu, mana bisa diem kalau liat cewek yang bening dikit. Sialan. Ade ku lagi yang di genitin. Awas aja kamu Don. Aku langsung mengepalkan tangan ku rasanya ingin menjitak kepala si Doni.

“Eh, kenapa mas?” tanya Binar yang bingung melihat perubahan ekspresi di wajah ku.

“Doni nya mana? Pengen Aku makan tuh anak.”

“Hihihi, ada tuh di depan lagi ngobrol sama mas Endra. Kalau dua temen mas yang cewek, lagi ngobrol sama Ibuk.”

“Hah? Ada Endra juga?” tanya ku bingung.

“Eh, i-iya mas, hehehe, kenapa?” tanya nya balik.

“Dia kan ga tau aku pulang, kok bisa ada di sini?”

“Yeeey…pede banget sih, emangnya ke sini mau nemuin mas? Haha,” ejek Binar sambil berlalu meninggalkan ku.

Kalau ga nemuin aku, nemuin siapa lagi? Ngapain Endra ke sini? Aku jadi semakin penasaran. Jadi dari pada mati penasaran lebih baik aku bangun dan menemui mereka semua.

***

Selesai beres-beres kamar secukupnya, aku langsung menuju kamar mandi untuk gosok gigi dan cuci muka. Kamar mandi ku letaknya di belakang rumah. Sama seperti kebanyakan kamar mandi di rumah-rumah kampung, letaknya di luar rumah. Tidak sampai sepuluh menit, aku sudah selesai mencuci muka ku. Aku sekarang jadi terlihat lebih segar dan, ganteng. hehehe. Aku lalu bergegas ke depan untuk menemui tamu-tamu ku.

***

“Nah ini dia si abang datang juga, hehehe,” sapa Doni saat melihat ku keluar dari rumah. Semua yang duduk di ruang tamu, Gita, Kiki, Binar, Endra, dan Ibuk menoleh ke arah ku.

Koe ki piye to le, di dolani kancane kok yah mene lagi tangi?” (kamu tu gimana sih, temennya main kok jam segini baru bangun?) sela Ibuk. Aku hanya nyengir mendengar omelan dari Ibuk.

Kersane buk, belehne Ian ne teseh sayah” (biarin aja buk, mungkin Ian masih capek) bela Kiki.

“Nah, betul itu,” aku mengiyakan.

“Sayah apa sih?” tanya Gita.

“Sayah itu saya pake ha, hahaha,” jawab ku sekenanya.

“Yeee…ditanya serius juga.”

“Capek Mba, hehehe,” jawab Binar.

“Owh, ngerti-ngerti. Eh, capek apa dulu nih? Capek badan apa capek hati? hihihi” tanya Gita tiba-tiba. Aku melihat Kiki sedikit menyenggol tangan Gita. Semua langsung terdiam. Termasuk aku. Mau ga mau aku jadi teringat dengan kejadian semalam lagi. Aku yakin dia maksud nya bercanda. Tapi, arrgghhh.

Untuk beberapa saat semua masih terdiam. Ibuk dan Endra mungkin diam karena tidak mengerti. Tapi Gita, Kiki, Doni dan Binar pasti sudah tau. Mungkin tidak tahu bagaimana keluarga ku dihina. Tapi aku yakin mereka tau kalau aku tidak berhasil merubah apa yang seharusnya aku rubah.

“Yo wes, Ian nya kan udah bangun, kalau begitu Ibuk tak ke dapur dulu buat nyiapin makan siang,” ucap Ibuk.

Nggeh bu, monggo, saya bantuin ya,” (iya bu, silahkan, saya bantuin ya) tawar Kiki.

“Ndak usah, kalian ngobrol aja sama Ian,” balas Ibuk lagi.

Untungnya Ibuk segera pergi, suasana jadi lebih santai, ngobrol pun lebih nyaman. Aku lalu mengambil duduk di samping Binar di antara dia dengan Endra. Ah paham aku sekarang, jangan-jangan Endra main ke sini itu tujuannya Binar, bukan aku. Sialan juga nih anak pikir ku.

“Eh, Ndra, udah lama? kesini kok ndak bilang-bilang dulu?” tanya ku basa basi sambil menepuk pundaknya lumayan keras, sontak semuanya pada melihat ku terutama Binar yang mungkin kaget teman baru nya ini aku perlakukan sedikit kasar. Siapa suruh ngapelin ade orang ga minta ijin terlebih dahulu. Hahaha.

“Baru kok Ian, hehe,” jawab Endra kaku.

“Cuy, kita kan juga ada di sini? Yang ditanya Endra doang?” Doni menyela.

“Kamu abis genitin Binar kan? Sini tak jitak kepala mu,” balas ku pada Doni.

“Enggak-enggak, bohong itu,” balas Doni.

“Enggak salah lagi Ian, kita berdua saksinya, iya kan Ki?” sela Gita mengompori.

“Iya. Binar hati-hati ya. Ni anak satu memang buaya cap kadal,” Kiki menambahkan. Kami semua lantas tertawa. Menertawakan Doni yang di bully oleh dua gadis cantik ini.

“Mba Kiki sama Mba Gita tenang aja, kalau mas Doni berani macem-macem kan ada Mas Endra, hehehe,” jawab Binar sambil tersipu. Kan benar.

“Tunggu-tunggu, kok Endra Bin? kan aku mas mu,” potong ku pura-pura. Mendenger pertanyaan ku yang terdengar konyol ini semua pandangan mengarah ke pada ku.

“Kenapa? Kok pada liatin aku? Salah ya pertanyaan ku?” tanya ku bingung.

“Ian, sebenarnya aku kesini mau…” ucap Endra ragu-ragu.

“Ngapelin ade ku kan? Ya ya ya paham dah, aku tahu kok, santai bro, tapi lain kali minta ijin sama mas nya dulu ya, hahaha,” balas ku sambil bercanda memiting kepalanya yang kemudian diikuti canda tawa semua yang ada di ruang tamu ini.

***

Dua wanita ini tak henti-hentinya menertawakan ku dan Doni dari tadi dengan segala ledekannya. Ya, Kiki dan Gita yang menertawakan kami berdua. Ada banyak bahan ledekan dari mereka berdua. Pertama, mereka menertawakan ku yang tidak tau ade ku sudah jadian dengan sahabat ku sendiri. Ya, Binar dan Endra resmi berpacaran dan si jelek Binar, eh ralat, si cantik Binar, tidak bercerita pada ku. Selain itu aku dibilang kakak yang tidak berguna karena ade ku lebih memilih berlindung pada pria lain dari pada aku. Lah, Endra kan pacarnya? Wajarkan kan?

Kedua, mereka meledek Doni yang sejak kedatangan mereka, Doni selalu SKSD pada Binar, dan cenderung genit malah, padahal saat itu sudah ada Endra yang notabene ada pacar dari Binar. Hahaha. Kalau yang ini aku ikut tertawa. Telak banget. Bayangin aja kalau seorang cowok menggoda seorang cewek padahal di tempat itu ada pasangan si cewek. Untungnya Endra tidak emosi atau bagaimana. Bisa repot kalau sampai ribut. Untungnya tidak sampai ribut. Tapi ruginya, bagi Doni pasti malu tingkat langit ke tujuh.

Aku masih inget bagaimana kakunya Doni sesaat setelah tau semua itu. Rasa takut, malu, ga enak, mungkin campur aduk jadi satu. Doni yang tadinya bocor jadi anak paling pendiem sedunia mungkin waktu itu. Endra aja sampai menegur Doni agar santai saja, dan anggep aja semua ulahnya tadi hanya bercanda. Makin malu lah si Doni nya.

Ketakutan Doni sebenarnya masuk akal juga. Pertama, dari segi postur tubuh. Pait-paitnya kalau Endra sampai ngajakin duel, sembilan puluh persen pasti Endra yang menang. Badannya jauh lebih besar. Kedua, Doni pasti mengira aku akan lebih berat ke Endra kalau terjadi masalah pada mereka, karena aku bersahabat dengan Endra jauh lebih lama ketimbang dengan Doni. Terakhir, ini di kampung ku, kampung Endra juga, yang artinya ini adalah wilayah Endra. Berani macem-macem bisa-bisa Doni pulang tinggal nama. Doni…doni, ada-ada aja ah.

Sekarang, lupakan Endra dan Binar. Mereka berdua sudah pergi jalan. Tentunya setelah makan siang bersama tadi. Biarkan mereka bersenang-senang dulu. Menikmati indahnya kasmaran. Jujur aku seneng kalau Binar sama Endra. Karena aku tau persis Endra seperti apa orangnya. Baik, jujur, pinter, dan bukan playboy yang paling penting.

Kini di ruang tamu ini tinggal kami berempat. Ibuk masih sibuk di belakang. Entah apa yang dilakukannya. Bapak sama Mas Yoga juga belum balik. Ngapain ya enaknya?

“Jadi, kapan kalian pulang?” tanya ku iseng. Tentunya itu bercanda.

“Nanti kalau kita udah yakin kamu gapapa, dan, kalau udah puas ngeledekin Doni, hahaha,” balas Gita menyinggung masalah ku dan memulai lagi ledekan tentang Doni.

“Aku? Aku kenapa? Aku baik-baik aja kok, aku rapopo, hehe,” balas ku seolah tidak ada apa-apa.

“Ga usah ditutupin gitu kali, kita semua tau kamu gimana. Kamu itu kalau seneng pasti bagi-bagi ke kita, tapi kalau sedih pasti di simpen sendiri,” jelas Kiki.

“Kamu masih inget kan waktu dulu kamu ada masalah sama Gita, maaf ya Git,” lanjut Kiki lagi.

“Gapapa Ki,” balas Gita sambil tersenyum.

“Kita harus ancam kamu dulu kan baru kamu mau cerita?” tanya Kiki lagi.

“Iya, maaf.”

“Jangan minta maaf, kita berempat ini sekarang sahabat. Kita bertiga sayang sama kamu. Kita mengerti permasalahan yang kamu alami. Meskipun kami tidak tau persis apa yang terjadi semalam, aku yakin itu bukan sesuatu yang baik. Aku sadar kami ga bisa bantu apa-apa untuk merubahnya, tapi mbok ya kamu itu bagi-bagi ke kita mengenai keluh kesah mu. Itu aja kok yang Aku, Gita sama Doni mau. Dan kami mungkim cuma bisa kasih support,” ucap Kiki. Aku terdiam mendengar ucapan Kiki. Terasa banget tulusnya, tulus banget.

“Iya Ian, Kiki bener. Kita berempat sekarang sahabat. Apapun yang terjadi, kita selalu ada buat kamu. Meskipun kita ga bisa bantu apa-apa, tapi paling tidak biarkan kami bisa kasih dukungan buat kamu,” ucap Gita menambahkan.

“Betul itu Ian,” lanjut Doni.

“Kamu mah bisanya betul doang Don,” ejek Gita.

“Hehehe,”

“Iya maaf. Semuanya, makasih. Aku memang sedang sedih, tapi aku gapapa kok. Ga usah berfikir aku akan bertindak konyol. Aku masih bisa berfikir logic. Yang semalem, tidak perlu aku ceritakan kalian sudah pasti tau apa hasilnya. Sekali lagi makasih.”

“Lo emang sahabat gue yang paling sabar Ian, gue salut,” ucap Doni sambil menepuk pundak ku.

“Kalian berdua, mending sekarang hibur gue deh dari pada nganggur, patah hati nih gue ditinggalin Binar,” lanjut Doni dengan gaya lebay.

“OGAAAH,” balas Kiki dan Gita serempak.

“Hahaha, iya tuh, kayanya sekarang yang perlu dihibur tuh Doni bukan Aku,” ucap ku sambil tertawa. Kami semua lantas tertawa.

Kami masih melanjutkan acara curhat-curhatan ini di rumah ku. Segala macam hal kami bicarakan. Dari masalah pribadi, keluarga, hingga kuliah. Ngomong-ngomong soal kuliah, kami juga membahas adanya kemungkinan kita akan terpisah saat naik ke tingkat dua nanti. Di kampus ku ini ada aturan dimana saat kenaikan kelas dari tingkat satu ke tingkat dua, mahasiswanya akan di acak lagi, entah berdasarkan apa. Tapi, dari sekian banyak kelas itu akan ada satu kelas yang nantinya berisi masiswa berprestasi.

Untuk yang kelas berprestasi ini, Gita dan Doni sepakat Aku dan Kiki bisa masuk kesana. Karena dilihat dari IPK semester satu kemarin, dari kami berempat hanya aku dan Kiki yang memenuhi syarat. Kalau mereka berdua, mereka sendiri tidak yakin bisa masuk dan tidak mengharapkan juga, katanya. Katanya sih anak kelas pilihan itu biasanya garing-garing. Tapi yang pasti, kita sudah berjanji kalau kita akan tetap berkomunikasi kalau pahit-pahitnya kita akan berpisah kelas.

Sekarang, sahabat ku resmi bertambah satu, Gita. Aku tidak pernah menyangka sebelumnya, Gita akan bisa berbaur dengan kami bertiga. Kalau mengingat bagaimana dia men damprat ku dulu, atau bagaiman Gita dan Kiki beradu mulut, tidak akan ada yang menyangka mereka kini menjadi teman akrab. Dan yang paling aku seneng adalah Doni dan Kiki mau menerima Gita dengan terbuka.

Masalah ku dengan Gita, eh bukan masalah sih, tapi perasaan ku, perasaan kami, aku tidak tau akan bagaimana dan akan dibawa kemana kelanjutannya. Aku tidak tau apakah ucapannya saat di bus itu serius atau hanya bercanda. Untuk sekarang ini aku akan sendiri dulu. Dan, mungkin akan lebih baik begitu karena yang tau perasaan kami hanya Aku dan Gita. Kiki dan Doni tidak tau, belum tau. Untuk sekarang ini aku tidak mau membahasnya dulu dengan Gita.

Aku tidak tau akan bagaimana reaksi Doni dan Kiki jika mengetaui perasaan ku kepada Gita, atau sebaliknya. Aku tidak mau persahabatan kami berempat yang baru seumur jagung ini akan renggang karena hubungan ku dengan Gita kalau seandainya, Aku dan Gita menjalin hubungan. Apa kata mereka berdua terhadap ku?

“Ian, aku numpang ke kamar kecil dong,” ucap Gita tiba-tiba dengan gestur seperti orang menahan kencing.

“Eh, ya ampun ampe nahan gitu, kenapa ga dari tadi?” omel ku padanya.

“Hehehe,”

“Ya udah yuk,” ajak ku pada Gita ke arah belakang rumah dimana kamar mandi ku berada. Akses menuju belakang rumah harus melewati dapur dulu. Saat melewati dapur inilah Gita seperti terkesima dengan suasana dapur rumah ku.

“Kenapa? Kok seperti aneh gitu mukanya?” tanya ku padanya.

“Artistik, dapur kamu bagus Ian, hehehe,” pujinya. Spontan aku langsung menoleh ke arahnya.

“Bagus apanya? Bagusan juga dapur di rumah kamu.”

“Beda Ian, maksud ku ini tuh bagus karena ketradisionalannya. Dan yang pasti karena rapi dan bersihnya, salut deh sama mama kamu, hehehe.”

Aku lalu menerawang ke seluruh sudut dapur. Memang, semuanya masih serba tradisional. Dari tungku, bangku, hingga semua peralatannya masih tradisional. Namun Ibuk ku mampu merawatnya menjadi sebuah dapur yang bersih dan nyaman. Ibuk emang the best lah.

“Ngomong mulu, jadi ke kamar mandi ndak?” ucap ku mengingatkan tujuan awalnya.

“Oiya ya, hehehe, jadi dong, udah di ujung nih.”

“Ujung apa?” tanya ku iseng.

“Ihh…mulai deh porno nya. Dasar cowok!” omelnya lalu berjalan mendahului ku. Aku hanya tersenyum menanggapi omelannya. Aku lalu mengikuti Gita dari belakang, memastikan dia tidak tersesat ke kebun belakang rumah. Hahaha. Repot entar. Tepat di depan pintu kamar mandi, Gita berhenti lalu berbalik ke arah ku.

“Kamar mandi nya ini?” tanyanya dengan gestur ragu.

“Iya, hehehe.”

“Ga ada atapnya? Kalau ada yang ngintip gimana?” tanya nya lagi.

“Ya, nasib, hahaha,” canda ku sambil tertawa.

“Aaaa…Ian mah gitu, ga jadi deh kalau gitu. Biarin aja sakit, kamu yang tanggung jawab,” ancamnya sambil cemberut dan menghentak-hentakan kakinya.

“Hahaha, kok aku. Itu aku udah pinjemin kamar mandi, tinggal pake. Kurang apa coba?”

“Kurang ajar!! Ya udah, kamu tunggu sini! Awasin jangan sampai ada yang ngintip! Dan kamu juga, awas kalau sampai ngintip, aku aduin ke mama kamu nanti!” ancam nya sambil berbalik dan masuk ke dalam kamar mandi rumah ku yang tanpa atap ini. Hahaha.

“Enggaaak, dah cepetan, aku tunggu sini,” balas ku.

Satu menit. Dua menit. Lima menit. Aku masih menunggu. Lalu tiba-tiba…

“IAAANNN,” terdengar teriakan dari kamar mandi, Gita.

“Eh, i-iya Git, ada apa?” jawab ku sambil mendekat ke kamar mandi dan berdiri di depan pintu.

“PANGGILIN KIKI!!” perintahnya masih dengan berteriak.

“Iya, tapi kenapa?”

“Kalau aku bilang panggilin ya panggilin!! CEPET!!,” bentaknya. Ni anak kenapa ya? Tapi aku yang tidak mau ribut akhirnya meninggalkannya dan bergegas menuju ruang tamu lagi dengan berlari.

“Ki, Kiki, Hoosshh…hoossshh…,” panggil ku saat tiba di ruang tamu dengan nafas yang tersengal.

“Kenapa lu Ian? Kayak abis di kejar setan aja,” komentar dari Doni.

“Iya, kenapa sih?” tanya Kiki juga.

“Itu, Gita teriak-teriak minta panggilin kamu, ga tau kenapa. Aku tanyain malah marah-marah. Yuk ke belakang,” ajak ku.

Tanpa pikir panjang Kiki langsung menuruti ajakan ku. Dari mukanya seperti ada rasa khawatir terhadap kondisi Gita. Anak ini memang paling perhatian di antara semuanya. Dan paling dewasa juga. Terkadang aku merasa untuk beberapa momen Kiki lah yang menjadi Emak nya kita bertiga.

Balik lagi ke Gita, begitu tiba di kamar mandi, Kiki langsung menanyakan apa yang terjadi padanya.

“Git, Gita, ini Kiki, kamu kenapa?” tanya Kiki lembut.

“Ada Ian ga?” tanya Gita balik.

“Ada nih, kenapa sih?” jawab Kiki.

“Suruh menjauh dulu!” pinta Gita.

Ya elah. Ini rumah ku. Kamar mandi ku. Kenapa aku jadi kaya tamu? Hadeh. Tapi ya sudah lah. Biar cepet kelar urusan aku akhirnya menjauh, tapi posisi ku masih bisa memperhatikan dari kejauhan. Tidak lama berselang pintu kamar mandi sedikit terbuka dan terlihat setengah muka Gita mengintip dari dalam. Kiki lalu mendekat. Terjadilah perbincangan diantara mereka. Aku bisa melihatnya tapi aku tidak bisa mendengarnya. Nampak Kiki agak kaget tapi kemudian senyum-senyum sendiri. Setelah itu menggelengkan kepala. Ada apa sih sebenarnya?

Tidak lama berselang pintu tertutup lagi. Kiki berbalik lalu berjalan ke arah ku. Aku yang penasaran lalu menghampirinya.

“Ada apaan sih?”

“Baru kedatangan tamu dia,” jawab Kiki sambil menahan geli.

“Tamu? Oh, ya ya aku tau. Tapi kok kamu malah geli gitu?”

“Masalahnya dia ga bawa itu. Aku juga ga bawa. Gimana coba?”

“Lah, kok nanya aku? Menurut kamu baiknya gimana?” tanya ku balik. Aku mana ngerti.

“Warung atau mini market terdekat jauh ga?”

“Lumayan sih, harus ke jalan raya dulu,” jawab ku.

“Duh gimana ya? Bisa aja sih kalau nyuruh Doni keluar pakai mobil, tapi kasian Gita nya, pasti lama.”

“Jadi gimana?” tanya ku lagi. Aku yang tidak tau harus berbuat apa jadi ikutan panik.

“Bentar,” ucap Kiki sambil berfikir.

“Ehmm…ah iya…Binar,” ucapnya sedikit keras. Layaknya seorang profesor yang baru menemukan sebuah teori baru.

“Binar?” tanya ku balik.

“Coba kamu telepon Binar, tanya dia ada stok itu ga?”

“Ituuu, maksudnya itu?”

“Apa lagi?”

“Aku yang telepon? Tapi kamu aja ya yang ngomong, nih aku teleponin.”

“Ga mau, kamu kan mas nya!”

“Tapi kan yang cewek kamu,” aku mencoba mengelak.

“Udah cepet! Kasian tuh Gita kalau kelamaan. Sekali-kali buat Gita. Hihihi,” perintahnya sambil tersenyum geli.

Arrggghh…ini sih aku dikerjain namanya. Biarpun sama ade sendiri, tapi kan males aja nanya begituan. Tapi ya sudah lah. Dari pada panjang urusannya. Aku pun menelepon Binar.

“Halo De, lagi dimana?”

“Otw ke Prambanan Mas, kenapa? Tumben nelepon? Khawatir ya? Hehehe, tenaaang, aku aman kok Mas sama Mas Endra, hihihi.”

“Ehmmm, bukan gitu, ini…”

“Apa? Yang jelas dong.”

“Duh gimana ya bilangnya. Kamu…punya stok pembalut ga? Lagi butuh nih.”

“Hahaha, Mas kalau bercanda jangan yang aneh-aneh dong. Butuh buat apa?”

“Ga bercanda deee, ini genting, darurat. Ehmm…ini buat Mba Gita, dia…”

“Owh, ngerti-ngerti. Hahaha. Ada kok mas di kamar, ambil aja. Tapi ga tau cocok apa ga.”

“Lah, emang ada cocok-cocokannya ya?

“Hahaha, ada, tapi susah jelasinnya, cuma cewek yang ngerti. Udah itu diambil dulu, kasian Mba Gita nya kalau kelamaan nunggu.”

“Eh, haha, iya-iya. Makasih ya deee.”

Setelah mengucapkan terima kasih aku lalu menuju kamarnya dan mengambil bungkusan ajaib itu dan memberikannya kepada Kiki yang kemudian diserahkan kepada Gita. Hahaha. Ada-ada saja.

***

“Jadi kita kemana nih setelah ini?” Gita membuka obrolan saat kami berempat sudah kumpul lagi di ruang tamu.

“Kita? Kalian aja deh, males aku, aku di rumah aja,” balas ku menolak ajakan Gita.

“Ga ikut, ga temen!!” ancamnya.

“Kebiasaan, nganceman,” balas ku menyindir.

“Bodo!!”

“Udah-udah, aku kasih dua pilihan, pantai, atau kulineran di jogja?” sela Kiki memberikan pilihan.

“Pantai kayanya seru,” balas Doni memberikan pilihannya.

“Jogja aja, pantai banyak angin, ntar masuk angin loh,” ucap Gita. Oh takut sama angin toh. Kirain angin yang bakalan takut sama dia.

“Satu sama, kamu kemana Ian? Milih rumah, berarti ga temen!” ucap Kiki ikut-ikutan mengancam.

“Lah kamu sendiri?” tanya ku balik?

“Aku kan dah ngasih pilihan, jadi ga wajib milih. Lagian kalau aku milih, nter bisa jadi dua sama. Jadi sekarang kamu pilih kemana?”

“Ini sih konspirasi namanya, huh!” omel ku.

“Udah pokoknya ikut aja, dijamin enjoy deh, hapy-hapy kita,” tambah Doni provokatif.

“Ya udah, Jogja aja.”

“Ah elu mah Ian, pasti samaan ama Gita,” protes Doni.

“Kita kan emang sehati Don, elu ga suka?” tanya Gita nantangin.

“Suka kok, suka-suka kalian aja. Tapi gapapa deh ke jogja, kali aja ketemu Binar nanti, hehehe.”

“Dasar! Masih aja usaha,” balas Gita.

“Biarin! Eh tapi, kemanapun kita pergi, jangan lupa tuh ntar beli pempers dulu biar ga bocor. Hahaha,” balas Doni menyindir Gita yang baru saja kedatangan tamu bulananya.

“Sialan lu! Tu mulut belum pernah di sumpal pembalut bekas ya?” omel Gita sambil melempari Doni dengan kulit kacang.

“Gita! jangan nyampah,” protes Kiki.

“Hehehe, mohon maaf ya bu haji Nur, hihihi, ni kadal satu nyebelin banget, omeliiin…!” pinta Gita manja sambil menunjuk ke arah Doni. Tapi Kiki malah membalasnya dengan tatapan Gemas sambil memelototkan matanya karena Gita memanggilnya dengan panggilan yang paling tidak disukainya. Aku sendiri sampai sekarang belum tau kenapa Kiki tidak suka kalau ada yang memanggilnya Nur.

“Kamu yang aku omelin kalau manggilnya kaya gitu lagi!” balas Kiki.

“Hahaha, ihh gitcu aja ambek ciii. Cini-cini peyuk duyu…” ucap Gita sambil merentangkan tangannya. Tapi Kiki yang geli malah menghindar.

“Peluk gue aja Git, hehehe,” potong Doni sambil dengan muka mesumnya.

“OGAH!! Minta peluk sama sapi nya Ian sono!!,” tolak Gita.

“HAHAHA,” tawa kami serempak mendengarkan omelan Gita pada Doni yang memang tidak pernah akur.

“Jadi, aku wajib ikut nih?” tanya ku lagi mengkonfrmasi.

“Tentu saja,” jawab mereka bertiga hampir bersamaan.

“Ya sudah kalau memang di paksa. Eh, iya lupa, itu mobil siapa kalian bawa?”

“Sewa kali, kan dari awal rencananya gitu. Please deh. Di kampus doang pinter, kalau di rumah o’on banget dah,” ejek Gita.

“Oiya ya, hehehe, maaf lupa.”

Aku hanya nyengir mendengarnya. Aku memang lupa kalau mereka dari awal memang berencana menyewa mobil selama di jogja. Sore harinya, sekitar jam setengah empat, setelah berpamitan dengan Ibuk, dan setelah Kiki menunaikan ibadahnya yang kali ini Aku dan Doni juga ikut, bisa ngomel-ngomel Ibuk kalau tau aku ga ibadah dulu, kami berempat berangkat ke jogja. Okelah. Refreshing dulu. Saatnya menenangkan pikiran. Melupakan sejenak masalah ku dengan, Diah.

[Bersambung]

Daftar Part