web hit counter

Merindukan Kesederhanaan Part 20

0
364

Merindukan Kesederhanaan Part 20

Pilihlah Yang Sederhana

Sore itu aku melambaikan tangan ku dari dalam bus kepada keluarga ku yang berdiri di salah satu emperan kios terminal bus kota Wonosari. Mereka berempat mengantarkan kami sampai di terminal. Bapak, ibuk, mas Yoga, dan Binar melepas kepergian kami berempat kembali ke jakarta.

Seperti saat berangkat, kami berempat menumpang sebuah bus AKAP. Dan itu berarti kami akan tidur di perjalanan lagi semalaman. Awalnya Gita menawarkan untuk balik ke jakarta naik pesawat saja, semua biaya dia yang nanggung. Namun aku bilang kalau persahabatan diantara kita ini bukan hanya sekedar membayari ongkos perjalanan, tapi lebih karena kebersamaan. Selain itu juga akan mengurangi seni dari perjalanan itu sendiri. Hahaha. Idealis atau takut naik pesawat?

Tidak ada hal spesial yang terjadi selama di perjalanan malam itu. Waktu itu aku duduk sebangku dengan Kiki, sedangkan Doni dengan Gita. Bukan bermaksud bergilir, tapi hanya agar suasana menjadi beda aja. Dan memang benar-benar berbeda. Aku dan Kiki meskipun kita sahabat dekat, namun karena kemiripan sifat di antara kami yang serius dan dengan pembawaan yang pasif, membuat obrolan diantara kami menjadi terasa garing. Berbeda dengan ketika aku bersama Gita, dimana dia yang lebih aktif dan lebih bisa mencairkan suasana. Tingkahnya yang kadang galak, kadang manja, ataupun kekanak-kanakan seoalah menjadi umpan bagi ku untuk bercanda dengannya.

Yang jadi masalah adalah ketika Gita dan Doni yang sama-sama aktif duduk bersama. Semalaman. Ada saja yang mereka bicarakan. Meskipun isinya ga ada yang serius. Dari Doni, kebanyakan isinya lawakan yang sukses membuat Gita tertawa. Sedangkan dari Gita, kebanyakan isi nya pernyataan atau pertanyaan konyol yang kemudian menjadi bahan candaan Doni. Lalu masalahnya apa? Mereka terlalu berisik sehingga mengganggu ketenangan dari punumpang lain. Bahkan mereka berdua sampai kena tegur. Aku sampai tidak enak pada mereka yang keberisikan.

Lalu bagaimana dengan Diah? Sudah tidak ada yang bisa diharapkan lagi. Tanggal sudah ditentukan. Diah masih terlalu sayang dan berat pada bapaknya. Ini tidak jadi masalah bagi ku karena aku sadar bagi seorang anak, berbakti pada kedua orang tua adalah yang paling utama. Apapun bentuknya. Yang masih menjadi masalah bagi ku adalah ucapan dan hinaan dari bapaknya Diah terhadap keluarga ku. Kalimat itu masih terngiang jelas di kepala ku. Dan mungkin tidak akan pernah aku lupakan, selamanya. Dan mungkin cukup aku saja yang tahu persis bagaimana hinaan itu terlontar dari bapak tua itu.

Tapi ya sudah lah, mungkin memang takdir Tuhan seperti itu. Aku hanya berusaha untuk menghibur diri dan tidak terlalu larut dalam ksedihan. Aku yakin pasti ada hikmah di balik semua yang sudah ditakdir kan Tuhan. Hanya kita saja yang belum mengetahuinya. Ya, semoga saja.

Hari-hari berlalu dengan begitu cepatnya. Kami berempat semakin kompak dalam kesehariannya. Apalagi kami masih berada di dalam satu kelas yang sama. Di kampus, jika sedang istirahat atau kuliah sedang kosong, kami selalu bersama. Entah itu di kantin, perpustakaan, atau sekedar duduk-duduk di gazebo kampus.

Sedikit demi sedikit aku juga sudah mulai bisa mengikhlaskan Diah. Dan memang sudah seharusnya begitu. Kenapa? Karena sebentar lagi, tidak sampai dua bulan lgi, atau tepatnya nanti beberapa hari setelah lebaran, Diah akan melangsungkan pernikahan. Iya, Diah akan menikah dan duduk bersama di pelaminan dengan suaminya, dan itu bukan dengan ku. Rasanya, jangan ditanya. Kesal, marah, sudah pasti. Namun lagi-lagi aku hanya bisa memberikan sugesti pada diri ku sendiri bahwa ini semua adalah takdir Tuhan yang mungkin akan menjadi yang terbaik bagi semuanya. Bagi ku. Bagi Diah. Dan bagi keluarganya.

Dan hari ini adalah pengumuman dimana akan diacak lagi mahasiswa tingkat satu yang akan naik ke tingkat dua. Akan ada satu kelas unggulan diantara semua kelas pararel yang ada. Dan hanya aku dan Kiki yang masuk kesana. Doni, dan Gita tidak. Parahnya, mereka berdua juga terpisah kelas. Alamak. Tapi kami dari awal sudah berkomitmen untuk tetap menjaga persahabatan yang sudah kami jalin selama ini.

“Guys, karena kita sudah akan berpisah kelas, bagaimana kalau kita rayakan dulu bersama nanti sore, kita jalan-jalan kemana gitu,” ajak dari Gita.

“Pisah kok dirayain to ya,” keluh ku dengan ide nya.

“Hehehe, itu kan hanya sekedar penekanan maksud pada sesuatu hal yang tidak bisa kita rubah lagi. Dari pada berkeluh-kesah, mending kita rayakan, itu akan memberikan sugesti positif pada jiwa mu, mas,” jelasnya lagi panjang lebar. Semenjak balik dari Jogja, Gita memang memanggil aku dan Doni dengan panggilan Mas. Katanya dia pengen punya kakak cowok, biar ada yang nglindungin. Aku dan Doni awalnya bingung, namun tidak terlalu memusingkannya. Asal Gita senang ajalah pikir kami berdua. Dan positifnya, semenjak itu Doni sedikit demi sedikit berubah menjadi lebih dewasa.

“Ya ya ya, terserah kamu saja,” balas ku cuek sambil menganggukkan kepala.

Mengenai hubungan ku dengan Gita, kami pernah membahasnya sekali. Awalnya aku bertanya, bagaimana dengan perasaannya pada ku sekarang setelah apa yang terjadi di Jogja? Jawabannya, di luar dugaan ku.

“Aku tahu isi hati kamu, kamu juga tau isi hati aku. Aku ingin memiliki mu dalam sebuah ikatan suci, tapi aku tidak tahu apa kamu juga ingin memiliki ku. Maka biarkanlah Tuhan yang mengatur semuanya dengan segala rancangannya.”

Aku ingat betul dengan detail kalimatnya itu. Bahkan, potongan titik dan komanya pun aku ingat persis. Sebuah kalimat yang sangat dalam dan syarat dengan makna, menurut ku. Apalagi diucapkan oleh seorang perempuan. Apakah waktu itu dia membarikan sebuah kode pada ku, aku tidak tau. Dan yang pasti, kalaupun ucapannya waktu itu adalah sebuah kode, itu tidak akan membuat ku menyatakan cinta padanya. Kenapa? Karena aku sendiri masih ragu dengan perasaan ku.

Dulu, sebelum aku bertemu dengan Diah, aku memang benar-benar nyaman dan yakin dengan Gita, dengan feel yang aku rasakan padanya. Masalahnya adalah ketika kemudian Gita memberikan tantangan untuk memperjuangkan mimpi ku dan mimpi Diah, dan ditambah lagi ketika aku bertemu langsung dengan Diah malam itu, alam bawah sadar ku mengatakan bahwa separuh dari hati ku masih untuk Diah, bukan untuk siapapun, bahkan Gita sekalipun. Dengan berat hati akhirnya aku berkata jujur pada Gita apa yang aku rasakan. Karena aku yakin, semuanya akan baik-baik saja bila didasari dengan keterbukaan. Dan Gita dengan yakin bisa memahaminya. Intinya adalah, kita tetap sahabat. Sampai ada konfirmasi lebih lanjut. Candanya waktu itu.

“Jadi kita mau kemana?” tanya ku pada mereka bertiga.

“Ikut gue aja gimana? Mau ga?” tanya Doni.

“Kemana?” tanya Gita curiga.

Bukannya menjawab pertanyaan ku, Doni malah mengambil sesuatu dari dalam tas nya.

“Apa ini?” tanya Gita. Dia lalu membaca dua lembar kertas yang bentuknya seperti voucher.

“Voucher makan,” jawa Doni santai.

“Iya tau mas, tapi dimana? Asik ga tempatnya?”

“Tau Margo Friday Jazz kan? Dari cafe ini nonton itu view nya pas banget,” jelas Doni.

“Tau tauuu, waaah, seru nih pasti, mau mauuu,” ucap Gita sambil merengek histeris. Childish nya kumat lagi.

“Kita kesana ya mas,” ajaknya lagi dengan manja pada Doni.

“Gue sih pasti dateng, justru ini gue nyari temen. Tuh voucher satu buat berdua. Pas banget kan.”

“Iya mas. Yeeey, asiiik,” teriaknya girang. “Btw, kamu dapet dari mana, mas?” lanjut Gita.

“Ada dari temen. Yang satu lagi buat Ian sama Kiki yak,” ucap Doni lagi.

Aku dan Kiki kemudian saling melirik. Lalu menatap Gita dan Doni dengan senyum yang sangat garing.

“Kalian ikut kan?” tanya Gita.

“Yaaa, demi kalian, aku ikut,” jawab ku diplomatis. Meskipun terpaksa.

Aku sebenernya males, dan tidak terlalu tertarik. Tapi kalau terpaksa atau demi teman seperti ini masih mau lah. Meskipun nanti di sana bakalan mati gaya. Yang jadi masalah adalah Kiki. Dia lebih ga suka lagi dengan yang beginian.

“Harus ya?” tanya Kiki lagi dengan memelas.

“Ayo dong Kiii, demi akuuu, ya ya ya?” rayu Gita.

“Hmmm, ya sudah deh, tapi di sana nanti aku ga mau ya kalau ditinggal-tinggal,” Kiki mengajukan syarat.

“Iyaaa, tenang aja. Nanti pokoknya sama Gita terus deh,” janji Gita. Dia nampak bersemangat sekali. Doni pun begitu, senang bisa melihat kami kompak. Kiki, meskipun seperti terpaksa, tapi tetap mencoba tersenyum. Entah apa yang dia rasakan saat ini. Aku? Ah, aku sih yang penting mereka senang, aku juga ikut senang. Simple.

~¤~¤~

Sebuah alunan music jazz yang dimainkan oleh musisi nasional menyambut kedatangan kami. Acara ternyata sudah di mulai. Tentu saja, kami tiba sudah hampir jam setengah sembilan.

“Seharusnya kamu sering ajak Ian sama Kiki ke tempat seperti ini mas, biar lebih gahuuul gitu, hahaha,” ledek Gita.

“Maksud mu aku ga gaul gitu ya Git?” balas Kiki datar.

“Eh, ga gitu juga sih, hehehe,”

“Kamu ndak mau temenan lagi kalau kita-kita ndak gaul?” aku menambahkan.

“Eh, enggaaak, iiihhh pada sensitif gitu sih. Maaf deh, Gita kan cuma bercandaaa,” sesalnya. Wajahnya langsung khawatir.

“Hahaha, kita juga bercanda kok, takut ya kalau kita marah?” balas Kiki.

“Iya lah, huh! Kiki mah rese, jelek!” balas Gita. Sekarang malah giliran Gita yang cemberut.

Aku hanya tersenyum melihat mereka berdua saling bercanda. Sedangkan Doni tidak terlalu memperhatikan. Pandangannya terlihat clingak-clinguk ke kiri dan ke kanan. Entah apa yang dicari.

“Kamu ngapain sih Don? Matanya itu lho,” tegur Kiki. Ternyata Kiki juga menyadari hal yang sama dengan yang aku lihat.

“Apaan sih? Lagi nyari pelayan yang nganggur tau, kalian pada ga mau pesan makan emang?”

“Ya mau lah.”

“Masalahnya itu pelayan pada sibuk semua, harus gerak cepat,” balas Doni lagi.

Aku lalu menyapu keadaan sekitar dengan pandangan ku. Kiki juga begitu. Doni memang benar, suasana sangat rame. Dan penuh. Apa karena cafe ini sedang promo? Dan semua pengunjung disini menggunakan voucher juga seperti kami? Bisa jadi.

“Iya Don, kamu bener,” ucap ku. Kiki ikut mengamini.

“Nah iya kan, ya udah deh kalian tunggu sini yak, gua pesen langsung aja,” ucap Doni lalu bangkit dari duduknya.

“Iiih, mas Doni baik deeeh,” puji Gita manja.

“Dari dulu kali, sini cium dulu,” balas Doni.

“OGAH!! Hahaha,” balas Gita lagi sambil tertawa. Doni juga tertawa. Tapi kemudian pergi untuk memesan makanan.

~¤~¤~

Setelah menunggu hampir setengah jam lamanya, makanan yang kami pesan pun tiba. Benar-benar rame dan antri. Untung tadi sore udah makan dulu di kantin kampus. Bareng mereka juga tentunya. Dan sekarang waktunya makan malam. Bersama mereka bertiga juga.

“Ian,” panggil Doni.

“Hmmm,” balas ku tidak jelas karena sambil mengunyah makanan dengan cepat. Sedangkan Gita dan Kiki nampak menikmati hidangannya dengan santai. Makan cantik mungkin istilah kekiniannya.

“Apaan Don?” tanya ku lagi sebelum Doni membalas ucapan ku tadi.

“Bisnis lo yang hardcase itu masih jalan?”

“Masih, kenapa?”

“Enggak, gue cuma sedang mikir sesuatu aja,” balas nya.

“Apaan sih?”

“Ya ampun, mas mau pesen peti mati ya? Buat mas Doni?” tanya Gita ngasal tanpa rasa berdosa. Aku lantas tertawa. Bener-bener dah ni anak. Kiki nampak tersedak dengan candaan Gita dan sedikit menegurnya.

“Kalau iya kenapa? Lo mau nyegah gue ya?” tanya balik Doni.

“Enggak sih mas, kenapa ga dari dulu aja gitu, hahaha,” lanjut Gita. Aku semakin tertawa mendengar candaan dari Gita.

“Gitaaa! Ga boleh gitu,” tegur Kiki lagi.

“Hihihi,” tawa geli dari Gita.

“Ian, ade macem gini enaknya diapain?” tanya Doni pura-pura kesal.

“Dibelakang mall ada kali kan ya, cemplungin situ aja Don biar ga jahil lagi,” balas ku.

“Ehmmm, boleh juga, paling enggak, akan berkurang satu makhluk yang cengeng, yang manja, tapi jahilnya minta ampun,” ucap Doni menambahkan.

“Iiih, pada tega ya, masa cantik-cantik gini mau di cemplungin ke kali?”

“Makanya jangan jahil!”

“Heheheee, kan bercandaaa mas Doniii,” balas Gita sambil menarik kedua pipi Doni ke kiri dan ke kanan dengan gemas. Sungguh sangat aneh melihat mereka bisa seakrab itu. Tapi lucu. Apalagi bila mengingat hubungan mereka yang dulu, atau bagaimana bila mengingat kembali betapa antipatinya Gita terhadap Doni. Semuanya terlihat berbalik seratus delapan puluh derajad saat ini.

Memang perubahan yang bagus sih. Dan aku pun juga senang bisa melihat mereka semakin akur. Mereka saling membutuhkan. Gita butuh figur seorang laki-laki sebayanya, atau lebih tepatnya seseorang yang bisa klop dengannya, yang bisa menjadi lawan yang pas untuk sekedar ngobrol dan berbagi, atau apapun, dan itu tidak mungkin dia dapat kan dari papanya, atau dari aku sekalipun.

Sedangkan Doni, karena perhatian dari Gita, penampilannya yang tadinya sedikit urakan sekarang perlahan berubah menjadi lebih rapi. Rambutnya sekarang dicukur pendek, dan selalu tersisir rapi. Bajunya juga begitu, selalu disetrika dan licin. Kadang, dengan geli aku suka membayangkan kalau Gita yang menyetrika baju Doni. Hahaha.

“Ian, woooy, napa lu senyum-senyum ndiri?” Doni membuyarkan lamunan ku.

“Ah, endak Don. Sampai mana tadi?”

“Nah kan, bener bengong nih anak.”

“Hehehe.”

“Enggak, gue lagi ada ide nih. Gue tau abang lo dulu udah lama berkecimpung di bisnis itu, dan sorry aja, pangsa pasarnya cuma itu-itu aja. Maksud gue, kenapa ga nyoba bikin hardcase untuk alat musik? Elo kalau bisa bikinnya, gue bisa bantu ngejualin,” jelas Doni.

“Yang kaya gitu ya Don?” tanya Kiki sambil menunjuk sebuah kotak yang berada di dekat stage. Dia menghentikan makannya, sedangkan Gita masih terus menyendok makanan di piring nya tanpa meperdulikan kami. Dan sesekali memainkan HP nya. Aku kemudian juga memperhatikan kotak itu. Iya ya, kalau dipikir-pikir boleh juga tuh ide Doni. Tapi, bisa ga ya? Harusnya sih bisa.

“Betul sekali bu haji nnn, eh bu haji Kiki, hehehe,” jawab Doni. Hampir aja dia keceplosan menyebut Nur sebelum diralat tadi.

“Jadi gimana?” lanjut Doni sambil menatap ku.

“Kira-kira itu bahannya apa ya Don?”

“Setau gue papan biasa kaya bahan hardcase lo, cuma kaya ada kayu rangkanya gitu.”

“Bisa Don,” jawa ku singkat.

“Jadi lo bisa bikin? Serius?”

“Bisa dipelajari maksud ku, hahaha,” jawab ku sambil tertawa.

“Wooo si kampret,” Doni mengumpat. Aku masih terus tertawa.

“Eh, mas Doni kok kasar sih ngomongnya,” tegur dari Gita. Ni anak sekarang bener-bener jadi lembut. Selembut sutra.

“Ada apaan sih? Kok kayanya serius?” tanya Gita lagi polos. Ternyata dia tidak memperhatikan obrolan kami dari tadi.

“Kita lagi mau coba buka bisnis,” jawab Doni.

“Wooow, keren, apaan tuh?”

“Human traficking,” aku menyautnya ngasal. Gita nampak bengong dan kaget.

“Prostitusi,” tambah Doni. Kemudian Kiki ikut kaget.

“Rumah bordir,” timpal ku lagi.

“Dan kalian berdua akan jadi WP pertama kami,” Doni melanjutkan. Dan wajah mereka berdua langsung pucat. Tapi Kiki yang paling pucat. Jelas sekali. Aku sudah mau tertawa tapi kemudian…

PLAAK!!

Aaawww!!

Dua buah jitakan mendarat di kepala ku dan Doni secara bergantian. Tentu saja itu dari Gita. Rupanya di menyadari kami hanya bercanda. Posisi duduk kami memang saling silang di sebuah meja persegi. Aku berhadapan dengan Doni, sedangkan Gita berhadapan dengan Kiki. Jadi dari posisi Gita, aku dan Doni ada di posisi kiri dan kanannya.

“Bercandannya ga lucu! Liat tuh muka Kiki jadi pucat gitu,” omel Gita.

“Hehehe,” senyum ku dan Doni bareng. Perlahan Kiki mulai bisa mengendalikan sikapnya. Wajar sih kalau Kiki sampai sekaget itu, dari kami berempat dia yang paling taat beragama, tentu akan sangat berat baginya membayangkan dirinya akan kami jadikan WP. Hahaha.

“Balik lagi Ian ke yang tadi. Lo kan tadi bilang bisa dipelajari, masalahnya lo mau ga?”

“Ehmmm, tak coba Don.”

“Oke, good, ehmmm selanjutnyaaa,”

“Ini ada apaan sih?” tanya Gita lagi.

“Anak kecil belum nyampe buat ngomongin bisnis,” jawab Doni. Gita nampak kesal.

“Hahaha.”

“Jelek lu mas!”

“Biarin.”

“Udah-udah, kalian ini ribut aja,” sela Kiki.

“Maaf bu Kiki kami memang berisik, hehehe” balas Doni cengengesan.

“Kalau misal Ian bisa membuat barang itu, kedepannya mau dibikin CV atau semacamnya ndak?” tanya Kiki. Aku dan Doni lantas saling berpandangan. Benar juga. Badan itu perlu. Mungkin usahanya belum kelihatan, tapi tidak ada salahnya memikirkannya dari sekarang. Harus ada hitam di atas putih.

“Gimana Don?”

“Wajib sih itu, porsi kepemilikan sahamnya juga harus jelas, hehehe. Gaya banget yak kita. Usaha aja belum jalan,” jawab Doni.

“Nda apa-apa Don, kalau bener-bener jalan aku bisa bantu dari sisi pembukuannya, hehehe,” tawar Kiki.

“Waaah, serius lo Ki?”

“Iya,” balas Kiki mantab.

“Oke, lo bakal gue hire jadi Finance Manager kalau gitu, hahaha.”

“Lulus aja belum tapi udah jadi manager ya? Tapi nda apa-apa, siapa tau berjalan beneran, ya kan?”

“Tentu saja, rencana boleh-boleh saja kan,”

“Iya, betul. Terus, kamu sendiri jadi apa?”

“Gue? Marketing maneger nya dong, hahaha, keren kan? Keren kan?” tanya Doni narsis.

“Keren kan Git?” lanjutnya lagi.

“Biasa aja ah!” bala Gita sewot.

“Dih gitu,” ucap Doni.

“Abisnya Gita ga diajak!”

Kami bertiga lalu saling pandang sambil sedikit menahan tawa. Dasar bocaaah.

“Eh, tunggu dulu, lah terus aku sendiri jadi apa?” tanya ku iseng mengacuhkan ucapan Gita.

“Ian, ya jadi tukangnya lah, hihihi,” balas Gita.

“Orang luar dilarang komen,” aku menanggapi candaan Gita dengan dingin. Wajahnya semakin cemberut.

“Jelek!!” balas Gita sewot.

“Lu jadi bakal kacungnya,” tambah Doni membela Gita.

“Kalian pada tega ya, kasian kan gitu juga temen kita, yang punya usaha lagi. Kasih pas nya aja lah, jadiin OB, hihihi,” canda Kiki. Mereka bertiga langsung mentertawakan ku. Aku hanya bisa garuk-garuk kepala. Padahal tidak ada yang gatal.

“Hahaha, tenang Ian, masa iya kamu yang punya usaha malah jadi OB? Serius amat sih lo. You are the bos meeen,” ucap Doni serius. Ditatapnya mata ku dengan tajam. Gita dan Kiki juga ikut mengangguk mengiyakan.

“Tapi lu masih punya PR satu, selesaiin dulu prototype nya, kalau berhasil, jalan nih bisnis,” tambah Doni.

“Jalan sih jalan, gue gelum dapet posisi nih mas, lu mah tega,” protes Gita pada mas nya, Doni.

“Ya sudah, Gita mau jadi apa nanti, bebas kok. Buat Gita cantik apa sih yang enggak? Hehehe,” rayu Doni.

“Gombal! Lagian ga butuh apa-apa lagi kan?”

“Siapa bilang?” balas Kiki singkat. Kami semua langsung menoleh ke arahnnya dengan penasaran.

“Ga lengkap rasanya kalau bos ga punya pasangan, ya kan? ehh, opsss, heheee,” canda Kiki sambil menutup mulutnya, lalu tersenyum dengan teramat garing. Sip. Candaannya sukses membuat ku baper lagi. Suasana pun kemudian berubah menjadi sangat kaku.

~¤~¤~

Setelah nongkrong ganteng dan cantik bersama di sebuah cafe di Margo City, dan ditemanin iringan musik jazz dari event mingguan Margo Friday Jazz, kami berempat pulang, tapi tidak ke rumah masing-masing. Kiki akan menginap di rumah Gita, sedangkan aku akan menginap di rumah Doni. Dan sekarang aku sudah tiba di rumah Doni. Ngomong-ngomong soal rumah Doni, lokasinya berada di daerah cilandak, tepatnya di sebuah pemukiman sederhana di dekat mall Cilandak.

“Kok sepi Don?” tanya ku pada nya begitu kami memasuki halamn rumahnya yang tidak seberapa lebar.

“Nyokap gue piket malem Ian, ya gini suasananya, sepi,” jawab nya. Mamanya Doni adalah seorang suster senior di salah satu rumah sakit swasta di daerah pasar minggu.

“Adik-adik mu?” tanya ku lagi. Sama seperti Kiki, Doni tiga bersaudara, namun kedua adiknya sama-sama cowok. Masing-masing di sekolah menengah atas dan sekolah menengah pertama.

“Paling udah pada tidur,” jelasnya lagi.

Sedikit cerita tentang keluarga Doni, ada sesuatu yang tidak enak sebenarnya yang dialami oleh papanya. Iya papanya. Tidak seperti Gita ataupun Kiki, kedua orang tua Doni sebenarnya masih lengkap, namun papa Doni mengalami gangguan mental. Yaaa, seperti ada namun tiada. Fisiknya ada namun jiwanya entah berada dimana.

Menurut cerita dari Doni, apa yang telah menimpa papanya itu sudah berlangsung hampir sepuluh tahun. Dan praktis, selain mama nya yang bekerja sebagai seoarang suster, Doni selama ini juga bekerja untuk tambahan biaya sekolah atapun tambahan jajan bagi adik-adiknya.

Bahkan jauh sebelum kuliah, atau saat dia masih sekolah dulu, Doni sudah akrab dengan kerasnya kota jakarta. Sebagai anak laki-laki tertua, tentu beban dan tanggung jawab yang ditinggalkan oleh papanya, sekarang dia yang memikulnya. Menjaga mamanya serta adik-adiknya. Dan itu semua baru aku ketahui belum lama ini.

“Langsung ke kamar gue aja ya,” ajaknya.

“Oke,” balas ku singkat. Kami berdua langsung menuju kamar Doni yang ada di bagian belakang rumah. Kamar utama yang digunakan oleh mama nya berada di bagian depan. Sedangkan kedua adiknya tidur di kamar yang berada di lantai dua.

“Mau Kopi?”

“Endak ah, ntar ga bisa tidur lagi,” tolak ku dengan halus.

“Payah lu! Minum apa dong?”

“Air putih aja deh.”

“Ya sudah, gue ambilin dulu, kalau mau cuci muka sama kaki langsung aja ga usah sungkan, anggep rumah sendiri bro,” ucapnya menawarkan.

“Sipp,” balas ku sambil mengacungkam jempol. Aku lalu menuruti naseatnya. Sekedar membersihkan muka dan kaki ku dari debu jalanan. Setelah itu aku langsung masuk ke kamarnya.

“Sorry ya gue sambil ngrokok,” ucapnya. Aku hanya mengangguk. Aku sudah rebahan di kasur lantainya. Sedangkan Doi memilih untuk duduk bersila di ubin.

“Ian, kok lu tadi langsung jutek gitu sih pas Kiki nyinggung pasangan?”

“Biasa aja ah, ndak jutek.”

“Keliatan kali.”

“Iya ya?”

“Kiki kan becanda coy.”

“Iya sih,” aku mendadak jadi ga enak dengan Kiki. Suasana di cafe tadi memang berubah menjadi canggung karena sikap ku yang berubah menjadi dingin ketika Kiki menyindir ku tentang Diah.

“Lain kali nyantai aja lah, jangan terlalu kaku jadi orang,” sarannya.

“Iya Don, ngerti aku.”

“Hehehe. Eh sorry ya ga ada makanan, cuma minum doang.”

“Santai, masih kenyang juga kok.”

Aku kemudian memainkan HP ku. Doni pun begitu sambil menikmati sebatang rokok di tangannya.

“Ngomong-ngomong kerjaan mu gimana? Lancar?” tanya ku.

“Lancar sih, cuma ya udah mulai jarang, tapi masih bisa lah buat bayar kuliah.”

“Syukur deh kalau gitu.”

“Tapi gue tetep berharap lu bisa bikin tuh hardcase. Serius gue bisa bantu jualin, banyak chanel gue ama anak musik, hehehe.”

“Aku coba Don, pasti. Kamu tenang saja.”

“Sip, thank you yak.”

“Ndak perlu berterima kasih, kalau usaha kita ini berhasil kan aku juga dapet untungnya.”

“Iya sih, tapi lu tau sendiri lah kondisi keluarga gue. Selain buat gue sendiri, sukur-sukur gue bisa bantu biaya sekolah ade-ade gue. Kasihan kalau nyokap gue harus kerja banting tulang sendirian.”

“Sama saja Don, aku juga begitu. Orang tua ku udah tua, sebisa mungkin aku juga pengen bisa mandiri.”

“Ya harus begitu, kita cowok men, harus belajar menghadapi kerasnya tantangan kehidupan, hahaha.”

“Hahaha, gaya banget sih. Tapi aku setuju sih. Dan, aku sebenernya masih ga nyangka dengan dirimu yang luarnya kaya gini tapi dalem hati mu sungguh mulia Don.”

“Hahaha, sialan lu! Itu karena keadaan men, elu kalo di posisi gue juga pasti mau ga mau akan survive. Naluri bertahan hidup. Ga kerja ga makan.”

“Betul sekali.”

“Jadi kapan lo akan mulai coba bikin hardcasenya?”

“Secepatnya. Yang pasti pas libur kuliah.”

“Sip deh.”

Aku masih rebahan di kasur lantai Doni yang di lapisi sprei kumal, dan agak apek. Ingin aku mengomentarinya namun rasa tidak sopan. Pandangan ku menerawang ke atas.

“Don?”

“Hmmm?”

“Kira-kira, kita nanti bisa sukses ga ya? Abis lulus kerja apa ya?”

“Hahaha, mana gua tau, berusaha dulu aja men,” balasnya.

“Plus Doa Don.”

“Yaaa, itu kombinasi yang terbaik, kata orang. Tapi tidak berhasil padaku.”

Aku langsung menoleh padanya heran dengan maksud kalimatnya barusan.

“Papa gua, gue udah berusaha dan berdoa, hasilnya masih nihil.”

“Belum aja kali, pasti ada hikmahnya dibalik semua itu, sabar ya,” nasehat ku. Doa dan usaha. Kata orang memang kunci nya seperti itu. Tapi terkadang tidak jarang takdir tetap berkata lain.

“Thanks bro,” balasnya sambil menyulut sebatang rokok lagi. Aku masih menerawang ke atas.

“Don, bukannya kamu udah ndak boleh ngrokok sama Gita?” tanya ku iseng.

“Hahaha, ga tau ini orangnya. Bawel banget tuh anak. Ngelarang gue ini lah, itu lah,” keluhnya.

“Tapi semuanya positif kan?”

“Iya sih. Ah semua gara-gara elu nih.”

“Kok bisaaa?”

“Coba lu jadian ama dia, pasti lu kan yang jadi korbannya, hahaha,” tawa dari Doni. Aku juga ikut tertawa mendengar candaannya.

“Sialan.”

“Hahaha.”

“Don?”

“Hmmm?”

“Aku sama Gita gimana ya? Jujur aku masih ragu.”

“Mana tau kalau ga di coba, hajar aja sih, dianya juga mau gitu kan?”

“Aku ga bisa seeperti itu, takut kejadian dengan Diah terulang lagi.”

“Masalah di Diah kan di bapaknya.”

“Justru itu, harta bapaknya Gita kan ga kira-kira, aku takut itu bakal jadi penghalang lagi.”

“Ehmmm, gue lihat bokapnya Gita orangnya open deh.”

“Aku juga ngerasa Gitu, tapi tetep aja…”

“Ngartiii.”

“Ya kan?”

Doni mengangguk sambil menghisap kuat-kuat rokok di tangannya.

“Tapiii,” ucapnya tiba-tiba.

“Apa?”

“Kalau dari pengakuan lo tadi, sebenernya lo udah bisa lepasin Diah dong?”

“Ndak juga, kadang masih kepikir juga aku sama dia.”

“Aarrgghhhh…meeen, lu cowok, melow banget dah.”

“Hahaha, ya abis gimana?”

“Jangan bilang lo mau dua-duanya!”

“Heheee,” aku tersenyum garing.

“Ehmmm, kalau gue kasih pilihan nih ya, misal, keluarga Diah setuju dengan elu, trus pak Weily juga setuju lu ama Gita, katakanlah begitu, lo pilih mana?”

“Tetep Diah sih.”

“Yakin?”

“Iya.”

“Cakepan Gita lho, duitnya banyak lagi, masa depan lo terjamin.”

“Itu sih bukan prioritas. Diah lebih sabar. Aku yakin dia bisa menerima ku apa adanya, Gita? Bukannya underestimate, tapi aku ga yakin. Diah punya banyak kenangan.”

“Sok idealis lo!”

“Hahaha, kok jadi kamu yang sewot? Kamu di suruh Gita ya?”

“Eh, enak aja. Kagak lah. Heran aja gue ama prinsip lu.”

“Kan kamu tadi yang bilang, kita itu cowok. Jangan pilih cewek karena hartanya, tapi pilihlah cewek karena kesederhanaannya, dan bahagiakan dia dengan harta hasil jerih payah kita sendiri.”

“Ah sempak, pérak gaya lu!”

“Hahaha.”

“Hahaha.”

Kami tertawa bersama. Hari telah berganti namun kami masih terjaga. Dan mata ini juga masih terjaga dengan sadar. Sepertinya kami akan begadang sampai pagi. Gapapalah cowok juga kadang perlu bercerita dan menumpahkan unek-uneknya.

Seperti pagi dini hari ini ketika Doni yang tak henti-hentinya bercerita tentang masa lalu nya. Ketika awal-awal bapaknya mengalami gangguan kejiwaan. Ketika mamanya harus bekerja lagi demi kehidupan seluruh anggota keluarganya. Atau ketika dia harus ikut bekerja membantu saudaranya. Dan bahkan ketika dia dengan terpaksa pernah mengamen di terminal demi memberi uang jajan pada adiknya yang bungsu, tanpa sepengetahuan mama nya.

Satu lagi teman ku yang kehidupannya jauh jauh dan jauh lebih berat dari ku. Semoga Tuhan memberikam kesabaran pada kami semua. Kekuatan. Dan kebesaran hati untuk menerima dan menjalani setiap takdir yang diberikan Nya.

[Bersambung]

Daftar Part