web hit counter

Merindukan Kesederhanaan Part 21

0
375

Merindukan Kesederhanaan Part 21

Curug Silangit

Tiga tahun berlalu sudah setelah keisengan ku dan Doni memproduksi hardcase alat musik ini, dan kini kami bisa menikmati hasil manisnya meskipun tidak seberapa, tapi lumayan. Hanya berawal dari coba-coba, proyek kami itu kini telah cukup berhasil dan mampu bertahan hingga sekarang. Bahkan kami telah memiliki toko sendiri. Sedangkan untuk produksinya masih di rumah ku. Rumah mas Rizal sih.

Ngomong-ngomong soal kakak ku yang itu, tidak lengkap rasanya kalau tidak membicarakan Tiara. Sekarang anak itu sudah kelas tiga SD. Anaknya semakin manis, cantik, dan tetap lucu, semakin lucu bahkan, dan ceriwis. Persis seprti emak nya. Hehehe. Mba Endang dan Mas Rizal, keduanya sama-sama sehat. Hubungan mereka berdua juga semakin harmonis meskipun kadang ada saja perdebatan atau pertengkaran kecil yang menghiasi.

Keluarga di kampung? Alhamdulillah juga sehat semua. Bapak, Ibuk, Mas Yoga, Binar, semuanya sehat. Mas Yoga sudah menikah dengan calonnya dulu, Mba Laras, Larasati. Sekarang Mba laras sedang hamil calon anak pertama mereka. Binar? Anak itu semakin tumbuh menjadi seorang wanita dewasa. Sekarang sudah kuliah dan masuk tingkat dua. Hubungannya dengan Endra masih berlanjut. Endra sendiri sudah lulus dan sudah bekerja juga di sebuah perusahaan minyak nasioanal sebagai seorang Engineer. Sesuai dengan basic nya yang seorang sarjana teknik. Keren sih pikir ku, masa depan terjamin, sedangkan aku masih gini-gini aja.

Kembali ke usaha bersama tadi, semuanya tidak sia-sia. Sedikit banyak usaha ini bisa membantu keuangan kami bertiga. Iya, aku, Doni, dan Kiki. Meskipun tidak terlibat dari sisi operasional, Kiki ikut andil dalam hal keuangan. Dialah yang mengatur semua hal yang berkaitan dengan keluar masuk nya dana.

Gita? Tentu dia tidak ikut dalam usaha ini. Buat apa? Uang jajannya sebulan mungkin masih lebih besar dari omset usaha kami. Tapi kadang Gita juga ikut membantu Kiki. Meskipun aku tidak tau persis apakah dia benar-benar membantu Kiki atau justru malah me-rusuh-inya. Hahaha. Sifatnya masih seperti yang dulu. Bedanya hanya semakin manja pada kami. Tapi kami bertiga tidak pernah mempermasalahkannya. Justru kadang malah terhibur dengan keberadaannya.

Lalu bagaimana dengan kuliah? Syukur alhamdulillah semuanya masih berjalan lancar. Termasuk aku yang hari ini baru akan sidang, dan ini adalah jadwal terakhir. Bahkan aku mendapat ACC dari Dosen pembimbing itu baru minggu kemarin. Tapi untungnya semua masih bisa dikejar. Dan ini yang aku maksud masih gini-gini aja, baru mau sidang skripsi.

Bagaimana dengan ketiga anak itu? Tanpa disangka, Gita justru menjadi yang paling pertama sidang diantara kami. Tepatnya sudah dua bulan yang lalu. Entah pakai jurus apa dia bisa meluluhkan hati sang Dosen. Sedangkan Doni dan Kiki, juga sudah mengikuti sidang sekitar sebulan yang lalu. Dan mereka semua lulus. Yes. Aku menjadi yang terakhir.

Praktis, dalam sebulan terakhir ini hanya aku yang belum beres skripsi nya. Hanya aku yang masih merasakan kegalauan tingkat dewa. Kegalauan seorang mahasiswa tingkat akhir yang masih berjuang demi sebuah tanda tangan ajaib dari sang Dosen Pembimbing.

Namun dibalik itu semua, ada perasaan senang yang aku rasakan. Gita, Kiki dan Doni, mereka bertiga terus-terusan memberikan support dan semangat kepada ku. Yang paling banyak datang dari Gita, karena dia yang paling tidak punya kesibukan. Yang paling terganggu mungkin Kiki, karena kost nya lah yang sering gunakan untuk membantu ku. Dan yang paling di repotkan mungkin adalah Doni, dia yang paling banyak membantu mengumpulkan data. Lapyupul lah buat mereka bertiga.

Dan setelah semua berakhir dengan indah, dengan kelulusan ku hari ini, aku berniat merayakannya dengan mengajak mereka makan-makan.

“Akhirnya yaaa, pecah juga tuh bisuuul,” teriak Doni saat melihat ku keluar dari ruang pengumuman dengan wajah yang sumringah.

“Selamat ya bro,” ucap Doni lagi sambil menjabat tangan ku lalu merangkul ku.

“Selamat ya Ian,” lanjut Kiki menyalami ku.

“Iaaan, selamat yaah,” terakhir Gita yang memberikan selamat.

Muaach

Muaach

Tanpa sungkan, sambil berjinjit Gita mencium kedua pipi ku, di tempat umum dan serame ini. Sontak wajah ku langsung memerah.

“Git! Apaan sih pake cium segala, malu kan diliat orang,” protes ku pelan. Doni nampak senyum-senyum dengan kelakuan Gita barusan. Sedangkan Kiki, datar-datar saja, tidak ada ekspresi apa-apa yang keluar dari wajahnya. Tapi kemudian ikut tersenyum juga.

“Biarin, namanya juga lagi seneng. Masih mending cium pipi, tadinya mau ciuuum, bibir, hihihi,” balasnya sambil tersenyum geli.

“Kalau itu justru ndak apa-apa, hahaha” canda ku. Gita ikut tertawa. Doni juga. Kiki juga meskipun garing. Anak ini memang paling kaku bila dibanding dengan kami bertiga.

“Mulai nakal lu ya Ian, ade gue tuh,” balas Doni.

“Emang kenapa mas kalau aku ade mu?” tanya balik Gita.

“Ga akan gue ijinin!!”

“Lah, apa urusannya? Orang aku juga mau kok, hihihi,” balas Gita lagi. Mereka berdua kalau sudah bercanda memang selalu lepas dan tidak terkendali. Dan faktanya, sekarang Gita jauh lebih akrab dengan Doni ketimbang dengan ku. Dan aku tidak perduli dengan semua itu karena yang penting adalah sekarang aku sudah lulus.

“Kalau lo jadian sama Ian, semakin susah gue dapetin Binar, hahaha,” balas Doni.

“Hahaha, bener juga tuh Don, masa saling silang?” saut ku.

“Perkawinan silang dong, hahaha,” timpal Gita.

“Hahaha,” kami tertawa bersama. Kecuali Kiki. Ni anak, kenapa ya?

“Diem aja Ki?” tanya ku iseng.

“Eh, gapapa kok. Hehehe. Kamu udah selesai kan? Jadi makan-makannya?” tanya Kiki.

“Jadi dong, yuk berangkat. Ojya kalian naik apa tadi?”

“Naik mobil ku, kenapa?” tanya Gita balik.

“Ya gapapa sih, kalian bareng bertiga aja, aku bawa motor soalnya,” jelas ku.

“Yah, masa ga bareng?” tanya Gita lagi.

“Ya elah neng, ntar juga ketemu lagi di sana,” ucap Doni.

“Iya siiih,” Gita nampak sedih. Ini yang kadang membuat kami suka terhibur. Karena ke childish an nya itu lah yang membuat kami ingin tertawa geli. Namun selalu kami tahan. Karena kalau sampai dia kami tertawakan, biasannya dia akan semakin childish.

“Ya udah yuk, buru ujan,” ajak ku lagi.

“Kita sih anti hujan ya,” ejek Doni.

“Hahaha, sialan,” balas ku.

Tidak lama kemudian kami berempat berangkat ketempat makan yang sudah kami tentukan sebelumnya. Tidak terlalu mewah memang, tapi cukup pantas lah untuk merayakan hari yang bersejarah ini. Yang penting selalu bersama-sama. Susah maupun senang.

~¤~¤~¤~

“Oiya, ini sekalian aku mau pamit ya sama kalian, hehehe,” ucap ku ditengah-tengah obrolan dengan mereka. Kami sudah berada di tempat makan dan menikmati syukuran sederhana ini.

“Heeeh? Pamit kemana lu?” tanya Doni cepat. Gita dan Kiki masih nampak bingung.

“Aku mau balik kampung aja.”

“Owh, kirain kemana,” balas Doni.

“Tapi seterusnya,” ucap ku enteng. Mereka langsung menatap ku dengan tajam.

“GAA LUUCUU!!” balas mereka serempak.

“Serius, aku mau lanjut Magister di Gajah Mada,” jelas ku dengan ekspresi sangat serius. Mereka masih menatap ku seolah tidak percaya. Beberapa saat kemudian hening. Lalu kemudian…

“Tapi boong, HAHAHAHA,” tawa ku dengan kencang.

Breegghh!!

“Aaaww, apaan sih Git?” tanya ku kesal. Beberapa potong sayuran dilemparnya tepat mengenai muka ku.

“Elu yang apaan? Becanda kok kaya gitu, kita semua kaget lah,” protes Doni membela Gita. Dia juga nampak kesal sepertinya.

“Hihihi,” tawa geli dari Kiki melihat ekpresi muka ku yang kesal dan sedikit belepotan dengan kuah kental dari sayur. Ini aneh. Saat orang lain kesal, dia malah tertawa sendiri.

Gita? Seperti menahan sesuatu. Telapak tangannya mengepal erat. Giginya menggigit dengan kuat. Sorot matanya tajam. Dan penuh amarah. Gita yang manis, manja, dan halus tiba-tiba menghilang. Sekarang aku bisa melihat kembali sosok Gita yang pertama aku kenal. Waduh.

“Maaf ya semuanya, maaf ya Gita…hehehe,” ucap ku dengan sangat menyesal. Memang garing sih bercandanya.

“Iya…”

“Ya udah yuk makan…”

~¤~¤~¤~

Tiga Hari Kemudian

Aku janjian dengan Kiki di terminal lebak bulus siang ini. Siang yang teramat terik. Tanpa aku duga sebelumnya, ternyata Kiki juga ada rencana pulang kampung, sama seperti ku, untuk bertemu dengan keluarga, sekedar melepas kangen. Itu baru aku ketahui tiga hari yang lalu, dan akhirnya kami sepakat untuk pulang kampung bareng saja.

Ngomong-ngomong soal tiga hari yang lalu, ada sedikit kejadian tidak mengenakan yang terjadi. Salah ku juga sih yang bercanda agak kelewatan, yang membuat Gita hampir marah besar karena saking kagetnya. Ya, kaget karena aku bercanda akan meneruskan kuliah di Jogja. Meninggalkan kota ini. Meninggalkan mereka bertiga bukan sebuah keputusan yang tepat pikir ku.

Apa yang aku lihat waktu itu benar-benar menyeramkan. Aku bisa melihat kembali seperti apa Gita yang pemarah dan tempramen. Aku yakin, anak seperti Gita ini tidak boleh dikecewakan sedikit pun. Jika ada hal kecil yang tidak disukainya terjadi, bisa jadi itu akan memicu sebuah ledakan yang maha dasyat pada dirinya. Aku jadi terusik. Bagaimana jadainya kalau sampai dia tau ada kesepakatan terselubung antara aku dengan papanya tiga tahun lalu? Entahlah.

Yang jelas, kalau waktu itu tidak ada Doni dan Kiki, aku tidak tau akan seperti apa kelanjutannya. Yang jelas aku tidak mungkin bisa meredam emosinya sendiri. Awalnya kami bingung kenapa dia bisa sampai seemosi itu. Tapi setelah dirinya sedikit tenang dan mau cerita, kami jadi tau semuanya.

Jadi apa permasalahannya? Tidak ada hubungannya sama sekali dengan masalah perasaan diantara kami berdua. Semuanya tentang persahabatan diantara kami berempat. Dia tidak mau salah satu diantara kami bertiga pergi meninggalkan jakarta. Pokoknya tidak boleh, dengan alasan apapun. Sekali lagi, apapun. Agak berlebihan sih sebenarnya. Tapi bukan Gita kalau ga kaya gitu.

Normalnya, kami akan keberatan dengan permintaannya. Sedekat apapun persahabatan diantara kami, tentu kami memiliki kehidupan pribadi masing-masing. Yang itu seharusnya masih menjadi prioritas utama. Entah itu keluarga, atau calon keluarga kami nanti. Tapi mungkin karena kami sekarang sayang banget sama dia, dan kita juga tau bagaimana background keluarga atau masa kecilnya, kami mengiyakan saja. Masalah lain, dipikir nanti saja.

Kembali ke hari ini, saat aku tiba di loket untuk check in, aku sudah melihat Kiki berdiri di sana. Dari kejauahan dia sudah melambaikan tangannya pada ku dan memberikan senyum manisnya. Seolah menjadi oase yang menyejukkan tubuh ditengah panasnya gurum pasir. Kiki siang ini nampak cantik sekali. Aku tidak tau istilah untuk baju yang dikenakannya, tapi yang pasti serasi. Celana bahan kain warna krem, baju atasan berwarna putih, dipadu dengan kerudung warna biru muda dengan motif bunga. Tidak norak, tidak seksi, tidak press body, dan tidak kelonggaran juga, tapi semuanya terlihat pas, elegan, dan cantik. Dan, ada sedikit yang lain dari Kiki hari ini. Dia memakai riasan wajah. Iya Kiki pakai makeup. Sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Setelah berbasa-basi sebentar, dan setelah memegang tiket masing-masing, aku dan Kiki berjalan menuju bus yang sudah menunggu. Tak lupa aku membeli beberapa jenis cemilan dan air mineral untuk bekal selama perjalanan.

~¤~¤~¤~

“Kemarin itu serem banget ya?” tanya ku pada Kiki. Bus yang kami tumpangi baru saja melanjutkan perjalanan setelah tadi istirahat makan malam.

“Eh, apaan?” tanya Kiki balik.

“Itu, tatapan mata Gita.”

“Owh, iya. Terakhir aku ngeliat itu yang pas dia nampar kamu waktu hari pertama kuliah, inget ga?”

“Hahaha,” aku tertawa.

“Kenapa?” kiki bingung.

“Apa yang barusan kamu ucapin itu sama persis dengan yang ada di pikiran ku,”

“Betul kan?”

“Iya.”

“Sampe segitunya dia ga mau jauh dari kamu, hmmm…”

“Dari kita bertiga kali, dia bilang sendiri kan.”

“Alibi doang itu,” ucapnya.

“Dia jujur! Aku yakin.” kilah ku.

“Kamu masih saja belum mengerti wanita.”

“Aku hanya mengikuti apa kata hati ku.”

“Kamu ga kasihan sama dia?”

“Lebih kasihan lagi kalau aku bersamanya tapi hanya dengan setengah hati kan?”

“Sampai kapan kamu akan berada dibawah bayang-bayang Diah terus?”

“Sampai hati ku mengatakan aku harus mencari tambatan hati yang lain, baru aku akan mencari yang lain. Tapi yang pasti, bukan sekarang waktunya.”

“Hhhaaaah, susah memang kalau sudah bicara soal hati.”

“Makanya ndak usah dibicarakan,” balas ku. Kiki nampak melongos. Lalu membuang muka ke arah kaca. Kiki duduk di dekat kaca, di sebelah kiri ku.

“Kamu rencananya berapa hari di wonosari?”

“Semingguan mungkin, kenapa?”

“Gapapa.”

“Mau main?”

“Kamu kali yang harusnya nyamperin ke kali gesing.”

“Ga enak lah kalau sendirian.”

“Ga enak kenapa?”

“Ga enak sama…” aku berakting seperti memikirkan sesuatu.

“Ga usah banyak alesan! Ga main, ga temen!” ancamnya.

“Tuh kalimat ajaib masih aja ya, hahaha.”

“Hahaha, pokoknya aku tunggu!”

“Iya-iyaaa. Eh iya hampir lupa, dapet salam lho kamu dari Tiara, nanti balik dari jawa kamu main ya ke rumah,” ucap ku. Ya, Tiara sampai saat ini masih terobsesi dengan Kiki. Aku sendiri tidak mengerti mengapa bisa begitu. Entah si Kiki punya magis apa hingga dia bisa membuat Tiara begitu menginginkan diri nya. Apa karena sifat dan kepribadian Kiki yang sabar, ramah, dan keibuan? Bisa jadi, tapi aku tidak tau pasti.

“Tiara ya? Apa kabar dia? Pasti makin lucu tuh anak. Iya nanti pasti main deh, tapi kamu jemput aku ke kost an ya!” balas nya semangat.

“Kabar baik mereka sekeluarga Ki,” jawab ku. “Aku juga kan yang harus mondar-mandir jadinya,” keluh ku. Aku pura-pura males, sebenarnya sih biasa-biasa aja.

“Demi ponakan, hihihi,” balasnya.

“Demi kamu juga kok, hehehe,” canda ku menggombalinya.

“Gombal! Bilangin Gita loh,” ancamnya sambil melotot. Hahaha. Ni anak lucu juga. Kami lantas tertawa bersama. Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam sebelas malam. Bus pun terus meluncur membelah selinya malam yang dingin. Ya, jalanan sudah sangat sepi. Apalagi ini masuk ke daerah. Perjalanan pun terasa lancar.

“Ian.”

“Ya, kenapa?”

“Aku pinjem bahu kamu ya?” tanya nya. Pinjem bahu? Maksudnya? Aku masih bingung saat Kiki tiba-tiba menyandarkan kepala nya ke bahu kiri ku.

“Oh, mau sandaran, bilang dong…” balas ku.

“Tenang aja, aku ga bakal bilang ke Gita kok, hehehe.”

“Bilang juga ndak apa-apa kok.”

“Hihihi. Dah ah aku mau bobo, ngantuk. Good night, Ian,” balasnya sambil tersenyum manis kemudian meringkuk memeluk lengan ku. Mengacuhkan keluhan ku.

Kiki memeluk lengan ku? Ini benar-benar aneh. Seorang Kiki yang biasanya selalu menjaga kontak fisik dengan lawan jenis, termasuk dengan ku dan Doni sekalipun, malam ini dia memeluk lengan ku, dan tidur menyandarkan kepala nya di bahu ku. Aku sebenarnya cukup penasaran, tapi terlalu enggan untuk menanyakannya. Ya sudah lah.

~¤~¤~¤~

Aku sudah tiba di rumah. Rumah ku yang tercinta. Yang selalu membuat ku kangen. Dan di sambut oleh enam orang anggota keluarga ku. Ya, sekarang sudah bertambah dua, salah satunya mba Laras, istri dari mas Yoga, dan satu lagi si calon jabang bayi.

Mereka menyambut ku dengan antusias. Bak seorang pahlawan yang baru pulang dari medan perang. Apalagi mereka sudah tau mengenai kelulusan ku. Tinggal menunggu wisuda. Bapak dan Ibuk katanya sudah tidak sabar untuk segera berangkat ke Jakarta. Hahaha. Masih sebulan lagi.

Setelah berbincang-bincang sambil sarapan yang cukup lama, mereka semua lalu memulai aktifitas masing-masing. Bapak ke kebun. Ibuk masak ditemani mba Laras. Mas Yoga ke kandang dan kolam ngurusin bebek sama lele nya. Tinggal aku sama Binar yang ndak punya aktifitas apa-apa. Binar kebetulan sedang libur dan pulang ke rumah.

“Mas, mba Gita apa kabar?” tanya Binar saat kami bersantai di ruang keluarga.

“Sehat,” balas ku santai.

“Mba Kiki?”

“Sama juga.”

“Alhamdulillah kalau gitu.”

“Kamu ndak nanyain Doni? Hahaha,” canda ku.

“Hahaha, ogah mas,” balas nya.

“Hahaha.”

“Eh mas, udah tau kabar mba Diah kan?” tanya nya yang sontak membuat ku menatapnya.

“Tau, ada kabarnya kok di group wasap SMA,” jawab ku.

“Mas masih ngarepin mba Diah ya?”

“Aku ndak tau de, lagi males bahas itu,” balas ku malas.

“Owh, maaf. Aku cuma mau kasih saran aja. Apa yang udah terjadi di antara mas dengan mba Diah itu udah kehendak Tuhan mas, mas seharusnya sudah mulai membuka hati. Ini sudah tiga tahun loh mas. Mau sampai kapan? Dan satu lagi, ada lebih dari satu wanita yang ngarepin mas Ian. Jangan kecewakan mereka ataupun salah satunya hanya karena satu wanita. Maaf, bukan maksud ku tidak menganggap penting mba Diah di hati mas, tapi sekarang situasi dan kondisinya sudah tidak sama dengan dulu lagi,” jelasnya yang membuat ku semakin malas mendengarnya. Membuat ku semakin malas menerima kenyataan pahit ini. Aku pun tidak menanggapinya. Dan Binar juga nampak kesal dan gemas sendiri dengan sikap ku. Bodo lah.

Hari-hari ku di kampung berjalan dengan datar-datar saja. Sudah memasuki hari ke tiga dan tidak ada hal spesial yang terjadi. Rutinitas ku dalam tiga hari ini setelah bangun tidur di pagi hari adalah sarapan bersama, lalu kalau ga bantuin bapak ya bantuin mas Yoga. Begitu terus.

Kecuali dengan hari ini, aku akan main ke Purworejo, ke rumah Kiki. Pagi-pagi buta aku sudah menyiapkan segalanya. Motor sudah aku panaskan. Sarapan juga sudah. Setelah berpamitan, aku pun berangkat untuk menempuh perjalanan wonosari-purworejo yang mungkin butuh waktu dua sampai tiga jam.

~¤~¤~¤~

“Kirain ga jadi datang,” sapanya saat menghampiri ku yang sudah tiba di halaman depan rumah Kiki.

“Maaf, tadi aku kelabasan lumayan jauh pas di jalan raya itu, hehehe,” jelas ku. Aku tadi memang salah jalan. Kalau di total ada mungkin sejam sendiri aku nyasarnya. Tak heran, sekarang sudah jam sebelas siang dan aku baru sampai.

“Pantes, untung bisa ketemu, kalau ga kan aku yang bakalan repot.”

“Hahaha, tenang, ndak perlu khawatir.”

“Repot ngadepin Gita maksudnya. Udah pasti dia akan sangat khawatir dengan kamu, hahaha” jelas Kiki lagi.

“Terus aja bahas itu. Aku balik nih,” ancam ku dengan raut muka kesal.

“Eh jangan dong, masa baru dateng udah mau pulang aja,” protesnya. “Masuk dulu aja yuk,” ajak Kiki. Akupun mengikutinya.

“Eh STOP!!” tiba-tiba Kiki menggentikan langkah nya. Mau ga mau aku juga ikut berhenti. “Kita ngobrolnya di teras aja ya, rumah sepi soalnya, baru inget aku, hehehe, maaf…” lanjutnya.

“Ngagetin aja kamu mah. Pada kemana emang?” tanya ku dan kemudian langsung duduk di kursi rotan yang ada di teras. Kiki berdiri di deket pintu dan tersenyum pada ku.

“Ke rumah sodara, ada hajatan.”

“Kok kamu ndak ikut?”

“Kan kamu mau kesini, gimana sih?”

“Yeee, aku mah bisa besok lagi.”

“Gapapa, aku nya juga males. Jadi sekalian aja kamu bisa aku jadiin alasan, mas, hihihi.”

“Mas?” tanya ku bingung.

“Mas Ian, hahaha.”

“Jangan sok kaya Gita deh, kamu itu lebih tua dari aku,” protes ku.

“Cuma beda bulan aja perhitungan banget deh,” balasnya.

“Tetep aja kamu lebih tua mba Kiki.”

“Hahaha, iya deh iyaaa. Oiya, mau minum apa?”

“Yang dingin-dingin kalau ada.”

“Okaaay, tunggu yaaah,” Kiki meninggalkan ku dengan senyum manisnya.

Entah pikiran ku yang lagi kacau aja tau gimana, tapi aku merasa ada yang berbeda dengan Kiki dalam dua kali pertemuan terakhir ini. Pertama, dandanannya berubah. Meskipun tidak seksi seperti Gita, tapi pakaiannya lebih modis. Kedua, aku merasa dia jadi sedikit manja, childish, ceria, atau sejenisnya ketika selama di perjalanan kemarin dan hari ini. Sangat berbeda dengan ketika kami berempat berkumpul bersama.

Tidak berapa lama kemudian Kiki muncul lagi dengan satu nampan minuman dan makanan ringan. Kedatangannya sekaligus membuyarkan lamunan ku pada dirinya.

“Bengong aja kerjaannya,” ucapnya sambil menaruh nampan di meja.

“Eh, endak kok, hehehe.”

“Enggak-enggak, jelas keliatan gitu masih aja ngeles. Oiya, kamu bilang ke Doni sama Gita ga kalau main kesini?”

“Endak, kamu?”

“Enggak juga, hehehe,” senyumnya garing.

“Ya udah ndak usah bilang-bilang ya, ntar malah ribet si Gita nya ngoceh ini itu, pengen lah, ga diajak lah,” balas ku.

“Hehehe, iya. Diminum tuh, kuenya di cicipin juga,” tawarnya. Aku pun lalu mencoba kue yang di sajikan.

Selanjutnya kami terlibat obrolan seru. Aku tidak menyangka Kiki ternyata seperti ini aslinya jika tidak bersama dengan Doni dan Gita. Benar-benar berbeda. Lalu tanpa terasa ternyata sudah masuk waktu dzuhur dan Kiki pun bangkit.

“Kemana Ki?”

“Sholat lah. Yuk kamu sholat juga, imamin aku!” ajak nya.

“Eh tapi,” balas ku kaget.

“Apa? Kamu lagi dapet? Hiiih, diajakin sholat aja pake tapi,” protesnya.

“Hehehe, iya iyaaa,” aku tersenyum garing karena malu. Malu karena justru Kiki yang mengingatkan ku. Sebagai seorang laki-laki, seharusnya aku yang mengingatkannya. Tapi ini malah sebaliknya.

~¤~¤~¤~

“Kita mau kemana nih?” tanya ku.

“Sudah ikutin jalan aja,” suruhnya. Dan aku pun menurut saja.

Setelah sholat berjamaah tadi, aku dan Kki memutuskan untuk jalan keluar. Iseng-iseng aja dari pada cuma di rumah. Lagi pula bahaya kalau di rumah hanya berduaan.

Motor yang ku kendarai terus menyusuri jalanan yang lengang ini. Tracknya sedikit menanjak dan kiri kanan jalan yang ku lihat hanya pepohonan serta kebun milik warga setempat. Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit, kami berdua tiba di sebuah obyek wisata alam. Sebuah air terjun. Air terjun silangit.

Dari cerita Kiki, salah satu daya tarik Curug Silangit adalah karena Curug ini mempunyai tiga tingkatan curug (terjunan air). Curug pertama atau yang paling atas sendiri adalah curug yang paling tinggi, sekitar tiga puluhmeter. Curug kedua sekitar sepuluh meter atau setinggi pohon kelapa. Dan yang paling bawah juga sekitar sepuluh meteran. Untuk curug tingkat ke tiga (terbawah) bernama Curug Siklotok.

Setiap curug dibawahnya terdapat kedung/kolam yang sering dijadikan tempat mandi bagi para pengunjung. Tiap-tiap kedung itu rata-rata memiliki kedalaman lebih dari lima meter. Obyek wisata ini terletak di Dusun Jeketro, Desa Kaligono, masih masuk ke dalam Kecamatan Kaligesing.

Lokasi air terjunnya agak masuk ke dalam. Bagi pengguna kendaraan roda dua atau roda empat, kendaraan bisa diparkirkan di balai desa atau bisa juga di halaman rumah penduduk sekitar yang memang sering dijadikan tempat parkir oleh para pengunjung.

Selanjutnya dari tempat parkiran ini kami harus melakukan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar tiga puluh menit. Kondisi jalan setapak ini satu kilometer berupa batu kali yang ditata rapi, sedangkan sisanya masih berupa jalan tanah.

“Keren ya, aku baru tau di purworejo ada tempat sebagus ini,” ucap ku. Kami masih terus berjalan. Sedikit lagi kita akan sampai. Air terjun sudah mulai terlihat. Suara benturan air dengan bebatuan yang khas seolah menghapus rasa pegal dan lelah yang kami rasakan setelah menempuh perjalanan ke tempat ini.

“Jelas dong, jawa tengah itu obyek wisata alamnya juga banyak, dan bagus-bagus. Sayangnya masih kalah pamor dengan Jogja. Itu yang disayangkan,” balasnya.

“Tanggung jawab pemerintah daerah dong berarti itu ya,” ucap ku lagi.

“Tentunya.”

Kami lalu berhenti di sebuah batu besar di pinggir kedung, dan duduk disana, menikmati pemandangan alam yang sangat indah ini. Maha karyanya yang tidak ada duanya. Hawa sejuk yang kami rasakan terasa hingga ke dalam jiwa.

“Ian,” panggilnya.

“Ya?”

“Kamu udah mulai lamar-lamar kerja?” tanyanya. Kiki melepas sendalnya dan memasukan kedua kaki ke dalam air.

“Udah sih beberapa, kamu sendiri?” aku kemudian ikut duduk di samping kanannya. Namun posisi duduk ku tidak sejajar dengannya, melainkan membentuk suduk sembilan puluh derajat.

“Aku sebenernya udah keterima kerja, hehehe,” jawabnya sambil menoleh pada ku dan tersipu malu.

“Waaah, kok ndak bilang-bilang?”

“Ini aku bilang sama kamu, orang baru di infoinnya tadi pagi lewat telepon.” balasnya.

“Waaah, selamat ya Ki, ikut seneng aku.”

“Makasih, kamu juga lebih semangat lagi ya ngelamar-ngelamarnya. Jangan kaya pas skripsi kemarin, revisi dikit aja udah galau,” sindirnya. Terdengar suara kecipak air yang dimainkan oleh kaki nya.

“Hehehe, kamu belum pernah berhadapan langsung sama tuh Purek sih (read: Pembantu Rektor),” balas ku membela diri.

“Jadi, aku besok udah balik ke Jakarta, maaf ya duluan,” ucapnya lagi tanpa menghiraukan ucapan terakhir ku.

“Eh, kenapa?”

“Lusa aku harus melengkapi berkas-berkas,” balasnya. Kakinya masih bermain dengan air.

“Oh, kirain kenapa, ya ndak apa-apa, yang penting hati-hati, selamat sentosa sampai tujuan, yo ora?

“Betul…”

“Tapi berani kan sendiri?”

“Pertama kali ke Jakarta aku juga udah berangkat sendiri kali,” protesnya.

“Ya kali aja kamu mendadak kemayu trus ngrayu-ngrayu aku minta pulang bareng gitu,” balas ku masih dengan bercanda.

“Enak aja, aku bukan cewek kaya gitu, aku ini cewek kuat, hahaha,” balasnya sambil tertawa.

“Percayaaa.”

“Hihihi,” dia tertawa geli sambil mendorong bahu ku. Aku pun pura-pura terdorong hingga jatuh kebawah. Untung di depan ku bukan kedung seperti di depannya, hanya sebuah parit kecil, jadi pas aku jatuh hanya sendal dan bagian bawah celana panjang ku yang basah.

“Beneran kuat banget ternyata, senggol dikit aja aku udah mental, ” ucap ku dengan ekspresi tersakiti.

“Aaaa, Ian mah becanda mulu,” balasnya manja sambil menghentak-hentakkan kaki nya, sedangkan tanganya menggenggam gemas. Wajahnya cemberut. Persis seperti anak kecil. Tapi sekilas kemudian tersenyum malu.

“Ki,” panggil ku.

“Hmmm,”

“Bantuin dong,” pinta ku sambil mengulurkan tangan.

“Ga mau! Ian jelek!” ucapnya sambil membuang muka.

Akhirnya aku pun bangkit sendiri karena Kiki benar-benar tidak mau membantu ku. Kemudian duduk kembali di sampingnya seperti tadi.

“Ian,” panggilnya.

“Yap,”

“Kamu pasti percaya dengan yang namanya cinta sejati,” tebaknya tiba-tiba.

“Kenapa tiba-tiba nanya itu deh?”

“Pasti percaya kan? Kalau enggak percaya mana mungkin kamu masih ngarepin Diah meskipun udah hampir empat tahun,” lanjutnya.

“Ehmmm, Ini apaan sih?”

“Hehehe, maaf, aku cuma pengen tau aja apakah benar masih ada apa enggak yang namanya cinta sejati itu,” balasnya.

“Kamu sendiri?”

“Aku? Hahaha. Ga tau Ian. Jujur setelah kejadian ibu ku pergi meninggalkan keluarga ku dulu, aku ndak percaya lagi. Yang aku percaya adalah kebutuhan sejati. Siapa yang dibutuhkan, maka semua orang akan mendekatinya,” jelasnya.

“Cinta ndak sesempit itu,” balas ku.

“Masa?”

“Cinta mu sama bapak mu, sama kakak-kakak mu, sama kita berempat, memangnya masih tergantung siapa yang membutuhkan?”

“Itu beda Ian,”

“Justru itu, cinta ndak sesempit yang kamu bayangkan. Cinta itu luas. Cinta itu universal,” lanjut ku.

“Tapi, kalau cinta yang itu?”

“Insyaallah pasti masih ada. Hanya kamu saja yang belum menemukannya. Bukan kah Allah menciptakan manusia itu untuk berpasang-pasangan? Lalu apa guna nya berpasangan bila tidak saling mencintai?”

“Iya sih, tapi…”

“Percaya aja Ki, suatu saat nanti pasti akan ada seorang laki-laki yang bisa menggetarkan hatimu,” lanjut ku.

“Sudah ada sih, eh, enggak deng,” ralatnya cepat.

“Haaah? Serius? Siapa ki? Curang ndak cerita-cerita,” cecar ku padanya.

“Hihihi, ada deh.”

“Siapa? Orang sini bukan?”

“Mau tau aja sih. Kalau iya kenapa?”

“Waduuuh, ntar kalau liat kita jalan berdua gimana?” tanya ku panik.

“Wooo, cemeeen,” ejeknya.

“Eh tapi beneran Ki? Siapa namanya? Kasih tau dooong,” rengek ku pada nya.

Lalalalala…” bukanyan menjawab pertanyaan ku Kiki malah bersenandung mengacuhkan ku.

“Jelek!”

“Biarin, weeek.”

“Pantes, kok aku ngerasa kamu beda ya Ki belakangan ini, ternyata itu alesannya,” ledek ku.

“Eh, be-beda kenapa?”

“Lebih ceria aja, baju lebih modis gitu, pake make up segala lagi, lagi kasmaran toh ceritanya, Hehehe,” canda ku.

“Eh, e-enggak ah. Biasa aja sih, ngaco Ian mah, ga ada hubungannya sama itu,” kilahnya.

“Dan, aku juga ngerasa kamu yang sekarang jadi lebiiih, cantik, hehehe,” lanjut ku menggodanya.

“IAAAN…,” teriaknya. “Becanda mulu iiihhh,” omelnya lagi sambil memukul-mukul bahu ku.

“Aaaww…aaaww…ampun Ki, sakiiit, ampun…” teriak ku meminta ampun.

“Booodo! Biar tau rasa! Dah yuk ah turun, baju ku udah mulai basah nih kena embun,” balas nya. Sekilas aku melihat mukanya langsung memerah. Kiki lalu bangkit dan turun dari batu besar ini.

Tidak lama setelah kami berjalan, tiba-tiba hujan turun. Tidak terlalu deras namun cukup untuk membuat basah jika kami tidak segera mencari tempat berteduh. Aku dan Kiki, begitu juga dengan pengunjung lainnya, berlari ke tempat terdekat yang bisa digunakan untuk berteduh.

“Ki, tunggu,” panggil ku saat aku mengeluarkan jaket kulit dari dalam tas ku. Aku lalu merentangkan jaket itu untuk menutupi kepalanya yang berbalut kerudung.

“Eh, makasih…” balasnya dengan suara lembut. Kami berdua berjalan beriringan menuju sebuah pos, semacam pos keamanan, atau sejenisnya. Di pos ini juga ada beberapa pengunjung lain yang sudah lebih dulu berteduh. Kami berdua pun hanya kedapatan tempat di emperan yang menyebabkan air hujan yang tampias masih mengenai bagian bawah kaki kami.

Aku perhatikan baju yang dikenakan Kiki sudah semakin lembab. Selain karena embun yang diakibatkan air terjun saat kami duduk di atas tadi, hujan yang turun kadang disertai dengan angin yang menyebabkan air kadang mengenai bagian atas tubuh kami. Tanpa pikir panjang aku langsung menelangkupkan jaket kulit ku ke kedua lengannya hingga menutupi badannya.

“Eh, Ian, ga usah,” ucapnya berusaha menolak.

“Udah pakai aja,” balas ku.

“Tapi kamu nanti…” ucapnya lagi masih berusaha menolak.

“Tenang aja, aku ndak apa-apa kok,” balas ku lagi yang sekarang sudah menghadap ke depan.

“Makasih,” ucapnya pelan lalu menunduk. Sekilas aku bisa melihat sebuah senyum terkembang dari wajahnya.

Hujan masih turun dengan derasnya. Sudah hampir setengah jam dan tidak kunjung reda. Hawa dingin mulai ku rasakan. Selain karena baju ku yang semakin lembab, angin juga berhembus kencang. Sesekali aku harus menggosok-gosokan kedua telapak tangan ku dan meniupnya untuk mendapatkan kehangatan.

“Ian, kamu gapapa?” tanya Kiki dengan raut wajah khawatir.

“Aku rapopo Ki, hehehe,” jawab ku setengah bercanda.

“Iiih, serius. Nih jaketnya kamu pakai lagi aja deh,” ucapnya sambil berusaha melepas jaket ku.

“Enggaaak!” balas ku tegas. “Ndak apa-apa beneran, palingan bentar lagi juga reda, hehehe,” tolak ku.

“Bener?”

“Iyaaa,” aku tersenyum padanya.

Setelah itu kami kembali menatap kedepan. Berharap semoga hujan cepat reda, dan matahari kembali memancarkan cahayanya. Serius ini dingin banget. Tapi tidak mungkin aku bilang itu ke Kiki dan meminta kembali jaket ku. Aku kembali mengusap-usap telapak tangan ku sendiri. Lalu apa yang sebelumnya tidak pernah aku bayangkan kemudian terjadi.

“Eh, Ki, ini?” aku kaget ketika Kiki meraih tangan kiri ku dan menggenggam nya erat. Jari-jari tangan kanan nya mengisi ruang kosong di sela-sela jari tangan kiri ku. Sedangkan jemari tangan kirinya mengusap permukaan kulit lengan kiri ku.

“Udah diem aja, aku ga mau kamu kedinginan kaya gitu,” ucapnya tanpa melihat ke arah ku. Pandangannya tetap lurus kedepan. Dan kemudian menyandarkan kepalanya di punda kiri ku, membuat ku semakin bisa merasakan hangat tubuhnya.

~¤~¤~¤~

Lima belas menit setelah momen yang sedikit romantis itu, hujan pun reda. Romantis? Iya. Yang aku rasakan seperti itu. Kiki? Aku ga tau. Mungkin juga iya, mungkin tidak, atau mungkin hanya aku yang ke GR an saja? Entahlah. Aku dan Kiki lalu memutuskan untuk keluar dari objek wisata ini. Entah langsung pulang atau cari makan terlebih dahulu. Tapi mungkin makan dulu, nyari yang anget-anget.

Jalanan setapak yang menjadi akses dari air terjun ke lokasi parkiran motor menjadi sangat licin. Kami berdua harus berhati-hati saat melewatinya. Entah mengapa suasana diantara kami jadi terasa canggung. Kiki jadi lebih banyak diam. Aku juga ga tau harus ngobrol apa dengannya. Lalu tiba-tiba…

“Aaaw,” teriak Kiki tepat berada di depan ku. Dia terpeleset. Badannya terhuyung kebelakang ke arah ku. Reflek tangan ku langsung berusaha menangkap badannya. Namun sayang, atau beruntung, sebelum badannya tertangkap oleh ku, punggung Kiki sudah menghantam dada ku terlebih dahulu sehingga membuat tubuh ku ikut tidak seimbang. Tangan ku yang tadinya berniat menangkap badannya pun akhirnya meleset dan sekarang malah mendarat tepat di bagian tubuhnya yang lain, di dadanya.

Suasana pun berubah menjadi sangat kacau. Aku terjatuh dalam posisi terlentang dan Kiki menimpa ku dengan posisi membelakangi. Kami berdua sama-sama terdiam. Parahnya, selama beberapa detik kedua telapak tangan ku masih menelangkup dengan erat di kedua payudaranya. Dan itu adalah momen paling tolol yang pernah aku lalukan terhadap Kiki, atau momen paling beruntung? Beda tipis sepertinya.

“Ian?” panggil Kiki.

“Ya Ki, aaaww,” jawab ku sambil mengerang karena aku merasakan sedikit nyeri di pinggang ku akibat tertimpa badannya tadi.

“TANGAN KAMUU!!!” teriaknya keras dan membentak. Spontan aku langsung melepaskannya. Dan membantunya bangun meskipun dia sedikit menolak dan berusaha untuk bangun sendiri.

“Ma-maaf kiii,” ucap ku pelan.

“Kita langsung pulang aja!” balasnya mengacuhkan permintaan maaf ku. Aku pun hanya mengiyakannya dengan penuh perasaan tidak enak. Kami pun langsung pulang. Disepanjang perjalanan juga tidak ada percakapan di antara kami. Sama-sama saling membisu.

~¤~¤~¤~

“Ian,” panggil Kiki memecah kesunyian. Kami berdua sekarang sudah tiba di rumah Kiki.

“Ya Ki?”

“Ehmmm, yang terjadi saat kita di jalan pulang tadi jangan sampai ada yang tau ya, terutama Gita.”

“Eh, iya Ki. Aku minta maaf. Serius aku ga ada niat, aku cuma…”

“Sstthh…sudah gapapa, aku tau kok, yang penting jangan samapai ada yang tahu.”

“Makasih Ki, hehehe,” aku tersenyum garing. Dia membalasnya. Aku masih tidak enak dengan kejadian yang terjadi tadi. Aku sempat khawatir dia akan marah.

“Ya sudah kamu pulang sekarang, ntar kemaleman.”

“Iya ki,” aku kembali tersenyum.

“Salam buat Binar dan keluarga,”

“Akan ku sampaikan.”

“Sampai ketemu di Jakarta.” ucap nya.

“Hati-hati ya besok.” balas ku. Dia mengangguk. Kami saling tersenyum dengan canggungnya. Lalu saling melambaikan tangan. Dan aku pun pulang.

~¤~¤~¤~

“Mas-mas, bangun mas,” aku mendengar binar membangunkan ku pagi ini. Dua hari telah berlalu sejak kejadian konyol yang aku alami bersama Kiki di curug silangit itu. Iya konyol, tapi jujur empuk banget sih. Serius. Hahaha. Gagal fokus. Aku jadi senyum-senyum sendiri.

“Mas, sadar mas, malah senyum-senyum sendiri gitu,” komentar dari Binar.

“Hehehe,” senyum ku lagi. Dia hanya menggelengkan kepala.

Hari ini aku akan balik ke Jakarta. Bukan karena kangen dengan keluarga sudah terobati. Tapi karena ada panggilan wawancara untuk besok lusa. Aku tidak mau melepas kesempatan sekecil apapun. Jadi aku harus balik hari ini. Sama seperti Kiki, aku balik lebih awal dari rencana sebelumnya.

“Mas, tadi ibuk pesen, katanya minta dijemput di pasar jam tujuh,” ucap Binar lagi.

“Ibu kepasar?”

“Iya,”

“Lah tadi berangkat bareng siapa?”

“Mas Yoga, tapi dia kan sekalian pergi, baru balik entar siang,” jelas nya.

“Oh gitu, ya sudah, jam berapa sekarang?”

“Setengah tujuh mas. Hiiih, pasti ga sholat subuh lagi kan tadi?” omelnya.

“Heheee,” aku hanya tersenyum garing menanggapinya.

“Dasar! Udah gede juga, masih aja bolong sholat nya,” lanjutnya.

“Hehehe, janji ndak bolong lagi deh,” balas ku. “De,” panggil ku lagi.

“Apa?”

“Jangan galak-galak napa sama mas, ntar cantik nya ilang lho,” canda ku sambil mentoel dagunya.

“Alaaah! Gombal! Udah cuci muka sana buru, trus nyusul ibuk ke pasar,” balasnya sambil menepis tangan ku.

“Iya-iyaaa,” balas ku sambil senyum-senyum ga jelas.

Aku pun membersihkan muka ku sebelum kemudian berangkat ke pasar. Menjemput ibuk tercinta.

~¤~¤~¤~

Jarak dari rumah ke pasar ada sekitar tiga kiloan. Hanya perlu waktu lima menit untuk ku bisa menyusul ibuk. Saat aku tiba, ternyata ibuk sudah selesai dan sedang mengobrol dengan entah siapa aku ga kenal. Aku pun segera menghampirinya.

Namun, belum sampai aku pada ibuk, tiba-tiba ada seseorang di seberang jalan sana yang mengalihkan pandangan ku. Aku tidak menyangka akan bertemu dengnnya di tempat seperti ini. Aku masih menatap ke arahnya. Dan tanpa ku duga dia juga melihat ke arah ku. Aku tersenyum. Dia juga. Pun begitu dengan anak kecil yang di gendongnya. Itu pasti anaknya.

Tidak lama kemudian sebuah mobil pribadi berhenti di dekatnya. Dia masih menatap ku. Sedangkan dari dalam mobil itu keluar seorang pria, berumur mungkin awal tigapuluhan atau akhir duapuluhan. Pria itu menghampirinya lalu membantu mengangkat belanjaannya. Sambil dengan sesekali mengajaknya ngobrol. Namun dia hanya sesekali menanggapinya. Dan di momen yang lain masih curi-curi pandang ke arah ku. Hingga kemudian dia dan anak kecil itu masuk ke dalam mobil, menutup kaca dan berlalu meninggalkan tempat ini.

Ternyata dia sudah bahagia sekarang. Ternyata apa yang menjadi pilihan dari orang tuanya adalah tepat. Dan ternyata, aku bukan lah siapa-siapa lagi. Aku hanya lah aku. Yang tidak bisa memperjuangkannya. Dan aku, hanyalah pecundang yang masih terus mengharapkannya.

“Lha kok malah ngelamun to le?” tanya ibuk membuyarkan pandangan ku. Aku sampai lupa dengan ibuk dan malah beliau yang menghampiri ku.

“Ah ndak buk, tadi ada temen SMA tapi kok aku malah lupa namanya,” jawab ku berbohong.

“Wheeeladalaaah, masih mudah kok udah pikun. Yo udah, nda usah di piker banget-banget, ayo muleh,” ajaknya. Aku hanya tersenyum garing menanggapinya. Dan kami pun pulang.

Pas tiba di rumah, aku langsung curhat pada Binar. Dia menaruh iba pada ku. Tapi aku selalu bersikap tegar di depannya. Meskipun berat rasanya untuk menerimanya. Dia juga turut mendoakan ku semoga ini adalah yang terbaik untuk ku dan untuk Diah. Aku pun juga selalu berharap seperti itu. Dan aku yakin Diah sekarang sudah benar-benar bahagia.

~¤~¤~¤~

Setelah sungkem dengan semua anggota keluarga kecuali Binar, aku diantar mas Yoga ke terminal untuk balik ke Jakarta. Tidak terasa lima hari sudah aku berada di kampung. Semua berlalu dengan cepat dan mengalir begitu saja. Termasuk bagaimana kejadian lucu yang aku alami bersama Kiki di curug silangit, hingga kejadian tak terduga yang terjadi tadi pagi.

Masa bodo lah dengan semuanya. Semangat ku sekarang hanyalah untuk menghadapi wawancara dua hari lagi. Menyongsong masa depan ku. Untuk keluarga ku. Sebelum berangkat pun aku tak lupa meminta doa pada bapak ibuk dan semuanya. Semoga aku diberi kemudahan. Dalam segala hal. Termasuk melupakannya.

~¤~¤~¤~

“Wuiiih, om Ian rapi bener,” komenter Tiara saat melihat ku sudah rapi dengan setelan kemeja lengan panjang, celana bahan dan bersiap mengenakan sepatu pantofel ku.

“Iya dong, kan Om mau ke tempat kerja,”

“Emang om udah kerja?” tanya nya lagi.

“Belum sih, ini baru mau tes, makanya doain ya biar om keterima. Nanti om traktir makan deh kalau om udah gajian,” tawar ku padanya.

“Asiiik, di traktir om Iaaan, tapi nanti ama tante Kiki juga ya Om,” pinta nya. Aku pun tersenyum garing mendengarnya. Kiki lagi, lagi-lagi Kiki.

“Iya nanti sama tante Kiki juga,” aku mengabulkannya. “Ya sudah, om berangkat dulu ya,” ucap ku seraya bangkit.

“Mba, jalan dulu ya,” pamit ku dengan mba Endang yang berdiri tak jauh dari kami.

“Iya hati-hati ya,” pesannya.

“Iya mba,” balas ku. Dan aku pun berangkat.

Berbekal alamat yang diberikan oleh bagian HR, aku berputar-putar di kawasan Simatupang. Setelah beberapa saat, aku akhirnya menemukan lokasi perkantoran yang di maksud. Dengan percaya diri aku masuk ke dalam gedung itu, setelah sebelumnya dilakukan pemeriksaan oleh bagian security.

“Pagi mba, eh Bu, maaf mau bertemu dengan Pak Arman, bagian HR, ada janji buat wawancara,” ucap ku pada sang resepsionis.

“Owh iya, ini dengan sodaraaa,” dia berhenti dan menunggu ku menyebutkan nama.

“Alfian, Alfian Restu Kusuma,” ucap ku. Dia kemudiam seperti memeriksa daftar nama yang ada. Mencari nama ku.

“Ada kan mba eh Bu nama saya?” tanya ku lagi karena sampai beberapa saat nama ku belum ketemu.

“Nah ini dia, tenang mas. Pasti ada kok. Masnya bisa tunggu di sofa itu dulu ya. Masih setengah jam lagi kok. Nanti saya panggil kalau sudah mau mulai,” jelasnya dengan ramah. Aku pun mengiyakannya dan menunggu di sofa yang di maksudnya.

Aku pun menunggu. Lima menit. Sepuluh menit. Dan belum di mulai juga. Di kiri dan kanan ku sudah ada beberapa orang yang sepertinya juga peserta tes. Ingin sebenernya berbasa-basi dengan mereka. Tapi males ah. Nervous juga rasanya. Ah entahlah. Semoga tidak nge blank pas di dalam sana nanti.

Aku masih menunggu. Detik-detik peperangam yang sebenarnya baru akan dimulai. Sesekali aku menggerak-gerakkan badan ku untuk menghilangkan grogi. Tapi ini pengalaman pertama. Tetap saja rasanya dag dig dug. Haaah. Lalu tiba-tiba ada seseorang yang suaranya aku lupa-lupa ingat memanggil ku.

“Alfian?”

“Eh, ehmmm,” aku menatapnya. Mencoba mengenalinya. Dia kaaan…

“Alfian kan?” tanya nya lagi.

“Mba Ayu?” tanya ku balik.

[Bersambung]

Hallo Gaiss, Disini Admin KisahMalah
Agar Admin Semakin Semangat Update Cerita Cerita Seru Seterusnya, Bantu Klik Iklan yang Ngambang ya.
Atau Gambar Dibawah INI

Atau Bagi Kamu yang suka bermain game Poker Online atau Gambling Online lainnya, bisa di coba daftarkan ya. Banyak Bonus dan Hadiahnya Loh.
Untuk yang Kesulitan Daftar bisa Hub Admin di WA untuk di bantu Daftar.
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part