web hit counter

Merindukan Kesederhanaan Part 24

0
382

Merindukan Kesederhanaan Part 24

Sahabat

“Mba Ayu, mau bareng lagi ga?” ucap ku menawarkan tebengan pada mba Ayu karena sore ini kebetulan ada janji ketemuan dengan Kiki. Dan hanya dengan Kiki. Sudah hampir dua minggu berlalu, setelah kejadian horor di rumah Gita dan rumah sakit waktu itu, aku benar-benar hilang kontak dengan Doni dan Gita.

Untuk Gita sendiri, info yang aku dapat dari pak Weily, sudah terbang ke Australia tidak lama setelah kejadian itu. Dia tidak hanya marah kepada ku, tetapi juga pada pak Weily. Bahkan dia berangkat pun tidak pamitan dengan papanya. Sedangkan Doni, sudah dua kali aku mengunjungi rumahnya, tapi entah dia sengaja menghindar atau bagaimana, dia selalu tidak di rumah. Telepon dan wasap ku tidak ada yang direspon, pun begitu dengan Gita.

“Tumben nawarin?”

“Ini aku kebetulan mau ke arah Margonda mba, mau ketemuan sama Kiki.”

“Cie cieee, Gita melayang, Kiki pun datang,” ledek dari mba Ayu. Mba Ayu memang sudah tau semuanya. Aku menceritakan semuanya. Dengan senang hati mba Ayu mau mendengarkannya. Dan aku juga semakin dekat dengannya. Tapi lebih dalam artian teman atau adik kakak gitu sih. Tentu saja aku adik nya.

“Hahaha, gimana kalau mba Ayu ikut aja? Sekali-kali.”

“Aku? Lain kali aja deh. Eh, emang mau kemana kalian?”

“Margo,” jawab ku sambil menggerakkan alis ku. Mba Ayu nampak berfikir.

“Gimana?” tanya ku lagi.

“Ah enggak deh, lain kali aja, kabarin aja kalau mau jalan lagi,” balasnya.

“Ya sudah kalau gitu. Trus, ini lembur lagi?”

“Yes, hehehe.”

“Ga capek?”

“Capek sih, tapi ya dari pada bengong di kost an, mau ngapain lagi?”

“Cari SUAMI mba, malah nanya ngapain, hahaha,” ledek ku sambil berdiri dan akan berlari keluar ruangan.

“Ah sial lo,” balasnya sambil melempar ku dengan gulungan tisu bekas. Namun kemudian dia tersenyum.

“Hati-hati ya, salam buat Kiki,” pesannya.

“Siaap!”

“Dijagain.”

“Siaap!”

“Jangan sampe lepas lagi kaya yang di Ausy! Hihihi”

“Ah mba maaah,” keluh ku. Dia menjulurkan lidah nya dengan penuh kepuasan karena berhasil membalas ledekan ku. Aku pun meninggalkan ruangan dengan wajah cemberut. Sedangkan mba Ayu semakin tertawa puas.

Situasi kantor sore ini sudah sepi. Hanya tinggal satu dua karyawan saja yang masih berada di kantor. Sebagian besar karyawan, memang selalu pulang tepat waktu, kkecuali mba Ayu tentunya, dia malah hampir selalu lembur. Luar biasa lah pokoknya komitmen yang dia punya. Dan aku bangga bisa menjadi satu team dengannya.

Sebelum turun ke parkiran motor, aku mencoba menghubungi Kiki lagi, untuk memastikan kita akan ketemuan jam berapa dan dimana.

“Halo, Ki? Kamu udah dimana?”

“Aku udah di kereta, kamu?”

“Masih di kantor, baru aja mau turun ke parkiran.”

“Oh, jadi kita ketemuannya dimana nih?”

“Lah, justru aku mau nanya itu.”

“Ya terserah kamu, aku mah ikut aja.”

“Depan kampus aja gapapa ya, hehehe, tapi di seberangnya.”

“Wooo dasar! Kirain bakal nyamperin ke stasiun!”

“Macet Ki, malah lama lho ntar.”

“Iya-iyaaa.”

“Hehehe ”

“Ya udah kamu jalan sekarang aja, hati-hati di jalan.”

“iya Ki, hati-hati juga ya kamu nya.”

Setelah sambungan telepon terputus aku langsung bergegas menuju parkiran motor dan langsung tancap gas ke tempat dimana aku dan Kiki janjian. Sebenarnya ini acara dadakan. Kiki mendadak mengajak ku bertemu tadi siang. Katanya besok libur ini jadi gapapa kan pulang maleman dikit. Aku sih nurut aja.

Pas aku tanya apa ada hal penting yang ingin dibicarakannya, dia menjawab tidak ada. Katanya hanya kangen saja pada ku. Dan pasti kangen juga pada Doni dan Gita juga, tapi mau gimana lagi, situasi tidak memungkinkan untuk kita bisa berkumpul bersama lagi. Aku sih yakin dia sebenarnya ingin curhat tentang mereka berdua. Dia pasti kangen banget. Aku aja kangen. Kangen banget malah. Ga nyangka perjuangan selama empat tahun bersama berakhir begitu saja dengan tidak enak.

~¤~¤~¤~

“Sudah lama?” sapa ku ketika aku berhenti tepat di depannya yang berdiri di trotoar jalan seberang kampus. Kiki ternyata sudah tiba dengan wajah lesunya. Iseng aku menoleh ke arah kampus, ke arah jalan masuk menuju kampus, dimana dulu aku pernah berinteraksi dengan Gita. Waktu dia hampir menabrak ku. Hahaha, memori itu muncul kembali. Sedih rasanya kalau diinget-inget lagi. Langsung aku paling kan pandangan ke Kiki lagi. Dia agak cemberut.

“Kenapa?”

“Kamu lama!”

“Hehehe, macet Ki.”

“Capek tau, pegel!”

“Maaf.”

“Iya.”

“Ya udah yuk ah naik,” ajak ku padanya. Dia mengangguk dan kemudian naik. Aku pun langsung menjalankan motor ku.

~¤~¤~¤~

“Yang udah gajian, ngebayarin kan?” canda ku pada Kiki saat memilih menu makanan. Posisi kami tepat di sebelah kaca yang menghadap ke luar mall.

“Iya deeeh,” balas nya lesu.

“Kamu kenapa sih Ki?”

“Gapapa,” jawabnya masih lesu.

“Aku pernah baca,” ucap terhenti, Kiki menatap ku. “Wanita kalau ditanya kenapa terus jawabnya gapapa gitu biasanya ada apa-apa.”

“Ngomong apa sih kamu?” tanyanya dengan sorot mata dingin namun seperti ingin tertawa.

“Hahaha, bener lho itu, percaya deh, namanya kamus bahasa wanita,” jelas ku dengan nada semakin sok tau.

“Hahaha, sok tau ah kamu, kaya ngerti cewek aja,” ejeknya. Tapi benarnya juga si Kiki. Aku memang tidak mengerti tentang perempuan. Aku tersenyum kecut.

“Ki, kamu masih inget ndak sama tempat itu?” tanya ku pada Kiki sambil menunjuk ke sebuah cafe yang dulu kami pernah nongkrong bareng di sana. Ya, kami berempat. Kalau tidak salah waktu itu kami merayakan kenaikan tingkat. Selain itu dari kumpul waktu itu lah cikal bakal dimulainya usaha bersama kami yang sekarang aku bingung sendiri mau dilanjutkan atau tidak.

“Ingetlah, jum’at malam juga kan ya?”

“Iya, Margo Friday Jaz,” aku tersenyum padanya. Dia membalas senyum ku namun kemudian dua titik air mata jatuh mengalir membasahi kulit pipinya yang halus.

“Seharusnya kita ndak datang ke sini ya tadi,” ucap ku sambil menggenggam pergelangan tangannya. Mencoba memberinya kekuatan dan ketenangan.

“Enggak kok, aku emang lagi kangen sama mereka, dan di sini aku bisa mengingat memori indah bareng mereka berdua, meskipun sedih tapi aku gapapa kok, makasih masih mau ada di samping Kiki, masih mau jadi temen Kiki, sekarang hanya kamu yang Kiki punya selain kelurga, daaan, Kiki minta maaf, kalau saja waktu itu Kiki ga panik dan mau nunggu sampai Gita dateng, mungkin ceritanya akan lain,” ucap Kiki lalu menyeka air mata di pipinya.

“Salah ku juga yang ndak kepikiran buat minta tolong sama Gita, hahaha. Padahal pas di rumahnya itu dia sendiri yang bilang kalau uang segitu ndak ada nilainya buat dia, sayangnya kita terlalu panik. Tapi itu wajar sih kalau kondisinya kaya waktu itu terjadi pada orang tua kita. Aku juga punya salah. Aku punya rahasia yang aku tutupin selama empat tahun. Sahabat macam apa aku ini? Hahaha,” aku tertawa kecut.

“Ga ada yang sempurna di dunia ini. Persahabatan pun begitu. Kita harus saling melengkapi, saling mengisi, dan saling memaafkan jika masing-masing dari kita ada punya salah, dan mungkin sekarang waktunya untuk kita berempat berpisah dulu,” balasnya. Aku mangangguk mendengar penjelasannya.

“Masalah Gita dan Doni, mungkin mereka belum diberi kebesaran hati saja sama Allah untuk memaafkan kita. Sekarang tinggal kita nya saja yang banyakin doa, semoga suatu hari nanti kita bisa kembali seperti dulu lagi,” lanjutnya.

“Aamiin, mudah-mudahan.”

Kiki tersenyum lagi. Lalu menarik tangannya karena bertepatan dengan datangnya pelayan yang membawakan pesanan kami. Lega rasanya bisa saling melepaskan unek seperti ini. Kita akan selalu menjadi sahabat, aku janji. Dan semoga kamu juga akan selalu menjadi sahabat ku.

“Ibu kamu gimana keadaannya sekarang?” tanya ku disela-sela makan.

“Udah baikan kok. Ya seperti yang kamu tau, dia masih tinggal dengan suaminya itu, terakhir aku jenguk dua hari yang lalu bareng mas Riki.”

“Oh, ya alhamdulillah kalau gitu, bagaimanapun keadaannya ndak boleh kalau sampai putus silaturahmi.”

“Eh iya, dapet salam dari mas Riki, katanya disuruh main kalau ada waktu.”

“Ke bekasi?”

“Iya.”

“Berarti sama kamu juga dong?”

“Iya lah.”

“Sip, atur waktu aja, hehehe,” ucap ku menyetujui sambil tersenyum. Kiki memberikan acungan jempol pada ku.

“Oiya, emang bener ya Gita udah di Australia?” tanya Kiki.

“Iya, yang aku tau dari pak Weily begitu.”

“Pak Weily ga nyoba ngajak balik gitu?”

“Udah, tapi nihil. Lagi pula mustahil aja setelah kejadian itu dia mau nurut sama bapaknya lagi. Dia ndak berbuat macem-macem aja itu udah sukur. Tapi nyesek juga lho kita udah usaha selama empat tahun buat baik-baikin dia supaya dia jadi anak yang manis lagi tapi endingnya ga enak.”

“Iya…aku juga nyesek rasanya. Tapi minggu depan kan wisuda?”

“Aku ndak tau soal itu, tapi feeling ku sih Gita belum akan balik dalam waktu dekat ini, mungkin dia akan melewatkannya. Orang seperti Gita apa sih yang ndak mungkin, bahkan hari wisuda sekalipun.”

“Segitunya ya?”

“Kamu tau lah Gita kaya apa.”

“Kalau Doni?”

“Udah dua kali aku nyamperin rumahnya, tapi selalu ndak di rumah. Emang sengaja menghindar kayanya. Kamu bisa hubungin dia ga? Nomer ku udah di blok kayanya.”

“Sama, aku juga ga bisa,” balasnya lesu. “Tapi dia udah kerja juga kan ya?” lanjutnya.

“Denger-denger sih udah, di media kalau ndak salah?”

“Alhamdulillah kalau begitu, yang penting sudah kerja juga.”

“Iya.”

“Eh kenapa ga kita samperin ke kantornya aja?”

“Waktunya? Kita kan kerja juga,” jelas ku hopeless.

“Oiya-ya,” dia juga sudah hopeless.

“Ya udah, lain kali kalau ada waktu, kita ke rumah Doni bareng yuk. Kalau ke Australia bareng kan belum ada duitnya, hahaha.”

“Hahaha. Pinter kamu.”

“Ngomong-ngomong soal Wisuda, orang tua kamu kapan berangkat ke sini?” tanya Kiki.

“Udah tadi siang, bapak kamu sendiri?”

“Sama, tadi siang juga, barengan dong?” tanyanya balik.

“Iya, jangan-jangan satu bus lagi?”

“Hihihi, bisa jadi, besok kabarin ya nomer bus orang tua kamu,” pintanya.

“Sip deeeh,” balas ku. Kami pun melanjutkan malam ini dengan makan bersama. Dengan saling bercerita. Apa saja kami ceritakan. Mulai dari lngkungan kerja, hingga teman-teman kerja yang dari aneh-aneh hingga kocak-kocak. Suasana malam ini antara aku dan Kiki pun sudah cair. Tidak ada lagi kesedihan terpancar dari raut wajahnya.

Setelah selesai makan, sekitar jam sembilan malam kami memutuskan untuk pulang. Aku mengantarnya ke kost an terlebih dahulu. Tapi di perjalanan aku malah kepikiran dengan ucapan Kiki di tempat makan tadi. Jika Kiki sedikit lebih tenang dan tidak panik, seharusnya kami menunggu kedatangan Gita. Dan dalam keadaan terdesak seperti itu, mungkin kita bisa meminjam uang terlebih dahulu pada Gita, bukan ke pak Weily. Sebuah kesalahan besar yang aku lakukan bersama Kiki, dan kami berdua harus membayar mahal konsekuensinya.

Lantas apakah itu menjadi salah Kiki? Tentu saja bukan. Aku juga yang terlalu gegabah dalam mengambil keputusan. Tapi kalau dirunut kebelakang lagi, seandainya Mba Ayu tidak memaksa ku untuk mengantarnya pulang, aku tidak akan lewat jalan margonda, yang artinya aku tidak akan ada kepikiran untuk menelepon Kiki. Dan Kiki akan menunggu Gita.

Lalu apakah kemudian ini menjadi salah Mba Ayu? Tentu saja bukan. Aku yang lebih dulu menakut-nakutinya. Hingga kemudian dia meminta ku untuk mengantarnya pulang. Jadi, dari sudut pandang manapun kesalahan tetaplah ada pada diri ku. Diri ku lah sumber segala permasalahan ini.

“Ian,” panggilnya setelah turun dari motor yang membuyarkan lamunan ku.

“Eh, iya?”

“bengong ya?”

“Endak kok.”

“Bohong!”

“Bener, kenapa deh?”

“Ehmm, cuma mau bilang, kamu jangan pernah menjauh dari aku ya,” pintanya dengan penuh harap. Aku bingung dengan permintaannya yang tiba-tiba itu. Seperti permintaan pada seseorang yang sangat spesial. Aku spesial?

“Iiih, ga usah heran gitu!”

“Aneh aja tiba-tiba bilang kaya gitu, hehehe.”

“Pokoknya apapun yang terjadi, jangan pernah tinggalin aku ya.”

“Hah?”

“Iiih, jangan ke GR an dulu. Aku hanya ga mau kehilangan sahabat seperti kamu. Dengan kamuuu,” ucapnya terhenti. Aku memicingkan mata tanda penasaran.

“Dengan kamu, aku merasa nyaman. Menjadi sahabat mu, menjadi orang terdekat mu, bersama Gita dan DOni, sudah cukup membuat ku bahagia. Semoga kamu juga begitu.” ucapnya penuh harap. Aku tersenyum.

“Pasti, aku juga begitu kok,” balas ku sambil tersenyum dan mengusap kepalanya yang masih terbalut kerudung warna kuning.

“Ga sopan kamu, pegang-pegang kepala orang yang lebih tua,” candanya dengan wajah manyun namun tidak berusaha menjauhkan tangan ku dari kepalanya.

“Iya lebih tua, tapi mewek mulu, hahaha.” Aku tertawa balik, dia pun ikut tertawa.

“Namanya juga cewek, weeek,” balas nya tidak mau kalah.

“Hahaha, iya-iyaa.”

“Ya udah kamu pulang gih, ntar kalau kemaleman aku di omelin mba Endang lagi, hihihi.”

“Iya, ntar kamu di omelin ngajak main anak orang malem-malem.”

“Dih, kemayu deh kamyuuu, seharusnya aku yang bilang gitcuuu,” balasnya centil.

“Hahaha, ya udah aku pulang ya.”

“Iya, hati-hati…”

“Iya,” aku melambaikan tangan padanya. Dia memabalasnya dan berjalan menuju teras kost nya sebelum berbalik lagi dan tersenyum pada ku.

Selalu rindu selalu ingin

Bersama dengan kamu

Tak kan ingin aku berpisah

Denganmu bagai terbang melayang

Kita berdua slalu bersama

Bagai di surga dan tak kan terpisahkan

Denganmu hidup ini sempurna

Tak ingin lagi meraih cita

Cukup denganmu cinta

~¤~¤~¤~

Pagi-pagi sekali, aku, mba Endang dan keluarga kecilnya, beserta bapak dan ibuk sudah berangkat menuju JCC. Hari ini adalah hari wisuda ku. Tidak terasa sudah empat tahun lebih aku berada di kota ini. Masa-masa susah dan senang seolah terlewati dengan begitu cepatnya.

Masih teringat jelas oleh ku ketika empat tahun lalu aku menginjakkan kaki di jakarta. Rasanya baru kemarin. Kemudian ketika aku pertama kali berjumpa dengan Gita saat pendaftaran dan aku mendapatkan tatapan matanya yang jutek. Hahaha. Atau ketika pertama kali bertemu dengan Doni saat dia ingin meminjam korek api pada ku sesaat sebelum tes. Atau ketika pertama kali bertemu dengan Kiki saat dia datang terlambat pas hari pertama kuliah. Semuanya masih terekam jelas di memori otak ku. Kenangan yang manis.

Begitu juga dengan masa-masa setelah itu. Saat Gita menampar ku di depan umum. Saat aku dua kali hampir kehilangan nyawa karena dia. Saat Kiki dan Doni ngambek gara-gara aku jalan dengan Gita untuk pertama kalinya. Atau saat kami mulai merintis usaha hardcase. Semakin diinget semakin sedih.

“Hei, kok murung sih? Mikirin apaan?” mba Endang membuyarkan lamunan ku. Kami sudah tiba di lokasi. Suasana sekitar ternyata juga sudah rame.

“Ah endak mba, masih belum percaya aja aku udah lulus dan wisuda, hehehe.”

Kakean nglamun koe ki le, ojo koyo bapak mu. Mbiyen enome yo ngunu,” (kebanyakan ngelamun kamu tuh, jangan kaya bapak mu. Dulu mudanya juga gitu) sela ibuk. Hahaha. Kami semua tertawa. Bapak dulu baperan juga kali ya. Namanya juga bapak sama anak. Kalau ga mirip malah aneh.

“Endak buk, cuma inget masa-masa kuliah aja, ya udah yuk kita masuk,” ajak ku pada mereka semua. Oiya, ada Tiara juga. Pagi ini dia manis sekali dengan bajunya. Dan semangat sekali. Pengen ketemu tante Kiki, pastinya.

Begitu turun dari mobil, kami berenam langsung berjalan menuju Hall. Suasananya sudah sangat rame. Dan, aura kebahagiaan terpancar jelas dari wajah mereka semua yang hadir. Entah itu si wisudawan maupun keluarga. Tidak ada kesedihan di mata mereka. Semuanya ceria. Semuanya bahagia, dan tentu saja bangga. Perjuangan selama empat tahun seolah terbayar lunas dengan gelar yang sebentar lagi akan mereka sandang.

Namun tidak dengan ku. Aku tidak bahagia? Tidak juga, aku bahagia, hanya tidak sempurna. Gita sudah pasti tidak datang di acara wisuda ini. Dia masih di Australia. Sedangkan Doni, aku masih belum mendapatkan kabar darinya. Aku rasa sih dia pasti datang, tapi aku tidak yakin apakah dia mau menemui ku. Yang masih membuat ku sedikit bersemangat hanyalah Kiki. Tapi seorang Kiki tidak akan bisa menutupi semuanya. Kami berempat ibarat satu kesatuan. Jika dua dari empat tidak ada maka itu artinya kebahagian tinggal setengah. Ya, hanya setengahnya saja. Tidak akan sempurna.

Dengan sedikit berdesakan kami berenam berjalan masuk. Ternyata di dalam lebih penuh lagi dari yang di luar. Sebelumnya aku sudah menghubungi Kiki menanyakan keberadaannya. Dan Kiki ternyata sudah di dalam, maka kami pun langsung masuk.

Dengan postur tubuhku yang sedikit diatas rata-rata, aku dapat dengan leluasa memandang ke segala arah. Setelah beberapa saat memandang ke sekeliling, aku melihat Kiki sedang berdiri di sisi Kiri hall dekat dengan dinding. Aku melihat Kiki ada bersama dengan mas Riki, mba Ratih, dan tentu saja pak Waluyo. Kangen juga rasanya dengan bapak yang satu itu. Aku lalu mengajak keluarga ku menghampiri Kiki.

“Tante Kikiii,” Tiara langsung berteriak girang begitu melihat Kiki. Yang di panggil pun langsung menoleh dan dengan tak kalah girangnya langsung menyambut si bocah dan mereka berpelukan. Lucu. Tinggi badan Tiara masih di sekitar perut Kiki, jadi kalau dilihat lebih seksama, Tiara lebih seperti sedang memeluk pinggul Kiki.

“Tiara sayang apa kabar?” tanya Kiki lembut sambil berusaha jongkok namun agak kesusahan karena dia menggunakan kain jarit yang cukup press di kedua kakinya dan menggunakan sepatu hak tinggi. Busana khas sekaligus wajib a’in bagi seorang wisudawati.

“Baik tante, tante apa kabar?” tanya balik Tiara.

“Tante juga baik sayang,” balas Kiki sambil tersenyum manis. Diusapnya rambut kepala Tiara. “Tiara cantik banget sih, kalah deh tante ini mah,” puji Kiki. Tiara hanya senyum-senyum saja mendapat pujian dari Kiki. Aku dan yang lainnya juga hanya memperhatikan obrolan dua cewek beda generasi ini.

“Oh iya, Tiara siniii, kenalan dulu sama keluarga tante,” Tiara menurut dan mengikutinya. “Ini kakak nya tante, om Riki sama tante Ratih. Kalau yang ini bapaknya tante, namanya mbah Waluyo, hihihi,” jelas Kiki kegelian. Entah apa yang membuatnya geli. Tiara kemudian menyalami mereka satu persatu.

“Pak, mas, mba, ini keluarganya Ian, ada mba Endang, mas Rizal, ini orang tuanya, pak Kusuma, sama bu Tyas,” Kiki mulai mengenalkan keluarga ku.

Pertama aku salaman dengan mereka. Lalu masing-masing dari mereka kemudian salaman dengan keluarga ku. Bapak, ibuk, dan pak waluyo langsung akrab. Tentu saja. Kami masih sama-sama orang jawa. Obrolan mereka pun lebih banyak menggunakan bahasa jawa halus yang aku sendiri sebagian ga ngerti artinya. Payah.

Mas Rizal dan Mas Riki juga nampak ngobrol berdua, meskipun di dekat mereka ada polda masing-masing. Tentu saja mba Endang dan mba Ratih tidak pernah jauh dari suami masing-masing. Kiki dan Tiara juga terlibat asik sendiri. Canda tawa menghiasi obrolan mereka. Jadi hanya aku sendiri yang berdiri sendirian. Dalam keramaian.

Seandainya ada Doni, pasti aku akan bersama dia. Iseng aku melihat ke segala arah. Beberapa aku melihat teman-teman satu jurusan yang aku kenal. Beberapa kali aku dan mereka saling sapa. Hingga kemudian aku melihat sosok yang aku cari-cari. Doni.

Dia datang dengan ibu serta ke dua adiknya. Apakah dia tidak melihat ku? Tidak. Dia melihat ku. Pandangan kami saling beradu. Namun kemudian dia membuang muka. Tatapannya datar dan tanpa ekspresi. Dia masih marah. Dan dia tidak mau menemui ku.

“Ian, kamu liat Doni barusan?” Kiki berbisik pada ku.

“Iya aku lihat, kamu juga lihat?”

“Iya aku lihat, gimana dong?”

“Samperin aja yuk?”

“Tapi aku takut.”

“Iya sih, aku takutnya dia malah lepas kendali dan ngamuk-ngamuk lagi, kan ndak lucu. Apa entar aja pas udah selesai?”

“Ya udah.”

Kiki juga melihat Doni. Kami ingin menemuinya tapi kami urungkan terlebih dahulu. Takutnya malah akan membuat ribut. Siapa yang bisa menjamin Doni tidak akan marah-marah pada kami lagi. Iya benar, nanti saja setelah acara selesai aku akan menemuinya.

Tidak lama setelah itu acara akan segera dimulai. Para wisudawan sudah di minta untuk masuk ke dalam. Para keluarga pun juga begitu. Namun mereka melalui pintu yang berbeda. Setelah memberikan instruksi pada mas Riki dan mas Rizal, aku pasrahkan anggota keluarga yang lain pada mereka berdua. Aku dan Kiki pun berjalan masuk. Dan kami bergandengan tangan. Bukan apa-apa. Hak tinggi dan kain jarit yang dikenakan Kiki cukup membuatnya kesulitan berjalan. Mau ga mau membuat ku harus menggandengnya.

~¤~¤~¤~

Aku dan Kiki sudah berada di dalam. Karena kami berdua satu kelas, aku dan Kiki berada di dalam satu baris yang sama, dan kami duduk bersebelahan. Memandang kesekeliling tribun, tempat para keluarga berada. Sumpah aku belum pernah merasakan bangga yang seperti ini. Tidak sia-sia perjuangan kami selama ini. Jiwa, raga, mental, materi, semuanya terbayar lunas. Terima kasih Tuhan.

“Deg-degan ga?” tanya ku iseng pada Kiki dengan berbisik.

“Biasa aja ah, kamu deg-degan yaa?”

“Dikiiit.”

“Payaaah ah!!”

“Biarin!”

“Gitu aja deg-degan! Gimana nanti kalau kamu jabatan tangan sama calon bapak mertua mu pas ijab kabul?”

“Eh, beda lah itu, pasti dipersiapin dulu, lagian kenapa nyambungnya harus ke sana sih?” balas ku masih dengan berbisik.

“Hehehe, mau ga mau juga harus ke sana kan? tapi yang pasti, calonnya dulu disiapin, hihihi.”

“Hahaha, pastinya.”

Kemudian hening diantara kami. Kami mengikuti sesi demi sesi dengan khidmat. Mulai dari sambutan-sambutan, pembacaan wisudawan-wisudawan berprestasi, hingga menyanyikan himne mahasiswa. Semuanya berlangsung dengan lancar, meskipun sangat membosankan.

Sekarang, tibalah saatnya para wisudawan maju ke depan. Untuk dipindahkan tali toga nya dari kiri ke kanan. Dan untuk mendapatkan piagam juga. Satu persatu mereka maju. Tampak sekali raut wajah mereka yang berseri-seri. Mereka bahagia bukan karena kelulusan saja. Tapi yang pasti juga karena telah mampu membuat keluarga mereka bahagia. Begitu juga dengan ku. Melihat bapak dan ibuk bahagia dan bangga menjadi sebuah kepuasan tersendiri untuk ku.

Sebentar lagi aku akan maju. Bersama dengan Kiki juga tentunya. Doni? Ada di barisan belakang. Iseng aku menoleh padanya. Pandangan kami beradu kembali. Tapi sama seperti tadi, dia lalu membuang muka. Ya sudah lah. Aku lalu menengok ke arah lain. Ke arah yang tidak terlalu jauh dari tempat Doni. Dimana ada sebuah kursi kosong. Kursi itu seharusnya Gita yang menempati. Seharusnya ada Gita di kursi itu sekarang.

“Kamu liatin kursinya Gita?” bisik Kiki.

“Iya.”

“Sedih ya kalau dirasain?”

“Banget,” jawab ku lesu.

“Sama kalau gitu.”

“Sabar ya, berdoa semoga mereka berdua cepet insyaf nya.”

“Hahaha, masih bisa bercanda ya kamu.”

“Hehehe, ya mau gimana lagi? dan semoga kita bisa selalu bersama ya.”

“Aamiin. Ya udah fokus! Bentar lagi giliran kita maju,” pesannya.

“Oke bosss,” canda ku.

Kami lantas tertawa kecil. Aku raih pergelangan tangan Kiki yang berada di atas paha nya. Jari-jari ku menyusup masuk mengisi sela-sela jarinya. Dia nampak kaget namun tidak menolaknya. Kami saling pandang dan sebuah senyum manis mengembang dari bibirnya yang indah itu.

“Selalu bersama,” ucap ku pada nya.

“Apapun yang terjadi,” lanjutnya.

“Karena kita,” ucap kami bersama.

“Adalah sahabat.”

[Bersambung]

Hallo Gaiss, Disini Admin KisahMalah
Agar Admin Semakin Semangat Update Cerita Cerita Seru Seterusnya, Bantu Klik Iklan yang Ngambang ya.
Atau Gambar Dibawah INI

Atau Bagi Kamu yang suka bermain game Poker Online atau Gambling Online lainnya, bisa di coba daftarkan ya. Banyak Bonus dan Hadiahnya Loh.
Untuk yang Kesulitan Daftar bisa Hub Admin di WA untuk di bantu Daftar.
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part