web hit counter

Merindukan Kesederhanaan Part 27

0
411

Merindukan Kesederhanaan Part 27

Akhirnya Ku Menemukan Mu

Selesai mandi pikiran ku bukannya kembali segar, malah kebayang dengan kejadian semalam. Aku tidak harus menganggapnya musibah atau anugerah. Disatu sisi, aku tidak memungkiri kalau aku sangat menikmatinya. Sebagai seorang laki-laki, aku sangat beruntung bisa mencicipi tubuh indah mba Ayu. Aku bisa merasakan betapa halus dan lembut tiap inci permukaan kulitnya. Aku juga bisa merasakan nikmatnya penis ku mengaduk-aduk lubang vaginanya. Tapi di sisi lain aku juga ikut merasakan betapa sakit kenyataan yang dia alami sekarang.

Tapi hasrat naluriah ku membuat ku ingin merasakannya lagi. Tapi dia bukan siapa-siapa ku. Dan semalam itu bisa dibilang adalah sebuah kecelakaan. Dia mabuk. Dan semuanya terjadi di luar kendali. Dan entah mengapa malah timbul juga bayang-bayang Diah. Aku telah menghianati cinta nya. Diah memang telah menjadi milik orang lain, tapi itu karena keterpaksaan, dan aku tau hatinya hanya untuk ku. Sekarang aku justru dengan mudahnya tergoda dengan wanita lain.

Dan kenapa harus dengan mba Ayu aku melakukan ini? Jika Gita yang dulu pernah mengakui perasaannya saja aku abaikan, mengapa sekarang malah dengan mba Ayu? Apakah ini awal dari…? Tidak mungkin. Ini hanya kecelakaan Ian. Ini tidak disengaja. Kamu dan mba Ayu tidak ada hubungan apa-apa selain hubungan pekerjaan.

Tapi dari semua itu, hal yang paling membuat ku pusing adalah bagaimana kalau ternyata mba Ayu hamil? Tokcer banget ya kalau sekali main langsung jadi. Hahaha. Tapi kemungkinan itu tetap ada. Dan kata tanggung jawab sudah terucap dari mulut ku yang pantang bagi ku untuk menariknya.

Masalahnya, apa aku sudah siap? Aku kerja baru dua bulan. Aku baru dua puluh tiga tahun. Mba Ayu lebih tua dari ku. Dan, aku ga tau akan bagaimana reaksi bapak, ibuk, atau mba Endang kalau tau, misalnya, aku menghamili anak orang sebelum nikah? Mereka ga jantungan masih untung aku.

Selama ini aku memiliki reputasi sebagai anak yang baik di mata mereka. Aku tidak merokok. Aku tidak minum, apalagi narkoba. Aku tidak pernah keluyuran malam. Tidak pernah bergaul dengan anak-anak yang urakan. Dan aku selalu jadi anak yang nurut. Pasti akan menjadi sesuatu yang menggegerkan kalau tiba-tiba hal itu terjadi. Semoga saja tidak terjadi. Ya semoga.

~¤~¤~¤~

“Kirain ga jadi kesini, ayo masuk,” ajak mba Ayu setelah membuka pintu kamarnya.

Aku sempat terpesona saat melihatnya yang hanya mengenakan gaun tidur. Tidak terlalu mini sih, tapi cukup sexy bila dikenakan untuk menyambut seorang laki-laki yang bukan siapa-siapanya, kedalam kamarnya, dan hanya berduaan. Dan justru karena tidak terlalu mini itulah yang membuatnya terlihat sangat anggun dan manis. Tidak terkesan liar, tapi Ayu. Se Ayu namanya.

“Ayo, mau sampe kapan berdiri di situ,” ajaknya lagi.

“Eh, i-iya mba,” aku pun masuk.

“Mau minum apah? Kopi mau? Aku buatin yah?” tawar mba Ayu. Tapi aku belum meresponnya mba Ayu sudah menuangkan air mineral ke dalam pemanas air. Sedangkan aku masih canggung dan bingung mau duduk dimana.

“Ndak usah repot-repot mba,” ucap ku sambil berjalan menuju jendela dan melihat pemandangan keluar. Jalanan mulai sepi. Hanya ada beberapa pejalan kaki yang lewat. Singapore memang seperti ini ternyata. Diatas jalan memang terlihat sepi. Tapi di bawah sana sebenarnya kehidupan masih sangat ramai.

“Kamu itu sungkannya ga ilang-ilang. Santai aja sih. Ini bukan di kantor, dan bukan jam kerja.”

“Mba Ayu kalau ada maunya juga ga ilang-ilang maksanya. Aku belum kasih jawaban tapi itu kopi udah siap di seduh.”

Dia langsung menoleh ke arah ku. Ada raut muka gemas di wajahnya. Nampak kesal tapi tidak marah. Nampak geregetan tapi malah membuat wajahnya semakin manis.

“Kamu itu bisa aja kalau balikin kata-kata! Huuh!” kesal mba Ayu namun malah membuat wajahnya nampak semakin menggemaskan.

“Hehehe. Ya udah, kalau memang mba Ayu maksa, aku mau deh kopinya.”

“Idiih. Sok terpaksa banget!”

“Mba Ayu tembak aku aja deh. Nolak salah. Nerima salah juga.”

Mba Ayu tidak merespon ku karena pemanas airnya sudah mati secara otomatis, yang artinya air sudah mendidih. Dan kopi siap di seduh. Aku memperhatikan mba Ayu. Dia telaten sekali saat menuangkan air panas ke dalam cangkir. Cara mengaduknya pun juga lembut. Aku bahkan tidak mendengar bunyi benturan antara sendok dengan cangkirnya. Sangat lembut. Sangat berbeda dengan dirinya saat sedang di kantor. Memang benar, wanita cenderung lebih bisa menjadi dua karakter yang berbeda, tergantung kebutuhan.

“Kenapa ngeliatinnya gitu?” tanya mba Ayu.

“Mba Ayu manis, eh maksud ku cara ngaduk kopinya manis banget, pasti kopinya jadi makin manis deh, hehehe.”

“Halaaah. Ga usah ngegombal deh. Udah kebal. Kamu lagi usaha ya?”

Mba Ayu sudah selesai mengaduk kopi. Dia lalu menaruh cangkir itu ke meja yang di dekat jendela, atau yang dekat dengan ku. Di kamar ini memang ada dua meja. Di kiri dan kana tempat tidur. Bila diurut dari arah luar adalah pintu kamar, lalu kamar mandi, kemudian meja untuk tempat minuman, lalu tempat tidur, baru kemudian meja lagi yang di dekat jendela. Aku sendiri duduk di kursi dekat jendela. Sedangkan mba Ayu duduk di sisi tempat tidur tang dekat dengan ku.

“Usaha apa?”

“Usaha biar dapet kaya semalem lagi! Cowok kan pikirannya selalu kesitu.”

“Mba mah udah su’udzon duluan aja. Kalau mau mah biasa aja aku…” sengaja aku menghentikan kalimat ku dan memasang muka paling mesum yang aku bisa untuk menakutinya.

“Bisa apa? Berani? Langsung aku kasih SP tiga kamu.”

“Hahaha, ampun mba,” balas ku sambil menangkupkan kedua telapak tangan ku tepat di depan kening.

Mba Ayu tidak merespon. Dia lalu mengambil HP dan memeriksanya. Entah apa yang dilihatnya. Sesaat kemudian hening. Entah mengapa aku jadi bingung mau ngomong apa. Aku bercandai tapi responnya kok ga santai ya. Bingung.

“Diminum tuh kopinya, buru dingin,” perintah mba Ayu.

“Iya mba iyaaa, sabar, minum kopi itu ndak boleh buru-buru, filosofinya seperti itu, seperti hidup yang jangan terburu-buru, orang jawa bilang ojo kesusu.”

“Bawel juga ya kamu,” balasnya.

“Hehehe, hmmm… manis,” komentar ku setelah merasakan kopi buatannya.

“Kopinya? Padahal gulanya cuma satu tadi,” balas mba Ayu.

“Kan aku bilang apa tadi, cara ngaduk sama yang bikin juga ngaruh, hehehe,” mba Ayu melotot mendengar candaan ku. Dilemparnya aku dengan gulungan tisu bekas yang ada dimeja.

“Ampun mba, jangan di aduk, eh jangan di SP ya saya, hehehe,” lanjut ku. Mba Ayu tertawa. Dia lalu menyilangkan kaki kirinya ke atas kaki kanannya. Sikunya bertumpu pada pahanya. Badannya condong ke depan, ke arah ku.

“Pantes banyak yang naksir sama kamu, semua cewek kamu gombalin ya?” tanya nya dengan mimik muka menyelidik.

“Endak kok. Kan canda doang mba.”

“Masalahnya ga semua cewek nangkep candaan kamu sebagai candaan. Ati-ati loh!”

“Gitu ya mba? Aku memang paling o’on kalau urusan gitu-gitu.”

“Kamu ga o’on, kamu hanya terlalu cuek.”

“Ndak juga ah. Ada satu cewek, yang aku ndak pernah cuek padanya, eh akunya malah ditinggal kawin.”

“Eh, siapa?”

“Ada, udah masa lalu sekarang mah.”

“Iiih, siapa?”

“Ada lah mba.”

“Kasih tau ga? SP nih!”

“Hahaha, ngancemnya ndak santai.”

“Terserah!”

“Iya deh iyaa. Aku akan cerita karena mba Ayu udah aku anggep seperti kakak ku sendiri.”

“Kakak kok ditidurin!”

“Kan itu ndak di sengaja mba, itu kecelakaan.”

“Bisa aja kan kamu nolak terus balik ke kamar.”

“Aku takut mba Ayu berbuat yang enggak-enggak, makanya aku ndak berani ninggalin sendirian.”

“Serius amat jawabnya.”

“Ya memang begitu kok.”

“Hihihi, bercanda kok. Kamu itu cowok paling baperan yang pernah aku kenal. Ya udah, lanjutin ceritanya.” perintahnya.

“Orang lain ndak boleh bercanda, tapi sendirinya bercanda mulu, hadeeh.”

“Bos kan ngapa-ngapain bebas, apalagi sama anak buah kaya kamu yang penurut gitu, hihihi. Uda buru cerita!”

Mba Ayu menatap ku lekat. Aku juga menatapnya, lalu menatap ke arah lain untuk mendapatkan inspirasi harus dari mana aku memulai ceritanya.

“Mba Ayu masih inget ndak kejadian empat tahun lalu yang aku di rawat di RS setelah peristiwa di acara pengenalan BEM?”

“Sebentar,” mba Ayu nampak berfikir. “Ah iya, inget. Kenapa mangnya?”

“Mba Ayu masih inget ndak sama nama orang yang pertama kali aku ucapin waktu itu?”

“Ehmm…kalau ga salah di…di…”

“Diah.”

“Nah iya Diah, kenapa dengan Diah,”

“Ya itu tadi, yang aku bilang ditinggal kawin.”

“Oh, maaf.”

“Dan sekarang udah gendong anak dia.”

“Sorry,” ucapnya lagi pelan. Aku hanya bisa mengangkat bahu ku.

“Tapi kok bisa?”

“Perjodohan, ala siti nurbaya lah.”

“Oh. Kamu ga coba ngomong ke orang tuanya?” tanya mba Ayu antusias.

“Sudah, justru masalah nya di situ. Dulu malah aku nya dimaki-maki. Keluarga ku dihina.”

“Waduh. Kamu yang sabar deh kalau gitu, ikhlasin. Mungkin memang belum berjodoh. Tapi kalau jodoh pasti ga akan kemana kok,” pesan mba Ayu sambil tersenyum.

“Kalau soal Diah, sebenarnya aku bisa ikhlas. Masalahnya bapak ibuk ku di bawa-bawa mba, itu yang aku ndak terima.”

“Paham. Tapi…”

“Bayangkan kalau mba Ayu di posisi ku, apa bisa terima?”

“Enggak juga siiih. Tapi kalau bisa ya di iklasin aja, biar sama-sama enak. Tapi kalau ga bisa ya itu pilihan mu.”

“Iya mba.”

“Maaf ya kalau jadi bahas masa lalu mu,” pinta mba Ayu.

“Nda apa-apa mba, dari pada di SP.”

“HAHAHA, paling bisa ya kamu.” Mba Ayu tertawa.

“Anak buahnya siapa dulu dong?”

Mba Ayu kembali tertawa. Dia lalu memindah chanel TV yang aku juga kurang tau isinya tentang apa. Kebanyakan menggunakan bahasa mandarin. Kalau pak Weily mungkin ngerti kali ya? Aku lalu meminum kopi buatan mba Ayu lagi. Kemudian melihat keluar.

“Liatin apaan?”

“Jalanan mba, udah mulai sepi.”

“Singapore mah emang gini. Jalanan sepi, tapi sebenarnya dibawah sana rame. Hampir setiap gedung itu kan ada akses di bawah tanahnya, dan di sana banyak sekali kios-kios yang jualan.”

“Iya, aku baru tahu dan baru sadar.”

Lalu hening lagi. Aku memeriksa HP ku apakah ada pesan masuk atau notifikasi lainnya. Dan kosong. Tidak ada apa-apa. Sekarang memang sepi. Padahal dulu, selalu rame dengan group yang isinya cuma berempat. Empat orang yang telah bersahabat selama empat tahun. Lalu kemudian semuanya berubah seketika hanya dalam satu malam.

Ku tatap mba Ayu yang juga masih asik dengan HP nya. Dia sekarang duduk menyandar pada sandaran tempat tidur. Kakinya menyelonjor dengan pergelangan kaki kiri menopang ke kaki kanan. Satu bantal menjadi tumpuan lengannya di atas pahanya. Menjaga gaun tidurnya agar tidak tersingkap.

“Mba…”

“Ya?”

“Mba ndak mau gantian cerita?”

“Soal?” Dia menoleh ke arah ku.

“Hubungan mba dengan Rian.”

“Malu aku Ian.”

“Tadi aku ndak malu mba.”

“Beda lah, meskipun sama-sama pahit, tapi yang kamu ceritain tadi bukan aib, sedangkan aku?”

“Eh, ehmm…aku ndak maksa sih mba. Kalau memang ndak pantes buat diceritain ya ndak usah.”

“Maaf…”

“Santai aja mba, itu privasi namanya. Aku ngerti kok.”

“Makasih.”

“Sama-sama. Kalau ndak ada yang mau di obrolin lagi berarti aku balik ke kamar sekarang ya, hehehe.”

“Iya udah. Istirahat buat besok, masih ada sehari lagi. Semangat!”

“Pastinya.”

Aku lalu bangkit. Ku berikan senyuman pada mba Ayu yang sekarang diam. Nampak seperti bingung. Atau sebenarnya dia ingin cerita tapi ragu? Entahlah.

“Ian, hiks…” Aku sudah melewati tempat tidurnya dan hampir tiba di pintu keluar sebelum tiba-tiba dia memanggil ku dengan terisak. Langsung aku berbalik dan melihat ke arahnya. Benar. Dia menangis. Air matanya meleleh dan membasahi pipinya yang halus. Dia menunduk. Ku urungkan niat ku untuk balik ke kamar. Ku hampiri dia dan duduk tepat di sebelah kanannya.

“Mba kenapa? Kalau ada yang mau diceritain, aku siap dengerin kok.”

“Huaaaa…” tangisnya pecah. Dia beringsut ke arah ku dan memeluk ku. Kepalanya bersandar di dada ku.

“Iaaan, hiks, hiks,” mba Ayu masih menangis. Secara reflek ku dekap bahunya. Ku usap-usap, berharap hatinya akan tenang.

“Iya mbaa? Mba Ayu jangan nangis lagi dong. Cerita aja ke aku kalau ada yang pengen diceritan.” Dia masih menangis. Aku pikir dia masih ragu. Lalu tiba-tiba dia mulai bercerita.

“Ian, hiks. Ka-kamu inget ndak yang kapan itu aku bilang aku ndak punya cowok?”

“Eh, ehmm, iya inget.”

“Itu aku bohong. Sebenarnya aku masih sama Rian, cuma dia ga ada kabar. Kami punya hubungan tapi tidak seperti ada hubungan. Dia ada tapi seperti ga ada bagi ku. Semu. Hiks…”

“Sama sekali ndak ada kabar?”

“Iya, te-terus kemudian dia muncul tiba-tiba, yang pas kamu anterin aku pulang itu. Waktu itu kan aku nyuruh kamu langsung pulang, itu karena, Rian udah di kost an.”

“Lalu setelah itu?” aku mencoba mengorek cerita lebih dalam lagi dari nya.

“Aku seneng banget waktu itu. Kamu ngertilah bagaimana rasanya bisa ketemu sama orang yang kamu sayangi setelah sekian lama. Apalagi waktu itu dia tidak ada gelagat buruk. Semua nampak baik-baik aja. Termasuk aku yang dengan tololnya mau aja dibegoin sama dia.”

“Dibegoin?”

“Iya. Dia tiba-tiba datang seolah tidak terjadi apa-apa. Dengan seribu satu macam alasan dia minta maaf pada ku. Dan aku memaafkannya. Tapi…”

“Mba?”

“Karena terlalu senang, aku terkena bujuk rayunya untuk melakukan itu lagi”

“Itu?”

“Kaya kita semalem.”

“Oh.”

“Jujur itu memang bukan yang pertama diantara kami. Dan kami sudah sering melakukanya dulu sebelum dia menghilang,” ucap mba Ayu sedih. “Sebelum datang lagi untuk terakhir kalinya hanya untuk menyalurkan nafsu setannya, hikss…hikss… dan aku mau aja di manfaatin…” lanjutnya.

“Terakhir kalinya?”

“Dia langsung mutusin aku Iaaan, hiks…hiks…sesaat setelah bajingan itu selesai dengan nafsunya itu, hikss, hikss,” mba Ayu kembali menangis. Tangannya meremas kuat baju ku. Aku juga ikut emosi mendengar ceritanya. Anjing!! Aku mengumpat dalam hati. Ada ya manusia kaya gitu. Sebelum mutusin masih sempat-sempatnya ngasih harepan. Ngambil enaknya lagi.

“Maaf mba, tapi mba harusnya bersyukur. Maaf. Paling tidak, orang itu udah ninggalin mba sebelum hubungan mba dengannya berlanjut lebih jauh lagi, maaf. Bukan sok bijak, tapi kita ambil sisi positifnya aja.”

“Iya, kamu bener. Tapi tetep aja, aku udah kotor, hikss, siapa yang…”

“Masih ada aku yang akan selalu ada di samping mba. Apapun yang terjadi. Dan aku yakin orang macam itu pasti akan mendapatkan balasannya. Cepat atau lambat. Tuhan maha adil.”

“Iya semoga aja. Maaf, aku jadi buat kamu harus dengerin cerita ku.”

“Apaan sih mba? Gitu aja minta maaf. Mba itu udah kaya kakak ku sendiri. Mba juga baik sama aku. Ya sekarang saatnya aku gantian kasih dukungan buat mba.”

“Makasih. Gapapa kan kalau aku peluk kamu gini? Aku lemah Ian. Aku rapuh. Aku…”

“Iya mba ndak apa-apa aku akan selalu ada untuk mba Ayu. Untuk bos ku yang paling cantik ini, hehehe.”

“Hikss…hehe…hiksss.” tawa mba Ayu campur dengan tangis.

“Mba, kalau mau nangis ya nangis aja. Jangan nangis campur ketawa,” canda ku padanya. Mba Ayu melepaskan pelukannya dan tersenyum pada ku sambil memberikan sebuah pukulan manja ke bahu kiri ku.

“I-iya. Lagian kamu juga sih momen kaya gini masih sempet-sempetnya ngegombal.” protes mba Ayu manja sambil mencubit pelan pinggang ku.

“Hahaha. Jurus itu mba, biar mba nya cepet ketawa. Eh iya, mau di peluk lagi ndak? Huehehe” tanya ku iseng dan sedikit mesum sambil merentangkan kedua tangan ku.

“Itu termasuk jurus juga bukan?”

“Hah? Jurus apa?”

“Jurus moduuusss!” ucapnya keras.

“Hahaha.”

Kami tertawa bersama. Mba Ayu kembali mendekat ke arah ku. Kemudian dia menempelkan bahu kanannya ke dada kiriku sebagai sandaran.

“Peluk aku lagi, peluk yang lembut, aku butuh sandaran,” pinta nya pelan.

Tanpa di minta dua kali aku langsung menuruti permintaannya. Ke rengkuh bahu kirinya dengan tangan kiri ku dari belakang. Sedangkan tangan kanan ku meraih lengan kirinya dari depan. Aku memeluknya dari samping. Aku usap-usap bahu dam lengannya. Aku berharap mba Ayu bisa semakin tenang.

Beberapa saat kemudian hening. Nafas mba Ayu kembali tenang. Badannya mulai rileks. Mba Ayu nampak sangat menikmati pelukan ku. Aku juga menikmati wangi tubuhnya sih. Ah sama saja. Kami saling menikmati.

“Ian…”

“Ya mbaa?”

“Malam ini…bobo sini lagi aja yaah…” pintanya dengan manja.

“Hah?”

“Ga mau ya?”

“Ehmm, bukan ga mau, tapi…”

“Berarti mau kan? Mau kan temenin mba?” Mba Ayu meminta dengan memelas. Dia lalu memeluk ku. Kedua tangannya melingkar di perut ku. Kepalanya mendongak ke atas ke arah ku. Aku pikir tak apalah menemaninya malam ini. Aku pun mengangguk sambil tersenyum. Memang paling susah kalau nolak permintaan cewek.

“Makasih yaah,” ucapnya dengan lembut lalu kepala nya kembali bersandar di dada ku.

“Iya mba sama-sama, yang penting mba Ayu tenang,” balas ku.

Cup!

Ku kecup kepalanya. Mba Ayu semakin mengeratkan pelukannya. Dadanya yang kenyal kurasakan semakin menekan ke perut ku.

“Tapi, aku tidur dimana?” tanya ku dengan polosnya. Aku bingung karena tipe tempat tidurnya yang double bed, jadi hanya ada satu tempat tidur dengan ukuran besar. Apa aku akan tidur seranjang dengannya lagi?

“Ya di sini aja. Semalem juga gitu kan?” jawab mba Ayu dengan enteng.

“Iya sih, hehehe,” balas ku dengan malu-malu. Mba Ayu lalu melepaskan pelukannya dan tersenyum pada ku. Kembali dia mengusap air mata di pipinya.

“Aku mau cuci muka dulu,” ucapnya lalu bangkit dan turun dari tempat tidur. Kemudian berjalan menuju kamar mandi. Dan sekarang tinggal aku sendirian.

Tidak lama kemudian mba Ayu sudah balik dari kamar mandi. Wajahnya sudah segar kembali. Rambutnya di gelung rapi. Dan ada sesuatu yang berbeda. Aku tidak melihat lagi ceplakan BH di dadanya. Dan sekarang dadanya sedikit lebih turun dari sebelumnya. Dan saat dia berjalan goyangan di dadanya itu jadi lebih tidak beraturan. Dan itu berarti dia telah melepaskan pengaman yang melindungi asetnya itu.

“Kamu mau di dekat jendela atau di situ?” mba Ayu bertanya sambil bercermin. Melihat kembali penampilannya. Wanita itu kalau mau tidur ngaca dulu ya?

“Disini aja, biar enak meluk mba Ayu nya,” canda ku. Aku pikir mba Ayu akan membalas candaan ku seperti biasanya. Tapi ternyata dia hanya menjulurkan lidahnya. Kemudian bercermin kembali memekai sebuah produk kecantikan yang entah apa namanya.

“Mba Ayu kalau mau bobo memang dandan dulu ya?” tanya ku karena penasaran.

“Ini bukan dandan Ian, hahaha. Kamu ada-ada aja.”

“Lalu itu apa?”

“Ini obat muka, krim malam, paling kamu ga ngerti juga kalau aku jelasin.”

“Hehehe, ya udah ndak usah dijelasin.”

Mba Ayu menatap ku sebentar, tersenyum, lalu bercermin kembali.

“Aku numpang ke kamar mandi ya mba?”

“Pakai aja.”

Aku lalu berjalan ke kamar mandi. Begitu masuk kamar mandi, prediksi ku tadi tentang dada mba Ayu ternyata benar. Dia melepas BH nya. Aku melihat BH bekas di tumpukan baju kotor. Penis ku sepontan langsung bangkit. Sial. Bakalan susah kencingnya nih. Hadeh. Dengan susah payah karena dalam posisi tegak, aku berhasil kencing juga. Hah. Repot juga ya jadi cowok. Pas aku mau keluar, aku kembali melihat BH mba Ayu tadi. Dia pasti sengaja melepasnya.

Saat aku keluar dari kamar mandi aku sudah melihat mba Ayu berbaring dengan nyaman di tempat tidur. Selimut metutupi bagian bawah tubuhnya. Matanya menatap ke layar tv, kemudian ke arah ku dan tersenyum.

“Sini,” ajaknya dengan menepuk ruang kosong di sebelah kanannya. Aku membalasnya dengan anggukan. Aku pun menghampirinya dan masuk ke dalam selimut. Nikah, belum. Pacar, enggak punya. Tapi ini udah mau bobo bareng cewek aja. Bener-bener anugrah.

“Sini, deketan, katanya mau meluk akuh,” pintanya lagi manja. Suaranya lembut banget. Akupun jadi kikuk dibuatnya. Tapi aku menggeser badan ku juga mendekat ke arahnya. Hingga tubuh kami saling menghimpit. Lengan kami saling bersentuhan. Aku bisa merasakan halus dan lembut kulitnya.

Mba Ayu tersenyum lalu memiringkan badannya ke arah ku. Ditariknya lengan kiri ku lewat belakang kepalanya dan dijadikan sebagai alas kepala. Tangan kirinya melingkar di perut ku.

“Makasih ya,” ucapnya lagi.

“Untuk apa mba?”

“Pelukan kamu, yang ternyaman yang pernah aku rasakan setelah pelukan papa ku.”

“Eh, hahaha. Kaya bapak-bapak dong aku?”

“Iya. Tulus. Ga kaya cowok biasanya.”

“Maksud mba soal nafsu?”

“Bisa dibilang begitu.”

“Aku juga punya nafsu kok.”

“Yang bilang ga punya siapa? Maksud ku kamu bisa menjaganya.”

“Oh, hehehe. Semalem aku ga bisa,” aku tersenyum garing.

“Semalem kan karena aku mabuk.”

“Iya sih. Eh mba, keluarga mba tuh ndak di jakarta ya?”

“Iya, anak rantau kita.”

“Di Semarang kan ya?”

“Betul. Kenapa deh?”

“Pengen main kesana, penasaran sama lawang sewu.”

“Yuk main ke rumah ku. Deket kok dari lawang sewu. Akhir tahun aja. Kalau ga salah ada cuti bersama yang nyambung ke weekend deh.”

“Kalau ndak salah sih ada, cuti bersama Natal kayanya.”

“Ya udaaah, bener yaaah! Nanti aku kenalin sama ade ku. Seumuran ama kamu dia.”

“Cewek apa cowok?”

“Kalau cewek kenapa? Kalau cowok kenapa?”

“Kalau cewek pasti cantik kaya mba nya, hehehe.”

“Hahaha. Cowok kok. Weeek.” Mba Ayu menjulurkan lidahnya.

“Yaaah.”

“Kok yah sih?”

“Ya kalau cewek kan siapa tau aku bisa jadi ade iparnya mba Ayu gitu, hehehe.”

“Daasaar yaaa. Udah nyobain mba nya masih mau ngincer ade nya.” omel mba Ayu sambil mencubit pinggang ku.

“Aww…ampun mba…sakiiit.”

“Abisnya nakal sekarang.”

“Namanya cowok mba, harus usaha.”

“Kok Gita ke Ausy ga dikejar?”

“Berat di ongkos kalau itu, hahaha.” Kami berdua tertawa.

“Mba belum mau bobo?” aku bertanya iseng.

“Belum sih, masih pengen nikmatin pelukan kamu. Rasanya kaya meluk papa. Kangen papa deh jadinya,” balasnya lesu. Aku mengerti perasaannya. Seorang anak perempuan. Sekuat apapun, dia pasti butuh sosok orang tua saat sedang dalam kondisi seperti ini.

“Ya udah peluk aja terus mba, aku rela kok di peluk mba Ayu gini, hehehe.”

“Itu mah bukan rela. Tapi mau.”

“Hehehe.”

“Kalau udah ngantuk, duluan aja gapapa.”

“Mana bisa tidur kalau posisinya seperti ini?” balas ku ngasal. Tapi kok kalimat ku terasa ambigu ya? Apa nya yang ga bisa tidur?

“Apanya yang ga bisa tidur hayooo?” tanya mba Ayu seperti mengulang pertanyaan ku.

“Enggak mba enggaaak,” aku berkilah.

“Hihihi, kamu itu lucu, udah gede tapi masih malu-malu.”

“Apa nya yang udah gede hayooo?” canda ku balik padanya.

“Dede nya tuh yang udah gede, suruh bobo gih, udah malem,” canda mba Ayu tanpa malu. Kami tertawa.

Kalau ternyata dede ku, atau junior ku di bawah sana berdiri dan tidak mau tidur sebenarnya itu wajar. Aku masih lajang, yang tentunya pengalaman ku soal begituan masih minim. Dan sekarang seorang wanita cantik yang dewasa namun kadang juga manja tidur memeluk ku hanya mengenakan gaun tidur tanpa BH dengan satu pahanya menopang ke paha ku dan kulit kami saling bergesekan. Cowok mana yang ga akan tegang kalau berada dalam posisi seperti ini?

“Kamu pengen lagi?” tanya mba Ayu tiba-tiba.

“Eh, ehmm…”

“Jujur aja, gapapa. Wajar kok.”

“Hehehe,” aku tersenyum garing.

“Mau mba bantuin?”

“Eh, eng-enggak mba. Aku ndak mau… cukup semalam saja…”

“Tapi kasian kamu kalau nahan gitu, hihihi.”

“Ndak apa-apa kok, aku ndak mau ngerusak momen ini, hehehe,” balas ku sok bijak. Padahal mah pengen banget.

“Enggak ngerusak kok, justru mungkin malah bisa semakin indah.”

Mba Ayu menarik selimut yang menutupi tubuh kami. Tangannya lalu merambat ke atas dan meraba dada ku. Paha kirinya ditekuk lebih ke atas lagi hingga menyentuh penis ku yang masih terbungkus celana. Aah. Sensasi nya bikin melayang. Aku mendesah pelan.

“Tuh kan, hihihi.”

“Tapi mba… beneran deh… nanti malah ndak nyaman lho kita berdua…”

“Stth…kamu diem aja ya,” pintanya sambil tersenyum. Aku pun pasrah untuk kedua kalinya. Tidak, aku tidak pasrah. Aku juga menginginkan ini. Kami sama-sama menginginkan ini.

“Mba…ini enak…ah…tapiii…” aku mendesah pelan saat mba Ayu menjilati kulit dada ku. Baju ku sudah di lolosinya.

“Kalau begitu nikmatilah…”

Sentuhannya benar-benar menghanyutkan. Aku diperlakukan seperti seorang raja. Dan dia adalah permaisuri ku yang akan melakukan apapun demi kepuasan ku.

“Mbaaa,” aku mendesah lagi saat jari jemarinya yang lentik mendarat di atas penis ku yang masih terbungkus celana dan meremasnya pelan.

“Sstthh…” mba Ayu menutup bibir ku dengan jari telunjuknya. “Nama ku bukan mba, nama ku Ayu mas, mas nikmatin aja ya,” lanjutnya lagi sambil menarik celana pendek dan celana dalam ku turun. Dan aku sekarang sudah telanjang bulat di depannya.

Mba Ayu duduk bersimpuh di samping kiri perut ku. Kedua tangannya bersamaan memegangi penis ku yang sudah tegak sambil mengocoknya pelan.

“Aahh…” lagi-lagi aku hanya bisa mendesah pelan saat merasakan kocokan lembutnya pada penis ku.

“Enak kan mas kocokan aku?” tanyanya manja sambil mengerlingkan matanya. Ahh. Tentu saja enak. Sensasinya terasa sangat berbeda ketika atasan mu seorang wanita memanggil mu “Mas” dengan manja sambil penis mu dikocokin olehnya.

“Ahh, i-iya enak,” jawab ku semakin pasrah. Mba Ayu nampak senang dengan jawaban ku dan tersenyum semakin manis.

“Mas mau dikocokin ajaa atau mau lebih?” tanyanya menggoda. Lebih. Tentu saja aku mau lebih.

“Mau yang lebih.”

“Kaya yang semalem yah maaas aahh?” tanyanya menggoda sambil mendesah. Aku hanya menggangguk dan mba Ayu lagi-lagi tersenyum manis pada ku.

Mba Ayu lalu bangkit namun masih bertumpu dengan kedua lututnya. Mba Ayu merubah arah dia menghadap menjadi searah dengan ku. Lalu dengan bertumpu pada kedua sikunya, mba Ayu nungging disamping ku. Pantat seksinya yang masih tertutup gaun tidur itu kini menghadap tepat ke arah ku. Sebagian pahanya mengintip karena gaunnya tertarik ke atas.

“Bukain celana dalam Aku dong maass aahh,” pinta mba Ayu sambil menoleh ke belakang dengan sedikit mendesah dan menggigit bibir bawahnya.

Aku lalu menyingkap gaun tidur mba Ayu hingga pantat seksinya terbuka, sekarang nampak oleh ku celana dalam mini nya. Kuraih bagian atas celana dalam mini itu dan menariknya kebawah. Sengaja aku menariknya pelan agar bisa menikmati momen ini lebih lama. Mba Ayu juga merasakan sensasinya. Dia mendesah lagi ketika aku menarik celana dalan itu dan meloloskannya. Kini mba Ayu hanya nengenakan gaun tidur tanpa dalaman apapun.

Setelah itu mba Ayu bangkit lagi dan bersimpuh ke arah ku. Tangan kirinya meraih penis ku lagi dan mengocoknya pelan.

“Mas mau minum susu gaaa?” tawarnya menggoda. Aku mengangguk.

“Ya dibuka dulu dong mas bungkusnya. Atau mau dibukain?”

“Eh, ehmm, bukain dong, hehehe” pinta ku malu-malu.

Mba Ayu lalu melepaskan tangan kirinya dari penis ku. Masih sambil menatap ku dengan manja, tangan kanan mba Ayu mendarat di payudara kanannya dari luar gaun tidurnya, sedangkan tangan kirinya menyusup melalui celah gaun tidurnya.

Dengan gerakan pelan, bak adegan slow motion di film-film, mba Ayu mengeluarkan kedua bukit kembarnya secara bergantian lalu merebahkan tubuhnya miring ke arah ku. Siku kanannya dijadikan tumpuan sedangkan telapak kanannya menopang kepalanya.

“Mas bisa manja juga yah? Mau nyusu aja minta dibukain dulu, hihihi,” komentar mba Ayu sambil mengarahkan puting susunya ke arah mulut ku. Aku tersenyum. Reflek aku sedikit merubah posisi ku sedikit miring ke arahnya. Dan aku sekarang seperti bayi yang sedang menyusu pada ibunya. Bayi apa segede ini? Bayi gendruwo?

“Aahhh…maaass…isep teruuss maass…minum susu yang banyak yaah aahhh…sebelum genjot…aahhh.”

“Sluurrp…ssshhsshh…sluurrpp…sshhhsshh…”

“Iyyaaahh…teruusss sayaaangg…aahhh…sedoot yang kuaaat…aahhhsshhh…”

“Sluurrp…ssshhsshh…sluurrpp…sshhhsshh…”

“Aaahhaahh…sshhhsshh…ouuuhhhsshhh…maaass pinter bangeet ddeh ngejilaaatnyaa… asshhhsshhh…”

Mba Ayu terus meracau tidak jelas selama aku menghisap puting susunya. Gila. Ini benar-benar gila. Aku merasakan sensasi yang luar biasa ketika aku menghisapi puting susu mba Ayu, atasan ku yang sudah aku anggap sebagai kakak ku sendiri. Aku terus menghisapi dan menjilati payudaranya. Sekarang tangan ku memegang sendiri payudara sintalnya dan kadang meremasnya pelan. Tangan mba Ayu membelai kepalu ku dan kadang menekannya ke arah dadanya seolah tidak mau aku melepaskan hisapan ku.

“Iyyaaahh…teruusss sayaaangg…aahhh…sedoot yang kuaaat…aahhhsshhh…”

Mba Ayu lalu menarik tangan ku yang sebelumnya meremasi payudara sintalnya ke bawah, ke arah vaginanya.

“Bikin basah V aku massshhaahhh,” bisik mba Ayu saat dia mendaratkan jari ku tepat di bibir vaginanya dan menggesek-gesekannya. Setelah itu tanpa komando lagi aku melakukannya sendiri.

Awalnya yang aku rasakan di vaginanya adalah kering dan keset. Namun lama-lama liang senggama itu sedikit demi sedikit mulai basah. Apalagi sesekali aku menyelipkan dua jari ku masuk ke dalam lubang itu lalu menariknya kembali dan memainkannya. Lama-lama lubang itu menjadi basah dan lembab.

“Aahhhsshhh…maaashhh…jari kamuuu nakal bangeett…memek ade basaaah maasshhh… aasshhhss… terruusss maasshh… aahhhsshhh… bikiinn memek ade makin basaahhsshh laagiiihhhsshhh…”

Aku semakin bersemangat memainkan jari ku di vagina mba Ayu. Bila tadi aku hanya menggesek diluarnya saja, sekarang aku mulai berani memasukan kedua jari ku masuk kedalam lubang kenikmatannya dan mengocoknya. Mba Ayu juga merespon dengan mengangkat paha kirinya sehingga memberikan ku akses lebih luas. Mukut ku juga lebih intens lagi menghisap dan menjilati putingnya yang sudah mengeras.

“Aauuuhhhsshhh….maaasshhh…sshhh…enaak banget maasshhh… aahhsshhhh… kocokk teruusss… sshhhahhh… aasshhh… sshhhsshhh… aasshhh…”

Mba Ayu lemas menerima serangan ku. Tangan kanannya tak mampu lagi menopang kepalanya. Ku dorong tubuhnya hingga terlentang namun jari ku masih menusuk di vaginanya. Aku bersimpuh dengan tangan kanan ku mengocok vaginanya, sedangkan mulut ku menghisap puting payudara kirinya, sedangkan tangan kiri ku meremas payudaran kanannya.

“Aaauuhhhssshhh…eenaaak…aahhsshhh…terruss…sedot lebih kuattt…aahhsshhh…kocokk terrusshh masshhsshh… lebihhh cepaaattt… aahhhhahhsshhh…” mba Ayu semakin kelojotan menerima perlakuan ku. Tubuhnya meliuk-liuk kesana-kemari. Aku semakin ganas mengerjai tubuh indahnya. Hisapan ku semakin kuat. Remsan ku emakin keras. Kocokan ku semakin cepat membut vaginanya semakin membanjir. Hingga akhirnya…

Seeerrrrrr…seeerrrrrr…

Cairan mengalir deras dari vaginanya. Yes. Aku berteriak bangga dalam hati karena berhasil membuatnya orgasme sebelum penetrasi. Mba Ayu sekarang lemas terkapar. Kedua kakinya terbuka lebar dimana jari ku masih menusuk ke dalam lubang vaginanya. Matanya terpejam, meresapi sisa-sisa kenikmatan yang baru saja dirasakannya.

Untuk sementara aku mendiamkannya. Aku tidak ingin terburu-buru. Dengan kondisi seperti ini aku sudah pasti akan mendapatkanya. Tinggal menunggu waktu. Aku juga ingin memberikan kesan yang manis untuknya.

Cuup!!

Ku kecup lembut keningnya. Ku belai dengan penuh perasaan rambutnya yang halus. Mba Ayu membuka matanya dan kaget dengan perlakuan ku. Aku tersenyum. Dia membalasnya dengan agak kaku.

“Aahhsshhh…makasih maas. Sekarang gantian aku puasin kamu yaah,” mba Ayu menawarkan diri meskipun kondisinya masih lemas.

“Nda usah buru-buru sayang, kamu istirahat dulu aja.”

Sayang? Aku bahkan tidak sadar saat mengucapkannya. Momen indah ini yang membuat ku mengucapkan kata itu. Atau alam bawah sadar ku yang menghendaki aku mengatakannya? Entahlah.

Cuup!!

Kembali aku mengecup keningnya. Dan kembali mba Ayu tersenyum pada ku. Ada sorot mata bahagia dari bola matanya. Bahagia yang mungkin ditunggu-tunggunya selama ini.

Tidak lama kemudian mba Ayu bangun. Di dorongnya pelan aku hingga terlentang. Diraihnya penis ku dan langsung di kulumnya dengan ganas.

“Sluurrpp…sluurrpp…sluurrpp…”

Mba Ayu mengisap, menjilat, dan membasahi penis ku dengan ganas. Saking ganasnya aku bahkan sampai merasa ngilu. Namun enak. Membuat ku melayang-layang. Memberikan ku sensasi tersendiri ketika bibir mungilnya mengulum penis ku. Setelah penis ku basah, mba Ayu bangkit dan langsung menungging membelakangi ku. Tangan kirinya digunakan sebagai tumpuan, sedangkan tangan kanan menjuntai kebelakang membuka bibir vaginanya membuatnya semakin merekah.

“Puaskan diri mu masshh…sshhhaaahh…aku udah siaap…”

Aku lalu bangkit dan memposisikan diri ku tepat di belakangnya. Kupegang batang penis ku dan kuarahkan ke lubang vaginanya. Kugesek-gesekan kepala penis ku di bibir vagina itu.

“Aahhsshhh…” mba Ayu mendesah. Kepalanya menunduk. Kucengkram pinggulnya yang membulat. Kudorong pelan penis ku menerobos pertahanannya yang sudah jebol tadi.

“Aahhhsshhh…doroong lagiiih maasshh…” kepala penis ku mulai menyeruak kedalam. Meskipun vaginanya sudah basah namun masih terasa sempit. Aku tarik lagi kemudian aku dorong lagi. Cairan kewanitaannya membuat batang penis ku semakin licin.

“Aaahhhsshh…uuuhhsshhh…” mba Ayu ikut menggoyangkan pinggulnya seolah tidak sabar ingin segera merasakan penis ku seutuhnya. Ku dorong lagi hingga setengah penis ku masuk kedalam lalu kutarik lagi dan kudorong lagi.

“Ouuuhh…panjaangssshhh…” mba Ayu meracau tidak jelas merasakan penis ku yang sudah mentok ke dasar rahimnya. Kudiamkan sejenak penis ku di dalam. Kuresapi nikmatnya saat-saat tubuh ku menyatu dengan tubuhnya. Kucondongkan badan ku ke depan hingga aku dapat mencium tengkuknya. Ku raih payudaranya yang menggantung indah dan meremasnya pelan.

“Aku sayang mba,” bisik ku pelan ke telinganya. Mba Ayu menoleh dan melenguh nikmat mendengarnya. Wanita memang lebih sensitif di indra pendengarannya. Mereka akan melayang-layang bila mendapatkan kalimat sayang dari pasangannya.

“Aa-aakuu jugaa sayaaang maasshhhsshh…aahhhsshhh…”

“Slurrppsshh…slurrppsshh…” ku jilati tengkuk dan lehernya. Badannya mengelinjang.

“Aahhsshhh…geelliii maasshhh…aahhsshhh…jangaann digituuiinn…”

“Teruuus, diapain dong?” goda ku sambil memainkan puting payudaranya. Ku goyang pelan penis ku memberikan rangsangan lebih padanya.

“Disodok ajah memek aakuuhh maashh…aahhsshh…iiyyaahhhsshh…aahh…iyaahsshh…” pinta mba Ayu manja diiringi dengan desahan saat aku mulai menggoyangkan pinggang ku. Oke. Mba Ayu sudah memintanya. Saatnya berhenti main-main. Aku juga sudah tidak sabar ingin cepat-cepat memuaskan nafsu ku sendiri. Kutarik pelan penis ku lalu kudorong lagi dengan sedikit bertenaga. Kutarik lagi dan ku dorong lagi. Semakin lama semakin cepat dan keras.

“Aaahhsshh…aahhsshhh…aahhsshhh…” deru desah kenikmatan mba Ayu.

“Aaahhsshh…aahhsshhh…aahhsshhh…” tubuh indah mba Ayu meliuk-liuk dengan liarnya. Tangannya mencengkram kuat ke sprei. Kepalanya kadang menunduk, kadang mendongak. Payudaranya berayun-ayun ke depan dan kebelakang seirama dengan sodokan penis ku. Wanita yang selalu ku hormati di kantor ini sekarang pasrah merasakan kenikmatan dari sodokan penis keras ku.

“Aaahhsshh…aahhsshhh…aahhsshhh…” ku sodokkan penis ku semakin keras. Mba Ayu semakin mendesah keenakan. Aku juga merasakan hal yang sama. Dinding vaginanya semakin menjepit dan memberikan pijatan nikmat pada penis ku.

Kupercepat lagi sodokan ku pada vagina mba Ayu. Ku tusuk-tusuk vagina itu dengan tempo semakin tinggi. Mba Ayu semakin mengerang nikmat. Desahannya membahana memenuhi ruangan ini. Bersama mba Ayu, ku nikmati indahnya surga dunia ini berdua. Ku pacu birahi ku bersamanya menuju puncak kenikmatan tertinggi. Puncak kenikmatan yang diinginkan setiap pasang insan manusia yang sedang memadu kasih. Hingga kami berdua terkapar karena nikmat yang kami rasakan. Hingga kami sama-sama puas karenanya.

Aku tau apa yang aku lakukan sekarang ini salah. Kulakukan dosa ini lagi. Tapi aku juga ingin memberinya kenikmatan. Kenikmatan yang bukan sekedar nafsu birahi. Aku ingin memberinya kenikmatan yang sekaligus membuatnya nyaman. Aku ingin membahagiakannya. Dan jika ini adalah dosa, aku ingin ini menjadi dosa terindah dalam hidup ku. Dan Diah, maafkan aku. Lagi-lagi aku teringat dengannya. Mungkin mba Ayu adalah jawaban Tuhan atas keikhlasan ku untuk diri mu.

Akhirnya ku menemukanmu

Saat hati ini mulai meragu

Akhirnya ku menemukanmu

Saat raga ini ingin berlabuh

Ku berharap engkau lah

Jawaban sgala risau hatiku

Dan biarkan diriku

Mencintaimu hingga ujung usiaku

Jika nanti ku sanding dirimu

Miliki aku dengan segala kelemahanku

Dan bila nanti engkau di sampingku

Jangan pernah letih tuk mencintaiku

[Bersambung]

Hallo Gaiss, Disini Admin KisahMalah
Agar Admin Semakin Semangat Update Cerita Cerita Seru Seterusnya, Bantu Klik Iklan yang Ngambang ya.
Atau Gambar Dibawah INI

Atau Bagi Kamu yang suka bermain game Poker Online atau Gambling Online lainnya, bisa di coba daftarkan ya. Banyak Bonus dan Hadiahnya Loh.
Untuk yang Kesulitan Daftar bisa Hub Admin di WA untuk di bantu Daftar.
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part