web hit counter

Merindukan Kesederhanaan Part 30

0
361

Merindukan Kesederhanaan Part 30

Aku Telat

Jadi ceritanya begini. Kiki bisa tau aku tidak langsung pulang ke rumah adalah karena semalam Tiara menelepon Kiki. Anak itu menelpon tante nya itu dan anak seumuran dia tentu saja tidak mungkin berbohong. Dan berkatalah dia dengan jujurnya bahwa aku belum pulang. Kemarin hari ku menjadi kacau karena si rese Tiara.

“Awas kalau kamu marahin Tiara!” Kiki mengancam ku.

“Iyaaa…”

“Aku bakal marah besar sama kamu!!” lanjutnya.

Aku semakin tidak berkutik.

“Endak Kiii endaaak…” ucap ku dengan rasa bersalah.

“Lagi kenapa mesti bohong sih?”

“Itu…anu…”

“Kenapa?”

“Aku ndak tau…”

“Ndak tau?”

“Iya.”

“Aneh kamu mah.”

“Iya aku aneh.”

“Hiiih…”

“Kenapa?”

Aku ganti bertanya kepadanya yang mulai nampak kesal. Kesal atau gemas aku tidak tau pasti. Tapi kalau ditanya kenapa aku kemarin berbohong padanya, aku juga tidak tau alesannya. Semua kalimat itu terucap begitu saja.

“Kamu mau aku ninggalin kamu sama kaya Gita dan Doni?”

“Enggak…”

Aku langsung memegang pergelangan tangannya.

“Enggak mau! Beneran! Aku ndak mau kamu pergi.” Lanjut ku. Perasaan takut yang sebelumnya belum pernah aku rasakan tiba-tiba menyerang ku. Aneh. Rasa takut yang tidak biasa.

Aku semakin kuat memegang tangannya namun justru dia berusaha melepaskan genggaman ku.

“Kalau begitu, jangan ingkari komitmen diantara kita. Jangan pernah berbohong.”

“I-iya Ki, aku janji ndak lagi-lagi.”

“Jujur ya, kamu mau ngelakuin apapun, pergi kemanapun, dan dengan siapapun, selama itu bukan hal yang baik, aku ga akan pernah melarang mu kok. Tapi cuma satu yang aku minta, jangan bohong. Itu aja.”

“Iya Ki iyaaa, maafin aku yaaa,” aku berkata dengan menyesalnya sambil ku pegang lagi pergelangan tangannya. Dia tidak menolak.

“Ya udah. Sekarang aku maafin. Itu di minun teh nya. Kamu udah makan belum tadi?”

“Belum, laper nih? Kamu ada makanan ndak? Hehehe.” Aku tersenyum dengan garing nya.

“Ya udah abis ini kita makan yah, aku angetin makanan dulu, tadi pagi aku masak.”

“Siap nyonya, hehehe.”

Aku tersenyum sumringah. Kiki lalu meninggalkan ku dan masuk ke dalam kostannya.

~¤~¤~¤~

“Siapa itu?” Kiki melongokkan kepala dengan lucunya dari belakang ku mencoba mengintip layar HP ku. Kiki baru saja balik dari dapur kostannya setelah membereskan bekas makan kami. Seneng banget malam ini, makan disiapain, dimasakin, selesai ada yang beresin. Aku langsung menunjukkannya.

“Mba Ayu, nanya kerjaan dia,” jawab ku jujur. Aku menunjukkannya karena memang mba Ayu nanyain kerjaan. Kalau lagi ngobrol asik tentu aku ga akan menunjukkannya.

“Owh, serius banget kayanya. Apa kabar mba Ayu? Makin cantik ya sekarang?” lanjutnya yang sekarang berdiri di samping kanan ku.

“Kabar baik. Iya makin cantik, hehehe,” aku mengiyakannya.

“Seneng dong kamu, kerjanya didampingin cewek cantik,” ujarnya lalu berjalan menuju sofa di depan dan duduk di sana. Kakinya di lipat ke atas.

“Aku mah selalu dikelilingin gadis-gadis cantik, termasuk sekarang ini,” canda ku dengan muka cengengesan.

“Mulai deeeh,” balas Kiki sambil tersenyum. Dia memang selalu begitu. Selalu malu jika aku menggodanya. Padahal sahabatan udah lama. Aku hanya tersenyum. Lalu hening. Aku kembali memperhatikan layar HP ku.

“Ian…”

“Hmm?”

“Iaaan?”

“Yaaa?”

“Lihat sini napa!”

“Iya-iyaaa. Kenapa saaay?” Kiki manyun lagi dengan lucunya.

“Sayur?”

“Hahaha…apaan sih?” Aku balik bertanya dengan penasaran.

“Kamu ga nyoba hubungin Gita lagi? Biasanya kamu punya banyak cara buat rebut hatinya, kaya dulu-dulu itu. Yang benci pun bisa jadi cinta. Sayang kamu nya ga bisa move on. Padahal kalian serasi. Kamu juga deket sama papanya Gita. Dikit lagi bisa jadi mantunya kamu.”

Aku tidak langsung menjawabnya. Kalimatnya terlalu panjang. Aku memicingkan mata ku. Menganalisa dan mencerna setiap kata-kata yang diucapkan oleh wanita cantik di depan ku ini.

“Ada yang salah?” tanya Kiki lagi.

“Enggak, cuma kepanjangan aja kalimatnya, hahaha,” Aku tertawa.

“Hiiih!! Aku serius!”

“Yaaa, kurang lebih seperti itu. Tapi kalau boleh jujur, aku udah ndak terlalu mikirin Gita,” sekarang gantian Kiki yang memicingkan matanya.

“Jangan salah paham dulu. Maksud ku, aku ndak akan memaksa Gita untuk merubah jalan hidup yang udah diambilnya. Tapi kalau nanti tiba-tiba dia balik dan maafin kita semua, tentu saja aku seneng banget.”

“Usaha apa kek gitu! Doni juga bujuk lah biar balik sama kita lagi,” pinta Kiki dengan sedih nya.

“Aku harus usaha gimana?”

“Ya apa gituuu…”

“Ya apa? Nyusul dia? Duit dari mana?”

“Doni?”

“Sama kerasnya mereka berdua.”

“Hmm…”

“Lagi pula empat tahun yang lalu aku udah nolak itu uang dari pak Weily, kenapa? Karena memang aku tidak ngarepin uang itu. Lalu sekarang, ketika aku butuh uang itu untuk urusan mendesak, demi nyawa seseorang, orang itu orang tua mu, orang tua sahabat mereka, tapi mereka malah nganggep aku udah ngelakuin dosa apa gitu yang ndak mungkin dimaafin, jadi sebenernya yang salah siapa?”

“Ga da yang salah sih seharusnya, hanya paham aja yang salah makanya jadi salah paham.”

“Betul.”

“Engghh…kenapa ga kamu jelasin ke Gita?”

“Kan kamu tau dia udah kabur duluan…”

“Huufffttt…masa persahabatan kita ujungnya jadi kaya gini sih?”

“Bukan mau ku kalau itu.”

“Kamu kok jadi cuek gitu sih?”

“Udah dari dulu kalau cuek mah. Masalahnya aku harus gimana? Aku harus ngapain? Kalau kepala sama hati mereka lebih lembek dikit aja, semua ndak akan jadi kaya gini, masalahnya mereka berdua terlalu keras.”

“Engghh…” Kiki terdiam dan menunduk. Wajahnya lesu tidak bersemangat. Dimain-mainkannya HP ditangannya itu dengan tidak jelas.

“Kamu sudah mulai membuka hati buat wanita lain ya?”

Sepontan aku langsung menatap wajahnya. Dia juga ikut menatap wajah ku.

“Kenapa pertanyaannya belok jauh gitu deh?”

“Yaaa kamu udah cuek banget ama Gita, aku pikir kamu udah nemuin yang kamu cari,” balas Kiki lesu. Diketuk-ketukkannya HP nya ke pahanya.

“Ada Gita di sini pun belum tentu aku akan dengan nya Ki. Jujur ya Ki, ndak akan ada yang bisa menggantikan posisi Diah di sini,” aku menunjuk dada ku sendiri. “Tapi, kamu benar juga dengan apa yang dulu pernah kamu bilang, aku harus mencari pengganti Diah, tapi itu bukan berarti aku harus dengan Gita, aku berhak mencari yang lain, tapi aku belum mendapatkannya hingga sekarang.”

Aku terpaksa berbohong pada Kiki. Meskipun aku sudah ada mba Ayu, tapi ga mungkin aku cerita soal itu padanya sekarang. Belun waktunya.

“Padahal aku pengennya kamu sama Gita…”

“Hahaha, kamu kaya anak SMA yang sukanya nyomblangin temen,” aku mentertawakannya. Dia semakin manyun.

“Biariiin!”

“Mang kenapa pengen banget aku sama Gita?”

“Ya aku merasa kalian cocok.”

“Itu aja?”

“Iya.”

“Berarti kamu salah.”

“Salah?”

“Kalau kamu punya alasan kenapa kamu mencintai seseorang, berarti cinta mu itu semu. Cinta sejati itu ndak pake alasan. Kalau kamu nanya kenapa aku cinta mati sama Diah, aku ndak akan pernah punya alasan. Karena cinta ku ke Diah ndak ada alasannya.”

“Gitu ya?” Kiki nampak bingung.

“Iya begitu,” balas ku cuek.

“Kenapa begitu?” Kiki bertanya dengan polosnya.

“Ya logikanya kalau alesan yang membuat mu mencintai seseoarang itu hilang, cinta mu akan hilang juga dong. Beda kasusnya kalau kamu cinta sama seseorang tapi ndak ada alesannya. Mau kaya apa orang itu, dengan segala kekurangannya juga, cinta mu ndak akan pernah berubah.”

“Hmmm…masuk akal sih…”

“Iya kan?”

Kiki tidak menjawab. Kami sempat saling pandang sesaat sebelum dia memainkan HP dan hening kembali. Aku lalu memperhatikan nya.

Kiki, sebenarnya dia cantik, manis, baik, dan lembut juga. Tapi yang membuat ku heran, selama empat tahun lebih bersahabat dengannya, aku tidak pernah melihatnya dekat dengan cowok. Kalau Endra tidak lebih dulu jadian dengan Binar, sebenarnya aku ingin menjodohkan mereka.

“Kenapa?” tanya nya.

“Kamu sendiri, adem ayem aja, aku ndak pernah liat kamu deket sama cowok.”

“Aku deket sama kamu,” jawab nya enteng.

“Maksud ku deket dalam artian ituuu…”

“Kalau itu sih ga perlu deket-deketan. Cukup nunggu ada yang khilaf terus tiba-tiba ngelamar aku aja, hahaha.” Kami berdua lalu tertawa.

“Ngerendah banget. Pasti banyak lah yang sebenarnya mau khilaf.”

“Yang mau khilaf banyak, tapi yang aku arepin kayanya ga bakalan khilaf.”

“Yang kamu cerita pas di curug silangit?”

Kiki mengangkat alisnya pertanda mengiyakan.

“Siapa sih? Sini biar aku paksa khilaf, hehehe.”

“Ada deeeh, rahasia perempuan.”

“Katanya ndak boleh ada rahasia…” aku terus mencecar nya.

“Cewek boleh ada rahasia, cowok enggak,” kiki terus mengelak.

“Bisa begitu? Palingan juga boong doang kan. Kalau cowok itu beneran ada, aku pasti tau.”

“Buktinya kamu ga tau kaaan, hahaha. Dia sekarang lagi di surabaya. Temen masa kecil ku dulu. Hihihi.” Kiki tersenyum malu.

“Namanya?”

“Harus?”

“Kalau memang benar ada…” tantang ku padanya.

“Andri…” jawabnya.

Beneran ada ya?

“Kami berdua udah lama banget ga ketemu, atau bahkan sekedar kontak-kontakan pun ga pernah. Makanya aku tadi bilang yang aku arepin kayanya ga bakal khilaf-khilaf. Aku ga tau dia disana udah punya cewek apa belum. Atau, udah nikah apa belum aku juga ga tau. Hahaha. Entahlah.”

Nah kan. Aku terdiam mendengar ucapannya. Ada perasaan sedih mendengarnya. Sedih? Iya, aku sedih karena kisah cintanya. Sebagai seorang wanita, memang sudah menjadi kodratnya hanya bisa menunggu dan berharap pria yang di sukainya memiliki perasaan yang sama dan mengutarakannya padanya. Mereka dikekang oleh norma dan etika dimana akan sangat memalukan apabila mereka lebih dulu mengakui perasaannya itu. Berbeda dengan pria, yang bebas mengutarakan perasaannya kepada siapapun wanita yang disukainya.

“Berarti kamu harus belajar lepas dari masa lalu,” ucap ku memberinya semangat. Semangat macam apa itu? Ya mudah-mudahan berhasil.

“Kamu ngomong kaya gitu seolah-olah udah bisa lepas dari bayang-bayang Diah,” Kiki menyindir ku. Dan sekarang aku yang diserang balik.

“Eh, engghh…iya sih, hahaha,” aku nyengir kuda.

“Eh tunggu-tunggu. Berarti kita ini mirip dong ya, sama-sama punya bayangan masa lalu, gimana kalau kita jadian aja, seru tuh pastinya, hahaha,” canda ku kemudian tertawa dengan gelinya membayangkan aku dan dia menjalin hubungan yang bukan hanya sekedar sahabat.

“Iya seru banget tuh. Ntar dikit-dikit kita galau sendiri-sendiri. Hujan dikit galau. Pinter banget kamu emang,” Kiki menanggapinya dengan sarkastik.

“Hahaha, lucu kamu mah. Perandaiannya dengan ujan,” aku semakin tertawa.

“Yaaa, kaya yang di meme-meme ituuu.” Lanjutnya.

“Berarti, opsi diantara kita untuk saling menutupi kisah masa lalu yang sama-sama bertepuk sebelah tangan ndak efektif dong ya?” aku menegaskan. Tegas namun bercanda. Menegaskan kebercandaan ku. Kalimat yang aneh, dan tidak konsisten.

“Sepertinya begitu,” jawab Kiki santai.

Tidak banyak obrolan lagi setelah itu. Dan tidak lama setelah itu aku memutuskan untuk pulang. Karena memang sudah malam, sudah jam sembilan lewat, rasanya akan tidak etis kalau seorang anak cewek yang berkerudung, ngekost, masih menerima tamu cowok. Aku juga merasa sudah tidak ada bahan obrolan lagi.

“Hati-hati ya. Langsung pulang dan jangan mampir-mampir!” pesan dari Kiki. Nada-nada nya sama seperti saat awal kuliah dulu ketika mba Endang memberikan wejangan kepada ku agar kalau selesai kuliah langsung pulang ke rumah dan tidak main atau mampir-mampir. Mereka berdua mirip. Dan sama perhatiannya kepada ku.

“Iya mbaaa…” aku tersenyum.

“Dan inget, jangan marahin Tiara!”

“Iya mbaaa…” lagi-lagi aku tersenyum. Dengan garing tentunya. Kiki membalasnya dengan senyuman. Dan aku pun pulang.

~¤~¤~¤~

DUG!! DUG!! DUG!!

BRAK!! BRAK!! BRAK!!

Lagi-lagi pagi ini aku terbangun dengan setengah kaget karena pintu kamar ku digedor dengan kerasnya dari luar. Ah elah, Tiara lagi Tiara lagi.

“Arrgghh…” aku menggeliatkan badan ku. Nikmat Tuhan mana yang lebih indah dari pada menggeliatkan badan saat bangun tidur di pagi hari.

DUG!! DUG!! DUG!!

BRAK!! BRAK!! BRAK!!

“Iya Tiii…bentar…sabaaar…” aku lalu membuka pintu kamar. Tiara nampak berdiri dengan santai dan seperti tanpa dosa. Anak kecil mungkin memang belum punya dosa kali ya.

“Masih pagi Tiaraaa…aduuuh…” keluh ku masih dengan setengah mengantuk.

“Sholat subuh ooom…!!”

“Iya-iyaaa…”

“Hehehe…” tawanya jahil.

Tiara lalu pergi meninggalkan ku. Kembali ke dalam kamarnya dan entah melakukan apa. Aku sendiri langsung ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Meskipun kesel sama Tiara, tapi ambil sisi positif nya aja lah. Aku bisa bangun pagi dan bisa menunaikan kewajiban ku.

~¤~¤~¤~

“Hari ini ada acara?” tanya mba Endang pada ku. Pagi ini kami berempat berkumpul di ruang keluarga dan sarapan bersama. Setiap akhir pekan atau libur gini kami memang selalu berkumpul bersama seperti ini. Senengnya punya keluarga seperti mereka. Mba Endang dan Mas Rizal sudah seperti orang tua bagi ku. Sedangkan Tiara, aku dan dia lebih mirip seperti kakak dan ade ketimbang om dan keponakan.

“Ada mba, mau ketemuan sama Endra.”

“Loh, dia di Jakarta?”

“Iya, lagi tugas ke sini sampai minggu depan. Makanya di sempetin ketemuan.”

“Owh… gitu…”

“Kenapa mba?”

“Kita kan mau jalan-jalan ooom… ga diajak ya? Kesiaaan.” Bukan mba Endang yang menjawab, tapi Tiara. Dan dengan nada yang sangat nyinyir.

“Tiara!” mba Endang sedikit membentak.

“Iya, kita mau ke anyer, mas Rizal dapet pinjeman vila dari bos nya. Ikut aja yuk!” ajak mba Endang.

“Laaah, terus Endra gimana?”

“Iya ya. Ya udah gimana baiknya menurut kamu aja.”

“Iya mba.”

“Yaaah, om ga ikut?” tanya Tiara lesu.

“Iya om nya ga ikut, kamu resein mulu sih.” Mba Endang menimpali pertanyaan Tiara.

“Yaaah…” tiara semakin lesu. Aku hanya senyum-senyum melihat tingkah lakunya.

“Hahaha, sedih ya om ga ikut?” tanya ku meledek.

“Enggak sih! Biasa ajah. Weeek!!” Tiara mengelak. Tapi aku tau dan yakin dia pasti sedih aku tidak bisa ikut. Hahaha. Tiara-Tiara. Kecil-kecil udah bisa jaim aja.

~¤~¤~¤~

Jam sepuluh pagi aku berangkat. Tujuan ku adalah daerah Kalibata. Tepatnya adalah kantor Endra yang di Jakarta. Selama di Jakarta, Endra memang tinggal di mes yang di sediakan oleh pihak kantornya. Dan siang ini kami berencana makan siang di deretan warung tenda yang ada di seberang Taman Makam Pahlawan.

Mas Rizal, Mba Endang, dan Tiara sudah berangkat duluan dari jam delapan tadi. Ah, sebenarnya aku pengen ikut mereka. Selain karena belum pernah, jalan-jalan ke pantai tentu akan sangat menyenangkan. Refreshing otak. Dari segala penat. Tapi, tidak mungkin aku membatalkan janji dengan Endra. Minggu depan dia sudah balik ke melaut. Jadi ya harus disempetin.

Endra, tidak banyak yang berubah dari dia. Hanya saja, jadi lebih hitam. Hahaha. Pasti karena dia kerjanya di laut. Padahal baru tiga bulan, tapi efeknya jelas banget. Semoga saja Binar ga berpaling dari dia. Tapi tentu saja tidak. Selain mungkin karena hati, karena aku tidak tau isi hati mereka berdua, masa depan Endra sudah jelas di depan mata. Dia bekerja di perusahaan minyak bonafit yang tentunya dengan segala fasilitas yang jauh lebih bagus ketimbang dari yang aku dapatkan di tempat kerja ku. Alhamdulillah lah. Kalau mereka berdua beneran jadi kan berarti masa depan Binar juga akan terjamin.

Sambil makan siang, kami berdua ngobrol tentang banyak hal. Teman-teman yang udah menikah siapa saja. Yang ini tentu Diah masuk ke dalam nya. Yang membuat ku sedikit…ah entahlah. Susah untuk ku menjelaskannya. Untungnya Endra menyemangati ku dan mendukung ku untuk segera move on dan mencari penggantinya. Tentu saja.

Endra juga menawari ku pekerjaan. Dari info yang dia dapat, perusahaan tempat dia bekerja sedang membutuhkan staff untuk back office. Tentu aku meresponnya dengan positif dan akan segera mengirim lamaran ke bagian HRD. Selain itu Endra juga curhat mengenai hubungannya dengan Binar. Dia mengatakan semakin hari semakin sayang dengan adik ku itu. Sebenarnya aku ingin tertawa saat mendengarnya, tapi aku tahan saja. Hahaha.

Tentu saja aku sangat menghargainya. Apalagi dia berniat akan langsung melamar Binar saat Binar lulus kuliah nanti. Itu artinya sekitar tiga tahun lagi. Aku pikir cukup lah. Sebagai kakak dan calon kakak ipar, tentunya aku hanya bisa mendoakan yang baik-baik untuk mereka.

Jam dua siang, aku sudah akan pulang. Endra juga harus mempersiapkan perlengkapannya karena ternyata dia sudah akan berangkat besok, bukan minggu depan. Jadi untung banget hari ini bisa ketemu.

Pulang ya? Ah rumah sepi. Apalagi ga ada Tiara. Mau ke kost Kiki, tapi semalem udah kesana. Ga enak juga kalau keseringan. Takut mengganggu. Apa ke mba Ayu aja kali ya? Siapa tau skors nya udah di cabut. Hahaha. Mendadak senyum mesum ku keluar. Dan aku langsung menghubunginya.

~¤~¤~¤~

“Kok jadinya malah ke sini siih?” Mba Ayu bertanya dengan ketusnya. Ya, aku memang secara sepihak tanpa persetujuannya, bahkan tanpa memberitahunya terlebih dahulu, membawa mba Ayu ke rumah ku. Rumah mas Rizal maksudnya. Padahal tadi itu pas ditelepon mba Ayu meminta ku menjemput nya dan langsung mengantarnya ke kost an. Tapi entah mengapa tangan ku membelokkan kemudi motor ku dengan sendirinya ke rumah ini. Hahaha.

Astaghfir…eling Ian eling. Iya aku eling kok. Eling kalau rumah sepi dan mba Endang baru akan balik besok. Hahaha.

“Ndak apa-apa kan kalau mau ngenalin kamu ke calon kakak ipar? Hehehe,” canda ku. Tentu saja aku belum bilang kalau mba Endang sekeluarga tidak di rumah.

“Eh, ka-kamu serius mas?” Mba Ayu kaget dan nampak grogi dan salah tingkah juga. Wajahnya memerah karena malu.

“Seriuuusss…”

“Tapi ga secepat ini juga kan, aku belum siap…” mba Ayu semakin ragu.

“Sudah ayo masuk, mba Endang baik kok. Udah pernah ketemu juga kan dulu?”

“Iya sih, tapi kan itu udah lama banget.”

Aku tidak meresponnya lagi, malahan langsung menariknya masuk ke dalam rumah. Aku pura-pura mengucapkan salam. Padahal aku sudah tau rumah ini sepi. Hehehe.

“Kok sepi? Kamu jangan macem-macem ya mas!” Mba Ayu mengomel dengan lucunya. Aku hanya senyum-senyum aja menanggapinya.

“Siapa juga yang mau macem-macem. Bentar aku telepon mba Endang dulu. Tadi pas berangkat masih ada kok.”

Aku lalu meninggalkannya yang sudah duduk di sofa ruang tamu. Sedangkan aku berjalan ke teras rumah untuk berpura-pura menelepon mba Endang. Hahaha. Mang enak aku kerjain.

Setelah sekitar dua menitan aku berbicara sendiri seperti orang gila, aku kembali masuk ke dalam. Mba Ayu nampak penasaran.

“Gimana?”

“Engghh…”

“Kenapa?”

“Mereka sekeluarga lagi liburan ternyata,” jawab ku pura-pura kaget.

“Haaah? Jadi rumah sepi?”

“Iyaaa,” aku tersenyum dengan garingnya.

“Ah ini sih paling akal-akalannya kamu aja kan?” protes mba Ayu.

“Enggak kok, beneran deh.”

“Trus sekarang gimana?”

“Yaaa, kita di sini dulu, capek nih.”

“Sudah ku duga. Ya udah lah, terserah mas aja.” Mba Ayu nampak kesal tapi juga pasrah aja dengan kemauan ku. Hehehe.

“Hehehe. Oiya mau minum apa?”

“Apa aja. Eh tapi emang ga apa-apa kita sekarang berduaan aja di sini? Tetangga ga mikir macem-macem nanti?”

“Tetangga kan ga tau rumah sepi. Udah tenang ajaaa.”

“Iya juga sih.”

Mba Ayu manggut-manggut. Aku tersenyum pada nya lalu meninggalkannya untuk membuatkan minum.

~¤~¤~¤~

“Aahhsshh…maasshh…aahhsshh… kaammuu…aahhhh…kennapaa jaadii beegiinnii siihh…?”

Mba Ayu duduk bersandar di sofa sambil mendesah dengan merdunya. Aku sedang mencumbui payudaranya yang sekal. Ku hisap dan ku jilati puting payudaranya yang mulai mengeras. Ada rasa kesal dalam diri nya namun juga tidak mampu melawan rangsangan yang aku berikan. Tangan mba yang Ayu awalnya menolak perlakuan ku, kini justru mengarahkan kepala ku agar semakin mendesak ke dada nya.

Aku memang sedikit memaksanya tadi. Tapi bukan memaksa sampai menggunakan kekerasan fisik. Awalnya aku duduk merapat tepat di sampingnya. Terus dengan jahil aku peluk mba Ayu dari samping. Awalnya dia memang menolak dan risih. Mungkin aku memang masih dihukumnya. Hahaha.

Tapi aku tidak menyerah begitu saja. Ku genggam tangannya. Ku bisikkan kata-kata sayang dan pujian padanya. Sesekali ku kecup pipi dan kujilati daun telinganya. Dan akhirnya, aku bisa meluluhkannya dengan sentuhan ku. Seperti sekarang ini saat dia dengan pasrahnya menerima setiap cumbuan dan belaian ku.

“Aahhsshh…aahhsshh…maasshh…”

“Iya sayaaang…?” Aku menghentikan sejenak cumbuan ku pada kedua bukit kembarnya.

“Enak masshh…”

“Jadi lanjut ya?”

“Ii-iiya maass…teruuuss…nyussu yang banyak yaahh…isep puting akuuhhh maasshh…aahhsshh…”

“Berarti skorsingnya dicabut dong?”

“Aahhhhh…maash mah godain akuu muluuu…aku milik mu mashh…puasin aku lagi kaya waktu ituhhsshh…aakuuhh kangen kamu maasshh…”

“Hehehe,” aku tersenyum.

“Aku juga kangen sama kamu…”

CUP!!

Ku kecup keningnya. Ku belai dengan lembut pipinya.

“Aku sayang kamu…”

Ku bisikan lagi kalimat-kalimat sayang tepat di telinganya.

“Aahh…aku juga mas…jangan pernah tinggalin aku yaah…”

“Iyaah…aku janji…” aku mengangguk dan tersenyum.

Selanjutnya, apa yang terjadi di antara kami berdua tidak terkontrol lagi. Semuanya berlangsung dengan alamiah. Tangan dan bibir ku bergerak dengan liarnya menjelahi setiap jengkal tubuhnya. Begitupun juga dengan mba Ayu yang mulai aktif membalas setiap sentuhan dan cumbuan yang aku berikan. Dan bersama kami merengkuh nikmatnya dan indahnya surga dunia.

~¤~¤~¤~

“Kamu sekarang bener-bener deh mas, orang masih dihukum juga, nakal banget tadi tuh!” Protes mba Ayu sambil mencubit pelan perut ku. Aku duduk di karpet lantai dan bersandar pada sofa. Sedangkan mba Ayu memeluk ku dari samping. Aku mendekap tubuh mungilnya. Kami sama-sama kelelahan. Dan kami masih sama-sama telanjang.

“Abis aku kangen ama kamu, hehehe,” balas ku sambil mencolek hidungnya yang mancung. Mba Ayu lalu tersipu dan merebahkan kepalanya di dada ku.

“Mas ga akan ninggalin aku kan?” tanya nya sambil mengusap-usap dada ku.

“Iya sayang, aku ndak akan ninggalin kamu. Kamu juga ya, meskipun aku belun bisa bahagian kamu, aku mau kamu bisa sabar di samping aku.”

“Aku sudah bahagia kok mas, karena yang aku butuhkan hanya ini,” mba Ayu menunjuk ke dada ku. “Mas yang sudah berhasil meluluhkan hati ku, dan hanya ada mas di hati aku, hihihi,” lanjutnya.

“Terima kasih,” ucap ku pelan.

“Sama-sama mas.”

Kami berpelukan kembali. Ku kecup keningnya. Hari ini, tepatnya sore ini, aku semakin yakin dengan pilihan hati ku. Dan sekarang saatnya aku membuka hati ku dan wanita yang aku pilih adalah mba Ayu. Hahaha. Kesannya aku rebutan banget ya tinggal milih. Tapi tidak juga.

Aku bisa mengambil hati mba Ayu tidak dengan tanpa usaha. Ya meskipun usaha ku hanyalah menerima nya apa adanya. Tapi aku juga sadar kalau aku ini bukan lah laki-laki yang sempurna. Aku belum punya apa-apa. Dan sekarang ada seorang wanita yang juga mau menerima ku apa adanya, jadi ya kenapa tidak.

Aku harus mulai melupakan Diah. Dan juga Gita. Gita? Ah Gita tidak perlu dilupakan, sejujurnya dia tidak pernah benar-benar mengisi hati ku. Dia hanya kebetulan ada pada saat aku terpuruk karena Diah. Dan faktanya, sekarang dia sendiri entah sedang berada di mana. Dan Kiki? Aku harus segera memberitahunya setelah ini.

~¤~¤~¤~

~Dua~Minggu~Kemudian~

DUG!! DUG!! DUG!!

BRAK!! BRAK!! BRAK!!

Lagi dan lagi, pagi ini aku terbangun dengan setengah kaget karena pintu kamar ku digedor dengan kerasnya dari luar. Dan siapa lagi pelakunya kalau bukan Tiara.

“Arrgghh…” aku menggeliatkan badan ku.

DUG!! DUG!! DUG!!

BRAK!! BRAK!! BRAK!!

Aku langsung bangun dan membuka pintu. Dengan berkacak pinggang, Tiara berdiri di depan pintu.

“Sholat subuuhh!!” perintah Tiara dengan berlagak galak memarahi ku. Tapi aku melihatnya malah lucu. Hehehe. Dan aku sangat bersyukur memiliki keponakan yang teramat sangat rajin mengingatkan ku untuk terus rajin beribadah.

“Iyaaa,” balas ku santai sambil mengacak-acak rambut kriwil nya. Dia malah gantian yang nampak kesal dan meninggalkan aku begitu saja.

Sebelum pergi ke kamar mandi, aku sempatkan balik ke kamar dulu karena tadi aku seperti mendengar ada notifikasi wasap yang masuk.

Mba Ayu?

Maaass…aku telat

[Bersambung]

Hallo Bosku, Disini Admin KisahMalah
Agar Admin Semakin Semangat Update Cerita Cerita Seru Seterusnya, Bantu Klik Iklan yang Ngambang ya.
Atau Gambar Dibawah INI

Atau Bagi Kamu yang suka bermain game Poker Online atau Gambling Online lainnya, bisa di coba daftarkan ya. Banyak Bonus dan Hadiahnya Loh.
Untuk yang Kesulitan Daftar bisa Hub Admin di WA untuk di bantu Daftar.
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part