web hit counter

Merindukan Kesederhanaan Part 35

0
339

Merindukan Kesederhanaan Part 35

Satu Contoh Lebih Baik Dari Seribu Nasehat

Aku merasakan sesuatu yang aneh. Tapi aku tidak mengerti apa itu. Memang benar aku masih sangat mengharapkan Diah, tapi tidak dalam situasi dan kondisi seperti ini. Tidak saat aku sudah beristri dan istri ku sedang mengandung anak ku. Kalau sudah begini aku harus bagaimana? Aku senang dengan kehadirannya? Tentu saja. Lalu apakah aku harus bersuka cita di depan Ayu? Tentu saja tidak.

Setelah ngobrol dan berbasa-basi sebentar, aku meminta ijin masuk ke dalam untuk mandi. Jujur aku masih belum siap dengan kecanggungan yang mendadak ini. Ya, aku sangat canggung dengan keberadaan Diah. Tidak seperti Ayu yang justru terlihat sangat akrab dengannya, meskipun aku yakin ini adalah pertemuan pertama di antara mereka. Entahlah. Sekarang aku hanya mau mandi.

Begitu sampai di kamar, yang lebih tepatnya hanya ruangan tanpa pintu permanen, hanya selembar kain yang menutupinya dari ruang depan, aku mengambil handuk dan baju ganti. Ternyata Ayu mengikuti ku dan duduk di tempat tidur. Dia nampak tersenyum kepada ku. Seperti ada yang ingin diungkapkannya. Namun hingga aku mendapatkan handuk dan baju ganti ku, dia masih tetap diam. Mungkin dia ingin aku yang berinisiatif menanyainya terlebih dahulu.

“Kamu kenapa?” tanya ku.

“Seneng aja,” balasnya singkat masih dengan tersenyum.

“Seneng kenapa?”

“Ehmm…aku seneng karena kamu malam ini juga pasti seneng.”

“Aku? Seneng? Seneng kenapa? Biasa aja.”

“Bohooong,” sangkalnya namun dengan nada bercanda.

“Serius. Ngapain bohong?”

“Pasti bohong. Kamu seneng kan bisa ketemu Diah lagi?”

“Owalaaah, kamu mikir aku seneng karena itu. Biasa aja. Selama ini aku sudah bahagia karena ada kamu…” balas ku sambil iseng mencubit hidungnya dan sedikit meremas payudaranya pelan.

“Aaawww…iiihhh…nakal deh! Ntar ketahuan Diah loh…”

“Biarin aja sih orang aku megang dada istri ku sendiri kok,” balas ku ngasal. Bukannya melepaskan remasan ku, aku justru memegang payudaranya yang satu lagi, yang ukurannya sudah membengkak karena mungkin sudah terisi penuh dengan ASI, dan meremasnya pelan. Ayu nampak melenguh halus namun berusaha menahannya. Ku majukan tubuh ku hingga akhirnya aku dapat menyatukan bibir ku dengan bibirnya.

“Aahhsshh… aahhsshh…”

Ayu mendesah pelan. Namun tak lama kemudian dia mendorong tubuh ku hingga aku berdiri dengan sempurna lagi.

“Stop!!” pintanya dengan galak. Melihat ekspresinya sekarang aku jadi teringat dulu saat dia masih menjadi atasan ku. Galak. Tapi lucu. Hehehe.

“Galak banget, hehehe,” canda ku.

“Lagian mas nya nakal banget. Tau ada tamu. Ntar kalau ketahuan kan malu. Ya udah mandi sana. Aku mau nemenin Diah dulu. Nanti ada sesuatu yang mau Diah ceritain.”

“Eh, apaan?” aku penasaran.

“Ada pokoknya. Yang pasti bukan minta di nikahin sama kamu. Hihihi.”

“Bikin penasaran aja,” protes ku.

“Makannya buru mandi!”

“Iya…”

Ayu kemudian bangkit dan hendak berjalan ke depan. Namun baru beberapa langkah aku menghentikannya dengan sebuah pertanyaan.

“Diah di sini sejak kapan?”

“Udah dari siang,” jawabnya santai lalu berjalan lagi menuju ruang depan.

Aku hanya manggut-manggut mendengarnya. Ada apa ya? Seharusnya Diah memang tidak akan kemari bila tidak ada hal yang sangat penting yang akan di bicarakan. Tapi apa? Ah lebih baik aku mandi dulu saja dan menemui dua wanita itu secepatnya.

“Sini mas duduk sama kita, ngobrol bareng,” ajak Ayu sambil menepuk tepat di sampingnya begitu melihat kemunculan ku dari dalam. Ayu duduk disofa yang mengadap ke samping. Sedangkan Diah duduk menghadap ke arah dalam. Aku pun duduk di tempat dimana Ayu maksud tadi, sekarang aku duduk di antara mereka berdua.

Aku pun duduk. Ayu lalu memeluk erat lengan kiri ku. Diah yang tadinya menatap kami berdua langsung menundukkan pandangannya. Risih? Mungkin. Tidak bisa melihat ada wanita lain yang mesra pada ku? Bisa jadi. Tapi aku membiarkannya saja karena toh hanya memeluk lengan, dan kita sepasang suami istri, jadi tidak ada yang salah.

“Diah, tadi katanya ada yang mau di bicarain ke mas Ian? Nih mas nya udah ada. Kok diem siiih?” Ayu bertanya dengan centilnya.

“Eh, i-iya, ini aku ju-juga mau ngomong kok,” balas Diah dengan kaku nya. Aku jadi semakin penasaran. Tapi, aku malah jadi ikutan canggung pada nya. Hingga akhirnya aku hanya diam dan menunggu hal apa yang akan dia katakan.

Dalam beberapa detik suasana berubah menjadi hening. Kami bertiga sama-sama diam. Ayu yang paling santai. Dia seperti tidak ada beban. Apa mungkin dia sudah tau permasalahan yang akan Diah katakan? Bisa jadi. Aku, meskipun bersikap biasa saja namun jujur aku berada dalam kondisi paling penasaran yang pernah aku raskaan dalam hidup. Terkesan lebay memang, tapi itulah yang terjadi. Sedangkan Diah, seperti sedang mengumpulkan kekuatan untuk mengutarakan maksudnya datang ke sini, ke tempat tinggal ku dan Ayu ini.

“Iaaan…hiks…hiks…aku mohon…” Diah yang tadi nya diam tiba-tiba menghambur ke arah ku, berlutut di depan ku, memegangi telapak kaki ki dan seperti ingin bersujud kepada ku.

“Eh, eh ada apa ini? Kamu kenapa?”

“Iaaan, aku mohooon,” lagi-lagi Diah hanya memohon namun tidak jelas apa yang dia mau dari ku. Sepontan aku menoleh ke arah Ayu. Saat itu juga raut muka Ayu yang tadi nya senyum-senyum berubah menjadi simpatik kepada Diah. Di usap nya pelan rambut dan bahu Diah. Kemudian Ayu menarik lengan Diah agar bangun.

“Aku minta maaf, aku minta maaf, aku mohon…”

“I-iya Di iya, tapi minta maaf untuk apa?” sama dengan Ayu, aku juga berusaha menarik kedua lengan Diah untuk bangkit. Posisi nya sangat tidak enak dilihat karena posisinya yang bersujud dan hampir mencium telapak kaki ku.

“Diah sayang, sudah ya jangan nangis lagi yah, jelasin semuanya ke mas Ian yah…” bujuk Ayu lembut sambil kembali mengusap rambut di kepalanya. Terlihat sekali raut muka empati di wajah istri ku itu. Ada apa ini? Aku semakin bingung. Untungnya tidak lama setelah itu Diah mau menghentikan tangisannya dan setengah bangkit, namun masih bersimpuh di depan ku.

“Bapak sudah dua bulan ini dirawat,” ucapnya pelan, dan sedikit ragu.

Bapaknya ya? Aku langsung membatin. Sedikit banyak aku mulai menebak-nebak kemana arah pembicaraan ini. Sedikit banyak pula aku kembali teringat memori-memori buruk masa lalu yang menghubungkan aku, Diah, dan bapaknya. Sedangkan Ayu nampak biasa saja, berarti dia sudah tau atau artinya Diah sudah menceritakan semuanya. Dan hingga beberapa detik aku malah terdiam tanpa suara. Aku bingung harus bereaksi bagaimana.

“Mas kok malah diem aja?” tanya Ayu yang menyadari kediaman ku.

“Eh, ehmm iyaaa, sakit apa Di?” tanya ku mencoba berempati sambil memberikan isyarat agar dia kembali duduk di sofa. Namun dia hanya menggeleng dan masih terus bersimpuh di depan ku.

“Ayo sayang, ceritain semuanya. Supaya mas Ian tau,” bujuk dari Ayu lagi dengan lembut pada Diah sambil mengusap lengan kanannya.

“Iya Di, sebenarnya ada apa? Ceritain semuanya, jangan setengah-setengah seperti ini…” tambah ku padanya.

Untuk beberapa saat kemudian Diah kembali terdiam. Kami semua diam. Tapi aku yakin ini hanya soal waktu. Diah pasti akan cerita. Mungkin dia perlu kekuatan khusus atau super ekstra untuk mengungkapkannya. Kasihan.

“Dua bulan yang lalu…” Diah membuka pembicaraan, namun terhenti karena dia mengusap air mata yang kembali meleleh dari matanya yang indah. Ayu kembali mengusap lengan kanan Diah, mencoba memberinya kekuatan dan dukungan. Sebagai sesama wanita tentu dia bisa merasakan apa yang sebenarnya Diah rasakan. Aku sendiri masih diam dan mencoba bersabar menunggu Diah melanjutkan kalimatnya.

“Mantan suami ku, waktu itu pulang ke rumah dengan kondisi mabuk. Seperti biasanya. Ya, itu adalah tabiat buruknya. Mabuk, berjudi, dan hiks, main perempuan,” Diah kembali menghentikan ceritanya karena air mata di pipinya semakin deras mengalir. Ayu memberi ku isyarat agar aku pindah ke sofa tempat dimana Diah semula duduk. Aku pun berpindah. Kemudian dengan susah payah karena perutnya yang sudah membesar, Ayu menarik Diah agar duduk di tempat ku duduk tadi.

Sesedih-sedihnya Diah, segalau-galaunya dia, karena Ayu yang menariknya, akhirnya Diah luluh juga. Sekarang dia duduk di sofa kembali dan dalam pelukan Ayu. Pelukan yang sangat hangat dan tulus. Tidak ada rasa cemburu atau apapun yang muncul dari nya meskipun dia tau apa yang sudah pernah terjadi di antara aku dan Diah dulu. Justru Ayu lah sekarang yang bisa menenangkan hati Diah. Yang memberikan semangat untuknya. Dan aku hanya bisa diam saja melihatnya.

“Diah sayang, sudah yaaah, jangan nangis lagi. Inget, itu udah masa lalu. Semuanya sudah berubah, pria brengsek itu udah ga ada di kehidupan kamu lagi kan? Ya meskipun bayarannya cukup mahal. Tapi kamu harus mensyukurinya. Apapun itu. Percayalah apa yang digariskan Tuhan adalah yang terbaik untuk kita semua. Yah? Diah kuat kan?” Ayu memberikan nasehat pada Diah. Diah terlihat kembali tenang dan aku bisa melihat sedikit anggukan dari kepalanya. Meskipun kepalanya tertunduk dipelukan Ayu.

“Saat itu, entah apa yang terjadi sebelumnya aku tidak tau, saat dia pulang tiba-tiba dia marah-marah ndak jelas. Beberapa perabot rumah tangga pun jadi sasarannya. Aku juga tak luput dari pelampiasan kemarahannya…” Diah melanjutkan ceritanya dengan pelan.

“Segala umpatan dan makian keluar dari mulutnya. Sebenarnya aku sudah biasa mendengarnya. Tapi entah kenapa hari itu aku juga merasa kesal dan aku menjawab makiannya. Semakin marah lah orang itu, hingga akhirnya beberapa kali aku mendapatkan kekerasan fisik darinya.”

Aku tercekat mendengar pengakuan Diah. Ternyata kehidupannya selama ini sangat jauh dari yang aku bayangkan sebelumnya. Ayu pun juga tak bisa menyembunyikan perasaan sedihnya saat mendengar cerita Diah barusan.

“Yang aku sesalkan waktu itu adalah kemunculan bapak yang tiba-tiba. Bapak yang waktu itu melihat ku bukan hanya di kasari, tapi juga disiksa lantas tidak terima dan berusaha menolong ku. Sayangnya bapak tidak cukup kuat untuk melawan orang itu. Dan justru waktu itu malah bapak yang…hiks…bapak yang ikutan disiksa. Padahal bapak tidak tau apa-apa. Sampai dengan hari itu, keluarga ku tidak ada yang tau tentang kebejatan pria brengsek itu. Aku sengaja menyembunyikannya agar bapak bahagia karena merasa pilihannya untuk ku adalah tepat. Namun sayang, hiks…pengorbanan ku sia-sia. Semua memang telah berakhir. Pria itu telah ditangkap. Beberapa warga datang menolong kami. Tapi, hiks…bapak sekarang…” Diah kembali menangis. Dia tidak sanggup lagi meneruskan kan ceritanya.

“Aku ikut prihatin dengan apa yang terjadi pada bapak mu,” ucap ku berempati.

“I-iya makasih,” balasnya lagi yang masih berada di dalam pelukan Ayu.

“Lalu apa yang membuat mu mengunjungi kami? Belum semua kamu ceritakan kan? Apa yang bisa aku dan Ayu bantu?” tanya ku. Diah menegakkan tubuhnya. Kembali dia seperti sedang menguatkan hatinya untuk mengucapkan sesuatu.

“Kata dokter, karena pendarahan dalam, khusus nya di kepala, bapak udah ga ada harapan untuk sembuh dan hidup normal lagi, peluangnya nyaris nol persen. Dan ada satu hal yang membuat dokter heran. Kalau melihat kondisi bapak saat itu, saat bapak dihajar dengan brutalnya oleh pria itu, seharusnya bapak tidak akan tertolong, namun nyatanya hiks, bapak masih ada hingga sekarang meskipun dengan kondisi yang…hiks…hidup enggak, mati enggak. Bapak seperti terus-terusan berjuang melawan sakarotul mautnya, hiks. Hingga kemudian tiga hari yang lalu ada saudara ku yang bertanya kepada ku, apakah ada orang yang pernah hatinya dibuat sakit oleh bapak? Atau apa bapak punya dosa masa lalu dengan seseorang? Saat itu juga pikiran ku langsung tertuju pada mu. Dan kemarin, aku memberanikan diri untuk berangkat kesini, bertemu dengan mu, untuk memohon dengan sangat keikhlasan hati mu, maafkan bapak ku atas segala ucapannya dulu kepada keluarga mu, khusus nya untuk pak lek Kusuma dan bu lek Tyas. Hiks…hiks…”

Bayangan ku lalu kembali ke masa-masa itu. Masa di mana terjadi perselisihan antar aku dengan bapaknya Diah yang waktu itu merubah semua alur cerita cinta yang sudah aku dan Diah impikan selama menjalin hubungan bersama. Alur itu seolah macet, terhalang oleh reruntuhan bukit yang sangat besar hingga kami berdua tidak akan mungkin untuk melaluinya.

Tapi kini aku yang merasa iba terhadap kondisi bapaknya Diah. Miris dan menyedihkan. Aku mengakuinya. Jika masih memiliki hati dan nurani, tidak mungkin tidak sedih bila mendengar apalagi merasakan penderitaan yang Diah alami selama ini dan bapak nya rasakan sekarang. Namun entah kenapa mulut ku seperti terkunci untuk mengatakan “Iya aku mengikhlaskannya.” Ya Tuhan, kenapa dengan ku? Kenapa hamba berat sekali untuk mengatakannya?

“Mas?” panggil Ayu yang mengagetkan ku.

“Eh? I-iya?”

“Kok malah diem aja? Kamu memaafkannya kan mas? Mengikhlaskannya kan?” tanya Ayu lagi.

“Ehmm…aku…”

“Kenapa tidak menjawab? Apa kamu ragu?”

“A-aku ndak tau,” balas ku dengan agak bimbang.

“Astagfirullah, kenapa kamu ga tahu? Hati mu tidak sesederhana biasanya. Kamu biasanya gampang memaafkan, dan lagi pula ini untu Diah, kenapa kamu bisa ragu?” bujuk Ayu lagi.

“Aku bilang tidak tau ya tidak tau!” jawab ku dengan kesal. Entah kenapa aku malah agak emosi saat ini.

“Maaas…”

“U-udah mba, ndak apa-apa hiks… Diah ngerti kok perasaannya Ian,” Diah memotong kalimat Ayu yang masih mencoba merayu ku.

“Ga bisa! Ini bukan mas Ian yang biasanya. Biasanya dia yang selalu membimbing ku untuk selalu menjadi pribadi yang sederhana, pemaaf, dan besar hati, tidak seperti saat ini,” balas Ayu. Ya, aku mengakuinya. Biasanya memang seperti itu. Tapi kali ini entah kenapa aku sangat sulit untuk mengucapkan kata maaf itu.

“Terus menurut mu aku harus maafin gitu aja? Kan sbelumnya aku udah nyeritain semuanya ke mu. Gimana perasaan mu kalau ada di posisi ku?” balas ku dengan nada agak meninggi.

“Aku paham mas. Tapi kalau sampai sekarang kamu masih belum bisa memaafkannya itu juga tidak ada gunanya mas, bapak nya Diah udah ga punya daya lagi jadi buat apa kamu memendam amarah itu, dan kamu dengar sendiri kan kondisinya sekarang bagaimana.”

Aku hanya diam. Dan masih tetap terdiam hingga beberapa lama. Aku menundukkan pandangan ku hingga aku tidak tau bagaimana ekspresi wajah mereka berdua. Tapi aku yakin ada kesedihan di wajah Diah, dan mungkin kekecewaan di wajah Ayu.

“Mas…?” Ayu kembali memanggil ku. Aku menatap nya. Dia menatap ku balik dengan pandangan memohon.

“Sekali lagi mas, aku juga mohon sama kamu. Ikhlasin hati mu. Kalau kamu ga bisa melakukannya demi Diah, lakukan lah demi aku, dan demi anak mu yang sedang aku kandung ini. Kamu mau memberinya contoh yang baik-baik kan? Ajari dia dengan contoh mas, untuk menjadi orang yang pemaaf dan besar hati nya, dan ajarilah mulai dari sekarang.”

Saat itu juga aku ikut menitikkan air mata. Ya, memang benar kata Ayu. Pepatah mengatakan satu contoh lebih baik daripada seribu nasehat. Aku harus memberi contoh untuk anak ku yang masih ada di dalam kandungan itu dengan sesuatu yang baik. Dan apa yang Ayu ucapkan sebelumnya tentang bapak nya Diah juga benar. Tidak ada gunanya sekarang ini untuk terus menyimpan dendam kepadanya.

Aku lalu menatap Ayu dan mengangguk pelan. Ayu yang melihat ku kemudian tersenyum. Diah sepertinya tidak menyadarinya. Aku memberikan isyarat kepada Ayu apakah aku boleh bertukar posisi dengannya, Ayu langsung mengangguk dengan. Dan kami pun bertukar. Sekarang aku yang duduk di samping Diah.

Untuk pertama kalinya setelah kurun waktu yang sangat lama, kami duduk bersebelahan lagi. Aku beranikan diri ku untuk merengkuh pundak kanan nya. Diah kaget namun tidak menolak. Tubuh ini, wangi ini, harum dan lembut rambut nya, tidak ada yang berubah. Memori di kepala ku secara otomatis melayang dan terbang jauh kebelakang. Masa-awal kami kenal dulu, awal pacaran, masa-masa SMA, hingga terakhir kali kami bertemu malam itu, semua terputar kembali dengan sangat jelas. Sedih memang, tapi itulah takdir Tuhan yang terjadi.

“Di, aku sudah ikhlasin semuanya. Aku sudah maafin bapak mu,” ucap ku sambil tersenyum kepadanya.

Tangan kanan ku memegang lengan kanannya lewat belakang punggungnya, sedangkan tangan kiri ku memegang lengan kirinya. Sambil memberikan usapan pelan kepadanya dengan mantab aku mengucapkannya.

Diah langsung menoleh ke arah ku. Seakan tidak percaya namun rona kebahagiaan terpancar jelas dari wajahnya, meskipun air mata kembali meleleh dengan derasnya di pipi nya. Tapi aku yakin kali ini adalah air mata kebahagiaan.

“Bener? Kamu tulus kan?”

“Iya, demi Tuhan aku sudah ikhlas untuk semuanya. Dosa bapak mu kepada keluarga ku insyaallah sudah lebur. Dan aku juga berharap semoga mukjizat turun dan menyembuhkan bapak mu, aamiin!”

“Aamiin, makasih,” balas dari Diah dan badannya semakin merapat ke arah ku. Aku menatap ke Ayu untuk meminta persetujuannya lagi. Dan Ayu mengangguk dengan senyuman. Aku lantas memeluk tubuh wanita yang dulu pernah menjadi orang yang paling berharga dalam hidup ku ini, dan mungkin juga masih hingga sekarang. Entahlah.

Suasana menjadi hening untuk beberapa saat. Diah masih berada di pelukan ku. Bahkan tidak cuma aku yang memeluk nya, dia juga membalas pelukan ku. Kepalanya mendarat di dada ku. Sedangkan Ayu duduk bersandar di sofa dengan senyum bahagianya, sesekali membelai perutnya yang besar itu.

Kriiing!!! Kriiing!!! Kriiing!!!

HP Diah tiba-tiba berbunyi. Sontak aku dan dia saling melepaskan pelukan. Diah mengambil HP nya dan agak heran dengan nama yang muncul di layar ketika melihatnya. Namun Diah tidak berlama-lama, dia langsung menjawab nya.

“Ya, halo mas? Ada apa?”

“I-iya mas, aku sudah bertemu dengan orangnya. Dan alhamdulillah orangnya sudah ikhlas lahir batin.”

Aku tebak yang di maksud Diah adalah aku. Sesaat kemudian dia diam dan hanya mendengarkan lawan telponnya berbicara. Lalu beberapa saat kemudian aku melihat pandangan Diah menjadi kosong. Lagi-lagi dan lagi air mata nya kembali mengalir membasahi pipi nya. Ada apa Di? Aku jadi ikut khawatir.

“Hiks…hiks…hiks…” suara tangis Diah mulai pecah kembali meskipun tidak keras.

“Di?” ucap ku sambil memegang tangannya. Diah tidak menghiraukan ku. Dia masih mendengarkan lawan berbicaranya di telpon. Sedangkan Ayu juga tidak kalah penasarannya dengan ku.

“I-iya mas, a-aku ndak nangis lagi kok. A-aku ikhlas. Hiks…Ma-malam ini juga a-aku balik. Hiks…hiks…” ucap Diah di telpon lalu menutup telpon nya.

“Di?” tanya ku penasaran.

“Diaah?” tanya Ayu dengan lembut.

Diah hanya menunduk. Air matanya terus menetes. Meskipun kini tanpa suara. Aku dan Ayu semakin bingung. Ada apa sebenarnya? Hingga tiba-tiba kalimat yang tidak pernah aku dan mungkin juga Ayu sangka sebelumnya terlontar dari bibir nya.

“Ba-bapak, ba-baru saja, baru saja meninggal.”

[Bersambung]

Hallo Bosku, Disini Admin KisahMalah
Agar Admin Semakin Semangat Update Cerita Cerita Seru Seterusnya, Bantu Klik Iklan yang Ngambang ya.
Atau Gambar Dibawah INI

Atau Bagi Kamu yang suka bermain game Poker Online atau Gambling Online lainnya, bisa di coba daftarkan ya. Banyak Bonus dan Hadiahnya Loh.
Untuk yang Kesulitan Daftar bisa Hub Admin di WA untuk di bantu Daftar.
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part