web hit counter

Merindukan Kesederhanaan Part 36

0
325

Merindukan Kesederhanaan Part 36

Kenapa?

“Jadi gimana? Beneran yakin mau pulang malam ini juga? Ga besok aja?” tanya ku pada Diah.

Diah mengangguk lalu menggeleng. Ya, Diah memang berencana untuk pulang malam ini juga. Katanya, bapak nya harus segera dimakam kan, dalam artian besok, jadi dia harus pulang malam ini karena dia ingin melihat jenazah bapaknya untuk yang terakhir kalinya sebelum dimakamkan.

“Iya, yakin,” jawabnya dengan pelan.

Meski kondisi jiwanya sudah agak membaik, namun aku tau dan bisa merasakan bahwa tubuhnya sangat lemas dan tidak bertenaga. Wajahnya agak pucat walaupun dia sudah berusaha untuk menutupinya. Aku menghela nafas melihat nasib yang dialaminya. Seandainya Ayu tidak sedang dalam hamil, mungkin aku akan mengantarnya pulang ke jawa. Tapi untuk sekarang ini jelas tidak mungkin aku menggantarnya, apalagi umur kehamilan Ayu yang sudah tinggal menunggu hari saja menuju ke persalinan.

“Mas, kamu anterin Diah ke stasiun ya!” ucap Ayu tiba-tiba. Aku mengangguk. Sepertinya Ayu juga merasakan kekhawatiran ku kepada Diah. Dan dia mengerti serta tidak marah.

“Nda usah mba, aku bisa sendiri kok,” balas Diah mencoba menolak dengan halus.

“Ga boleh!! Pokoknya dianterin mas Ian. Ntar kalau kamu kenapa-napa di jalan gimana? Terus kalau tiket kereta nya ga dapet gimana juga? Mau tidur dimana? Kalau udah dapet kereta baru aku bisa tenang. Dan besok, minta jemput aja di jogja, yah?” ucap Ayu lagi berusaha membujuk Diah.

“Eh, ehmm…” Diah nampak kebingungan.

“Aku antar ke stasiun,” potong ku. “Tunggu sebentar, aku ambil jaket dulu,” lanjut ku.

“I-iya, terima kasih Ian, mba Ayu, maaf merepotkan,” balas Diah yang ternyata matanya kembali berkaca-kaca. Mungkin terharu dengan niat baik ku dan Ayu. Aku pun lalu masuk ke dalam untuk mengganti celana dengan celana panjang dan mengambil jaket.

“Sstthh…apaan sih? Kamu itu sudah aku anggep seperti sodara sendiri. Setelah ini aku mau kita tetep saling berkomunikasi yaah, jangan putus silaturahmi, ya sayang…” samar-samar aku mendengar suara Ayu dari dalam. Aku sebenarnya heran dengan sikap baik Ayu pada Diah. Tapi apapun itu, aku ikut senang melihatnya. Tidak berselang lama kemudian aku keluar.

“Yuk jalan, keburu malam. Mudah-mudahan masih ada kereta dan bangku yang kosong,” ajak ku pada Diah sambil melihat jam yang ternyata sudah jam delapan malam.

“I-iya.”

“Kamu ndak apa-apa kan aku tinggal bentar?” tanya ku kepada Ayu untuk memastikan.

“Ga apa-apa mas, nanti aku bisa minta temenin mba Yani. Pokoknya sekarang anterin dulu Diah ke setasiun dan pastiin Diah aman sampe naik kereta,” ucap Ayu dengan tatapan yang syarat akan makna. Istri yang aneh pikir ku.

“Iyaaa, aku jalan dulu ya,” ucap ku sambil menghampirinya.

“Iya mas,” balasnya.

Cupp!

Aku mengecup keningnya dengan hangat. Ayu tersenyum. Dan lagi-lagi, meskipun hanya dari ekor mata ku, aku melihat Diah langsung membuang muka.

“Iiih, genit deh kamu! Malu tuh sama Diah, hihihi,” ledek Ayu. Aku hanya tersenyum mendengar ledekannya.

“Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku ya,” pesan ku. Kami bertiga sudah berada di depan kontrakan. Ayu mengantar kami hingga depan pintu.

“Iya mas, mas tenang aja ndak perlu khawatir. Seharusnya sih kamu lebih khawatir sama Diah. Pulang besok aja sih! Naik pesawat…” ucap Ayu masih mencoba membujuk Diah.

“Hehehe, aku ndak apa-apa kok mba. Insyaallah. Makasih udah baik sama aku,” balas dari Diah.

Mereka berdua lantas berpamitan, dan di akhiri dengan sebuah pelukan dan saling mencium pipi kanan dan kiri. Hangat. Ya. Hangat sekali melihat keakraban mereka berdua. Setelah itu aku menyalami Ayu dan dia mencium tangan ku. Dan aku pun berangkat mengantar Diah menuju setasiun Senen menggunakan motor ku.

“Sudah lama sekali ya?” tanya ku iseng pada Diah saat kami berhenti di sebuah lampu merah.

“Eh, apanya yang lama Ian?”

“Kita, naik motor berdua seperti ini,” jawab ku. Entah kenapa aku tidak bisa menahan mulut ku untuk tidak menanyakan hal sensitif seperti ini, yang mungkin justru akan membangkitkan memori indah atau pahit di masa lalu kami.

“Eh, i-iya. Lama banget. Terkahir kali kalau tidak salah…”

“Saat aku jemput kamu di jogja dan kita mampir di alkid itu kayanya,” potong ku.

“Kamu masih ingat?”

“Sejujurnya aku ndak pernah bisa melupakannya.”

“Indah banget ya waktu itu?” tanya Diah.

“Iya, sayangnya…”

“Iya aku tau. Ya sudah lah, ndak usah di bahas lagi yang itu. Ndak ada gunanya juga. Semuanya sudah berubah. Tuh udah hijau lampunya, ayo jalan keburu malam. Aku ndak enak sama mba Ayu,” ucap Diah sambil menepuk pundak ku. Aku lantas melajukan motor ku kembali.

“Kamu tau dari mana tempat tinggal ku dan Ayu?” tanya ku pada Diah.

Sekarang kami berdua duduk di emperan stasiun dekat pintu masuk. Tiket sudah di tangan. Untungnya masih ada kursi kosong di jadwal kereta malam ini. Mungkin karena bukan musim liburan atau lebaran, jadi penumpangnya tidak terlalu banyak. Meskipun suasana stasiun saat ini tetap ramai. Sekarang sudah jam sembilan lewat. Sedangkan jadwal keberangkatan kereta nya masih jam setengah sebelas. Masih satu setengah jam. Aku bermaksud menemani nya sebentar sebelum balik ke kontrakan.

“Kamu nda langsung balik aja? Nanti mba Ayu nungguin,” balasnya malah ganti bertanya dengan tidak enak. Mengusir secara halus mungkin lebih tepatnya. Terlihat sekali ketidak nyamanan nya. Sebagai sesama perempuan, tentu saja dia sangat khwatir dengan Ayu yang sedang hamil tua.

“Aku ingin menemani mu di sini dulu barang lima menit aja, ndak apa-apa kan?” tanya ku.

“Untuk apa?”

“Ya itu tadi, aku pengen tau kamu bisa tau alamat kontrakan ku dari mana? Ya lagi pula ngobrol lima menit aja menurut ku ndak jadi masalah.”

“Hhgghh…” Diah menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan ku barusan. Duduknya membungkuk dan memeluk lututnya sendiri.

“Aku tau dari Binar.”

“Binar?”

“Iya.”

“Berarti dia tau maksud kedatangan mu kemari?” tanya ku kaget.

“Tau. Tapi kamu tenang aja, aku udah memintanya untuk tidak menceritakan pokok permasalahannya ke siapapun, terutama keluarga mu, agar nantinya tidak menjadi masalah di kemudian hari, dia setuju dan mau mengerti.”

“Oh, syukurlah. Sama seperti kamu, aku juga khawatir masalah ini nantinya terdengar keluarga ku atau yang lain. Aku juga tidak mau ada masalah lagi di kemudian hari. Cukup sampai di sini saja masalah yang ada. Cukup hanya kita berdua saja yang merasakannya. Jangan sampai ada dendam di antara keluarga kita.”

“Iya. Makasih, makasih kamu sudah mau maafin dosa-dosa bapak.”

“Tapi aku tidak mau hubungan kita…”

“Kalau itu aku ndak tau,” potong nya.

“Eh anu, maksud ku aku tidak mau tali silaturahmi di antara kita terputus di sini. Meskipun kita…” aku tidak berani meneruskan kalimat ku. “Kamu tau kan maksud ku, tapi aku berharap kita masih bisa saling berkomunikasi.”

“Insyaallah, tapi kalau aku tergantung mba Ayu sih, asal dia tidak masalah aja. Bagaimanapun juga sekarang dia adalah istri mu, dan kamu harus lebih berat ke dia dibanding dengan siapapun.”

“Iya, aku mengerti. Yah, jalanin sajalah ya sekarang,” lanjut ku. Diah mengangguk pelan.

Beberapa saat kemudian hening. Tidak ada suara diantara aku dan dia. Meskipun suasana stasiun masih cukup ramai, namun diam nya kami membuat suasana menjadi terasa sunyi. Diah duduk menunduk dan termenung. Aku tidak bisa melihat ekspresi wajahnya seperti apa. Kasihan sekali anak ini.

“Ian,” panggilnya.

“Ya?”

“Sekali lagi aku makasih banget kamu udah ikhlas,” ucapnya kembali berterima kasih.

“Sudah lah, yang itu ndak perlu di bahas lagi. Ndak perlu kamu mikirin itu lagi. Semuanya sudah berlalu juga kok,” balas ku meyakinkannya.

“Iya, makasih.”

“Aku juga turut berduka atas kepergian bapak mu, semoga beliau tenang di alam sana.”

“Aamiin, makasih.”

“Ya udah kalau gitu, aku pulang sekarang ya. Bisa masuk sendiri kan?” tanya ku mencoba bercanda. Diah hanya mengangguk namun tidak ada senyuman balasan dari nya. Kami lalu sama-sama berdiri.

“Besok kamu di jemput kan di Jogja?”

“Iya.”

“Sama?”

“Sepupu aku.”

“Oh, sip lah. Kabarin ya kalau sudah sampai.”

“Iya.”

“Jangan bengong ya nanti pas di kereta, kalau ada yang nawarin macem-macem jangan mau. Kalau maksa laporin aja ke petugasnya.” pesan ku lagi dengan khawatir. Iya aku khawatir kepada nya. Banget. Hatinya sedang rapuh. Dan dia harus pulang sendiri. Dan entah kenapa air mata ku malah mengalir. Aku berdiri mematung tepat di depannya. Kepala ku sedikit menunduk dan buliran air mata ku jatuh berhamburan ke bawah. Dia adalah Diah, wanita yang paling aku sayangi, cinta monyet ku, cinta pertama ku. Tapi aku tidak bisa menjaganya.

“Iya IAAANNN, kalau kamu ngomong terus kapan kamu pulang nya? Aku juga ndak masuk-masuk nanti…” jawabnya gemas. Tangannya mengepal dengan kuat. Aku tidak berani menatap wajahnya.

“Hehe, iya ya?” aku tersenyum dengan bodohnya sambil mengusap air mata ku yang masih terus mengalir. Diah ikut tersenyum meskipun malu-malu dan dipaksakan. Namun kemudian aku melihat dua titik bening air mata mengalir dari matanya. Merembes turun ke pipinya. Kami sama-sama menangis.

“Di? Kamu nangis lagi?”

“Kamu juga nangis kan? Udah cepet pulang napa siih!! Istri mu udah nungguin tuh. Hiks…” bentaknya yang membuat ku kaget.

“Tapi aku tidak bisa kalau lihat kamu nangis.”

“PULAAANG!!!” balas Diah dengan suara semakin keras. Beberapa pasang mata di sekitar kami bahkan sampai menoleh ke arah kami. Baiklah. Mungkin aku memang sudah seharusnya aku pulang.

“Iya,” balas ku pelan.

Dan aku pun melangkah mundur beberapa langkah. Masih tetap menatapnya dan memberinya sebuah senyuman meskipun mungkin mata ku sendiri juga sudah sangat merah. Dia membalas senyuman ku meskipun air mata nya juga masih mengalir membasahi pipi nya.

“Beneran pulang ya?” ucap ku lagi memastikan.

Tidak ada respon. Diah masih menangis sesenggukan meskipun pelan. Entah kenapa aku merasakan ada sesuatu yang lain ada di antara kami. Dia memang hanya berjarak tiga langkah di depan ku. Tapi aku merasakan ada sebuah dinding pembatas besar dan kokoh yang menghalangi kami berdua. Dinding pembatas yang membuat kami tidak bisa saling memiliki.

Braak!

Tiba-tiba Diah menjatuhkan tas nya yang sempat diangkatnya tadi. Dia menatap ku dengan tatapan sayu. Ada jeda beberapa detik sebelum kemudian Diah berlari ke arah ku dan…

Bhuuggh!

Diah memeluk ku dengan sangat erat. Erat sekali. Pelukan paling erat yang pernah aku rasakan. Kepalanya mendarat di bahu kanan ku. Tangisnya masih belum berhenti. Malah semakin kuat.

“Kenapa Ian, kenapa?” tanya nya tiba-tiba. Aku mengernyitkan dahi. Jujur aku bingung denggan maksud pertanyaannya. Apanya yang kenapa?

“Jawab Ian! Kenapa?”

“Apanya yang kenapa Di?”

“Hiks…hiks…” Diah malah semakin kuat menangis nya dan jujur aku semakin bingung dengan situasi ini. Beberapa orang yang berjalan di sekitar kami pun ikut menatap ke arah kami dengan heran. Mungkin pikir mereka kami ini pasangan yang sudah lama tidak bertemu. Atau malah yang konyolnya mungkin mengira kami sedang bermain drama. Entahlah. Aku sekarang hanya fokus pada Diah yang tak kunjung berhenti tangisnya. Dan bagaimana menghentikannya?

“Di? Diah? Tenang dulu ya, tenang…kenapa kamu nangis lagi? Cerita ke aku ya. Siapa tau aku bisa ngeringaninnya. Jangan bikin aku ga tega buat niggalin kamu.” ucap ku dengan sedih. Aku mencoba menenangkannya dengan mengusap-usap punggungnya.

“Kenapa Ian? Hiks…hiks…” ulangnya lagi bertanya kenapa. Dan aku masih belum paham apa maksudnya.

“Kenapa apanya? Jelasin dulu ke aku…”

“Kenapa? Kenapa aku harus di jodohin? Kenapa bapak meninggal dengan kondisi seperti ini? Dan… kenapa kamu harus… kenapa kamu menikah dengan wanita lain? Kenapa Ian? Hiks…Kenapa? Hiks…Diah salah apa Ian? Kenapa jadi begini? Kenapa Tuhan menakdirkan semua ini untuk Diah? Kenapa harus Diah Ian? Hiks…Di-diaaah, Diah ga sanggup, Di-diaaah…”

Apa yang aku takut kan sebelumnya ternyata benar adanya. Diah menyesalkan perjodohannya, meskipun berusaha sekuat tenaga menerimanya dengan ikhlas. Diah menyesalkan kematian bapak nya yang…sedih untuk membahasnya. Dan terakhir, Diah menyesalkan pernikahan ku dengan Ayu. Yang ini kalau boleh memelih, tentu aku tidak akan menikah dengan Ayu bila kamu tidak menikah dengan pria lain. Maafkan aku. Aku benar-benar tidak mengharapkan ini semua seandainya kamu dulu tidak…tapi ya sudahlah. Aku sudah memiliki Ayu. Tapi aku janji, aku akan selalu ada untuk mu, meskipun dengan cara yang lain. Aku berjanji dalam hati. Seandainya kamu juga tahu apa yang aku alami, kalau boleh memilih aku juga tidak mau menerima takdir seperti ini.

“Sstthh… udah jangan nangis, masih ada aku kok. Ya meskipun sekarang kondisinya sudah berubah, tapi percayalah, aku akan selalu ada untuk mu.”

Aku berusaha menenangkannya. Meskipun dalam hati aku juga merasakan sedih yang amat mendalam. Namun Diah masih terus menangis dan membenamkan kepalanya di dada ku. Entah sudah berapa banyak air mata yang dia tumpahkan malam ini. Air mata yang harus dia tumpahkan karena menghadapi kenyataan bahwa, pernikahannya gagal, bapak nya yang harus menderita dulu sebelum menemui ajalnya. Dan mendapati fakta, aku sudah menjadi suami perempuan lain.

“Diah, beneran kamu bisa pulang sendiri? Kamu yakin? Kalau ga balik besok saja lah, naik pesawat yang paling pagi” ucap ku lagi.

“Tidak. Diah kuat Ian, Diah ndak apa-apa. Kamu harus pulang, mba Ayu pasti sudah menunggu mu. Di-diah hanya ingin dipeluk seperti dulu sebentar saja. Diah… Diaah… kangen kamu. Diah…hiks…hiks…maaf…”

“Iya, aku ngerti. Aku ngerti apa yang kamu rasakan. Karena mungkin apa yang kamu rasakan sekarang aku juga merasakannya. Jujur, aku masih sangat menginginkan mu, tapi kamu tau kondisi ku, aku harap kamu juga bisa mengerti. Yang perlu kamu tau, apa yang ada di dalam hati ini akan selalu sama dari dulu, hingga sekarang, dan untuk selamanya. Akan selalu ada tempat untuk kamu di hati ku Di.”

“Iya, Diah percaya, hiks… Diah hanya sedih dengan…”

“Sstthh…tidak boleh mengeluh ya. Kamu harus kuat. Kamu harus sabar. Apa yang sudah Tuhan takdir kan ini adalah yang terbaik. Percayalah. Kita tidak akan mendapatkan pelajaran yang berharga seperti ini jika ini semua tidak terjadi. Kita semua memang memiliki keinginan, tapi tetap tidak akan mungkin bisa melawan takdirnya. Yang bisa kita lakukan hanyalah menjalaninya dengan sabar, dan ikhlas. Insyaallah yang indah akan datang pada waktunya.”

Diah hanya mengangguk mendengar penjelasan ku.

“Dan kita tidak akan tau kedepannya bagaimana. Yang penting malam ini kamu hati-hati ya di jalan. Dan jangan bengong yah, fokus.”

“Iya, makasih.” Diah lalu melepaskan pelukannya, dan sekarang aku menggenggam tangannya mencoba memberikan kekuatan sebelum melepas nya untuk kembali ke Jogja.

Pada akhirnya hanya itu yang bisa aku berikan kepada Diah. Hanya semangat dan dorongan yang bisa aku berikan. Tidak mungkin sekarang aku memberinya harapan lebih meskipun Ayu sudah memberikan lampu hijau. Aku tidak mau. Dan Diah juga belum tentu mau menerima status ku sekarang. Entahlah. Aku tidak mau memikirkan itu terlalu jauh. Kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi.

Karena khawatir dengan Ayu, aku terpaksa meninggalkan Diah sendiri di stasiun ini. Jadwal keberangkatannya masih satu jam lagi. Semoga saja dia tidak kenapa-kenapa selama di perjalanan nanti. Bagaimanapun juga jiwa nya sedang terguncang. Akan sangat rawan sebenarnya bila dia harus pulang sendiri. Tapi mau bagaimana lagi?

Tadi aku sempat menanyainya kenapa datang kesini tidak mengajak saudaranya, katanya dia ingin menyelesaikan ini sendiri. Antara dia dengan ku. Aku tau Diah memang cukup keras orangnya, kecuali yang berhubungan dengan bapaknya, jadi untuk urusan seperti ini bila dia berkata ‘sendiri’ maka dia akan berangkat sendiri.

Akhirnya, aku pun pulang meninggalkan Diah sendiri dengan segala beban dan kesedihannya. Berat. Benar-benar berat. Tapi aku tidak punya pilihan. Aku harus pulang. Dan sekarang aku sudah sampai di tempat parkiran motor. Dan saat aku baru mau menyalakan motor ku, tiba-tiba HP Ku berbunyi.

Mas Arman? Oiya mas Arman ini adalah suami dari mba Yani, tetangga kontrakan kami. Orang yang di dimaksud oleh Ayu yang bisa dimintainya untuk menemaninya selagi aku pergi mengantar Diah. Ada apa ya?

“Halo, ya mas? Kenapa?”

“Apa? Oh, i-iya aku segera kesana. Terima kasih mas.”

[Bersambung]

Hallo Bosku, Disini Admin KisahMalah
Agar Admin Semakin Semangat Update Cerita Cerita Seru Seterusnya, Bantu Klik Iklan yang Ngambang ya.
Atau Gambar Dibawah INI

Atau Bagi Kamu yang suka bermain game Poker Online atau Gambling Online lainnya, bisa di coba daftarkan ya. Banyak Bonus dan Hadiahnya Loh.
Untuk yang Kesulitan Daftar bisa Hub Admin di WA untuk di bantu Daftar.
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part