web hit counter

Merindukan Kesederhanaan Part 42

0
345

Merindukan Kesederhanaan Part 42

Yang Ku Mau

“Mas Iaaan…” sebuah teriakan keras melengking bergema ke seluruh penjuru lobi perkantoran ini. Hari ini hari pertama ku masuk kerja setelah menikah. Aku menoleh kebelakang, ke arah datangnya suara itu. Dan hampir semua mata yang ada di area lobi ini juga memandang ke arah suara itu. Suara yang di hasilkan dari sebuah pita suara seorang wanita yang aku kenal. Farah. Sebenarnya malu rasanya nama ku di teriakkan dalam ruang terbuka seperti ini. Ini anak bisanya bikin heboh saja pikir ku. Aku tersenyum dengan garingnya saat wanita bertubuh sintal itu berlari dengan imutnya ke arah ku. Meskipun agak kerepotan karena dia menggunakan heels. Satu hal yang ada di pikiran ku saat ini. Aku salah fokus pada gundukan yang ada di dada nya yang ikut berguncang naik turun mengikuti irama larinya. Luar biasa.

“Mas Iaaan, selamat yaaa, ya ampun pengantin baru…” sapanya lagi dengan suara yang masih cukup keras meskipun tidak sekeras sebelumnya. Ini anak sarapannya pertamax turbo kali ya, tarikan nya kenceng bener. Kalau di ranjang rasanya gimana ya? Hahaha.

“Sstt…iya-iyaaa, pelan-pelan aja…”

“Hihihi, maaf-maaf…”

Bruugghh…

Henggghhh…

Sekonyong-konyong Farah menubruk ku dan memeluk ku dengan sangat erat. Untuk beberapa saat aku tidak bisa bernafas. Sesak. Sesak banget. Rasanya seperti ada beban yang berat, sangat berat bahkan, yang menimpa dada ku. Meskipun beban itu terasa kenyal. Terasa sekali kekenyalan bulatan di dada nya itu.

“Selamat ya mas…semoga pernikahannya langgeng, awet sampe kakek-kakek dan nenek-nenek…”

“Iya-iyaaa, tapi ya ga perlu sampai heboh kaya gini juga, itu semua orang pada ngelihatin…”

“Bomat, ngiri kali, hihihi.”

“Ngiri kenapa?”

“Hehehe, enggaaak…lupakan. Eh gimana-gimana? Ceritain dong gimana pernikahannya kemarin…”

“Apanya yang mau diceritain? Kan tau sendiri ga ada resepsi, ga ada pesta, akhad doang.”

“Ya mungkin malam pertamanya mungkin, hahaha.”

“Heeeh, mulai deeeh…”

“Hehehe, malam pertama tapi bukan yang pertama…hihihi…”

“Hahaha. Berarti bukan malam pertama dong. Apa ya namanya? Ya udah lah entar juga ngerasain kamu.”

“Udah ngerasain kok, hihihi.”

“Waaah, nakal ya ternyata.”

“Enggak nakal kok mas kalau enggak ketahuan papa mama, hehehe.”

“Hadeh. Sak karep mu wae lah!!”

“Hahaha, apa tuh artinya?”

“Ah enggak, lupakan.”

“Diiih…”

“Hahaha. Ya udah yuk naik…udah mau jam delapan nih…”

“Hahaha…tapi entar diceritain ya…” kami berdua mulai jalan menuju lift.

“Kok maksa sih?”

“Pokoknya cerita.”

“Ntar pengen lho…”

“Kan ada mas Ian…hahaha”

“Kok aku?”

“Ya mas tanggung jawab lah.”

“Emang nya kamu hamil?”

“Enggak sih, pakai pengaman terus soalnya selama ini.”

“Ampuuun…”

“Hihihi…”

Aku hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapannya yang seperti tidak ada batas penutup. Cenderung fulgar. Kenapa dia jadi seterbuka ini ya? Bahkan untuk urusan yang sangat pribadi seperti ini. Mungkin tadi saat lari ada urat saraf di dadanya yang ketarik, atau mungkin karena terlalu berat beban di dadanya yang dia sangga, hingga akhirnya jadi konslet dan berpengaruh ke otaknya. Mungkin. Masuk akal. Bisa jadi. Gede banget soalnya.

Kami mengantri lift bersama pegawai lain yang bukan satu kantor dengan ku. Cukup banyak. Tapi tidak ada yang ku kenal. Tidak lama kemudian lift terbuka, aku dan Farah lalu masuk ke dalam dengan beberapa karyawan lain yang tidak aku kenal tadi. Karena tadi aku dan Farah berada di antrian paling depan, sekarang posisi ku dan Farah di pojokan bagian dalam lift. Aku di pojok, dan dia di depan ku.

Karena saking banyaknya yang antri, dan hampir semua masuk kedalam, lift ini menjadi sangat penuh dan sesak. Hingga indikator beban menunjukkan kalau kapasitas atau muatan dalam lift ini sudah overload. Mau tidak mau beberapa orang yang posisinya di paling depan, atau yang dengan kata lain paling akhir masuk, harus merelakan diri dan berbesar hati untuk keluar dari lift lagi. Mukanya nampak kesal, tapi ya mau gimana lagi. Sedangkan beberapa orang lainnya yang masih berada di dalam lift yang mungkin teman dari mereka malah meledeki teman-temannya itu. Rame.

Tapi aku sendiri di belakang sini hanya diam saja. Hanya tersenyum kecil melihat muka lucu orang yang keluar tadi karena kesal. Aku justru fokus pada sesuatu yang ada di depan ku ini. Salah. Sesuatu yang membulat yang tepat berada di depan selangkangan ku. Bokong Farah.

Aku bukan fokus menikmatinya. Aku justru fokus membuang pikiran kotor ku jauh-jauh agar yang ada di bawah sana tidak berontak karena ada pantat semok yang membulat di depan nya. Hampir nempel lagi. Aaahhh. Percayalah, ini adalah ujian terberat dalam hidup bagi seorang laki-laki. Setidaknya itu menurut ku sih, menahan sesuatu yang secara naluriah bereaksi dengan sendirinya.

Lift pun tertutup. Meskipun tadi sudah ada beberapa orang yang keluar, lift ini masih terasa penuh. Beberapa orang yang berada di dekat pintu semakin merapat ke dalam, imbasnya Farah semakin merapatkan tubuhnya kepada ku. Dan sudah bisa ditebak, pantatnya yang bulat dan kencang itu menempel dengan erat di selangkangan ku.

Aku sudah berusaha menghindarinya dengan sedikit mundur kebelakang. Bagaimanapun juga aku tidak mau di cap sebagai pria brengsek yang suka mencari kesempatan dalam kesempitan. Tapi entah kenapa aku juga merasa Farah malah ikut memundurkan pantatnya. Dari sudut pandang ku sekarang aku bisa melihat betapa tebal daging di bokongnya itu. Membentuk lengkungan indah yang menonjol kebelakang yang pasti akan sangat menggemaskan bila di remas. Belum lagi pinggulnya yang cukup lebar, membentuk lengkungan indah meskipun pingganya tidak terlalu ramping karena badannya memang bongsor. Ah, seketika penis ku menegang. Aku yakin dengan seyakin-yakinnya Farah bisa merasakan tonjolan di selangkangan ku itu yang sudah menekan pantatnya yang terbungkus rok span ketat itu.

Khawatir? Iya. Khawatir Farah tiba-tiba berbalik dan menampar ku karena tuduhan melakukan pelecehan seksual. Hahaha, agak lebay sih dan menurut ku kecil kemungkinannya. Aku rasa Farah tidak cukup bodoh untuk melakukan hal itu. Aku hanya takut image ku di matanya berubah jadi jelek. Itu saja.

Masih terpukau dengan situasi dan kondisi yang aku alami sekarang ini, aku justru dibuat semakin tak berkutik ketika pantat semok itu semakin mendesak kebelakang. Secara reflek tangan ku mendarat di pinggangnya untuk menahan pantat seksi itu agar tidak semakin mendesak kebelakang. Berhasil sih. Tapi yang tidak aku sangka sebelumnya, saat aku hendak menarik tangan ku, Farah justru menahannya sehingga kalau diperhatikan posisi ku sekarang justru memeluknya dari belakang dengan tonjolan di selangkangan ku yang menempel erat di pantatnya. Farah sedikit menoleh ke samping, tepatnya ke arah sisi yang berhadapan langsung dengan dinding lift sebelah kirinya, dan aku bisa melihat seutas senyum yang terpantul dari sana. Sempurna.

~•~•~•~

“Nakal!!!”

Sebuah pesan wasap masuk. Farah. Ah ini pasti ngebahas kejadian di lift tadi. Kenapa juga aku yang di dibilang nakal. Kan dia yang justru nempel-nempelin pantat bahenolnya itu. Dan juga kan karena sikon, bukan karena kesengajaan. Liftnya penuh sesak.

“Apaan??” balas ku pura-pura tidak paham paham.

“Itu tadi di lift!!”

“Kan kamu yang mepet…”

“Dasar pria. Sudah berbuat ga mau tanggung jawab. Malah mengelak. Cari alasan!! :'(”

Emot nangis? Hahaha. Asli lebay banget ini anak. Malah jadi pengen ketawa. Hahaha.

“Absurd ah! Jangan wasap yang macem-macem, ntar ketauan calonnya malah jadi ribet…”

“Tapi mas tetep harus tanggung jawab!!”

“Tanggung jawab apa?”

“Traktir makan siaaang, hihihi ”

“Udah firasat bakalan ke sana arahnya.”

“Hihihi”

“Ya udah ntar siang lah. Kebetulan aku ga bawa bekel.”

“Horeee…”

Wasap terakhir dari Farah. Itu anak ada-ada aja. Tapi lucu sih. Satu hal yang aku rasakan terhadapnya adalah, kedekatan kami terlalu cepat. Mirip dengan aku dan Ayu dulu. Bedanya sekarang aku tau batas-batas yang ada antara aku dan Farah. Selain itu, sekarang sudah ada Diah. Dan Farah dengan calonnya, yang sampai saat ini aku belum tau seperti apa orangnya.

Farah akan menikah akhir tahun ini, yang artinya tidak sampai dua bulan lagi. Dan itu artinya kedepannya komunikasi ku dengannya mungkin akan berkurang. Wajar lah. Dia sudah pasti dan seharusnya lebih memprioritaskan suaminya.

Bukan apa-apa sih, semakin kesini sebenarnya aku semakin merasa sifat nya gabungan antara dua orang, Gita dan Kiki. Kalau udah manja dan maksa, sebelas dua belas lah sama Gita. Tapi, di satu sisi yang lain dia juga bisa dewasa sedewasa Kiki.

Masih inget banget aku Farah lah orang yang terakhir dan yang paling membuat ku yakin bahwa aku harus memilih Diah. Dan ternyata pilihan itu benar. Dan itulah yang aku ingin kan. Tidak perduli seperti apa status Diah saat ini. Tidak perduli seberapa banyak kekurangan yang Diah miliki. Yang aku mau hanyalah Diah. Yang membangunkan ku di saat pagi menjelang. Yang menyiapkan makan ku. Dan yang menyambut ku disaat aku pulang dari menjemput rezeki. Sempurna.

Apalagi sekarang kami sudah memiliki buah hati masing-masing. Tapi kami sepakat untuk tidak membeda-bedakan keduanya. Kayla anak ku juga, begitu juga Adipati, anak Diah juga. Meski begitu kami juga tidak menutup kemungkinan untuk memiliki keturunan lagi. Anak ku dan Diah. Ya selama Tuhan memberi kepercayaan, tentu kami akan sangat bahagia.

Aku dan Diah, beserta Kayla dan Adipati sekarang tinggal di sebuah rumah sederhana di daerah Depok. Karena sudah tidak mau lagi tinggal di rumah lamanya, yang merupakan warisan yang di dapatnya, Diah menjual rumah itu. Uang hasil penjualan itu kami gunakan untuk membeli rumah di sini. Tentu dengan sistem KPR. Uang itu kami gunakan sebagai DP. Harga jual rumah di kampung tentu tidak sebanding harga beli rumah di pinggiran kota jakarta ini. Yang meskipun dengan tipe sederhana, harganya sudah selangit. Untuk ukuran kami maksudnya.

~•~•~•~

“Ayuuuk!! Aku tunggu di tempat biasa.”

Tepat jam dua belas siang pesan wasap itu masuk ke hp ku. Dari Farah. Karena insiden tadi pagi, yang sebetulnya aku tidak salah apa-apa, atau lebih tepatnya hanyalah bagian dari konspirasi para wanita, karena jika ditelisik lebih dalam sebenarnya aku ini hanyalah seorang korban, tapi justru aku yang harus mempertanggung jawabkan semuanya. Kadang disitu aku merasa tidak adanya keadilan di dunia ini. Khususnya bagi seorang pria. Hahaha. Bukan lebay, tapi aku merasa keadilan hanya untuk para wanita yang menuntut kesetaraan gender tapi mereka sendiri tidak mensyukuri kodrat yang di anugerahkan Tuhan kepada mereka. Ah sudah lah. Semakin panjang semakin ga jelas.

Aku lalu keluar ruangan dan turun ke basement, dimana terletak kantin sejuta umat, khususnya kami para staff yang daya beli nya ya hanya di kantin sederhana semacam ini. Berbeda dengan para Manager, atau Direksi, yang pastinya berbeda kelas. Ya tetap harus bersyukur lah. Bukan kah esensi utama dari makan adalah menghilangkan rasa lapar? Asal makanannya sehat, bersih, mengenyangkan, kurang apa lagi?

Saat tiba di kantin, ternyata memang sudah ada Farah yang sudah menunggu ku. Dengan senyum-senyum ga jelas khas nya. Aku lihat di mejanya sudah ada makanan, maka aku berinisiatif untuk langsung memesan makanan.

“Seger bener dah ah yang udah kewong lagi,” ucapnya begitu aku duduk di depannya.

“Nikah.”

“Tapi kawin juga kan? Hahaha.”

“Yah itu sih bumbu pernikahan aja kalau menurut ku.”

“Masakan kali di bumbuin,”

“Hahaha, apaan sih? Udah kebelet ya? Ngobrolnya seleng…eh hehehe.”

“Seleng apa? Hayooo…”

“Hehehe…”

“Mas tuh yang mikirnya ke selengkangan mulu…”

“Aku mah udah nikah, bebas…”

“Asal selengkangan istri sendiri loh ya, bukan selengkangan wanita lain.”

“Hahaha…”

“Malah ketawa…”

“Jadi inget tadi pagi, iseng banget sih. Maksud nya apa coba?”

“Tadi pagi kenapa?”

“Di lift, kamu nempelin bokong kamu ke selangkangan ku. Hadeh.”

“Ngetes aja.”

“Apanya yang di tes?”

“Kon…eh…opss…hehehe…”

“Ssttthhh…pelan-pelan…kalau kedengeran orang berabe…”

“Hehehe, maap…hihihi.”

“Jadi tadi itu ngetes apa?”

“Ya ngetes itu…”

“Maksudnya?”

“Iiihh…Ngetes itunya berdiri apa engga kalau di gesekin, hehehe. Eh berdiri, hahaha. Payah.”

“Kok payah? Lagi iseng banget sih? Ngapain coba?”

“Iseng aja, spontanitas. Iya payah, masa gitu aja udah sange.”

“Aku ga sange ya, cuma berdiri aja. Dan itu wajar.”

“Berdiri aja karena banyak orang kan. Coba kalau berdua aja. Ga yakin deh mas Ian bisa nahan, hihihi.”

“Kalau berdua doang ga mungkin kamu ngelakuin hal itu. Dan aku yakin bisa nahan.”

“Kenapa ga mungkin? Mau di coba?”

“Enggak enggak. Kaya ga ada kerjaan aja!”

“Takut kan!!”

“Enggak takut, cuma enggak mau.”

“Takut!!”

“Hahaha ngeyel ya.”

“No bukti, HOAX!!”

“Terserah.”

“Sewot.”

“Kamu yang mulai. Membahas sesuatu yang ga penting.”

“Yang penting itu, contohnya seperti apa?”

“Ya selain hal itu.”

“Apaaa?”

“Hmmm…apa aja.”

“Hmmm…Malam pertama dengan mba Diah?”

“Lebih ga penting lagi kalau itu!”

“Yakin itu ga penting?”

“Malam pertamanya penting, tapi ga penting untuk di bahas!”

“Hahaha, bener juga ya.”

“Udah lah, bahas yang lain aja.”

“Emhh…kapan itu nya mau di tes lagi? Hahaha…”

“Ga akan pernah. Tes aja itu milik calonnya.”

“Hahaha, kalau yang itu sih ga perlu di tes, udah terbukti. Makanya pengen nyoba ngetes yang lain.”

“Sarap!”

“Emang. Hahaha.”

“Udah sih ah.”

“Apanya?”

“Ngobrol mesum nya.”

“Maunya mesum beneran ya? Hihihi”

“Cari hotel aja yuk ah. Dari pada ngobrol ga jelas gini.” Canda ku dengan agak sewot. Tapi aku sendiri ga tau ajakan ku ini dia anggap serius atau bercanda.

“Kan…kan…beneran…yang shorttime deket sini ada ga ya? Hihihi…”

“Aaauuu…”

“Hahaha. Seneng deh ngeledekin mas Ian gini.”

“Kamu seneng, aku darah tinggi.”

“Tapi kan ntar ada mba Diah yang meredakannya, hehehe.”

“Nah kan, jadinya kamu kan yang tidak bertanggung jawab.”

“Emang mas mau aku redakan ketegangan yang tadi pagi?” tanya nya sambil menggerakkan alisnya.

“Ga habis-habis kalau ngobrol sama kamu soal itu mah…”

“Hehehe, Farah gitu lho.”

“Hmm…oiya kapan aku mau dikenalin sama calonnya?”

“Orangnya pemalu mas. Kalau aku ajakin jalan trus tau mau dikenalin sama orang gitu pasti nolak.”

“Lah, gitu amat.”

“Iyaaa, beda banget deh sama aku. Ga tau dulu kenapa kita bisa jadian, hehehe,” balas Farah sambil tersenyum dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

“Aku dulu sama Gita juga gitu, eh, ehmm…”

“Apa mas? Gita?”

“Enggak…”

“Iya aku denger jelas banget tadi nyebut Gita. Masih kepikiran ya mas? Hihihi.”

“Hhhh…ga tau deh. Iya kali ya. Aku bingung.”

“Kenapa?”

“Ga tau, bingung aja. Jujur aku bahagia dengan Diah. Bahagia banget. Tapi setelah tau semua tentang Gita, ya gitu deh, kadang jadi suka kepikiran.”

“Hmmm…gitu ya?” balasnya sambil memonyongkan bibirnya entah karena apa.

“Kenapa?”

“Ga apa-apa, jadi ga enak aja. Kan dulu aku yang nyaranin mas untuk nikah sama mba Diah.”

“Saran mu itu ga berpengaruh signifikan kok. Apapun keputusan yang aku ambil itu murni kemauan ku sendiri.”

“Coba aku dulu nyaranin mas Ian buat poligami, hahaha. Kira-kira mas akan poligami beneran ga ya?”

“Enggak. Meskipun mereka semua mau. Aku tidak akan melakukannya.”

“Kenapa?”

“Pertama, aku tidak yakin bisa adil. Kedua, aku tidak akan tega kalau harus membagi malam-malam ku bersama mereka.”

“Threesome aja kalau begitu. Eh salah. Foursome. Mas, mba Diah, mba Kiki, sama mba Gita. Pasti bakalan hot banget itu. Hahaha.”

“Gempor akunya. Hahaha. Otak mu itu kayanya perlu di setel ulang deh. Mikirnya sex terus.”

“Sex kan kebutuhan hidup mas, dan itu penting.”

“Bener, tapi bukan berarti bebas untuk di bicarakan secara blak-blak kan seperti ini kan?”

“Hahaha. Iya dah iya. Oiya mas, ada rencana nambah momongan lagi?”

“Pasti adalah. Tapi ya terserah yang ngasih sih. Kalaupun enggak juga ga apa-apa. Udah punya dua, cewek dan cowok lagi.”

“Mas itu meskipun kadang suka blo’on, tapi ngomongnya bijak terus. Pantes pada suka sama mas.”

“Tapi aku bingung, kalau cuma kata-kata bijak aja apa positif nya? Dan yang kamu bilang tadi bener, jujur aku memang suka nggak tanggap. Dari sudut pandang tertentu akan terlihat blo’on nya. Lalu apa positif nya?”

“Mungkin yang polos seperti mas ini justru jadi daya tarik tersendiri. Membuat mereka jadi penasaran. Teorinya begitu. Faktanya aku ga tau. Kalau calon ku sih sejauh ini peka terus sama apa yang aku mau.”

“Mungkin, tapi aku juga ga tau sih. Berarti cuek itu ada untungnya juga ya? Hehehe.”

“Maksudnya? Membuat dua wanita sekaligus sampai patah hati dan kabur itu maksud mas menguntungkan? Ada positifnya gitu?” tanya Farah tiba-tiba dengan penuh kekesalan di wajahnya. Hahaha. Serem juga ternyata. Baru kali ini aku melihat dia serius dan galak seperti ini.

“Hahaha. Canda kali.”

“Ga lucu.”

“Kok kamu sewot?”

“Aku kan wanita juga. Emang enak gitu dibuat patah hati? Dibuat ga berarti apa-apa. Bahkan saat kita sudah nunggu untuk sekian lama. Tanpa kepastian. Emangnya enak digituin? Mikir dong mas!!!”

“Iya-iya…” aku merasa jadi tidak enak dengan Farah. Dia terlihat kesal beneran.

“Ya udah yuk ah balik aja.” ajaknya dengan ketus.

“Eh itu belum abis makanannya. Abisin dulu.”

“Udah kenyang!!” balasnya singkat lalu berdiri dan melangkah pergi meninggalkan ku. Ampun. Salah ngomong deh. Dan Farah mendadak jadi jutek. Halaaah. Ribet amat ya kalau sama cewek tuh.

~•~•~•~

Aku tiba di rumah cukup malam. Jam sembilan malam. Tadi ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini juga. Beberapa dokumen agreement yang harus di submit ke vendor malam ini juga agar bisa mendapatkan harga yang pas. Aku sudah mengabari Diah. Dan sekarang aku sudah tiba di rumah. Diah menyambut ku.

“Anak-anak udah tidur ya?”

“Sudah mas, Kayla baru aja. Kalau Adipati udah dari tadi, abis nyusu langsung bobo.”

Aku tersenyum mendengar jawaban dari Diah. Setelah menyambut ku dia berjalan ke dapur, mungkin akan mengambilkan ku minum. Setelah melepas sepatu aku lantas berjalan menuju kamar Kayla. Kalau Adipati tentu tidur bersama dengan ku dan Diah. Kayla tidur dengan manis nya. Persis seperti ibu nya. Aku berjalan mendekat ke arahnya. Ku pandangi wajah manis dan polos nya itu. Meskipun dia bukan anak kandung ku tapi aku tidak merasa ada jarak di antara kami. Seperti anak kandung ku sendiri. Diah tiba tepat di saat aku mengecup kening Kayla.

“Ini minum dulu mas.”

“Eh, iya.”

Aku lalu menerima segelas air putih dari Diah. Diah sendiri lalu membetulkan bantal tidur Kayla yang miring.

“Kayla gimana? Apa dia betah pindah kesini?”

“Alhamdulillah betah sih. Cuma mungkin agak belum bisa menyesuaikan dengan iklim saja. Biasanya disana tidur selimutan, disini kalau ga pakai kipas ga bisa tidur.”

“Tapi ga baik juga lho kalau kena kipas terus-terusan. Kayanya kita harus pasang AC.”

“Emang masih ada duit? Uang penjualan rumah kan udah buat DP rumah ini.”

“Bisa pakai kartu kredit. Banyak kok cicilan nol persen. Daripada kesehatan anak yang jadi taruhannya.”

“Mang kamu punya kartu kredit?”

“Punya lah, baru punya sih. Hehehe.”

“Owh, ya udah kamu aja yang atur mas, aku ndak ngerti. Dan makasih ya kamu udah perhatian sama Kayla kaya anak kamu sendiri…”

“Sstthh…ini sudah sering di bahas kan? Kayla itu anak kamu, dan itu artinya anak ku juga.”

“Iya, tapi kan biasanya…”

“Aku tidak masuk ke dalam yang biasa itu. Selama kamu juga perhatian terhadap Adipati, aku juga akan lebih perhatian lagi terhadap Kayla. Mereka sama di mata ku. Sama-sama anak kita.”

“I-iya mas, aku juga menganggap mereka berdua sama-sama anak kandung ku. Yang lahir dari rahim ku. Terima kasih.”

“Iyaa, sama-sama,” balas ku sambil tersenyum dan mendekatkan wajah ku ke wajah nya.

Cupp…

Ku kecup pelan bibir tipis Diah sambil meremas buah dada nya. Diah nampak membalas kecupan ku sebentar namun segera melepasnya.

“Iiih, nakal banget sih. Ntar kalau Kayla tiba-tiba bangun gimana?” ucap Diah dengan menunduk dan tersipu.

“Abis bibir kamu ini bikin aku ga tahan buat mengecup nya. Hehehe. Gemesin.”

“Aahhh mas bisa aja deh.”

“Beneran kok. Ga bohong.”

“Hehehe, iya percaya. Ya udah yuk ke kamar aja.”

“Ngapain?”

“Ya bobo lah. Masa mau bobo di sini.”

“Hahaha, kirain.”

“Hihihi. Dasar. Ya kalau mau boboin aku dulu juga boleh kok.”

“Hahaha. Ayuk lah. Aku mau mandi dulu tapi.”

“Iya mas. Aku siapin makan buat mas dulu juga.”

“Iya”

Aku dan Diah lantas keluar dari kamar Kayla. Aku mau mandi dulu. Badan rasanya lengket semua. Kalau mandi pasti akan sangat menyegarkan. Diah akan menyiapkan makan ku. Enaknya kalau punya istri ya begini. Hehe. Habis mandi langsung makan. Abis itu, ya mungkin aku akan bergumul dengan Diah. Menumpahkan rasa sayang di antara kami berdua. Rasa sayang yang sempat terpisah. Dan kini kami bersatu kembali. Untuk selamanya. Aku dengan nya. InsyaAllah.

[Bersambung]

Hallo Bosku, Disini Admin KisahMalah
Agar Admin Semakin Semangat Update Cerita Cerita Seru Seterusnya, Bantu Klik Iklan yang Ngambang ya.
Atau Gambar Dibawah INI

Atau Bagi Kamu yang suka bermain game Poker Online atau Gambling Online lainnya, bisa di coba daftarkan ya. Banyak Bonus dan Hadiahnya Loh.
Untuk yang Kesulitan Daftar bisa Hub Admin di WA untuk di bantu Daftar.
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part