web hit counter

Merindukan Kesederhanaan Part 45

0
323

Merindukan Kesederhanaan Part 45

Di Keabadian

Mata ku terbuka saat aku merasakan ada percikan air yang membasahi wajah ku. Aku melihat ke sekeliling dan yang ada hanya hamparan pasir putih yang luas. Dari kejauhan aku dapat melihat dua orang anak sedang bermain dengan riangnya. Seorang anak laki-laki dan perempuan. Siapa dua anak itu? Bagaimana mereka bisa ada di tempat seperti ini berdua? Kemana orang tua mereka?

Aku mencoba untuk duduk. Dimana aku ini? Kepala ku pusing. Aku masih belum sadar aku ini sedang berada di mana. Sayup-sayup aku mendengar seperti ada dua orang wanita yang sedang berbincang dengan asyiknya dari arah belakang ku. Ketika aku membalikkan badan, dua wanita itu menatap ku dan tersenyum kepada ku. Aku membalasnya. Namun mereka berdua kembali asik sendiri dan mengacuhkan ku dengan obrolan mereka sambil sesekali melihat dan menyapa dua anak yang sedang bermain air di depan sana.

Aku ada dimana? Ini tempat apa? Kenapa aku tiba-tiba bisa ada di sini? Dua wanita itu, dan dua anak itu, aku seperti mengenalnya. Tapi siapa? Aku tidak bisa mengingatnya. Angin berhembus kencang seolah menyapu kembali setiap memori yang hampir bisa aku tangkap, dan kemudian kosong lagi.

Saat aku masih berusaha mengingat-ingat siapa mereka semua, tiba-tiba dari arah kiri ku datang lagi seorang laki-laki dan perempuan. Berbeda dengan dua orang wanita yang sedang berbincang tadi, yang mungkin seumuran dengan ku, dua orang yang baru datang ini umurnya lebih tua dari ku. Mungkin akhir tiga puluhan atau awal empat puluh. Si pria tersenyum dengan hangat kepada ku lalu terus berjalan dan menghampiri dua anak kecil yang sedang bermain air tadi. Sedangkan si wanita berhenti dan duduk tepat di samping ku.

“Sudah sadar rupanya, kami menunggu mu cukup lama.”

“Kamu siapa?” tanya ku. Sama seperti dengan yang lainnya, aku seperti kenal dengannya tapi aku lupa denggan namanya.

“Kamu lupa? Aku Endang, mba mu. Kakak mu yang paling tua…”

“Kakak? Aku punya kakak?”

“Iya, aku kakak mu. Dan yang barusan lewat tadi itu adalah suami ku, Rizal.”

“Owh. Kita ada dimana?”

“Sebuah tempat yang jauh.”

“Lalu yang lainnya mana?”

“Siapa?”

“Kalau aku punya kakak, seharusnya aku juga punya orang tua. Dan adik mungkin. Kenapa di tempat seluas ini hanya ada kita bertujuh? Dan apa aku juga kenal dengan dua wanita dan dua anak kecil itu?” aku menunjuk pada dua wanita yang ada di belakang ku dan juga pada anak kecil tadi.

“Hehehe. Kamu memang ade nya mba yang paling pinter. Orang tua kita ada di tempat yang jauh di sana,” balas wanita ini sambil menunjuk ke arah dari mana dia berasal tadi. “Bareng sama mas sama ade kamu,” lanjutnya.

“Mas? Ade?”

“Iya, kamu juga punya satu mas dan satu ade, cewek. Kamu amat menyayangi adik mu itu.”

“Lalu mereka berlima siapa? Kenapa mereka hanya tersenyum kepada ku namun kemudian mengacuhkan ku?” tanya ku lagi merujuk pada dua orang wanita, dua orang anak, dan satu pria dewasa yang baru saja lewat tadi.

“Dua wanita itu istri mu. Sedangkan dua anak yang di sana itu anak mu.”

“Istri? Anak?”

“Ya, itu anak dan istri mu. Kamu tidak ingat?”

Aku hanya menggeleng dengan lemas. Penasaran bercampur bingung memenuhi kepala ku. Bagaimana mungkin aku bisa lupa dengan mereka semua?

“Lalu kenapa mereka tidak menyapa ku? Hanya mba saja yang berbicara dengan ku? Apa aku punya salah sama mereka?”

“Ehm… aku ga tau, tapi kalau salah kayanya enggak juga, kalian hidup rukun kok, mungkin di antara kita semua yang ada di sini cuma aku yang punya ikatan batin paling dekat dengan mu.”

“Ikatan batin?”

“Iya…”

“Kenapa bisa begitu?”

“Aku tidak tau, aku kakak kandung mu mungkin, masih ada ikatan darah, mereka tidak.”

“Lalu, selain kita yang ada di sini, dan yang mba bilang berada jauh di sana tadi, ada siapa lagi? Apakah ada yang lain lagi?”

“Ah iya, astaga, aku hampir lupa, tujuan ku ngomong sama kamu kan untuk anak itu. Jadi ceritanya aku juga punya anak satu, keponakan mu yang paling dekat dengan kamu, namanya Tiara.”

“Tiara?”

“Iya, dia sangat dekat dan sayang sama kamu. Ya meskipun dia selalu usil ke kamu, hihihi. Kamu ingat ga?”

Lagi-lagi aku hanya bisa menggeleng kan kepala.

“Ya udah ga apa-apa kalau memang ga ingat,” balas wanita yang mengaku sebagai mba ku ini sambil tersenyum lalu pandangannya lurus ke depan. Rambutnya kadang tertiup angin yang kadang berhembus dengan agak kencang.

“Tapi kalau dia anak mu, kenapa kamu tidak mengajak nya?”

“Aku belum bisa mengajaknya. Makanya aku sekarang bicara sama kamu.”

“Maksud nya?”

“Aku titip Tiara sama kamu. Jaga dia. Rawat dia. Aku minta tolong kamu mau menyayanginya seperti kamu menyayangi anak kamu sendiri.”

“Kenapa harus aku?”

“Karena hanya kamu yang bisa kembali.”

“Tapi kenapa?”

“Mungkin sudah suratan takdir nya begitu.”

“Lalu mba sendiri gimana?” tanya ku pada wanita ini. “Kenapa tidak mba saja yang kembali merawat anak mba sendiri? Aku ingin di sini saja dan bersama dengan anak dan istri ku,” lanjut ku.

“Aku tidak bisa. Tepatnya… aku sudah tidak bisa balik lagi ke tempat mereka berada. Kita semua yang ada di sini kecuali kamu tidak bisa balik lagi. Tempat kami sekarang hanya di sini.”

“Kenapa bisa begitu?”

“Tidak semua pertanyaan harus ada jawabannya.”

“Ta-tapi…”

“Kamu tenang aja. Aku akan menjaga anak dan istri mu di sini. Sebagai gantinya, aku minta tolong jagain anak ku di sana.”

“Kalau aku bisa balik, kenapa kalian tidak? Sebenarnya tempat apa ini?”

“Hehehe. Aku sudah bilang tadi, tidak semua pertanyaan ada jawabannya, anggep aja ini tempat persinggahan kami. Dan sekarang waktunya sudah berakhir de, aku dan yang lain harus pergi. Sekali lagi aku minta tolong sama kamu, jaga dan rawat Tiara. Aku berharap besar pada mu.”

“Mba? Mba mau kemana? Hiks…” tiba-tiba aku menangis. Entah kenapa aku merasa aku tidak akan pernah bisa bertemu dengan mereka lagi.

“Tempat peristirahatan yang abadi adik ku sayang… disanalah kami seharusnya berada. Tempat ini hanyalah persinggahan saja.”

“Ta-tapi…hiks…A-aku ingin ikut dengan kalian…hiks…”

“Tidak. Belum saatnya. Belum waktunya kamu ikut. Masih banyak hal yang harus kamu selesaikan di sana, masih ada beberapa orang yang menunggu kamu di sana.”

“Tapi mba… aku mau sama mba Endang… hiks… aku mau ikut mbaa…”

“Hihihi. Kamu itu masih sama aja ya. Masih aja cengeng kaya dulu. Jadi inget dulu waktu kamu masih kecil, kamu lebih nempel sama aku dari pada sama ibuk. Hehehe. Tapi… sekarang sudah beda dan lain situasinya. Kamu sudah menjadi laki-laki dewasa. Tidak pantes lagi nempel sama mba nya. Hehehe. Dan yang paling penting, kamu tetap harus kembali. Insyaallah, mudah-mudahan kita semua akan dipertemukan kembali di sana, di keabadian.”

“Ta-tapi… hiks…”

“Ga pake tapi. Kamu mau mba marah?”

“Ti-tidak…” balas ku sambil menggeleng pelan.

“Makanya turuti kata-kata mba. Kamu anak laki-laki. Tidak boleh nangis. Tanggung jawab keluarga ada di pundak mu. Dan mas mu Yoga juga. Kembali lah. Jaga bapak dan ibuk bersama-sama dengan mereka. Cuma kamu dan Yoga yang bisa menjunjung mereka saat mereka akan kembali nanti. Kamu tidak boleh mendahului mereka. Kamu harus kembali. Dan untuk Tiara juga. Aku mohon. Rawat anak ku demi aku, mba mu yang akan selalu menyayangi mu lebih dari apapun.”

“Mbaa… hiks… hiks…”

“Saatnya aku pergi, inget pesan-pesan ku tadi.”

Mba Endang lalu bangkit dan memberikan isyarat pada dua wanita yang masih terus saja berbincang dengan asyiknya di belakang sana. Dua wanita itu akhirnya bangkit juga dan mengikuti mba Endang. Mereka bertiga lalu menghampiri pria yang tadi datang bersama dengan mba Endang yang sekarang sedang bermain dengan dua anak kecil itu.

Mba Endang lalu menggendong salah satu di antara mereka berdua, sedangkan sang pria menggendong yang satu nya lagi. Mereka berjalan beriringan yang kemudian diikuti oleh dua wanita tadi di belakangnya. Setelah beberapa langkah mereka lalu berhenti, berbalik sejenak lalu tersenyum kepada ku seraya melambaikan tangan. Mba Endang dan si pria meraih jemari mungil anak yang ada di gendongan mereka dan mamandu dua anak itu untuk ikut melambaikan tangannya kepada ku.

Rasanya aku ingin sekali ikut dengan mereka. Mengejarnya. Dan menggendong ke dua anak itu. Tapi badan ku tidak bisa begerak. Aku berusaha sekuat tenaga untuk bangun namun sia-sia. Ke enam orang itu pun juga sudah selesai melambaikan tangan mereka. Mereka lantas berbalik dan terus berjalan menjauhi ku. Terus menjauh hingga aku tidak bisa melihatnya lagi. Pandangan ku mulai gelap. Dan terus semakin gelap hingga aku tidak bisa melihat apa-apa lagi.

~•~•~•~

“Tiaraaa…”

“Tiaraaa…”

“Tiaraaa…”

Aku memanggil nama Tiara sambil merintih. Aku belum sepenuhnya sadar. Aku merasakan sakit di sekujur tubuh ku. Hanya Tiara yang aku ingat sekarang.

“Alhamdulillah… ya Allah… kamu sadar juga lee…” aku mendengar suara seorang wanita yang sangat aku kenal.

“I-ibuuuk… Tiara mana buk?” lagi-lagi aku menanyakan Tiara karena hanya Tiara yang ada di pikiran ku sekarang.

“Arrgghh…”

“Tenang dulu lee… Tiara baik-baik saja. Ndak usah khawatir.”

“Aku mau ketemu Tiara buk. Mba Endang yang me-memintaku… hiks… buk… mba Endang mana?” aku baru ingat dengan mba Endang, dan yang lainnya. “Mba Endang dan yang lainnya mana? Mereka baik-baik aja kan?” tanya ku lagi.

“Hiks… sabar ya lee… mba mu… sama yang lain… hiks…”

“Arrgghh…”

Aku mengerti sekarang. Aku mengerti kenapa mba Endang menitipkan Tiara pada ku. Aku mengerti kenapa mereka berenam meninggalkan ku.

Mas Rizal, mba Endang, Kayla, Adipati, Diah, dan… Ayu, iya dua wanita itu adalah Diah dan Ayu. Ya Tuhan… cobaan apa lagi ini? Kenapa hamba harus mendapatkan ujian seperti ini? Kenapa Tuhan? Apa hamba tidak boleh merasakan bahagia hingga Engkau memanggil orang-orang yang hamba sayangi secepat ini?

Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk di dalam kepala ku. Berputar-putar memenuhi isi kepala ku. Aku merasakan air mata ku meleleh dengan sendirinya jatuh membasahi pipi ku. Aku tidak ingin menangis. Tapi aku juga tidak bisa mengendalikan perasaan ini. Aku hanya bisa diam saat mendengar isak tangis dari Ibuk yang setengah tertunduk memeluk tangan ku yang masih terbujur kaku di pembaringan ini.

~•~•~•~

~Tiga~Hari~Kemudian~

Aku memaksa untuk bertemu dengan Tiara meskipun kondisi fisik ku masih sangat lemah. Dengan menggunakan kursi roda aku di antar mas Yoga ke kamar dimana Tiara di rawat.

“Om Iaaan… hiks…” tangis Tiara pecah ketika melihat aku dan mas Yoga masuk. Tidak hanya Tiara. Seluruh anggota keluarga yang berada di ruangan ini juga ikut menangis. Bapak, ibuk, mba Laras, Binar. Hanya Prasetya yang diam membisu, tapi itu juga karena dia belum paham dengan apa yang sebenarnya terjadi. Mas Yoga terus mendorong kursi roda tempat ku duduk hingga tepat berada di sebelah Tiara. Aku mencoba bangun dan duduk di pembaringan. Ku pegang dengan erat pergelangan tangan Tiara.

“Hiks… hiks… papa mama om… hiks… Tiara ga punya siapa-siapa lagi… hiks…”

“Tiara sabar ya sayang… siapa bilang Tiara ga punya siapa-siapa lagi? Masih ada om di sini, ada mbah akung sama mbah uti, om Yoga, tante Laras, tante Binar… dan Prasetya juga…”

“Tapi mama om? Papa? Hiks… hiks…” tangisnya kembali pecah.

“Tiara… Tiara… dengerin Om…” aku menenangkan Tiara yang masih terus menangis.

“Papa mama om… hiks… hiks…”

“Dengerin om dulu. Denger… Tiara masih inget ga pesen papa mama dulu?”

“Hiks… hiks… ingeeet…”

“Apaan?”

“Anak yang baik itu… tidak boleh…”

“Tidak boleh menangis. Tiara anak yang baik kan? Tiara mau jadi anak yang papa mama mau kan?”

“Iya om… hiks… Tiara mau jadi anak yang baik… Tiara mau jadi apa yang papa mama mau… hiks… Tiara ga nangis lagi om… hiks… hiks…”

Iya, kamu bilang tidak menangis Ra, tapi kamu menangis, batin ku. Tapi dengan apa yang kamu alami sekarang itu sangat wajar bila membuat mu menangis seperti ini. Jujur aku tidak tega melihatnya. Aku lantas memeluk tubuh mungil nya.

“Om ngerti apa yang kamu rasain, om juga merasakannya. Om kehilangan tante Diah, Adipati, dan juga Kayla. Berat banget rasanya. Tapi itu tidak lantas harus membuat kita terpuruk. Justru kita harus bangkit. Kamu mau papa mama bahagia kan di sana?”

“Iya om… Tiara mau… hiks… hiks…”

“Makanya Tiara harus ikhlas yaaah…”

“Hiks… hiks…” Tiara memgangguk sambil menangis tersedu.

“Kalau Tiara ikhlas, Tiara kuat, papa sama mama pasti akan bangga di sana. Tiara mau bikin papa sama mama bangga kan?”

Lagi-lagi Tiara hanya mengangguk dalam pelukan ku. Ku usap dengan lembut rambut dan punggungnya. Semua yang ada di ruangan ini masih terdiam. Bapak, mas Yoga, diam. Ibuk, menangis terisak di dalam pelukan mba Laras. Binar yang sedang menggendong Prasetya juga hanya diam meskipun aku bisa melihat bagaimana merah dan bengkak kedua matanya. Dan gadis kecil yang baru akan beranjak dewasa ini, harus menghadapi sebuah kenyataan pahit bahwa dia sekarang menjadi seorang yatim piatu. Dan aku sendiri juga harus ikhlas atas kepergian tiga orang yang paling aku sayangi di dunia ini, demi anak yang sekarang berada di pelukan ku ini. Amanah yang diberikan kepada ku.

~•~•~•~

~Seminggu~Kemudian~

Dengan di antar keluarga, aku dan Tiara nyekar ke makam mas Rizal, mba Endang, Adipati, Kayla, dan Diah. Mereka semua dimakamkan dalam satu komplek pemakaman dengan makam istri pertama ku, Ayu. Bahkan, makam Diah dan Ayu berdampingan, dengan Adipati dan Kayla mengapit mereka berdua. Sedangkan makam mas Rizal dan mba Endang letaknya agak terpisah.

Pertama kami ke makam kakak dan kakak ipar ku itu terlebih dahulu. Aku dan Tiara memang baru hari ini nyekar ke makam mereka semua. Itu karena kondisi kami berdua yang belum sepenuhnya stabil, baik itu dari siai fisik maupun mental.

Aku mendapati Tiara hanya diam terpaku di depan makam kedua orang tua nya. Dia memang tidak menangis, tapi tidak ada yang tidak bisa melihat aura kesedihan di wajahnya. Aku duduk di sampingnya, merengkuh pundaknya dan memberikan pelukan hangat kepadanya.

“Tiara, sabar yah. Ini semua sudah menjadi kehendak Allah. Ini yang terbaik buat kita semua. Tiara harus ikhlas. Pasti ada hikmah dibalik semua ini. Mulai sekarang kalau ada apa-apa Tiara bilang ke om yah. Sekarang om yang akan jagain Tiara, sayangin Tiara. Memang akan terasa berbeda bila dibanding dengan kasih sayang dari almarhum papa dan mama, tapi om janji, om akan melakukan yang terbaik untuk Tiara.”

“I-iya om. Makasih banyak. Insyaallah Tiara udah ikhlas. Sekali lagi terima kasih untuk semuanya. Semangatnya, dukungannya.”

“Sama-sama sayang. Ya udah, abis kirim doa buat papa mama kita tengokin tante Diah, dede Adipati ama dede Kayla yah. Eh, sama tante Ayu juga. Hehehe.”

“Iya om,” balas Tiara pelan.

Ada satu hal yang membuat ku lega, Tiara sudah mulai bisa mengikhlaskan cobaan ini semua. Tinggal bagaimana mengembalikan keceriaannya yang hilang. Tidak mudah memang, tapi aku yakin aku bisa.

Aku sendiri, bohong kalau aku bilang aku tidak sedih. Atau aku tidak terpukul. Aku sedih. Aku terpukul. Tapi, kalau aku ikut berlarut-larut dalam kesedihan, bagaimana dengan nasib Tiara. Bagaimanapun juga, sesedih apapun aku, aku harus terlihat kuat di depan Tiara. Aku harus membuatnya kuat. Dia amanah terakhir dari mba Endang. Kakak yang paling aku sayangi.

Setelah selesai berdoa kami lalu pindah ke makam Diah dan anak-anak ku. Aku masih bisa merasakan hangatnya pelukan mereka bertiga beberapa hari yang lalu. Tidur di pelukan Diah. Atau bercanda dengan kedua anak-anak ku. Tapi sekarang, mereka telah istirahat untuk selamanya.

“Padahal aku baru aja nikmatin rasanya punya adik, hehehe,” ucap Tiara sambil tersenyum kecut saat kami sudah mengelilingi makam Diah, Ayu, Kayla, dan Adipati.

“Itu ada si Pras Ti, bawa aja kalau kamu mau, hehehe,” canda mas Yoga. “Atau kalau ga, nanti anaknya tante Binar aja yang kamu ambil jadi adik, makanya suruh tante Binar buat cepet-cepet punya anak, hehehe,” lanjut mas Yoga lagi yang kemudian di susul dengan tawa dari kami semua. Kami lantas duduk. Kembali mengirim doa. Bapak yang akan memimpin.

Selesai berdoa, karena tidak mau berlama-lama larut dalam suasana kesedihan di pemakaman ini, kami semua memutuskan untuk balik. Oiya, Endra dan Binar akhirnya terbang balik ke jogja lagi waktu itu setelah mendapat kabar musibah yang aku alami. Dan akhirnya Binar memutuskan untuk menunda dulu kepindahannya ke pontianak guna menemani ibuk yang masih berduka. Sedangkan Endra, tetap harus balik ke pontianak setelah masa cuti nikahnya habis.

Aku sendiri, aku tidak tau akan balik ke Jakarta kapan. Yang pasti keluarga di sini sudah memberikan kabar ke tempat ku bekerja melalui Farah. Dan kabar baik nya, aku diberi kebebasan untuk memulihkan kondisi ku hingga benar-benar pulih. Baru mulai masuk kerja lagi.

Ngomong-ngomong soal Farah, info dari Binar dia sangat terpukul dengan musibah yang aku alami ini. Bahkan hampir memaksa untuk datang ke jogja, namun berhasil ditahan oleh keluarganya. Sukurlah. Kalau sampai terjadi kenapa-napa dengannya mengingat kondisi kandungannya yang lemah, yang ada malah akan menambah beban untuk ku.

Kami berjalan beriringan di jalan setapak di area pemakaman ini. Ibuk dan mba Laras berada di paling depan, sedangkan bapak di belakangnya sambil menggendong si Pras. Dibelakangnya ada Tiara, lalu diikuti oleh Binar. Paling belakang ada aku dan mas Yoga.

“Gimana perkembangannya mas?” tanya ku pada mas Yoga terkait dengan musibah yang menimpa ku.

“Masih dalam penyidikan, itu jawaban yang selalu aku terima,” jawab mas Yoga. Ya, mas Yoga memang yang selalu bolak balik ke kantor polisi guna mengikuti perkembangan penyidikan yang dilakukan oleh pihak yang berwajib.

“Tapi, apa ada arah menuju kesana?” tanya ku lagi.

“Ada, bukti dan saksi sebenarnya mengarahkan kasus ini pada keluarga mantan suaminya Diah. Tapi aku tidak yakin hukuman yang turun nanti akan setimpal atau tidak.”

“Kalau memang bener terbukti, dan hukumannya terlalu ringan, kita harus bagaimana ya mas? Jujur aku tidak mau memperpanjang masalah dengan orang-orang seperti mereka. Bukannya aku tidak dendam. Tapi aku cuma takut saja apabila nanti masalah ini jadi panjang, bapak dan ibuk yang akan jadi sasaran.”

“Aku juga mikir begitu. Kemarin aku juga sempat ngobrol sama bapak, bapak udah ikhlas lahir batin. Kalau masalah hidup dan mati itu udah ada itungannya, katanya. Biarin aja semua ini diurus sama polisi. Kalaupun balasan yang mereka dapatkan sekarang tidak setimpal, kita masih punya Allah yang akan selalu bersama kita. Allah tidak tidur. Allah maha tau, siapa yang salah, siapa yang benar. Dan kamu, yang sabar ya. Kami semua berharap kamu bisa merawat Tiara. Aku sebenarnya mau-mau aja, tapi kayanya lebih tepat kamu.”

“Iya, aku mengerti mas. Mudah-mudahan aku bisa. Mengembalikan tawa dan keceriaan si anak kriwil itu, hehehe.”

“Hahaha. Kalau butuh apa-apa, atau perlu apa-apa bilang aja.”

“Siap mas, terima kasih. Aku juga nitip bapak dan ibuk di sini. Minta tolong jaga mereka berdua.”

“Iya, pasti kalau itu.

Setelah tiba di area parkir, kami langsung naik ke motor masing-masing untuk pulang. Rasanya pengen banget rebahin badan setelah melihat makam mereka semua. Aku harap mereka semua tenang di sana. Apapun yang terjadi aku harus ikhlas.

Lelah, letih, semua bercampur menjadi satu. Sudah terlalu banyak energi yang aku keluarkan untuk menghadapi ini semua. Termasuk ketika harus terlihat tegar dan kuat demi menjaga kondisi psikologis dari Tiara.

[Bersambung]

Hallo Bosku, Disini Admin KisahMalah
Agar Admin Semakin Semangat Update Cerita Cerita Seru Seterusnya, Bantu Klik Iklan yang Ngambang ya.
Atau Gambar Dibawah INI

Atau Bagi Kamu yang suka bermain game Poker Online atau Gambling Online lainnya, bisa di coba daftarkan ya. Banyak Bonus dan Hadiahnya Loh.
Untuk yang Kesulitan Daftar bisa Hub Admin di WA untuk di bantu Daftar.
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part