web hit counter

Merindukan Kesederhanaan Part 8

0
406

Merindukan Kesederhanaan Part 8

Maaf…

Hari ini, aku harus balik ke Jakarta lagi. Meskipun singkat, tapi pertemuan ku dengan Diah semalam sungguh sangat berkesan. Aku bilang kepadanya kalau besok ada seleksi masuk BEM. Memang benar sih. Aku tidak bohong. Tapi sebenarnya ada maksut lain di balik itu.

Siang ini, selepas zhuhur aku diantar mas Yoga menggunakan motor ke terminal Daksinaga, Wonosari. Untungnya masih aku masih dapet tiket bus malam AKAP. Kalau ga, rencana yang sudah aku susun beberapa minggu terakhir akan kacau dan berantakan.

“Ati-ati yo le, bapak ibuk mung iso nyangoni slamet,” pesan bapak saat melepas kepergian ku.

“Nggeh pak, mboten nopo-nopo, dongane mawon slamet dugi Jakarta,” balas ku.

Dengan mengharu biru, aku sungkem ke mereka semua, kecuali Binar dan Tiara tentunya. Mereka berdua yang mencium tangan ku. Sedih rasanya bakalan pisah sama Tiara walau cuma beberapa hari. Dia juga dari pagi nanya mulu kenapa ga pulang bareng aja. T-T Tiara…om pasti bakalan kangen ama kamu. Oiya, mereka bertiga masih akan seminggu lagi di kampung.

Sekarang aku sudah ada di dalam bus. Ketika hampir sampai di turunan Irung Petruk yang meliuk-liuk, tiba-tiba sebuah panggilan masuk. Pak Weily.

“Halo, pak.”

“Jadi pak, alhamdulillah ibuk saya kondisinya sudah membaik. Udah sehat. Makasih doanya.”

“Siap pak, rencana awal akan kita jalankan besok,” balasku. Bahasa ku udah kaya intel aja.

“Iya pak, sama-sama. Saya akan berusaha sebisa saya.”

“Ndak perlu pak, saya kan sudah bilang kemarin kalau saya tidak mengharap imbalan.”

“Iya pak. Ini belum lama jalan bus saya.”

“Waduh, saya belum pernah naik pesawat pak, ga ngerti kalau sendiri.”

“Hahaha, jadi malu. Kalau itu mungkin saya mau pak, hehe.”

“Iya pak, sampai ketemu di Jakarta.”

Aku lalu menutup telepon ku. Pak Weily tadinya mau membelikan ku tiket pesawat. Bukannya ga mau. Tapi aku belum pernah. Mana ngerti aku prosedur di bandaranya.

Di bus, aku mendapat tempat duduk di sebelah kiri, dekat kaca. Dari sini aku bisa melihat pemandangan Kota Jogja dari atas. Tidak salah kalau ada yang bilang Gunungkidul itu adalah lantai dua nya Kota Jogja. Dan aku bangga menjadi orang Gunungkidul. Meskipun banyak yang meremehkannya. Apalagi kalau menyinggung air.

Aku lalu memejam kan mata ku. Mencoba untuk tidur meskipun masih sore. Mau ngapain lagi coba kalau ga tidur? Pikiran ju lalu membayangkan kira-kira apa yang akan terjadi besok. Semoga berjalan lancar. Semoga Engkau memudahkan niat baik hamba mu ini ya Tuhan. Aamiin.

***

Mba Endang said:
Aku udah sampe rumah

Pesan yang aku kirim ke mba Endang begitu sampai di rumah. Rumah mba Endang. Subuh tadi. Setelah sarapan aku langsung bersiap-siap berangkat ke kampus. Capek banget sebenernya. Tapi ya harus aku lawan.

“Udah lama ki?” tanya ku begitu tiba dan duduk di depannya.

Pagi ini aku janjian dengan Kiki dan Doni di kantin untuk membahas tugas kelompok. Jadwalnya kelompok kami yang akan presentasi.

“Baru aja kok, gimana kondisi ibu mu? Ada perkembangan kan?”

“Alhamdulillah udah baikan kok, makasih ya doanya, hehe.”

“Iya sama-sama. Trus kamu jadinya balik sendiri atau…?”

“Sendiri, baru subuh tadi nyampe.”

“Ga capek apa langsung kuliah?”

“Capek sih, tapi harus masuk, kan nanti seleksi masuk BEM.”

“Oh, iya.”

Kiki kembali fokus ke laptopnya. Dia sedang mengedit file ppt untuk bahan presentasi nanti. Aku lalu bangkit dan berdiri di belakang kanannya. Ikut memperhatikan. Syukur-syukur bisa ngasih masukan. Biar keliatan ada andil gitu maksutnya. Hahaha.

“Gimana menurut kamu?” tanya kiki.

“Sudah oke kok, isinya juga udah bagus, mungkin animasinya aja yang belum.”

“Kamu bisa nambahin?”

“Ehmm…paling ditambahin gini aja nih, maaf,” aku mengambil alih mouse di tangan Kiki.

Posisi ku sekarang sedikit membungkuk, sehingga membuat tubuh atas ku agak merapat ke tubuh kiki. Aku sekarang fokus menambahkan beberapa animasi pada slide powerpoint tugas kami.

“Kalau cowok lebih detail ya soal gitu-gituan?”

“Maksutnya?”

“Iya, nambah-nambahin animasi gitu. Kalau aku males.”

“Hahaha, ini juga cuma yang standar-standat aja kali, biar lebih enak dilihat aja ki.”

‘KLIK’ ‘KLIK’ ‘KLIK’

Aku masih terus menambahkan beberapa animasi di slide tugas kami. Saking fokusnya aku sampai tidak menghiraukan posisi tubuh ku yang sekarang semakin merapat ke tubuh Kiki. Kikinya sendiri juga tidak ada respon apa-apa. Cuek-cuek saja orangnya.

Sekitar sepuluh menit kemudian barulah semua slide sudah selesai aku edit. Aku lalu meng-klik ikon slide show dan muncul lah prensentasi kami full screen di layar monitor yang menjadi lebih enak dipandang.

“Yeeey…bagus bagus…keren Ian, keren banget,” ucap Kiki girang sambil menengok ke arah ku. Wajah kami sekarang saling beradu pandang. Dekat sekali. Dalam sepersekian detik kami saling pandang. Waktu seolah berhenti. Aku tidak tau kenapa, rasanya seperti tidak ingin melepaskan pandangan ku dari wajahnya, dan mungkin begitu juga dengan dia.

“Kalau mau pacaran bukan di sini kali tempatnya!! tempat lain juga banyak. Ga punya modal??” nyinyir seorang wanita sambil berlalu tepat di samping.

Aku dan Kiki sama-sama langsung tersadar. Dan sama-sama malu. Muka kami sama-sama memerah.

“Eh, anu, maaf Ki.”

“I-iya gapapa, maaf juga akunya…”

Aku lalu kembali ketempat duduk ku semula. Mencoba membuang jauh rasa canggung yang tiba-tiba muncul ini.

Wanita yang mengagetkan kami tadi, yang tak lain adalah Gita, duduk di bangku yang berjarak empat meja di sebelah kiri ku. Aku sekilas melihat ke arahnya. Dia dan dua temannya juga menatap ke arah ku dan Kiki dengan pandangan sinis yang membuat ku dan Kiki menjadi agak risih.

“Sepertinya ada yang ga suka dengan kita tadi,” komentar Kiki dingin.

“Eh, masa sih?”

“Liat aja mukanya ga enak gitu.”

“Cuekin aja. Paling sirik ama kamu, kalah saing dia.”

“Maksutnyaaa?” tanya Kiki dengan intonasi yang dibuat-buat.

“Ya kan kamu aja bisa deket sama aku, sedangkan dia enggak, hahaha.”

“Kok kamu jadi narsis gitu? Trus bangga gitu?”

“Yaelah canda Ki…”

“Ga lucu.”

“Hahaha.”

“Ketawa mulu.”

“Hahaha, lagian cewek macem dia mana mungkin ada yang mau deketin, sifatnya ja judes gitu.”

“Bukannya kemarin kamu yang bilang sendiri kalau dia anak bak-baik.”

“Eh, iya ya, ehmm…cuma feeling aja sih dia itu sebenarnya anak baik, tapi kenapa ya sifatnya bisa begitu?”

“Ga tau,” balas Kiki sambil mengangkat bahunya.

“Ya udah yuk masuk kelas aja, lama-lama males juga aku nya,” ajak Kiki.

“Ayuk dah, aku juga males.”

Aku dan Kiki akhirnya meninggalkan kantin. Sambil jalan aku mengirim kan sms ke doni untuk langsung masuk kelas aja. Ga perlu ke kantin.

***

Aku, Doni, dan Kiki saat ini sudah berada di dalam kelas. Doni belum lama masuk. Kami bertiga duduk di bagian belakang sebelah kiri. Kembali membuka laptop lagi untuk menunjukkan pembagian slide prensentasi kepada Doni.

Saat kami sedang fokus pada isi slide, tiba-tiba Gita and the geng masuk sambil ketawa ketiwi. Seperti biasa Doni langsung semangat melihat mereka. Wajar, bening-bening. Doni banget pikir ku. Kiki nampak cuek dan acuh tak acuh.

Lalu tiba-tiba…

“Gimana persiapan lo Git?” tanya salah seorang dari mereka

“Ga ada persiapan apa-apa, improvisasi aja lah nanti, santai aja gue sih.”

“Lagian lo ngapain sih daftar BEM segala? Kurang kerjaan tau…” tanya yang satunya.

“Hahaha, kok kalian yang rempong sih?”

“Abisnya, ntar kalau lo masuk BEM, pasti lo sibuk dan waktu buat kita-kita berkurang.”

“Tenang aja say, gue ga akan kurangin waktu buat kalian kok, hihihi.”

Sekilas, itulah percakapan yang aku, Kiki dan Doni dengar. Butuh waktu beberapa saat bagi mereka berdua untuk mencerna percakapan tiga sosialita kelas itu. Lalu kemudian tiba-tiba mereka berdua menatap tajam ke arah ku.

“Heh, Gita daftar BEM juga?” bisik Doni.

Tatapan mata Kiki sepertinya juga mengisyaratkan pertanyaan yang sama. Aku yakin mereka berdua curiga kepada yang juga daftar masuk BEM. Mereka pasti aku mendaftar karena Gita.

“Heee…iya Don, aku belum bilang ya?” jawab ku nyengir.

“Sialan, maen belakang lu yeee.”

“Apaan sih? Endak ada hubungannya itu, beneran deh itu kebetulan aja.”

“Awas lu ya kalau nyari kesempatan,” Doni memperingati ku. Ga tau serius apa nggak dia.

“Endak Don, kamu ndak percaya sama aku?”

“Pokoknya Gita itu punya gua,” protesnya.

“Ya kalau orangnya mau Don, benerin dulu tuh otak mesum kamu,” Kiki menimpali, meskopun sedang jutek anak ini masih sempat-sempatnya membela ku. Love you Ki, eh ndak deng, love nya tetap untuk Diah.

“Setuju Ki, hahaha.”

“Udah bawaan kalau itu sih, hahaha,” balas Doni. Lega rasanya Doni menanggapinya sambil tertawa.

Tidak lama kemudian Dosen mata kuliah pagi ini datang juga. Tanpa basa-basi kelompok yang jatahnya maju hari ini di suruh siap-siap untuk presentasi.

***

“Ian, inget ye pesen gue tadi. Jangan cari-cari kesempatan buat deketin Gita pas di BEM nanti!” pesan Doni ke aku saat mata kuliah terakhir selesai. Seperti biasa kami bertiga keluar kelas bareng. Bedanya mereka berdua akan langsung pulang. Sedangkan aku, harus mengikuti briefing dulu sebelum mengikuti seleksi pertama menjadi anggota BEM yaitu wawancara yang akan di laksanakan sore ini juga.

“Hahaha, masih aja kamu kepikiran.”

“Iya lah, lo tega apa sama gue?”

“Bukan tega ndak tega Don, kalau ternyata Gita nya yang kecantol aku gimana?” canda ku.

“Kalau ngimpi jangan ketinggian Ian, ntar jatuhnya sakit,” ucap Kiki. Kepala ku langsung ditoyor Doni.

“Kalian ini serius amat sih? Aku ndak ada rasa sama sekali sama Gita, kepikiran aja ndak.”

“Kalau Doni sih emang ga punya malu, kalau kamu? Aku takut kamu kecewa aja,” balas Kiki, ya ampun perhatiannya.

“Ga gitu juga kali Ki,” balas Doni sewot.

“Hahaha,” tawa ku. Kiki hanya tersenyum menanggapi Doni.

“Lagian kalian ini seolah-olah mikir kalau aku masuk BEM cuma buat ngedeketin Gita. Endak bener itu. Endak ada maksud apa-apa,” lanjut ku.

“Iya-iya percaya.”

“Ya udah gue balik duluan yak, salam buat neng Gita, hahaha.”

“Iya ntar aku salamin.”

“Duluan ya Ian, sukses wawancaranya.”

“Iya, makasih ya.”

Kami bertiga akhir berpisah. Doni ke arah parkiran motor. Kiki kearah gerbang kampus. Aku, ke arah sekretariat BEM FE. Letaknya berada di gedung di bagian belakang kampus.

***

Setelah sampai di depan sekretariat BEM FE, aku dan calon anggota lainnya langsung diarahkan ke sebuah ruangan kelas yang kebetulan kosong. Yang hadir ternyata lumayan banyak juga. Ada belasan orang. Mata ku clingukan ke kiri dan kanan. Mencari seseorang tapi belum nampak batang hidungnya.

Begitu masuk ke ruangan kelas itu, aku memilih mengambil duduk di bagian belakang. Beberapa muka yang ada di ruangan itu aku pernah melihatnya. Sepertinya anak kelas lain. Sedangkan sisanya aku tidak tau. Mungkin anak jurusan manajemen atau anak tingkat dua.

Sekitar sepuluh menit kemudian barulah orang yang aku cari tadi tiba. Mukanya nampak agak panik, dengan nafas yang ngos-ngosan. Mungkin dia tadi jalannya tergesa-gesa dari sekretariat BEM ke ruangan ini. Disapunya seluruh isi kelas dengan pandangan matanya, mungkin mencari bangku yang masih kosong. Saat pandangannya akan menuju ke arah ku, aku sedikit membuang muka agar tidak terkesan aku tau dirinya ada di tempat ini juga. Namun aku yakin dia sudah melihat wajah ku. Tidak lama kemudian apa yang aku prediksikan terjadi juga. Dia duduk tepat di bangku yang ada di sebelah ku yang kebetulan masih kosong.

“HEH DUSUN, NGAPAIN LU DI SINI?” tanya Gita berbisik namun dengan intonasi keras sambil menyenggol ku dengan kasar seolah aku ini manusia yang tidak ada harga diri nya sama sekali saat dia mengetahui aku juga berada di dalam ruangan ini. Aku sudah menduga reaksinya akan seperi itu.

“Menurut kamu?” jawab ku acuh, bodo amat dengan dirinya.

“Kalau ditanya tuh jawab, bukan balik nanya!” ucapnya lagi dengan melotot. Matanya sampai mau lompat keluar.

“Menurut kamu aku ngapain saat ini bisa ada di ruangan ini?” balas ku santai tapi dengan tatapan yang sengaja aku buat sedikit meledeknya.

“Elu?”

“Apa?”

“Jangan bilang lu daftar juga?”

“Masalah?” balas ku masih dengan santainya.

“Bener-bener lu ye, kemarin lu bikin gue sial mulu, sekarang ikut-ikutan daftar BEM segala.”

“Pede banget!”

“Apa lu bilang?”

“PE-DE, papa eho, delta eho, tuli ya?” tanya ku dengan entengnya. Muka Gita langsung memerah. Nampak sekali dia sudah sangat menahan emosi. Telapak tangannya mengepal erat. Gigi nya menggeretak. Semoga dia tidak menggampar ku lagi. Kalau tidak, kami berdua pasti sudah langsung tereliminasi.

“Memangnya kemarin ga baca persyaratannya? Semua mahasiswa aktif tingkat satu dan dua berhak untuk ikut berpartisipasi. Catet! Semuanya berhak. Salah besar kalau kamu ngira aku ikut-ikutan. Ndak ada gunanya. Ndak penting juga, ni kampus bukan milik mbah mu!!” balas ku tegas. Mukanya semakin memerah. Kalau di film-film, mungkin tanduk di kepalanya sudah muncul. Ditambah asap yang mengepul keluar dari kepalanya.

“ELO BERAN…” balasnya dengan nada agak meninggi namun terpotong dengan suara panitia di depan yang sedang memberikan briefing.

“Itu dua yang dibelakang kalau ga serius ikut seleksi silahkan keluar!!” ucap panitia itu.

“Iya, maaf kak,” balas ku meminta maaf sambil tersenyum. Aku lalu menoleh ke arah Gita.

“Kamu jangan bikin malu! Kalau masih ndak terima nanti setelah ini saja dilanjut. Aku ndak mau ribut di sini, ngerti ndak? Kalau ndak ngerti juga masuk jurusan Bahasa saja sana biar ngerti!” tanya ku tegas.

Selain marah, sepertinya dia kaget juga dengan perubahan sikap ku. Kemarin-kemarin aku hanya diam saja menerima perlakuannya. Sekarang, jangan harap non. Haha. Ada pak Weily, papa mu sendiri yang berdiri dibelakang ku. Berani?

Dan apa yang terjadi sekarang sudah aku prediksikan sebelumnya. Setelah kejadian di parkiran tempo hari bersama si bocah pemulung, aku jadi tau sebenarnya jiwanya lembut. Tapi jiwa lembut itu selalu tertutup dengan sifat galaknya.

“Hidup lu ga akan tenang setelah ini!” ancamnya. Pelan namun serius, tapi aku tidak menanggapinya. Aku biarkan saja. Aku mengacuhkannya dengan melanjutkan memperhatikan penjelasan dari kakak panitai di depan. Yang penting rencana pertama ku telah berhasil. Jujur, saat ini aku ingin sekali tertawa tapi sekuat tenaga aku tahan. Jujur baru kali ini aku berakting dan bermain peran seperti ini. Dari ekor mata ku, Gita juga nampak fokus ke depan. Tapi tetap, wajah judes dan betenya keliatan banget.

Setelah mendapatkan arahan-arahan dari panitia, sore itu juga kami di wawancarai satu persatu. Entah bagaimana mengurutkannya, aku dan Gita mendapat nomer urut paling akhir. Pasti akan membosankan menunggunya. Tapi ya sudahlah, jalanin saja.

***

Alhamdulillah wawancara ku berjalan dengan lancar. Meski awalnya grogi tapi setelah mendapatkan track nya, semua pertanyaan yang diberikan bisa aku jawab dengan lancar. Pertanyaannya pun lebih ke hal-hal personal seperti pengenalan diri, hoby, aktifitas dan sebagainya. Mudah-mudahan lolos ke tahap selanjutnya.

Dengan langkah tergesa aku meninggalkan ruangan itu, setelah sebelumnya mendapatkan jadwal seleksi selanjutnya. Aku melewati koridor gedung yang kiri kanannya adalah ruangan kelas. Suasananya sudah sangat sepi dan gelap. Aku lihat jam di hp ternyata sudah jam tujuh lewat.

“HEH DUSUN, urusan kita belum selesai!” teriak Gita dari arah belakang ku.

Aku menoleh sebentar lalu melanjutkan jalan ku lagi sambil bersiul agar memberikan kesan cuek terhadapnya. Wanita seperti Gita kalau di acuh kan pasti akan semakin penasaran.

“Hei, kalau gue ajak bicara tuh dengerin, TUNGGU!!” teriaknya lagi. Dia semakin mempercepat langkahnya, terdengar dari suara sepatu hak tinggi dengan lantai yang khas banget itu. Lalu saat di ujung koridor baru aku berhenti dan membalikkan badan.

“Apaan sih?” tanya ku dengan muka yang aku buat kesal.

‘Trap trap trap’ bunyi langkah kaki Gita mendekat ke arah ku. Dia berhenti tepat di depan ku. Tingginya yang hampir setelinga ku membuatnya hanya sedikit mendangak saat menatap ku dengan tajam. Tubuh kami terpaut jarak tidak lebih dari setengah meter.

“Urusan kita belum selesai, BEGO!”

“Urusan apa?”

“Ya itu, lu kenapa tiba-tiba ikut masuk BEM? Gue ga mau satu organisasi sama elu.”

“Tiba-tiba? Aku udah daftar dari sebulan yang lalu kok. Lagian, belum tentu juga kamu lolos kan?” jawab ku santai.

“Jadi lu pikir gua ga akan lolos?”

“Siapa yang bilang gitu siiih? Aku kan cuma bilang kamu belum tentu lolos, ndak ada yang salah kan?”

“Enak aja, itu sama aja lu berharap gue ga lolos!”

“Trus? Masalah? Ga suka? Bukannya itu mau kamu ndak mau satu organisasi dengan ku?”

“Lo tu ya…”

“Apa?” tanya ku dengan kedua tangan terangkat ke samping seolah menantangnya.

‘PLAAAK’ dia menampar ku lagi. Keras. Suarangnya terdengar nyaring karena suasana yang sepi. Sumpah, perih neeeng.

“Ga ada sopan-sopan nya sama cewek!” ejeknya.

“Mau di sopanin orang? Ngaca dulu!” balas ku.

“Lu tuh yang harus ngaca, dusun aja sok-sok an mau masuk BEM, ga pantes. Lu tuh pantesnya bergaul sama temen cewek lu yang dari kampung itu, dan ama yang mesum itu, hahaha,” balasnya lagi dengan bawa-bawa Kiki dan Doni. Aku langsung emosi. Sial. Aku jadi kepancing juga teman ku di bawa-bawa. Tenang Ian, batin ku. Aku mencoba mengontrol emosi ku. Kalau bukan karena pak Weily, sudah aku kerjain malam ini juga cewek satu ini. Apa aku isengin aja sekalian ya?

Aku lalu memasang wajah marah. Aku pelototkan mata ku. Aku tatap matanya dengan sorot mata tajam. Kemudian dengan gerakan cepat aku memegang tangan kirinya dan menariknya ke arah tembok di sebelah kiri ku.

“Eh, apa-apaan ini?” tanya nya panik.

Tak ku hiraukan pertanyaannya. Dengan sedikit menyentak, aku paksa tubuhnya menjadi menghadap ke tembok. Tangan kirinya aku pelintir kebelakang dan menguncinya di punggungnya. Ku raih tangan kanannya dan ku tekan ke tembok. Ku pepet tubuhnya hingga mendesak ke dinding gedung.

“Eh, lepasin!! Atau gua…”

Secepat kilat aku membekap mulutnya dengan tangan kiri ku. Tangan kanan ku sekarang mengunci kedua tangannya.

“Atau apa? Hah?” bentak ku. Rasain. Enak aja ngatain Kiki anak kampung.

Dia nampak panik dan meronta dan tangan kanannya mencoba memukul-mukul ke belakang. Namun tenaganya jelas tidak sebanding dengan ku. Sekuat apapun dia melawan jelas aku bisa menahannya dengan mudah.

“Ehmmp…ehmmp…” suaranya yang tidak jelas karena mulutnya masih aku bekap.

“Denger!! Kamu kalau mau cari masalah dengan ku, silahkan!! Aku ndak takut. Inget itu. Aku ndak pernah takut sama kamu. Tapi, kalau sampai kamu bawa-bawa temen ku sekali lagi, jangan pikir aku segan untuk berbuat nekat pada mu!!” ucap ku tegas.

Tidak ada jawaban dari nya. Tapi rontaannya semakin kencang. Bener-bener galak nih bocah pikir ku. Kala macan mah. Aku jadi tertantang untuk semakin iseng. Ku rapatkan lagi tubuh ku. Selangkangan ku menempel erat pas di pantat semoknya. Kalau ga inget nih cewek anaknya pak Weily, udah aku kerjain sekarang juga.

“Astagfirullah…sadar ian sadar! Dosa,” tiba-tiba di kepala ku muncul bayangan Ibuk dan mba Endang yang menasehati ku. Aku duduk di kursi terdakwa. Mereka berdua berdiri di kiri dan kanan ku. Menyidang ku. Tapi anehnya ada mas Rizal juga yang malah ketawa-ketawa di depan ku. Hadeh. Langsung ku hapus bayangan ga jelas itu dari kepala ku.

Kembali ke nona besar Gita. Aku sedikit mendekatkan wajah ku ke leher sampingnya. Aku yakin dia pasti bisa merasakan dengus nafas ku. Entah merinding atau apa yang dia rasakan. Aku juga bisa melihat raut mukanya yang mendadak berubah menjadi pucat. Aku yakin dia sangat ketakutan.

Tubuhnya semakin meronta. Tapi tanpa dia sadari justru malah membuat tubuh bagian belakangnya semakin menggesek tubuh depan ku. Terutama pantat bulatnya yang menggesek selangkan ku. Oh, kaya gini ternyata rasanya. Geli-geli enak. Tapi sayangnya aku harus kuat menahan gejolak birahi ku sendiri. Aku ga boleh lepas kendali.

“Heh, bisa diem ga? Atau kamu mau kita main-main sebentar? Toilet belakang sepertinya sepi,” ancam ku.

“Ehmmp…ehmmp…,” ucapnya ga jelas sambil berusaha menggeleng-gelengkan kepala.

“Makanya DIAM!!” aku membentaknya.

“Ehmmp…ehmmp…” suaranya masih ga jelas tapi sekarang dengan anggukan. Rontaannya juga sudah mereda.

“Oke, pertama aku akan melapaskan mulut mu, tapi awas kalau sampai teriak! Paham?”

Dia lalu mengangguk. Akupun melepaskan tangan kiri ku yang membekap mulutnya. Sekilas aku melihat air matanya yang mulai mengalir. Adu Ian, belum apa-apa sudah bikin anak orang menangis. Bisa marah nih ibuk kalau tau. Apalagi yang nangis cewek secakep Gita.

“Hahaha, nona besar Gita yang sombong dan angkuh, ternyata segini doang nyalinya,” ejek ku dengan muka jahat. Sangat jahat. Aku benar-benar menikmati peran ku ini. Tidak ada maksud jahat, hanya ingin memberinya sedikit pelajaran.

“Udah dong jangan nangis lagi! Malu tau sama angkuhnya!” Ledek ku.

“Hiks…”

Tidak ada jawaban.

“Kalau aku ngomong tuh dijawab,” ucap ku membalikkan kalimatnya tadi.

“I-iya…”

“Iya apa?”

“Eh…enggghh…” dia nampak bingung. Mungkin masih shock dengan perlakuan ku. Lelaki kampung yang sebelumnya kalem berubah menjadi monster yang sangar. Hahaha. Jangan remehkan marahnya orang pendiam, batin ku.

“Ok, aku ulangin lagi. Kamu kalau mau cari masalah dengan ku, silahkan! Tapi, jangan pernah bawa-bawa teman ku lagi, ngerti!”

“I-iya ngerti, hikss…”

“Kiki dan Doni ndak ada hubungannya sama masalah kita, sekali lagi kamu hina mereka, habis kamu,” ancam ku. Dia hanya mengangguk. Tidak ada balasan lagi darinya.

Baiklah, sudah cukup, batin ku. Aku melepaskan kuncian ku di tangan kirinya. Lalu mundur beberapa langkah. Gita langsung berbalik dan memegangi tangan kirinya. Waduh. Jangan-jangan aku terlalu keras mencengkram tangannya tadi. Kasihan juga aku melihatnya. Tapi aku harus melakukan ini Git. Maaf.

“Sekarang kamu bisa pulang, aku ndak tertarik lagi buat nikmatin tubuh cewek cengeng tapi angkuh kaya kamu. Eh tapi hati-hati, setahu ku di parkiran mobil itu angker, bahaya buat cewek apalagi yang cengeng kaya kamu, hahaha,” ucap ku iseng menakutinya. Aku bisa melihat wajahnya yang semakin ketakutan. Aku lalu meninggalkannya begitu saja. Tapi tidak benar-benar meninggalkannya. Setelah tidak terlihat olehnya, aku sengaja bersembunyi. Memastikan kondisinya baik-baik saja. Jujur, sebenarnya aku tak tega melihatnya. Tapi, mau gimana lagi. Semua sudah direncanakan. Demi kebaikan mu juga Git.

Tidak lama kemudian terdengar suara langkah kakinya. Seperti waktu itu, aku mengikutinya secara diam-diam. Memastikannya tiba di parkiran mobil dengan selamat. Dari kejauhan nampak sekali wajahnya yang takut campur panik. Setelah dia masuk ke dalam mobil, dan meninggalkan kampus, baru aku keluar kampus untuk menunggu angkutan. Pulang.

***

Saat di perjalanan pulang, dengan hawa pengap yang khas di dalam angkutan ditengah kemacetan, pandangan ku menerawang ke arah belakang badan mobil. Aku kembali teringat betapa takutnya Gita tadi. Kalau dipikir-pikir, perlakuan ku tadi termasuk kedalam katagori pelecehan seksual. Kok aku bisa setega itu ya? Selain itu, sebenarnya agak takut juga aku kalau-kalau Gita melaporkan ku ke polisi. Aduh, gimana ya? Gimana reaksi mba Endang kalau sampai tau? Pikiran ku malah jadi kemana mana.

Aku lalu meraih HP ku dan menelepon pak Weily.

“Ya, halo pak.”

“Malem juga pak, lagi sibuk?” tanya ku basa-basi.

“Rencana pertama sukses pak, tapi…anu…”

“Enggak pak, jadi gini…tadi…

“Ehmm…aduh gimana ya?”

“Gini, tadi tu saya…ehmm…agak sedikit kelewatan ngerjainnya, maaf…”

“Ehmm…ya gitu, saya tadi ngancemnya agak sedikit kasar, saya aja sampai ndak tega setelahnya, soalnya tadi dia sampai nangis, sa-saya bener-bener minta maaf pak,” jelas ku agak gugup dengan rasa ga enak ke pak Weily. Tapi momen ketika pantat semok Gita menggesek-gesek selangkangan ku tadi tidak aku ceritakan. Bisa digorok leher ku kalau pak Weily sampai tau.

“Kok malah ketawa sih pak?”

“Bapak Gila ya? Eh maaf,” ucap ku keceplosan.

“I-iya pak, makasih, malam…” aku lalu menutup telepon ku.

Aku kembali merenung. Menatap kearah aspal jalan dari balik kaca yang seolah berlari menjauhi ku. Kehidupan kadang lucu dan berkebalikan. Sebagian orang bergelimang kasih sayang, tapi pas-pasan materi. Sebagian lagi bergelimang materi tapi miskin kasih sayang. Akhirnya mereka melakukan segala cara untuk menarik perhatian orang-orang terdekatnya. Sayangnya dengan cara yang negatif. Dan sekarang, aku harus memperbaiki sesuatu yang negatif itu. Bersyukurlah kalian yang memiliki keduanya.

[Bersambung]

Daftar Part