web hit counter

Merindukan Kesederhanaan Part 9

0
379

Merindukan Kesederhanaan Part 9

Maaf… [2]

“Hoaahhhmmmm…”

Aku menguap panjang pagi ini. Tapi sebenarnya termasuk siang untuk ukuran rumah ini. Seminggu ini aku memang bangunnya selalu agak siang, aji mumpung. Mumpung Tiara belum balik. Meskipun sekarang baru jam enam lewat, karena biasanya adzan subuh atau paling siang jam lima pintu kamar ku sudah ada yang mengetuk. Entah itu Mas Rizal, Mba Endang, atau Tiara yang membangunkan ku. Tapi kalau Tiara bukan mengetuk lagi, tapi menggedor.

‘DUG DUG DUG’

“Om Ian…!! Bangun…!! Sholat Subuh…!!”

Begitulah kira-kira dia kalau membangunkan ku. Pasti dengan berteriak. Bener-bener tidak nyantai. Suara khas anak umur lima tahun yang hampir setiap pagi selalu menjadi seperti alarm buat ku. Rese. Tapi tetep aja ngangenin. Ahhh…kangen Tiara.

Dengan agak malas aku bangun dan keluar dari kamar. Namun hanya berpindah tempat. Karena kemudian aku melanjutkan tidur-tiduran ku di atas sofa panjang ruang tengah. Meraih remote tv dan menyalakannya. Sekarang ini lagi heboh-hebohnya pemberitaan mengenai seseorang yang katanya bisa menggandakan uang gitu. Ya elah, jaman udah modern gini masih aja ada yang begituan. Tapi begonya, ternyata banyak juga yang tertipu. Dasar. Orang kalau kebanyakan ngimpi tanpa usaha ya gitu. Punya duit ya mending buat usaha kek, investasi kek, atau apa gitu. Bener-bener ga masuk nalar.

Dan ternyata benar. Saat TV udah menyala, sosok yang pertama muncul adalah seorang pria berperawakan tambun dan berwajah tolol (menurut ku). Kok bisa ya orang bego kaya gitu bego-begoin orang? Pantes negara ini ga maju-maju. Banyak orang begonya. Yang nge-begoin ga lebih pinter dari yang di begoin.

Ya sudah lah, biarkan saja itu urusan mereka. Urusan ku adalah gimana usaha hardcase yang diamanahkan oleh mas Rizal kepada ku ini terus berjalan. Oiya, karena sekarang usaha kecil-kecilan itu aku yang megang, maka aku sekarang jadi bos nya. Karyawannya? Dua orang yang dulu kerja sama mas Rizal itu aku tarik lagi.

Sebenarnya aku juga masih ikut kerja. Tapi porsinya ga terlalu banyak. Dan yang ringan-ringan aja. Palingan bagian finishing yang memang butuh ketelatenan dan kerapian. Selain itu waktu ku sekarang sudah mulai penuh dengan jadwal kuliah. Belum lagi kalau misal aku diterima di BEM. Aku pasti akan semakin sibuk. Dan belum ditambah lagi dengan kemungkinan urusan ku dengan si nona galak Gita. Gita Ratna Puspita. Nama yang cantik.

Ngomong-ngomong soal BEM, seleksi ke dua adalah membuat semacam program kerja, atau rencana jangka panjang untuk BEM FE, atau apapun itu namanya yang nanti harus dipresentasikan di depan Presiden BEM, yang jadwalnya adalah hari senin minggu depan. Sekarang masih sabtu tapi program kerja ku sudah selesai. Alhamdulillah.

Aku mengambil tema tentang kewirausahaan. Rencana ku adalah menumbuhkan minat mahasiswa terhadap wirausaha. Daripada wira wiri cari kerja, mending wirausaha aja. Jadi kaya iklan.

Dalam program kerja ku, aku akan membuat semacam seminar atau mungkin workshop tentang wirausaha yang terbuka untuk mahasiswa FE. Pembicaranya? Aku punya banyak chanel sekarang. Siapa lagi kalau bukan pelanggan hardcase ku yang sembilan puluh persennya adalah seorang wirausahawan. Mereka semua adalah relasi Mas Rizal. Kalau perlu ntar Mas Rizal yang aku undang. Hahaha. Lucu ngebayanginnya.

Oke. Skip dulu masalah BEM. Baik materi maupun mental aku sudah punya seratus sepuluh persen kesiapan. Kita beralih ke Gita. Setelah tindakan jahil ku malam itu, atau tepatnya seminggu lalu, sikapnya ternyata masih sama. Masih tetap sombong dan angkuh. Pilih-pilih teman. Hanya mau bergaul dengan teman yang menurutnya satu level.

Hanya, bedanya dia seperti menjaga jarak dengan ku. Pasti, pasti dia takut. Kalau waktu itu dia pernah melabrak ku, sekarang mungkin dia akan berfikir dua kali. Tapi aku tetap waspada. Naluri ku mengatakan seorang Gita yang hatinya sudah keras seperti itu pasti tidak akan tinggal diam setelah perbuatan ku malam itu. Cepat atau lambat, dia pasti akan membalas ku. Aku hanya tidak tau kapan dan bagaimana dia akan melakukannya.

Sekarang kita tinggalkan Gita, kembali lagi ke hardcase ku. Setelah diberi mandat untuk menjalankan usaha ini, aku jadi semakin tertarik dengan dunia usaha. Ternyata seru dan menarik. Aku menyesal kenapa tidak dari SMA dulu belajarnya, dalam artian praktek langsung. Aku dulu kebanyakan main, selain males juga. Kalau ga main PS di rental sepulang sekolah, ya paling tidur. Untungnya nilai-nilai ku lumayan bagus dan bisa lulus.

***

Pecel lele, Nasi goreng, Soto ayam, balik ke pecel lele lagi. Itu lah menu makan malam ku selama seminggu ini. Efek Mba Endang yang belum balik, terpaksa akh harus beli makan untuk makan malam. Sama seperti sekarang, aku sedang menunggu pesanan nasi goreng ku jadi. Untungnya di daerah ini, banyak penjaja makanan kalau malam. Jadi tidak perlu jau-jauh untuk beli makanan. Cukup jalan kaki.

Mba Endang dan keluarga kecilnya sekarang sudah di perjalanan. Berarti besok makan enak lagi. Maksutnya di sini bukan makan mewah lho ya. Tapi makan masakan rumahan yang rasanya ngalahin masakan restoran mewah. Menunya tetep, sederhana. Sederhana itu memang indah.

Setengah jam yang lalu Mba Endang mengabari kalau sudah sampai tol Cikampek. Sudah deket berarti.Tol Cikampek deket? Iya, kalau dibandingin sama Jogja ya jauh lebih dekat. Lagi pula kebanyakan orang jawa suka begitu. Ada yang bilang dekatnya orang jawa itu lewatin bukit dulu. Hahaha. Gimana jauhnya ya?

Malam ini aku sudah tidak ada kerjaan lagi. Semua sudah rapi. Tinggal kirim besok. Ada empat hardcase. Dan, aku akan mengirimnya menggunakan motor. Motor Mas Rizal. Oiya, sekarang malam minggu ya? Ah, malam minggu kemarin aku lagi kentjan sama Diah. Sekarang, sendiri lagi. Nge jomblo lagi. Sms aja ah, kangen.

To: Diah Nawang Wulan said:
Heiii cewek…lagi apa? Kangen deh…

Begitulah isi sms ku yang setelah aku baca malah jadi agak geli aku. Hahaha. Bodoh lah. Tidak lama kemudian pesanan nasi goreng ku sudah jadi tapi belum ada balasan dari Diah. Ya sudah langsung pulang saja, menikmati nasi goreng, dalam kesendirian. Nasib.

***

Sampai di rumah aku langsung mengambil sendok ke dalam rumah tapi tidak langsung memakannya. Aku berencana menikmati nasi goreng ku di halaman samping. Sekilas tentang halaman samping ini, ukurannya memanjang sepanjang badan rumah, sekitar enam belas meter dengan lebar sekitar empat meter. Di bagian belakangnya dipasang semacam kanopi dengan atap genteng metallic. Sedangkan tiang-tiangnya terbuat dari bambu besar yang diikat dengan tali sabut warna hitam.

Ukurannya empat kali lima meter. Full dari tembok rumah sampai ke pagar samping. Sedangkan sisannya lagi, atau bagian yang tidak tertutup kanopi, dijadikan taman dengan beberapa macam bunga yang tumbuh di sana. Dari teras depan ke area yang tertutup kanopi ini dibuat semacam jalan setapak dari batu alam sebagai akses. Dan di ujung tembok depan ada sebuah kolam kecil yang di dalamnya hidup beberapa ikan mas.

Di halaman samping ini, atau area yang tertutup kanopi ini, atau yang biasa kami sebut sebagai ‘kantor’ ini fasilitasnya cukup lengkap. Untuk ukuran pekerja ya. TV ada, meski ukurannya cuma empat belas inch dan jadul. Tapi lumayan lah buat temen kerja. Selain TV juga ada sebuah Radio, jadul juga, plus speaker active. Di kantor ini ada sebuah lemari kayu tua yang digunakan sebagai tempat menyimpan peralatan kerja. Lalu sebuah meja, tua juga, digunakan untuk tempat mengerjakan hardcase nya. Mulai dari memotong bahan-bahan bakunya, merangkainya, hingga finishing. Semua dikerjakan di tempat ini. Semuanya serba tua.

Kembali ke nasi goreng yang aku beli tadi, baru aku mau menyuap untuk yang pertama kalinya, perhatian ku teralihkan pada notifikasi sms di hp ku yang baru saja berbunyi. Diah nih pikir ku. Langsung aku membukanya.

From: Nur Riski Handayani said:
Gimana persiapan pidatonya? Anteng bener, hehe…

Kiki? Tumben-tumbenan nih sms iseng gini. Lagi ga ada kerjaan apa ya? Balas ah.

To: Nur Riski Handayani said:
Pidato? Kaya caleg aja, hahaha. Ada apaan Ki?

Balas ku dengan sedikit bercanda. Tidak lama kemudian datang balesan darinya.

From: Nur Riski Handayani said:
Emangnya mau sms doang harus ada maksut dan tujuannya ya? hmm…

Langsung ku kirim balasan lagi.

To: Nur Riski Handayani said:
Ya enggak lah, hehehe. Kirain ada yang penting gitu.

Sms terakhir yang aku kirim ke dia, sekitar lima belas menit yang lalu. Dan tidak ada balasan lagi dari nya. Nih anak, kadang suka aneh, bin misterius. Aku melanjutkan makan ku. Sudah hampir habis. Setelah nasi goreng ku habis, aku lalu meraih remote TV dan memindahkan saluran ke stasiun tv swasta yang menyiarkan acara bola. Liga inggris. Dan malam ini yang main adalah, Arsenal. Oke, untuk bagian ini aku tidak akan bercerita banyak. Karena aku akan fokus menontonnya.

***

From: Mba Endang said:
Buka gerbang Ian, kita udah deket

Mba Endang mengabari ku kalau mereka sudah dekat. Tanpa pikir panjang aku langsung berjalan ke depan dan membukakan gerbang untuk mereka. Dan benar, sepuluh menit kemudian sebuah mobil setengah tuah memasuki halaman depan rumah. Aku lalu mendekat. Kali aja ada barang bawaan yang perlu aku angkat. Selain pengen segera ketemu dengan si lucu dan gemesin Tiara. Tapi sayang, ternyata Tiara tidur dalam pelukan Mba Endang, yang setelah turun dari mobil langsung menggendongnya masuk ke dalam rumah. Aku sendiri lalu mencium tangan Mas Rizal.

“Bantu bawaim barang Ian,” ucapnya minta tolong.

“Siaaap.”

Aku lalu beralih ke bagian belakang mobil dan membuka pintu bagasi. Ada tiga tas besar. Dua ku bawa langsung dan yang satu dibawa sendiri oleh mas Rizal.

“Rumah aman Ian?” tanya mas Rizal begitu kami tiba di ruang tengah. Mba Endang masih di kamar Tiara. Tapi tidak lama kemudian dia keluar dan aku mencium tangannya.

“Aman Mas, terkendali. Ibuk gimana mba?” tanya ku ke Mba Endang.

“Udah bener-bener sehat, udah beraktifitas kaya biasanya,” jelas Mba Endang.

“Alhamdulillah,” balas ku lega. Terima kasih ya Allah. Engkau telah kembalikan kesehatan orang tua ku.

“Ada air panas ga Ian? Bikin teh manis dong, hehe,” perintah Mas Rizal. Tentu saja aku langsung menyanggupinya. Dia rebahan di sofa ruang tamu. Mba Endang sendiri langsung masuk ke kamarnya, mungkin akan langsung mandi.

“Yang acara di kampus mu itu apa Ian? BEM ya? Gimana jadinya?” tanya mas Rizal dari ruang tengah. Aku sendiri sekarang sudah di dapur untuk masak air, biar mateng.

“Lolos mas ke seleksi berikutnya.”

“Owh, sukur deh. Kapan itu?”

“Senen besok mas.”

“Mang seleksinya apa lagi?”

“Ehmm…bikin kaya semacam program kerja gitu untuk rencana satu tahun ke depan.”

“Halah, ribet amat!”

“Ya namanya juga organisasi, hehe.”

“Tapi emang kamu bisa bagi waktu? Kuliah mu, trus hardcase?”

“Ya dicoba aja dulu, ga ada ruginya mas berorganisasi tuh. Justru untungnya banyak. Jadi punya banyak kenalan baru, teman baru, bukannya mas Rizal yang ajarin begitu?”

“Iya sih, tapi takut kamunya ga bisa atur waktu aja.”

“Insyaallah bisa mas.”

“Ya mudah-mudahan, trus hardcase gimana?”

“Apanya gimana?”

“Ada orderan ga?”

“Ada tuh empat biji punya pak James.”

“Empat doang ya? Lagi sepi nih kayanya ya akhir-akhir ini?”

“Iya mas, sepi. Tapi ya lumayan lah tiap minggu lima hardcase mah ada aja.”

“Iya, tetap harus bersyukur, berapapun banyaknya.”

“Yoi, nih tehnya,” aku memberikan secangkir teh manis panas untuk sang kakak ipar yang selalu menginspirasi ku.

“Trus mau di kirim kapan tuh hardcase?”

“Besok paling, udah rapi kok.”

“Owh, ya sudah. Ati-ati besok ngirimnya.”

“Siiip…,” balas ku.

Kami berdua lalu menonton tv bareng, diselingin dengan obrolan-obrolan ringan. Sedangkan Mba Endang sendiri masih belum selesai mandinya. Biasalah cewek, mandinya kadang seabad. Bingung aku, kenapa bisa selama itu? Tapi ya sudahlah, biarkan saja.

***

“Kamu yakin mau ngirim itu pakai motor? Sore ini?” tanya mba Endang saat aku masih sibuk mengikat empat hardcase ukuran sedang langsung di jok belakang motor.

“Kenapa emangnya?” tanya ku balik.

“Ya gapapa, ati-ati aja yang penting!” pesan mba Endang.

“Wuaaaaa tinggi bangeeet!” teriak Tiara yang tiba-tiba muncul dan memperhatikan tumpukan hardcase berbentuk box itu di jok belakang motor.

“Hehehe, iya tinggi, lebih tinggi dari Tiara ya,” balas ku sambil tersenyum dan mengusap rambut kriwil nya.

“He’eh. Itu mau dibawa kemana om?” tanya nya tiba-tiba. Wajahnya masih dengan mimik takjub dan kagum. Lucu. Dia yang rese dan ngeselin ini ternyata liat tumpukan box aja udah seneng.

“Ehmm…ke sono, tempat nya Pak James”.

“Pak James siapa?” tanya nya lagi.

“Ya…yang beli kotak ini,” jawab ku menjelaskan.

“Ooo…gitu…” balas nya sambil manggut manggut sambil seperti memikirkan sesuatu. Tapi entah apa yang ada dipikirannya, aku juga tidak mau menanyakannya karena takut akan bertambah panjang. Dia kan ceriwis. Jadi aku mending diam saja.

“Udah yuk masuk, om Ian nya lagi sibuk,” ajak mba Endang ke Tiara. Sepertinya dia kuatir Tiara tiba-tiba pengen ikut aku. Bukannya ga boleh, tapi pasti akan ribet. Mereka berdua pun masuk. Aku kembali fokus mengikat hardcase ini lebih kuat lagi. Sebagai antisipasi. Sesuai dengan hukum Fisika yang pernah kupelajari, dimana momentum benda yang bergerak akan berbanding lurus dengan ‘masa’ nya. Artinya semakin besar masa benda, maka semakin besar pula momentum yang dihasilkan. Hubungannya dengan bagaimana menciptakan inovasi usaha? Tidak ada. Ga penting juga. Yang penting sekarang adalah waktunya ngirim ini hardcase dan terima bayarannya.

***

Aku sampai di daerah Cipete sore ini pas banget dengan berkumandangnya adzan magrib. Suasana komplek yang sangat elit ini sangat-sangat sepi. Beberapa kali aku pergi ke tempat ini selalu begitu. Seperti tidak ada interaksi sama sekali antara masing-masing rumah. Individual banget. Sempat aku membayangkan bagaimana rasanya punya rumah sebesar dan semewah ini. Enak kali ya. Pasti nyaman. Tapi setelah dipikir-pikir sepertinya ga enak. Mana enak tinggal di lingkungan yang individualis seperti ini. Tidak ada interaksi sosial. Tapi ya sudah lah, belum tentu juga aku bisa membelinya. Hahaha.

Aku sudah hampir sampai. Kujalankan motor ku dengan pelan sambil tengok kiri dan kanan Meskipun sudah beberapa kali ke sini tapi aku masih belum hafal banget yang mana rumahnya. Lalu tiba-tiba sebuah mobil berwarna hitam dengan kaca gelap memepet motor ku hingga ketepian jalan. Awalnya motor yang aku naiki ini hanya oleng. Namun karena terus dipepet akhirnya aku menabrak trotoar jalanan dan…

‘BRAAKK!!’

Aku jatuh dan terperosok ke trotoar. Aku masih belum sepenuhnya sadar dengan apa yang terjadi. Badan ku tertimpa motor beserta beban yang aku bawa. Aku masih agak kesulitan untuk bangun. Lalu dari mobil yang memepet ku tadi keluar empat orang menggunakan penutup wajah menghampiri ku.

Awalnya aku pikir mereka akan menolong ku. Tapi ternyata aku salah. Setelah motor ku di angkat, bukannya di setandarkan tapi justru di banting ke sisi yang lain. Aduh…makin ringsek aja tuh hardcase.

“Eh, apa-apaan nih?” reaksi ku melihat perbuatan mereka. Tidak ada jawaban. Yang ada justru kerah polo shirt ku ditarik oleh salah seorang dari mereka.

‘BUGH’

Sebuah tinju keras telak mengenai pipi kanan ku hingga membuat ku terpelanting dan terjatuh lagi. Lagi-lagi belum sempat membela diri atau membuat sebuah pertahanan, bertubi-tubi tendangan dari mereka berempat mendarat di tubuh ku.

‘BUGH’ ‘BUGH’ ‘BUGH’ ‘BUGH’ ‘BUGH’ ‘BUGH’ ‘BUGH’ ‘BUGH’ ‘BUGH’ ‘BUGH’ ‘BUGH’ ‘BUGH’

Tidak mungkin aku bisa melawan mereka semua dengan posisi terdesak seperti ini. Aku hanya bisa meringkuk. Memejamkan mata. Melindungi kepala ku dengan kedua tangan ku. Awalnya sangat sakit. Sakit sekali. Lalu, lambat laun aku mulai tidak merasakan apa-apa. Tubub ku sudah seperti mati rasa. Bahkan pandangan ku pun mulai kabur saat aku melihat salah satu dari mereka melepas ikatan hardcase di motor ku lalu membanting hardcasenya ke segala arah. Menginjaknya. Menghancurkannya.

Setelah puas menjadikan ku bola, keempat orang tadi meninggalkan ku begitu saja. Aku masih meringkuk dengan posisi miring mengarah ke jalan. Kepala ku tergeletak di trotoar jalan. Badan ku lemas, tidak bisa digerakan. Pandangan ku mulai buram. Makin lama makin gelap. Hingga ketika hampir benar-benar gelap, dari arah berlawanan muncul sebuah mobil yang tidak asing.

Mobil itu berjalan agak lambat, dan semakin melambat. Hingga tepat di depan ku, tapi di seberang jala, mobil itu berhenti. Kaca mobil yang super gelap itu lalu terbuka. Ternyata seorang wanita. Tidak terlalu jelas, tapi aku cukup mengenalinya meskipun pandangannya lurus kedepan dengan angkuhnya, jangankan menolong ku, menengok pun tidak.

Momen ini tidak berlangsung lama. Setelah memberikan sebuah senyum jahat dan penuh dengan kepuasan, perlahan kaca mobil itu tertutup kembali, dan mobil pun berlalu. Dan saat itu juga berbarengan dengan pandangan ku yang gelap total. Aku tidak bisa melihat apa apa. Aku hanya merasakan tubuh ku seolah melayang-layang. Namun aku masih tidak bisa menggerakkannya. Dan semuanya berubah menjadi gelap total seketika.

***

Hal pertama yang aku rasakan sekarang adalah, nyeri. Nyeri di sekujur tubuh ku. Bahkan untuk bernafas pun terasa sesak di dada ku. Semua tulang-tulang ku rasanya ngilu. Mungkin ada beberapa bagian yang retak. Aku tidak tau, yang pasti semuanya terasa sangat nyeri.

“Arrggghh…,” aku mencoba menggerakan anggota tubuh ku yang lain tapi sakit luar biasa yang aku rasakan.

“Ian? Ian, kamu udah sadar?” tanya seorang wanita.

“Arrggghh…,” lagi-lagi aku hanya bisa mengerang menahan sakit.

“Sebentar, aku panggil dokter ya,” ucapnya lalu meninggalkan ku.

“Aku di mana?” batin ku.

Tidak lama kemudian muncul seorang pria paruh baya dan wanita tadi. Kiki? Bagaimana bisa dia ada disini? Dan aku? Ah iya, malam itu. Lalu siapa yang membawa ku ke sini ya?

“Ki…,” ucap ku, tapi kemudian dipotong oleh si pria yang kemungkinan adalah dokter yang menangani ku. Kiki hanya tersenyum sambil mengisyaratkan kepada ku untuk diam dulu.

“Diperiksa dulu ya,” potong si dokter lalu melakukan pemeriksaan di beberapa titik tubuh ku. Selama beberapa saat. Aku tidak paham apa yang dilakukan oleh pria ini. Yang pasti beberapa bagian tubuh ku mulai dari kaki hingga kepala di periksanya.

“Semuanya normal, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, alhamdulillah. Hanya perlu waktu untuk penyembuhan saja, tidak ada syaraf atau apapun yang rusak, semuanya normal,” ucap si dokter. Kiki nampak lega sekali mendengarnya. Aku memandangnya dengan sayu.

“Allah sudah kasih kamu mukjizat, bersyukurlah. Setelah ini suster akan kasih obat dan periksa tensi darah ya, saya tinggal dulu,” lanjut si dokter lalu dia meninggalkan ruangan ini.

“I-iya dok, makasih,” balas ku.

“Makasih yah dok,” ucap Kiki lembut.

“Arrggghh…,” aku mencoba menggerakan tubuh ku lagi tapi tidak bisa. Sakit sekali. Tulang-tulang ku seperti tidak ada daya untuk menyangga tinggi tubuh ku. Aku merasa seperti tubuh yang terbuat dari bahan agar-agar. Lentur.

“Jangan banyak gerak dulu,” perintah Kiki lalu mendekat ke arah ku dan memegang lengan kanan ku. Agak nyeri namun cukup menenangkan. Telapak tangannya sangat halus. Usapannya pun juga sangat lembut. Aku bisa merasakan ketulusan di dalam sentuhannya itu.

“Arrggghh…Ki, gimana aku bisa di sini?”

“Aku juga ndak tau, Mas Rizal yang ngabarin tadi pagi kalau kamu dapet musibah ini, hiks…” balasnya lesu, hampir menangis. Matanya mendadak memerah.

“Ki? Kok nangis?” tanya ku bingung.

“Gimana ndak nangis liat kondisi kamu seperti ini?”

“Aku kenapa? Aku gapapa kali hahahaaarrggghh…,” sial. Aku tertawa terlalu terbahak hingga membuat badan ku berguncang dan ternyata rasanya sakit sekali. Untuk tertawa aja nyeri banget rasanya.

“Kaya gitu masih bilang gapapa? hikss…” ucapnya lagi, dan mengalir lah air mata itu membasahi pipinya yang halus. Pipi putih yang suci itu kini telah ternoda oleh air matanya sendiri. Dan itu semua karena aku.

“Hehehe, seenggaknya dokter tadi bilang ndak ada yang ndak normal kan?”

“Ka-kamu itu bener-bener ya…hiks…hikss…” ucapnya gemas sambil sedikit meremas lengan ku yang sontak membuat ku kesakitan. Aku sedikit meringis.

“Maaf…” ucapnya pelan.

“Udah, udah, jangan nangis, masa aku sadar kamu malah nangis? Eh iya, ini hari apa?” tanya ku tiba-tiba teringat dengan BEM.

“Senin…”

“Berarti…”

“Dari semalem kamu ndak sadar nya.”

“Yaaah…”

“Kenapa?”

“Hari ini kan seleksi BEM Ki,” jawab ku lesu.

“Hiiiih, kondisi begini masih mikirin BEM,” omelnya gemas.

“Ya kan udah niat dari awal.”

“BEM aja terooos…”

“Hehehe. Oiya, lha mba Endang mana? Mas Rizal? Dimana mereka?” tanya ku heran karena tidak melihat mereka yang merupakan keluarga ku sendiri tidak ada di sini. Justru malah ada Kiki yang hanya seorang teman kuliah yang menemani ku.

“Mas Rizal lagi pulang sebentar mau ambil baju ganti katanya. Kalau mba Endang lagi keluar. Tadi Tiara rewel minta jajan. Kamu dititipin ke aku,” jawabnya.

“Sekarang jam berapa?”

“Lima sore.”

“Owh, oiya kamu tadi bilang kalau Mas Rizal yang ngabarin kamu, kok Mas Rizal bisa tau kamu?”

“Sebenernya bukan ke aku langsung, tapi lewat Doni, lihat kontak HP kamu kali.”

“Doni nya sekarang mana?”

“Doni hari ini ndak masuk, jadi dia ngabarin aku, selesai kuliah tadi aku langsung kesini.”

“Owh…” balas ku singkat. Setelah itu bertepatan dengan masuknya seorang suster dengan perlengkapan perangnya. Mau diapakan saya sus?

Pertama dia memeriksa tensi darah ku. Aku terpaksa harus menahan rasa nyeri di lengan ku karena proses pengukuran tensi itu. Lalu menanyai apa yang aku rasakan. Ya pasti sakit lah, gimana sih? Kemudian mengganti infuse yang sudah hampir habis plus menyuntikkannya sebuah cairan entah apa namanya, sesuatu berwarna merah hingga membuat cairan di infuse menjadi warna pink. Lucu pikir ku.

Setelah selesai dengan urusannya, si suster pamit dan pergi. Sebelumnya dia berpesan kalau makan malam sekitar jam enam an, sekalian minum obat.

“Makasih ya sus,” ucap Kiki ramah.

“Sama-sama,” balas suster sambil tersenyum.

Kiki lalu mendekat. Duduk di samping kanan ranjang. Matanya menatap ku. Entah apa yang dipikirkannya, tapi…cantik.

“Ian?”

“Ya Ki?”

“Kamu tau pelakunya siapa?” tanya nya tiba-tiba.

“Eh?”

“Kamu tau ndak siapa pelakunya?”

“Enggak,” jawab ku berbohong. “Kenapa Ki?” aku bertanya balik.

“Gapapa, hanya saja firasat ku…”

“Jangan su’udzon Ki!”

“Iya, maaf…!”

“Udah kejadian juga kan? Ndak ada gunanya berprasangka buruk. Yang penting aku ndak apa-apa kan sekarang?”

“I-iya,” jawabnya tersenyum.

Maaf Ki aku berbohong pada mu. Ini semua sudah masuk dalam rencana ku meskipun aku hampir kehilangan nyawa ku. Aku tidak mengira dia bisa berbuat sampai senekad ini. Aku membatin sambil menatap wajahnya yang masih ada rasa kekhawatiran. Menatap bola matanya yang lucu. Bola mata yang indah. Bola mata yang bisa memberikan keteduhan bagi siapa pun yang melihatnya. Dan aku beru merasakannya sekarang.

“Kenapa?” Kiki seperti salah tingkah.

“Ndak apa-apa,” balas ku sambil tersenyum.

“Hiiih, aneh!” balas nya sedikit sewot. Sedikit tersenyum lalu membuang muka seperti malu dengan sesuatu.

“Hehe, Ki…”

“Ya?” jawabnya lalu menatap ke arah ku lagi. Lagi-lagi bola mata indah itu menatap kearah ku. Bola mata indah yang memberikan kedamaian bagi siapapun yang di lihat oleh nya.

“Kalau boleh, tolong panggilkan Mba Endang ya,” pinta ku.

“Oke, bentar yah,” ucap Kiki dengan tersenyum lalu meninggalkan ku.

Sekarang aku sendiri di ruang ini. Mata ku terpejam. Mengingat kembali peristiwa semalam. Benar-benar nekad anak itu. Haha, luar biasa. Baiklah kalau begitu, aku harus lebih waspada sekarang. Segala sesuatu bisa saja terjadi dan menimpa ku. Ternyata aku terlalu percaya diri dan meremehkannya.

[Bersambung]

Daftar Part