web hit counter

Milf At School Part 9

0
662

Milf At School Part 9

Di saat ibu-ibu lain sedang sibuk ngerumpi sambil menunggui anak mereka, dia duduk mendekatiku. Pinggangnya bergeser, semakin dekat, sampai dadanya yang kenyal menempel di bahuku. Deg! Jantungku mulai berdetak cepat. Dia mau apa? Cecil tersenyum saat kupandangi, lalu bibirnya merapat dan berbisik di telinga.
“Pak Bakri… aku lagi kentang nih! Tadi suamiku keluar duluan, sedangkan aku masih belum klimaks sama sekali… uhh!” gumamnya ditambah dengan desah menggoda. Aku merasakan ada yang mengusap-usap di bagian selangkangan, kemudian meremasnya. Saat kulihat ke bawah, ternyata tangan kiri Cecil telah hinggap dan meremasi batang kejantananku. Yang tentu saja membuat daging yang ada disitu menjadi panjang mengeras.
“Ehh, Mbak! J-jangan!” aku sok jual mahal.
“Ayolah, Pak. Masak Bapak nggak kasihan sama aku?” katanya, to-the-point.
“Mbak mau apa?” bisikku, takut didengar orang lain.
“Yaa, gitu deh. Hehehe…” Cecil tertawa.
“Gitu gimana, Mbak?” aku pura-pura tolol.
“Bantu aku, Pak!” dia mendesah. “Lumayan buat pemanasan di pagi hari. Kalau nggak dituntaskan, aku bisa pusing seharian. Tolong ya, Pak?” pinta Cecil memelas, dengan wajah dibuat sebinal dan sesayu mungkin. Aku menoleh, melihat keadaan sekitar. Setelah kurasa aman, senyum mengembang menghiasi mukaku yang sekarang terlihat mesum. “Yuk!” kataku semangat sambil menggandeng tangannya menuju toilet sekolah. Karena letaknya agak sedikit di belakang, sepertinya itu adalah tempat yang ideal untuk melakukannya. Di salah satu bilik, setelah menutup dan mengunci pintunya, Cecil lekas menurunkan celana panjang ketat yang dipakainya sampai sebatas lutut. Kemudian disusul dengan cd-nya. Terlihat bagian dalam cd itu telah begitu basah. Lalu dia menungging, dengan muka menghadap tembok dan badan yang bersandar pada tembok juga. Makin terlihat lubang memeknya yang berwarna merah, merekah menggoda. Memek itu sudah sedemikian basah, bahkan sampai cairannya terlihat meleleh keluar dari celah lubangnya yang mungil. Kalau kemarin aku cuma bisa menjilatinya, saat ini aku akan merasakan jepitan dan himpitannya. Sambil mengusap-usap bulatan bokong Cecil, lekas aku membuka celana. Kontolku yang sudah tegang semenjak diremas-remas tadi, langsung berdiri dengan gagahnya, seperti merasa lega setelah dikurung di dalam cd.
“Basah sekali, Mbak.” kataku iseng sambil membelai mesra lipatan kemaluannya. Kuusap-usap dengan jari tengah, terus turun naik di seputaran klitorisnya yang mungil. Cecil mendesah pelan. “Ahh, Pak! Cepat masukkan! Atau kita batal aja!” ancamnya, nadanya terdengar tidak meyakinkan. Aku makin menggodanya dengan memasukkan jari tengah sebatas kuku ke dalam liang memeknya. Kugoyang-goyang jari tersebut, lalu kuteruskan menekan hingga jari tengahku masuk semuanya. Kulihat raut muka Cecil yang makin binal, nafasnya juga mulai terengah-engah. Aku yang menikmati momen itu, ingin menambah panas suasana. Segera kukocok memek basah Cecil pelan, lalu makin lama makin cepat, dan makin kutambah kecepatan kocokanku begitu dia mendesah.
“Ahh… hhh… iya begitu, Pak! Enak sekali! Ahh” rintih Cecil bahagia, suaranya terdengar semakin binal.
“Katanya tadi batal?” kugoda sambil terus kukocok memeknya dengan cepat.
“Enggak! J-jangan! T-teruskan, Pak! Ughh… kumohon!”
Aku melihat jam tangan, hampir jam sepuluh. Sebentar lagi sekolah bubar, ini harus diselesaikan secepatnya! Maka kucabut jari tengahku dari memek Cecil, lalu aku mulai menempatkan batang kontolku diantara celah memeknya. Kugesek-gesekkan batang kontolku hingga rasa geli mulai merayap menjangkiti kami berdua.
“Uhh, Pak… dari tadi menggoda terus! Ayo cepat masukkan!” rajuk Cecil manja. Pinggulnya yang sintal digoyang-goyangkan untuk menggodaku.
“Sabar, Mbak. ini dia!”
Setelah kurasa berada pada posisi yang tepat, aku mulai menekan batang kontolku. Dengan satu dorongan kuat, benda panjang itu melesak masuk ke dalam memek Cecil. Terasa begitu mulus dan lancar. Penuh kehangatan dinding memek Cecil menyambut kehadiran penisku. Benda itu meremas-remas ringan, berkedut-kedut pelan, benar-benar menambah nikmat.
“Uhh, Mbak! Memekmu bisa memijit. Enak!” kataku memuji.
“Ah iya! Memang begitu.” Dia menggelinjang begitu kuulurkan tangan untuk menjamah bulatan payudaranya yang menggantung indah. “Genjot, Pak. Jangan diam saja!”
Aku mulai memompa memek Cecil dengan kecepatan standar, biar tidak terlalu bernafsu yang nantinya malah membuatku jadi cepat klimaks.
“Pak, uhh… Enak! Enak! Ahh, terus genjot tubuhku, Pak! Ahhh, Pak Bakri memang pintar! Lebih cepat, Pak, biar lebih enak!”
“Tapi nanti jadi cepat keluar, Mbak.” sahutku pelan. Kumasukkan tangan ke balik bajunya untuk memegang payudara Cecil secara langsung. Rasanya empuk dan kenyal saat kuremas, tanganku tidak dapat menangkup semuanya karena saking besarnya benda bulat itu.
“Nggak apa-apa, Pak. Ini udah enak kok!” Cecil menggelinjang. “Ahh… ayo cepetan, pak! Nanti keburu ada yang melihat!” Aku mulai mempercepat genjotan di memek Cecil, sambil meremasi pantat sekalnya. Sesekali juga sedikit kutampar hingga meninggalkan bekas merah di permukaannya yang putih mulus. Sekilas kudengar di luar mulai terdengar suara gaduh, pertanda murid-murid sudah pada pulang. Hal itu membuatku makin mempercepat genjotan, bahkan sangat cepat sampai membuat desahan
Cecil berubah menjadi erangan tertahan. Sensasi takut ketahuan dan juga pijatan memek Cecil membuatku berada pada tingkat nafsu tertinggi, yang ber-efek pada makin kasar dan cepatnya genjotan kontolku. Aku mulai merasakan ada yang mau keluar dari ujung kontol, begitupun dengan Cecil. Remasan-remasan dinding memeknya semakin intens, dan erangan tertahannya makin lama semakin sulit dikontrol.
“Aahh… terus genjot tubuhku, Pak! Ughh, kontol Bapak memang enak! Sanggup bikin memekku puas!” erang Cecil liar. Pantatnya mengimbangi genjotanku, membuat sensasi nikmat yang makin menjadi-jadi.
“Ah iya, memek Mbak juga enak! Sempit dan menggigit!” balasku tak mau kalah.
“Aahh… a-aku mau keluar, Pak!”
“S-saya juga, Mbak. Di dalam nggak apa-apa ya?” tanyaku meyakinkan.
“Terserah, Pak. Di dalam juga boleh, lebih enak malah!”
Dengan satu hentakan kuat, aku menancapkan kontol dalam-dalam ke liang memek Cecil. Sambil meremas kuat pantatnya, aku menikmati detik demi detik spermaku yang muncrat tidak karuan di dalam celah sempit itu. Dan Cecil pun sepertinya juga klimaks.
“Oohhh… nghhhh… enak sekali, Pak! Hhh… hhh… hhh…” erangnya terengah-engah.
Aku langsung mencabut kontolku dan memasukkannya kembali ke dalam cd, lalu memakai celanaku cepat-cepat. Sedangkan Cecil yang masih diambang kenikmatan, hanya bisa berdiri bersandar pada dinding toilet dengan celana yang masih melorot selutut. Pantat dan pahanya terlihat mulus sekali. Celah memeknya nampak basah oleh cairan pejuhku. Refleks aku menghampiri lalu membantu menaikkan cd dan celana panjangnya, juga merapikan kembali bajunya yang sedikit kusut.
“Mbak, saya keluar duluan ya?” aku berbisik.
Cecil mengangguk sambil berusaha merapikan rambut. “Terima kasih, Pak. Nikmat sekali. Kapan-kapan lagi, ya?” katanya tersenyum lemas.
“Iya. Mbak. Tentu. Saya juga enak tadi,”
Aku pun keluar dari kamar mandi dan dengan gontai menjumpai Rangga yang bingung mencari. Bocah kecil itu langsung menghambur senang begitu melihatku. “Sudah pulang?” aku bertanya. Rangga mengangguk. “Tadi disuruh bu Guru mewarnai ini.“ Dia menunjukkan kertas gambar yang dicoret-coret sembarangan. Aku hanya tersenyum melihatnya. Di kejauhan, seorang perempuan berjilbab melambai kepadaku. “Pak Bakri, besok pulang sekolah bisa datang ke rumahku?” dia bertanya begitu aku mendekat.
“Memangnya ada acara apa, Mbak?”
Devita hanya tersenyum simpul. “Pokoknya Bapak ke rumah aja, nanti pasti akan tahu.” Sehabis berkata begitu, dia melangkah pergi meninggalkanku. Tanpa diberitahu pun, aku bisa dengan mudah menebak apa yang ia inginkan. Tapi itu untuk besok, karena sekarang aku memiliki janji temu lain yang tidak kalah nikmatnya. Sehabis mengantar Rangga pulang, aku mengayunkan langkah ke sebuah rumah. Letaknya tak jauh, hanya selisih dua gang. Tak sampai sepuluh menit, aku sudah sampai di sana. Nampak seseorang sudah menanti kehadiranku. Tanpa perlu mengetuk pintu, Devita mempersilakanku masuk.
“Kukira Pak Bakri nggak jadi datang,” katanya sambil mengerling nakal. Celana panjang yang tadi ia kenakan ke sekolah, kini digantikan oleh rok pendek setengah paha yang tentu akan mudah kusingkap. Bajunya tetap, kaos putih tipis tanpa lengan dengan hiasan tali di leher.
“Mana mungkin aku menyia-nyiakan tubuh semolek ini,” seruku sambil memeluk pinggangnya, lalu meraba bulatan payudaranya.
Devita menggiringku ke ruang tengah. “Bapak mau minum apa?”
“Jangan repot-repot!” seruku sambil mendorong tubuhnya agar rebah di sofa. “Saya cukup ini saja!”
Kusingkap kaos yang ia kenakan, dan Devita langsung menggelinjang begitu aku mulai menyusu di bulatan payudaranya yang sintal. Kuhisap putingnya satu demi satu, terasa kenyal dan nikmat sekali. Kupagut juga perutnya yang mulai sedikit gendut. Aku tahu, dia paling suka kalau dicium di daerah pusar.
“Ughhh,” Devita mengerang dan semakin terangsang. Desahannya membuatku penisku terasa kian kaku dan tegak di balik celana. Devita yang mengetahuinya segera menarik celana pendekku ke bawah. Tampak tak sabar, dia menarik keluar penisku dan mulai menjilatinya. Aku cukup surprise dengan kelakuannya itu karena kemarin, saat di rumah Cecil, dia seperti keberatan saat kusuruh menggarap batang. Jangankan menjilat, mencium saja dia ogah. Tapi hari ini terasa berbeda, Devita kelihatan sedikit liar dan ganas. Dan aku semakin kaget saat dia membuka mulut dan mengoral penisku! Devita mengemut batangku yang terbilang cukup besar dengan cepat dan penuh nafsu, seperti makan es krim batangan.
“Ahhh… aghhhh…” aku langsung merintih. Nikmat sekali rasanya, seperti melayang-layang di udara.
Devita terus mengemutnya dengan cepat dan panas, sampai-sampai aku harus menahan kepalanya agar tidak terlepas. ”Aaaahhh… ssshhs… Mbak, enak sekali! Ahhhhh…” aku semakin merintih keenakan.
Devita cuma tersenyum menanggapinya. Sambil mengocok penisku dengan tangan, dia berbisik. ”Puaskan aku, Pak. Suamiku sudah jarang menyentuh tubuhku! Mmmmpph…” dan kembali dia mengulum penisku. Aku yang sudah tak tahan, segera menarik tubuh sintalnya ke atas. Aku tidak mau moncrot di dalam mulutnya. Aku ingin menyetubuhi wanita cantik ini. Kami pun segera berpelukan satu sama lain. Devita menciumiku dengan sangat ganas, tak jarang dia menggigit kecil lidahku. Tanganku juga dibimbingnya naik ke dada. Rupanya dia ingin aku mempermainkan payudaranya yang besar itu. Langsung saja kupilin kedua puting susunya yang sudah tegak memerah. Devita menggelinjang dan merintih pelan. ”Oohhh… Pak! Enak sekali. Teruuus, Pak!”
Tanganku yang satu lagi mulai merambahi selangkangannya dan dia menyambut dengan merenggangkan kedua kakinya. “Ahh… terus, Pak!” desis Devita ketika jemariku mulai menyentuh liang kemaluannya. Aku dengan perlahan menyusuri lembah berbulu dimana di dalamnya terdapat bibir lembut yang lembab. “Ohhhh… Pak, lakukanlah! Cepat setubuhi aku!” desahnya saat mulai tak tahan menahan hasrat. Segera kuhentikan jilatan pada payudaranya dan mengatur posisi. Kutelentangkan tubuh montok Devita di atas sofa. Dengan mata sayu sedikit terpejam, dia terlihat pasrah. Kedua pahanya dibuka lebar-lebar, memperlihatkan liang vaginanya yang sudah becek dan basah, siap untuk menerima hujaman batang penisku. Devita merengkuh tubuh hitamku ketika perlahan batang penisku yang mengeras mulai menyusuri lubang memeknya.
“Akhhhh… enak, Pak!” desisnya manja. Tangannya menekan pinggulku agar segera menggarap tubuh sintalnya. Aku pun menekan, dan tanpa kesulitan, batangku amblas seluruhnya, masuk ke dalam liang vagina Devita yang terasa hangat dan empuk, menembus hingga ke pangkalnya yang terdalam.
”Oughhhhhsssss…” kami merintih berbarengan.
Sambil menciumi bibir dan payudaranya, aku pun mulai menggoyang. Kugerakkan pinggulku naik turun perlahan-lahan. Semakin lama semakin cepat. Juga semakin liar dan kasar. Sampai-sampai Devita harus mengimbangi dengan gerakan pinggulnya kalau tidak ingin kesakitan. Tapi sepertinya wanita itu menikmatinya. “Ayo, Pak. Genjot terusss! Ahhhhh..” desisnya, terlihat mulai hilang kendali merasakan nikmat yang kuberikan. Aku yang juga keenakan, menggerakkan pinggulku semakin cepat dan keras. Sesekali kusentakkan ke depan kuat-kuat hingga batang penisku tuntas masuk seluruhnya ke dalam lorong memeknya.
“Oh… Pak!” jerit Devita setiap kali aku melakukannya. Terasa batang penisku menyodok dasar lubang memeknya yang terdalam dengan sangat telak.
“Ahh… hhh… aduh! Aduduh! Ahh… a-aku mau keluar!” teriaknya tertahan, dia menggelinjang seolah seluruh tubuhnya dialiri listrik berkekuatan rendah yang membuatnya berdesir nikmat.
“I-iya, saya juga mau keluar, Mbak!” balasku sambil mempercepat genjotan kearah tubuh sintalnya. Tak berapa lama, terasa tubuh Devita menegang. Tangannya memelukku erat-erat, dia orgasme. Terasa cairan hangat menyiram ujung kontolku. Dan bersamaan dengan itu… aku pun menyemburkan cairan maniku ke dalam liang memeknya. Dengan berpeluh keringat, kami pun saling berpelukan mesra. Siang itu kami bercinta sampai tiga kali. Kami melakukannya di kamar mandi, di dapur, dan terakhir di ruang tamu. Devita tidak mau saat kuajak pindah ke kamar.
“Nanti suamiku curiga kalau spreiku lecek,” begitu dia berkata saat kutanya alasannya. Aku sih tak ingin memperpanjang, yang penting bisa menikmati tubuh sintalnya. Maka terus kugenjot dia sampai waktu asar tiba. Baru setelah itu aku pamit, takut dimarahi suaminya yang sebentar lagi akan pulang.

Bersambung…

Daftar Part