web hit counter

Nafsu Citra Part 26

0
400

Nafsu Citra Part 26

Kenakalan di Toilet Umum

Setibanya di toilet, Citra segera masuk kesalah satu bilik kamar mandi dan kemudian melepas celana dalamnya. Dan ketika ia mengamati celana dalamnya, benar, celana dalam itu penuh dengan gumpalan-gumpalan sperma.
“Pantes saja sperma Muklis tak tertampung di celana dalamku…. Wong banyak gini….” Batin Citra sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Buru-buru, Citra lalu meraih semprotan toilet kemudian membasuh cipratan-cipratan sperma Muklis yang ada divagina dan punggung pantatnya.
“Fiiiiuuuhhh… Hampir aja ketahuan….. Dasar pejuh sialaaaan….. Nggak pejuhnya… Nggak kontolnya… Nggak yang punya kontol… Semua selalu bikin repot…. Menyebalkan….” Gerutu Citra sambil terus membasuh vaginanya. “Tapi….Sebel-sebel enak sih… Hihihi….” Tambah Citra sambil terus mengusapi vaginanya dengan semburan air dingin toilet.

BRAK…

Ketika Citra sedang asyik-asyiknya membasuh vaginanya, tiba-tiba bilik pintu kamar mandinya terbuka dari luar. Dan betapa terkejutnya Citra, yang menyadari jika orang yang membuka pintu bilik kamar mandinya adalah seorang pria, dan 3 orang temannya.

“Heeeeehhhh Mas…. Punya Mata nggak…? Ini toilet cewek… ” Celetuk Citra ketus.
“Ehh…. Maaf mbak… Toilet cowoknya penuh… Jadi saya numpang kencing disini…” Kata salah satu pria yang didada seragam hitamnya ternyata bernama Rahman, seorang petugas keamanan Mall.

“Pssstttt.. Bener orangnya yang ini Yad…?” Tanya Rahman kepada Yadi, petugas penjaga counter yang ada di belakangnya dengan nada pelan.
“Iyak Man… Ini si Neng-Neng bunting… Yang tadi ngewe di kamar ganti ….” Bisik Yadi mengiyakan.
“Loohh… Kamu….?” Kaget Citra.
“Waaaaaah… Keliatannya…..Bakal seru nih… Hehehe….” Kekeh Kasep, petugas kebersihan Mall.
“Yo’i cuuiiyyy…. Bakal ada yang kedapetan rejeki montok nih…. Hihihi…” Sahut Banu, yang dari pakaiannya terlihat seperti petugas penjaga parkiran.

“Heeeehh… Ngapain kalian bisik-bisik….?” Tanya Citra ketus, “KELUAR NGGAK….! Ini bukan toilet cowok…!” Bentak Citra lagi.
“Wooow…. Yad… Ternyata Neng ini ganas juga ya….?” Celetuk Rahman, “Sssssttt…. Nggak usah teriak- teriak Neng cantik… Nanti suaranya habis loh….hehehe….” Kata Rahman, “Bunting-bunting ternyata kamu nakal juga ya…?”
“KELUAARR… !” Teriak Citra lagi, “Atau kalau nggak… Aku bakal TERIAK….!” Gertak Citra.
“Hehehe…. Teriak aja Neng…. Toh percuma… Nggak ada juga yang bakal denger….”Jawab Rahman sambil mengamit tangan Citra dan mengajak wanita hamil yang belum berpakaian kembali itu keluar dari bilik kamar mandinya yang sempit.
“Udah Man…. Kita udah aman kok….” Kata Kasep sambil mengunci pintu kamar mandi, “Nggak bakal ada yang ngeganggu kita… Hehehe….”

“Siiippp….” Kata Rahman sambil mengacungkan jempolnya pada Kasep , “Aku sudah tahu kok Neng… Perbuatanmu mesummu barusan dikamar ganti tadi…..” Tambah Rahman, “Sepertinya HOT banget….”
“Perbuatan apa…? Kamu salah orang Mas…” Jawab Citra acuh.
“Hahaha… Udaaaaah… Kamu nggak usah ngelak deh Neng… Mana ada orang bunting yang ngentotin adik iparnya dikamar ganti kalo bukan kamu Neng…? Hahaha…” Rahman tertawa sambil menunjukkan handphone Yadi yang terdapat banyak gambar-gambar dirinya sedang asyik menikmati persetubuhan kilatnya bersama Muklis.

“Nggg…. Itu….”
“Kenapa Neng….? Udah sadar….?” Tanya Rahman, “Bener khan itu kamu yang sedang dientotin ama adik iparmu…? Bener khan….?” Tambahnya lagi sambil mengusap janggut tipisnya.
“Waaaahhh… Ngentotin adik ipar…?” Celetuk Kasep, “Laporin aja ke suaminya Man… Mumpung tadi masih ada suaminya…. ”
“Iya…. Eh Neng… Tadi yang diluar barusan itu suamimu khan…?” Tanya Rahman lagi.
“Ehhh…. Jangan Mas….” Jawab Citra dengan wajah yang tiba-tiba panik.
“Hahaha… Makanya…. Turutin aja semua kemauan kami… ” Omel Banu.
“Ehhh…. Maaf Mas… Aku harus buru-buru ini… Aku harus cepet-cepet masuk kantor….” Elak Citra sambil buru-buru membetulkan dressnya dan melangkah kearah pintu keluar toilet.

Namun, belum juga wanita hamil nan cantik itu sempat melangkah, Rahman buru-buru menarik lengannya kembali.

“Kalo mau cepet-cepet masuk kantor… Harusnya tadi nggak ngentot dulu Neng… ” Kata Rahman yang terus memperlihatkan layar handphone milik Yadi yang berisikan gambar persetubuhan Citra dan Muklis beberapa saat lalu.
“Nggg….. ” Jawab Citra seolah kehabisan alasan.
“Emang dikantor ada apa sih…?” Tanya Banu, “Jangan-jangan… Bos kamu juga ngentotin kamu ya…?”
“Hahahaha… Perek juga ini cewe…” Kata Yadi.

“Udah Man… Sikat aja… ” Kata Kasep, yang dengan santai menurunkan resleting seragam kebersihannya hingga perut dan kemudian melucuti dirinya sendiri hingga telanjang. ” Aku udah nggak kuat lagi nih Man… Aku udah sange banget ngeliat Neng hamil ini…” Tambahnya lagi sambil mulai mengocok penisnya yang perlahan bangun dan menggeliat membesar.

“Kalian mau apa….?” Tanya Citra panik sambil melirik kearah penis Kasep yang makin terlihat begitu panjang dan keras. Penis itu begitu menyeramkan, potongan sunatnya terlihat tak beraturan, dengan urat-urat yang muncul secara acak disekujur batangnya. Rambut kemaluannya juga begitu panjang, tak beraturan, “Kalian mau memperkosaku ya…? Jangan Mas… Jangan….”

“Hehehe….Tenang saja cantik… ” Kata Kasep mencoba menenangkan Citra sambil terus mengocoki penisnya yang sudah tegang sempurna, “Kami tidak akan memperkosamu kok… Cumaaan… Hehehe…. Taulah Neeeng… ”

“Cumaan… Tolong bantu kita-kita donk Neng….” Jawab Rahman yang kemudian mengikuti apa yang Kasep lakukan, membuka resleting celananya dan mengeluarkan batang kelaminnya yang ternyata sudah begitu keras.

“Astaga Mas….” Kaget Citra sambil menutup mulutnya. “Besar banget….” Desah Citra ketika melihat pentungan hidup Rahman. Walau tak sepanjang penis Kasep, namun penis satpam itu terlihat jauh lebih gemuk dan besar dari milik suaminya. Begitu panjang dan cantik dengan kulit yang berwarna putih kekuningan. Bersih, tanpa urat dan rambut sedikitpun. Benar-benar halus mulus, mirip pentungan.

“Kenapa Neng….? Kaget ya ngeliat…….Kontol….? Hahaha….” Celetuk Rahman sambil menepuk-tepukkan batang penisnya ke tangannya, mirip seorang satpam yang sedang mempermainkan tongkat pentungannya.

“Kamu tinggal milih sih Neng… Mau aku bawa kekantor buat dijadikan berita…? Atau… Aku laporin ke suamimu…. Atau … Aku kasih hukuman karena kamu sudah bertindak asusila di tempat umum…?” Tanya Rahman sambil terus menepuk-tepukkan batang penisnya yang besar ke tangannya.
“Jangan Mas…. Jangan laporin aku kesuamiku…”

“Loooh…. Kenapa Neng…? Khan biar suamimu tahu kalo istrinya tuh….. Sebenernya suka kontol orang lain… Hahahaha….” Goda Yadi yang juga ikut-ikutan kedua rekannya, membuka seragam penjaga counternya hingga telanjang bulat. Mungkin karena gemuk, penis Yadi tak sepanjang kedua rekannya tadi, namun, memiliki diameter terbesar diantara mereka berempat.
“Eennnggg….. Jangan Mas……”

“Jadi gimana nih Neng….? Neng mau dihukum….? Atau gimana….?” Tanya Banu, pria terakhir yang juga dengan PDnya, ternyata sudah melucuti seragam parkirnya hingga telanjang bulat. Dan tanpa malu-malu mengocok penisnya yang sudah tegang dengan santai.
“Astaga…….” Pekik Citra ketika melihat penis Banu. Penis Banu memiliki bentuk yang unik. Batangnya sedang, tak begitu panjang, namun ukuran kepala penisnya begitu besar, malah sepertinya itu adalah kepala penis terbesar yang pernah Citra lihat selama ini, “Nggg…. Jangan Mas….”
“Udaaah… Neng mau ya mbantuin kami-kami….” Rayu Banu, “Pasti puas kok Neng… Dijamin….Hehehehe…” Tambahnya lagi sambil meremasi testis besarnya.

“Jadi…? Mau ya Neng… Bantuin kita-kita….?” Tanya Rahman sambil mengamit tangan Citra dan meletakkannya pada batang penisnya. Tangan mungil Citra terlihat begitu kecil jika dibandingkan dengan penis besar Rahman. Perlahan, satpam itu membimbing tangan Citra untuk segera bergerak naik turun, mengocoki batang penisnya.

“Nngggg……” Citra tak mampu menjawab apapun, ia hanya berpikir cara terbaik untuk dapat menghindar dari serangan keempat pria mesum ini. Namun, sekeras apapun usaha Citra, sepertinya tak ada cara apapun untuk dapat menghindar “Kepalang tanggung… Kalo udah basah nyebur aja sekalian….” Batinnya.

Dan tak lama kemudian citrapun menganggukkan kepalanya.

“Hahahahaha…pilihan yang bagus Neng…..” Ucap Rahman singkat sambil mendekatkan bibirnya kearah bibir Citra. “Cup….. Udaaaahhh…. Nikmatin aja ya Neng…. Cup….” Cium Rahman pada bibir mungil Citra, yang kemudian melumatnya dengan penuh nafsu.

Tangan kanan Rahman kemudian merayap ke payudara kiri Citra dan menarik turun dressnya hingga sebatas perut.

SREEEETTT

“Wuuuiiidiiiihhhh…. Busyeeeetttt…. Tetekmu jumbo banget Neng….Kenyal dan anget….” Puji Rahman yang kemudian melucuti payudara kanan Citra. “Pasti ini tetek udah berisi asi ya Neng…?” Tanya satpam itu sambil mulai memilin-milin puting payudaranya.
“Ssshh….” Lenguh Citra karena merasakan salah satu titik kelemahannya dipermainkan oleh satpam mall ini. “Pelan-pelan Maass….”

Sambil terus melumat lidah Citra, Rahman pun mulai meremas dan memilin puting payudara wanita hamil itu dengan perlahan.
“Eeehhmmm…. Pelan-pelan Mas…..” Desah Citra ketika merasakan gejolak birahinya perlahan muncul akibat remasan dan pelintiran puting payudaranya.

Terlebih ketika Rahman mulai mengenyoti payudara Citra, membuat istri marwan itu semakin kelojotan.
“Ckckckck….. Adik iparmu ganas juga ya Neng…. Cupang tetekmu sampe banyak gini….” Kata Rahman sambil tak henti mengenyot payudara Citra, “Pasti dia puas banget tuh….”
“Ehhhmmmm…. Sssshhhh….” Lenguh Citra sambil mulai mengusap-usap kepala Rahman.

Rupanya, Citra mulai merasakan gairahnya kembali naik oleh remasan Rahman. Karena tanpa disarainya, istri Marwan itu mulai cuek ketika tangan Rahman mulai melucuti dressnya. Dan karena model dress Citra berbentuk kemben, tangan mesum Rahman sama sekali tak merasakan kesulitan yang berarti.

SREEETTT
Dress mini itupun akhirnya melorot kebetis Citra dan jatuh kelantai.

“Wwwuuuuuuiiiiihhhhhhhh…. ” Sorak keempat pemuda mesum itu hampir berbarengan.

Walau keempat pria itu sudah sering melihat tubuh wanita telanjang, tapi baru pertama kali ini mereka ngeliat tubuh telanjang yang semulus milik Citra. Terlebih melihat perut hamil dan payudara Citra yang menggantung indah, keempat pria itu seketika bagaikan singa-singa lapar yang mendapatkan suguhan daging siap santap.

Tanpa ada yang memberi aba-aba, mereka serempak mendadak maju mengerubungi Citra dan mulai menjamahi setiap lekuk tubuh wanita cantik itu. Dengan badan yang sudah bugil dan penis yang sudah berdiri tegak, keempat pria itu saling berpandangan dan menyeringai. Tak pernah sekalipun mereka membayangkan jika pagi itu mereka bak mendapatkan durian runtuh karena akan segera menikmati tubuh mulus Citra.

“Coba rebahan dilantai Neng… Trus buka kakimu….” Pinta Rahman sambil menidurkan tubuh telanjang Citra diatas lantai kamar mandi dan kemudian merentangkan paha Citra lebar-lebar, “Nikmatin aja ya Neeeng… Hehehe….”

Dengan sigap, jemari Rahman pun mulai mengulik bibir vagina Citra sambil sesekali menguaknya lebar-lebar, membuat sisa sperma muklis yang masih ada didalamnya mengalir keluar.

“Busyeet deeehh Man…. Si Neng ini udah bunting tapi kayaknya…. Lobang memeknya sempit banget yaa… Masih keliatan rapet banget…. ” Kekeh Kasep yang ternyata mengamati liang vagina Citra dari dekat, “Lubangnya….. Kecil bener…. ”
“Mirip lobang perawan yak Sep…?” Tanya Banu…
“Ah… kaya pernah main ama peraawan aja Nu…?” Goda Yadi, ” Dia kan punya suami masa lobang memek masih keliatan rapet….?”
“Sini… Lihat aja sendiri kalo gak percaya Yad… ” Kata Kasep.

Buru-buru ketiga teman Rahman segera berjongkok didepan tubuh Citra. Dan dengan tanpa mengedipkan mata sama sekali mereka mengamati lubang kemaluan Citra yang masih mengeluarkan sperma muklis.

“Ckckckckkckck… Iya…. Sempit bener ya…? Rapet banget kayanya…..” ketiga orang itu berdecak kagum setelah menyaksikan lobang vagina milik Citra yang betul-betul kecil seperti ngga pernah di terobos penis sama sekali

“Ya khaaaan….? Betul khan apa yang aku bilang…. Sempit banget khaaaannn….?” Kata Kasep
“Suami Neng impoten ya Neng…?” Tanya Banu.
“Nnnggggg……”
“Nggak apa-apa kok Neng… Ngaku aja… Khan kalo emang bener impoten, kita-kita mau bantuin…”
“Bener-bener-bener…. ” Sahut Kasep, “Masa punya istri semok nan menggoda gini gak pernah dipakai…”

“Ssssttt…. Dasar lelaki kampungan…. Kaya nggak pernah liat memek bagus aja… Udah-udah… Kalo kelamaan ngobrol gini… Bisa-bisa keburu tutup nih Mall… ” Kata Rahman yang dengan sigap mulai bersimpuh di depan selangkangan Citra. “Sekarang, kalian maenin dulu aja tuh tetek…. Aku mau maenan dulu ama memek si Neng ini…. Kontolku udah nggak tahan lagi….” Kata Rahman sambil mengarahkan batang penisnya ke liang vagina Citra.

Dan dengan sedikit tekanan, Rahman segera menyelipkan kepala penisnya yang besar ia kebelahan vagina Citra.

CLEEEEP,

“Ooohhh…. Ssssshhh… Aampuuuunnnn….. Pelan-pelan Mass… Sakiiittt…”
“Huuuoooohhhh… Sempit bener cuiiiyy….. Kok bisa gini ya Neng….?” Tanya Rahman iseng sambil meneruskan tusukan batang penisnya, “Padahal tadi khan Neng baru aja dientotin yaa… Tapi kok bisa memek Neng masih berasa seret gini sih…. Uuuuggghh…. Sumpah…. Gigitan memekmu masih berasa bangeeet…..” Oceh Rahman yang walau hanya kepala penisnya baru saja masuk dan menghilang ditelan oleh jepitan vagina Citra, sudah dapat merasakan kenikmatan jepitan liang vagina tanpa bulu itu.

“Uuuhhhh… Pelan-pelan masss….” lenguh Citra sambiil mendorong tubuh gempal Rahman menjauh.
“Busyeeetttt….. Ooooogghhh…. Gilaa….. Memekmu bener-bener rapet Neeeng…” Lenguh Rahman ketika merasakan jepitan vagina Citra yang semakin ketat menjepit kepala penis besarnya.

“Ahhh.. ngentot kau Man… Bikin aku nggak kuat nahan sange aja….” Kata Kasep yang kemudian berjongkok di dekat kepala Citra dan berusaha menjejalkan batang penisnya ke dalam mulut Citra.

“Ngggghhh… Jangan Maasss….” Tolak Citra begitu melihat batang penis yang tak beraturan milik Kasep mulai menguak mulut mungilnya.
“Ssshh…. Udaaahh…. Neng diem aja…. ” Goda Kasep sambil terus menyodorkan batang penisnya yang berwarna hitam legam, “Ayo mangap… Aaaaaakkkkkkk….”

Citra yang tak berdaya, hanya bisa menggoyangkan kepalanya kekiri dan kekanan, berusaha menghindar dari penis Kasep yang terlihat jorok itu. Namun, apa daya. Posisinya yang rebah pada punggung sama sekali tak menguntungkannya. Akhirnya, mau tak mau, penis Kasep itupun akhirnya berhasil masuk juga kedalam mulut Citra.

“Gggggluupp..” Seketika, aroma memabukkan menyengat indra penciuman di hidung Citra. Membuat wanita cantik itu semakin gelagapan saat penis panjang Kasep menerobos mulutnya.
“Ooohhh…. Ayolah Neng… Emut-emut dikit kontolku ini… Neng gak usah malu-malulah… Mumpung kita masih banyak waktu…. Hehehe…” Kekeh Kasep saat berhasil memasukkan penis panjangnya ke dalam mulut Citra. “Ooohhh… Angeet….”

“Enak ya Sep….?” Tanya Rahman yang sedang sibuk memompa batang penisnya pada vagina Citra.
“Huuuoooohhh….. Enak banget Man…. ”
“Sama nih… Memek Neng ini bener-bener rapet banget…. ” Puji Rahman, “Eeeehh.. Bisa ngenyot pula… Hehehe… Lihat Sep… Kontolku seperti diremas-remas sama memek sempit ini…”
“Hehehehe… Iparmu pasti beruntung banget ya Neng….? Punya kakak ipar seperti kamu…” Lenguh Rahman yang kemudian menghajar vagina Citra keras-keras dengan gempuran batang penis cantiknya.

Melihat kedua rekan kerjanya sudah mulai menikmati sajian tubuh wanita hamil yang ada dihadapannya, mmu tak mau membuat Banu dan Yadi mulai panas juga. tak lama, kedua lelaki itu pun mulai ikut-ikutan mengambil keuntungan.

Bergantian, Banu dan Yadi meremas dan menghisapi payudara besar Citra. Bahkan, kedua lelaki itu meminta Citra supaya segera mengocok penis mereka dengan kedua tangannya yang bebas.
“Iya gitu Neng… Ayo kocokin kontolku….. ” Lenguh Banu yang disambung dengan desahan Yadi, “Kocok yang kenceng ya Neng….”

Diserang oleh keempat lelaki ini, entah mengapa, Citra sama sekali tak merasakan keberatan sedikitpun. Malahan ia berpikir jika hal itu bisa dijadikannya sebagai kesempatan untuk bisa mendapat kenikmatan dari empat batang penis mereka.

Tapi, karena keempat orang itu bukanlah orang yang Citra kenal, maka dari itu, Citra tetap pura-pura berusaha menolak atas perlakuan kasar mereka berempat.

“Hangaan Maas…. Hangaaann…..” Lenguh Citra dengan mulut penuh penis, setiap kali ia merasakan keenakan yang amat sangat dari perkosaan kilat itu.

Tak ingin terlihat ngarep. Mungkin hal itu yang ingin Citra perlihatkan kepada keempat pemerkosa itu. Oleh karenanya Citra tak henti-hentinya menggeleng-gelengkan kepalanya, seolah menolak perlakuan kasar mereka berempat.

“Man… Gantian dooong….” Pinta Banu kepada Rahman.
“Bentaran ah…. Masih nanggung banget ini….” Tolak Rahman.
“Sep…. Aku juga pengen diisep-isep gitu….” Pinta Yadi pada Kasep.
“Yaelah.. Bentaran dikit napa sih…..” Tolak Kasep juga.

Karena berulang kali Yadi dan Banu mendapat penolakan dari kedua rekannya yang sedang asyik menikmati jatah tubuh Citra, mereka berdua pun mulai gemas. Walhasil, Yadi dan Banu memperlakukan kedua payudara besar Citra dengan sangat kasar.

Mereka seringkali meremas kuat-kuat daging yang tumbuh didada Citra sembari sesekali menampar-nampar. mirip seperti sedang membuat dodol. Sehingga tak lama kemudian, payudara Citra yang semual sudah merah akibat cupangan mulut Muklis, semakin berwarna lebih merah lagi.

Kedua puting payudara Citra pun tak luput dari perlakuan kasar mereka. Kedua puting payudara Citra itu terlihat makin mencuat keras akibat perlakuan Yadi dan Banu yang sering kali menarik-tarik puting itu dengan menggunakan gigi dan mulut mereka.

“Aaaahhh… Haammmpuuunn Maaasss…. Haaampuuunnnn…..” Jerit Citra sia-sia tanpa mendapat perhatian keempat pemerkosa itu.

Begitupun dengan Kasep. Ia juga berulang kali memukul-mukulkan batang penisnya pada bibirnya Citra dengan kasar. Tak jarang ia juga menyodok-nyodokkan batang penisnya dalam-dalam hingga membuat wanita hamil itu gelagapan kehabisan nafas.

Namun anehnya, Citra sama sekali tak keberatan, malahan ia semakin merasakan sebuah kenikmatan tersendiri ketika menerima perlakuan kasar Kasep.

Tak berbeda dengan Kasep, Rahman yang melihat keberingasan ketiga teman kerjanya pun terlihat mulai sadis. Ia semakin mempercepat tusukan-tusukan penisnya yang berukuran besar itu pada vagina Citra, tanpa menyadari jika wanita yang sedang ia setubuhi itu sedang hamil. Rahman memperlakukan vagina Citra begitu kasar, bak memperlakukan vagina pelacur murahan.

PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK

“Gggaaaaggg… Cuuiihhh…. Sssshh….Hudah Maaas…. Huudaaaahhh…..” Lenguh Citra disela-sela tusukan penis Kasep
“Sssshhh… Udaaah… Nikmati aja Neeeng….” Desah Rahman sambil tak hentinya membombardir vagina Citra yang semakin licin.
“Hentikaan Maasss…… Hangan…… memek aku sakiitt Masss…. Holoongg hentikan….. Hampuuuunnn…. ” Lenguh Citra berpura-pura merintih kesakitan.

PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK

“Ooohhh… Sssshhh… Nikmain aja Neng…. Nikmatin…. Hehehe” Kekeh Rahman sambil terus-terusan menabraki vagina Citra dengan pinggulnya. “Oooohhh.. Neeeenggg…. Memekmu benar-benar enak… Belum pernah aku nikmatin memek yang seenak punyamu ini Neng..” Dengus Rahman sambil merem melek keenakan

“Bener Man…. Kayaknya Neng ini lonte profesional… Mulutnya juga enak banget… ” Ucap Kasep sambil terus terusan menjejalkan seluruh batang penisnya ke mulut Citra.

“Man.. Gantian yuk…. Kontolku juga pengen ngerasain jepitan memeknya nihhh….” Celetuk Kasep.
“Iya Man…. Gantian doong… Emang kamu aja yang bisa enak ngerasain jepitan memeknya Neng ini….? Aku juga pengen….” Sambung Yadi
“Hooh Maaan… Aku juga pengen niihh… .Kontol ku udah ngaceng banget.. Pengen masuk ke dalam memeknya… ” Kata si Banu yang terus-terusan menyupangi puting payudara Citra, “Bosen nih ngisepin tetek mulu… ”

“Iye iyeee…. Sabar…” Gerutu Rahman, “Temen kok nggak pernah bisa ya ngelihat aku seneng….” Ucap Rahman yang kemudian menyetubuhi wanita hamil yang ada didepannya itu lebih kasar daripada sebelumnya.

PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK

“Ah ah ahhh… Aampun Mass…. Ampuuunnn….” Erang Citra, “Pelan-pelan nyodoknya Masss…. Memek aku….. Saaakiittt…”

“Sssshhhtt… Diem aja kamu Neng…. Dieeem…. Kalo sedang dientot tuh dirasaaainnn…. Dinikmatiiiinnn…..” Saran Kasep sambil menjejalkan batang penisnya dalam-dalam ke mulut Citra.
“Ssssshhh…. Tapi pelan-pelan Maaassss….. Aaaahhhh…. Gaaagg gaaagggg..” Lenguh Citra akibat sodokan penis Kasep pada mulut dan tenggorokannya.

Akibat nafsu Kasep yang sudah begitu tinggi, ditambah kuatnya cengkeraman otot tenggorokan Citra, membuat petugas kebersihan Mall itu tak mampu lagi menahan gelombang orgasmenya. Seketika tubuh kurus itu bergetar hebat.

“Aaaahh… Ngentot ngentot ngentot…. Aku duluan Nennggg… Aku mau ngecrooottt duluan…” Jerit Kasep sambil menghantamkan pinggulnya pada mulut Citra. Membenamkan batang penisnya yang panjang itu kedalam mulut istri Marwan. Sampai-sampai, pangkal penis Kasep yang berambut itu menyentuh tepat pada bibir mungil Citra. “Ngeeentoooott…. Neengg…. Terima pejuhku Neeeng….. ”

CROT CROOT CROOCOOOT…
Sperma panas Kasep pun langung muncrat di dalam mulut Citra

“Huuoooohhh… enak banget Neng isepan mulutmu…” jerit Kasep keenakan sambil menekan batang penisnya dalam-dalam kemulut Citra.
GAAAAGGG…., ” Erang Citra gelagapan saat penis Kasep itu masuk lebih dalam hingga menyentuh anak tekaknya, “Uhuk uhuk uhuuukk…”
“Nengg… Aku ngecrot Neeengg…. Uooooh…. Telen pejuhku Neng…. Telen seemuuaaanyaa…. Ooohh….. Ooohh….” Raung Kasep sambil terus-terusan menekan batang penisnya untuk dapat merojok kerongkongan Citra lebih dalam.
.
“GAAAGG… Uuhuuk uhukk uhuk… GAAG… GAAAG…. Uhuuk…uuhk ..” Citra berulang kali tersedak ketika kerongkongannya diterjang sperma dan batang penis Kasep .

“Ooohh enak ya Seep…?” Celetuk Rahman begitu melihat rekan kerjanya mengejang-kejang keenakan.
“Hiya man… Sumpah… Mulut Neng ini kaya memek….”
“Shhhh…. Kampret…. Ngeliat kontolmu ngecrot… Bikin aku pengen ngecrot juga…. ” Erang Rahman, “Aku juga udah gak tahan lagi nih Sep… ..Oohh… Aku juga mau ngecroott di memek si Neng ini… Aaah…. Ngentoooot…. Neng… Aku maaau ngeeecrooootttt Neeeeng…. Aku mau NGECROOOT…..” Teriak Rahman lantang sambil mempercepat sodokan penis gemuknya di vagina Citra..

PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK

“Huuuoooohhh Neeeeng… Aku nggak tahaaaaannnn laaagiiii….. NGEEENTOOOOTTT….. ”

PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLA

CROT CROT CROOOT…

Semburan lendir panas Rahman pun tak lama kemudian langsung memenuhi liang vagina Citra. Bahkan saking banyaknya, sampai-sampai tak sedikit lendir itu yang tak tertampung di dalamnya. Lendir-lendir itu membludak keluar seiring tusukan-tusukan terakhir penis cantik Rahman pada vagina Citra.

Dan setelah puas menyetorkan seluruh persediaan sperma yang ada di dalam kantung sperma mereka, Rahman dan Kasep mencabut batang-batang penisnya dari mulut dan vagina Citra.

PLOOOP

“Uhhh… pelan-pelan nyabutnya mas….memek aku ngilu….” sindir Citra sembari langsung mengusap bibir vaginanya yang seketika mengeluarkan sisa-sisa sperma yang tak tertampung di liang rahimnya.
“Hehehe…. memekmu memang enaaaakkk banget Neng…. ” Sindir Rahman sambil mengamati ulah jemari Citra yang mengorek-korek spermanya keluar dari dalam lubang sempit vaginanya

“Eh Man…. gantian dooonk…. kita juga pengen ngerasain jepitan memek si Neng dong,” Kata Yadi tiba-tiba sambil menepuk pundak Rahman.
“Heeiiitt…. enak aja…. ” Sergah Banu, “Aku duluan laah yang harusnya ngentotin memeknya si Neng ini… Kamu terakhir aja siiiihhh….. ” Lanjut Banu sembari mendorong tubuh Rahman dari selangkangan Citra dan buru-buru memposisikan tubuhnya tepat di depan vagina Citra.
“Waah…. Masa aku harus yang terakhir siiihh…. ” Gerutu Yadi
“Hehehe… Sekali-kali napa sih Yaad…. ” Celetuk Banu, “Atau…. Gimana kalo kita garap aja kedua lubang si Neng ini bareng-bareng…?”
“Baeng-bareng gimana….?”
“Aaaah cupu…. Ya bareng-bareng ngentotinnya… Kaya di filem-filem bokep itu looh…. Kontolku ngentot memeknya…. Trus kontolmu ngentot bo’olnya… aku yakin rapetnya bo’ol si Neng ini lebih menggigit daripada memeknya….” Jelas Banu
“Wah….Tumben idemu boleh juga tuh…. Pasti bo’ol si Neng ini terasa rapet banget ya….?” Kata Yadi sumringah.

Tanpa basa-basi lagi, Banu dan Yadi segera memposisikan tubuh mereka menggantikan Kasep dan Rahman. Banu yang bertubuh besar, mengamit tangan Citra supaya berdiri, dan dengan sigap iapun jongok didepan vagina legit yang terpampang di depan wajahnya.

“Eh Mas…. Mas mau apa…?” Sergah Citra ketika ia melihat wajah jelek Banu maju kearah vaginanya. Dan tanpa basa-basi lagi, Banu segera mengecupi vaginanya.
“Mau nyeruput memekmu Neng… Hehehehe….” Ucap Banu yang kemudian memonyongkan mulutnya dan mulai menjilati vagina Citra dengan buas, tak peduli jika vagina wanita berperut besar itu baru saja dimuntahi oleh sperma Rahman, “Sluuurrrppp…. Cup cup cuppp….”

.”Hoooossshhh…. Ooohh… Maaasss…. Geliiii…..” Erang Citra sambil meremasi rambut Banu.
“Wes wes wes…. Ayo buruan jongkok Neng…. Cepet dudukin kontol Banu….” Celetuk Yadi yang sepertinya tak tahan melihat tubuh Citra menggelijang-gelijang keenakan ketika menerima hisapan mulut Banu.

Sembil memegang pundak Citra, Yadi segera memposisikan tubuh dan vagina sempit Citra diatas penis rekannya. Banu yang berada dibawah vagina Citra pun buru-buru merebahkan tubuhnya sambil mempersiapkan batang penisnya keatas.

Citra yang sudah merasa keenakan pada vaginanya, segera saja menurunkan tubuhnya dan meraih batang penis Banu. Kemudian dengan sigap, wanita hamil itu lalu mengarahkan kepala penis Banu ke lubang sempit vaginanya

“Sekarang… Ayo Neng…. Lebarkan memekmu…. Lahap habis kontolku…” Ucap Banu dengan sembari mulai menekan tubuh hamil Citra kebawah

SLEP…
Segera saja, kepala penis gemuk itupun ambles. Terjepit oleh sempitnya vagina Citra yang duduk diatas selangkangannya.

“Sssshhh…..Ehhhmmmm…. Maasssss….”
“Kenapa Neng…? Henak hyaaa?” Bisik Yadi ditelinga Citra.
Ehhhmmm… Sshhhh…. ” jawab Citra sambil mengangguk pelan.
“Naaah… kalo kamu udah berasa enakan sekarang giliran aku yaaaaaa….? Aku juga udah gak tahan pengen ngerasain sempitnya liang anusmu…. Hehehe….” Kekeh Yadi sambil mendorong tubuh Citra yang sudah tertancap penis Banu untuk lebih condong kedepan.

“Busyet Yaaadd… Memek si Neng ini bener-bener rapet banget Yaad…. ” Racau Banu ketika batang penisnya merasakan goyangan vagina Citra, “Iya Neeeng… Terus seperti itu… Ulek terus kontolku Neng… Pelintir-pelintir pake memek sempitmuuu…. Ooohh… Enaaakk…”

“Nu…. Aku mulai yak…. ?” ucap Yadi singkat “Neeng… rebahan maju dong…. ”
“Eeeh… Mas mau apa Mas….?”
“Aku mau kobelin bo’olmu dulu Neng… Biar nanti liciiiinnnn… Hehehe….JUH…..” Ucap Yadi yang segera meludai jemari tangannya dengan air liur kemudian mengoleskannya di lubang anus Citra yang masih mengkerut rapat.
“Sshhh…. Masss….. Jangaaannn Mas…. Bo’olku kotor…” Rintih Citra sembari mencoba menjauhkan jemari Yadi dari liang anusnya.
“Sssttt… Uuudaaaah…. Ngga usah nolak Neng… Nanti pasti enak kok…. Hehehe….” rayu Banu sembari sesekali bertindak nakal. Menusukkan jemarinya ke lubang anus Citra.

“Uuuhh…. Jangan Mas… jangan….” Tolak Citra sembari berusaha bangkit dari posisi rebahannya, “Jangan tusuk bo’ol akuuu….”
“Ssssttt…. udah ah… jangan nolak mulu….” Ucap Yadi gemas “Banu…. Tolong pegangin badan si Neng biar nggak bangun-bangun yak… Aku udah nggak tahan lagi…. Hehehe….” Tambah Yadi yang dengan segera menyelipkan penis panjangnya lobang anus mungil Citra.

“Jangan Masss.. Jangaaann….Sakiiittt….” Rintih Citra yang tak mampu berbuat apa-apa karena kedua tangannya digenggam Banu..
“Heeeggghh… Jangan dilawan Neng…..” Rayu Yadi sembari terus menerjang maju, mencoba menyodokkan batang penis panjangnya kedalam liang anus Citra,” Bentar lagi pasti enak kok Neng…. Jangan dilawan….”
“Ampuuunnn…. Sakit Masss… Sakiiitttt…. ” Jerit wanita hamil itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

CLEEEPPPP

“Ooohhh…. Yeeeeeeesss…. ” Jerit Yadi ketika kepala penisnya berhasil menyeruak masuk, menembus pertahanan sempit otot anus Citra. “Bentar lagi pasti enak kok Neng…” tambahnya lagi sembari mulai menghentakkan pinggul kurusnya kuat-kuat

“Eeehh… Mmmmmhhh…. Cabut Mmaaasss…. Ssssakit….” Lenguh Citra sambil terus-terusan menggelengkan kepalanya. Walau Citra sudah terbiasa menerima tusukan batang penis yang jauh lebih besar daripada milik Yadi, namun tak mungkin jika ia harus menampilan wajah keenakannya didepan mereka.

“Aduuuhh…. Ampun maasss… Saakiiit…. Ssshhh…. Sakit masss….” Rintih Citra berpura-pura kesakitan, “Cabut Mmaass…. Cabuuuut…. Pantatku Sakit Maaass…. Ooohh…. Ampuuunnn….”

“Wuuih…. Banuuu…. Bener-bener enak ini bo’ol…. Asli… Bo’olnya… Rapetnya… Enaknya… Banget banget banget…. Hehehe….” Puji Yadi sambil merasakan nikmat yang teramat sangat pada batang penisnya, “Giiillaa Nuuuuu… Kayanya ini bo’ol bisa ngempot-empot juga niiiiihhh…. Ngempot kenceng kaya bo’ol ayam……Heheheheehe…. Ga rugi juga deh dapetin bo’ol rapet si Neng ini …. hehehehe….” Racau Yadi keenakan.

Dengan kedua tangan memegangi pinggang gemuk Citra, Yadi yang ada dibelakang tubuhnya segera memaju-mundurkan tubuhnya dengan cepat. Begitu pula dengan Banu yang ada dibawah, ia juga terus-terusan menghajar vagina Citra tanpa henti.

PLAK-PLAK PLAK-PLAK PLAK-PLAK PLAK-PLAK PLAK-PLAK PLAK-PLAK

Kedua batang Banu dan Yadi keluar masuk di dalam lobang vagina dan anus Citra yang sempit. Menghajar kedua lubang bawah Citra habis-habisan.

PLAK-PLAK PLAK-PLAK PLAK-PLAK PLAK-PLAK PLAK-PLAK PLAK-PLAK

Bagaikan piston, kedua batang penis Yadi dan Banu keluar masuk di kedua lobang Citra dengan cepatnya.

“Memek Neng ini rasanya bener-bener enak banget Yaadd…. Wuueenaaaakkk…. Sluuurrpp… Sluuurrpp… Cuuuppp…. ” Lenguh Banu sembari sibuk menyedot-sedot payudara besar Citra yang tepat bergelantungan di depan wajahnya. Tak lupa, kedua tangannya juga ikut meremas-remas kedua bulatan daging wanita hamil itu keras-keras.

Merasa perlakuan kasar Banu pada titik kelemahannya, Citra pun merasa keenakan. Dan pelan-pelan, ia merasakan jika gelombang orgasmenya mulai mendekat.

“Ssssshhh…. Oooohhh….. Mmaaassss….. Maasss…. Ooohh… Ooohh… Ooohh…”
“Gimana rasanya dientot oleh dua kontol Neng….? Enak banget ya….?” Tanya Banu.
“Ho’oh…..” Jawab Citra keceplosan.
“Tuuuhhh khan…. Bener…. Enak khan Neeeng….”
“Eehh… Anu… Aampun Maaassss…..Sakit….. Aamppuuuunnnn….. ” Rintih Citra yang masih berpura-pura kesakitan padahal dia merasakan enak yang luar biasa disetubuhi oleh dua batang penis yang kasar dan cepat.

“Katanya nggak mau disodok di bo’ol Neng…?” Celetuk Yadi yang masih menggempur liang anus Citra, “Tapi kok sekarang malah ikutan goyang…?”
“Ya pasti si Neng sedang keenakan Yad…. Neng binal ini pasti suka…. Bilangnya nggak mau diperkosa… Tapi nyatanya udah punya suami juga masih minta dientotin adik iparnya….”
“Ssshh…. Ampuun baannggg…. .Ampuun… Jaangann perkosa saya Baaaang…..Sakit.” Kata Citra yang masih tak mau mengakui kenikmatan ketika menerima perlakuan kasar Yadi dan Banu.

“Iya deeehhh…. Kami nggak bakal perkosa lagi….” Kata Yadi yang tiba-tiba menghentikan sodokan kasar penisnya pada dubur Citra, diikuti oleh Banu yang juga menghentikan tusukan-tusukan brutal pada vaginanya.

Namun, walau tak melanjutkan tusukan-tusukan kasarnya, Banu dan Yadi tetap saja tak menghentikan godaan pada aurat tubuh Citra. Banu tetap mencucupi payudara dan puting Citra. Dan Yadi tetap menowel-towel klitoris Citra. Akibatnya, wanta hamil yang sedang dihimpit oleh kedua lelaki yang sama sekali tak ia kenal itu bimbang. Antara meneruskan akting pura-pura menolak atau mengakui kenikmatan yang ia terima.

Akhirnya, Citra tak tahan lagi. Perlahan ia mulai menggoyang-goyangkan sendiri pantatnya, mencoba meraih kenikmatan dari dua batang penis yang masih menancap pada dua lubang bagian bawah tubuhnya.

“Looohh…. Neeeeng… Kalo minta jangan diperkosa…. Kok pinggul Neng goyang-goyang sendiri…?” Tanya Yadi
“Ehhh… Ennnggg…. Memek aku ngilu mas….Pengen lepas dari kontol-kontol mas….” Bohong Citra
“Hahahaha.. Nggak usah pura-pura lagi lah Neeeng…. Aku tahu kok kalo Neng suka ama kontol-kontol kita… Hahahaha….” Goda Banu sambil terus menggelitik puting payudara dengan lidahnya.

“Hahaha… Yaudah Yad… Ayo kita kasih Neng ini pengalaman ngentot yang nggak bakalan dia lupain..Kita hajar lubang-lubang cantiknya dengan kontol kita…. Sampai mall tutup… hahaha….”
“Haaahh…. Jangan Masss.. Aampuuuunnnn…. Jangan perkosa aku laaagiii…..”

“Hahahaha… Iya deh Nenng…. Iyaaa…. ” Kata Yadi yang tiba-tiba menggerakkan tubuhnya maju mundur degnan kecepatan tinggi. Membuat batang penisnya menggempur lubang anus Citra dengan cepat. Bahkan saking cepatnya, muncul buih berwarna keputihan yang keluar seiring tusukan penisnya pada liang anus Citra.
“Kita nikmatin tubuh montok ini sampe besok yuk Yad.. Sampai kita puaaasss…” Ucap Banu.

“Aduh.. Baaang… Sudaahh… Ssuddahh….Aampuun.. Tolong hentikan Baang… Aaamppuunn.” Citra merintih pura-pura kesakitan padahal sedang merasa keenakan di genjot oleh batang-batang penis Banu dan Yadi.
“Aaaaah… Neng… Kalo enak bilang aja enak Nenng…. ” Celetuk Kasep yang ternyata penisnya sudah kembali menegang, karena melihat kenakanal wanita hamil itu.
“Sep… Biar mulut si Neng ga berisik… Masukin aja kontolmu kedalam mulutnya… Biar si Neng ini makin ngerasa keenakan…. Ya nggak Neng…?” Kata Banu sambil mengerang keenakan.

“Eh iya.. Bener juga….” Sadar Kasep , “Ayo Neng… Buka mulutmu….”
Merasa tak mampu berbuat apa-apa, Citrapun membuka mulutnya. Membiarkan batang penis Kasep untuk kembali menikmati salah satu lubang di tubuhnya.

“Aaaaaaa… ”
“Wanita pintaaaar…. Kamu emang istri penurut….” Kata Kasep yang buru-buru menjejalkan batang penisnya dalam-dalam ke mulut mungil Citra. “Nurut… Tapi mirip LONTE… Hahaha….”
“GAag Gaag Gaaag…..” Suara mulut Citra ketika menerima sodokan kasar penis Kasep .

Disertai oleh ludah yang mengalir keluar, membuat Kasep semakin membabi buta. Menyetubuhi mulut mungil Citra bak menyetubuhi vagina sempitnya.
“Bussseeettt Yaaad…. Mulut Neng ini juga Enak…. Sempit abis…” Racau Kasep sambil merem melek keenakan, ” Gak mulut… Ga memek… Keduanya sama-sama legit…. Hahaha…”

“Oooh.. Anjriiiitttt…. Yaaad…. Aku nggak sanggup lagi…. Yaaad…” Seru Banu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, “Memek Neng ini bener-bener enaaak.. Aku nggak bisa nahan buat nggak ngecrot nihhh… Ooohh… Ooooohhhh…. Enaaaknyaaaa….”
“Sama Nuu… Ngeliat kebinalan Neng ini… Aku juga pengen… Oooohh… Ngecrrroooottt….”

Berdua, Banu dan Yadi segera mempercepat sodokan tubuhnya. Menyetubuhi wanita hamil yang ada dihadapannya bak pelacur murahan.

“Ooohh.. Ooh.. Gaag.. Gaag… Helan-helan Maas… Gaag… Gaag… ” Potong Citra yang menerima perlakuan kasar Banu dan Yadi, “Helan-helaaan… Hadan haku hakit hemuaaa Mas… Haakiittt… Ooohh…. Ohhh…”
“Sakit apa enak Neng…?” Sahut Kasep sembari terus menusukkan batang penisnya dalam-dalam di mulut Citra. Ikut-ikutan menyodokkan batang penisnya dengan brutal.
“Aku mau keluar Yaad….” Racau Banu, “Aku udah nggak sanggup laagii… Oooohh…”
“Aku juga… Sumpah… Bo’ol ini bikin kontolku cenut-cenut…. ” Balas Yadi, “Kita keluar bareng aja Nuuu…. Anjriiiit… Enak sekali anusmu Neeeng… Enak baaangeeetttt…. Sssshhhh….”
“Aku juga… Aku juga pengen keluaaarr….” Sahut Kasep yang kemudian memegang bagian belakang kepala Citra erat dan menusukkan batang penisnya dalam-dalam, “Aaahh… Nggeeeentoooott… Enak sekali mulutmu Neeeeng…”

Merasa gelombang orgasme ketiga pria yang sedang menyetubuhi ketiga lubang tubuhnya itu akan segera datang, membuat Citra juga tak ingin mensia-siakan kesempatan ini. Ia juga ingin segera orgasme. Ia juga ingin menikmati gelombang puncak birahinya.

“GAAG GAAG… HAKU HUGA MAU HELUAAAR MASS…” Jerit Citra tiba-tiba dengan mulut yang masih penuh oleh tusukan brutal batang penis Kasep . Sambil meliuk-liukkan pinggang hamilnya, orgasmenya pun datang. ” NGHEENTOOOOTT… HAKU HELUAAAR… OOOHH… NGHEEEEEENTOOOOOOOOOTT… NGHEEEEEENTOOOOOOOOOOOOTTTTT…”

“CROT CROOOT CROOTCOT…. CREET CREET CRECEEET…. CREET CREETCEEET….”

Sperma tiga batang penis, segera memenuhi ketiga liang tubuh Citra. Di mulut, di vagina, di anus. Keluar tanpa sanggup ditampung sama sekali. Begitupun dengan Citra, lendir vaginanya pun keluar, berbarengan dengan semburan sperma Banu di liang rahimnya.

“Huoooohhh… Enak baaangeeet memekmu Neeeeng….” Celetuk Banu sembari mengejang-ngejangkan batang penisnya. Berusaha mengeluarkan seluruh persediaan spermanya pada vagina istri Marwan itu.
“Iya Neeng… Bo’olmu juga enaaaaak…. Sempitnya….. Mirip memek perawan… ” Sambung Yadi yang juga mengejang-ngejangkan pinggulnya. Membenamkan batang penisnya sedalam mungkin. Seolah meminta otot anus Citra untuk mengurut sisa sperma yang masih tersisa.
“Hehehe… Bener…. Neng ini benar-benar LONTE kelas kakap… ” Sahut Kasep , “Semua lobang bisa dipake… Hehehehe….” Tambahnya sambil meneupk tepukkan penisnya yang sudah lunglai ke mulut Citra.

“KKKKRRRKKKKK…. KKKRRRKKKRKK….”
“Rahman… Monitor Man….Kamu dimana…?”

“Waduh Coiy… Kita udah dicariin Pak Bosss…” Celetuk Rahman yang sedari tadi hanya melihat kelakuan bejat ketiga temannya sambil merokok. Dengan cepat, ia lalu mengenakan kembali seragamnya, “Yuk… Kita cabut….”
“Udah dipanggil ya…?” Yadi yang buru menarik keluar batang penisnya dari jepitan anus Citra.

PLOP
“Uhhh….” Erang Citra menggigil, merinding keenakan.”Pelan-pelan nyabut kontolnya Mas…”
“Hehehe….. Maap… Ngilu yah Neng…?”
“Hiya….”

“KKKKRRRKKKKK…. KKKRRRKKKRKK….”
“Rahman… tahu Yadi, Kasep dan Banu…? Mereka juga ngilang dari pos masing-masing…. Rahman monitor… Kamu dimana…?”

“Aaah.. Kampret nih…. Padahal baru aja kita pemanasan…” Sahut Banu yang juga buru-buru menyuruh Citra menggeser duduknya dari atas selangkangannya, dan mencabut penisnya.
PLOP

“Yaudah yukkk.. Kita balik dulu… ” Kata Kasep yang kemudian mengambil rambut Citra dan membersihkan batang penisnya.
“Ehh… Maaas… Jangan… Ih Jorook Deeh…”
“Hehehe… Buat kenang-kenangan Neeng…” Celetuk Kasep cuek.

“Makasih ya Neeeng… Lain kali kita sambung lagi…” Ucap Rahman sambil mematikan rokoknya, “Seneng deh… Bisa dapet kenalan yang bisa mbantuin kita-kita muasin nafsu…”
“Hiya Neng… Makasih…” Sahut Banu dan Yadi hampir bersamaan sambil mengenakan kembali seragam mereka.

Setelah mereka selesai berpakaian, segera saja keempat orang itu keluar dari toilet. Tak peduli sama sekali dengan kondisi Citra yang masih duduk di lantai dingin toilet. Telanjang, dengan tubuh dan rambut yang belepotan oleh sperma.

Tak berasa, hampir 20 menit Citra disetubuhi oleh keempat pria yang sama sekali tak ia kenal. Tak berasa, jika Citra juga telah mendapatkan orgasme lebih dari 5-6 kali orgasme.
Tak berasa, jika ternyata mulut Citra tersenyum karena menikmati perlakuan kasar barusan.

“Seks GangBang….” Desah Citra dalam hati sambil terus mengorek sperma yang masih keluar dari dalam vagina dengan jemarinya.

“Ternyata seru juga….”

Bersambung,

Daftar Part