web hit counter

Nafsu Citra Part 27

0
389

Nafsu Citra Part 27

Kenakalan di Toilet Umum 2

“TULILILIIIIT.. TULILILIIITTT….”

Ditengah kesunyian kamar mandi Mall, terdengar lantunan suara handphone yang keluar dari tas Citra yang teronggok di sudut wastafel. Dengan malas, Citra mengangkat pantatnya, dan mencoba berdiri sambil berpegangan di bibir wastale. Karena denyut gelombang orgasmenya yang tak kunjung berhenti, membuat wanita hamil ini cukup merasa kesulitan ketika ia mencoba berdiri. Kedua kakinya gemetar dan lututnya begitu lemas. Namun pada akhirnya, Citra berhasil menggapai tasnya dan menjawab panggilan telephonenya.

“TULILILIIIIT.. TULILILIIITTT….”

“Ya haloo…?” Jawab Citra lirih. Dari intonasi suaranya, dapat diketahui jika Citra masih terdengar begitu lemah, “Kenapa Klis…?”
“Mbak Citra….? Mbaak… Kamu dimana…? Kok aku ditinggal sendirian gini sih…? Mana ditinggalnya lama pula…” Cerocos Muklis dari ujung telephon.
“Ohh… Mbak masih ditoilet kok Klis… ” Jawab Citra pelan sambil berkaca. Mengamati tubuh nistanya yang baru saja dinikmati oleh empat orang pria tak dikenal. Sekaligus mencoba untuk sekedar membersihkan bekas-bekas perkosaan yang baru saja ia alami.

“Kamu nggak apa-apa Mbak…?” Tanya Muklis yang tak berhenti-berhenti mengkhawatirkan dirinya.
“Hhhh…. ” Citra menarik nafas panjang, “Iya Klis… Mbak ngga kenapa-napa… Mbak baik-baik saja…”
“Kalo baik-baik saja… Kok lama banget ke toiletnya Mbak…? Hampir setegah jam nih aku nungguin Mbak balik….”
“Hihihi… Yaudah… Kalo gitu kamu samperin Mbak aja ke toilet Klis… Badan Mbak lemes banget…”
“Hadeeehhh… Sekarang Mbak dimana….? Aku samperin deh..”

“Hihihi… Mbak masih ditoilet kok Klis… Toilet paling ujung yang dideket basement… ” Jelas Citra, “Oh iya Klis… Kalau kamu kesini Mbak nitip sesuatu donk…”
“Apaan Mbak…?”
“Mbak nitip buat beliin dress donk… Yang biasa aja…Dress Mbak yang tadi basah Klis… Tolong yaa… “
“Hadeeeh… Mbaaak Mbaaak… Kok bisa siiihhh…?”
“Hihihi… Namanya juga kena air Klis… Lagian dress tadi juga penuh pejuh kamu…”
“Hehehe… Oiya ya… Oke deh… Tapi ntar duit belanja dressnya Mbak gantiin yak…”
“Iya iya….” Jawab Citra santai, “Oiya… Ama tissu basah sekalian ya Klisss… Yang banyak.. Hihihi…”

Tak lama, Muklis pun datang dan mengetuk pintu kamar mandi.
TOK TOK TOK

“Mbaak… Mbak Citra… Kamu ada didalam nggak…”?” Tanya Muklis dari luar kamar mandi.
“Masuk aja Klis.. Disini nggak ada orang kok…”
“Ini aku udah bawain titipannya Mbak… ” Jawab Muklis sambil membuka pintu kamar mandi dan menjulurkan kepalanya, mencari tahu kondisi didalamnya..
“Udah buruan.. Masuk sini Klis… “

ASTAGA… Mbaaakk….?” Kaget Muklis begitu ia mendapati kondisi Citra yang berdiri dengan tanpa mengenakan selembar pakaian pun. Tubuhnya basah kuyup , dengan kulit payudara, vagina dan pantat yang penuh bercak-bercak kemerahan. Persis seperti bekas tanparan dan cupangan. Makeupnya belepotan dengan rambut yang acak-acakan. Bahkan, di paha dalamnya terlihat lelehan lendir yang mengalir turun dari lubang vagina dan anusnya.

“Mbak…? Kok…?” Heran Muklis.
“Stttt… Udah-udah… Jangan banyak tanya ya Klis… Sini… Mana dress dan tissu titipan Mbak…?”

Tanpa berkata apa-apa Muklis berjalan mendekat dan menyerahkan kantong belanjaan pesanan Citra.
“Nggg… Mbak… Kamu tadi habis ngapain sih…?” Tanya Muklis yang tak henti-hentinya memperhatikan setiap jengkal tubuh hamil kakak iparnya.
“Hihihi… Nggak kenapa-napa kok Klis…” Jawab Citra seolah menyembunyikan sesuatu
“Serius Mbak… Kalo nggak kenapa-napa… Kok sampe basah keringet gitu Mbak…?” Tanya Muklis lagi

“Mbak tadi baru saja dientot habis-habisan oleh empat orang lelaki yang sebelumnya Mbak ga kenal sama sekali Klis… Dientot dengan brutal oleh keempat kontol mereka di semua lubang tubuh Mbak…” Batin Citra yang tak mungkin ia ceritakan ke Muklis.

“Hihihi… Mbak tadi mastrubasi Klis… Hihihi….” Jawab Citra sambil tertawa lirih.
“Haaahh… Serius Mbak…? Emang… Tadi aku entotin masih kurang ya Mbak…?”
“Hmmm… Nggak tau juga ya Klis… Yang jelas sesampainya Mbak disini… Mbak tau-tau pengen kobel-kobel memek Klis… “ Bohong Citra berusaha menyembunyikan cerita yang sebenarnya dari Muklis.
“Bener Mbak…?” Tanya Muklis sambil terus mengamati tubuh hamil Citra lekat-lekat, “Tadi Mbak lama cuman gara-gara masturbasi..?”.
“Iya sayang.. Mbak cuman masturbasi kok… ” Bohong Citra lagi, mencoba menenagkan Muklis yang sepertinya mulai terlihat emosi.

Memang, akhir-akhir ini Muklis terlihat begitu posesif terhadap Citra, bahkan ia jauh lebih posesif daripada Marwan, suami Citra dan kakak kandungnya sendiri. Oleh karenanya, Citra tak ingin jika adik iparnya sampai tahu jika kondisi tubuhnya yang acak-acakan itu akibat baru saja mendapat perkosaan dari Rahman, Banu, Usep dan Yadi. Biarlah cerita pemerkosaan itu hanya Citra dan mereka yang tahu.

“Heeehhh… KOk malah bengong….” Celetuk Citra, “Kamu daripada bengong… Mending bantuin Mbak buat mbersihin badan Mbak deh…” Pinta Citra sembari menyodorkan kotak tissu pada Muklis.
“Emang Mbak masturbasinya gimana sih…? Kok badan Mbak bisa sampe berantakan seperti ini…?” Tanya Muklis yang seolah belum puas dengan segala jawaban Citra.

“Hihihi… Tadi Mbak ngobel memeknya dibantu ama semprot-semprotan pake keran air Klis… ” Jelas Citra sembari menyisir rambut dengan jarinya.. “Eeh pas sedang asyik-asyiknya mainan memek… Mbak nggak tahunya kalo lantai toiletnya licin… Udah deh…. Mbak kepleset Klis…Hingga jadinya… Yya gini Klis… Baju dan badan Mbak basah kuyup kena semprotan air keran…”

Mendengar cerita Citra yang sepertinya mengada-ada, entah kenapa membuat dada Muklis menjadi berdebar-debar. Melihat lelehan lendir dari vagina dan anusnya juga membuat pembuluh darah penisnya semakin menggembung besar. Dan melihat cupangan di payudara Citra yang terlihat seperti baru, semakin membuat gejolak birahi Muklis semakin menjadi-jadi.

Dengan tiba-tiba, Muklis langsung merangsek tubuh Citra. Maju dan menubruk tubuh wanita hamil itu dari belakang.
“Rebahin badanmu kedepan Mbak… Trus nungging..” Pinta Muklis sambil mendorong punggung Citra maju, lalu tanpa basa basi, adik ipar Citra itupun segera menurunkan resleting celananya dan menarik batang penisnya yang sudah menegang keras keluar dari celananya.

“Heeeii….. Kamu mau apa Klis…? ” Tanya Citra bingung.
“Mau ngentotin kamu lagi Mbak… ” Ucap Muklis sambil menempatkan kepala penisnya pada liang senggama Citra. “Masa ini memek Mbak kok keliatannya gatel banget ya…? Baru juga aku entotin… Eeh udah sange aja lagi…”

“Eeeeh…. Nanti dulu ah Klis… Memek Mbak masih ngilu… ” Tolak Citra ketika kepala penis Muklis sudah mulai menyibak bibir vaginanya yang basah.
“Aku udah nggak tahan Mbak….. Kontolku udah pengen ngentotin memek gatelmu lagi…” Jawab Muklis tak menghiraukan penolakan Citra. Ia tetap merangsek maju dan membenamkan kepala penisnya dalam jepitan celah kenikmatan kakak iparnya.

CLEEEP.
“Oooh Klissss.. Pelan pelan…” Desah Citra sembari menggigit bibir bawahnya.
“Sumpah… Mbak… Walau tadi baru aja aku entotin… Memek gemukmu ini masih aja berasa mantap… “ Puji Muklis sambil meneruskan dorongan pinggulnya maju. Hingga separuh batang penisnya terbenam ke dalam liang vagina Citra.
“Sssshhh… Jangan dalem-dalem ya Klis…” Pinta Citra. “Memek Mbak masih ngilu banget…”
“Haaa… Jangan dalem-dalem…?” Heran Muklis ketika mendengar ucapan Citra. “Kok tumben Mbak… ? Biasanya kamu khan pengen cepet-cepet disodok batang kontolku sampe mentok…?”
“Nggg… Anu Klis… Tadi khan Mbak baru keluar… Jadi memek Mbak… Nggg masih agak ngilu… ” Bohong Citra lagi, “Jadi kamu nyodokin kontolnya jangan dalem-dalem ya….”

Namun Muklis sama sekali tak mengindahkan larangan kakak iparnya. Buktinya, walaupun Citra udah melarang Muklis supaya jangan melesakkan batang penisnya lebih dalam lagi, remaja tanggung itu tetap saja memajukan pinggulnya. Walhasil, tak lama kemudian, seluruh penis berurat milik Muklis tertelan habis dalam vagina Citra.

“Ohhh… Mentok Mbak… Hehehe….” Tawa Muklis puas.
“Uuuuhhh… Kliiisss… buruan cabut Klisss…. Jangan dalam-dalam…” Erang Citra.

“Ehhmmmm…. Yaaah…. Udah terlanjur Mbak…. Aku nggak bisa nahan Mbak kalo cuman buat masukin kepala kontolku aja… ” Erang Muklis sambil mendiamkan sejenak batang penisnya dalam vagina Citra,
“Lagian khan sayang banget Mbak… Kalo memek sempitmu ini tidak disodok dalam-dalam… Hehehe….”

“Ooohh… Jangan klisss… Ayo sekarang kamu cabut ya sayang… Bener deh… Memek Mbak ngilu banget buat nerima kontol besarmu…”
“Hmmm… Masa sih Mbak….?” Tanya Muklis dengan nada menggoda, “Kalo ngilu… Kok memek Mbak makin banjir… ?” Heran Muklis yang menyadari kebasahan vagina kakak iparnya. Karena seiring dengan ditusuknya batang penis Muklis masuk ke rongga kenikmatan Citra, lendir-lendir kental berwarna putih keruh meluap keluar dari lubang vagina sempit Citra. Keluar dan melumuri batang kejantanan Muklis.

“Ooohh… Klisss… ” Erang Citra yang ternyata masih menikmati persetubuhan terlarangnya.
“Kenapa Mbak… Enak ya…?” Goda Muklis sambil terus menggoyang penisnya di liang vagina Citra.
“Ehhhmmmhhh…. Iya…. Enak…. Tapi ngilu banget Klis…. ” Desah Citra sambil kembali berpegangan pada bibir wastafel.
“Memekmu memang hebat ya Mbak… Walau sudah berkali kali aku entotin… Masih aja terasa begitu sempit…. Begitu legit…. ” Puji Muklis sambil mulai merabai payudara Citra dari arah belakang, ” Terasa peret banget lah Mbaaak… ” Erang adik ipar Citra yang segera menggenjot batang penisnya.

PLAK PLAK PLAK
Suara persetubuhan kedua insan yang masih ada hubungan saudara ini pun mulai kembali terdengar. Begitu nyaring dengan disertai desahan-desahan kenikmatan mereka berdua.
PLAK PLAK PLAK

“Uuhh… Uhhh….Kontolmu berasa penuh banget Klis… Memek Mbak berasa penuuh bangeeet… ” Desah Citra sembari menggigit bibir bawahnya.
“Iya ya Mbak… Memekmu juga berasa sempit banget Mbak… ” Puji Muklis lagi, “Cuman Mbak… Ini lendir memek kamu kok sepertinya banyak banget ya….? Keluar mulu… ” Heran Muklis yang kemudian memperlambat goyangan pinngulnya dan menatap heran kearah batang penisnya yang berlumuran lendir keputihan..

“Masa sih Klis…?” Tanya Citra yang pura-pura tak sadar dengan kebasahan barang sempitnya..
“Iya Mbak… Kaya nggak abis-abis keluarnya…. ” Sahut Muklis lagi, “Dan lagi… Baunya Mbak…. Kok mirip… Mmmmm…. Mirip seperti bau pejuh aku ya Mbak…?”
“Hihihi…. Ya khan itu emang pejuh kamu Klis… Kau lupa ya… ? Kalo tadi pagi kamu khan ngentotin Mbak di kamar ganti…?” Ucap Citra mencoba mengingatkan, “Trus… Kamu juga buang pejuh kamu di memek Mbak… Masa lupa sih…?”
“Nggak lupa sih Mbak… Cuman aku sama sekali nggak nyangka kalo pejuh yang aku buang di rahimmu jadi bakal sebanyak ini …” kejarnya.

“Hihihi… Dasaar Muklis….Muklis… Kalo udah nafsu aja lupa deh ama pejuh sendiri… ” Goda Citra sambil terus menggoyangkan pinggulnya, mengulek penis Muklis yang masih tertancap erat di vaginanya.
“Hmmm… Iya kali ya Mbak… ” Jawab Muklis yang tiba-tiba mencabut batang penisnya keluar dari liang vagina Citra. Membuat celah kewanitaan istri kakak kandungnya itu menganga lebar dengan kulit bibir vagina yang merona merah.

PLOOOP…
Suara penis Muklis ketika tercabut dari jepitan vagina kakak iparnya. Dan seketika itu, sisa lendir kewanitaan Citra pun langsung merembes keluar. Mengalir deras menuruni paha dalamnya.

“Uuuuhhh…. Klis… Kok kontolnya dicabut…?” Heran Citra.
“Hehehe… Maaf ya Mbak… Bukannya aku nggak suka lagi dengan memekmu… ” Kata Muklis sambil menepuk-tepukkan batang penisnya pada vagina Citra, “Cuman… Ini kok sepertinya lendir kamu terlalu banyak ya…? Jadinya kontol aku agak berasa kurang nyaman mbak… Berasa licin-licin gimanaaa gitu…”
“Ooooohhh… Gitu….? Jadi…? Kamunya mau udahan nih…?” Tanya Citra.

“Hmmm… Belum juga sih… ” Jawab Muklis singkat sambil mengarahkan kepala penisnya pada liang anus Citra.
“Loohhh….? Eh ehh.. Klis… ? Kamu mau ngapain…?” Jerit Citra panik.
“Aku mau make lubang tubuhmu yang lain Mbak…Aku pengen ngentotin lubang pantatmu… Sepertinya lubang ini bakal terasa lebih kering daripada lubang memekmu…”
“Waduh…. Ehh… Eeehh… Jangan Klis… Mbak belum siap….”

Namun, sepertinya teriakan Citra agak sedikit terlambat. Karena Muklis sudah terlanjur melesakkan kepala penisnya untuk membelah liang anus milik istri kakak kandungnya itu.

CLOOOOP

“Ooohh Mbaakkk… Ini baru namanya enaaaakkkk…” lenguh Muklis sambil meremas erat kedua bulatan pantat Citra. Menjauhkan kedua daging semok itu kekiri dan kekanan. Melebarkan sejauh mungkin lubang anus Citra supaya bisa menerima tusukan batang penis Muklis lebih dalam lagi.
“Ssshh.. Kliss.. Jangan Kliiiiss.. Jangaaan…Bo’ol Mbak…. Maasiiih sereeeet…” Erang Citra dengan tangan yang menahan tubuh Muklis supaya tak semakin maju.
“Hehehe… Udaaah Mbaaaak…. Nikmatin aja entotan kontolku ini…. Pasti enak kok… Hehehe….” Kekeh Muklis yang kemudian mulai menggoyangkan pinggulnya maju mundur. Menggempur celah anus kakak Iparnya itu keras-keras.

PLAK PLAK PLAK…. PLAK PLAK PLAK

Namun setelah beberapa kali tusukan, lagi-lagi Muklis mendapati hal yang sama. Alih-alih mendapatkan jepitan lubang anus yang kering, adik ipar Citra ini malah mendapatkan lubang anus yang juga penuh dengan lendir kental berwarna putih keruh. Lendir yang sama dengan lendir yang keluar dari vagina kakak iparnya.

“Mbak….? ” Tanya Muklis yang kemudian memperlambat goyangan pinggangnya.
“Ooohh…. Loohh… Kok berhenti Klis…? Kenapa….?”
“Nggg… Kok bo’ol kamu juga berlendir ya Mbak…?”
“Ehhh…? Berlendir…? Masa sih…?” Tanya Citra sambil menengok kearah Muklis.
“Iya Mbak… Nih lihat aja sendiri… ” Jawab Muklis sambil mencabut penis besarnya dari lubang vagina Citra.

PLOOPPP.

“Nih Mbak… Liat…. Kok kontolku berlumuran lendir yang sama dengan lendir yang ada di memekmu…?”
“Ooohh… Itu….? Anu…. Tadi Mbak… Mmmmm…. Tadi Mbak juga ngobel bo’ol Mbak Klis… ” Bohong Citra lagi. Ia benar-benar tak ingin jika adik iparnya itu tahu jika tadi lubang anus favoritnya itu, baru distubuhi oleh Yadi. Si penjaga kounter.

“Ngobel bool….?”
“Iya… Mbak tadi juga ngobel bo’ol Mbak Klis… Karena seret…. Mbak lumurin aja lubang anus Mbak pake bekas pejuhmu… Biar gampang ngobelinnya Klis…”
“Hmmm…. Gitu ya Mbak…?”

“Udah yuk… Gausah bahas itu lagi…. Sekarang… Ayo kamu sodok-sodok memek Mbak lagi Klis… Mbak udah ngerasa enakan kok…” Hibur Citra demi supaya Muklis tak lagi memikirkan tentang sisa sperma Rahman, Banu, Yadi dan Usep yang masih tertinggal di dalam setiap lubang yang ada di tubuhnya.
“Nggg… Oke deh Mbak…” Jawab Muklis yang kemudian menusukkan kembali batang penis besarnya pada lubang anus Citra

CLEP

“Uuuuuuhh… Klis..”
“Nggg… Tapi Mbak.. Masa lendir aku banyak begini sih Mbak…?” Tanya Muklis lagi. Rupanya pemuda satu ini masih saja sesulitan untuk menahan rasa penasarannya, “Kayanya… Aku cuman keluar sedikit deh Mbak… Jadi nggak bakal bisa bikin memek dan anusmu kebanjiran pejuh gini…”Jelas Muklis lagi penuh curiga.

“Mmmm…. Kalo tentang itu…. Nggg… Mbak ya nggak tahu juga ya sayang… Mbak juga heran…”
“Heran….?” Tanya Muklis, “Nnggg… Kamu tadi nggak selingkuh khan Mbak…?”
“Apa Klis… Se…. Selingkuh…?” Tanya Citra kaget ,”Selingkuh dengan siapa Klis…?”
“Ya nggak tahu Mbak… Khan bukan aku yang gejalaninnya….”

“Nggg…. Nggaklah Klis… Mana mungin Mbak berani selingkuh….?”
“Masa sih Mbak…?” Cecar Muklis lagi, “Kalo Mbak nggak berani selingkuh… Trus yang selalu kita lakuin selama ini apa…? Buktinya Mbak masih saja mau aku entotin…”
“Nnggg… Bukan gitu Klis…”
“Uudah Mbaak… Ngaku aja… Tadi Mbak selingkuh khan… ?” Cerocos Muklis, “Ini bukan pejuh aku khaan Mbaak…?

Merasa bingung, Citra tak mampu berpikir cepat untuk menjawab semua tuduhan Muklis, “Enngg… Sebenernya sih …. Tadi… Nngg…. Mbak cuman…..” Kata Citra putus-putus.
“Dengan siapa Mbak….??” Tanya Muklis lagi, “Soalnya nggak mungin banget deh Mbak sperma aku bisa sebanyak ini kalo kamu nggak selingkuh…?”
“Nngggg…”
“Ini pasti sperma orang lain Mbak… Iya khan Mbak…? Dan ini sperma… Sepertinya dikeluarin oleh kontol yang pemiliknya lebih dari satu orang…. Bener khan Mbak…??”
“Nggg.. Kok kamu mikirnya gitu sih Klis….? Emang Mbak wanita apaan…?”
“aaahh… Ngaku aja Mbak….? Dasar istri murahan….LONTE…”

Mendengar tuduhan-tuduhan Muklis, emosi Citra pun seketika meluap. Walau memang benar ia baru saja disetubuhi oleh Rahman, Yadi, Usep dan Banu, namun tetap saja, ia tak ingin persetubuhan tadi diketahui Muklis. Dan lagi, Muklis tak berhak menyebutnya sebagai wanita lonte.

“Kok kamu gitu sih Klis…??” Geram Citra, “Udah udah… Sekarang kamu maunya apa…? Kalo kamu nggak mau ngentotin Mbak… Nggak masalah kok ama Mbak… “Sewot Citra.
“Toh Mbak bisa ngajak ngentot orang lain….”
“Banyak kok kontol-kontol lelaki lain yang bisa ngentotin Mbak tanpa harus banyak omong…”
“Tinggal ngentotin memek gratisan aja kok kebanyakan bacot…”.

“Udah-udah… Kalo kamu nggak mau ngentotin Mbak… Mbak mau pake baju aja… ” Sewot Citra sambil bergerak menjauh dari Muklis, “Mbak mau ketemu ama mas Marwan… Mbak udah ditungguin suami Mbak….”

Melihat kemarahan Citra, emosi Muklis pun meledak-ledak. Ditambah mendengar Citra menyebut nama suaminya, entah kenapa, birahi Muklis semakin tak terkontrol.

“Kamu nakal Mbak… Kamu bener-bener nakal….” Bentak Muklis yang kemudian mendorong pundak Citra supaya lebih rebah kedepan dengan kasar. “Bini lonte kaya kamu memang harusnya dikasih pelajaran… Biini nakal kaya kamu memang harusnya dihukum… ” Tambah adik ipar Citra itu yang kemudian mencabut penisnya dari vagina Citra.

PLOOP
Dan cepat-cepat memasukkannya kedalam liang anus Citra.

CLEEP

“Ooooohh.. Kliss….” Desah Citra yang ternyata dalam kemarahannya, masih bisa merasakan kenikmatan yang tak terhingga.
“Ngapa panggil-panggil….? Kakak ipar binal sepertimu…. Memang harus dihukum…” Bentak Muklis lagi sambil segera melesakkan batang penisnya dan mengaduk isi liang anus Citra.

PLAK PLAK PLAK….
Tanpa basa-basi lagi, Muklis segera membombardir lubang pantat Citra dengan kecepatan tinggi.
PLAK PLAK PLAK….

“Oooohhh…. Cabut Klis… Cabut…. Mbak udah nggak Moodd… ” Erang Citra sambil berusaha mendorong tubuh Muklis yang bergoyang semakin cepat ketika menyetubuhi lubang pembuangannya, “Ooohh… Ohh… Mbak nggak mau Klis… Mbak udah nggak mood lagiiii…”

PLAK PLAK PLAK….
“Bodo amat…. Bini lonte sepertimu memang harus dihukum seperti ini Mbak…” Jawab Muklis yang kemudian kembali mencabut batang penisnya dari lubang anus Citra, lalu menghujamkan kuat-kuat ke dalam vaginanya.

PLOOOP…. SEECLEEEP….

“Wuuoohhh…. Uhhh.. Uhhh.. Uhhh.. enak banget Mbaaaak… ” Ucap Muklis sembari terus menggempur lubang vagina Citra kuat kuat. Tanpa henti. Tanpa ampun.

PLAK PLAK PLAK…. PLAK PLAK PLAK….PLAK PLAK PLAK….

“Rasain hukuman akibat kebohonganmu Mbak… Rasain hukuman akibat kenakalanmu….”
“Ohh… Uhh… Uhhh… Uuhh… Ngentot kamu Klis… Udah-udah… Mbak ngga mau kamu entotin seperti ini lagi…. Cabut kontolmu Klis… Cabuuut….” Erang Citra yang terus berusaha mendorong tubuh Muklis menjauh.

PLAK PLAK PLAK…. PLAK PLAK PLAK…. PLAK PLAK…. PLAK….
PLAK PLAK…. PLAK PLAK PLAK….
PLAK…. PLAK
PLAK….

“Sshhh…. Bener nih nggak mau aku entotin lagi…?” Goda Muklis yang kemudian menggoyangkan tusukan penisnya dengan gerakan super pelan. Sengaja menggoda syaraf sensitif bibir vagina Citra dengan urat batang penisnya. Menggelitik pelan hingga membuat Citra mendesah-desah keenakan.

“Bener nih Mbak…? Nggak mau dientotin kontol besarku lagi….?” Goda Muklis sambil menggelitik lubang anus Citra yang licin, “Nggak ada loh orang lain yang punya kontol seperti punyaku…”

‘Oooohhh… Klisss… Ngentot kamu sayang… Jangan siksa Mbak seperti ini dooong…”
“Hehehe… Yaudah… Kalo nggak mau disiksa… Jawab dulu pertanyaan aku Mbak… ” Ucap Muklis sambil terus menggerakkan jemarinya, menggelitik liang anus Citra sembari menyodokkan batang penisnya perlahan. Masuk. Keluar. Masuk . Keluar
“Oooohhh… Jawab apaan Kliisss…?”

“Tadi Mbak selingkuh khan…?” Tanya Muklis.sembari terus menggelitik kedua lubang tubuh bagian bawah milik Citra dengan gerakan super pelannya
“Nngg… Jangan siksa Mbak seperti ini Klis… Mbak nggak kuat kalo kamu perlakuin seperti ini…”
“Hehehe… Makanya…. Jawab dulu… ” Pinta Muklis yang kali ini merabai titik kelemahan Citra yang super sensitif. Dengan tangan kirinya yang masih bebas, adik ipar Citra itupun mulai meremasi kedua puting payudaranya secara bergantian.
“Oooohh… Ngentttooot kamu Kliss… Ampuuunnn kliisss… Jangan siksa Mbak seperti ini… Udah dong sayang…. Goyangin kontolmu.. Memek aku udah nggak tahan niiih… Ayooo… Goyang yang cepeet…”
“Hehehe… Nggak mau sebelum kamu kasih jaawaaabannyaaa….”

Tak tahan dengan godaan Muklis. Citrapun akhirnya mengaku.
“Ooohhh… Iya Klis… Ssshh…. Mbak tadi selingkuh…?”
“Jadi bener Mbak…?”
“Ssshh…. Ooohh… Iiyaaaahhh… Mbak tadi ngentot dengan orang lain… Dan pejuh yang ada di memek Ssshh… Dan bool Mbak…. Itu milik orang lain….Ooohh.. Puuas Klis……?”

Mendengar pengakuan Citra, birahi Muklispun seketika meledak. Meluap-luap bak lahar panas. Matanya melotot dan mulutnya terkatup erat. Gigi-giginya gemeretak dan otot tubuhnya menegang.

“Aastaga Mbaaak… sempet-sempetnya ya…? Sumpah kamu nakal Mbak… Kamu nakal banget… ” Ucap Muklis dengan nada berat. Seolah kesulitan menahan emosi. “Kamu memang istri lonte… Jadi bikin… Kontolku… Pengen ngentotin tubuh hamilmu.. Terus teruan… Ohh Mbaak Citraaaa Aguuustinaaaa….

Dengan kecepatan tinggi, Muklis lalu mencabut penisnya dari vagina Citra dan kembali menghujamkan kelubang anusnya.

PLOOOP CLEEECEEP..
Tanpa mengucap banyak kata, Muklis segera menggoyangkan pinggulnya. Bergerak dengan gerakan super cepat.

PLAK PLAK PLAK…. PLAK PLAK PLAK… PLAK PLAK PLAK….

“Ooohh.. Ooohh…Mukliiiissss… Pelan-pelan Kliiiisss….”
“Ngentot kamu Mbak… NGENTOOOT….”
“OOOHHH… Pelan Kliiss… Bo’ol Mbak NGILUUUUUU…”

PLAK PLAK PLAK…. PLAK PLAK… PLAK PLAK PLAK…. PLAK PLAK PLAK… PLAK PLAK PLAK….

Tak peduli dengan desahan dan rintihan Citra, Muklis terus saja menggempur lubang pantat Citra keras-keras. Tanpa henti. Tanpa ampun..

PLAK PLAK PLAK…. PLAK PLAK PLAK… PLAK PLAK PLAK….
“Kamu memang harus dihukum Mbaak… Harus disiksa…” Geram Muklis yang kembali memindah tusukan penisnya dari anus ke vagina Citra.

PLOOPPPOP… CLLEEEEEPPP….

PLAK PLAK PLAK…. PLAK PLAK PLAK… PLAK PLAK PLAK…. PLAK PLAK PLAK… PLAK PLAK….

“OHHHH… ANJRIIIITTTTT… Kliiisss.. pelan-peelaaannn…. ” Erang Citra. “Jangan ngawur nyodokin kontolnya Kliiisss….Saaaakkkiiiiitttttt… Pelan-pelaaaann…”
“Huuuoooohh… Sakit apa enak Mbak…? Ohh…” Goda Muklis sambil terus meremas pantat Citra, “Kalo sakit kok memek Mbak bisa ngempot-ngempot gini… Ohh… Ohh… Ohh…”
“Ooooohhh….. Muuuukliiissss….. Saaakiiitttt…. Tapi sekaligus Eeeenaaaakkkk…”
“HAHAHAHA….. Dasar bini LOOONTEEEEE….”

PLAK PLAK PLAK…. PLAK PLAK PLAK… PLAK PLAK PLAK PLAK…. PLAK PLAK PLAK… PLAK PLAK…. PLAK PLAK…. PLAK PLAK PLAK… PLAK PLAK PLAK…. PLAK PLAK PLAK… PLAK

PLOOOPPPP CLLEEEEPPPP

berulang kali, Muklis menusukkan batang penis jumbonya ke vagina dan anus Citra secara bergantian. membuat kakak iparnya yang sedang hamil itu berteriak-teriak histeris. antara kesakitan, juga keenakan.

PLAK PLAK PLAK…. PLAK PLAK… LAK PLAK… PLAK PLAK PLAK PLAK…. PLAK PLAK PLAK… PLAK PLAK…. PLAK PLAK…. PLAK PLAK PLAK… PLAK PLAK PLAK…. PLAK PLAK PLAK… PLAK

PLAK…. PLAK PLAK PLAK…. PLAK PLAK PLAK…

PLOOOPPPP CLLEEEEPPPP

PLAK PLAK PLAK…. PLAK PLAK… LAK PLAK… PLAK PLAK PLAK PLAK…. PLAK PLAK PLAK… PLAK PLAK…. PLAK PLAK…. PLAK PLAK PLAK… PLAK PLAK PLAK…. PLAK PLAK PLAK… PLAK
PLAK PLAK PLAK…. PLAK… PLAK PLAK…. PLAK PLAK PLAK…. PLAK PLAK PLAK… PLAK PLAK….

Sakit, geli, enak dan super nikmat. Itulah yang dirasakan Citra pada kedua lubang tubuh bawahnya. Karena walaupun berkali-kali Muklis mengaduk vagina dan anusnya secara bergantian, pada akhirnya, Citra pun menyerah dalam kenikmatan. Perlahan-lahan, gelombang orgasme mulai kembali menyapa.

“Ooooh kliiiss… ENAK banget kliiiss… NGEEENTOOOTTT… Mbak mau keluar Muklis ngentooott…”
“Hiya Mbak… Aku juga mau keluar… Kita keluar bareng ya Mbaak… ”
“Oooh… Terus Kliss.. Entot memek Mbak terus Kliiss… Entot dengan KONTOL BESARMUUUU… ENTOOOOT TERSU KLIIISSS…. Iya…. Iya Klis… Kita keluar bareng… NGENTOOOTT… Kita KELUAR BAAREEEEENG….
“Sekarang ya Mbak… AKU UDAH NGGAK KUAT LAGI….”
“IYA KLIS…. Sekarang… SEKARAAANG… OOOHH.. NGEEENTOOOOTT… NGEEENTOOOOOTTTT..

CREEET CREET CREECEEET CREEET…
CROOOT CROCOOOTTT CROOT CRROOOT…

Seketika, tubuh kedua manusian yang masih ada hubungan keluarga itu bergetar hebat. Keduanya mendapatkan orgasme yang begitu dahyat. Tubuh Citra melejit-lejit karena nikmat. Matanya melotot dan mulutnya menganga. Sepertinya hari itu ia mendapat orgasmenya yang paling hebat.

begitu pula dengan Muklis. Yang walaupun sudah mendapat orgasmenya, masih saja menghentak-hentakkan pinggulnya, guna menyemburkan persediaan spermanya hingga habis ke liang peranakan Citra.

“Oooohh… Ngeeentoooottttt…. Enak bangeeet Kliiiiisss….. Saaakittt… Ngiluuuu… Tapi… Enaaaaakkkk…”
“Hehehe… Iya Mbak… Aku juga ngerasain enaaak bangeeet…”
“Gila.. Kamu kuat ya Klis…. Bisa bikin Mbak sampe kelojotan gini…. Sumpah… Mbak sampe lemes…”
“Mbak juga hebat kok…. Hamil hamil tapi masih bisa bikin kontolku sange terus…Hehehe….”
“Hhhh.. Hhh… Kamunya aja yang nafsuan Klis… Hhh…” Balas Citra. “Kliiis… Makasih ya…. Enak banget kontolmuuuu…. Bikin kaki Mbak lemes…” Lenguh Citra dengan vagina yang masih penuh oleh penis adik iparnya tiba-tiba kehilangan kekuatan pada lututnya. Dan seketika itu pula, tubuh wanita semok itu merosot kebawah. Muklis yang ada dibelakang Citrapun dengan sigap menangkap tubuh semok kakak iparnya dan ikut menurunkan tubuhnya.

“Loohh.. Mbaak… Bentar Mbak.. Jangan duduk dulu… Bisa patah kontolku kalo kamu dudukiinn Mbaak… ” Protes Muklis yang buru-buru ikut menurunkan tubuhnya lalu merebahkan badannya diatas lantai kamar mandi yang dingin.
“Mbak nggak kuat Klis… Kaki Mbak capek bangeet… ” Jawab Citra sambil memutar posisi duduknya. Dari yang semula memunggungi Muklis, jadi menghadap kearah adik iparnya. Dan dengan hanya beralaskan tubuhnya adik iparnya, Citrapun duduk bersimpuh sambil mengatur nafas.

“Oooohh… Mbaak… Kontolku jangan dipelintir gittuuu… ” Erang Muklis yang merasakan jepitan vagina Citra seolah memeras batang kejantanannya.
“Hihihihihi… Maaf Klis… Kaki Mbak masih lemes kalo harus bangun…. Dan juga memek Mbak masih ngilu banget kalo harus ngelepas batang kontolmu…” Ucap wanita hamil itu mencoba mengatur nafasnya.

“Hhhhhh…. Mbaak mbaak…. Kamu tuh ya… Cantik banget kalo udah keluar…” Goda Muklis sambil meremas kedua payudara Citra yang bergoyang didepan tubuhnya. “Yaudah… Kalo gitu… Kamu istriahat dulu deh Mbak… Nggak apa-apa deh kalo kamu mau terus dudukin kontolku…”

“Makasih ya Klis… Makasih banget… ” ucap Citra yang kemudian memajukan tubuhnya dan mengecup bibir saudara iparnya itu, “Kontolmu memang jauh lebih hebat daripada kontol pria-pria tadi…”
“Iya Mbak.. Sama-sama… ” Jawab Muklis ,”Mbak udah puas khan…?”
“Hihihi…. Hiya Klis… Mbak selalu puas dengan pelayanan kontol besarmu…” Ucap Citra sambil mengejankan otot vaginanya, memberikan jepitan super ketat pada penis besar milik adik iparnya.
“Uuhhh…. Mantaaap.. ” Erang Muklis keenakan.

“Huuuooohh…. Badan Mbak sakit semua Klis… Apalagi memek Mbak… Ngilu banget…” Desah Citra sambil menggeliatkan tubuhnya.
“Waduh… Tapi kira-kira kandunganmu nggak kenapa-napa khan Mbak…?” Tanya Muklis, “Khan dari pagi sampe barusan… Memek Mbak kayaknya nggak brenti-brenti muasiinnn kontolku…. Hebat bener Mbak… Jadi mirip Lonte beneran… Hehehe….”
“Iiihhh… Muklis…. Masa nyamain memek Mbak kaya memek Lonte siiihhh….?”
“Hehehe… Ya khan itu misal Mbak… Kalo misalnya Mbak lonte beneran… Kira-kira duit mbak udah dapet berapa ya….? Hehehe….”

Tak menjawab kalimat Muklis, Citra terlihat sedang menghitung sesuatu.

“Enam kontol…. ” Bisik citra lirih pada dirinya sendiri
“Haaa….? Apanya yang enam kontol Mbak… ?” Kaget Muklis

“Eeh… Bukan… Anu… bukan Klis… Maksud Mbak…
“Enam… Memangnya Mbak tadi ngentot ama berapa cowok Mbak…?”

” Bukan Klis… Maksud Mbak bukan gitu…”
“JadiHari ini Mbak habis muasin enam kontol…? Gitu Ya Mbak…?” Tebak Muklis, “Kontol siapa aja Mbak… Tadi pagi memek Mbak muasin kontol Mas Marwan… Trus kontolku… Trus siapa lagi mbak…?”

“Hihihi… Apaan sih Klis…? Mbak tadi khan cuman becanda… Hihihihi….” Jawab Citra sambil cekikikan, “Mbak pengen tahu aja… Gimana reaksi kamu kalo misalnya tahu seumpama Mbak dientot ama orang lain…. Hihihihi…”
“Aaahhh.. Aku nggak peraya Mbak… Kamu pasti bohong ya…? Kamu barusan beneran dientot ama cowo lain khan…?”
“Hihihihi… Emangnya kenapa sih Klis kalo Mbak abis dientot ama kontol cowo lain…?”
“Ya aku pengen tahu aja Mbak…”
“Iihh kepooo deh kamu… Hihihi…”

“Iiiihhh Mbak gitu yaaa…. Main rahasia-rahasiaan segala…”
“Hihihi… Udahan yuk Klis… Kita makan…. Mbak udah laper… Mbak udah ditungguin ama Mas Marwan… ” Jawab Citra yang kemudian mengumpulkan tenaganya dan buru-buru bangkit. Menaikkan tubuhnya dan melepas cengkeraman vaginanya pada penis Muklis.

PLOOOPPP

“Uuuuhh… Klisss… Selalu aja ya… Kontolmu selalu bikin memek Mbak ngilu…. Bikin memek Mbak kalo habis kamu entotin jadi melompong lebar gini… Hihihihi…” Kata Citra

SEEEERRR… Seketika lendir kenikmatan Muklis mengalir deras ke paha dalam Citra.

“Jadi Mbak… Kamu tadi dientotin berapa orang…?” Tanya Muklis lagi yang masih penasaran.
“Hihihihi… Apaan sih Klis…? Masih aja yaaaa….?” Jawab Citra yang kemudian menyeka lendir dan sperma yang mengalir turun di paha dalamnya. Kemudian segera mengenakan dres baru pembelian Muklis.

“Eh Klis…. Kamu nggak beli celana dalam ya….?”
“Emangnya kenapa mbak…?”
“Celana dalam Mbak khan basah kena pejuh kamu Klis… Masa mbak pakai lagi…?”
“Hehehe… Ya kalo nggak mau pakai… Gausa sekalian Mbak…”
“Iiiihh… Bisa masuk angin Klis…?”
“Hehehe… Yaudah…. Terserah Mbak aja kalo gitu….”

“Hmmm… Dipake aja kali ya Klis…. Sekalian buat nahan sisa pejuh cowo- cowo yang masih tersisa di rahim Mbak…. Biar ga keluar mulu Klis…?
“Cowo-cowo…?” Kaget Muklis, “Naaah khaaan…. Kamu tadi beneran habis dientot banak cowo khan Mbaak….?”
“Hihihi… K…. E…. P….O…..”
“Ahhh… Mbak Citraa….Ayo Mbaak…. Jawab… Kamu tadi ngentot ama siap Mbakkk….?”
“Hihihi….Udah ah… Yuk kita makan…. Mbak udah laper banget…”
“Mbak Citraaaa… Jawab dulu Mbaakk….”

“Hmmm… Kayanya tadi Mbak dientot ama….. Tukang sapu… Tukang baju…. Tukang pentung…. Ama Tukang parkir…. Jawab Citra sambil menggoyang-goyangkan pantatnya, “Gitu kali ya Klis…?” Tambahnya lagi tersenyum dan melangkah meninggalkan Muklis sendiri di dalam kamar mandi.
“Serius Mbak… Trus Ceritanya gimana…? Kok bisa seperti itu…?”
“Hihihi… Itu khan mungkin Klis… Mungkin….?”
“Haadeeeh… Mbaakk… Kamu bikin aku ngaceng lagi deeeeh….”
“Hihihi… Udah ah… Ayo makan….. Kamu tuh ya… Ngaceng mulu…”
“Mbak Citra Agustinaaa….. Ayo jawaaaab duluuu… Tadi ceritanya gimanaaaa….?”

Bersambung,

Daftar Part