web hit counter

Nafsu Citra Part 32

0
403

Nafsu Citra Part 32

Dokter, Pasien, dan Pengantar Iseng

“Mbak… Sembari nunggu giliran periksa… Kita ketoilet bentar yuk….” Pinta Muklis sambil mengusap perut Citra yang semakin membesar, “Biasa Mbaakk… Secelup dua celup… Hehehe…”
“Husssh… Udah ah… Mbak lagi nggak pengen becandaan nih….” Tolak Citra lembut.
“Ayolah Mbak… Bentar aja… Sepuluh menit… Eh enggak… Lima menit aja deeehhh…. Ya Mbak ya… Yang penting kontol aku nggak kesiksa gini…” Pinta Muklis sambil mengusap penisnya yang sudah menggembung dibalik celana jeansnya.
“Ntar aja yaaa… Dirumah….”
“Yaaah… Mbak…. Bosen mbak dirumah… Kita khan belum pernah Mbak ngentot di klinik ini….”
“Hush…. Nggak ah…. Dirumah aja Klis….”
“Ayolah Mbaaakkk… Hari ini khan Mas Marwan mau pulang Mbak…. Kalo Mas Marwan sudah dirumah… Mana bisa bebas aku ngentotin memek sempitmu ini lagi Mbaaak… ” Rajuk Muklis sembari mengamit tangan Citra dan meletakkannya pada tonjolan selangkangannya, “Ayolah Mbaaak… Ya….? Sebeentaaar ajaa….”
“Nggak ah Klis… Giliran Mbak sebentar lagi nih…” Tolak Citra sopan. Namun masih membiarkan tangan lentiknya bertengger di selangkangan Muklis.
“Ah Mbak Citra nih… Mentang-mentang suaminya mau pulang… Pasti berharap dientot ama Mas Marwan nih…. Trus… Aku jadi dilupain deeeh…” Rengek Muklis sambil dengan nekat, mulai menurunkan resleting celananya dan mengeluarkan batang penisnya.

Mungkin karena kondisi klinik bersalin itu sudah sepi, Muklis jadi semakin berani bertingkah macam-macam. Namun, sebelum Muklis berhasil mengajak Citra bersetubuh, tak beberapa lama kemudian, pasien sebelum dirinya keluar dari ruang periksa. Membuat adik ipar Citra itu buru-buru menutup penisnya dengan majalah.

“Ibu Citra Agustina….” Panggil suster penjaga sambil melihat ke seluruh penjuru ruangan tunggu klinik bersalin yang sudah sepi.
“Iya Sus…” Seru Citra sambil mengangkat tangannya, “Ayo Klis… Giliran Mbak nih…”
“Aaah…. kampret… Nggak jadi lagi deh ngentotin memekmu Mbak….” Gerutu Muklis sambil memasukkan kembali batang penisnya yang sudah menegang kedalam celananya.
“Kamu mau ikut masuk nggak….?” Tanya Citra. “Kalo nggak mau ikut… Kamu tunggu disini aja ya….”
“Yaudah deh… Aku ikut aja….” Jawab Muklis kesal.

“Mari Pak… Bu…. Silakan masuk…” Ajak suster penjaga itu sambil membawa semua berkas kesehatan Citra dan melangkah masuk kedalam ruang periksa.
“Tapi abis Mbak periksa… Aku minta jatah ngentotin memek Mbak loh ya….?” Pinta Muklis.”
“Iya deeeh… Iyaaa….. ” Goda Citra sambil mengusap pipi cemberut Muklis, “Senyum ah… Jangan cemberut gitu dooong….”

“Ini berkas pasiennya Dok….” Bisik suster penjaga tadi sambil menyerahkan berkas kesehatan Citra kepada Dokter Beno.
“Didepan masih ada pasien lagi nggak…?” Tanya Dokter Beno tanpa melihat Citra.
“Ini pasien terakhir Dok…”
“Ohh… Udah yang terakhir ya…?” Balas Dokter Beno yang akhirnya melihat kearah Citra.

“Malem Dok….” Sapa Citra basa-basi.

Melihat wanita cantik yang ada didepannya, mendadak raut muka Dokter Beno menjadi tegang, dan rona wajahnya seketika menjadi merah.

“Ehh…. Ibu…. Citra….” Balas Dokter Beno, “Silakan duduk Bu….”
“Hmmm… Dok… Berhubung tak ada pasien lagi…. Boleh saya….”
“Ohhh… Iya… Kamu mau ijin ya…. ? Boleh-boleh….” Jawab Dokter Beno tanpa menunggu si suster menyelesaikan kalimatnya, “Biar nanti aku tutup sendiri ini klinik…. Kamu pulang duluan juga nggak apa-apa kok…”
“Ooohh… Terima kasih ya Dok… Kalo gitu saya pamit dulu…” Jawab suster penjaga itu sambil meletakkan segala kebutuhan pemeriksaan Dokter Beno ke samping meja.

“Hmmm….Ibu Citra Agustina….. Lama juga ibu nggak kontrol kandungan… Silakan duduk ibu…” Ucap Dokter Beno sambil membuka-buka buku catatan kesehatan Citra, “Jadi gimana…? Kandungannya sehat….?” Tambahnya lagi sembari menyembunyikan wajah kikuknya.

Sejenak, pikiran Dokter Beno melayang ke beberapa waktu lalu. Waktu dimana ia entah sengaja atau tidak, melakukan sebuah pelanggaran sumpah kedokterannya. Sebuah pelanggaran asusila bersama wanita cantik yang ada didepannya. Pelanggaran yang terasa begitu menantang sekaligus nikmat. Yang sampai detik ini, begitu ia inginkan untuk dapat mengulanginya kembali.

Dan, mungkin malam ini adalah malam keberuntungannya. Karena tak pernah ia sangka-sangka, Citra Agustina, wanita cantik lawan main tindakan asusilanya kemaren, muncul kembali ke ruang prakteknya.

“Sehat Dok….” Jawab Citra malu-malu, seolah tahu apa yang ada dipikiran Dokter Beno.
“Eh iya… Ada apa ini tiba-tiba ibu Citra datang ke klinik…? Apa ada masalah dalam kandungannya….?”
“Enggak ada masalah sih Dok… Cuman…. Kok akhir-akhir ini…. Tubuh saya terasa sering banget lemas….”
“Haa… Lemas….? Lemas yang bagaimana Bu…?”
“Nah itu dia Dok… Saya juga nggak tahu… Yang jelas… Badan saya sering tiba-tiba loyo Dok… Lemas gitu… Kaya nggak ada tenaganya….”

“Hmmm…. Kalo saya lihat dari data badan Ibu terakhir…. Berat badan ibu sepertinya mengalami gangguan… Disini terlihat… Berat badan ibu tak ada perkembangan….”
“Looh…? Kok bisa Dok…?”
“Iya… Kalo melihat grafik ini… Seharusnya… Berat badan Ibu naik… Nah…. Nyatanya… Badan Ibu sekarang terlihat lebih kurus…. Pasti Ibu Citra akhir-akhir ini melakukan terlalu banyak aktifitas ya…?”
“Nggg… Banyak sih nggak juga ya…”
“Jangan sering-sering mengangkat beban berat Bu…” Saran Dokter Beno.
“Hmmm… Saya nggak pernah ngangkat apa-apa Dok…. ” Jawab Citra, “Kalaupun ada yang perlu saya angkat… Saya minta tolong ke adik ipar saya…. Ya khan Klis…?”
“Iya Dok…. ” Jawab Muklis sambil menganggukkan kepalanya.

“Hmmm…. Mungkin ibu terlalu banyak melakukan pekerjaan rumah…?” Tebak Dokter Beno.
“Nggg…. Nggak juga Dok…. Semua pekerjaan rumah juga saya minta bantuin dia…” Jawab Citra sambil menepuk pundak Muklis.
“Kerjaan dikantor….?”
“Nggg…. Nggak juga….”
“Ibu susah makan….?”
“Wah… Makan kakak ipar saya justru sedang lahap-lahapnya Dok…” Sambar Muklis.
“Hmmm…. Ibu sedang stress…?”
“Stress…? Nggg…. Saya justru sering mengalami ‘kesenangan’ Dok…. Hihihi…” Tawa Citra penuh arti sambil melirik kearah Muklis.

“Kakak ipar saya ini Dok… Kadang kalo jalan… Suka tiba-tiba lemes… Seperti orang linglung… Terkadang…. Ia juga sering pusing Dok… Kaya tadi pagi… Wong sedang enak-enaknya saya pijit… Eh tiba-tiba kepalanya pusing banget….” Jelas Muklis memberi informasi, “Kira-kira kenapa ya Dok…?”

“Hmmm… Bingung juga ya….?” Celetuk Dokter Beno.
“Nah itu dia Dok… Karena saya nggak ngelakuin apa-apa… Tapi kok badan saya sering sekali merasa lemas…? Pengennya tiduran mulu Dok…”
“Tiduran trus ditidurin ya Mbak…?” Celetuk Muklis lirih.
“Hush…. Apaan sih Klis…” Seru Citra sambil mencubit pinggang Muklis, “Jangan hiraukan adik ipar saya Dok… Dia emang orangnya mesum… Hihihi…”

“Hmmm… Kalo saya boleh tahu…. Apa aktifitas terberat yang akhir-akhir ini sering Ibu lakukan…? Sebelum ibu merasakan keanehan pada badan Ibu…?” Tanya Dokter Beno.
“Nggg… Apa ya Dok…?” Bingung Citra, “Apa ya Klis…?”
“Kalo terlalu sering begituan kira-kira berpengaruh nggak Dok…?” Tanya Muklis.

“Begituan…? Maksudnya…?” Tanya Dokter Beno.
“Ya begituan Dok….” Jawab Muklis sambil menunjukkan jari jempolnya yang dijepit telunjuk dan jari tengahnya, “Keseringan ngen…..”
“Bersetubuh Dok….” Potong Citra sebelum Muklis menyelesaikan kalimatnya.
“Iya… Itu maksud saya Dok… Bersetubuh…. Hehehe….”
“Dasar otak mesuuummm….” Cubit Citra lagi kearah pinggang Muklis, “Bikin malu aja nih orang….”

“Hmmm…. Ada banyak faktor sih yang bisa membuat tubuh ibu yang dalam kondisi hamil ini tiba-tiba lemas atau pusing…. Keseringan bersetubuh pun bisa menjadi faktor penyebabnya…” Jelas Dokter Beno, “Kalo boleh saya tahu lagi…. Berapa kali dalam seminggu frekuensi ibu …. Mmmm…. bersetubuh….?” Tanya Dokter Beno malu-malu.
“Bersetubuh dengan suami sendiri atau dengan lelaki lain Dok…?” Celetuk Muklis lagi.
“Heeeh… Kampreeet…. ” Cubit Citra lagi, kali ini kearah dada Muklis.
“Dengan siapa aja deh… Yang penting…. Saya perlu tahu… Seberapa sering… Ibu… Melakukan persetubuhan dalam waktu seminggu…?”

Mendengar pertanyaan Dokter Beno, tiba-tiba Citra senyum-senyum sendiri. Terbayang di otaknya, aktifitas terberat yang ia lakukan selama ini.

Pagi ketika masih dirumah, Citra harus melayani nafsu Muklis, adik ipar kesayangannya kapanpun ia mau. Diruang tamu, dikamar, di teras depan ataupun belakang, didapur, bahkan hingga diMall, dipasar atau dimanapun mereka bisa bersetubuh.

Siang ketika dikantor, Citra kadang harus melayani nafsu Pak Utet, OB mesum yang paling sering meminta Citra untuk bergaya dengan posisi yang aneh-aneh ketika bercinta. Seto, tetangga samping rumah. Suami Anissa itu juga terkadang bertandang menemuinya, baik hanya sekedar mengajak makan siang ataupun bolos kerja. Yah, ujung-ujungnya mereka bersetubuh di villa, hotel, losmen ataupun kalau tak ada tempat lain, di toilet pom bensin pun jadi.

Malam harinya, ketika Citra sudah kembali kerumah, Pak Darjo juga seringkali datang. Sekedar menengok kontrakan yang ia sewakan ke Citra sambil membawakan cemilan beserta jatah kenikmatan penisnya.

Belum lagi, ketika Citra bosan dikota, ia sering meminta Muklis untuk main ke tempat Prawoto, teman Seto dikampung. Pria yang pertama kalinya memberikan kenikmatan anal seks ke liang belakang Citra. Bahkan terkadang, jika Citra pengen seks rame-rame, ia juga mengundang Pak Yusup dan Pak Panjul, penduduk dikampung Prawoto untuk bersama-sama meraih kenikmatan birahi.

Ketika main ke kampung Citra juga tak lupa sekalian meminta upeti dari Pak Usep, si Kades mesum akan hasil panen bulanan dari tanah yang Citra berhasil menangkan darinya. Dan sebelum pulang, kunjungan Citra pasti ditutup dengan lenguhan manja vaginanya ketika melampiaskan nafsu kepada Kades berpenis totol itu beserta ketiga ajudannya, Projo, Kirun dan Diki.

Selain itu, Rahman si security, Yadi, Banu ataupun Kasep, juga selalu berhasil membuat tamasya belanja Citra menjadi tamasya kenikmatan. Mereka berempat, seringkali bahu-membahu guna menyetorkan benih kejantanan mereka ke vagina Citra.

Serta yang terakhir, Pak Poniran, lelaki royal yang telah memberikan Marwan posisi pekerjaan terpenting dalam karirnya, juga sering kali mampir untuk sekedar main, sembari tentu saja, melampiaskan nafsu penisnya untuk bersetubuh dengan istri Marwan itu. Walaupun Pak Poniran sudah membuat Marwan jadi jarang pulang, tapi paling tidak, lelaki itu sudah membuat Citra dapat membeli semua perabot beserta mobil idaman yang telah lama ia impikan.

“Seringkali banget Dok… Terlalu keseringan malah…. ” Kata Citra.
“Naah… Dari situ… Ibu bisa menyimpulkan… Capek nggak ibu melakukan hal itu semua….?”
“Wah… Kalo ngomongin capek sih… Bener-bener capek Dok…” Jawab Citra lagi, “Tapi puas…. Hihihi….”

“Hmm… Gitu ya….? Yaudah…. Sekarang ayo kita periksa memek… Ehhh…. Kandungan ibu…. ” Kata Dokter Beno gugup.
“Baik Dok..”
” Sekarang… Silakan… Mari rebahan dulu Bu….” Ucap Dokter Beno mempersilakan sambil mendahului Citra masuk ke ruang periksa.
“Baik Dok….” Jawab Citra sambil meninggalkan Muklis di kursi konsultasi. “Klis… Kamu tunggu sebentar disini ya…. Atau kalo kamu bosen… Kamu bisa keluar aja maen-maen didepan…”
“Hhhh… Okelah…. Aku kedepan aja deh Mbak…. ”

Sepeninggalan Muklis, ruang periksa mendadak sunyi senyap. Hanya terdengar suara gerak jarum jam dinding yang berdetik nyaring.

“Ibu Citra kemana aja sih…? Udah beberapa bulan ini tidak periksa kandungan….” Tanya Dokter Beno membuka percakapan.
“Iya nih Dok.. Saya masih sibuk….” Jawab Citra sembari melepas blazernya, memperlihatkan pundaknya putih mulus yang terbungkus oleh dress biru yang tergantung manis di tubuh semok Citra. Setelah itu, ia menurunkan tali dressnya kesamping, membuat payudara besar Citra yang masih terbungkus bra dengan warna senada mulai terlihat jelas kemontokkannya.
“Hmmm…. Sibuk ya…?” Tanya Dokter Beno sembari terus menatap tubuh semok Citra dalam-dalam.

“Hihihihi… Kenapa Dok…? Kok kayanya tegang gitu…?” Goda Citra ketika mendapati mata Dokter Beno yang tak berkedip ketika menatap tubuhnya yang semakin menggairahkan, “Kaya nggak pernah ngelihat tubuh saya saja Dok… Hihihihi… Kangen ya…?” Tambah Citra lagi yang kemudian melepas bra dan seluruh dressnya. Kemudian menggantungnya di sudut ruang periksa.
“Nnggg… Sedikit Bu….”
“Sedikit apa sedikiiitt…? ” Goda Citra yang kemudian membungkukkan badan, melepas celana dalam yang ia kenakan dan memperlihatkan vagina gundulnya yang gemuk kepada Dokter tua itu.

“Loohh…? I… Ibu mau ngapain…??” Tanya Dokter Beno makin gugup ketika mendapati pasien dihadapannya sudah telanjang bulat.
“Eeh… Bukannya kalo mau periksa kandungan…. Harus telanjang bulat khan Dok…? Khan memek saya mau disodok-sodok….?”
“Ta..Tapi… Periksa kali ini… Su…Sudah ngga pake alat yang dimasukin meme…. Eeh… Vagina Ibu lagi Bu… Melainkan cuman periksa dibagian perut….”
“Oooowww… Jadi periksa kali ini… Memek saya nggak disodok-sodok lagi ya Dok…?”
“Eehh.. Nnggg…. ” Jawab Dokter Beno bingung.

“Dok….? Kenapa Dok…? Kok malah bingung gitu….?” Tanya Citra.
“Nggg… Kalo Ibu…. Nggg….. Maunya disodok-sodok…. Nggg….”
“Kenapa sih Dok…? Daritadi ngeliatin tubuh saya seperti itu…? Ada yang aneh….?”

“Eeh eh… Enggak kok Bu.. Nggak ada yang aneh…. ” Jawab Dokter Beno, “Sa.. Saya cuman tiba-tiba ngebayangin tentang… Nnggg… Tentang…. Pertemuan kita yang terakhir kalinya… Hehehehe….”

“Owalaaahhh…..Hihihihi…. Pantesan…. Itu udah menegang gitu…?”
“Hehehe… Iya… Ini khan juga gara-gara Ibu… Hehehe…. ” Kekeh Dokter Beno, “Jadi gimana bu…? Ibu kepinginnya diperiksa pake tongkat USG lagi ya…?”
“Hhmmm.. Ya terserah Dokter sih… Khan Dokter yang lebih tau tentang memek saya…. Perlu disodok-sodok apa nggak…. ”
“Nnggg… Emangnya…. Ibu mau saya… Nnnnngg…. So… Sodok….?” Tanya Dokter Beno yang semakin belingsatan melihat kepolosan Citra.

“Hihihihiihi… Dokter iihhhss… Wong udah keras begini… Pake nanya-nanya segala… ” Ucap Citra genit sambil tiba-tiba menjulurkan tangan kanannya ke arah tonjolan celana yang tumbuh membesar didepan selangkangan Dokter Beno

“Eeh… Bu…. sssh…..” Gagap Dokter Beno
“Hihihihi…. Kenapa Dok….?”
“Ngg.. Nggak apa-apa… Emangnya… Ibu…. nggg…. Mau saya sood…..”
“Kenapa sih Dok…? Kalo mau nanya itu yang jelas…. Hihihi…. ” Tanya Citra yang kali ini telah menurunkan resleting celana Dokter Beno dan memasukkan jemari lentiknya kedalam, kemudian tanpa meminta ijin, ibu muda itu mengeluarkan kepala penis Dokter yang mulai berkedut pelan.
“Oooohhh…. ” Lenguh Dokter Beno keenakan ketika merasakan remasan lembut tangan Citra.

“Dokkk….?” Panggil Citra manja sembari meniupi ujung penis Dokter Beno.
“Ooohh…. Ssshhhh… Ya…?” Jawab Dokter Beno sambil bergidik kegelian.
“Memek saya Dok….”
“Oooohh… Kenapa dengan memeknya Bu…?”
“Memek saya… Jadi Dokter disodok-sodok atau nggak…?”
“Mau Ibu gimana….?”
“Terserah Dokter… ” Jawab Citra singkat sambil mulai menjulurkan lidah basahnya, menggelitik mulut penis Dokter Beno.

TULILILILIT… TULILILILIT… TULILILILIT…
Tiba-tiba, handphone Citra berbunyi.
TULILILILIT… TULILILILIT… TULILILILIT… TULILILILIT… TULILILILIT… TULILILILIT…
Berhenti.

“Ooohh.. Sssshh…. Buu… ” Panggil Dokter Beno, ” Handphonenya bunyi…..”
“Eehhmm… Biarin aja Dok…” Cuek Citra, “Palingan telephon nyasar…”
“Kali aja ada urusan penting Bu….”
“Pentingan ngurus ini…. Sluuurpp….” Seru Citra sembari terus menyedot ujung penis Dokter Beno kuat-kuat, “Eeh Dok…?”
“Uuuuhhh…. Ya… Bu….?”
“Kira-kira…. Kalo memek saya disodok pake kontol sebesar ini… Sakit nggak Dok….?”
“Oooohhh.. Kontol….? Ehhhmmm….Bu Citra faseh banget nyebutnya….” Kaget Dokter Beno, “Emang ibu mau saya sodok pake kontol saya Buuu…?” Tambah Dokter Beno yang kemudian menjulurkan tangannya lalu meraih dan meremas payudara besar Citra pelan.
“Hihihihi… Saya penasaran aja Dok…Ehhmm…. Geli Dok….”
“Kok penasaran…? Khan sama aja Bu dengan penis… Uuhhmmm… Kontol suami Ibu…?” Jawab Dokter Beno yang kemudian mulai memelintir puting payudara Citra. Membuat istri Marwan itu mulai merinding kegelian.

“Hhmmm… Iya sih… ” Lenguh Citra, “Cuman punya suami saya nggak sebesar punya Dokt…. Ssshh… Oooohhh… ” Lenguh Citra mulai merasakan keenakan.
“Oooww… Punya suami ibu kecil….?” Tanya Dokter Beno

“Nnggg…. Hihihihi… Nggak kecil-kecil banget sih Dok… Cuman kok kalo saya ngelihat kontol sebesar ini… Rasanya…. ” Citra sengaja memotong kalimatnya, ia lalu mengurut-urut batang penis Dokter Beno yang sudah mengeluarkan precum sambil terus menyeruputnya dalam-dalam, “Rasanya… Jadi agak-agak gimanaaa gitu Dok….”

“Ooohh… Jangan godain saya seperti ini Bu…. Nanti saya nggak kuat…” Lenguh Dokter tua itu tiba-tiba
“Nggak kuat…? Emang nggak kuat kenapa…??”
“Nggak kuat untuk…. ” Tiba-tiba Dokter Beno membungkukkan badannya dan mengangkat tubuh Citra supaya berbaring di ranjang periksa. Setelah itu Dokter Beno membentangkan kedua paha Citra lebar-lebar lalu meraba-raba celah vagina Citra. “Mensia-siakan memek selegit ini Buuu… ” Tambah Dokter Beno sembari bergeser ke samping tubuh Citra kemudian menyelipkan jari tengahnya kedalam celah sempit istri marwan itu.

CLAAPPP

“Ooooooohhh….. Dok… Teeerrrrrr…..” Lenguh Citra pelan.
“Kenapa Bu…?” Goda Dokter Beno sambil mulai menusuk dan mencabut jemarinya dari celah vagina Citra yang mulai membasah.
“Ooohh…. Sssshh…. Eenak Dok……” Erang Citra yang kemudian membalas perlakuan nakal Dokter Beno. Mengocok batang penis yang menjulang tinggi di samping tubuhnya.
“Hehehe…. Sama Bu… Kocokan tangan ibu juga enak banget….”

“Jadi…. Sekarang Ibu maunya gimana….?” Tanya Dokter Beno sambil terus menggelitik vagina Citra pelan, “Ibu mau saya sodok-sodok… Eh… Periksa…? Atau gimana….?”
“Terrrrserah Dokter deeehhh…. Disodok juga ngak apa-apa Dok…. Uuuhhh… ”
“Bener nih Bu….? Nggak apa-apa kalo saya sodok-sodok….?”

CLAAPPP CLAAPPP
Suara kecipakan vagina Citra mulai membanjir.

“Ssshhh… Hiya Dok… Disodok-sodok juga saya mau…. Sekalian pengen nyobain disodok pake yang besar-besar…. Uuuhhh…. Dokteer….”
“Emangnya… Suami ibu jarang nyodokin Bu…?”
“Oooohhh… Dia orangnya super sibuk Dok… ooohhh….Dokteerr….” Lenguh Citra yang terus mengocok penis Dokter Beno kuat-kuat.

TEK TEK TEK….

“Uuuhh… Bu…. Ya kalo suami Ibu sibuk… Khan Ibu bisa minta tolong… Ooohh… Orang lain buat nyodokin ini memek…. Bu… hehehe…”

CLAAPPP CLAAPPP

“Orang lain siapa Dok…?”
“Saya contohnya…. Hehehehehe….”

TULILILILIT… TULILILILIT… TULILILILIT… TULILILILIT…
Tiba-tiba, handphone Citra berbunyi lagi.
TULILILILIT… TULILILILIT… TULILILILIT… TULILILILIT… TULILILILIT… TULILILILIT…
Namun kali ini berdering lebih lama.
TULILILILIT… TULILILILIT TULILILILIT… TULILILILIT… TULILILILIT… TULILILILIT TULILILILIT…

“Bu… Handphonenya bunyi lagi…..”
“Ooohh…. Biarin aja Dok… Palingan telephon nyasar lagi…”

TULILILILIT… TULILILILIT TULILILILIT… TULILILILIT… TULILILILIT… TULILILILIT…………………..
Hening. Suara telephon itu berhenti

“Uuuhh… Ngeganggu orang pengen disodok aja sih… Hihihi… ” Canda Citra,
“Hehehe… Iya ya Bu….”
“Terusin lagi dok…”
“Hehehe… Ibu suka ya permainan jari saya….?”
“Hihihi… Ssaya sih lebih suka permainan jari dokter yang lain….” Jawab Citra sambil terus mengurut penis Dokter Beno kuat-kuat.

TEK TEK TEK….TEK TEK TEK….

CLAAPPP CLAAPPP CLAAPPP CLAAPPP

“Eh iya Dok… Eehhmm…. Jadi kalo saya pengen minta tolong disodok-sodok Dokter…. Bisa ya Dok…?”
“Hehehehe… Bisa….Itupun kalo ibu pengen…. ”
“Cuman… Ssshhh…. Saya takut Dok…”
“Takut apa Bu…?”
“Takut kalo ketagihan kontol besar Dokter…. Hihihi… Ooohh… Ooohh… ” Gelijang Citra.

CLAAPPP CLAAPPP CLAAPPP CLAAPPP
“Uuhh… Itu…. Justru bagus Buu….. Seharusnya…. Di usia kehamilan Ibu yang sudah seperti ini… Memek Ibu harus sering-sering disodok Bu… ” Jelas Dokter Beno, “Istilahnya.. Nengokin adek bayi…..Hehehe….” Tambah Dokter Beno yang tanpa diminta, langsung berpindah kearah tubuh bagian bawah Citra.

Dan, tanpa basa-basi Dokter tua itu lalu membungkukkan tubuhnya, dan mencium bibir vagina Citra.

SLUURP

“Ooohh.. Doook… Memek saya diapain Dok…? Geeeeliiiii…” Pekik Citra kaget. Ketika merasakan lidah hangat dokter tua mulai menguak-kuak celah vagina sempitnya.
“Ooohh.. Ini… Saya mau periksa liang memek Ibu…”

SLUURPPP SLUUURRPPP

“Ooooohhh Doookkk..?”
“Kenapa Bu….? ”
“Geeeeliiii bangeeettt Doook…”
“Hehehe.. Berarti syaraf perasa memek Ibu masih bagus….” Ucap Dokter Beno yang kemudian tiba-tiba mengarahkan batang penisnya ke tengah-tengah selangkangan Citra, “Sekarang saya mau periksa otot memek Ibu….”
“Ooooooohh…. Dokteeeerrrr….” Lenguh Citra sambil mengelijangkan tubuhnya kekiri dan kekanan. Berusaha menahan rasa nikmat akibat gesekan kecil penis Dokter Beno pada vaginanya.
“Sepertinya…. Jepitan memek Ibu… Masih bener-bener kuat Bu… ” Jawab Dokter Beno, “Dan sekarang… Pemeriksaan terakhir ya Bu…. Tahan sebentar…”

SLEEEP….
Tiba-tiba, Citra merasakan sebuah benda hangat, besar, dengan ujung tumpul, menyeruak masuk kedalam celah vaginanya yang sempit.

“Oooohhhhhhh…. Doooookkkkteeeeerrr…..” Pekik Citra lagi.
“Uuuhhh… Kenapa Bu…?”
“Kontol Dokter…. Ooohh…. Besaaar seeekaaaali Doooookkkk…..”
“Tahan bentar ya Buuu…. Ini baru kepala kontol sayaaa…. Uuuuhhh….”
“Oooohhhh…..Hiya Doook…. Uuuhhh… Sodok memek saya….”
“Hehehe… Maaf ya Bu… Saya sudah nggak bisa menahan birahi saya lagi…. Hehehe….” Kekeh Dokter tua itu sembari terus mendorong pinggulnya maju. Melesakkan batang penisnya lebih dalam ke liang vagina Citra.
“Oooohh… Dokteeer…. Iya… Nggak apa-apa Dok….” Lenguh Citra lagi. “Ooohh… Ssshh…. pelan-pelan…”

Dokter Beno terus mencoba memasukkan penis jumbonya masuk kedalam liang sempit pasiennya. Karena hari itu vagina Citra belum dimasuki batang besar sama sekali, berulang kali dokter tua itu harus mencabut dan memasukkan kembali penisnya. Hingga akhirnya.

PLEK.
Seluruh batang penis Dokter Beno, berhasil masuk seluruhnya. Terlahap habis oleh vagina sempit Citra dalam-dalam.

“Uuuuhh… Mentok Bu….” Ucap Dokter tua itu sembari berdiam diri, menatap tubuh semok Citra yang telentang dihadapannya.

“Eeehmmm…. Hiya Dok… Memek saya terasa penuh banget…..”
“Hehehe…. Berarti.. Suami Ibu memang bener-bener jarang nengokin ya Bu…?”
“Ahhh…. Suami saya mah jarang pulang Dok… Dia terlalu sibuk dengan kerjaannya….”
“Ooww…. Pantesan… Rasa memek ibu bener-bener sempit… Mirip memek anak SMA….”
“Iiiihhhs….. Dokter mesum deh…. Kaya pernah ngerasain memek anak SMA aja…. Hihihihi…”
“Hehehe… Pernah lah….”
“Kalo gitu dokter udah sering ya main ama memek yang sempit….”
“Tapi nggak sesempit ini Bu….”
“Aaah… Dokter… Bisa aja ngegombalnya…. Udah Dok…. Sekarang sodok memek saya Dok…”
“Bener Nih…?”
“Iiya Dokterku sayaaang……. Sodok aja…” Jawab Citra manja, “Sodok memek pasienmu ini keras-keras…”
“Hehehe…. Tahan ya Buuu….” Jawab Dokter Beno yang kemudian mengambil ancang-ancang. Dan begitu dirasa siap, ia kemudian menghujamkan batang penisnya kuat-kuat, menabrak tengah selangkangan Citra.

PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK…

Perlahan, suara tumbukan pinggul dan vagina kedua insan berlainan jenis ini mulai memenuhi ruangan. Erangan demi erangan juga terdengar saling susul menyusul, berusaha menikmati persetubuhan terlarang antara Dokter dan pasien.

“Ooohhh… Doookteeerr… Kontolmu enak banget Doookkk….”
“Ssssh… Iiya Bu… Memek ibu juga peret bangeet….”

PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK…

Segera saja, kedua insan tanpa ikatan pernikahan itu saling memacu birahi, mendaki gunung kenikmatan yang mulai tercipta dari persetubuhan terlarangnya.

Dengan kencang, Dokter Beno menabrak-tabrakkan batang penisnya kecelah sempit Citra. Membuat ranjang periksanya ikut-ikutan berderit lantang hingga menabrak dinding. Melenguh, dan mengerang lantang, Dokter Beno menghajar liang kenikmatan pasiennya tanpa peduli dengan kondisi sekitar.

PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK…

Begitupun dengan Citra, istri Marwan itu juga terlihat sangat menikmati persetubuhan terlarangnya. Mendesah dan merintih lantang seiring sodokan penis besar Dokter Beno sembari mencubiti kedua puting payudara besarnya kuat-kuat.

PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK…

“LOOOHHH… MBAAK CITRA…..? DOKTEER…. KALIAN SEDANG APA….”Teriak Muklis yang tiba-tiba sudah berada di dalam ruangan periksa.

“Loohh… Eeh… Looooh… Aanu… Eeh….Anu….” Jawab Dokter Beno bingung ketika ia mendapati lelaki pendamping Citra tadi sudah berada didekatnya.
“Sssssssttt… Mukliiisss… Jangan bikin Dokter Beno jantungan ah…. Nggak baik….” Nasehat Citra sambil menempelkan jari telunjuk di bibirnya.
“Ahh… Mbak Citra curang…..” Celetuk Muklis spontan,
“Sssshh…. Diem dulu ah… Ngeganggu orang mau dientot aja….” Celetuk Citra santai, “Udah Dok… Nggak apa-apa… Terusin aja ngentotinnya….”
“Ngg… Baik Bu….”

PLAK… PLAK… PLAK…

“Mbak curang deh…..”
“Ooohh.. Curang kenapa Klis….?”
“Tadi aku ajak ngentot… Mbak nggak mau….?”

“Haahhh….?” Kaget Dokter Beno ketika ia mendengar perkataan Muklis, “Diajak… Ngentot…?”
“Hihihihi… Hiya Dok…Adik ipar saya ini yang sering bikin saya kecapekan…. Uuuhh… Kencengan lagi Dokk nyodokin memek saya……”
“Astaga Bu… Kamu ternyata nakal juga ya….?”
“Hehehe… Kencengan lagi Doook….”

PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK…PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK…

“Ahhh… Kampreeett… Mbak Curaaang…. ” Seru Muklis kesal, “Pantesan Mbak tadi ditelponin nggak njawab… Ternyata sedang enak-enakan ‘diperiksa’ toohh….?”
“Oooww.. Jadi tadi itu kamu toh…”
“Bukan aku yang telephon Mbak… Tapi… ” Dengan sengaja, Muklis tak meneruskan kalimatnya. Ia kemudian bergerak kesamping tubuh Citra dan mulai menggantikan tangan Citra. Meremasi kedua gundukan payudara kakak iparnya kuat-kuat.

TULILILILIT… TULILILILIT… TULILILILIT… TULILILILIT…
Tiba-tiba, handphone Citra berbunyi lagi.
TULILILILIT… TULILILILIT… TULILILILIT TULILILILIT… TULILILILIT… TULILILILIT…

“Noh…. Yang nelpon Mbak dari tadi tuh… Suami Mbak….” Jawab Muklis yang tiba-tiba mencaplok payudara Citra dan menghisapnya kuat-kuat, membuat istri kakak kandungnya itu melenguh kencang.

“Oooohhhh…. Muuuukliiiisss… Geli Kliiiissss….” Jerit Citra kegelian sambil menggoyangkan tubuhnya kekiri dan kekanan, tak mempedulikan sodokan penis Dokter Beno dan bunyi ringtone yang melengking membahana.

PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK…PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK… PLAK…
TULILILILIT… TULILILILIT… TULILILILIT TULILILILIT… TULILILILIT TULILILILIT… TULILILILIT… TULILILILIT… TULILILILIT TULILILILIT… TULILILILIT… TULILILILIT…

Muklis tahu, payudara Citra adalah titik kelemahan terbesarnya. Dan ia tahu, jika payudadara Citra dipermainkan, orgasme kakak iparnya itu dapat segera datang.

TULILILILIT… TULILILILIT… TULILILILIT TULILILILIT… TULILILILIT TULILILILIT… TULILILILIT… TULILILILIT… TULILILILIT TULILILILIT… TULILILILIT… TULILILILIT…

“Sluurrrppp…. Ini Mbak… Mas Marwan telephon…..Sluupp.. Cup.. Cup….” Jawab Muklis sembari terus-terusan menyedot puting payudara Citra kuat-kuat, sebelum akhirnya menekan tombol jawab dan menyerahkan handphone miliknya pada Citra.

“Oohhh…… Mukkllliiisss….. ” Lenguh Citra pelan.
“Haloo…? Klis…. Udah sampe ruang dokter…?” Panggil Marwan dari ujung telephon.

“Sluuuurrrpp… Haaeemm… Cuuup Cuuupp.. CUUUUPPP….”
“Ooohh.. Geli Kliiisss….”
“Haloo…? Klis…. Itu suara mbakmu ya…?” Tanya Marwan.

“SLUURRPPP…. HAP… HAP… SLUUURRPP… HAAEMM…. CUUUUUPPPP….CUUUUPPPP”
“Ooohh… Mukliiisss…. Oooohh… Jangan hisap tetek Mbaakk Kliiisss…”
“Haloo…? Muklis….? Deeek….? Halooo….? Kalian sedang apa sih….? Halooo…? HAALLLLOOO….?”

Bersambung,

Daftar Part