web hit counter

Nafsu Citra Part 45

0
429

Nafsu Citra Part 45

Cerita Panjang di Rumah Sakit 4

Sepulang perawatan Citra dari rumah sakit, kondisi kesehatannya pun makin membaik. Tubuhnya terasa makin kuat dan sehat. Bahkan, Citra bisa melakukan banyak aktifitas yang lebih banyak daripada beberapa waktu kemaren. Walaupun hanya sebatas aktifitas-aktifitas ringan, tapi paling tidak, Citra sudah bisa bergerak kesana kemari.

Karena aktifitas Citra yang cukup banyak, bentuk tubuhnya yang semula sedikit chubby dan montok pun perlahan-lahan mulai kembali ke kondisi semula. Perutnya yang gendut, perlahan menyusut dan mengecil. Lengannya yang besar, juga perlahan mengecil. Begitu juga dengan paha dan betisnya yang semula membulat gempal, makin meramping kecil bak bunting padi. Hanya payudaranya yang sama sekali tak berubah. Masih bulat menggoda dengan ukurannya yang makin besar menakjubkan.

TENG TENG TENG…

Suara pagar besi diketuk dari luar.

“Permisi…” Panggil seorang laki-laki pada pemilik rumah.
“Permisi Neeeng…” Sahut suara wanita.

Karena tak ada yang menjawab, mereka berdua memutuskan untuk masuk kedalam pelataran rumah.

TOK TOK TOK

“Permisiiii….” Panggil laki-laki itu sambil mengetok pintu rumah, “Permisi Neeeng….?”.
“Ehhh…. Ada tamu tooohh…” Jawab Citra dari dalam rumah dengan hanya mengenakan sepotong handuk kecil yang melilit tubuh semoknya,”Maaf saya nggak dengar… Tadi saya sedang mandi… Eeehhh ternyata ada Pak Utet dan Bu Ratmi… Silakan masuk Pak… Bu… Mari….” Tambah Citra mempersilakan tamunya masuk sambil terus membetulkan handuknya yang seringkali melorot turun.

“Eh… Iya.. Makasih Neng… ” Ucap Pak Utet yang kesenangan melihat kerepotan Citra. Ia buru-buru masuk sembari membawa beberapa kantong kresek yang berisi kado, lalu meletakkan ke kursi tamu.
“Waduh…. Kok malah repot-repot Pak….?”
” Hakhakhakhak…Nggak apa-apa Neng… Ini mah nggak ngerepotin kok…. Cuman sekedar kado buat dede bayinya…. ” Jawab Pak Utet dengan mata yang tak berhenti melotot melihat keseksian Citra.

“Iya… Nggak ngerepotin kok Neng… Ini cuman ucapan terima kasih karena kami sudah sering dibantuin ama Neng Citra…” Sahut Bu Ratmi menambahkan
“Selebihnya, titipan orang-orang kantor Neng…” Tambah Pak Utet lagi, “Silakan diterima Neng….”
“Waahh….. Makasih banyak ya Pak…. Buu…” Jawab Citra yang mau tak mau akhirnya menerima bingkusan tersebut. Namun karena Citra masih sibuk memegangi ujung handuknya yang seringkali mau lepas, ia lebih memilih untuk menerima kantong kresek itu satu persatu.

“Bantuin napa Pak…. Neng Citra kerepotan ituuuh….” Celetuk Bu Ratmi pada suaminya yang tak berhenti menatap kagum akan kecantikan tuan rumahnya itu.
“Eh I.. Iya…” Jawab Pak Utet kaget, “Sini saya bantuin Neng…”

“Wah.. Nggak usah Pak…. Ini saya sudah bisa kok….” Jawab Citra sambil terus mondar-mandir kedapur dan ruang tamu guna membawa bingkisan dari Pak Utet.

“Silakan diminum Pak… Bu… Maaf… Cuman ada air putih… ” Ucap Citra yang tanpa berganti pakaian, langsung menyuguhkan minuman kepada kedua tamunya.

“Oeeeeekkkk….. Oooeeekkk…..” Tiba-tiba, tangis Clarisa terdengar lantang, memecah kesunyian pagi.
“Looh Neng Citra…. Anaknya menangis tuh… ” Celetuk Bu Ratmi
“Ehhh.. Iya… Sepertinya Clarissa terbangun….” Jawab Citra terus membetulkan handuk kecilnya yang sering melorot karena tak mampu menampung gundukan payudaranya, “Sebentar ya Pak Buu.. ” “Iya Neng… Monggooo….”

“Heeeiii… Sabar Saayaang… Cup Cup Cup… Sebentar….” Ucap Citra berusaha menenangkan tangis putrinya. Dengan langkah buru-buru, Citra meninggalkan kedua tamunya di ruang tamu.

“Matanya…. Maatttaaaa….” Potong Bu Ratmi ketika melihat suaminya tak berkedip melihat kearah tubuh Citra yang sedang berjalan menjauh.
“Eeh… Iya… Kenapa Bune..?” Kata Pak Utet pura-pura bingung.
“Aku potong loh kontolmu kalo matanya masih mesum gitu…?”
“Ehh… Ennggaaak koookkk…. Enggaaa”
“Enggak apa…? Wong kontolmu ngaceng gitu….?” Ucap Bu Ratmi yang sepeninggalan Citra, langsung meremas tonjolan celana yang tumbuh membesar di selangkangan suaminya.
“Adoooww…. ” Jerit Pak Utet kesakitan.
“Makanya… Nafsu tuh dijaga…”

“Dijaga kok…” Alesan Pak Utet, “Cuman kalo disuguhi penampilan semok seperti itu… Mana bisa nahan buat nggak ngaceng Bu’ne…?”
“Mau kontolnya aku cincang-cincang buat campuran bikin bakwan…?” Ancam Bu Ratmi, “Jangan-jangan kamu masih suka ya ngebayangin jorok ama istrinya Mas Marwan itu…. Iya… Masih suka ya…?”
“Lohh… Ehhh… Kok…? Nanyanya seperti itu…?” Kaget Pak Utet yang tak mungkin menceritakan kejadian yang seringkali ia lakukan bersama Citra beberapa bulan belakangan ini.

“Udah ah…. Wes Pak… Buruan pulang yuk… Aku kebelet pup nih… ” Pinta Bu Ratmi yang ingin segera mengakhiri percakapan mereka.
“Haaaa…? Kebelet pup…? Kok tumben Bu…?”
“Iya nih Pak…. Nggak tau kenapa… Tau-tau aku pengen pup…. Yuk…. Pulang Yuk….”

“Laaaaahhh… Kita khan belom liat putrinya Neng Citra Buuu… Ntar dulu lah… Tahan….” Jawab Pak Utet mencoba memberi solusi.
“Mau liat putrinya Neng Citra…? Atau Neng Citranyaaa….?”
“Ehh….. Nggg…. Yaaa…Dua duanya sih…”
“Huuuu… Lambemu Paak….” Ejek Bu Ratmi, “Uudaahh ahhh… Sekarang ajalah Paaakk… Udah nggak tahan niiiihhh…” Paksa Bu Ratmi sambil menarik-narik lengan suaminya, “Apa aku numpang pup disini aja kali ya…?”

“Ih malu-maluin aja sih…. Masa baru bertamu bentaran mau numpang boker Buu….?” Omel Pak Utet.
“Makanya… Ya kalo kamu nggak mau aku Pup disini…. Kita pulang aja… Yuk Pak… ”
“Hmmm… Yaudah gih… Pup disini ajalah…” Ucap Pak Utet yang akhirnya menyetujui ide istrinya.
“Tapi Pak… Jangan ahhh…. Aku malu Paaak…”

PPRRREEEEEEEETTTT…

Kentut Bu Ratmi terdengar nyaring dan panjang.

“Waduh…. Pak…” Bingung Bu Ratmi dengan wajah yang mulai keringatan.
“Walaaahhh….. ? Bu’ne…. Kok kowe malah ngebom… ?”
“Addduuuhh iyaa…Gimana nih Pak…? Udah diujung nih… Aku udah nggak tahan lagi…”
“Yaudah… Makanya sana…. Buruan kekamar mandi….”

“Tapi Pak…”

“Neng Citra… ” Panggil Pak Utet tanpa basa-basi dari arah ruang tamu, “Neeeng…?”
“Ya Paaakk…?” Jawab Citra dari arah kamarnya.
“Istri saya mau numpang ke kamar mandi Neeeng… Boleh yaa…?”
“Eeh iyaa Paak… Boleeehh… Silakan aja….” Sahut Citra lagi. “Kamar mandinya ada dibelakang..”

“Nooohhh….. Wes ta mintain ijin… Sekarang….. Buruan dituntasin gih… Aku tunggu disini aja…”
“Aduuuhh…. Anterin Pak…”
“Hadeeehhh…. Manjaaaa banget siihh…?”

PREET PREPET PRREEPPPEETTTT PREETTTT….

“Walah… Makin panjang itu bomnya… Gawat nih kalo keburu keluar… Bisa berceceran dimari nih….”
“Aduh Paaak… Ayooo…”

Dengan terpaksa, Pak Utet akhirnya bangkit dari duduknya kemudian mengantarkan istrinya kebelakang, menuju ke kamar mandi Citra. Bu Ratmi yang sudah kesusahan menahan hajatnya, buru-buru mengamit tangan suaminya sembari menguatkan otot anusnya, supaya hajatnya tak kunjung keluar.

“Permisi ya Neng… ” Sapa Bu Ratmi ketika melewati pintu kamar Citra yang tak tertutup rapat.
“Eh iya Buu.. ” Jawab Citra dari dalam kamar.

Walau hanya sekilas melintas, Pak Utet benar-benar menyempatkan diri untuk melirik kedalam kamar Citra. Berusaha melihat keadaan Citra yang sedang berada didalam sana.

GLEK…

Jakun tua Pak Utet langsung terlihat naik turun ketika mendapati wanita seksi pujaan hatinya itu sedang rebahan di atas tempat tidurnya dengan posisi menyamping. Menyandarkan kepalanya pada satu tangannya, dan memberikan satu payudaranya kepada putrinya. Benar-benar membangkitkan gairah. Terlebih karena handuk kecilnya yang sudah terbuka separuh, semakin membuat birahi Pak Utet bergejolak hebat.

“Itu kamar mandinya Bu…” Jelas Pak Utet begitu sampai di dapur.
“Temenin ya Pak…”
“Haa…? Temenin…? Nggak ah… Aku mau kedepan….” Tolak Pak Utet, “Masa aku bertamu cuman buat nemenin orang boker sih…? Ogaahh…”

PREEEETTTT… PRETPREET…

“Aduuuhhh… Yoweslah…. Aku sendirian aja….” Jawab Bu Ratmi yang dengan wajah cemberut buru-buru masuk kedalam toilet dan menutup pintu kamar mandi.

CKLEK.

” Hakhakhakhak…” Tawa Pak Utet dalam hati ketika mendapati triknya barusan berhasil dengan sempurna. “Obat berak ini memang manjur banget… Si peyot itu pasti lama selesainya…. ” Tambahnya lagi sembari mencium sebuah botol kecil transaparan yang didalamnya terdapat cairan bening.

Rupanya, ketika Bu Ratmi lengah, Pak Utet sengaja mencampurkan cairan pencahar ke minuman istrinya. Itu sebabnya Bu Ratmi mendadak kepingin buang air besar. Dan jika melihat kebiasaan istrinya ketika menuntaskan hajatnya, Pak Utet tahu jika istrinya selalu menghabiskan waktu yang relatif lama.

“Sekarang…. Aku bisa bebas ketemu ama Neng Citra…. Hakhakhakhak…” Kekeh Pak Utet girang sambil berjalan menuju kamar Citra, “Bisa bebas kalo mau hewes-hewes-hewes…..”

Dengan berjingkat, lelaki tua itupun kembali melangkah masuk. Menuju pintu kamar Citra yang tak tertutup rapat.

“Permisi Neng….?” Bisik Pak Utet pelan sembari membuka pintu kamar tidurnya.
“Looohhh Eeeeh…? Pak Utet….?” Kaget Citra ketika mendapati lelaki tua itu sudah berada didalam kamarnya, “Kok Bapak kesini…?”
“Hiya… Habisan Saya kangen ama Neng Citra… Udah lama banget ya Neng… Saya nggak main-main kesini buat sekedar ngelihat Neng Citraku yang semok ini…”

“Iya ya Pak…Udah lama banget…”
“Maka dari itu Neng… Berhubung Saya denger Neng habis lahiran… Saya buru-buru kesini Neeeng… Buat melepas rindu dengan kekasih cantikku ini”
“kekasih…? Iiihhhss… Pak Uteeett…” Kaget Citra mendengar perkataan tamunya, “Ntar kedengeran Bu Ratmi loh Paak…”
“Nggak bakalan lah Neeeng…”
“Masa sih Pak…?”

“Iya… Istri Saya tuh Neng… Kalo udah pup… Pasti jadi kaya orang bego Neng… Udah budek…. Juga lama pula…. Jadi… Bakalan lama dia ngejogrok dikamar mandi Neng… ” Jelas Pak Utet dengan nada yakin, “Lagian lebih seruan nunggu disini bareng ama Neng Citra… Daripada nungguin dia diruang tamu…. Hakhakhakhak… ”
“Ohh gitu ya Pak….? Berarti… Kalo istri bapak sedang buang air… Pak Utet berasa bebas dong…?”
“Woooo HIYA……” Jawab Pak Utet singkat, “Makanya saya bisa kesini Neng…. Biar Saya bisa liat Neng Citra lagi… Hak.. Hak Hak…. ” Tawanya lagi memamerkan deretan gigi kuningnya.

“Nyot Nyot Nyot Nyot… CLEPUK… ” Tiba-tiba, puting payudara Citra terlepas dari kenyotan mulut putrinya, “Hiks Hik Hiks…Oeek…” Tangis Clarissa pelan.
“Eeeeh… Kelepas lagi nih Sayang…” Jawab Citra yang dengan sigap. Langsung kembali menyodorkan puting payudaranya kemulut putrinya.

GLEK….

Suara ludah Pak Utet membasahi tenggorokan keringnya..

“Hik Hik…. Hik… HAP… Ahemm…. ” Kenyot Clarissa lagi yang begitu disodorin payudara Citra, langsung melahap puting payudara ibunya dengan lahap, “Nyot… Nyot… Nyot…”

“Shhh… Shhh Shhh… Cup Cup… Sayang… Shhh… Shhh…” Bisik Citra menyusui putri kandungnya sambil menepuk-nepuk pantatnya pelan,” Shhh.. Shhh Shhh.. Pelan-pelan Sayang mimik cucunya… Ntar keselek loh… Shhh… Shhh Shhh…”

“Ehem… Nyot… Nyot… Nyot…” Balas Clarissa seolah tahu ucapan Citra.
“Wuuuiiiihhhh… Lahap bener ya Neng… Dedenya kalo netek…” Celetuk Pak Utet yang terus-terusan menatap payudara Citra yang besar itu.
“Iya Pak… Sampe ngilu saya ngerasain kenyotannya lidahnya….”
“Ngilu….? Kok ngilu Neng…?”
“Iya… Ngilu tetek Saya kena kenyotan lidahnya Pak…”
“Hmmm… Ngilu mana ama waktu tetek Neng Saya hisep dulu…? Hakhakhak…”

“Ihhhsss… Apaan sih Pak…?”
“Pasti… Dede bayinya keenakan ya Neng…”
“Keenakan gimana ya Pak…?”

“Ya enak aja bisa nenen di tetek Neng yang besar itu… Hakhakhakhak… ” Kekeh Pak Utet terus-terusan menelan air liurnya, “Apalagi kalo liat tetek Neng yang super empuk dan montok itu…. Bapak jadi ingeeett…..”
“Inget apa Pak…?” Potong Citra.
“Jadi ingeeetttt…. Nggg…. Kejadian dulu yang sering banget kita lakuin Neng… ” Jawab Pak Utet sambil membetulkan batang penisnya yang mulai kembali menegang di selangkangannya.

“Kejadian…? Kejadian yang mana ya Pak…?” Sahut Citra pura-pura tak mengerti.
“Ah Neng masa nggak inget sihh Neeengg…?” Tambah Pak Utet yang dengan terang-terangan mulai meremasi batang selangkangannya dihadapan Citra, “Kejadian yang bisa bikin kita sama-sama enak itu looohhh…”
“Kejadian sama-sama enak gimama Pak…?”

“Hiya Neng… Kejadian dimana memek Neng yang sempit itu… Disodok-sodok ama kontol Saya yang besar ini…. Uuuuuhhhh… Rasanya Neeeeng… Enak baaangeeettt…. Apalagi kalo pas memek Neng Citra ngempot-empot kontol Saya…. Pasti bikin saya langsung ngecrotin pejuh ke rahim Neng…”
“Hmmm…. Itu kejadian yang mana ya…?” Heran Citra terus berpura-pura bingung, “Yang saya inget cuman kejadian pas Pak Utet diusir ama Pak Darjo dulu… Hiihihi…” Canda Citra tertawa geli sembari menatap kearah batang penis tamunya yang tercetak jelas dicelananya.

“Yaaaahh… Neeeng… Masa yang diinget kejadian yang itu sih…?” Jawab Pak Utet malu, “Khan sebelum kejadian itu… Kita sering banget buat beginian…” Tambah lelaki tua itu sambil menjulurkan tangannya kedepan. Menunjukkan susunan jempol yang terselip diantara jari telunjuk dan jari tengahnya pada Citra.

“Hihihi… Terus…?”
“Ya kali aja…. Nggg… Kita bisa ngulangin lagi Neng… Hakhakhakhak…”
“Ngulangi gimana Pak…?”
“Ya ngulangi lagi Neng… Kaya dulu lagi… Memek Neng itu… Saya entot pake kontol Saya ini… Ngentot Neng… Nngeenttoott…” Jelas Pak Utet sembari menurunkan resleting celananya dan mengeluarkan kepala penisnya yang sudah benar-benar tegang dari dalam celananya.

“ASTAGA… Paaakk Uteett…” Kaget Citra melihat keberanian tamunya, ” Ada Bu Ratmi looooohhh…”.

“Bentaran aja lah Neeeng… Secelup dua celuuuppp…” Ucap Pak Utet yang kemudian melangkah mendekat kearah Citra sembari meludahi tangannya kemudian mengusap-usap kepala penisnya.
“Huusshhh…. Enggak ah…” Tolak Citra terus menyusui putrinya.
“Mmmm… Nyot.. Nyot.. Nyot.. Nyot..” Gemas Clarissa terus mengenyot puting payudara Citra. Bahkan saking gemasnya, bayi mungil yang sedang belajar menyusu itu semakin sering kali kelepasan mengenyot puting ibunya secara tak sengaja.

“Hihihi… Pelan-pelan Sayang neteknyaaa…. Kelepas mulu tuh….” Ucap Citra yang ikut-ikutan gemas melihat tingkah putrinya, “Jangan dilepasin mulu ahhh… Ntar tetek Mama diambil ama Pak Utet loh..”
“Nyot… Nyot… Nyot…” Kenyot Clarissa sambil tersenyum, seolah mengerti ucapan Citra.
“Loooh… Kok kamu malah ketawa sih Sayang…? Kamu mau tetek Mama diambil ama Pak Utet…?” Goda Citra sambil bercakap-cakap dengan putrinya, “Jangan ya Sayang… Ntar kamu nggak kebagian ASI Mama loh… Karena Pak Utet pasti rakus… Pasti bakal ngehabisin ASI Mama… Hihihi….”

” Hakhakhakhak…Enggak ya Deek… Pak Utet mah nggak bakal bisa ngehabisin tetek Mama ya Dek…?” Kekeh Pak Utet yang tiba-tiba duduk ditepi ranjang Citra. “Khan tetek Mama yang super besar ini nggak bakalan kehabisan ASI…”
“Eh Awas Dek… Ada kakek kakek cabul….” Goda Citra sembari berpura-pura melindungi putrinya dari gangguan Pak Utet.
“Iya Deek… Mau nyabulin Mama Adeeekkk…” Tambah Pak Utet sambil menjulurkan tangannya kearah Citra. Dan tanpa meminta ijin, lelaki tua itu lalu meremas payudara Citra lainnya yang masih tertutup kain handuk kecilnya.

“Iiiihhhsss…. Pak Uteett…” Lenguh Citra berusaha menjauhkan tangan jahilnya dari payudaranya.
“Ck ck ck ck…. Tetekmu masih besar dan empuk aja ya Neng…?” Puji Pak Utet terus meremasi daging bulat besar itu tanpa menghiraukan tepisan tangan Citra, ” Malahan…Sepertinya kok malah makin besar yak… Juga makin empuk banget Neng… Hakhakhakhak… ”
“Heeeehhh… Jangan Paaakkk…” Elak Citra terus menepis tangan Pak Utet.

“Yuk ah Neng…”
“Yuk apaan sih…?”
“Ngeennntooootttt… ” Bisik Pak Utet pelan sambil menyelipkan tangan tua keriputnya kebawah handuk kecil Citra, menerobos masuk kedalam selangkangan istri Marwan itu.

“Iiihhsss… Memek saya masih nifas Pak… Jadi nggak bisa dipakai ngentot dulu…” Tepis Citra ke tangan Pak Utet lagi.
“Eh iya yaa…?” Celetuk Pak Usep yang kemudian menyibak bawahan handuk Citra dan mengamati paha mulus beserta vagina gundul wanita cantik itu.
“Yaudah…. Kalo memek Neng nggak dientot… Pake anus aja deh…”

“Anus Saya masih sakit Pak…”
“Sakit…? Kok bisa Neng…?” Heran Pak Utet ,”Emang anus Neng Citra abis disodok siapa Neng….?”
“Ya sakit ajalah pokoknya…” Jawab Citra yang tak mungkin menceritakan perihal insiden dirumah sakit bersama Dokter Beno kemaren.

‘Hmmm… Kalo gitu…. Sepongin kontol saya aja deh…” Pinta Pak Utet yang kemudian beranjak dari tepi ranjang Citra dan berdiri di samping wajahnya. Setelah itu ia menjulurkan batang penisnya yang sudah menegang keras ke wajah cantik Citra, “Ya Neeeng…. Dikit aja deehh…”

“Enggak aahhh Paak….” Tolak Citra, “Saya nggak mau…”
“Ayolaaahh Neeeennggg… Saya kangen banget ama isepan mulut seksi Neng niiihhh….” Ucap Pak Utet sembari terus menyodorkan kepala penisnya ke mulut Citra.
“Enggak Paaak….Enggak…” Tolak Citra tegas.
“Kok nggak mau sih Neng..? Dulu aja biasanya Neng Citra yang sering minta ngisepin kontol saya….”
“Itu khan dulu Pak…”

Sekilas, Citra melirik kearah penis lelaki tua yang berada tepat didepannya itu. Menatap tajam kearah penis yang dulu selalu memberinya kepuasan orgasme ketika ia tak terpuaskan oleh Mas Marwan.

“Gimana Neng… ? Ayolah… Mau Yaaa…..?” Pinta Pak Utet yang terus berusaha menjejalkan batang penisnya ke mulut Citra.
“Ngggg… Enggak Pak… Saya nggak mau…”
“Cobain dulu lagi deh Neng… Kontolku makin besar loh ini… Pasti bisa lebih muasin Neng Citra…” Pinta Pak Utet tanpa putus asa, “Atau… Kalo Neng masih nggak mau.. Coliin saya aja deh… ” Ucap Pak Utet mengamit tangan Citra dan meletakkan ke batang penisnya.
“Enggak mau Pak… ” Tolak Citra lagi, “Enggak…”.

“Ayolaaah…. Sedikit aja… Saya udah nggak tahan lagi nih Neng Citra… LONTE cantikku…”

“LONTE…?” Tanya Citra dalam hati

Mendengar sebutan barusan, Citra mendadak ingat dengan panggilan yang seringkali diucapkan oleh para lelaki yang berulangkali menikmati tubuhnya. Mulai dari Pak Utet, Seto, Prawoto, hingga Muklis dan Mas Jupri, sering sekali mengatainya dengan sebutan itu. Namun entah kenapa, mendengar Pak Utet memanggilnya dengan sebutan itu, ada kilasan rasa emosi yang perlahan muncul dihatinya.

“Enggak Pak Saya nggak mau coliin kontol Bapak…” Ucap Citra tegas, “Kalo Bapak mau… Coli aja sendiri.. ” Tambahnya gamang dengan mata yang terus menatap penis berurat milik tamunya itu
“Huuuhh… Yaudah deh…. Ketimbang pulang bawa nafsu yang tak terselesaikan… Mending dituntasin disini ama kamu ya Neng…” Celetuk Pak Utet yang kemudian mulai mengocok penisnya cepat-cepat.

TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK

Suara tarikan penis Pak Utet terdengar begitu nyaring.

“Buruan colinya Pak… Keburu Bu Ratmi kembali dari kamar mandi…”
“Ho’oh….” Jawab Pak Utet singkat sembari menjulurkan tangannya kepayudara Citra dan meremasnya kuat-kuat.
“Ehh..? Bapak mau apa…?”

“Ayolah Neeeng… Masa udah nggak dikasih memek… Tetek juga nggak dapet….?” Rayu Pak Utet ,”Dikit ajalaaahh… Biar Saya cepet ngecrotnya….”
“Ngggg… Yaudah… Buruan kalo gitu….”
“Yeeesss… Makasih Neng….” Girang Pak Utet yang kemudian menyibakkan seluruh handuk kecil Citra dari tubuhnya. Menelanjangi istri Marwan itu bulat-bulat sebelum akhirnya kembali mengusap dan meremasi payudara besar Citra.

“Oooohhh…. Pelan-pelan Paak…” Lenguh Citra ketika mendapat perlakuan kasar pada payudaranya.
“Wuuuuuiiihh… Neng Citra…? Tetekmu ini baru diremes sedikit aja… ASInya udah langsung muncrat-muncrat gini ya Neng…?” Girang Pak Utet makin meremas kencang payudara Citra. Membuat payudara besar itu memancarkan ASInya kesegala arah.

“Ssshh.. Pelan-pelan Paak…”

“Gilaaaa… Banyak amat ASImu Neeeng… Bikin saya pengen ngenyot aja…” Tambah Pak Utet yang kemudian jongkok didekat payudara Citra dan mengarahkan semprotan ASI Citra kemulutnya. “Enak banget rasa ASImu Neng… Asin-asin manis…”
“Ssshh.. Ehhhmmm…. Udah ah Paak… Jangan muncrat-muncratin ASInya…. Ntar colinya malah nggak kelar-kelar….” Tegur Citra mengingatkan,” Buruan Pak kelarin colinya… Keburu istri Bapak selesai dari kamar mandi loh…”
“Eh iya-iya… “Jawab Pak Utet seolah tersadar dengan tujuan awalnya. Buru-buru ia kembali berdiri dan melumuri batang penisnya dengan cairan ASI Citra.

TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK

“Ssshhh… Neng Citra…. Kamu bener-bener cantik Neeng… Kamu bener-bener seksi…” Lenguh Pak Utet memuji-muji Citra, “Walau kamu sudah beranak Neng… Tak bakal menyurutkan niatan Saya buat mempersuntingmu jadi istri Saya… Ohh Neeng Citra Agustinaaa….”
“Hush… Nggak usah banyak ngimpi Pak…. Mending cepet kelarin colinya….”

TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK

“Ooohhh….. Neng Citraaa… Sssshhh…. Kamu menang makin cantik kalo emosi Neng… ” Lenguh Pak Utet dengan tubuh yang mulai melengkung-melengkung. Pertanda jika orgasmenya mulai datang.

TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK TEK

Dan, tanpa menunggu terlalu lama. Tiba-tiba, Pak Utet memejanmkan mata sembari tersenyum lebar.

“Neng Citra Agustinaku… Terimalah Neng… Semprotan benih cintaku padamu…. Ooohhh…. Ooohhh…. Ooohhh…. Neng Ciiiittraaaaa……”

CROOT… CROOOTT… CROOOCOOOTTT.. CROOTTT…. CRROOCRROOTTT…. CROOOTT…

Semburan lendir kental berwarna keputihan tiba-tiba melayang cepat, keluar dari mulut penis Pak Utet. Menyembur begitu cepat, jauh kedepan dan mendarat tepat kewajah cantik Citra.

CROOT… CROOOTT….
Ke rambut Citra

CROOOTT… CROOOCOOOTTT….
Ke payudara Citra

CROOOTT… CROOTTT.. CRROCOOOTTT…
Dan terakhir, ke arah tubuh putri kandung Citra.

“Iiiihhhhhhssss… Pak Utet mah kebangetan deeehh….. Masa nyemprotin pejuhnya banyak banget gini siihhh….” Omel Citra ketika sadar jika hampir seluruh tubuh atasnya basah karena semprotan lendir birahi tamunya,”Mana pejuhnya juga kena ke Clarissa…. Ihhhsss…. JOROOOKK….” Tambah Citra yang buru-buru bangun dari posisi rebahannya dan mengambil tissu dimeja samping tempat tidur.

CLEPUK…

“Hik hiks… Oeeekkk…”

Karena Citra sibuk membersihkan tumpahan sperma pada tubuhnya, otomatis puting payudaranya terlepas dari mulut putrinya. Membuat bayi mungil itu seketika menangis keras..

“Oooooeeeeeekkkkk….”
“Yaaah… Gara-gara Pak Utet siiihhh… Clarissa jadi bangun lagi nih…”
” Hakhakhakhak… Maaf ya Neng… Habisan… Tadi Saya nggak sengajaa…” Kekeh Pak Utet sembari ikut-ikutan membersihkan tumpahan spermanya di payudara dan wajah Citra.
“Nggak sengaja tapi kok nyemburnya banyak begini…”
“Ya maklum Neng… Kontol saya khan kalo nyemburin pejuhnya selalu banyak begini… Neng lupa ya…?

Tanpa menjawab, Citra buru-buru melilitkan kembali handuk kecilnya sebatas perut dan buru-buru menggendong putrinya lagi.

” Sshh… Sshh… Cup Cup Sayaaang… Sshh… Sshh… Sshh… Ayo bobo lagi…. Sshh… Sshh…” Ucap Citra berusaha menimang-nimang putrinya supaya tertidur lagi. Tak mempedulikan dengan separuh ketelanjangan payudaranya yang terbuka bebas.
“Sumpaaah Neng Citraaa… Tetekmu itulooohh… Bikin kontolku nyut-nyutan lagi….” Seru Pak Utet yang tanpa sungkan, kembali meremasi satu payudara Citra yang masih lengket karena spermanya. Payudara yang bergoyang bebas karena tidak sedang menyusui putrinya.
“Kenapa…? Masih kurang…?” Elak Citra berusaha menghindar dari remasan tangan tamunya itu.

” Hakhakhakhak… Kalo Neng mau… Bolehlaaah… Kita ngentot sebentar… Mumpung bini peyot Saya masih dibelakang….”
“Dibilang memek saya masih nifas kok masih pengen aja sih Pak…?” Ucap Citra sebal sambil terus membersihkan tumpahan sperma Pak Utet pada tubuh Clarissa
“Tapi khan…? Neng kemaren lahirannya cesar… Lewat perut… Masa memeknya sama sekali nggak bisa dipake sih Neng …?”

“Ya walaupun bisa… Saya nggak mau ngentot ama kamu Pak…”
“Yaaaahhh… Neng Citraaaa…. Sebentar ajaloh Neeeng… Lihat nih… Kontol Saya udah ngaceng lagi…”

“HEEH TUA BANGKE….Ngapain lo disini….?” Bentak Bu Ratmi yang tiba-tiba sudah berada didepan pintu kamar Citra, “Pantesan dari tadi dipanggil-panggilin kaga ngejawab… Ternyata sedang ngeliatin tetek bini orang… Bandel kamu yaaaa….”

“Eeehh… Loohh… Bu’neeee…. Kok udah selesai…?” Kaget Pak Utet begitu mendapati Bu Ratmi sudah berkacak pinggang dibelakangnya. Karena tak ingin tertangkap tangan melakukan hal mesum pada Citra, Pak Utet buru-buru memasukkan batang penisnya yang masih belepotan sperma kedalam celananya.

“Dasar Mata keranjang… Ngapain kamu disini…? Mau ngegodain Neng Citra lagi ya…?” Jewer Bu Ratmi menarik telinga suaminya dengan nada marah pada suaminya.
“Aduh aduh aduh… Enggak Bu’nee.. Enggak…”
“Kalo enggak… Kenapa itu resleting masih kebuka gitu…?” Tunjuk Bu Ratmi kearah tonjolan celah di celana suaminya, “Terus… Kenapa kepala kontolmu bisa keluar gitu…?”

“Ehh.. Ini… Anu Bu… Nggg…. Kontol aku khan panjang… Jadi… Anu….”
“Haaallaaahhh…. Kebanyakan alesan…. Dasar suami cabul… Nggak orangnya… Nggak kontolnya… Sama-sama mesum…” Remas Bu Ratmi kencang ke batang penis suaminya sambil menyeretnya keluar kamar.
“Aaaaduuuhhh….Maaf buu’nee… Maaf… ” Jerit Pak Utet kesakitan.

“Udah-udah… Ayo keluar… ” Seret Bu Ratmi penuh tenaga, “Neng Citra… Maaf yaa… Suami saya udah nggak sopan begini…”
“Hihihi… Iya ibu… Nggak kenapa-napa…” Jawab Citra sambil tersenyum geli.
“Tuuuhhh.. Neng Citra aja nggak kenapa-napa… Kok malah Bu’ne yang sewot…” Elak Pak Utet
“Dasar suami messsuummm… ” Seret Bu Ratmi terus menarik batang selangkangan suaminya keluar dari kamar Citra.

“Wah wah waaah…. Pantesan diluaran rumah ini terasa sepii… Ternyata didalam sini ada yang sedang seru-seru ya…? Kekekek….” Kekeh seorang pria yang entah sejak kapan sudah berada didalam kamar Citra juga, “Rupanya ada si Kakek cabul… Kekekek….”.

“Loohh…? Eeehh…? Pak Darjo….?” Kaget Citra dan Pak Utet hampir berbarengan.

“Waaalaah walaaahhhh…. Kalian ternyata kompak juga yaaa…? Kekekek…..” Kekeh Pak Darjo dengan nada mengejek, “Nggak heran kalo bayi Mbak Citra itu mirip ama…. ” Sengaja Pak Darjo tak meneruskan kalimatnya, ia hanya melirik mengejek kearah Pak Utet, “Jangan-jangan… Itu bukan hasil benih suamimu ya Neng…?”

“Heeh… Jaga ya mulutmu…” Bentak Pak Utet lantang kearah Pak Darjo. Seolah tak ingin semua kelakuan mesumnya diketahui oleh Bu Ratmi.
“Kekekek…. Yang harusnya dijaga tuh kontolmu…. Pak Uteeettt…. Biar nggak sering maen ke rumah tetangga…” Balas Pak Darjo santai.
“Kontolmu sering main kerumah tetangga Pak…?” Tanya Bu Ratmi bingung.
“Anu Bu… Nggg… Anu….” Gagap Pak Utet

“Kekekekek….” Tawa Pak Darjo girang, “Hmmmm… Ibu ini istrinya Pak Utet…?” Pak Darjo sambil menjulurkan tangannya
“Eh Iya Pak….Ratmi….” Balas Bu Ratmi menjabat tangan Pak Darjo.

“Saya Darjo Bu… Pemilik komplek rumah kontrakan ini….CUP….” Ucap Pak Darjo mengecup punggung tangan Bu Ratmi, “Hebat juga kamu Tet… Bisa ngedapetin istri yang cantik begini… Kekekek… ” Tawa Pak Darjo sumringah melihat Pak Utet mati kutu karenanya.

Melihat perlakuan Pak Darjo, Pak Utet tak bisa berbuat banyak. Karena selain terpojok akibat tak mampu menjawab kalimat-kalimat sinis Pak Darjo, Pak Utet juga tak ingin istrinya tahu akan kenakalan dirinya terhadap wanita lain.

“Uteeet-Uteet…. Punya istri cantik begini kok ya sering ditinggalin siiihhh…?” Celetuk Pak Darjo, “Ya kalo nggak sanggup menafkahin Bu Ratmi ini… Saya juga mau kok… Kekekekek….” Tambah Pak Darjo sembari membetulkan posisi penisnya diselangkangannya.
“Ahhh… Pak Darjo ada-ada aja deh….” Ucap Bu Ratmi dengan wajah tersipu-sipu.
“Loohh.. Beneran kok Buuu… Daripada punya suami tapi kontolnya sering kelayapan…”
“Kontol kelayapan…? Maksudnya apa ya Pak…? Saya kurang paham….”
“Kekekek…. Bu Ratmi ini polos banget ya…?” Sindir Pak Darjo, “Coba lihat deh bu… Putri Neng Citra…”

“I…Iiya…? Terus…?” Jawab istri Pak Utet memperhatikan ke arah Clarissa.
“Mirip nggak ama suami ibu…?”
“Nggg… Jadi maksud Bapak…? Suami saya ini Bapak dari putri Neng Citra….?” Tebak Bu Ratmi

“KEKEKEKEK…. Ya Saya nggak bilang seperti itu Bu… Saya cuman menarik kesimpulan… Kekekek…”
“Nggg…. Kalo Pak Darjo mengira jika putri kandung Neng Citra adalah hasil dari suami saya… Sepertinya nggak mungkin deh Pak… Karena suami saya khan mandul Pak… Jadi nggak mungkin itu anak suami saya….” Jawab Bu Ratmi polos sambil melirik tajam kearah Pak Utet.
“Waduuuhh… Beneran tuh Pak Utet….? Bapak mandulll….? KEKEKEKEKEKEK….” Tawa Pak Darjo puas sekali, “Ya kalo gitu… Mending Bu Ratmi jadi istri Saya aja Bu… Saya pasti bakal kasih ibu banyak momongan… ”

“Marniii… Eniiii… Srinaahhh… Leenaaa…. ” Panggil Pak Darjo lantang yang diikuti oleh munculnya beberapa wanita dari arah ruang tamu ,”Perkenalkan Buu…. Ini istri-istriku… Dan yang disamping mereka itu anak-anakku… Abi, Adi, Ali, Ami, Ani, Minda, Mina, Mirna, Nina, dan Nia… ”
“Eh iya hampir lupa…. Heh Kalian… Tolong dong… Bawain masuk kado-kado buat Mbak Citra ini…” Pinta Pak Darjo kepada kesepuluh anak-anaknya…

Berhubung orang yang masuk kekamar Citra makin banyak, lama-lama ia merasa jengah juga karena masih mengenakan handuk. Oleh sebab itu, Citra meletakkan kembali putrinya keatas kasur dan buru-buru mengambil daster ala kadarnya guna menutup ketelanjangan payudaranya.

“Hik hiks… Oeeekkk…. ” Tangis Clarissa lantang begitu terlepas dari puting payudaranya.
“Loohh.. Mbaaak… Bayinya nangis tuuuhh…” Celetuk Pak Darjo sambil mengangkat Clarissa dari atas kasur dan menyerahkan kesalah satu istrinya, “Lena… Tolong dong susuin ini bayinya Mbak Citra….”
“Baik Maass…” Jawab Lena sigap. Melucuti kancing kemejanya sebelum menggendong bayi Citra dari tangan suaminya. Setelah itu ia mengeluarkan payudaranya dan menyodorkan puting bulatnya ke mulut Clarissa.

“Loohh…? Mbak…? Jangan…” Ucap Citra panik sembari berusaha merebut kembali Clarissa dari tangan istri muda Pak Darjo.
“Kekekek…. Heeeehhhh… Nggak apa-apa Mbaak… ” Sergah Pak Darjo, “Biarin aja bayi Mbak disusuin istri Saya…. Khan itung-itung… Saya juga ikut andil bagian pada proses pembuatan bayi Mbak ini… Kekekek…”

“Lohhh….?” Heran Bu Ratmi.
“Kenapa Bu…? Ibu bingung…?” Tanya Pak Darjo.
“Jadi…? Bayi punya Neng Citra ini… Adalah benih dari Pak Darjo…?” Tebak Bu Ratmi.

“KEKEKEK… Hush… Ngawur….Saya nggak bilang begitu Bu…”
“Tapi… Ada kok sedikit kemiripannya ya Pak…” Celetuk Bu Ratmi lagi.
“Udah yuk Bu’ne… Kita pulang….” Celetuk Pak Utet tiba-tiba sambil mengamit tangan istrinya.

“Heeehh… Sebentar dulu dong Pak Uteeettt….” Cegah Pak Darjo yang juga mengamit tangan istri Pak Darjo yang satu lagi, “Tawaran saya belum dijawab ama istri Bapak….”
“Tawaran apa…?” Sewot Pak Utet.
“Jadi gimana Bu Ratmi… ? Apa ibu bersedia jadi istri muda Saya…? CUP….” Tanya Pak Darjo lancang sambil kembali mengecup punggung tangan Bu Ratmi lagi, “Yah walaupun udah agak tua… Saya yakin kok Ibu masih bisa ngelahirin banyak anak dari kontol saya… Kekekekek….”

“Heeehhh… BAAANGSAAATTT…. Jaga bacot lo ANJING…” Emosi Pak Utet meledak. Mukanya memerah dan tubuhnya bergetar hebat. Tangannya mengepal keras siap memukul lawan bicaranya.
“Aapaa LOOO….? BERANI Nantangin gue….?” Tantang Pak Darjo tak kalah emosi ,”Dasar suami tua tak tahu diuntung…”
“Dia bini gue… Apa yang gue lakuin ke dia… Itu adalah hak gue…”
“Udah syukur gue mau NGEBAGI KONTOL gue buat kasih anak ke bini lo… Ehhh lo malah pake sok-sok’an segala…” Ejek Pak Darjo, ” Dasar… Lelaki mandul aja belagu…”
“ANJING LO….”

“BERHENTI KALIAN BERDUA….?” Suara seorang lelaki tiba-tiba terdengar lantang. Membuat emosi kedua lelaki yang ada didalam kamar Citra mendadak sirna. Menghilang karena kaget.

“Ehhh… Mas Jupri….?” Tanya Citra.
“Mas Manto…?” Tanya Bu Ratmi
“Mas Tejo…?” Tanya keempat istri Pak Darjo hampir berbarengan.

Merasa mendengar panggilan yang berbeda-beda terhadap lelaki yang baru saja masuk kedalam kamar Citra, membuat kelima wanita itu saling bertatap muka.

Heran.
Sekaligus Bingung.

Bersambung

Hallo Bosku, Disini Admin KisahMalah
Agar Admin Semakin Semangat Update Cerita Cerita Seru Seterusnya, Bantu Klik Iklan yang Ngambang ya.
Atau Gambar Dibawah INI

Atau Bagi Kamu yang suka bermain game Poker Online atau Gambling Online lainnya, bisa di coba daftarkan ya. Banyak Bonus dan Hadiahnya Loh.
Untuk yang Kesulitan Daftar bisa Hub Admin di WA untuk di bantu Daftar.
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part