web hit counter

Nirwana Part 4

0
427

Nirwana Part 4

Kontroversi Hati

Sebulan sudah Ava menjadi murid Pak De, seorang pelukis terkenal tempatnya menimba ilmu, di desa kecil di pinggiran Ubud. Di tempat itulah Ava ngayah; mengabdikan diri sebagai balas budi atas pengalaman yang nantinya akan diturunkan Sang Maestro kepada muridnya.

Kehidupan di tempat barunya itu berlalu nyaris tanpa kesan berarti, -jika tak ingin dibilang monoton; bangun tidur, tidur lagi, bangun lagi, berebut tempat mandi dengan Indira, menjaga galeri, membantu Pak De melukis, disuruh ini-itu. Mungkin saja Ava bakal mati bosan jika tak ada Indira, putri semata wayang Pak De, karena tiap hari pasti ada saja yang mereka pertengkarkan.

“Harusnya cuma aku yang boleh mandi di sini!” repet Indira seperti biasa ketika mendapati Ava sedang berjongkok telanjang sambil menyabuni tubuhnya di sungai belakang rumah.

Hari belum bisa dikatakan pagi karena matahari masih bersembunyi di balik cakrawala. Langit baru diwarnai dengan gradasi biru bercampur jingga, dan bintang-bintang masih tersangkut di antara awan. Namun Ava dan Indira sudah memulai perseteruan mereka yang pertama di hari itu.

Sebenarnya Indira sudah tahu, sia-sia saja memperingati Ava agar tidak mandi di tempat ini. Namun dirinya juga tidak habis pikir, betapa hari-harinya seolah tak lengkap jika tidak dimulai dengan berseteru dengan pemuda yang memegang teguh prinsip ‘maju terus pantang waras’ itu.

“Denger orang ngomong nggak, sih? Tempat ini tuh udah jadi kaya tempat pertapaan aku, tahu!” omel Indira dengan pinggang berkacak di atas tangga batu. Sebelah tangannya sudah menenteng peralatan mandi dan di lehernya sudah bergantung handuk, melengkapi kaus barong longgar warna marun dan celana pendek ketat bunga-bunga.

Indira sebenarnya sudah bersiap mandi pagi ini. Gadis itu sengaja bangun pagi-pagi sekali, berharap Ava belum bangun sehingga ia bisa menguasai spot mandi favoritnya itu. Tapi apa lacur, di hadapannya kini terbentang pemandangan cowok brewok yang sedang menyabuni ketiak yang penuh bulu.

“Iye, Mbah…” jawab Ava asal. “Cari tempat bertapa yang lebih mbois, kek… Gua Selarong… Makam Keramat Mbah Jingkrak…”

“Bego! Buruan, gih! Aku juga mau mandi! Aku mau sekolah!”

“Sekarang kan hari Minggu.”

“Bego!”

“Di atas kan udah ada kamar mandi dalam!”

“Udah aku bilangin berapa kali juga, beda tahu sensasinya!”

“Iye… iye… “ Ava mejawab sekenanya.

Ava dan Indira sama-sama tahu, bahwa sungai kecil itu memang istimewa. Dikungkung tebing batu, rimbunan paku-pakuan, dan pohon tropis yang menaungi, ditambah dengan iringan ricik air dan decit burung-burung yang berkicau di sela dahan, membuat tempat itu tak ubahnya surga tersembunyi. Ada air terjun kecil di sana, dengan ceruk dalam dan jernih tempat Indira biasa mandi dan menyendiri, namun kali ini ia harus berbagi dengan makhluk menyebalkan yang sepertinya memang ditakdirkan untuk mengganggu hidupnya.

Benar saja, pemuda itu malah dengan santainya menggosok-gosok lubang pantat di depan Indira. Tinggal di desa itu lama-lama membuat Ava terbiasa dengan ketelanjangan, apalagi hampir tiap sore Kadek dan Luh Sari mengajaknya mandi di sungai, sehingga kini ia tidak malu-malu lagi jika Indira melihatnya bugil tiap pagi.

Berdiri bugil di bawah naungan rerimbun daun pisang di sisi sungai yang satunya, Ava menggosok dada dan selangkangannya. Langit masih belum terang benar, tapi dari posisinya di atas undakan batu, Indira bisa melihat dengan jelas paha dan pantat Ava yang berotot, juga punggung bidang pemuda yang berdiri membelakanginya.

Beberapa kali dirinya memang pernah melihat Ava mandi di tempat itu, namun baru kali ini ia melihat tubuh telanjang si pemuda dalam pose sefrontal itu; paha yang dipenuhi bulu lebat… sepasang zakar yang menggelayut di antara tungkai kokohnya… juga belahan pantat Ava yang dipenuhi buih…

Dada Indira berdesir.

“Woi! Awas jangan lihat-lihat, nanti naksir!”

“Huuuu! Siapa yang naksir!”

Indira menunduk dengan wadah merah padam. Nyebeliiiiin! Siapa yang naksir kamu, begoooooo! Indira menggondok dalam hati. Dirinya memiliki cowok keren yang jadi pacarnya, dan ada segudang lagi yang rela mengantri hanya untuk makan malam dengannya. Bagaimana bisa cowok brewok yang tak ada ganteng-gantengnya itu berani-berani membuatnya ketar-ketir dan salah tingkah?!

Indira tidak bisa diam saja, gengsinya sebagai cewek terkece di sekolah dipertaruhkan kini! Apalagi, Ava malah sengaja merayakan kemenangannya dengan menceburkan diri di ceruk batu di bawah air terjun –spot favorit Indira- dan tertawa puas setelah berhasil mengerjai gadis itu untuk kali kesekian. “Dira jangan cemberut gitu, dong… Sini, ikutan mandi… Kita belajar berbagi, hahaha…” ledek Ava sambil berenang-renang di dalamnya.

Ini tidak bisa dibiarkan, batin Indira geram. Ia harus menunjukkan pada Ava, bahwa anak SMA seperti dirinya pun bisa melakukan tindakan radikal! Indira mengggembungkan pipi. Berpikir keras bagaimana cara membalas untuk menyamakan skor. Indira tak pernah tahu kapan saatnya setan-setan yang bersemayam di dalam lubuk pikir membisikkan ‘ide gila’ yang sebelumnya tak pernah terpikirkan, bahkan untuk ukuran gadis ‘senakal’ Indira!

“Yaudah, kalau kamu nggak mau pergi, aku juga mau mandi!” balas Indira, sambil menahan senyum licik yang sudah tak sabar ingin menyungging begitu terbersit niat jahatnya untuk balik mengerjai titisan Wiro Sableng itu.

“Woy! kamu mau ngapain?!” Pemuda tengik yang dari tadi cengengesan, kini dipaksa terperenyak ketika Indira mendadak melolosi baju barongnya, disusul celana pendek bunga-bunga yang segera menggeletak di atas batu.

“Minggir! Aku juga mau mandi, wek!” Ia menjulurkan lidah.

“Eh, bocah! Jangan macam-macam, deh!” Ava berseru panik, namun belum sempat Ava mengajukan nota protes, penutup dada Indira sudah keburu menyusul bergabung dengan rekan-rekannya yang sudah lebih dulu dilipat rapi. Indira membalik, mengikat rambut kecoklatannya dengan karet. Tangannya terangkat tinggi-tinggi, memberikan kesempatan bagi imajinasi Ava untuk menghayalkan apa yang terletak di balik punggung telanjang yang putih mulus itu.

Hanya dengan berbalut celana dalam hitam model bikini, remaja blasteran itu melangkah ke dalam bagian air yang dangkal. Kakinya yang telanjang merasakan dingin air dini hari, dan arus yang berlarian melewati jari-jemarinya. Indira mendengus, sebelah tangannya disilangkan erat-erat di depan dada untuk menghalangi pandangan Ava dari sepasang puting yang berwarna merah hati. Meski tanpa itu pun sang pemuda sudah lebih dulu melotot disuguhi pemandangan lekuk tubuh ranum Indira yang hanya dibalut secarik cawat kecil yang menutup area pubis yang dibiarkan mulus tanpa bulu.

Indira balas menatap Ava, seolah memberi peringatan terakhir bagi si pemuda tengik agar segera menyingkir.

“Aku beneran masuk loh, tapi awas! jangan macam-macam! Nanti kubilangin Ajik sama Kadek biar burungmu disate!”

“Astaga! Ge-er banget sih! Kalau mau masuk, masuk sudah kalau berani! Biar tahu aja, Hidupku ini berasaskan Pancasila: ketuhanan yang maha esa, dan kemanusiaan yang adil dan beradab! tahu!”

“Huh!” Indira menggembungkan pipinya lagi. Sebenarnya ia hanya ingin menggertak, membuat Ava risih dan segera keluar dari tempat itu. Melepas penutup terakhir tubuhnya di depan pemuda yang baru dikenalnya sebulan, adalah tindakan yang benar-benar gila, bahkan untuk ukuran cewek ‘senakal’ Indira sekalipun.

Namun kali ini, di tempat sepi itu cuma ada mereka berdua. Bagaimana kalau Ava nekat dan dirinya diperkosa? Suara batin Indira terdengar saling berseteru. Tapi Indira sudah kepalang basah, mundur teratur berarti mengaku kalah pada bedebah yang telah membuat dirinya gulana selama sebulan terakhir ini, dan untuk itu hanya diperlukan sedikit dorongan erotis yang mengalir deras di dalam darah remajanya.

Indira mengaitkan jemari lentiknya di bagian elastis celana dalamnya, disusul tungkai-tungkai jenjangnya yang berjingkat bergiliran saat melolosi penutup terakhir tubuhnya. Terdengar desahan pelan dari bibir Indira, begitu menyadari tubuh ranumnya kini tinggal dibungkus oleh rona-rona merah yang mulai meruap dari kulitnya yang telanjang bulat. Tak ingin berada di udara terbuka terlalu lama, Indira segera melompat ke dalam ceruk kecil di bawah air terjun tak jauh dari tempat Ava berendam. Suara mencebur terdengar disusul air yang bercipratan mengenai mata sang pemuda yang belum selesai terpana.

Ava menyeka mata, dan segera mendapati tubuh ranum khas ABG dengan pinggul montok dan payudara yang sedang ranum-ranumnya kini terbenam di bawah permukaan air. Ava memang pernah mendengar cerita tentang 7 bidadari yang mandi. Kali ini satu bidadari tertinggal di bumi, dan saat ini sang bidadari berdiri dengan malu-malu di hadapan Ava sambil menutupi dada dan kemaluannya.

“Apaan sih! Biasa aja kali liat cewek telanjang!” sambar Indira sewot, mulai jengah dengan tatapan Ava yang dirasanya semakin berani menjelajah ke arah daerah paling pribadinya.

“Aku sudah biasa lihat cewek bugil! Tapi mau gimana lagi, yang ini bidadari!”

“Ada nggak sih, gombalan yang lebih norak? Hahahaha! Parah banget gombalanmu!” Indira terpaksa tertawa, menyemburkan air ke arah Ava yang cengegesan sambil menggaruk-garuk kepala.

“Yang lebih assoy banyak!” Ava menjawab asal, tersenyum sendiri melihat pipi Indira yang perlahan tersipu.

“Va, kamu tuh benernya lucu, tahu! Tapi lebih seringnya nyebelin, parah!” Indira lalu berkata, bahwa di antara murid-murid ayahnya terdahulu, Ava adalah orang yang paling berani mengganggu dirinya, padahal sebelumnya tak pernah ada satupun yang berani mengusik si tuan puteri.

“Habisnya kamu tuh enak buat digangguin,” jawab Ava tanpa merasa bersalah.

Pinggang Ava dicubit. “Ih kamu itu ya! Mirip banget kayak Bli Raka! Kerjanya gangguin aku aja!”

Ava menelan ludah. “Siapa Raka? Pacarmu?”

“Bukaaaaan! Pacarku namanya Dewa! Raka itu kakak aku yang udah nggak ada. Emang Kadek belum ngasih tahu?”

Ava menggeleng.

“Udahlah, nggak usah dibahas!”

Butuh waktu beberapa lama sampai mereka terbiasa dengan ketelanjangan yang terjadi di antara keduanya. Hingga akhirnya Indira tidak lagi malu-malu bergerak kesana kemari di dalam air, seolah-olah tempat itu merupakan tempat bermainnya sejak kecil. “Coba kaya gini dari kemarin-kemarin,” gumam Indira jenaka, sambil berenang-renang di cerukan yang dalamnya 2 meter, sampai-sampai alpa menutupi payudaranya.

“Lah, kan udah kubilangin dari awal! Kita mandi bareng!” jawab Ava penuh pede.

“Huuuu!” Indira menyemburkan air kembali ke arah Ava, dengan wajah bersemu. Kulit tubuh Indira yang seputih pualam kini semakin merona kemerahan, nampak makin segar bagai setangkai teratai yang baru merekah dengan aksentuasi bulir-bulir air yang jatuh di pundak dan pucuk-pucuk payudaranya.

Suara air yang jatuh dari ketinggian menderu memenuhi dinding-dinding tebing. Menciptakan dunia tanpa ruang waktu antara mata Ava dan tubuh telanjang Indira. Tak henti-hentinya mata kampungan Ava memandangi payudara Indira yang timbul tenggelam. Setengah mati pemuda itu menahan diri agar tidak ereksi, namun Indira terlalu seksi: puting merah hati yang mengintip dari balik permukaan air, payudara ranum yang baru saja bertumbuh, dan sepasang pantat montok dan menggemaskan yang bergerak-gerak menendangi air. Semua itu mau tak mau membuat jantung Ava berdentam-dentam dan memompakan berliter-liter darah dan hormon testosteron menuju kejantanannya yang makin lama makin mengeras!

Indira bisa melihat itu semua dari sudut matanya; batang berukuran cukup besar yang kini membayang malu-malu dari balik permukaan air. Hanya samar-samar barangkali, namun itu sudah cukup bagi Indira untuk menangkap sebentuk batang berotot yang kini mengacung tegak dan menantang. Indira menelan ludah, jantungnya melewatkan detaknya sekali. Berkali-kali gadis itu mengatur nafasnya yang mulai memburu sambil menahan rasa merinding hebat di selangkangan gara-gara kilasan kejantanan Ava yang berurat itu tak mau hilang dari pikirannya!

Padahal ini bukan pertama kalinya Indira melihat kejantanan pria yang sedang menegang. Usianya baru 18, namun Indira sudah bisa dibilang ‘berpengalaman’ dengan lawan jenis. Namun kali ini, bugil di depan pemuda yang sama sekali asing dan jelas-jelas terangsang melihat tubuhnya mau tak mau membuat selangkangan Indira ikut meremang dan kedua putingnya mulai mengeras, lebih gatal, lebih menggila dari biasanya…

Cepat-cepat Indira menuang sabun cair, berharap rasa gatal di tajuk-tajuk payudaranya bisa dihilangkan dengan larutan triclosan dan antiseptic. Namun apa lacur, sekujur tubuh Indira malah seperti disetrum dengan tegangan 220 volt. Jemarinya yang licin oleh sabun tak sengaja mengenai ujung-ujung saraf-saraf sensitifnya! Indira menahan nafas, berusaha tampil wajar di depan Ava, meski kadang terpaksa ia memejamkan mata, mati-matian menahan otot-otot tubuhnya yang gemetar di luar kesadaran.

“Va… kamu enggak udahan… mandinya?”

“E-enggak… kamu…?

Indira mengangkat bahu. Keduanya memang berusaha tampil wajar, namun tanpa bisa dipungkiri, baik Ava dan Indira jelas sama-sama rikuh dan mulai jengah atas reaksi yang terjadi di bawah perut masing-masing. Sebenarnya bisa saja salah satunya mengalah dan pergi, namun seperti ada sesuatu yang memaku kaki keduanya sehingga tidak saling beranjak dari tempatnya berdiri, apapun itu.

Hari masih benar-benar pagi. Di tempat sepi itu cuma ada mereka berdua, dan deru air terjun yang mengiringi degub jantung keduanya yang saling bersusulan. Indira tahu, apa saja dimungkinkan terjadi dalam sebuah sistem bernama semesta.

Que sera, sera.. Whatever will be… will be…, batin Indira lagi, pada dirinya sendiri.

Indira bersimpuh di atas batu, mengusapkan busa-busa sabun itu dengan lambat dan penuh perasaan. Tangan kanan dan kirinya yang saling menyabuni pundak dan ketiak tak ayal membuat sekujur tubuhnya semakin merinding. Indira mengatupkan mata, membiarkan cahaya yang mengambil peranan dengan menyisakan jejak berkilat-kilat nan erotis di lekuk-lekuk tubuh belianya. Tanpa disadari bahkan oleh dirinya sendiri, Indira semakin terhanyut oleh arus birahinya. Setiap sentuhan dan belaian malah seolah melepaskan simpul-simpul syahwatnya, membuatnya semakin berhasrat untuk menelusuri belahan di bawah sana yang terasa semakin berdenyut-denyut menuntut usapan dan belaian yang sama.

Dengan birahi yang sudah meruyak sampai ubun-ubun, semuanya jadi serba bias bagi Indira, apakah ia masih pegang kendali ataukah naluri paling hewani yang mengambil alih gerakan tangannya kini. Karena dari persepektif Ava sebagai penonton, Indira seolah sengaja meraupkan buih ke payudaranya, dan mengusap-usap benda kenyal di dadanya dalam gerakan memutar, malah cenderung ke arah meremas karena diselingi gerakan memilin puting di sela-sela jari! Seolah disengaja, Indira menggigit bibir bawah dengan senyum menggoda, sebelum berjongkok membelakangi Ava di atas batu besar untuk membersihkan lekuk-lepit di antara kedua paha hingga lubang anus dengan jari-jarinya yang licin diliputi sabun cair.

Jantung Ava seperti berhenti berdetak menyaksikan pemandangan itu. Dunia bak di-shoot dalam adegan slow motion yang luar biasa menakjubkan, dari persektifnya. Dengan jelas Ava bisa melihat lubang anal Indira yang mungil dan berwarna pink, serta bukit kewanitaan yang menggunduk tanpa bulu. Jari-jari lentik Indira bergerak dengan telaten membalurkan sabun cair di belahan tembem yang sudah dibanjiri lendir. Remaja belia itu mengatupkan bibir kuat-kuat, hanya agar desah-rintih binalnya tidak sampai menggetarkan gendang telinga Ava.

“Nngggggh….” Indira mengerang tertahan, disusul wajah imut yang nampak mengejan dengan ekspresi kesakitan ketika kewanitaannya mulai disusupi sepasang jari yang membelah himpitan rapat dinding-dindingnya yang belia.

Dari tadi, Ava sebenarnya juga sudah mencoba menahan diri, namun tindakan Indira membuatnya tak kuasa menahan hasrat untuk ikut membelai batangnya sendiri.

Dari sudut matanya, Indira bisa melihat pemuda itu kini mengurut kejantanannya di bawah permukaan air. Hal ini menimbulkan senyum sensual tersungging di bibir sang gadis remaja. Puas melihat Ava yang dimabuk birahi tanpa berkuasa menyentuh tubuhnya.

Ava memberanikan diri untuk keluar dari air, bersandar pada batu besar, sehingga memungkinkan Indira lebih jelas melihat kejantanan berurat yang sedang diremas-remasnya. Indira membalas dengan memberikan senyum lemah di atas wajah sayu yang penuh gairah.

Sinar matahari yang mulai menyusup dari sela dedaunan memberikan aksentuasi bagi otot-otot tubuh Ava yang berkilat dan menggeliat. Pantatnya naik turun seiring gerakan tangannya yang kian cepat, mengurut-meremas batang berurat yang di ujungnya sudah dilelehi cairan precum yang menetes dari lubang kencingnya. Mata Ava membeliak dan memejam, menahan nikmat dengan bibir mendesis-desis menggumamkan nama Indira.

Mendengar itu, sekujur tubuh Indira seperti kehilangan tenaga. Malu bukan main, tapi nikmatnya luar biasa! Sampai-sampai seluruh otot-otot tubuh Indira lemas, dan lututnya tak lagi mampu menopang berat tubuhnya. Remaja blasteran itu hanya bisa tersungkur di atas batu, menumpu pada kedua siku dalam posisi menungging, memamerkan lubang anus dan belahan kewanitaan yang mengkilap basah, sementara payudara ranumnya membentuk bulatan penuh akibat tarikan gravitasi bumi yang segera ikut diremasnya.

Indira menungging-nungging penuh kenikmatan, sementara tangannya keluar masuk selangkangan dengan cepat. Bibirnya mendecap-decap membayangkan Ava menyetubuhinya dalam posisi menungging, rambutnya dijambak dan payudara mungilnya diremas-remas kasar dari belakang. “Ava… sshhhhh… kontolmu… sssh… sssh… gede…. bangeths…. oooohhh ummmh!” Ceracau Indira di antara bibir mungilnya yang menggap-menggap seperti kehabisan udara.

Tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk menggapai puncak dengan birahi yang sama-sama sudah berada di ubun-ubun. Puncak Indira ditandai dengan semburan cairan cinta yang menyemprot kencang dari belahan tembemnya bagaikan kencing kuda, meleleh-leleh membasahi pantat dan paha mulusnya.

“AAUUUUHHH…. UUUUNGGGHHH…. UUUUUMMMMHHH!”

Bibir sensual Indira mengeluarkan suara yang tidak jelas lagi, apakah tangisan atau rintihan kenikmatan waktu paha mulusnya mulai dilelehi lendir dan urin yang kini nampak berkilauan ditimpa cahaya pagi. Indira memejamkan mata sambil melengguh sekuat-kuatnya, dan otot-otot tubuh telanjangnya menggigil hebat dan mengejang tak terkendali. Pantat mungil remaja itu melejang-lejang disertai lelehan cairan yang tak henti menyembur, menyertai badai orgasmenya yang panjang nikmat. Hingga akhirnya Indira tergolek lemah dengan kepala dan dada yang menempel di atas batu, sementara pantatnya masih terangkat tinggi-tinggi, mempertontonkan lebih banyak lagi lubang anus dan kewanitaannya yang berkilat-kilat belepotan cairan cinta pada Ava.

Melihat pemandangan itu, Ava tak bisa lagi menahan diri. Sekujur tubuhnya menegang, pahanya mendadak melemas sehingga sebelah tangannya perlu bertumpu pada sebuah batu. Erangan tertahan keluar dari kerongkokan Ava ketika puncak kenikmatannya datang bak ombak yang bergulung-gulung. Sesaat kemudian pantat berotot itu mengejang berkali-kali, diikuti cairan putih yang ditembakkan dari ujung kejantanannya. Kepala Ava terasa ringan, tebing-tebing di sekitarnya seperti berputar menghilangkan batas antara realitas dan imajinasi.

Senyum sayu mengembang di wajah Indira yang merona merah, sebelum akhirnya tawa renyahnya berderai memenuhi lembah sungai yang beranjak terang. Tawa Ava terdengar menyertai. Sepertinya tak akan ada yang berkeberatan apabila kontroversi dan adu gengsi selama sebulan ini direkonsiliasi dengan sebuah permainan birahi!

Indira tahu, bahwa dirinya ‘nakal’ dan ‘binal’. Ayahnya mungkin akan murka jika mengetahui permainan kecilnya ini, namun belum pernah ia merasa sehidup ini setelah kematian ibunya. Semua ini karena Ava, karena makhluk ajaib yang bahkan ia tak tahu nama lengkapnya

“Nakal,” Indira merengek manja, sambil mencubit pantat Ava, ketika mereka sama-sama membersihkan diri di bawah air terjun.

“Ih, kamu tuh yang duluan! Udah untung kamu nggak kuperkosa!”

Indira terkekeh jenaka, membasuh wajahnya yang masih merona setelah orgasme.

“Hehehe… memang kamu berani?”

Ava tersenyum melihat bidadari mungil di hadapannya itu, tidak tega rasanya ia merusak anak itu lebih jauh.

“Jangan bilang Ajik sama Kadek, ya…” kata Indira lagi.

“Kamu kali, yang jangan bilang-bilang.”

Indira tersenyum sambil mengulurkan kelingkingnya. “Janji?”

“Janji,” Ava menjawab mantap sambil mengaitkan kelingking masing-masing.

Mereka berhadap-hadapan di bawah guyuran air terjun. Wajah Indira tampak begitu mempesona diterpa beribu butiran air.

Setelah semua yang terjadi sebelumnya. Ava dan Indira tak lagi rikuh saling menyembunyikan tubuh mereka yang tak tertutup sehelai benangpun. Kini mereka duduk bersisian di atas batu, sama-sama telanjang dengan kaki yang mencelup ke atas permukaan air.

Mereka berbincang mengenai banyak hal. Indira bercerita bahwa sungai kecil di belakang rumahnya ini sebenarnya memiliki banyak kenangan terutama dengan mendiang ibu dan kakaknya. Indira bercerita bahwa dulu sewaktu kecil, ibunya selalu mengajaknya bermain di sini. Hanya di tempat ini Indira bisa menemukan suaka kecil, sebuah Paradiso di mana ia masih bisa hidup dengan kenangan masa kanak-kanaknya yang mungkin tidak bisa terulang. Makanya dia kesal ketika Ava mulai mengganggu ritual menyendirinya di tempat ini.

“Maaf.. aku… nggak tahu…” Ava merasa bersalah. “Ibu… dan kakakmu… meninggal.. kenapa…”

“Udahlah, nggak usah dibahas,” sahut India getir, diam-diam menyadari bahwa baru kali ini bercerita panjang lebar pada lelaki yang baru dikenalnya sebulan.

Indira tersenyum, melihat wajah tulus Ava yang duduk di sebelahnya. Meski mati-matian coba dipungkiri, Indira tahu, semenjak Ava tinggal di rumahnya, hidupnya menjadi lebih berwarna dengan kehadiran makhluk brewok itu, tapi Indira juga tahu, hubungannya dengan Dewa, sang kekasih sudah cukup rumit, tanpa perlu ditambahkan satu segi lagi.

Tahu-tahu Indira menyandarkan kepalanya di pundak Ava sambil terkekeh-kekeh. “Enak, ya…” Indira berceletuk pelan, membiarkan Ava merangkul pundaknya.

“K-kenapa?”

“Seru juga ya.. kalau punya kakak kayak Ava hehehe… ada nyebelinnya… ada lucunya… ada mesumnya…”

Indira membelai brewok yang tumbuh di sepanjang wajah Ava. Tanpa sadar Ava mendekatkan wajahnya. Untuk beberapa saat Indira tak kuasa menolak, bibir Ava hampir menyentuh bibirnya saat Indira tiba-tiba memalingkan wajah.

“Hihihi…,” Indira terkikik lucu.

“Kenapa?”

“Ini namanya Incest…”

“Hehe…”

“Aku juga belum tahu tahu nama lengkapmu,” kata Indira manis.

“Tebak, coba…”

“Ava Devine… Ava Lauren… eh itu kan nama pemain bokep, yah, hehehe…. “ Indira mengekeh jenaka, sambil melingkarkan lengannya di pinggang Ava. “Athanasius Valentino? Antonius Valentino?” tebaknya.

Ava menggeleng.

“Asep Vrakarya?”

Ava menggeleng lagi. “Mustava Ibrahim,” jawabnya mantap.

Wajah Indira langsung berubah mendengarnya. Matanya memicing ke arah Ava, mata yang tadinya hangat berubah menjadi penuh kecurigaan.

“Kenapa?”

“Awalnya kukira cuma brewokmu aja, tapi namamu juga!”

“Hah?”

“TERNYATA KAMU JUGA SESAMA TERORIS!” Wajah Indira dipenuhi dengan amarah yang Ava sendiri tak mengerti musababnya. Indira mengambil pakaian dan peralatan mandinya, dan berlari menaiki tangga batu tanpa berpakaian lagi.

Ava tertegun melihat Indira pergi. Dirinya benar-benar tidak mengerti, ia hobi mengoleksi bokep dan tidak pernah bergabung dalam organisasi radikal manapun, tapi hari ini dia dipanggil teroris?

Sementara air terus menderu, menimbulkan sepi dan resah yang menggelayut di antara hatinya dan tebing curam.

To Be Continued

Daftar Part