web hit counter

Nirwana Part 73

0
280

Nirwana Part 73

Inferno

Aku terduduk lemas, tersengal, namun sedikit lega. Kafe yang kurekomendasikan berada cukup jauh dari pusat ledakan, dari kobaran api yang bergulung-gulung membentuk dinding tinggi. Bau gosong, semerbak anyir darah. Aku mencari-cari anak itu, melangkahkan kaki di antara pecahan kaca, dan darah yang berceceran.

Kafe itu berantakan, atapnya rubuh, dan meja-meja terbalik tak karuan. Gelap, hanya ada nyala api yang berwarna merah menyala. Sesak. Panas. Aku menjerit memanggil-manggil namanya, namun yang terdengar hanyalah erangan dan suara orang minta tolong, bergaung-gaung, berputar-putar.

“Langit?” suara itu mengerang lemah, sahabatku terduduk di sebelah meja yang terbalik, memeluk seorang anak perempuan.

“Awan!” Aku mendelik panik, melangkah melewati reruntuhan atap yang masih mengelaurkan bara.

Tersengal, Awan menoleh ke arahku, melambai lemah.

“Eh, kamu nggak…” aku membelalak, pecahan besi menembus dadanya, mengucurkan darah segar yang tak berhenti mengalir di antara daging yang tercabik.

Kesatria dengan dada tertusuk pedang

Aku memekik histeris, menutupi luka itu, namun darah tak henti mengalir, “Tolong!” aku memekik, berteriak sekerasnya. namun tak ada pertolongan. Aku mengadahkan kepala mencoba minta pertolongan pada siapapun Yang Bertakhta di atas sana. Namun Tuhan menutup mata malam itu.

Aku mencoba membopong Awan, namun ia hanya menggeleng, “Tolong… Hujan dulu..”

Seorang gadis terkulai lemah di pangkuan Awan, di lengan kirinya menyeruak luka yang tak henti mengucurkan darah, hingga tulangnya nampak menyembul di antara luka yang mengangga.

Bidadari dengan lengan kiri berdarah

Aku membeku, kaku, tidak bisa berbuat apa-apa, selain menyaksikan sahabatku menatap kosong ke arah langit, ke arah sesuatu yang tak tampak, perlahan sebelum pandangannya meredup, ditarik oleh Izrail yang mencuri ruhnya. Kemu dian hening. Tinggal mata Awan yang membuka, hampa.

Hujan, gadis itu hanya menangis saat aku membopongnya. Ia hanya mengiba ke arahku yang menjulurkan lengan, mengangkatnya ke arah petugas-petugas paramedis yang berdatangan.

Iblis bertopeng yang menjulurkan tangan dari langit merah.

Aku adalah iblis. Iblis yang mengenakan topeng sahabat. Pembunuh yang menyaru sebagai kerabat yang telah menjerumuskan Awan ke dalam kematiannya.

Will never awaken you
Not where the black coach of
Sorrow has taken you
Angels have no thought
Of ever returning you
Would they be angry
If I thought of joining you?
Bersambung