web hit counter

Pacarku Berubah Cantik Part 23

0
583

Pacarku Berubah Cantik Part 23

Putri, Akhirnya

Dalam beberapa hari setelah aku kembali ke Surabaya, dalam kegalauan hubunganku dengan pacarku, aku menemukan penghiburan dan kegembiraan dalam diri tetangga kostku asal bandung, yang tak lain tak bukan adalah Putri, pacar Ringgo orang yang saat ini berada di list teratas cowo yang aku benci dan akan aku kasih pelajaran.

Malam hari setelah aku menyaksikan langsung perselingkuhan pacarku di diskotik itu, aku langsung balik ke surabaya naik kereta malam. Tak kuhiraukan wa pacarku yang bolak balik tanya aku dimana, sambil minta maaf. Telpon pacarku juga ga aku angkat, termasuk telp Sherry yang aku tahu pasti Marscha yang suruh.

Sudahlah aku muak.

Aku tidak merespon semua panggilan. Aku bahkan matikan HP ku. Biarlah pacarku dengan kebingungannya.

Ini sudah hari ketiga aku mendiamkan pacarku. Malah aku sekarang makin akrab dengan Putri. Setiap pagi kami sarapan bareng dan malamnya makan malam berdua diluar diselingi dengan nonton atau jalan-jalan di mall dan seputaran Surabaya. Tak jarang juga aku samperin dia siang ke lokasi prakteknya, untuk ajak makan siang bareng.

Karena Putri ga ada teman juga disini, jadilah dia selalu nempel denganku. Bahkan tak jarang dia ketiduran dikamarku, ataupun aku ketiduran dikamar dia setelah asyik ngobrol sampai tengah malam. Berhubung aku berlaku sopan ke Putri, dia pun meras aman berada disekitarku. Walau kadang aku konak juga menyaksikan dia tidur. Namanya orang tidur pulas, dia ga sadar kalau aset-aset terbaik tubuhnya sering terlihatku.

Sampai sekarang aku masih ingin membalas dendam kepada Ringgo melalui Putri. Cerita perselingkuhan mereka sudah cukup untuk membuat Putri marah dan (harapannya) Putri mau juga balas dendam denganku. Tapi tentu masih ada risiko juga. Aku harus penuh perhitungan. Jadi saat ini yang kulakukan adalah membuat Putri untuk semakin dekat denganku, lalu apa yang terjadi kemudian, biarlah semesta yang menentukan. Aku tahu bagaimana membuat wanita nyaman. Kalau sudah nyaman, semua bisa aku dapatkan. * evil smile *

Setelah beberapa hari, aku akhirnya aktifkan juga HP ku (saat itu sudah malam dan aku sendirian di kamar kostku). Tapi aku malas membuka wa dari pacarku. Justru yang pertama aku buka adalah pesan dari Sherry. Isi pesan Sherry intinya Marscha bilang sudah diposisi kesal banget samaku karena aku cuekin beberapa hari ini. Marscha tidak tahu salahnya apa. Untuk menjumpaiku ke surabaya, Marsha juga bingung karena dia ga tahu alamat lengkapku. Tapi yang membuatku khawatir saat diakhir chat Sherry bilang kalau Marscha mau bujuk ke Pak Zakar agar menyudahi saja penelitianku di surabaya, dan langsung kasih jadwal sidang, biar aku balik ke Jakarta.

“Hati-hati lu kalau sampai dia `bujuk` si nutsball itu?”

Demikian chat terakhir sherry. Dia sengaja kasih tanda kutip dikata bujuk.

Wah, bahaya ini kalau sampai kejadian. Walau aku bakalan senang karena ga dilama-lamain lagi skripsi, tapi sedih juga karena Pak Zakar pasti memanfaatkan Marscha. Pasti ada imbalan untuk bujukan itu, tidak lain pasti minta pacarku melayaninya sekali lagi. Lagian siapa yang bisa menolak rayuan pacarku yang sexy itu?

Membayangkan dosen pembimbingku itu menggarap pacarku membuatku merinding. Kupejamkan mata sambil membayangkan tubuh telanjang pacarku habis dijilatin dosen cabul itu mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. Bahkan dalam otakku aku bayangkan tubuh mulus pacarku naik turun diatas tubuh buncit Pak Zakar. Pasti sangat nikmat sekali.

Aku kesal, tapi juga horny, gimana tuh? Karena aku memakai celana kain tipis dan tanpa CD (maklum, kamar sendiri) maka pelan-pelan si junior ini mulai tegak membuat tenda di celana.

Pada saat itulah, Putri pun masuk ke kamar, kebetulan sekali pintuku memang agak terbuka, sehingga mungkin dia mengira aku belum tidur. Dalam situasi itu, aku pun berpura2 tidur telentang diatas kasurku.

Kurasakan Putri berhenti tepat saat membuka pintu, bukan karena melihatku tidur, tapi karena ada sesuatu yang tegak berdiri di bagian celanaku. Kubuka sedikit mataku dan tampaknya Putri agak takjub juga melihat hal semacam itu.

“A’, tidur, A’?”

Aku diam saja, ingin melihat apa reaksinya selanjutnya. Kuduga dia pasti akan langsung pergi, kalau melihat sikap polosnya selama ini.

Di luar dugaan, Putri malah pelan2 berjalan masuk ke dalam dan mendekat ke arahku. Aku memejamkan mata, takut ketahuan kalau hanya pura2 tidur.

“A’?”

Putri mengusap2 pundakku yang terbuka, karena saat itu hanya memakai kaus basket saja, dan saat tangan halus itu mengusap kulitku, si junior langsung menjadi semakin tegang, membuatku sakit karena tertahan oleh celana kain.

Setelah coba membangunkanku tanpa hasil, seakan terhipnotis, Putri pun beralih pada sesuatu yang berdiri tegak di pangkal pahaku. Pelan2 dia menyentuh kepalanya, tapi langsung ditarik kembali seolah baru tersetrum. Aku hanya meringis tertahan karena rasanya seperti dihantam palu, walau kalau dilihat Putri melakukannya dengan pelan.

Putri agak beringsut ketakutan, tapi perlahan2 di mulai kembali mendekat. Setelah kembali menowel2 memastikan aku tidur, pelan2 Putri kembali tertarik pada penisku yang masih berdiri tegak. Dia mengangkat kolor celanaku kemudian memindahkannya dari penisku, sehingga kini penisku terasa bebas.

Aku agak mengintip dan kulihat tampang Putri serius sekali, seolah tengah menghadapi soal ujian yang maha penting. Pelan2, dengan jari2 agak gemetaran, dia pun menyentuh dan mengelus2 penisku yang tegang, sehingga, tentu saja menjadi semakin tegang. Aku agak menahan tawa karena kulihat wajahnya mirip dengan ekspresi kompleks anime Jepang yang sering kutonton.

Setelah mengelus2, perlahan2 dia akhirnya melingkarkan jarinya pada penisku dan menggenggamnya. Awalnya halus, tapi kemudian dia mengencangkannya sehingga terasa sakit, dan aku terpaksa sedikit mengerang. Sadar bahwa cengkeramannya terlalu kuat, dia mengendurkan lagi, kemudian mencoba2 untuk mencari tekanan yang pas. Setelah dirasa pas, dia pun mulai meremas2 sedikit bagaikan bermain squishy, namun tampaknya takjub karena benda yang dia mainkan ini keras seperti kayu.

“Koq keras gini ya?” gumamnya

Eksplorasi selanjutnya adalah menggenggam penisku agak kencang kemudian menarik turunkannya dengan tak kalah kencangnya, dan itu sungguh sakit sekali, karena dia melakukannya seperti mengayunkan alu (alat untuk menumbuk padi), bukan mengocok botol. Karena tidak bisa menahan sakitnya, aku pun langsung berteriak dan membuka mata.

“AAAAAA………..”

Putri pun sontak terkejut dan dia langsung melepaskan pegangannya pada penisku lalu melompat hingga terjatuh di lantai, kemudian dengan raut muka amat ketakutan, dia langsung lari terbirit2 masuk ke kamarnya dengan membanting pintu.

Aku berkeringat dingin sambil bersimpuh dan memegang penisku yang terasa panas dan perih. Rasanya sakit sekali hingga sejenak aku tidak bisa berjalan dan pandangan mataku berkunang2. Aku merintih kesakitan dan menangis… Ya, hanya ada beberapa rasa sakit yang tidak bisa ditanggung oleh seorang pria. Ini salah satunya. Langsung saja penisku kubebat dengan bantal untuk meredakan sakitnya.

Perlu waktu beberapa menit sebelum akhirnya aku bisa bangun dan berdiri, dan pandanganku sudah jelas, walau rasanya bagian perut bawahku seperti dihantam oleh Mike Tyson. Aku berjalan sempoyongan, sementara penisku yang malang sudah mengendur, walau masih setengah keras, bergandulan di bawah dengan celanaku masih menggantung di paha. Aku masuk ke kamar mandi dan menyiramkan air dingin untuk mengurangi rasa sakitnya. Dalam hati aku pun berpikir, dosa apa yang telah kubuat.

Feelingku Putri tadi nekat megang batangku karena rasa penasarannya selama ini. Apalagi Putri makin kesini makin sering tanya-tanya urusan ML ku dengan pacarku. Dia seperti penasaran. Kalau ditanya. aku selalu jawab apa yang menyenagkan cowo, termasuk dielus-elus batangnya, dikocokin sampai dioral.

Setelah sesi perenungan itu, dan penisku sudah tak lagi cenat-cenut, aku pun keluar dari kamar mandi. Putri sekarang ada dikamarnya. Dia mungkin baru pertama kali mengalami ini, dan reaksiku mungkin sudah membuatnya ketakutan. Segera aku menuju ke kamar Putri, dan mengetuk pintunya.

“Put, ini Aa”

Tak ada jawaban, hanya ada suara sesenggukan tertahan. Kucoba memutar kenopnya, dan ternyata tidak dikunci. Aku pun melangkah masuk, dan kulihat Putri sedang menangis sambil tubuhnya ditutupi dengan selimut. Pelan2, aku pun duduk di sebelahnya. Putri tampaknya tahu, dan tambah meringkuk menutup selimutnya rapat2.

“Maafin Aa’ ya, tadi Aa’ cuman kaget”

Putri lalu menampakkan wajahnya, dan kulihat walau sedang menangis, keimutannya tetap tidak berkurang.

“Enggak, A’, Putri yang harusnya minta maaf. Nggak seharusnya Putri ngelakuin itu ke Aa'”

Aku mengangguk dengan senyum hangat, kemudian pelan2 kusibakkan selimut yang menutupi kepalanya. Dia langsung menghapus air mata yang berlinang pada pipinya yang tembem.

“Emangnya baru pertama kali ya, Putri ngelihat itu?”

Putri mengangguk saja.

“Sama cwo Putri emang belum pernah?”

Putri menggeleng. Kemudian dia pun bercerita bahwa ayahnya adalah seorang pensiunan tentara pangkat tinggi, dan dia sering bersikap overprotektif pada Putri, bahkan teman-temannya yang cowok pun sering menghindar karena takut dengan kegalakan ayah Putri. Ringgo sendiri adalah salah satu anak kenalan ayahnya, sehingga dia lebih bisa mendekati Putri, namun dugaanku, itu juga yang membuat Ringgo segan mau bertindak lebih jauh dengan Putri, karena takut dilaporkan. Itu juga yang membuat Ringgo menyalurkan birahinya ke target lain: pacarku.

“Makanya Putri penasaran waktu liat itunya Aa’ naik, sebelumnya Putri cuman tahu dari Manga”

“Wah, doyan Manga kamu, Put? Yang genre apa?”

“Duh, malu A’ bilangnya”

“Jangan2 Manga yang yaoi ya?”

“Ih, koq Aa tahu sih?”

“Ya rata2 cewe yang Aa’ kenal sih emang suka ama genre itu”

“Cuman disensor, A’, makanya penasaran pengen liat gimana sih bentuknya, gitu. Tapi koq beda ya?”

“Beda gimana?”

“Dulu pernah liat punya adik sepupu Putri yang masih kecil, tapi seinget Putri itu kecil dan empuk, kalau punya Aa’ kenapa keras dan gede gitu?”

“Hahaha, ini juga pas lagi gini empuk, Put”

“Hah? Masa sih, A?”

“Mau kulihatin?”

Suasana tiba2 berubah. Entah bagaimana semua mengalir begitu saja, dan saat ini aku pun sadar sedang melakukan SSI kepada seorang gadis yang masih polos.

“Ntar Putri bikin sakit lagi punya Aa”

“Nggak bakal, Put, ntar Aa bimbing gimana caranya biar nggak nyakitin”

Putri sejenak agak ragu, tapi dari sinar matanya aku melihat rasa penasaran yang meluap2. Perlahan dia mengangguk.

“Ya udah, tutup dulu pintunya, Put, malu kalau dilihat orang”

Tanpa menjawab dia langsung bangkit dan menutup pintu, setelah itu langsung duduk dan menghadap ke aku yang sedang berdiri. Saat ini Putri sedang memakai satu set piama warna biru langit, dan dari atas sela2 piama, aku melihat bahwa dia tak memakai beha.

Pelan2, di bawah tatapan mata penasaran Putri, aku pun membuka celanaku, dan di hadapan Putri kini tersajilah penisku yang masih lemas menggantung. Putri tampak takjub melihatnya, bagai anak kecil yang melihat mainan baru.

“Pegang aja, Put, rasain bedanya ama tadi”

Entah apa yang mengendalikannya, tiba2 saja tangan mungilnya sudah kembali hinggap di penisku yang masih lemas, dan memencetnya pelan.

“Ih, lucu A’, kayak squishy. Koq empuk ya Kak, beda kayak tadi?”

“Soalnya belum ngaceng, Put, coba aja kamu pegang terus, ntar lama2 keras.

“Ih, iya A’, lama2 tambah keras lho”

Putri tampaknya suka dengan sensasi penisku yang mengeras dalam genggamannya.

“Kendurin dikit genggamannya, Put”

“Sakit ya A’? Perasaan sama aja Putri nggenggamnya”

“Iya, kalau pas empuk emang gak sakit, tapi semakin keras jadi semakin sakit”

“Oh gitu”

Kemudian Putri mengendurkan genggamannya mengikuti proses mengerasnya penisku. Dia tak melepaskan pandangannya, dan kulihat napasnya mulai memburu, tandanya birahinya pun sudah naik. Melihat ini sejenak aku pun agak ragu, haruskah kulanjutkan?

“A’, koq nggak sekeras tadi sih?” Putri pun mulai menggoyang2kan penisku

Ah, masa bodoh, pacarmu aja seenaknya ngentot pacarku, adil kalau sekarang gantian kamu yang kukerjain!

“Perlu dikasih stimulasi itu, Put?”

“Stimulasi kayak gimana, A?”

“Buka bajumu dong, kayaknya bakal cepet keras kalau Aa liat dada kamu deh”

“Ih, malu Putri, A, kan dada Putri jelek, kecil, ini aja ama A’ Ringgo sering diecengin”

“Siapa bilang dada kamu jelek? Kamu itu cantik, Put, apa pun yang ada di tubuh kamu itu nambahin kecantikanmu”

“Ah, Aa mah gombal”

“Coba deh, dibuka dulu, kamu pede aja, Put”

Putri tampak agak ragu2 sebentar, tapi kemudian pelan2 tangannya membuka kancing bajunya, kemudian direkahkannya pelan-pelan hingga pundaknya terlihat, kemudian perlahan2 pentil mungil berwarna pink itu menyembul keluar, Putri tampak membuang mukanya, tak berani menatapku.

“Jangan buang muka gitu, Put, lihat Aa aja gak papa”

“Malu ah, A, Putri belum pernah ginian soalnya”

“Putri, kalau kamu memang jelek, malu gak papa. Tapi kamu ini cantik, Put, tubuh kamu juga sempurna, kenapa kamu harus malu?”

“Dada Putri kan kecil A, beda ama pacar Aa yang dadanya besar dan bagus banget itu”

Aku pun berlutut hingga selevel dengan Putri, lalu aku pelan2 memegang kerah piamanya.

“Dada kamu juga bagus, Put. Nggak semua yang bagus itu harus besar, inget. Kalau kata Shakespeare, ‘what’s in a name? A rose by any other name would smell as sweet’. Memang dada kamu kecil, Put, tapi Aa suka”

“Beneran Aa suka?” kali ini Putri mulai menghadapku.

“Iya, apalagi puting kamu yang mungil ini, makin nambah imut, Put, sempurna”

Aku menyentil putingnya pelan, dan dia pun langsung agak mundur, tampak seperti tersetrum, namun tidak menutup dadanya yang terbuka ke arahku. Aku segera membuka piamanya, sehingga dia kini topless di hadapanku, bagaikan dewi dengan kulit putihnya yang seolah belum pernah bertemu sinar matahari, namun tidak pucat, hanya cemerlang bagai pualam.

Saat ini kami pun mulai dikendalikan oleh birahi. Aku menangkupkan tanganku pada dadanya yang kecil, dan kurasakan detak jantungnya meningkat, sementara desahan napasnya yang tersengal mulai terdengar keras, dan sinar matanya sudah memancarkan birahi yang membara meledak2, bagai air yang menggelora dari bendungan yang jebol.

Kumainkan dada dan putingnya, kuremas dan kujepit pelan, membuat napasnya semakin tidak karuan, dan dia pun untuk pertama kalinya mendesah, bukan dengan gaya imut sebagaimana dia biasa, namun desahan yang penuh dengan birahi seorang wanita dewasa. Aku pun mendekatkan wajahku ke wajahnya dan kami bertatapan sejenak dengan mata kami yang nanar.

Tanganku kemudian beralih ke belakang lehernya, dan menahan kepalanya saat mulutku mendekati mulutnya. Dia tampaknya ingin berontak dan mundur, tapi kurasakan juga pergulatan batin melawan keinginan untuk tetap diam untuk menerima. Pada akhirnya, keinginan itu menang, dan saat bibir kami saling menempel, kami pun saling mengisap dan berciuman dengan panasnya. Bendungan kini sudah sepenuhnya jebol.

Aku membawanya ke kasur dan kami pun bergumul, kuciumi dia dengan ganas, sambil tangan kami saling menggaet tubuh, seolah tak ingin melepaskan. Kemudian aku langsung melepas kaus basketku, sehingga kini aku pun telanjang bulat. Putri hanya terbaring menatapku dengan mata nanar, setengah ketakutan. Mungkin ini pertama kalinya ada seorang pria dewasa yang bugil di hadapannya.

“Aa’ buka ya?”

Putri tidak menjawab, hanya pasrah saja ketika tanganku melolosi celana panjang piamanya, beserta celana dalamnya yang berwarna pink bermotif bunga. Dan kini dewi pualam itu sudah berbaring di depanku, memperlihatkan keseluruhan tubuhnya tanpa penghalang satu pun. Kulihat rambut kemaluannya yang tipis dan rapi membalut kemaluannya yang membulat, dibingkai oleh pinggul yang kencang.

Pelan-pelan aku mendekatinya, dan kedua bibir kami kembali berpagut, dan tanpa adanya pakaian yang menghalangi, kulit kami yang saling bersentuhan menjadi semacam stimulan, bensin bagi birahi kami yang membara2. Keringat pun bercucuran, dan tubuhnya tampak semakin mengilap, membuatku semakin menggila.

Aku pun mencucup pentilnya sambil menangkupkan tanganku yang bahkan lebih besar dari dada mungilnya itu. Dia berteriak dan mendesah kencang, seolah sudah tak malu2 lagi. Kulihat tangan kirinya bermain di bawah dan menggesek vaginanya dengan tidak karuan. Bunyi kecipak pun mulai terdengar bagai simfoni indah di telingaku. Segera tanganku menggantikan tangannya mengocok vaginanya, dengan mulutku masih bermain di dada mungilnya. Dia berteriak kencang keenakan sambil jarinya dicengkeramkan di punggungku.

“A… Putri… mau… pipis…”

Kupercepat gesekan pada vaginanya, dan tubuhnya menjadi kaku sebelum akhirnya kejang hebat disertai erangannya yang panjang. Sejenak aku teringat pada erangan bintang JAV, tapi entah kenapa kalau biasanya itu kuanggap konyol, kali ini ada sensasi yang berbeda.

Putri mendorong tanganku dengan agak lemas hingga terlepas dari vaginanya, dan tubuhnya masih agak kelojotan akibat sisa2 orgasme. Dia terlihat cukup lemas, mungkin ini adalah orgasme terbesar yang pernah dia rasakan. Aku pun mendekati telinganya dan berbisik padanya.

“Enak, Sayang?” tanpa sadar aku memanggilnya ‘sayang’.

“Enak banget…” desahnya puas

Aku kemudian kembali menelentangkan tubuhnya, kemudian kubuka pahanya sehingga vaginanya yang berbulu tipis merekah semakin jelas. Segera kuposisikan penisku pada mulut vagina itu, dan tiba2 dia agak beringsut.

“Jangan A’, Putri belum pernah…”

“Nggak apa2, Sayang, Aa janji gak bakal ninggalin Putri”

Aku kembali memainkan dadanya, lalu kuciumi leher, kuping, hingga turun ke dadanya untuk membuatnya rileks. Kedua dada mungil nan indah itu aku lumat penuh nafsu. Aku beruntung jadi yang pertama merasakan kekenyalan dadanya. Bekas-bekas cupanganku terlihat dari leher menuruni hingga ke dada di sekitar puting mungilnya. Dia kini tampak pasrah.

Penisku kembali kutempelkan pada mulut vaginanya dan kini sama sekali tak ada perlawanan. Pelan2 kugesekkan kepala penisku sepanjang bibir vaginanya, yang merespons dengan mengeluarkan lebih banyak cairan pelumas, lalu perlahan2 bibirnya pun terbuka dan penisku otomatis bergerak semakin dalam hingga akhirnya sampailah pada mulut dari semacam rongga.

Kami bertukar pandangan sejenak. Kulihat ada ketakutan di matanya, namun sekaligus ada rasa penasaran yang luar biasa. Dengan kuat langsung kudorong penisku memasuki vaginanya dan kulihat Putri langsung melotot dan menahan napas, seperti tengah menahan sesuatu yang besar. Dia seperti ingin berteriak tapi tak bisa, hingga hanya mulutnya yang dibuka lebar. Kulihat penisku sudah masuk sebagian ke vaginanya.

“Sabar ya, Sayang” kataku sambil mengelus dahi dan rambutnya.

“A` Putri takut….” Katanya berkaca-kaca, aku jadi tidak tega. Tapi ini sudah kepalang tanggung. Aduh bagaimana ini.

Disatu sisi ingin memerawani Putri karena nafsu (dan juga mau balas dendam), disisi lain aku tak tega melihat wajah polosnya yang sangat ketakutan. Dia berkaca-kaca matanya. Aku lemah, aku jadi tidak tega. Sejahat-jahatnya aku ingin mengerjainya, tapi tetap hati nurani merasa ada yang ga pas. Logikaku berkata jangan, tapi juniorku sudah tidak bisa diajak kompromi.

Maka……

“Put, Aa ingin ngesex sama kamu. Tapi kalau kamu masih tetap perawan, Aa ada cara lain.”

“Bagaimana A?” Tanyanya bingung.

“Tapi kamu nurut saja ya sayang. Awal saja sakit, tapi lama-lama pasti enak”

Dia hanya menggaguk, tapi wajahnya menunjukkan rasa khawatir dan penasaran. Benar-benar polos ini anak.

Aku kemudian merangsang vaginanya dengan jariku, sehingga membuatnya keenakan. Bentar lagi aku akan meng-anal Putri. Ini solusi terbaik. Setidaknya saat ini. Aku lalu ambil lotion dari atas mejanya dan lumurin duburnya.

“A ngapain?” Katanya, waktu aku mulai mengoles-oleh sunholenya.

Aku tak menjawab, malah kuarahkan wajahku kebawah dan aku jilati vaginanya. Dia kembali mendesah panjang. Klitorisnya aku hisap, dan dinding vaginanya aku rangsang, sehingga membuat lendirnya makin banyak keluar.

Pelan-pelan telunjukku masuk kedalam duburnya, untuk membuka analnya agar lebih gampang dimasuki batangku nanti. Dia makin mendesah, aku ga tahu apakah desahan kenikmatan atau perpaduan kenikmatan dan sakit saat jari telunjukku masuk seluruhnya ke sunholenya.

Dia hanya memejamkan mata, rona wajahnya sudah menunjukkan horny yang melambung tinggi. Maka aku siap-siap menghunuskan batangku. Aku ludahi palkon sampai basah. Secara perlahan, telunjukku aku keluarkan dari liang duburnya, dan kepala kontolku menggantikannya.

Dengan perlahan aku mulai melakuan penetrasi ke analnya. Percobaan pertama gagal, karena masih sempit sekali. Aku kemudian ambil lotion tadi, lalu aku oleskan kembali ke analnya dan juga ke batangku.

Putri membuka mata dan menatapku takut-takut, saat tahu bentar lagi aku akan tusuk pantatnya. Mungkin dia sudah bisa menduka sakitnya, tapi dia tidak menghindar. Mungkin menurutnya masih lebih mending aku anal daripada aku ambil perawannya.

“Put, tahan bentar ya sayang…sakitnya bentar doang…” Aku bilang, sambil kutarik kedua kakinya keatas sampai hampir menyentuh dadanya, lalu k tahan dengan kedua tanganku.

Aku buat posisi itu agar dia nanti tidak bergerak dan meronta saat pertama kali aku jebol anusnya. Sedikit-sedikit kepala penisku sudah masuk, masih ujung kepalanya yang masuk, gadis polos ini meringis seperti menahan sakit.

“A`……..” Hanya itu yang keluar dari mulutnya, menatapku tajam, sambil tangannya agak menahan gerakan maju pinggulku.

Aku lalu rebahkan diriku ke dadanya, aku bisikan kata rayuan, lalu aku mencium bibirnya dengan bernafsu. Frech kiss. Taktinggal diam, kedua tangan ku menangkup payudaranya yang sudah menjulang tinggi. Membuatnya rilex.

Inilah saatnya…batinku. Maka dengan satu serangan mendadak, aku tekan pinggul ku dengan kencang. BLESSSSS. Dia menjerit sampai menggigit bibirku karena panik dan kesakitan. Walau bibirku perih, tapi aku lanjutakan sentakan kedua sehingga batangku masuk setengahnya. Walau masih setengah tapi dia sudah menjerit kesakitan. Dia lepaskan bibirku yang baru digigitnya.

“Sakiiit… sakiit Aa…..perihh……udah….tarik A`….”

Aku tahan sebentar, tidak aku paksakan masuk. Aku elus-elus keningnya, aku tatap matanya untuk menenangkannya. Setelah agak tenang, aku tekan kembali, kali ini agak lebih keras. Terasa sudah sebagian besar penis ku masuk ke lubang analnya.

“Ahhhhhhh……….sa…..kit……” jeritnya menandakan kalau analnya sudah aku perawani.

Batangku seperti dipijat dengan keras. Jepitan analnya membuat batangku seperti tertahan didalam, dan sulit untuk ditarik. Padahal belum 100% masuk semua kontolku, masih sisa beberapa sentimeter diluar.

Dengan napas memburu, aku menegakkan badan ku. Aku lebarkan kedua kakinya. Aku bantu melebarkan dengan jariku. Tidak kesulitan saat sodokan terakhir, seluruh batangku masuk semua. Aku tersenyum penuh kemengan. Putri hanya memejamkan mata dan menggigit bibirnya sendiri. Pasti dia kesakitan sekali. Tangannya meremas-remas paha ku.

“Tahan ya sayang…bentar lagi enak kok….” Rayuku.

Aku meraba-raba vaginanya untuk memberikan kenikmatan, dan satu tanganku lainnya memilin-milin putingnya. Sambil melakukan rangsangan itu, kembali aku lakukan berberapa kali keluar masuk batangku. Rasanya seperti diremas-remas dengan kencang.

Dengan cairan vaginanya yang sudah keluar, aku lumuri sunholenya agar memperlancar proses genjotanku. Penis ku mulai lancar keluar masuk lubang analnya. Nikmat sekali.

Aku buat posiku condong kedepan, karena ingin melihat lebih dekat toketnya yang tergoyang indah saat anusnya aku sodok. Setiap aku tarik keluar masuk, toketnya terayun bebas dan Putri nampak menahan napas, menggigit bibirnya merasakan sakit. Walau ekspresinya tidak seperti awal tadi. Dengan posisi semi berlutut seperti ini, membuatku lebih gampang menggempurnya.

Sesekali aku arahkan mulutku berpindah ke leher dan dada nya. Kedua tanganku juga bergerilya menggapai semua yang bisa digapai. Hal itu membuatnya mulai bisa menikmati proses anal sex ini. Dia mulai mendesah-desah pelan, desahan nikmat. Bercak-bercak merah dan cupangan terlihat disekujur tubuhnya, meninggal tandatanya bagi siapa yang nanti melihat.

“Auhhhh…..ahhhhhh……” Desahku.

Ternyata enak sekali anal sex ini. Sensasinya beda. Jepitan yang kencang di kontolku, dan ekspresi sakit-sakit enak diwajah Putri sungguh sukar dilukiskan dengan kata-kata. Tahu begini kenapa ga dari dulu aku lakukan dengan pacarku, Marscha. Biar aku yang pertama memerawani analnya. Tapi apakah anal Marscha sampai sekarang masih perawan? Atau sudah ada lelaki lain yang sodomi dia dengan brutal?

Mengingat Marscha membuat nafsuku makin naik. Genjotan pinggulku seperti orang kesetanan, menghantam-hantam lubang analnya Putri tanpa ampun, keras dan cepat keluar masuk.

“Aa………hhhhh….. “ Hanya itu yang keluar dari mulut pacarnya Ringgo ini. Antara memelas menahan sakit, tapi juga mememacarkan kenikmatan yang ia rasakan. Aku melihat lebih banyak cairan yang keluar dari vaginanya menetes membasahi batang penis ku. Artinya dia juga menikmati, makanya lendirnya makin banyak.

Sambil menggenjotnya, bayangan Marscha yang lagi dikamar mandi saat game Uno bersama teman kuliahnya dan juga sherry kembali hadir. Aku membayangkan pacarku itu di anal juga di kamar mandi oleh teman kuliahnya untuk mengambil kondom yang tertanam di duburnya saat game sex itu.

Aku makin gila membayangkannya. Ntah kenapa aku memang seperti ada kelainan karena ada persaan “senang” saat membayangkan pacarku dikerjain cowo lain. And it makes me turn on.

Itu yang membuat genjotan pinggulku seperti orang kesetanan, menghantam-hantam lubang analnya tanpa ampun. Aku lihat matanya mendelik, kedua tangannya berusaha menahan dorongan pinggul ku, kakinya berusaha diturunkan, tapi tertahan tanganku.

Dia berteriak kencang, tapi aku langsung melumat bibirnya, bisa bahaya kedengaran keluar. Kembali aku genjot dengan kencang. Batangku keras dan cepat keluar masuk. Putri melepaskan mulutnya.

“Aa…pelan-pelan….masih perawan ini….” Kataya sambil mendesis menahan sakit dan nikmat sekaligus.

“Iya sayang….maaf….Aa mau keluar…..” aku percepat genjotan ku.

Sampai pada satu titik yang tidak dapat aku tahan, dengan gerakan cepat aku tusukan sedalam-dalamnya penis ku, tangan ku mencengkeram payudaranya dengan sangat keras, lalu menyemburlah sperma ku didalam lubang analnya .. AAAaaaah ….Ahhhhhhhh……..

Justru aku yang tidak bisa menahan desahanku. Bodo amatlah kalau sampai kedengaran satpam kost.

Putri aku dengar juga ikut mendesah keras sambil mulutnya menggigit bantal yang tadi ada disebelahnya, tangannya menarik pantat ku seperti berharap penisku masuk lebih dalam, pinggulnya digerakan turun naik, aku rasakan kedutan-kedutan penisku dan remasan-remasan dari lubang analnya. Dia sepertinya orgasme juga, karena kudengar suara teriakan tertahan dibawah bantal.

Wah ternyata bisa juga cewe orgasme dengan anal sex. Baru tahu.

Setelah beberapa kedutan berlalu, masih gerakan keluar masuk perlahan, merasakan sisa-sisa kenikmatan, aku lepaskan bantal yang menutup wajahnya. Kulihat wajahnya, ada setitik air mata dari sudut matanya.

Helaan napasnya mulai menurun, lalu pelan-pelan berubah, menjadi sesenggukan. Badai birahi sudah berlalu, dan kini akal pun kembali mengambil alih, menciptakan sebuah rasa sesal. Aku segera memeluknya dengan lebih erat.

“Kenapa kita lakuin ini, A?”

“Semua terjadi begitu aja, Put”

“Sekarang Putri sudah mengkhianati A’ Ringgo…”

“Ya, kita sama, Put. Aa juga sudah mengkhianati pacar Aa, tapi Aa gak menyesal ngelakuin ini ama kamu, Put, soalnya kamu sempurna”

“Tapi bagaimana nanti kalau mereka tahu?”

“Yang terjadi di sini biarlah tetap di sini, Put, nggak perlu orang lain tahu. Kalaupun nanti pacar kamu tahu, Aa janji akan tanggung jawab dan selalu ada buat kamu ”

“Beneran, A? Walau Aa udah punya pacar?”

“Walau Aa udah punya pacar, Aa tetap bakal tanggung jawab sama kamu”

Putri menghapus air matanya, kemudian memelukku mesra, meringkukkan kepalanya di dadaku. Baru anal sex saja sudah se drama ini, bagaimana tadi pas aku ambil perawannya?!

“Putri juga gak menyesal A, ngelakuin ini ama Aa, soalnya Aa baik, ganteng pula, Putri udah suka ama Aa waktu pertama kali ketemu”

“Aa juga sudah suka ama Putri waktu pertama ketemu”

“Tapi terus pacar kita gimana? Putri masih belum mau putus ama A’ Ringgo, A”

“Ya nggak papa, Put, kita kan cuman terhalang status aja, tapi bukan berarti kita nggak bisa saling menyukai. Mereka nggak perlu tahu apa yang kita rasakan, Put”

Putri diam sejenak.

“Janji ya, jangan tinggalin Putri”

“Iya, Aa janji” kataku sambil mencium keningnya.

Kami pun berpelukan hingga akhirnya tidur bersama. Satu hal yang pasti, ini bukanlah akhir dari petualanganku nanti bersama Putri. Pelan2, aku ingin mengubah Putri dari seorang anak gadis yang lugu menjadi wanita yang telah dewasa sepenuhnya, dan ini hanyalah langkah awalnya saja. Perawannya hanya tunggu waktu. Aku merasakan kemenangan mendapatkan dan menikmati tubuh pacarnya ringgo. Aku tidak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya dari cara aku memperlakukan dia, kalau dia menikmati maka aku terus dapat menikmati tubuhnya, jika tidak paling dia akan menjauhi diri ku.

Dan sekarang aku harus meredam amarahku ke Marscha pacarku. Karena aku mau rasakan anal sex darinya. Tubuhnya akan aku expolitasi. Memutuskannya saat ini hanyalah “kerugian” bagiku. Tunggu pembalasanku, Marcha.

Keesekoan Harinya.

Aku terbangun paginya, dan melihat Putri masih tidur telanjang disebelahku membelakangiku. Dia terlelap kecapean nampaknya. Aku perhatikan pantatnya yang mulus, semacam ada penanda kemenanganku disana. Aku tersenyum puas.

Aku balikkan badannya hingga telentang. Luar biasa sempurna tubuh gadis polos ini. Walau dadanya tidak bulat besar seperti Marscha, tapi sangat sexy membusung indah, dengan puting berwarna pink. Aku perhatikan memeknya yang masih rapat itu. Tinggal tunggu waktu, batangku akan berkelana disana.

Aku akhirnya bangkit, tak mau mengganggunya. Aku bereskan pakaianku dan kembali ke kamar untuk mandi. Baru saja aku ambil handuk, sebuah pesan masuk dari dosen pembingku:

“Billy, tidak usah lanjutkan penelitian”.

“Sudah cukup untuk bahan final skripsimu”.

“Segera balik ke bandung. Ke tata usaha kampus langsung”

“Ada sidang terdekat 2 orang lagi rabu depan. Kau bisa gabung setelahnya”

“Tata usaha sudah tahu. Tinggal isi form dan tandatngan”

“Hardcopy skripsimu 3 rangkap sudah ada disana untuk dosen penguji. Jadi ga perlu print lagi”

Demikian isi pesannya. Aku senang sekali. Kesabaranku selama ini berbuah hasil. Yang aku impikan akan segera terwujud, yaitu sidang, dan setelahnya wisuda. Aku bahagia sekali. Baik sekali dosenku ini.

Tapi kebahagianku hanya bertahan dalam hitungan menit karena aku sadari ga semudah itu dosen pembimbingku approve skripsiku, yang mana dia memanfaatkanku untuk kerjakan proyenya. Jangan-jangan benar kata Sherry, Marscha yang bujuk dosenku. Anjis.

BERSAMBUNG

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part