web hit counter

Pengalaman Mengubah Hidup Part 13

0
510

Pengalaman Mengubah Hidup Part 13

Aku memasuki rumah tante Dina setelah seharian dikampus, dan terlihat mobilnya berada di depan garasi, aku memarkirkan mobilku disebelahnya. Aku sudah menganggap tante Dina sebagai mama angkat, karena dia memperlakukanku seperti anaknya, hanya bedanya aku dapet bonus yaitu badannya.

“Renddyyyyyyyyyyy”, sapa tante Dina dengan wajah yang sumringah masih menggunakan pakaian kedokterannya, rok pendek diatas lutut dan kemeja putih.

“helloo tanteee”, aku memeluknya dan mencium lehernya.

“Rend, buruan bersih-bersih aku tunggu dikamar yaaa”, ajaknya tanpa basa basi.

“wow wow woooow, tumben langsung galak haha”, candaku

“aku mau dateng bulan nih, biasa libido naik”, balasnya dengan wajah sudah lumayan sange.

Aku menaruh tasku di kamar yang disediakan untukku dan berjalan ke kamar mandi untuk cuci muka, sikat gigi dan mengenakan parfum.

Ku berjalan memasuki kamar tante Dina, dan dia sekedar berdandan di depan kaca.

“hay tante”, sapaku basa basi.

Tante Dina tidak menjawab sapaanku dan langsung berdiri, dia mengenakan high heels yang membuatnya semakin tinggi dan pantatnya terangkat tinggi.

Bibir kami langsung bersahutan.

“smooochhhh smoooocchhh hmmm auuhhhhh”

“smooocchhhhh ahhmmmmmm schoooocchhhh”

Tanganku meremas pantatnya yang kenyal.

“awwwwwwww udah mulai nakal ya”, ucapnya, ku terus memburu lehernya yang wangi itu.

Aku udah gak kuat melihat tante Dina seperti ini, dia langsung aku putar badannya dan ku berdikirikan di depan kaca lemari, tante Dina menungging. Aku bertulut di belakang badan tante Dina dan mengangkat roknya yang mini itu, terlihatlah celana dalam berwarna merah itu dan sudah sedikit basah. Aku menggeser celana dalam itu ke pinggir bibir vaginanya dan aku mendekatkan lidahku.

“schooooopphh schooopprrrrhhhh smooccchhhhh”

“creeekkk creeeeekkk smoooccchhhhh”, suara lidahku beradu dengan bibir vaginanya.

“ahhh rendddd ahhhh kamu semakin hebaaattt ahhhhh”

“ahhhhh ahhhh uhhhhh hmmmmm”, tante Dina melihat diirinya di depan kaca dengan wajah yang sange.

“ahhhh rennndddd ahhhh ahhhhh puasin akuuu rendddd ahhhhhhh”

“puasin mama angkatmu reeenddddd ahhhhh ahhhh”

“ahhhhh renddddd, aku udah dekeeeet reeendddddd”

“aaaaauuuuuuuuuuuuuuuuu sayaaaangggggggg aku keluuuuuaaaaaaaaahhhhh”, desahnya panjang disertai memeknya banjir bagikan danau yang meluap.

“uhh uhh uhh uhhhh ahhh”, tante Dina mengejar nafas.

“kok tumben cepet tante?”, tanyaku bercanda.

“iya nih, lagi on banget rasanya”, balasnya singkat.

Aku melepas kancing jeansku dan menurunkannya, dan keluarlah kontolku yang sudah tegak.

“langsung masukin ya tante”, ucapku.

BLEEESSSSSS

PLOK PLOK PLOK PLOK PLOK
PLOK PLOK PLOK PLOK
PLOK

“aww aww aww aww aww awww awww”

“hmmm aahhh ohhhhh rapet banget”

“awww awww awwww pas-in ke g-spotnya sayanggg”

“awww iya situu aww teruss awww awww”

Pantatku maju mundur menghujam memek tante Dina, bagian atas pakaian kita masih rapi, tapi bagian bawah entah sudah tak berbentuk. Posisi berdiri cukup enak, apalagi jika di depan kaca, jadi lebih seksi.

“aahhhhh sayanggg lebih kenceng sayanggg udah dekeeeeet sayanggg”

Aku menaikkan tempo kentotanku

“ahhhhhhhhhhawwwwwwww renddddyyyyyyyyyy awwwwwwwww cabuut sayangggggg”

Tante Dina mendorongku dan kontolku tercabut dari vaginanya, cairan demi cairan menetes keluar menuruni pahanya. Dan tante Dina berpegangan pada hendle lemari karena badannya bergetar, serta aku memeluknya agar dia tak jatuh.

“ahhhh bentar sayaaangggg masih kedutan”

“iya tante”, sembari aku menciumi lehernya.

“ayo sayang masukin lagi”

BLEEESSS

PLOK PLOK PLOK PLOK
PLOKK PLOK PLOKK

“ahh enak tante enaaaakkkkkk”

“awwww awww awww awwww”

“tante aku udah dekeeeet ahhhhh ahhh ahhhh”

“awwwwwhhhhh yeeeeesss awwwhhhhhhhhhhhhh keluaaarrrrrrrr”

CROOOOT CROOOT CRRROOOOTTTTT

Aku memeluk kencang tante Dina, badanku bergetar hebat, entah kenapa crot kali ini enak banget.

“capek anakku?”, candanya melihatku dari kaca.

“hahah iya mamahh”, balasku sembari tersenyum dan mencium bibirnya.

Ku cabut kontolku dan mengalirlah spermaku dari memeknya. Aku tumbang di kasur belakangku dan berbaring.

“ihh sampe ke lante-lante parah ah”, ucap tante Dina sembari mengambil tisu dan mengusapkan vaginanya. Dia menurunkan roknya, melepas heelsnya dan berbaring disebelahku.

“tante aku pengen nyoba anal seks”, tanyaku.

“ihh ogah, sakit dan gak sehat buat ceweknya kali rend”, jawabnya menerangkan.

***

Hubunganku dengan Sandra berlangsung seperti biasanya, namun bedanya adalah saat bertemu tidak ada lagi ejekan maupun ledekan, hanya senyum sapa dan basa-basi yang menyenangkan. Begitupula dengan temen-teman yang lain. Entah apa yang dikatakan oleh Sandra yang membuat seluruh temennya ikut berubah denganku. Hanya Sandra dan temen-temannya yang tau.

Tiap berhubungan dengan tante Dina, rata-rata aku keluar 2 kali, yang membuat dibagian pangkal pahaku terkadang nyeri, namun tetap saja enak. Agar hubungan ini tidak bosan, kita selalu menggunakan variasi, kadang tante Dina menggunakan lingerie yang seksi, kadang menggunakan pakaian kerja. Sering pula kita melakukan seks di dalam mobil di garasi, di teras belakang, intinya yang membuat kita tidak merasa bosan. Namun ada satu hal yang belum bisa aku wujudkan, salah satu fantasi liarku, yaitu anal seks.

Tante Dina selalu menolak ajakanku untuk anal seks, menurutnya sakit dan jika terlalu sering membuat lubang pantatnya melar dan tidak bisa untuk menahan lagi. Sebagai seorang dokter, dia pasti tau mana yang boleh mana yang tidak, namun jika sudah nafsu, siapa yang bisa menolak.

“Rendy, bangun sayang, udah jam 9 lho. Katanya mau ke kampus nanti? Aku nanti ada jaga malam jadi pulang malam” terang tante Dina.

“iya, nanti aku ngampus tante, yaahh sampai malam ya. Quicky dulu yuk tante hihihi” mintaku.

“tadi pagi aku udah datang bulan haha libur dulu beberapa hari ya sayang, oh iya karena nanti aku pulang malam, kalau kamu mau tidur di kos juga gpp, daripada kesepian disini” terangnya lagi.

“yuuk saparan yuuk, aku udah masak”

Aku langsung beranjak bangun, mampir ke kamar mandi untuk pipis dan membasuh muka ku. Lantas aku duduk di meja makan di seberang tante Dina.

“noh, dari tadi hape mu bunyi terus, di cariin Sandra, siapa Sandra?”, Tanyanya sembari makan.

“temenku tante, dia temen sekelas”, ujarku agak panic, apakah tante Dina akan marah aku memiliki hubungan dengan Sandra.

“hmmm katanya kamu gak punya temen di kampus”, ujarnya

“iya tante, setelah kenal dengan tante Dina, aku dikit dikit belajar cara ngobrol dengan temen cewek gitu”, balasku seadanya.

“ya baguslah haha kamu juga butuh berteman dengan seusiamu, masa dengan tante tante terus, kelihatannya dia ngajak jalan tuh, kapan-kapan kenalin ke tante lah”, terangnya dengan bercanda

“iya tante kapan-kapan ya, tapi ntar kalo tau tentang kita gimana temen-temenku”, balasku cemas.

“bilang aja mama angkat”, jawabnya santai sembari bediri. “udah ya aku ke rumah sakit dulu, nanti kabari ya”, terangnya memintaku mengabari aku akan tidur dimana.

“oke tante nanti aku kabari” ku bangun dan memberi ciuman salam sebelum tante Dina pergi ke kantor.

Setelah tante Dina terdengar meninggalkan rumah, aku bangun dari tempat dudukku, ku mencari HP ku untuk melihat chat masuk hari ini. Sandra……..

[27/05 7.51AM] Sandra Santika: hay Rendy
[27/05 7.51AM] Sandra Santika: hari ini ngampus gak?
[27/05 7.51AM] Sandra Santika: abis ngampus jalan yuk..
[27/05 9.23AM] Rendy Surya: iya ngampus, boleh yuk, atau ke tempatmu aja hehe
[27/05 9.25AM] Sandra Santika: even better. Yay!

Agar tak lupa, aku menggambil beberapa kondom sebelum berangkat ke kampus.

***

Selesai perkuliahan 13.20PM

Aku menunggu Sandra yang masih ngbrol dengan teman-temannya di dekat parkiran mobil. Aku tak melihat mobil Sandra, mungkin dia naik taksi maupun nebeng temennya.

“yuuuk” tepuk Sandra.

“eh udah, yuuk kamu naik apaan tadi?”

“aku nebeng Andita dan Helga tadi, kita kemana yuuuk”

“ke apartmentmu aja yuk ehehe nonton film atau ngapain”

“haha ngapain hayooo, yuuk aku kangen nih”

“yuk cuss”

Kami pun tanpa membuang-buang waktu langsung tancap gas menuju apartment Sandra. Sesampainya di apartment Sandra, kami membuka pintu langsung kami berciuman dan satu per satu pakaian kami terlepas.

“smoocchhhh smoocchhhh smoooochhhhhhh”

“rend, buat aku orgasme squirt lagi please” pinta Sandra sembari berjalan telanjang menggandengku membawa ke kasurnya. Tanpa kata apapun aku menuruti keinginan Sandra.

Ku masukkan jariku dan menggerakkan maju mundur.

CREEK CREEK CREEK CREEK CREEK
CREEK CREEK CREEK
CREEK CREEK CREEK

Suara jariku mengobok-obok memeknya yang basah itu.

Ku lihat Sandra sedang dalam menuju puncak, beberapa saat kemudian erangan Sandra semakin kencang “ahhh ahhhhh AHHHHH terus sayang teruuussss……” “AAAHHHHHHHHHHHHHHHH” teriakan panjang Sandra disertai dengan semburan cairan keluar dari vaginanya serta badannya bergetar tiada henti.

“ah ah ah hoah hoaaahh” nafas Sandra datang dan pergi dengan cepat, sembari menatapku dengan senyum cantiknya.

Aku turun dari kasur, mencari celanaku untuk menggambil kondom yang aku bawa sebelumnya. “nampaknya kamu udah prepare sayangg, bawa berapa?” Tanya Sandra.

“bawa 6 nih, cukup gak?” candaku.

“kalau abis ya gak usah kondoman lah, ayo sayang cepetan”

Aku mengocok kontolku agar segera berdiri, namun nampaknya agak butuh perjuangan untuk berdiri karena malam sebelumnya sudah dikuras tante Dina, dan rasanya lumayan nyeri. Tapi worth it lah, ada wanita cantik sudah melebarkan pahanya untukku.

Aku memasukkan kontolku, Sandra berbaring pada punggungnya.

“awwww awww yesss awww ahhhhh”

“awwww hmmm ahhhhhhh awwww awwwwww”

PLOK PLOK PLOK PLOK

Desahan demi desahan kami teriakkan.

Gentian aku yang berbaring di punggungku dan Sandra menaikkan badannya di tubuhku, menghadapku dan dia meraih kontolku dan memasukkannya.

“awww yesss awwww awwwwww”

“awww yeess ahh yes enak banget sayangg sandraaaaaa”

“awww aku mau keluar sandraaaaaaa awwww awwwwwwwwwww”

Aku meremat pinggangnya dan mengerang keenakan saat kontolku mengeluarkan cairan putihku.

“awwwwwwww sandraaaaaaaaaaa”

CROOOT CROOOOT CROOOOOOTTTT

Kami melanjutkan pelukan dalam telanjang dan cumbuan kecil dalam keheningan. Hingga Sandra memecah keheningan

“aku gak mau melepas pelukanku, anget banget di dadamu”. Ujar Sandra Nampak tulus.

Aku diam dan mencium keningnya.

“eh yang, Helga pengen kenalan sama kamu…” Tanya Sandra.

“kan udah kenal, temen sekelas juga” jawabku santai.

“bukan kenal yg gitu sayang culun, tapi kenal yang ‘gini’ ”jelas Sandra sembari memberi tanda kutip menggunakan tangannya.

“wow…serius??”, aku terkaget.

“haahhh apa apaan ini, aku baru saja mendengar Sandra nampak tulus dan pakai hati, namun aku tak yakin, namun kenapa dia malah menawarkan tubuhku ke temennya, apa maksud Sandra ini, apa dia ngetes hati ku??”, pikirku bingung

—BERSAMBUNG—

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂