web hit counter

Pengalaman Mengubah Hidup Part 19

0
497

Pengalaman Mengubah Hidup Part 19


Cyntia Herawati

POV Tante Dina

“kamu gak bisa gini terus Din, kamu harus move on dan mempersilahkan orang lain untuk menjagamu hingga tua nanti”, ujar Cyntia yang sedang memberiku ceramah di ruanganku.

“ntarlah Cyn, aku pikir-pikir dulu, aku males aja kalau endingnya seperti kemarin, buang-buang waktu”, balasku jutek.

“dokter Dina, sudah siap untuk periksa lagi?”, tanya suster sembari membuka pintu ruanganku.

“oh iya, sudah siap sus, sudah ada pasien?”, tanyaku kembali.

“sudah ada 2 yang menunggu, dok”, jawabnya sembari dia membaca catatan yang dibawanya.

“oke baiklah, 3 menit ya”, balasku sembari berdiri menggunakan jas putih kedokteranku, dan Cyntia masih duduk di pojok ruanganku sambil makan buah apel ditangannya.

“yauda, aku ke ruangan dulu, itu kamu pikirin ya”, ujarnya sembari keluar ruanganku dengan memelukku sebelumnya.

–skip skip–

Hari mulai petang, aktifitas di rumah sakit ini semakin sepi, aku berjalan menuju mobil SUV ku yang gagah ini, namun kebalikannya denganku, yang hatinya rapuh dan sepi. Selama perjalanan, aku hanya memikirkan apa yang Cyntia ucapkan padaku, memang ada benarnya juga, bahwa usiaku semakin bertambah, aku perlu seseorang yang mendampingiku untuk hari tuaku. Bagiku Rendy hanyalah pemuas nafsu sesaat yang selama ini tak tersalurkan, namun untuk urusan hati, entahlah.

Aku memasuki rumahku, lampu sama sekali belum dihidupkan dari pagi hingga petang. Rumah sebesar ini hanya diisi aku seorang, kadang Rendy disini menemaniku.

“ahhh apa arti rumah besar kalau selalu kosong”, ujarku dalam hati galau, aku bener-benar memikirkan perkataan Cyntia tadi siang. Cyntia berusaha menjodohkanku dengan dr. Erwin, dia dokter spesialis penyakit dalam yang berada satu department dengan Cyntia. Dia seorang duda berusia 36 tahun memiliki 1 anak perempuan, istrinya meninggal beberapa tahun yang lalu karena sakit yang dideritanya. Kurang lebih sama ceritanya dengan aku, namun bedanya aku berakhir diperceraian.

Aku berjalan memasuki kamarku dan terus ke kamar mandi, aku melepas satu per satu pakaianku hingga terlihatlah tubuhku yang sintal tanpa sehelai benangpun ini. Payudara yang masih tergolong kencang untuk wanita seusiaku, vagina yang bersih terawat, yang saat ini hanya dinikmati oleh Rendy seorang, dasar lelaki beruntung dia.

“dasar lelaki kalau sudah keenakan lupa dengan yang lainnya”, pikirku dalam hati mengenai Rendy, dia hanya menelponku beberapa saat sebelum ke Lombok untuk liburan dengan teman di kampusnya, namun bukan Sandra.

“nampaknya dia sudah pandai menggunakan kontolnya untuk menaklukkan wanita”, pikirku jorok sembari tertawa dibawah guyuran air shower yang membahasi tubuhku.

Badanku sudah wangi dan segar, aku melangkahkan kaki keluar dari kamar mandi dengan keadaan masih bugil dan berjalan ke kemar, aku menggambil hape ku.

[20.14] Dina Indirawati: beb, kapan yuk ngobrol..
[20.17] Cyntia Herawati: oke beb, besok siang ya, dimana?
[20.17] Dina Indirawati: aku besok off, dirumahku aja.
[20.18] Cyntia Herawati: besok aku praktek hingga jam 10, setelah itu ya.
[20.19] Dina Indirawati: oke.

Tanpa kusadari aku chat-chat-an dengan Cyntia dalam keadaan bugil tanpa sehelai pun, rasa angin AC menembus ke dalam kulitku, namun sungguh tak nyaman sendirian bugil dirumah tanpa ada lawan main. Aku memilih daster dalam lemariku, ku ambil yang paling tipis, bahkan terlihat seperti lingerie. Aku berbaring di atas kasurku hingga badan ini terasa lemas dan kantuk.

POV Rendy

Setelah malam yang indah memperawani pantat Helga, kami terus melakukan persetubuhan itu hingga hari malam sebelum kita pulang ke kota dimana kita menimba ilmu.

Pertempuran dengan Helga rasanya seperti bertempur dengan wanita yang sudah tidak disentuh bertahun-tahun plus meminum obat perangsang, sangat liar dan bernafsu serta didukung oleh badan dan wajah yang cantik. Rasanya sangat beruntung bisa merasakan badannya dan merealisasikan fantasiku bersamanya.

“Rend, thankyou ya udah bikin hariku berbunga-bunga selama di sana haha”, ujar dia sambil memelukku, susu yang kenyal menekan di dadaku. Kami berpamitan di bandara, kami memesan taksi yang berbeda karena arah tujuan tempat tinggal yang berbeda.

“haha sama-sama ya, ntar kalau aku masih pengen gimana dongs?”, tanyaku menggoda.

“tinggal WA aja lah kok repot”, balasnya genit sembari mengedipkan satu mata kearahku.

Aku masuk ke dalam taksi yang aku pesan, dan aku tunjukkan alamat rumah tante Dina.

POV Tante Dina

Tujuan dari memanggil Cyntia ke rumahku untuk meyakinkan diriku memang bahwa ini yang terbaik untuk hidupku, selain itu agar Cyntia juga tau dengan apa yang sudah kuperbuat dengan Rendy, agar yang kelak nanti jadi suamiku tidak kecewa denganku.

dr. Erwin memang sudah memiliki rasa denganku sejak dia pindah ke rumah sakit ditempatku bekerja, dan kebetulan sahabat baikku sejak kuliah dr. Cyntia berada di satu department dengan beliau. Maka dia juga semangat untuk menjodohkanku dengan dr. Erwin. Aku?

aku sudah beberapa kali jalan dengan dia, dan aku juga sudah diperkenalkan dengan anaknya, namun pada waktu itu aku masih berpikir positif jika perkenalan ini hanyalah untuk sekedar pertemanan biasa. Dari perkenalakanku dengannya, aku dapat menyimpulkan bahwa dr. Erwin merupakan sosok dokter yang lembut dengan pasien dan sabar, ku dengar ceritanya dia sungguh depresi saat kehilangan istrinya, namun lambat laun dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan anaknya, dan dia ingin menghadirkan sosok ibu untuk anaknya, dan akulah yang dia inginkan. Tapi, aku kotor. Sangat tidak pantas jadi contoh.

“sepi amat rumahmu, sendirian aja?”, tanya Cyntia.

“iyalah, lha ada siapa lagi hmmm”, tanyaku kembali.

“itu katanya ada anak yang ngekost atau apa itu”, tanya Cyntia genit padaku.

“hmmmmm”, ujarku singkat. “aku mau bahas itu juga”, lanjutku.

“haha iya aku paham kok tenang”, balas Cyntia dengan wajahnya super genit.

“apa coba?”, jawabku menegaskan.

“haha sebenarnya itu anak bukan ngekost atau apalah, tapi dia yang ngurusin nafsumu kan? Hahaha basi tau gak Din, udah taulah, janda seksi mana mungkin main pakai tangan terus atau pakai vibrator”, canda dia.

“haha bangsat bangke lu Cyn, ah tau aja masalah wanita separuh baya hahaha hmm nah itu, kamu tau kan, apa aku pantes untuk jadi sosok ibu dan istri bagi dr. Erwin”, tanyaku memelas sembari menerawang yang sudah kuperbuat selama ini.

“ya pantes aja lah Din, yang penting kan selama ntar kalian berumah tangga gak akan mengulangi itu lagi, iya kan?”, ujar dia meyakinkanku. “cukup kamu yang tau mengenai apa yang kamu perbuat dan cukup dr. Erwin yang tau apa yang dia pernah perbuat selama dia menduda”, lanjutnya.

***FLASHBACK***

Saat keluar dari ruang operasi, aku menggambil jam tanganku dan menunjukkan pukul 00.15 tengah malam, tak pedulikan gimana lelahnya badanku, yang penting keluarga yang sedang di operasi bisa mendengar kabar bahagia bahwa pasien sudah membaik. semua berkas berita acara operasi aku taruh diatas meja, aku duduk diatas kursi kerjaku dan meminum air putih yang ada di dalam botol. Ku baca-baca lagi berkasnya apakah sudah lengkap sebelum aku pulang.

“hmm lho, ini kok ada di aku, bukan punyaku ini”, pikirku, aku melihat jam apakah orang ini masih ada di kantornya. Tanpa berpikir panjang aku keluar dari ruanganku dan berjalan ke ruangannya.

Knok knok knok.

“yaaaa”, suara balasan dibalik pintu dan dibukalah pintu itu.

“maaf dokter, ini berkas milikmu, ada di aku..”, jelasku. “masih disini aja dok, belum pulang kah?”, tanya ku kembali.

“haha iya, mari mari silahkan masuk”, tawarnya, dan aku berjalan masuk ke dalam ruangannya yang tergolong rapi dan bersih untuk orang yang sangat sibuk. Aku menaruh pantatku di sofa yang panjang ini dan dia juga duduk disebelahku sambil duduk sedikit kebawah dan meluruskan kakinya.

“masih disini aja?”, tanyaku kembali.

“iya, dirumah juga udah pada tidur, sekalian istirahat dulu disini sebentar, kamu ngapain?”, tanya dia kembali.

“iya sama lah haha sambil ngecek berkas sih tadi, besok ada operasi?”, tanyaku.

“iya, ada jam 4 sore”, balasnya singkat.

“haaaahh aku capek, kerja siang malam, walau seneng bisa bantu orang lain dan untuk anakku, namun di lain sisi aku sedih tidak ada sosok wanita yang bisa menjadi panutan untuk anakku. Rasanya sia-sia aja aku kerja gini”, ujar dia mulai curhat.

“ya sabar dong dokter, lambat laun pasti akan ada wanita yang bisa menjadi bagian dari hidupmu”, balasku sembari memegang pundaknya sebagai bentuk dukungan dan semangat, posisi dudukku juga sudah melemas dan tidak tegap.

Posisi kepala kami yang sejajar dan saling memandangi setelah pembicaran singkat mengenai kondisi dia, dia memegang daguku dan mendekatakan kearahnya, mataku memejam menunggu untuk bibirku diciumnya.

“Smooooccchhhhhhhhhh”, bibir kami bersentuhan. Aku membuka mataku, dan kami saling menatap. Aku melanjutkan cium tadi..

“smoocchhhh cmooooohhh smoooccchhhh smooocchhh cuuuupppp”, kami melakukan French kiss

Lenganku melingkatkan dilehernya, bibir kami sudah enggan untuk terlepas, dia memainkan lidahnya menambah bumbu ciuman ini semakin hot, ruangan ber-ac ini sudah tidak sanggup untuk membuat kami sejuk. Dia berhenti dan memandangiku sekali lagi, dan bibir kami lagi-lagi terbenam di indahnya suasana yang sedang mencekam ini.

“smooohhhh smooochhh smooocchhh cuuuppp cuuuupppp cuppppp”, ciuman kami semakin panas, lidah dan bibir dia menuruni hingga leherku. Nafasku semakin cepat..

“ahhhh oohhh ahhhh uhhhh ahhh”

“hmmmmm awwhhhhhh ooowhhhhh awwwhhhhh”

Dia memdirikanku dan membimbingku untuk naik ke meja kerjanya, aku duduk menghadapnya, ku tatap matanya sungguh bernafsu untuk melahapku. Kakiku kubuka agar dia bisa berdiri diantara kakiku, rok kerja ku sudah naik hingga terlihatlah pahaku. Dia kembali melahap bibirku dan leherku tiada henti.

Ku rasakan vaginaku sudah sedikit basah dan ingin segera dihujam, badanku rasanya bergetar dan sungguh horny sekali.

“ahhh ooowhhh yesss ahhhhh enak bangeeet awwwhhhh”

“ahooohhhhhh awwwwhhhh oohhhhhhh hmmmm”, desahku tiada henti saat dia melahap bibirku.

Ku rasakan tangan dia sudah menurun dan masuk kedalam rokku, sesaat lagi celana dalamku pasti sudah terlepas dari badanku. Benar saja, dia menarik celana dalamku yang aku sendiri lupa tadi pagi menggunakan warna apa, celana dalamku berwarna hitam berhasil dia lepas, dan dia lemparkan ke sofa dibelakangnya. Terlihatlah vaginaku yang sedikit berbulu yang beberapa hari yang lalu aku potong. Aku lihat dia sibuk melepas celana dan menurunkan celana dalamnya.

Terlihatlah kontol dia yang tebal dan panjang, aku kira-kira sekitar 16cm dan cukup tebal itu, aku yakin akan sangat terasa saat nanti dia memasukkan kontolnya di dalam badanku.

“berbaringlah disini”, perintah dia, dan aku menurutinya, aku menaruh punggungku di atas mejanya, aku sudah pasrah dan siap untuk menikmati ini.

“awwwhhhhhhhhh”, desahku pelan saat kontol dia menyentuh bibir vaginaku.

BLESSSSSSSSS, kontol dia masuk ke dalam tubuhku. Badanku mengejang keenakan.

“awwhhhh dokter Cyntia, enak dan sempit banget”, wajah dia keenakan.

“ohhh dokter Erwin, gede banget sih”, desahku.

“awhhh awhhh yesss ahmmmm hmmmmm hmmmm”, desahku pelan saat dr. Erwin mulai mempompa tubuhku dengan tempo pelan namun pasti.

“hmmmm hmmmmm ammmmm yessmmmm ahmmmmm” desah kami pelan agar tidak terdengar dari luar.

Dia mempompa tubuhku dengan kencang dan kasar, tangannya meremas remas payudaraku yang sintal ini, bajuku masih lengkap namun sudah acak-acakkan, begitu pula dengan baju dr. Erwin. Pergelangan kakiku melingkar dipinggul dokter tampan ini, dan nampaklah high heels ku berwarna hitam bermotif leopard ini membuat semakin seksi dan binal.

“ahhh hmmmm ohhmmmm yesss hmmmm”

“awwwhhh hmmmm hmmmmm”

“smooocchhh smooochhhh hmmmmmm”, dr. Erwin mendekatkan wajahnya ke arahku untuk menciumi ku.

“yaampun, aku semakin dekat ahhhhh yessss”, pikirku dalam hati, sungguh malu kepada dr. Erwin jika baru 5 menit bercinta aku sudah ingin keluar. Kombinasi kontol yang tebal dan perlakuannya yang kasar membuatku segera orgasme.

“hmmmmmmmmm hmmmmmmm hmmmmmmmmmahhhmmmm”, aku berusaha menutupi desah panjangku saat orgasme.

“uhhhhh hmmmm ahhhwwwhh uhhhmmm hmmmm”, aku merem melek keenakan dan mengalihkan pandanganku menjauh dari dr. Erwin.

PLOK PLOK PLOK PLOK
PLOK PLOK PLOK
PLOK PLOK
PLOK

“awwwhhhhh yesss hmmmm ahhhh”, suara desah dr. Erwin terus memandang wajahku dengan wajah yang sangat tampan saat keenakan.

“dr. cyntia, aku sudah dekat, keluarin dimana?”, tanya dia disela-sela mempompaku dengan suaranya serak dengan desahan.

“jangan di dalem dokter”, pesanku.

Lantas dia mencabut kontolnya, dia mengangkat lebih tinggi rokku, dan dia mengocok kontolnya diatas bibir vaginaku. Dia terus menatap wajahku saat mengocok kontolnya yang tebal itu.

“awwwwwhhhhh yessssssss awwwhhhh dokter Cyntiaaaaaa awwwwwwww”, desah panjang dia diiringi oleh semburan sperma keluar dari tubuhnya.

CREEET CREEETTTT CREEEEETTTTTT

“awwhh ohhhh aahhh ohhhhh”, nafas dia berburu, dan semburan pejuh itu keluar tepat di atas vaginaku dan sebagian mengenai vagina dan turun ke meja kerjanya.

Lantas dia menciumiku dan memelukku. Aku mendorongnya menjauh dariku.

“ohhhww dokter Erwin, tidak sepantasnya kita melakukan ini, aku sudah berkeluarga”, aku menutupi wajahku malu terhadap dunia, namun disatu sisi aku merasakan cairan spermanya mengalir melewati bibir vaginaku.

“maafkan aku dokter Cyntia, pandanganku sudah terhalang oleh nafsu”, jawab dia sambil bicara mendekatiku, dia meraih tisu di mejanya dan diberikannya padaku.

“hmmmm yg sudah terjadi biarlah dokter Erwin, jadikan ini rahasia kita berdua, jangan sampai orang lain tau dan jangan sampai terulang lagi”, ucapku sambil membersihkan vaginaku yang terkena cairan spermanya.

“maafkan aku dr. Cyntia, semoga ini tidak menganggu performa kita dalam pekerjaan”, ucap dia merasa bersalah.

“jangan sampai dokter”, balasku singkat.

Setelah aku merapikan semuanya, termasuk dr. Erwin merapikan pakaiannya, aku melangkah keluar dari ruangannya. Kondisi kantor rumah sakit sangat sepi, membuatku yakin bahwa tidak ada yang mendengar apa yang terjadi di dalam. Aku terus melangkahkan kaki kearah parkiran ditemani satpam hingga mobilku keluar dari halaman rumah sakit. Waktu menunjukkan pukul 1.40 dini hari. Sudah pasti suami dan anakku sudah tertidur pulas. Tak kupungkiri bahwa hubungan tadi aku mendapat orgasme tercepat selama aku berhubungan badan.

—skip skip beberapa minggu setelahnya—

Hubunganku dengan dr. Erwin tidak berlanjut, hanya cinta satu jam saja, setelahnya kami professional menjalankan pekerjaan kami. Setelah hubungan itu, kami menjadi semakin dekat dalam arti sebagai teman pekerjaan dan dia bercerita ingin kenal lebih dekat dengan seorang wanita bernama dr. Dina dari department kandungan dan anak. Yang kebetulan aku adalah sahabatnya.

Dengan apa yang pernah aku lakukan dengan dr. Erwin, hanya akan menjadi rahasia yang bahkan suamiku dan Dina tidak boleh tau.

***KEMBALI KE REAL LIFE***

“iya sih, aku juga gak ingin tau apa yang pernah dia perbuat, selama dia bisa menjadi sosok pemimpin bagiku”, balasku datar.

“cieee udah mulai yakin nihhh”, ledek Cyntia.

“hmmmm harus aku coba untuk memulai hubungan serius dengan cowok yang bener”, jawabku singkat.

POV Rendy

“terimakasih pak, ambil saja kembaliannya”, ujarku sambil memberikan duit kepada sopir taksi ini.

Aku turun dari mobil itu dan mengambil barang bawaanku dibagasi, aku lengkahkan kakiku kearah pintu gerbang rumah tante Dina.

“hmm mobil siapa ini Mercedez Benz warna putih mewah itu”, pikirku dalam hati, apa tante Dina ada tamu cowok atau siapa ya, ku pandangi di teras, ada high heels warna hitam motif leopard.

Aku terus berjalan melangkahkan kakiku menuju dalam rumah.

“ehh Rendy, naik apa sampai sini, kok gak bilang minta jemput sih?”, tanya tante Dina khawatir denganku.

“naik taksi tante, halah gapapa, ntar ganggu tante”, balasku ramah.

“kenalin nih temenku, namanya Cyntia”, ujar tante Dina memperkenalkanku dan tante Cyntia berdiri menjulurkan tangannya kearahku.

“Rendy”, ujarku.

“Cyntia”, balasnya.

Aku lantas melanjutkan langkah kakiku, dan memasuki kamarku untuk sekedar istirahat dari perjalanan yang melelahkan.

POV Tante Dina

“itu gigolo kamu?”, tanya Cyntia pelan-pelan.

“gigolo mu hmmm, iyaa dia”, jawabku sambil memastikan Rendy tidak mendengar obrolan kami.

“kok gak seperti gigolo pada umumnya yang gagah, berotot dan ganteng, dia mah seperti anak laborat haha”, balas Cyntia jujur.

Memang sih, tak dipungkiri body Rendy tidak seperti gigolo pada umumnya, tapi kontolnya sih bikin lutut gemetar.

“yeeee emang, tapi goyangannya bikin lutut lemes boooooo”, balasku genit. “kamu minat one night stand dengan dia gimana?”, lanjutku.

“ihh ogah, guwe mah setiaaaa dengan suami”, balas singkat Cyntia.

Obrolan kami sore itu terus berlanjut hingga menjelang malam, dan Rendy masih asyik dikamarnya, entah apa yang dia lakukan di dalam situ.

—BERSAMBUNG—

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part