web hit counter

Pengalaman Mengubah Hidup Part 37

0
456

Pengalaman Mengubah Hidup Part 37

aku buang jauh pikiran kotorku terhadap adikku, memang bodi dan wajahnya sangat menggoda untuk kaum lelaki tak terkecuali kakaknya sendiri, namun hubungan dengan kak Novita menurutku sudah cukup untuk memuaskan hasrat mengenai hubungan sedarah. aku tak ingin di cap sebagai predator saudara kandung. walau malam itu tidurku sedikit susah karena Rahma, tapi akhirnya bisa tertidur juga.

sehari setelah wisudaku, kedua orangtuaku dan adikku kembali ke kampung. adikku cukup puas dengan jalan-jalan di kota ini, walau menurut saya ini salah satu kota yg sangat tidak nyaman. aku juga diberitau oleh orangtuaku jika kak Novita akhirnya akan tinggal di Bali karena disana merupakan salah satu hub bagi maskapai yg suaminya bekerja. pikiranku bisa main belakang dengannya pun pupus, tapi tak apa, aku sudah puas dengan hubungan yg kami lakukan. aku mengantar bapak ibu ke bandara menggunakan fasilitas mobil dan sopir kantor, namun aku tidak turun, hanya drop off aja.
“wes ya lhe, ati-ati disini, segera pulang kalau urusan disini udah beres semua”, ujar bapakku sambil memberi semangat padaku.
“okee, hati-hati ya kalian”, ujarku singkat karena antrian dibelakang untuk drop off cukup banyak.
akupun kembali masuk mobil kantor ini dan akan diantar oleh supir untuk ke kostku. tak lupa bapak memberikan tip kepada sopir yg telah mengantar kami, aku tak tau berapa yg jelas amplop warna coklat itu cukup tebal.
setibanya di kost, rutinitas baruku kali ini, tak ada. akupun bingung mau ngapain, main ke kampus juga sudah tak ada jadwal akan jam berapa dan bertemu siapa, semua sudah selesai. ya akhirnya aku hanya duduk-duduk di kamar kost dan main game. kamar kost ini adalah salah satu saksi bisu kenakalanku mengauli tante Dina, Sandra dan Callisa. ngomong-ngomong mengenai tante Dina, bagaimana ya kabarnya..

[15.03] Rendy: tante, masih ingat aku, gimana kabarnya? rendy.
beberapa saat kemudian justru tante Dina malah telepon aku.
“hello”, ujarku.
“hi Rend, gimana kabarnya? ih gak pernah ngasih kabar?”, tanya dia dibalik sana.
“haha baik tante, iya lha takut sama suami tante haha, tante gimana dan dimana sekarang?”, tanyaku kembali.
“aku buka klinik nih di Medan dengan suami, aku baik baik aja, aku hamil lhoo”, ujar dia sungguh bahagia.
“wiii syukur deh tante, ikut seneng”, jawabku.
“haha semoga bukan anak kamu ya”, ucap dia nakal.
“hahhaa, eh tante, mobilnya gimana? aku udah lulus nih”, tanyaku terkait mobil yg ia pinjamkan.
“hmmm anu aja deh, kamu jual aja berapa gitu, atau kamu beli deh berapa terserah”, jawab dia seperti sudah tak butuh uang.
“hmm baiklah tante, nanti aku pikirnya”, balasku berpikir.
“udah ya Rend, kamu main sini, kangen nih hahaha”, ujar tante Dina yg membuat kontolku sedikit bangkit.
“hahha baiklah tante, kapan-kapan ya”, balasku.
“oke byee”, tutup dia.
senang rasanya bisa kembali mendengar kabar mengenai tante Dina, dia tak akan mudah aku lupakan dengan segala hal yg dia berikan padaku, termasuk skill urusan ranjang yg sekarang membuat wanita yg aku gauli ketagihan.

saat aku akan mengambil air minum, aku teringat undangan yg Sandra berikan padaku, aku taruh diatas galon air minum. aku sudah mengikhlaskan dengan apa yg terjadi, aku hanya ingin moveon dan mengurusi hal yg lebih besar dan penting dalam hidup. aku check tanggalnya dan aku tandai di kalender agar tak lupa, sekalian aku harus booking tiket pesawat dan hotelnya. agar dapat murah, aku harus booking jauh hari. dengan lokasi yg cukup jauh, aku tak tau teman sekelas siapa aja yg akan datang. tujuanku datang bukanlah sebagai tamu biasa, namun tamu yg memiliki masalalu dengan mempelai wanita, walau masalalu itu bukanlah yg indah, namun masalalu yg membuatku kami berkeringat.

walau aku sudah lulus, tapi akan tetep stay disini untuk mencari peruntungan pekerjaan, aku sudah mulai merancang dan membuat surat lamaran, kebetulan bulan wisudaku tepat dengan banyak sekali bukaan lapangan pekerjaan. aku tertarik untuk bekerja di perusahaan asing, terutama di bidang pemasaran atau keuangan. ada beberapa perusahaan asing yg masuk dalam radarku. hal seperti ini yg menyibukkan diriku selama sendiri disini, sehingga mengurangi rasa kesepianku.

*

siang ini Callisa sedang menjalani ujian skripsi, seharusnya dengan Sandra juga, namun ujian dia tunda hingga bulan depan walau sudah mendaftar. aku hadir untuk memberi support walau sebelumnya aku tak memberitahu dia. aku ingin memberi surprise dengan membawa bunga yg besar. sidang dijadwalkan selesai pukul 12.30 siang, sejak jam 12.00 aku sudah berapa diluar ruang. suasana cukup ramai, karena ada banyak mahasiswa yang sidang dengan waktu yg sama. kupandangi sekitar, banyak orang yg tak kukenal turut memberi dukungan, aku tak tau siapa yg mereka dukung, ada beberapa cowok juga yg membawa bunga, semoga hanya aku yg untuk Callisa. dijadwal sidang memang mayoritas wanita. aku hanya duduk di pojokan, bermain HP sambil memeluk bunga yg sangat besar ini.

lantas suara riuh saat semua yg menjalani sidang keluar dari ruang persidangan.
“yeeeeeeee selamaaaaaaaat, yuhuuuuyyyyy”, teriak para supporter. aku masih berdiri di posisi paling belakang, disana terlihat juga Helga, Amanda dan Andita. semua orang ingin yg pertama memberi selamat dan memberikan hadiahnya. Callisa terlihat sangat sederhana dengan kemeja panjang putih dan rok span warna hitam yg longgar, sehingga tidak menunjukkan lekuk tubuhnya yg seksi.
saat suasana sudah mulai mereda, Callisa sudah mulai terlihat tapi dia masih tak tau jika aku datang. lantas…..
“lhoo lhooo siapa cowok itu yg ngasih bunga dan meluk Callisa?”, pikirku dalam hati membuatku hatiku hancur. tidak, tak mungkin tak mungkin ini terjadi.
“cieeee udah saahh belum ini?”, ujar para teman Callisa, aku hanya dipojoka berdiri dan diam saja, aku sudah tak semangat.
“apaan sih, eh terimakasih ya Don udah datang”, ujar Callisa sambil dia tersenyum.
mungkinkah itu calon Callisa yg baru, lha aku ini kemarin gak dianggep apa-apa mungkin ya, kenapa aku tak tau tentang cowok brengsek itu, kenapa sikap Callisa seperti dia hanya deket dengan aku. lantas bagaimana dengan nasib bunga mawar warna merah ini. bunga ini aja semangat memancarkan warnanya, sedangkan aku, kembali seperti dulu, kalau gak ditolak ya kalah cepet. ah udah lah, aku memutuskan untuk memutar badanku untuk pulang tanpa aku berikan bunga ini.
“Rendyy….”, suara lantang dan keras itu memecah keheningan hatiku, dan aku memutar badan. Callisa sudah tepat dibelakangku dan teman-temannya termasuk dengan cowok itu memandangi kami.
“mau pulang kamu? gak ngasih aku selamat?”, ujar dia sambil sedikit tersenyum.
“hehe selamat ya Callisa”, sambil aku memberikan bunga itu pada Callisa.
“hihi terimakasih Rendy, kamu kenapa sih kok grogi dan gak santai gitu?”, ujar Callisa mengamati keaneham pada diriku.
“gapapa kok heehe”, ujarku dengan semakin berkeringat karena awkward, geng Callisa memandangi dan nguping pembicaraan kami, selain itu cowok itu sok cool sambil berdiri beberapa langkah tepat dibelakang Callisa dan beberapa kali memandangiku seolah-olah ingin dipukulnya aku, aku tak tau dia siapa.
“ikut makan-makan yok”, ajak Callisa.
“hmm terimakasih Callisa tapi aku langsung aja deh”, ujarku tak ingin terjebak semakin awkward.
“ayolaah Rend, ikut aja yok”, tau-tau Helga mendekat dan menarik tanganku untuk ikut.
aku terjebak dalam situasi awkward, sebagai seorang introvert dirubung oleh manusia extrovert rasanya bukan pada tempat yg tepat. terutama ada seorang tak aku kenal berwajah seram itu semacam ingin segera gebukin aku.
“yauda deh aku ikut”, ujarku dengan sok tegar.
lantas kami semua termasuk cowok itu berjalan menuju parkiran. oh ternyata di parkir tepat disebelah mobilku, dia naik mobil Toyota Fortuner keluaran terbaru, aku tak tau siapa akan ikut dengan mobilku, si cowok itu memandangiku mungkin seolah tak percaya bahwa orang culun sepertiku membawa mobil VW Golf tahun 2012 berwarna putih.
“ehmmm aku nebeng Rendy aja deh”, ujar Helga.
“aku juga”, ujar Amanda.
“lhoo jangan ikut Rendy semua, ayo ikut sama aku juga”, balas Callisa, mungkin dia tak ingin berduaan dengan cowok itu.
“iya beb, aku sama kamu”, ujar Andita.

Helga duduk di depan dan Amanda duduk dibelakang, dua wanita yg pernah merasakan kontolku, bahkan sampai badan mereka bergetar hebat.
“wah, gimana Rend, semobil dengan cewek yg pernah elu tiduri hahaha”, ujar Helga, memang Helga ini kalau ngomong sedikit tak terkontrol.
“haaha jangan ngingetin dong haha”, balasku dengan canda.
“Helga, jangan ganggu Rendy dulu, hati dia lagi terbakar cemburu”, ujar Amanda dari kursi belakang.
“haha iya yah, siapa sih doi, aku gak kenal, kok seperti posesif gitu”, tanya Helga.
“aku jg gak tau beb”, sahut Amanda yg juga bingung dengan siapa cowok itu.
“lho kalian gak kenal, kukira udah kenal”, tanyaku pada mereka.
“haha gak kenal Rend, tau aja baru tadi”, balas Manda.
selama perjalanan aku tak tanya atau menyingung terkait status hubungan mereka, jika cowok itu lebih agresif bisa saja Callisa akan jatuh ke pelukan itu cowok. jelas aku tak ingin itu terjadi. tapi aku tak tau harus bagaimana, kalau disuru adu fisik dengan dia ya pasti aku babak belur.

akhirnya kami tiba di tempat makan yg menyajikan steak. Callisa dengan itu cowok berjalan didepan sendiri, sedangkan aku dibelakang sendiri dengan Helga. setelah Callisa ngbrol dengan mbaknya pelayan, dia memberi arahan dimana kita akan duduk. sudah seperti yg kuduga, itu cowok duduk disamping Callisa, dan aku duduk di pojokan sebelah Helga dan Andita duduk didepanku.
“oh iya, Rendy, tadi belum kenalan ya, kenalin ini Doni”, ujar Callisa dengan lembut.
“DONI”, ujar dia dengan lantang dan mengulurkan tangannya kearahku.
“Rendy”, balasku, dia meremas tanganku saat kami berjabat tangan, dasar brengsek.
selama kami ngobrol, Doni dengan songongnya membicarakan usaha milik ayahnya berupa property yg sangat bonafit, dan saat ini sedang mengerjakan mega proyek apartement di daerah elit Jakarta. mungkin hanya itu yg bisa dia banggakan dan mungkin bagi cewek yg doyan duit bakal seneng.
“eh Rend, ini kamu lagi nyari kerja atau gimana?”, ujar Helga nampaknya sudah mulai kesal dengan sombongnya Doni.
“ehm ini lg ngelamar kerja sih, sekalian ngumpulin niat untuk sekolah S2 aja”, balasku pelan.
“yaah broo, jangan nanggung dong, masa nyari kerja, gak ada duitnya, bikin kerjaan dong, selain duit banyak dan bisa memperkerjakan orang, nah itu banggain”, ujar Doni sangat sombong.
“sorry bro, passion kita mungkin beda, itu yg terbaik untuk diri saya”, balasku dengan sopan.
“hahaha, ya baeklah”, ujar Doni sambil ngakak.
“Don, jangan gitu”, ujar Callisa berbisik pada Doni, sepertinya dia juga mulai gak enak denganku.
aku tidak merasa ingin bangkit dan menghajar dia, namun yaudalah, mungkin dia dari kalangan orang kaya, dia pikir dia bisa melakukan apa aja, aku yakin bapaknya juga gak sesombong itu waktu seumuran dia, mungkin justru lebih prihatin. aku hanya diam dan ngobrol pelan dengan Helga dan Andita, serta aku sama sekali tak memandangi Doni dan Callisa, namun hati ini rasanya panas melihat Doni berdekatan dengan Callisa. kadang dia memegang tangan Callisa juga.

rasanya panas melihat mereka, walau Callisa nampaknya juga jengkel dengan perlakuan Doni, tapi mungkin Doni ingin memperlihatkan kalau mereka ada hubungan, terutama untuk memperlihatkan ke aku agar aku terbakar api cemburu. yg membuatku semakin panas adalah saat Doni bersikap seperti itu, namun Callisa dengan lembut dan sabar masih memperhatikan Doni. akhirnya acara ini berakhir saat Amanda telah menyelesaikan makannya.
“mbak, bill.nya ya”, ujar Callisa pada salah satu pelayan.
saat mbak pelayannya kembali ke meja kami, dan Callisa sedang membaca dan menyiapkan uangnya, tau-tau Doni memberikan kartunya.
“mbak, pakai ini aja”, ujar Doni memberikan kartunya ke pelayan.
“eh Don jangan, mbak ini aja”, bantah Callisa.
“gapapa ini aja, udah mbak sana”, jawab Doni kepada mbaknya yg bingung siapa yg akan bayar, “gapapa Callisa, sebagai cowok kan harus begitu, harus tanggungjawab, masa cowok hanya numpang makan”, samar-samar aku mendengar ucapan itu saat Doni berbisik kepada Callisa. aku tau saat itu juga pasti dia menyindirku.
setelah beres semua, kami berjalan menuju parkiran, nampaknya Doni berbisik kepada Callisa untuk mereka berdua lanjut kemana gitu, tapi Callisa sepertinya menolak.
“ini yg ikut aku siapa”, ajak Callisa tak ingin berduaan dengan Doni.
“aku aja deh”, jawab Andita.
“ini kemana lagi beb?”, tanya Helga pada Callisa.
“udah beb, balik kampus aja”, jawab Callisa, dan aku sudah duduk manis di kursi kemudi mobilku.
“yuk Rend, balik kampus”, ajak Helga saat kuketahui Fortuner itu sudah mundur.

“beb, itu tadi pacarnya bukan sih, kok udah peluk-peluk dan gandeng tangan?”, ujar Amanda pada Helga.
“gak tau beb, mungkin baru deket”, balas Helga, “eh haha maaf ya Rend, kita bahas mereka”, lanjutnya.
“haha lha ya gapapa to, sante aja”, balasku sok tegar.
“eh beb iya, kamu dateng ke nikahan Sandra?”, ujar Manda lagi.
“dateng sih, tapi belom beli tiket, barengan aja belinya”, jawab Helga dan aku hanya terdiam pada obrolan mereka.
“eh Rend, kamu gimana dengan Callisa, udah deket banget gitu kan?”, tanya Helga yg ceriwis.
“haha lha itu keduluan Doni”, balasku singkat.
“kasian ya kamu, dulu Sandra, ditinggal nikah, sekarang Callisa, keburu sama orang”, jawab Amanda yg polos itu.
“haha gapapa lah, nyante kok aku”, jawabku.
walau aku jawab seperti orang yg kuat, namun dalam hati aku sungguh kecewa dengan yg aku hadapi. dua wanita yg pernah ngentot denganku ini memang sungguh ceriwis dan sama sekali gak baper dengan apa yg pernah kita lakukan, kita bisa ngobrol didalam mobil seperti tak pernah terjadi apa-apa.

akhirnya kami tiba di parkiran kampus, Helga dan Amanda segera turun, dan aku juga turut turun namun masih berdiri disekitaran mobil. Andita juga sudah turun dari tumpangannya, namun Callisa masih didalam, aku tak tau obrolan apa yg terjadi di dalam sana, sekitar 4 menit kemudian baru disusul oleh Callisa turun dan mobil Fortuner itu langsung mundur dan pergi. Callisa turut membawa bunga yg aku berikan tadi namun sudah sedikit layu karena kepanasan ditinggal didalam mobil saat kami makan.
“thankyou ya, eh maap lho tadi kalau sedikit agak drama hehhee”, ujar Callisa.
“haha sante aja sayang, drama rumah tangga”, balas Amanda.
“cowok baru yah ato apa?”, balas Helga meyakinkan.
“hehe ada deh, bukan kok”, jawab Callisa dengan ragu.
setelah semua berjalan dan berpisah kearah mobil dan kendaraan mereka, Callisa menghampiriku.
“Rend, maaf ya tadi”, ujar dia tepat didepanku.
“hehe gapapa kok, sante aja”, balasku.
“oh iya, terimakasih ya udah dateng, hehe bunganya jadi sedikit layu, kamu mau langsung balik?”, tanya dia dengan wajah yg sepertinya capek.
“lha mau kemana?”, tanyaku pada Callisa.
“hmmm gak tau juga sih, capek aku, maap banget ya tadi kelakuan dia seperti itu sama kamu”, kembali Callisa meminta maaf padaku.
“iya udah gapapa kok sante aja Callisa”, balasku meyakinkan dia.
“hmm yauda, balik aja yuk, udah sore juga ini”, ajak Callisa.
kami bersalaman, tangan lembut dia menyentuh pori-pori kulit telapak tanganku yg langsung membuat hatiku meleleh, tangannya seolah-olah tak ingin aku lepaskan, dia menatapku dengan pandangan kasih sayang dan penyesalan dengan apa yg barusan terjadi, aku balas pandangan itu dengan sabar dan kasih sayang. dia melepaskan tanganku sambil tersipu malu dan memutar badannya dan berjalan kearah mobilnya.

aku masuk dan duduk ke ruang kemudi, memutar kunci mobil yg bermesin diesel ini, duduk antara senang dan penyesalan, aku masih merangkai teka teki apa yg terjadi dengan Callisa. ku pandangi dia yg berjalan.
“huuuuuuhhhhhhhh”, pikiranku berat menghadapi kenyataan. aku boleh sukses dalam dunia pendidikan, namun kenapa dalam urusan kewanitaan aku selalu gagal. padahal Callisa sudah bertemu dengan keluargaku, betapa kecewanya diriku. aku menyenderkan kepalaku pada setir mobil.
“apa aku tembak aja ya Callisa, siapa tau dia menerima, tapi kalau ternyata mereka udah pacaran gimana?”, kembali aku berpikir keras.
dari sudut pandanganku, terlihat mobil Callisa sudah mundur dan berjalan, ah yaudalah, aku juga turut mundur dan mengarahkan mobilku untuk kembali ke kost. apa yg terjadi tadi, biarlah, aku kembali diuji oleh semesta.

*

besok pagi keberangkatanku ke Kalimantan untuk menghadiri pernikahan Sandra, kebetulan malam ini aku kembali ngopi dengan Faiz, bukan untuk curhat namun hanya ngobrol biasa, setelah lulus aku sama sekali gak ada kegiatan kecuali apply online untuk lowongan pekerjaan. mengenai wanita, setelah kejadiaan usai sidang skripsi Callisa beberapa waktu lalu, aku sama sekali belum menghubunginya, maupun dia menghubungiku. mungkin Doni itu pacarnya dia sekarang.
“kegiatannya apaan nih?”, ujar Faiz padaku sambil menghisap rokok.
“ahh hanya apply lowongan kerja, gimana kuliah?”, tanyaku kembali sembari mengudak kopi.
“oh ya, udah ada panggilan interview? ya magang ni dirumah sakit”, balasnya.
“ada ntar, kapannya belum diberitahu, perusahaan asal Australia bro”, balasku.
“ya baguslah, trus cewek gimana yg dua kemarin?”, kembali dia tanya.
“zonk semua, yg satu besok nikah, yg satu udah keduluan orang”, balasku dengan berat.
“hmmm classic”, jawab Faiz singkat, “yauda fokus aja sama kerjaan, ntar juga ada kok”, lanjut dia dengan ringan.
malam itu kami membahas banyak hal, mulai dengan kerjaan, masadepan dan bagaimana hari tua kita kelak. hanya pada saat itu aku bisa melupakan mengenai wanita, ngobrol dengan Faiz bisa membuka wawasan karena dia tipe orang yg banyak ngomong yg berlandaskan teori. sungguh menyenangkan.
tak terasa waktu mendekati tengah malam, besok aku ada penerbangan jam 6 pagi untuk menghadiri akad nikah pukul 8.30 dan pesta resepsi pukul 11.00, dan esok paginya aku kembali ke Jakarta, mana ada cowok yg sakit hati rela terbang dan nginap di hotel untuk mendatangi cewek yg membuatnya sakit, selain itu keluar duit banyak pula. hanya cowok tegar yg melakukan ini.

di pagi yg dingin dan berembun, aku memesan uber taxi dan menuju ke bandara. dengan mata masih sangat ngantuk, aku berjalan memasuki pesawat terbang yg berada di Gate 17. maskapai berwarna hijau ini merupakan maskapai penerbangan murah yg dimiliki oleh maskapai warna biru, pramugarinya lebih tambil sexy yg hijau, menggunakan baju terusan namun rok hanya selutut. penerbangan satu jam ini aku gunakan untuk tidur mengganti bangunku yg pagi.

setibanya di Kalimantan, aku tak tau apakah geng Hedon itu sudah berada disini atau malah tidak datang, menurut pendengarkanku kemarin bahwa Helga dan kawan-kawan belum memesan tiket dan hotel. aku datang tidak membawa apa-apa, selain apa yg menempel di badanku dan satu baju yg aku selipkan di dalam tas kecil ini. aku langsung memesan uber taxi di Kalimantan dan langsung menuju tempat akad nikah yaitu dirumah Sandra sendiri.

tiba dirumah Sandra, aku hanya bisa melongo, rumah ini sangat besar bagaikan istana. begitu masuk gerbang yg ada satpamnya ini, ada driveway mobil yg bisa berjejer dua, lantas ada taman yg besar dan ditengahnya ada semacam kolam ikan yg cukup besar, dan rumahnya menggunakan pilar hingga ke lantai dua yg mungkin seukuran 2 orang saling bergandengan tangan. aku duduk di salah satu tempat duduk disediakan diluar, disana ada semacam TV untuk melihat aktifitas didalam, mereka sedang persiapan akad nikah. rasanya aku seperti roaming, yg lain pada tertawa bahagia dan saling ngobrol, sedangkan aku hanya seorang diri tak ada teman ngobrol.

setelah beberapa saat, prosesi sakral suatu pernikahan sudah dimulai, kedua mempelai sedang mencocokan data diri dengan petugas yg menikahkan. tak ada rasa patah hati, hanya rasa cemburu dan gagal. saat sedang pertengahan prosesi itu, aku berdiri dari tempat dudukku dan meninggalkannya. aku berjalan kearah kolam yg berisi pulahan ikan koi berukuran besar, disana ada beberapa kursi dan aku duduk disana, aku akan kembali saat prosesi telah usai dan memberi selamat.
“apakah aku diantara dan menghalangi kedekatanmu dengan Sandra?”, ujar wanita yg tau-tau mengucapkan itu tepat dibelakangku.

—BERSAMBUNG—

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part