web hit counter

Pengalaman Mengubah Hidup Part 38

0
468

Pengalaman Mengubah Hidup Part 38

setelah beberapa saat, prosesi sakral suatu pernikahan sudah dimulai, kedua mempelai sedang mencocokan data diri dengan petugas yg menikahkan. tak ada rasa patah hati, hanya rasa cemburu dan gagal. saat sedang pertengahan prosesi itu, aku berdiri dari tempat dudukku dan meninggalkannya. aku berjalan kearah kolam yg berisi pulahan ikan koi berukuran besar, disana ada beberapa kursi dan aku duduk disana, aku akan kembali saat prosesi telah usai dan memberi selamat.
“apakah aku diantara dan menghalangi kedekatanmu dengan Sandra?”, ujar wanita yg tau-tau mengucapkan itu tepat dibelakangku. aku langsung memutar badanku untuk mencari arah ke sumber suara.
“Callisa?”, balasku singkat, “enggak, kenapa kamu berpikir begitu?”, lanjutku, lantas dia mengambil kursi disebelahku dan mendudukinya.
“iya, aku tau kalau kamu lagi dekat dengan Sandra saat kita sering jalan dan bertukar pesan dulu, pastinya Sandra ambil keputusan ini setelah melihat sikapmu, maka aku menyimpulkan kalau aku diantara kalian”, terang dia dengan jelas, aku menarik nafas dalam-dalam, aku tak ingin menyalahkan Callisa akibat ini semua.
“enggak, jangan berpikir seperti itu please Callisa, ini kehendak yang Kuasa, biarkan yg terjadi biar terjadi, tak ada manfaatnya disesali, aku hanya ingin fokus apa yg ada di depanku”, ujarku sambil menegaskan kata ‘didepanku’ yaitu dirinya.
“baiklah, aku sempat merasa tidak enak dengan ini semua”, lanjut dia nampaknya dia tak menangkap kodeku.
“udah Callisa, jangan menyalahkan diri sendiri”, ujarku menenangkan sambil memegang lenganya, “hmm kenapa kamu kesini, nanti cowokmu nyari lho”, lanjutku dengan berat menyebut cowok itu.
“aku lihat kamu menyendiri, ya aku datengin dan nemenin kamu, ngomong-ngomong cowok itu, udahlah, dia baru gitu aja udah posesif”, terangnya.
“jadi bukan cowokmu yah?”, lanjutku dengan senyum dan bahagia.
“cieee kamu kemarin cemburu yaahh, maaf yaaaa ganteng”, balas dia sambil tersenyum lebar dan genit genit manja dengan mencubit lenganku yg membuatku semakin berdebar dan bahagia, “yuk masuk yuk”, ajak Callisa yg langsung berdiri dan menarik lenganku.

prosesi pernikahan itu sudah usai, kini banyak keluarga yg ingin berfoto dan berbincang dengan kedua mempelai untuk memberikan selamat. aku dengan geng Hedon masuk ke dalam rumah Sandra. aku hanya bisa melongo, betapa didalamnya mewah sekali dan ada kolam renang yg cukup besar di dalamnya. aku berpikir pasti bapaknya dari kalangan orang yg sangat kaya, bahkan terlihat dua mobil sport merk Lamborghini dan Marcedes E-class keluaran terbaru. beruntung banget yg dapet Sandra, pasti dia ada di urutan pertama untuk mendapatkan warisan dari bapaknya. setelah antri, akhirnya kamu bisa mendekat kepada pasangan mempelai yg sedang berbahagia ini.
“selamat ya Sandra, semoga langgeng dan bahagia”, ujar para wanita.
“Sandra, selamat ya, semoga langgeng dan bahagia dan segera diberi momongan”, ujarku sambil bersalaman dengan dua mempelai, Callisa disampingku sambil mengikuti ucapanku.
“eee kalian, makasih ya ngrepotin dateng dari jauh, eh kalian buruan nyusul dong”, ujar Sandra pada aku dan Callisa.
“hahaha pasangan sewaan ini hanya untuk kondangan”, ujar kami bercanda, tapi ya aku tak mau hanya pasangan sewaan.
lantas kami berfoto-foto dan menikmati hidangan yg disajikan oleh catering, aku dengan Callisa terus berjalan beriringan, aku merasa sangat diperhatikan olehnya, mulai dari minum yg sering dia ambilkan hingga piring kotor pun dia yg menyingkirkannya dari tanganku.

acara berlanjut ke pesta resepsi digedung pernikahan yg berjarak sekitar 10 menit dari rumah Sandra, aku memanggil uber taxi untukku dan para wanita ini. setibanya digedung aku kembali hunting makanan bersama dengan geng Hedon.
“ehhmm habis Sandra siapa nih?”, ujar Amanda membuka obrolan.
“haha bisa juga elu kalau kebobolan”, balas Andita.
“yeeeeee”, ujar Amanda singkat.
mereka ngobrol dengan sangat ramai, aku hanya memperhatikan Sandra dan Radja dari jauh yg sedang sibuk memberi salam kepada tamu pesta. aku jadi teringat ucapanku dengan Sandra saat menghadiri pernikahan tante Dina, bahwa aku akan melihat Sandra dari bawah pelaminan, dan benar saja ini terjadi.
“kamu balik kapan Rend?”, ujar Callisa sambil makan martabak manis di piring kecil.
“pesawat besok pagi, kamu balik kapan?”, balasku.
“nanti malem sih”, balasku, jelas aku kecewa yg pasti nanti malam tak ada teman yg menemani untuk cari makan malam atau jalan-jalan.
“oh iya, kamu kn gak boleh nginep ya”, balasku sambil memasukkan makanan sosis solo ke dalam mulutku.
“haha masih inget aja kamu”, ucap dia sambil menyenggol badanku.
“ya karena hal itu yg membuat hidupku manjadi sangat berwarna dan terus bahagia”, terangku.
“huuuu gombal”, ucap dia singkat.
pesta pernikahan ini berlangsung selama 3 jam, dengan jumlah tamu yg nembus 2000 tamu mungkin, aku kembali berfoto dengan pengantin dan mengucapkan selamat kepada mereka, melihat Sandra bahagia sudah bisa menghilangkan rasa kecewaku, yg penting dia sekarang bisa tertawa dan tersenyum.
“Rend, aku mau jalan-jalan dengan mereka, kamu ikut yuk?”, ajak Callisa padaku.
“ehmm enggak deh, aku mau ke hotel aja”, balasku karena enggan dan capek, tentunya gak nyaman jalan-jalan menggunakan pakaian untuk ke pesta nikahan.
“lhoo ayolah, kamu gak mau nemenin aku?”, ujar Callisa yg memaksaku untuk ikut.
“iya yauda yuk”, balasku semangat agar Callisa tak kecewa.

kami memutuskan untuk ke mall di kota ini untuk sekedar melihat-lihat, rasanya aku seperti raja dikelilingi oleh 4 bidadari yg kesemuanya cantik. kesemuanya ini akan pulang nanti malam, nampaknya aku salah strategi, seharusnya aku juga turut pulang malam ini, mengingat ternyata aku akan sendirian. keempat wanita ini saling tertawa dan ngobrol, aku berjalan pelan dibelakangnya, kadang salah satu dari wanita itu menemani ngobrol dibelakang. entah kenapa aku tetep susah ngobrol dalam sebuah kelompok walau sudah kenal. aku sungguh lega ternyata cowok yg kemarin dekat dengan Callisa itu tak berarti apa-apa, sehingga aku memiliki kesempatan yg besar jika aku memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hatiku.

“Rend, kamu gak geser penerbanganmu malam ini aja? sama siapa kamu disini?”, tanya Callisa memintaku untuk menggeser penerbanganku jadi malam ini, mungkin dia juga khawatir jika aku macem-macem disini.
“sendirian sih, aku kemarin mikirnya biar gak kesusu gitu”, balasku, “temenin dong aku, gantian hehe”, lanjutku sambil bercanda.
“hhuuu maunya, aku gak bisa nginep ganteng, kemarin aja hampir gak diijinin kesini, terus aku nunjukkin kalau aku gak nginep, baru diijinkan”, terang Callisa.
“iya, aku bercanda kok hehe”, ujarku dan Callisa seperti cemberut menggemaskan.
kami menghabiskan waktu di mall ini hingga mereka nanti balik ke airport, pukul 5.30 sore, aku sebenarnya capek ingin segera ke hotel, namun melihat mereka seperti tak ada tempat untuk istirahat maka mereka bertahan di mall ini selama mungkin, begitu juga denganku menemani mereka.

setelah berjam-jam disini, akhirnya kami tiba di airport untuk kembali ke Jakarta, aku juga turut ikut kesana. Callisa masih berharap aku ikut pada penerbangan ini.
“kamu hati-hati lho disini sendirian, jangan nakal”, ujar Callisa tepat didepanku dan hanya berjarak beberapa centi dari badanku.
“iya, tenang aja, percayalah sama aku”, ucapku.
“iya, percaya kok”, balas dia singkat.
“ehmm Callisa…boleh gak, kalau aku main kerumahmu?”, tanyaku pada dia, karena dia sudah bertemu dengan orangtuaku, maka aku juga ingin bertemu dengan mereka.
“hmm mau ngapain?”, balas dia seperti khawatir, ku perhatikan teman-temannya menunggu kami beberapa langkah disekitar kami, tapi aku tak pedulikan mereka.
“ya biar orangtuamu tau, kamu sering jalan dan main dengan siapa hehe”, jawabku malu-malu.
“hmm baiklah, pintu rumahku terbuka lebar untukmu, Rendy”, balas dia dengan lembut dan lirih serta tersenyum diiringi dengan malu memandangiku.
“terimakasih Callisa”, lantas spontan kami berpelukan dan aku mencium keningnya, pelukan yg hangat dan dalam.
“eeeee ciee belum apa-apa kok udah main cium dan peluk, kan besok bisa ketemu lagi, jangan lebay dong Callisa”, teriak Helga yg tau-tau ngoceh.
“haha maap maap”, balas Callisa yg tau-tau melepas pelukanku.
“udah macem AADC aja, tapi besok ketemu lagi”, celoteh Amanda dengan polos.
“udah ya, jangan nakal, nanti aku kabari kalau udah landing”, ujar Callisa dengan lirih.
lantas dia berbalik arah dan berjalan masuk ke pintu keberangkatan.
“byee Rend”, celoteh yg lain.
akhirnya mereka masuk dan mulai tak terlihat, hatiku benar-benar tersentuh dengan kejadian barusan, hatiku benar berbunga-bunga. dibalik suatu kepedihan pasti akan ada kebahagiaan lain. sudah mendapat lampu hijau untuk bermain kerumahnya ini merupakan suatu langkah yg sangat signifikan bagi perjalanan kehidupan cintaku. ini juga bakal perdana aku bertandang kerumah orang tua wanita, semoga aku gak malu-maluin. dengan hati yg berbunga-bunga aku melanjutkan perjalanan ke hotel yg berjarak beberapa menit dari airport.

*
sudah tiba di Jakarta, tidak ada hal yg menarik diceritakan saat di hotel, aku hanya sendirian walau beberapa kali bertukar pesan dengan Callisa sebelum kami tidur.

aku membuka emailku yg aku gunakan untuk apply pekerjaan disalah satu perusahaan finansial yg sudah terkenal di dalam negeri dan luar negeri.
“wiih ada panggilan interview nih lusa”, pikirku dalam hati dengan girang, “hmm berarti aku belum bisa datang kerumah Callisa dekat-dekat ini, mungkin setelah interview”, lanjutku.
lantas aku sibuk menyiapkan apa aja berkas yg harus aku bawa ke interview, interview besok adalah tahap dimana aku di interview oleh HRD setelah itu langsung keputusan apakah aku diterima atau tidak (mungkin dalam dunia nyata banyak tahapnya, tapi di dunia semprotku, dunia milik penulis). aku sangat excited karena ini adalah impianku. cita-citaku simple, hanya ingin mengalahkan bapak, bapak sudah jadi orang berpengaruh diperusahaan yg dia tempati, setidaknya aku harus bisa seperti bapak. hatiku berdebar-debar menyiapkan satu per satu berkasnya.

aku sengaja tidak memberitahu Callisa terkait ini, aku ingin memberi dia surprise saat nanti aku bertandang dirumahnya, walau sekarang kami lebih sering bertukar pesan dan terkadang saling telepon jika malam hari. rasanya aku semakin mantab untuk memilikinya, dia orang yg sangat perhatian jika dia diberi perhatian tentunya, mungkin selama ini cowoknya terlalu menyia-nyiakan dia karena sikapnya yg sangat perhatian.

“huuh akhirnya tiba waktunya interview, semoga kamu kuat Rend”, semangatku pada diri sendiri saat aku memanasi mobilku sebelum berangkat ke kantor.
perjalanan sungguh cepat dan tidak macet, sehingga aku tiba terlalu dini. kantor ini sungguh megah, saat aku memasuki pintu utama, ada resipsionis didepan layaknya hotel dengan logo perusahaan yg terpampang sangat besar.
“maaf mbak, saya kesini untuk interview dengan HRD”, tanyaku pada mbak resipsionis yg bernama Dini itu.
“baik pak, silahkan ditunggu 2 menit ya”, ujar Dini yg sibuk dengan layar komputer didepannya, “ehm bapak bisa menuju lantai 8 dan nanti bisa menemui ibu Shinta untuk diarahkan”, lanjut dia.
“terimakasih mbak”, balasku yg langsung melangkahkan kaki menuju lift dan ke lantai 8. gedung ini sungguh baik designnya, cahaya dari luar tidak di block sehingga menggunakan minim lampu dan memaksimalkan cahaya matahari.
“dengan bapak siapa?”, ujar wanita yg berdiri tepat di depan lift.
“ehm Rendy Surya”, balasku.
“oh siap, silahkan bapak tunggu dulu, ibu HRD sedang persiapan, nanti akan saya panggil jika sudah ready”, terang wanita itu.
“maaf mbak, kalau boleh tau berapa orang yg interview hari ini?”, tanyaku pada mereka.
“hmm hanya bapak, kami seleksi menggunakan essay online seperti yg bapak lakukan pada tahap selanjutnya, jadi hari ini bapak akan di asses, jika bapak perform cukup, maka langsung diterima, sistem rekruitment kami seperti diluar negeri”, terang wanita itu. yg kemudian aku duduk sambil deg-deg.an menunggu HRD menyiapkan materi interview, kurang lebih 10 menit, akhirnya aku dipanggil.
“bapak, silahkan, HRD nya bernama ibu Lydia”, terang wanita tadi.
“baik, terimakasih”, lantas aku melangkahkan kakiku mantab ke ruangan yg dimaksud.

“mas Rendy, selamat datang, silahkan duduk”, ujar bu Lydia tanpa basa basi, dia kutafsir berusia 32 tahun, dengan rambut hitam panjang, body nya yg ramping dan tinggi layaknya model.
“terimakasih ibu”, balasku.
“oke mas, interview ini, akan langsung di dengar oleh pimpinan perusahaan cabang Indonesia melalui alat ini, jadi nanti bapak direktur bisa ikut menanyai anda, oke semua all clear, oh iya bapak direktur bahasa Indonesianya sangat terbatas, mungkin akan menggunakan bahasa inggris juga, mas Rendy nyaman berbicara menggunakan bahasa inggris?”, terang dan tanya bu Lydia.
“iya bu”, balasku singkat yg nerveous.
lantas interview dimulai dengan pertanyaan simple dari nama, keluarga, kesibukan saat ini, interview berlangsung sangat lancar, aku bisa menjawab semua pertanyaan apa adanya dan jujur. keringat langsung kering karena terkena angin AC, aku merasa sangat nyaman pada interview ini.
“heehmmm, Rendy, karena perusahaan ini memiliki induk di Australia, jika nanti kamu perform dan dipindah tugaskan di sana bersedia tidak?”, ujar bapak Direktur melalui intercom dengan menggunakan bahasa inggris.
“siap, saya bersedia bapak”, balasku dengan tegas.
“Lydia, mohon kamu keruangan saya”, ujar bapak Direktur mengajak untuk berdiskusi sejenak.
aku duduk dan menunggu diruangan yg cukup besar ini, tepat di belakang bu Lydia duduk terdapat jendela yang sangat besar menampilkan kota Jakarta dari lantai 8. ruangan ini sangat rapi dan bersih, dapat dilihat dari bu Lydia sendiri yg sangat tertib dan disiplin.

“maaf ya lama menunggu, berapa gaji yg kamu inginkan disini, sebagai patokan, ini rentang gaji disini untuk posisi kamu, kamu bisa dapet lebih dari rata-rata dan juga kurang”, terang bu Lydia yg sambil menunjukkan patokan itu, untuk posisiku jumlah uang yg diterima sungguh fantastis yaitu mencapai 22juta/bulan dengan rata-rata 27juta/bulan.
lantas aku mengajukan gaji sebesar 24juta/bulan mengingat aku belum memiliki pengalaman dan akan belajar dengan cepat pada posisi yg diberikan. lantas interview dilanjutkan, kali ini Direktur sering ikut nimbrung dengan interview ini. akhirnya setelah satu setengahjam aku dicecar dengan ratusan pertanyaan, interview ini berakhir dan aku diterima.
“selamat bergabung bersama kami, mulai masuk selasa, minggu depan, Shinta nanti pak Rendy dibantu ya”, ujar bu HRD memberiku selamat.
“baik terimakasih banyak atas kesempatan yg diberikan, saya tidak akan mengecewakan ibu dan bapak Direktur”, balasku dengan bijak. lantas aku melangkahkan kaki keluar ruangan dan berjalan dengan tegak, sembari berjalan mbak Shinta memberi arahan dan aku mendengarkan dengan seksama. setelah hampir satujam aku berjalan dan mendengarkan arahan, aku diijinkan untuk pulang. rasanya sangat lega akhirnya aku bisa bekerja dan yg lebih menyenangkan, aku akan mendapat gaji yg sangat besar, memang di perusahaan ini terkenal dengan gaji yg sangat besar dan bebam kerja yg sangat banyak, tapi pasti akan worth it.

setibanya di kost, aku langsung menghubungi bapak ibu untuk mengabari pekerjaan yg aku dapatkan ini, namun aku belum memberi tahu Callisa jika aku sudah mendapatkan pekerjaan, mungkin aku akan memberitahunya jika bertemu langsung dengan dia. aku terus tersenyum dan tertawa sendiri melihat keberhasilanku mendapat pekerjaan yg bergengsi yg dinginkan oleh banyak orang. dan ini menjadi saat yg tepat untuk bertemu dengan orangtua Callisa.

*

aku dengan Callisa banyak bertukar pesan membahas kapan baiknya aku datang kesana, nampaknya dia juga grogi terlihat dengan cara dia yg ingin menunda tapi juga ingin segera membawaku kerumah, akhirnya kami memutuskan untuk malam ini aku datang kerumahnya, hanya ingin sekedar main, tak ada maksud lain dan agar orangtuanya tau jika Callisa sering bertukar pesan dan jalan denganku.
jujur saja aku sangat grogi menghadapi ini, aku sama sekali belum pernah datang kerumah seorang wanita seorang diri, aku berdandan rapi layaknya orang akan kerja, pafrum racikan sendiri aku semprotkan pada bajuku ini. selama perjalanan aku hanya berdoa jika semua sesuai rencanaku. tiba dirumahnya yg diberi arahan oleh Callisa sebelumnya, mungkin dia juga grogi karena aku adalah pria pertama yg datang kerumahnya.

rumah dia tidak terlalu besar seperti milik Sandra, mungkin hanya 200m persegi, dengan design yg sederhana namun sangat adem dengan pohon manga yg besar berada di depan. aku berdiri di depan pagar rumahnya, dan Callisa seperti tau dengan kehadiranku.
“ayo Rend, masuk aja”, ujar dia yg mengenakan pakaian rumahan, dan celana yg longgar diatas lutut.
“aku deg-deg.an”, ujarku singkat.
“haha sama, eh kok kamu rapi banget”, balas dia yg sama-sama grogi.
“iyalah, mau ketemu bapak ibumu gitu”, terangku.
“yuk Rend silahkan duduk”, ujar Callisa, lantas bapaknya dari dalam melihat siapa yg datang, dan ikut keluar, bapaknya sangat sederhana dengan menggunakan pakaian berwarna putih rumahan dan sarung.
“siapa?”, ujar bapaknya Callisa.
“kenalin bapak, saya Rendy, teman Callisa dikampus”, ujarku sambil bersalaman cium tangan.
“iya, masih kuliah atau sudah kerja?”, tanya bapaknya.
“sudah diterima kerja bapak, selasa nanti hari pertama, saya kerja di perusahaan keuangan”, terangku.
“lho kamu sudah diterima kerja, kok gak bilang?”, tanya Callisa kaget dan aku hanya tersenyum.
“eh kamu sana buatin minum, bapak ngobrol dulu sama mas Rendy”, ujar bapaknya yg sangat baik ini.
lantas Callisa kebelakang untuk membuatkan minum, aku dan bapaknya ngobrol banyak hal mulai dengan perkuliahan dan pekerjaan. sebenarnya aku datang kesini menyimpan suatu misi yg Callisa tidak tau, dan ini ide dari Faiz, selain itu mumpung Callisa belum kembali ke ruang tamu.
“bapak, saya ingin bilang sesuatu….”, ujarku dengan sangat grogi dan punggungku mandi keringat.
“iya gimana mas?”, tanya bapaknya Callisa.
“jadi begini, saya sejak beberapa bulan yg lalu sangat dekat dengan Callisa, kami sering jalan dan nonton, nah pertanyaan saya, apakah bapak mengijinkan saya untuk lebih dekat mengenal Callisa selain itu saya juga berniat untuk menikahi Callisa kelak”, ujarku dengan sangat pelan dan lembut.
“ahahaha, kamu itu lho mas, sangat lucu, kalau itu tanya ke Callisanya langsung aja, bapak kan hanya bisa nurut jika Callisanya mau, tunggu aja ya Callisa biar kesini dulu”, balas bapaknya yg tertawa dengan kelakuanku, jujur aku jadi sangat malu dan semakin berkeringat, “nah ini Callisa ini haha, biar dia yg jawab sendiri mas, bapak jadi saksi hahaha”, ujar bapaknya.
“ada apa ini?”, tanya Callisa sambil tertawa bingung dengan apa yg terjadi.
“jadi gini lho, mas Rendy ini tanya pada bapak, minta ijin, boleh enggak macarin kamu, dan kelak kamu akan dijadikan istrinya”, ujar bapaknya menjelaskan Callisa, aku hanya tertunduk sambil tertawa karena malu dan awkward.
“Rendy, apa apaan sih kamu haha bikin malu aja”, ujar Callisa padaku yg ngakak dan juga ikutan malu karena ulahku, “ihh bapak masuk aja sana, ini urusanku hahaha”, ujar Callisa mengusir bapaknya untuk masuk, dan akhirnya bapaknya berdiri dan masuk ke dalam rumah sambil tertawa, aku hanya tertawa sangat malu.
“Rend, ngobrol di teras aja yuk, gak enak didenger orang dalem…………………”, ujar Callisa singkat padaku dan dia menatap aku dalam-dalam.

—BERSAMBUNG—

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part