web hit counter

Pengalaman Mengubah Hidup Part 8

0
493

Pengalaman Mengubah Hidup Part 8

Mulustrasi: Dina Indirawati

Wajah dan bagian atas dadaku basah kuyup terkena cairan surgawi tante Dina. Ku melepaskan celanaku, kontolku sudah berdiri sangat tegak. Ku dekatkan kontolku ke mulut tante Dina. Aku berdiri di pinggir kasur sedangkan tante Dina menungging di kasur itu.

“hmmm ahhh”

“ughh hhhhmm ahhh oogghhh”, aku mendesah dikit betapa enaknya sepongan tante Dina.

Kontolku ngaceng bagaikan tiang listrik, tegak dan lurus. Tante Dina menggunakan lidahnya saat mengulumku, membuat kontolku semakin ngilu keenakan. Tiap gerakan mulutnya maju dan mundur disaat itu cairan pejuhku semakin dekat ke ujung kontolku.

“ahh tante ngilu ahhh ouuughhhh hmmmm” aku berusaha menahan keenakan ini.

“haha enak ya sayang, wajahmu sampai gitu”, Tanya tante Dina genit. Lantas tante dina mengubah posisinya dan berbaring di punggungnya.

“langsung masukin sayang”, bisik tante dina kepadaku. Aku mengapai pinggangnya dan menariknya ke ujung kasur agar aku lebih mudah memasukkan kontolku kedalam tubuhnya.

Ku arahkan kontolku ke vagina tante Dina, aku diatasnya, aku masukkan kontolku dan menciumi bibir tante Dina.

Tante Dina sudah sedikit merasa capek, makanya pasrah akan aku apakan. Tubuhnya terus aku bolak balik mencari posisi yang pas untuk memberinya orgasme lagi, aku ingin bertahan selama mungkin.

Perlahan aku mengerakkan pinggulku hingga gerakan tercepatku

PLOP PLOP PLOP PLOP PLOP PLOP
PLOP PLOP PLOP PLOP
PLOP PLOP PLOP

“ahh terus sayanggg, ohh enak bangeeet” desah tante Dina merem melek saat kontolku berkunjung kedalam tubuhnya.

“yess yess yessss, yesss pleaseee”

“ugghhh hmm ahhh ahhh ahhhh”

Aku menghisap susu dan putingnya, tak lupa pula aku memberi cupangan di sekitar putingnya

“shhhhhruuupppp Shrruuuppppp cuuuppppppppppppp”

“ahhhhh yanggg nanti mbekas lhooo cupangannya”

“ahhh terus yanggg cupangi aku teruus enak banget ahhhhhh”

Desahan dan erangan terus keluar dari mulut kita tiada henti. Aku memposisikan tante Dina untuk doggy style. Ku hujam vaginanya dengan kontolku. Ku lihat gerakan maju mundur tante Dina.

“ah sayangg aku mau keluar lagi”, desahan tante Dina.

“ahhhh uuuuuuuuuuuuuwwwwwwwwwwwwwww” desah panjang tante Dina berusaha menggapai orgasme nya.

“aku juga tante, ayo barengan”, ajakku.

Aku merasakan cengkraman vaginanya semakin kuat, aku pun berkonsentrasi agar bisa keluar barengan.

“ahhhhhhh oohhhhhhhhhhhhhh” desah ku dengan tante. “aku keluar sayanggggggg”.

“akkkkhhhhhhhhhhhhhh”, semburan sperma dibarengi dengan mencengkramnya vagina tante pertanda dia juga sedang keenakan.

CROOOTTT CRUUUTTT CRUUUUTT

“haaahh haaaahhh hooohhhh hhhhuuuhhh ahhhhhhh haaahhhh”

Nafas terus berburu oksigen, badan ini lemas. Penuh keringat dan lendir kelamin nemempel lekat di tubuh masing-masing. Aku ambruk diatas tante Dina yang tengkurap dibawahku. Kontolku masih berada didalam tubuhnya, hingga perlahan-lahan mengecil.

“berat sayanggggg”

Aku menggulingkan tubuhku kesamping. Dan kupeluk tante Dina dengan mesra.

“besok kalo ngentot bikin aku squirt ya sayang, jangan hanya sekali, itu bisa keluar terus kok, nanti aku semakin kehilangan control, semakin enak”

“wiii, oke tante”

“tidur yuuk”

Ku peluk mesra tante Dina, seolah-olah dia milikku dan ku tak ingin melepasnya. Tidur telanjang selain membuat bergairah namun juga membuat semakin romantis.

***

Beberapa hari setelahnya.

Aku berada di kampus bersiap untuk menjalani mid semester, aku merasa yakin dengan kesiapan materiku, walau malamku banyak kuhabiskan untuk adegan ranjang, namun aku tak lupa untuk belajar. Menunggu dosen masuk untuk memulai ujian merupakan hal yang membosankan namun juga mendebarkan. Banyak temen-temen yang ingin belajar denganku walau hanya sebentar.

“eh Rend, yang ini gimana kemarin?”, tanya Akbar.

“ajarin dong yang ini”, tanya Vera.

“bro, ntar gue duduk disebelah loe ya, mau nyontek aja males belajar”, minta Rembo.

“rend, ntar lu duduk tengah aja, jawabannya didistribusikan ke kita-kita”, minta temen-temen yg lain.

Ya, walau aku cupu, culun dan biasa aja. Temenku merasa dekat denganku hanya pada saat menjelang ujian, namun juga ada yang sungkan untuk belajar denganku, dan ada pula yang melihat sinis.

“ih si culun tuh di rubung”, cetus Sandra melirik sinis kearahku berbicara dengan Helga, Amanda, Callisa, dan Andita.

Ya, kelompok wanita hedon dan kaya ini memang tidak suka atau jijik dengan kaum sepertiku, tapi ku akui mereka cukup cantik dan seksi jika tutur katanya lebih dijaga.

“hahha aku mending ngulang makul ini dari pada belajar dengan kaum kotor macem dia”, cetus Callisa.

Dosen pun datang, kamipun berebut mencari tempat duduk yang strategis.

“oke ujian mid ini, jangan pada contek yaaa”, ujar professor di bidang marketing riset ini.

Kami pun memulai ujian, aku mendistribusikan jawabanku kepada temen-teman, tak terlewat grup hedon milik Sandra, juga ku bagi jawabannya. Walau sok gengsi, tapi menerima juga contekanku.

Waktu ujian berakhir. “saudara-saudara, terimakasih atas partisipasinya, mulai minggu depan hingga akhir semester akan ada tugas terus, tugas yang tiap minggu yang ada progress, macem mini report ya. Nanti satu kelompok 2 orang. Nama-nama kelompok sudah saya buat, sudah saya tempel di lorong bagian utara. Silahkan di cek”, terang dosenku.

Di hari yang masih pagi ini, banyak mahasiswa lalu lalang untuk memasuki ruang kelasnya atau sekedar nongkrong. Ku berjalan melewati lorong demi lorong untuk mencapai papan pengumuman yang di tempel oleh dosenku terkait pembagian kelompok di kelasku. Papan pengumuman sudah ramai di rubung oleh teman dikelasku. Bahkan bagi orang setinggi aku untuk dapat melihat kertas itu juga cukup susah. Akhirnya setelah menunggu beberapa saat aku bisa mencari namaku

“hmmm mana ini namaku”, ucapku kepada diri sendiri.

“hee Rend, ini namamu ada disini”, ucap Indro, temenku sekelas, sembari menunjukkan namaku. “tadi aku lihat disini…eee lha ini ni namamu”, lanjutnya.

“eh iya, lhah ya ampun, aku sekelompok sama Sandra”, ucapku lemas dan kecewa dengan pemilihan ini.

“iya e bro, kerja sendiri nih kamu bro, tapi ya sama cewek seksi brooo”, ujar Indro girang. Memang dia sedikit mata keranjang.

“yauda lah, ku jalani aja laahhh, kamu sama siapa Ndro?”, jawabku lemas.

“aku sama Taufik bro”

Samar-samar dari kejauhan ku mendenger geng hedon sedang jalan menuju kemari. Sedangkan aku akan berjalan menuju kantin dengan Indro, rasanya lemas mengetahui bahwa tugas satu semester ini akan ku kerjakan seorang. Sandra pasti ogah akan aku ajak kerja bareng.

Di kantin aku duduk dengan Indro dan kawan yang lain, saat masih pagi gorengan masih hangat.

“heeeh culun, aku sekelompok sama kamu!”, ujar Sandra membentak.

“ya aku udah tau”

Dia terus berjalan mendekati mami kantin.

“ealah ini dia mahasiswi paling cantik se kampus”, ujar mami kantin.

“ahh mami bisa aja”

Aku memutuskan untuk pulang ke kost. Masih pukul 12 siang, tante Dina pasti masih di kantor. Aku bingung harus bagaimana mengerjakan tugas riset itu.
“ah aku kerjakan sendiri ajalah kalau emang terpaksa, nanti aku akan bilang dosenku kalau Sandra gak ikut ngerjain”, batinku.

***

Waktu menunjukkan 20/05 9.06 PM (seminggu setelah ujian mid semester)

Aku sedang asyik nonton tv dengan kusambi membaca artikel untuk menyiapkan materi presentasi besok pagi.

[20/05 9.08PM] Sandra Santika: heh culun!

Aku hanya baca pesan dia, juju saja aku enggan untuk berurusan dengan wanita ini. aku memilih untuk tidur, presentasi ku besok lebih penting daripada ngurusi ini cewek.

[20/05 9.15PM] Sandra Santika: heh brengsek di read doang pula!

—BERSAMBUNG–

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part