web hit counter

Perjalanan Mengejar Cita dan Cinta 3 Part 98

0
505
Perjalanan mengejar Cita dan Cinta 3

Perjalanan Mengejar Cita dan Cinta 3 Part 98

Kesendirian

Berita tentang meninggalnya ayah sore menjelang malam ini, langsung menyebar keseluruh kota.. semua pejabat penting dikota ini langsung menuju rumah sakit untuk melayat.. kedua anak buah kesayangan ayahku, mat ali dan om tarjo membantu menghendle para tamu yang datang silih berganti dirumah sakit ini.. sedang kan ketiga sahabatku, slamet, kaco dan sila menghendle tamu yang kerumahku..

Dan untuk dirumah sakit ini, banyak sekali tamu yang datang.. dan banyak juga orang – orang yang berwajah misterius yang tidak pernah aku kenal, datang dengan wajah yang bersedih.. dan aku dengan wajah yang aku buat setegar mungkin, menyambut semua tamu yang datang.. dan para tamu yang hadir semua itu, memelukku dan menangis dipelukanku.. dan disenja ini, kesedihan yang mendalam menyelimuti hatiku..

Senja.. waktu peralihan dari sore kemalam..

Senja.. waktu yang sangat aku benci..

Senja.. dia hanya terdiam dan membisu ketika ayahku tertidur selamanya.. bajingaann..

Dan setelah jenazah ayahku siap, aku beserta keluarga lalu berkumpul dan membahas tentang pekaman ayahku.. dan atas permintaan ibuku, jenazah ayahku dibawa terbang kepulau sana.. karena menurut ibuku, ayah pernah meminta kepada ibu.. jikalau waktu itu telah tiba, ayahku ingin beristirahat dengan tenang di desa jati luhur..

Mat ali langsung mengkondisikan semuanya.. dia memesan tiket penerbangan kami dan juga kargo untuk peti jenazah ayah.. tapi sebelum jenazah ayah dibawa kepulau sana, jenazah ayah dibawa kerumah sebentar.. dan dirumahku lebih banyak lagi tamu yang hadir.. mulai dari pejabat, preman, orang – orang baru yang tidak aku kenal, orang – orang dengan berbagai pakaian keagamaan, orang orang yang berambut cepak dan masih banyak lagi.. mereka semua melebur menjadi satu dengan kedukaan.. air mata mereka semua mengalir ketika melihat tubuh ayah yang terbujur kaku dan wajah ayah yang tersenyum..

Dan setelah dimandikan dan melakukan ibadah.. jenazah ayahpun dibawa kebandara.. dan itu dengan iringan ratusan bahkan ribuan orang dengan berbagai kendaraan..

Aku merasa kota ini terasa sangat bersedih mengiringi kepergian ayahku..

Aku, ibu, merry, kedua adekku, mbah jati dan mbah putri berada dalam satu mobil menuju kebandara.. sedangkan lia dan ibunya berada dimobil lain.. mereka berdua ingin menghadiri pemakaman ayahku.. sedangkan ketiga sahabatku yang ingin ikut, slamet, kaco dan sila aku tahan.. karena mereka aku minta tolong untuk menghendle rumah selama kepergianku.. dan dirumahku itu, rencananya akan diadakan acara doa selama tujuh hari kedepan..

Tidak butuh waktu yang lama bagi kami semua untuk menunggu pesawat yang membawa kami kepulau sana.. dan setelah beberapa jam penerbangan.. akhirnya kami sampai dibandara pulau ini..

Dan setelah kami sampai di bandara ibukota propinsi pulau ini, disini makin banyak yang menyambut kedatangan jenazah ayah.. orang – orang yang memakai pakaian militer, pejabat pemerintahan dan para preman diseluruh propinsi ini menyambut dibandara..

Eyang ranajaya dan keluarga besar dari ibuku juga ikut menyambut dibandara.. dan isak tangis mereka langsung pecah ketika melihat ibu yang aku rangkul.. mereka semua langsung memeluk ibuku dan ibuku sempat tidak sadarkan diri..

Keluarga besar dari ayahku pun ikut menyambut.. dan dipimpin oleh lek gito yang selalu meneteskan air matanya, mereka semua memelukku satu persatu..

Keluarga pondok merah pun terlihat menyambut jenazah ayahku.. semua generasi dari pondok merah, tampak terlihat dibandara ini.. dan semua juga meneteskan air matanya..

Bu damayanti dan suaminya pun tampak hadir diantara para tamu..

Tapi dimana ayu dan keluarganya..? padahal aku tadi sudah mengabari ayu tentang meninggalnya ayah dan akan dimakamkan di pulau ini.. tapi ayu tidak membalasnya dan dia juga tidak tampak disini.. assudahlah.. biar keluarga kami saja dan orang yang menganggap kami sebagai keluarga yang merasakan kedukaan kami saat ini..

Dan setelah peti jenazah ayah telah keluar dari kargo, empat orang sahabat ayahku, om totok, om agus, pak tomo dan om nawi langsung menggotong peti ayahku dan dibantu oleh lek gito dan lek ji’i menuju ambulance yang akan membawa kedesa jati luhur..

Dan dengan diiringi suara ambulance dan beberapa mobil militer, kami semua berangkat menuju desa jati luhur.. dan masa pengiring yang ikut dirombongan kami ini, lebih bayak lagi daripada yang dipulau seberang tadi..

Malam yang makin larut menyambut kedatangan rombongan kami didesa jati luhur.. dan didesa ini, makin banyak lagi yang menyambutnya.. orang – orang semua berdiri dipinggir jalan menyambut iringan kami dengan tetesan air mata mereka.. gilaaaaa.. ayahku memang orang baik dan hebat, sampai kematiannya pun ditangisi begitu banyak orang..

Dan setelah sampai dirumah mbah jati, jenazah ayahku diletakkan diruang tengah.. ibuku selalu didekat jenazah ayahku ketika dirumah mbah jati.. ibuku seperti tidak mau menjauh sedikitpun dari jenazah ayahku.. beliau ingin mendampingi ayahku sebelum dikuburkan esok pagi..

Dan ketika malam sudah larut.. satu persatu tamupun mulai balik kerumah masing – masing.. mereka beristirahat untuk acara pemakan esok hari..

Dan dirumah mbah jati ini, tinggal aku, merry, gabby, keluarga besar ayah, keluarga besar ibu dan keluarga besar pondok merah.. sedangkan lia, ibunya, bu damayanti serta suaminya bermalam dihotel tidak jauh dari desa jati luhur..

“istirahat lah nyo.. kelihatannya kamu letih.. lagian kan kamu juga baru sembuh..” ucap satria menegurku dengan pelan dan kami semua berkumpul didepan rumah mbah jati..

Dan aku hanya diam sambil menikmati rokokku.. pikiranku benar – benar hancur saat ini.. aku tidak bisa berpikir sama sekali.. jangankan untuk beristirahat, tubuhku ini sangat sulit untuk aku rebahkan.. aku hanya ingin duduk, diam dan memikirkan semua masalah yang ada diotakku ini..

Emery naila unna.. seorang wanita yang sering aku kecewakan hatinya, selalu berada disampingku dan selalu mengelus rambutku ketika air mataku menetes.. merry tidak mengucapkan sepatah katapun.. dia hanya diam sambil menatapku dan sesekali membelai rambutku.. merry seperti membiarkan aku menikmati dulu kesedihanku saat ini..

Aldo, surya dan yuda.. selalu menunduk ketika melihat aku menangis..

Mas pandu, mas adam dan mas arief sesekali mendatangi aku dan menepuk pundakku pelan..

Mas rendi, bung toni, mas wawan dan mas bendu hanya menatapku dengan mata yang berkaca – kaca..

Mas akbar, mas dannis, mas raimond, mas bobby, mas rudi dan kakanda alan terdiam dan menunduk..

Ilham, dalle, tigor, hendra sumo, heri tiger dan rikky tidak berani menyapaku..

Sementara generasi pondok merah lainnya melamun dengan pikiran mereka masing – masing..

Kami semua bergadang sampai pagi hari..

Dan ketika pagi hari.. satu persatu tamupun mulai berdatangan lagi..

“siapa aja nanti yang masuk didalam kubur..?” tanya lek gito diruang tengah..

Dan diruang tengah ini.. semua keluarga besar ayahku dan keluarga besar ibuku sedang berkumpul untuk membahas pemakan ayahku sebentar lagi..

“aku lek..” ucapku dengan lantang..

“tapi kondisimu seperti ini san..? apa kamu kuat..?” tanya lek ji’i..

“orang yang menggendongku pertama kali ketika aku lahir didunia ini ayahku lek.. masa diperistirahatan nya yang terakhir ini, aku tidak kuat menggendongnya..?” ucap dengan bibir yang bergetar.. dan mbah jati hanya diam sambil menghisap rokok klobotnya..

“baiklah.. nanti sandi, aku dan ji’i yang masuk kedalam kubur..” ucap lek gito..

“terus siapa nanti yang mengumandangkan ayat – ayat suci ketika mas irawan akan dikubur..?” tanya lek ji’i..

“aku..” ucapku lagi dan kali ini lebih lantang.. dan semua orang yang ada diruangan ini langsung memandangku dengan mata yang berkaca – kaca..

“san..” ucap lek ji’i dengan lembutnya..

“kenapa lek..? aku ga sanggup gitu..? ketika aku menghirup udara pertama kali didunia ini.. ayahku yang menyenandungkan ayat – ayat suci itu dikedua telingaku.. jadi biarkan aku sekarang menyenandungkan ayat – ayat suci itu untuk menghantarkan istirahat panjang ayahku ini..” ucapku dengan bibir yang bergetar.. dan semua orang yang ada diruangan ini langsung menunduk dengan deraian air mata mereka yang mengalir dari mata mereka.. hanya mbah jati yang tetap memandang lurus kedepan, dengan tatapan yang kosong sambil terus menghisap rokok klobotnya.. wajah beliau sangat sayu dan sangat bersedih.. dan ibuku juga tidak menunduk.. beliau memandangku dengan tersenyum sambil meneteskan air matanya..

“baiklah.. kita makamkan sekarang..” ucap lek gito dengan mata yang berkaca – kaca..

Lalu semua laki – laki yang ada diruangan ini berdiri dan berjalan kearah jenazah ayahku.. kami melakukan ibadah dulu sebelum kekuburan.. dan ini adalah ibadah keempat yang diperuntukkan untuk ayahku.. pertama kali ibadah, waktu dirumah sakit.. kedua waktu dirumah, ketiga tadi malam pada saat datang didesa ini dan keempat sekarang ini.. dan ini dilakukan oleh orang – orang yang berbeda.. mereka yang sudah melakukan ibadah hanya menunggu diluar rumah..

Dan setelah melakukan ibadah.. aku berdiri disebelah kanan dan paling depan keranda ayahku.. dibelakangku, om nawi, pak tomo, dan om totok.. disebelah kiri, lek gito, lek ji’i, om agus dan suami lek darmi.. dan setelah itu kami semua mengangkat keranda ini bersama – sama..

Cuukkk.. didalam keranda ini ayahku cuukkk.. orang yang menggendongku ketika aku kecil dulu.. aku digendong didada, punggung dan pundak beliau.. dan terkadang ayahku mengangkat tinggi – tinggi tubuhku sambil berkata..

“terbanglah yang tinggi nak.. sapa semesta ini dengan teriakanmu.. tujunkan bahwa kamu itu anak irawan jati.. tunjukan bahwa kamu itu kuat dan hebat.. kamu sandi purnama irawan.. hahahahahaha..” ucap ayahku dengan lantangnya ketika itu, sambil mengangkatku tinggi – tinggi dan sambil memutarkan tubuhnya.. dan wajah beliau selalu tertawa bahagia ketika melakukan itu..

Didalam keranda ini ayahku cuukkk.. orang yang memelukku ketika aku jatuh dan terpuruk.. dan beliau selalu menenangkan aku dengan belain yang sangat lembut..

Didalam keranda ini ayahku cuukkk.. orang yang menyayangi aku sepenuh jiwa raganya.. jangankan memukul, aku tidak pernah mendengar sekalipun ucapan kasar terucap dari mulut beliau kepadaku..

Didalam keranda ini ayahku cuukkk.. ayahku.. jiancuukkkk..

Dan aku terus berjalan dengan deraian air mata yang keluar dari kelopak mataku.. beberapa orang sempat ingin menggantikan posisiku untuk mengangkat keranda ayahku, tapi aku selalu menolaknya..

Dan ketika sudah sampai diliang lahat pemakan ayahku, kami menurunkan keranda ayahku disamping lubang itu.. dan pada saat aku akan turun kedalam lubang itu..

“jangan ada air mata yang menetes ketika kamu didalam sana le.. kamu mau ayahmu bersedih..?” ucap eyang ranajaya sambil menepuk pundakku..

“ingat le.. kesabaran adalah obat terbaik dari segala kesulitan….” ucap mbah ranajaya dengan tatapannya yang misterius.. sementara mbah jati hanya memandangku lalu mengangguk..

Aku lalu menarik nafas ku dalam – dalam dan aku menghapus air mata yang mengalir dipipiku.. setelah itu aku masuk kedalam lubang tempat ayahku akan dimakamkan.. lek gito menyusul disebelahku dan dan dilanjut lekji’i disebelahnya..

Dan setelah jenazah ayahku diturunkan keliang lahat.. aku memegang lalu memeluk bagian lehar ayahku dengan kuatnya dan aku menahan sekuat tenagaku untuk tidak meneteskan air mataku.. aku memeluk terakhir tubuh orang yang sangat aku sayangi dan aku jadikan panutan hidupku ini.. setelah itu kami menurunkan pelan tubuh ayahku ketanah.. dan setelah membuka ikatan kain diujung kepala ayahku.. aku lalu berdiri dengan tegapnya..

Aku menghadap lurus kedepan arah barat.. lalu tangan kananku aku angkat dan aku tutupkan ditelinga kananku.. aku memejamkan sejenak mataku, untuk menguatkan hati supaya aku tidak menangis ketika aku akan melantunkan ayat – ayat suci itu.. dan..

“sandi.. jangan teteskan air matamu lagi nak.. lanjutkan kehidupan ini dengan ketenangan pikiranmu dan semua masalah yang akan datang, pasti akan bisa kamu selesaikan.. ingat nak, sang pencipta memberikan ujian kepadamu yang bertubi – tubi, pasti akan berakhir dengan indah.. itu janjinya..” ucap ayahku menggema ditelingaku..

Lalu aku membuka mataku dan aku mulai mengucapkan ayat – ayat suci dari mulutku dengan suara yang bergetar.. satu persatu ayat suci itu aku lantunkan, dan semakin aku melantunkan ayat suci itu.. sumber air mata yang ada dikelopak mataku pun, seperti mengering dan aku seperti mendapatkan kekuatan baru ditubuhku.. aku seperti dikuatkan oleh sesuatu hal yang tidak bisa dijelaskan dengan kata – kata.. yang jelas, aku seperti terlahir kembali diliang lahat ayahku ini.. aku terlahir dengan semangat irawan jati.. sesosok matahari dan pahlawan bagiku..

Dan setelah aku selesai mengumandangkan ayat – ayat suci itu, papan kayu mulai diturunkan untuk menutupi tubuh ayahku, dan setelah aku, lek gito dan lek ji’I naik.. gumpalan – gumpalan tanah mulai diturunkan.. tangisan histeris dari kedua adekku, lek darmi adek ayahku dan juga merry, mengiringi tanah yang mulai menutupi liang lahat ini.. aku langsung menenangkan kedua adekku yang menangis ini.. cukup sudah air mataku mengalir.. aku harus menguatkan keluargaku, karena aku pengganti ayahku dan aku kepala keluarga saat ini.. sementara ibuku yang berdiri tidak jauh dariku, hanya bisa melihat tanah mulai menutupi tubuh suaminya.. tatapan mata ibuku kososng, tidak ada lagi air mata yang keluar dari pipinya..

Kemudian setelah gundukan tanah telah menutupi jasad ayahku, dilanjutkan dengan doa – doa.. setelah itu satu persatu orang mulai meninggalkan kuburan ayahku ini.. tinggal keluarga besarku, keluarga besar pondok merah, merry, gabby, bu damayanti dan suaminya, lia beserta ibunya.. dan setelah kami semua berdoa.. kamipun meninggalkan kuburan ini..

Aku berjalan paling akhir, ditemani merry.. lalu tiba – tiba merry berhenti dan aku langsung berbalik dan menatapnya.. merry lalu memelukku dengan erat dan tangisannya terdengar lagi..

“sabar mer..” ucapku sambil memeluk merry..

“ini adalah kehilangan yang kedua paling sakit dalam hidupku san.. setelah kedua orang tuaku.. hikss… hikss..” ucap merry lalu menangis dengan sedihnya..

“a.. a.. apa..? papah sama mamah sudah meninggal..? kapan..? kenapa kamu baru cerita mer..?” tanyaku yang terkejut sambil melepaskan pelukanku ke merry dan merry langsung menunduk sambil terisak..

“mer.. apa yang menyebabkan mereka meninggal..?” tanyaku sambil meremas pelan pundak merry..

“sudahlah san.. kita balik.. lain kali aja merry cerita.. bukan sekarang..” ucap merry sambil menatapku dengan sayu..

“aku mau dengar sekarang mer..” ucapku dengan tegas..

“mas.. keluarga ayu ada dirumah..” ucap ilham memanggilku dan aku langsung melihat kearah ilham lalu menatap merry lagi..

“pergilah san.. aku pasti cerita suatu saat nanti..” ucap merry lalu berjalan meninggalkan aku..

Bajingaannn.. merry sudah kehilangan orang tuanya…? Kenapa baru cerita kepadaku..? atau sudah cerita tapi aku ga konsen waktu itu..? gilaaaaa.. merry selama ini yatim piatu..? bangsat.. dan aku yang katanya mencintai merry, justru baru menyadari itu.. assuuu.. pasti berat banget apa yang dialami merry selama ini.. aku yang kehilangan seorang ayah saja terpukul seperti ini, apalagi merry.. bajingaannn.. aku merasa berdosa sekali cuukkk.. kenapa aku selalu menyakiti hatinya selama ini.. bangsaaattttt..

“mas..” panggil ilham lagi dan mengejutkan aku..

“i.. i.. ya ham..” jawabku..

Aku dan ilham langsung keluar dari area pemakaman.. sementara aku melihat merry berjalan bersama bu damayanti serta gabby.. bu damayanti memeluk pundak merry yang terlihat sangat terpukul itu.. assuuuu..
Dan setelah sampai dirumah mbah jati, tampak semua keluarga besarku berkumpul diruang tengah.. dan disana terlihat ayu yang sedang duduk dan menunduk diantara seluruh keluarga besarnya.. cuukk.. kenapa ayu ini..? dia seperti sedang menyimpan kesedihan seorang diri.. tapi kenapa dia tidak mau cerita ke aku..? ada apa dengannya..?

Aku lalu masuk keruang tengah dan duduk disebelah lek gito.. aku terus melihat kearah ayu yang menunduk.. terus terang aku kangen sekali dengan tunanganku ini dan aku ingin memeluknya.. lalu setelah itu aku melihat kearah semua keluarga ayu yang duduk diseberangku.. ibu ayu dan ibu ratih tampak tertunduk dan terisak.. sementara budenya memandangku dengan pandangan yang datar..

Dan aku tidak melihat ibuku diruangan ini.. cuukkk, dimana ibu dan kedua adekku..?

“mohon maaf buat seluruh keluarga dek sandi.. kami baru bisa datang kerumah ini dan kami semua turut berduka cita atas meninggalnya pak irawan..” ucap bude ayu membuka suara.. cuuukkk.. kenapa budenya sih yang berbicara..? kenapa bukan pakdenya saja..? assuuu.. dan aku hanya memandangnya dengan tatapan yang datar..

“dan tujuan kami selain ingin mengucapkan bela sungkawa, kami ingin membicarakan tentang kelanjutan hubungan dek sandi dan ayu putri kami..” ucap bude ayu dengan hati – hatinya..

Bangsaattt.. kenapa harus bicarakan masalah itu saat ini..? kuburan ayahku loh masih basah.. belum ada satu jam kami menguburkan ayah.. harusnya ini bisa ditunda beberapa hari lagi.. tapi kenapa buru – buru seperti ini..? apa mereka takut dengan kutukan weton kami..? mereka takut kalau salah satu keluarga mereka akan ada yang meninggal juga..? bajingaaannn..

Dan semua keluarga besar ayahku langsung menarik nafas dalam – dalam dan mengeluarkan nafasnya perlahan.. setelah itu mereka diam sambil satu persatu mengeluarkan rokok mereka lalu membakarnya dan menghisapnya pelan..

“ini ga bisa dilanjutkan.. kalau memang dipaksakan, pasti ada lagi yang seperti ini..” sambung bude ayu..
Bangsaatt.. asssuuuu.. aku jadi merasa bersalah sekali saat ini cuukkk.. aku merasa aku yang jadi penyebab segala musibah yang datang ini cuukkk.. bajingaann.. dan aku langsung melihat arah ayu lagi yang terus menunduk..

Aku langsung mengeluarkan rokokku dan aku membakarnya juga.. kurang ajar ya aku..? aku memang tidak pernah merokok dihadapan eyang kakung, mbah jati, eyang putri dan mbah putri.. bagiku itu sangat tidak sopan sekali.. tapi entah mengapa, hari ini tanganku menuntunku untuk aku membakar rokokku ini.. aku lalu menghisap dalam – dalam rokokku sambil menatap lurus kedepan dan aku menyandarkan kepalaku didinding..

“pertama – tama saya ucapkan terimakasih atas kedatangan keluarga besar dek ayu.. dan saya juga mengucapkan terimakasih atas ucapan bela sungkawanya kepada keluarga kami.. tapi..” ucap pakde taruna kakak ibuku lalu ucapannya berhenti sesaat..

“kenapa wanita yang harus berbicara untuk masalah ini..? apa tidak ada laki – laki yang sanggup bicara..? kami akan menerima semua keputusan dari keluarga besar dek ayu, apapun itu.. walaupun kondisi kami sedang berduka..” ucap pak de taruna sambil melihat satu persatu keluarga laki – laki ayu dan mereka semua langsung menunduk..

Sementara, aku hanya bisa menikmati rokokku sambil mencoba menenangkan pikiranku..

“siapapun yang berbicara itu tidak masalah pak.. yang penting kita mencapai kesepakatan hari ini..” ucap bude ayu sambil melihat kearah pakde taruna.. dan terdengar tarikan nafas dalam – dalam dari semua keluarga besarku lagi..

“terus kalian mau apa..? mau diakhiri pertunangan ini..? silahkan saja..” ucap ibuku keluar dari kamar mbah jati dengan tatapannya yang sangat tajam..

“de..” ucap pakde taruna kepada ibuku..

“kenapa mas..? aku ga sopan..? dari pihak mereka wanita yang berbicara, jadi biarkan wanita juga yang berbicara dari keluarga kita..” ucap ibuku kepada pakde taruna sambil melirik tajam kearah bude ayu dan bude ayu langsung terdiam..

“mba..” ucap lek danu adek ibuku kepada ibuku..

“diam de.. biarkan aku berbicara kali ini.. dia putraku..” ucap ibuku dengan tegasnya sambil melihat kearah lek danu lalu melihat kearahku sambil tetap berdiri.. mbah jati dan eyang ranaja jaya hanya menatap lurus kedepan saja..

“kenapa pertanyanku tadi tidak dijawab..? kalian mau memutuskan pertunangan ini..?” ucap ibuku dan ayu langsung mengangkat wajahnya dan melihat ke arah ibuku dengan deraian air matanya..

“silahkan saja, kami akan menerimanya.. bukan karena kami tidak sayang dengan ayu.. bukan.. kami sangat sayang sekali dengan ayu.. dan begitu juga sandi anak saya.. dia pasti menyayangi ayu dengan sepenuh hatinya..” ucap ibuku lagi dan tidak ada tanggapan dari keluarga besar ayu..

“kalau kalian sudah selesai dengan tujuan kalian.. silahkan kalian pergi.. bukan saya mengusir kalian.. tapi aku tidak sanggup melihat kesedihan diwajah putra kesayangan kami.. kalian tidak melihat dia yang hanya diam sambil merokok..? belum pernah kulihat anak saya sekurang ajar begini.. dan ini pasti dilakukannya karena ingin menutupi kesedihan diwajahnya..”

“tapi walaupun sekuat apapun sandi menutupi kesedihannya, sandi tidak bisa menyembunyikan kesedihannya dariku.. aku ibunya dan aku mempunyai ikatan batin yang kuat dengan putra kesayanganku ini..”

“kalian lihatkan.. sudah tidak ada air mata lagi yang keluar dari matanya, walaupun kalian menyakiti hatinya.. tidakkah kalian sadar, anak kami ini masih berduka dan kalian menambah kedukaannya..”

“aku lebih senang jika putraku dihajar sampai babak belur atau ditikam dengan benda tajam sekalian.. itu hanya menyakiti fisiknya dan pasti akan bisa sembuh beberapa hari saja.. tapi aku tidak suka jika anakku diserang hati dan perasaannya.. karena itu pasti akan sakit tidak terkira dan tidak bisa disembuhkan.. sakitnya anakku ini bisa aku rasakan diseluruh tubuhku ini.. karena aku ibunya..”

“dan untungnya, sandi terikat sumpah kepadaku.. sandi sudah bersumpah tidak akan menggunakan kepalan tangannya dalam menyelesaikan segala permasalahannya.. kalau saja sandi tidak terikat sumpahnya, aku pastikan hari ini akan ada darah yang tertumpah disini karena kepalan tangannya itu..”

“dan sekarang, setelah orang yang paling disayanginya dimakamkan.. aku, anjani ranajaya.. melepaskan semua sumpah anakku sandi purnama irawan kepadaku.. aku membebaskan anakku untuk menggunakan kepalan tangannya, apalagi sudah menyangkut harga diri keluarga kami.. aku membebaskanmu nak, aku mencabut sumpahmu.. di darahmu mengalir darah seorang petarung yang sangat luar biasa nak..” ucap ibuku sambil menatapku dengan tajamnya.. lalu pandangannya diarahkan kebude ayu lagi..

“dan sekarang sekali lagi aku minta untuk kalian semua, lebih baik sekarang kalian pergi dari rumah ini.. sebelum aku anjani ranajaya, istri dari seorang preman yang bernama irawan jati.. menumpahkan darah kalian ditempat ini..” ucap ibuku dengan tatapan yang begitu tajam dan perlahan seluruh bola mata ibuku menghitam..

Cuukkkk.. belum pernah aku melihat ibuku se emosi seperti saat ini, dan aku juga sangat terkejut ketika melihat bola mata ibuku juga bisa menghitam.. gila..

Semua keluarga besar ayu langsung menunduk dan tidak berani menatap wajah ibuku termasuk budenya..

“nduk..” ucap eyang ranajaya dengan lembutnya kepada ibuku..

Ibuku langsung terdiam sambil menarik nafas dalam – dalam lalu memejamkan matanya beberapa saat.. dan ketika beliau membuka matanya lagi, bola matanya kembali menjadi hitam dan putih..

Ibuku lalu berbalik dan masuk kedalam kamar mbah jati lagi..

“hiuufffffttttt.. hhuuuuu..” lek gito menarik nafasnya dalam – dalam, lalu..

“belum pernah aku merasa terhina seperti ini dirumahku sendiri.. kalau saja bukan karena sumpah keluarga kami kepada mas irawan sebelum pertunangan sandi dan ayu waktu itu.. mungkin aku sendiri yang akan menumpahkan darah orang dirumah ini..” ucap lek gito dengan bibir yang bergetar dan mata yang berkaca – kaca..

“kami semua telah disumpah oleh mas irawan untuk tidak mencampuri segala urusan pertunangan sandi dan ayu..” ucap lek gito lagi..

“gito..” ucap mbah jati pelan.. suara beliau serak dan masih terdengar kewibawaannya..

“malu aku pak.. malu.. sampai mbak yu anjani berkata seperti itu pak.. kami seperti laki – laki banci yang tidak bisa berbuat apa – apa.. apalagi sandi kondisinya seperti ini.. apa yang akan aku pertanggungjawabkan kelak dihadapan mas irawan pak..” ucap lek gito sambil melihat kearah mbah jati dengan tatapan sayu dan bibir yang bergetar..

Mbah jati langsung melihat kearah lek gito dengan pandangan yang tenang.. dan lek gito langsung tertunduk dan langsung terdiam lagi..

“mohon maaf kalau kedatangan kami ini malah menambah kedukaan keluarga ini.. tapi tujuan dari keluarga kami, sebenarnya hanya ingin supaya semua mendapatkan kebaikan.. mohon maaf sekali lagi dan ijinkan kami untuk meninggalkan rumah ini..” ucap pakde ayu dengan ucapan yang sangat lembut..

“kami menegrti tujuan keluarga besar dek ayu itu untuk kebaikan bersama.. tapi ijinkan kami untuk menikmati kedukaan ini beberapa hari kedepan.. setelah itu keluarga kami akan kesana lagi untuk membicarakan kelanjutannya..” ucap pakde taruna dengan tenangnya..

“baiklah pak.. kami pamit dulu..” ucap pakde ayu dan langsung berdiri..

Dan setelah mereka semua berpamitan, mereka semua langsung pulang kekota sebelah.. sementar aku hanya diam sambil terus menikmati rokokku yang telah habis berbatang – batang.. sementara ibuku tidak keluar kamar lagi setelah beliau berucap tadi..

Lalu kemudian aku pun berdiri..

“maaf..” ucapku dengan bibir yang bergetar sambil menatap lurus kedepan dan akupun langsung keluar dari rumah mbah jati..

Panggilan dari semua keluargaku pun tidak aku hiraukan.. aku merasa sangat bersalah sekali dengan kondisi ini.. apalagi kematian ayahku disangkut pautkan dengan pertunangan kami..

Aku terus berjalan menuju kearah persawahan.. dan dipikiranku terus berkecamuk.. kenapa permasalahan ini bisa terjadi..? kalau memang perjodohan ini terlarang..? kenapa diciptakan cinta..? dan kenapa sang pencipta harus menciptakan istana cinta yang begitu megah dihatiku.. kenapa..? apa cinta itu harus ada perhitungan tanggal lahir..? kalau memang seperti itu, ciptakanlah perjodohon dengan didasari dengan ramalan tanggal lahir… jangan ada cinta didunia ini.. biarkan kehidupan dunia ini tanpa ada cinta..

Dan sekarang aku terus berjalan menyusuri pematang sawah.. hari yang sudah mulai gelap ini, tidak membuatku kesulitan melangkahkan kaki,.. sinar bulan purnama bisa menuntunku berjalan sampai disebuah pondok, di tepi sungai yang membelah desa jati luhur dan desa jati bening..

Aku lalu duduk dibalai – balai pondok.. aku mengeluarkan rokokku dan membakarnya lalu menghisapnya pelan..

Pandanganku lurus kedepan, menatap aliran sungai yang samar samar terlihat mengalir dihadapanku..

Lalu beberapa saat kemudian, datang beberapa mahluk dari arah sungai berjalan kearahku..

Gadis, tia, simbah, siaki (‘sesuatu’), dan seorang pemuda yang lumayan tampan..

Cuukkk.. siapa pemuda itu..? kenapa dia melihatku sambil tersenyum dan senyumannya terlihat menjancukkan..? bangsatt.. tubuhnya terlihat kekar dan dia berjalan dengan sombongnya..

Dan satu lagi, kenapa simbah dan siaki ada disini..? apa mereka berdua ini satu komplotan dengan gadis..? bajingaannn..

Lalu mereka semua berhenti dan duduk dibebatuan yang lumayan besar tidak jauh dari hadapanku..

“sudah puas dis..? semua kutukanmu telah terjadi dan itu sesuai dengan kemauanmu..” ucapku dengan santainya lalu aku menghisap rokokku dengan santainya..

“jadi kamu benar – benar percaya dengan kutukan ini ya san..?” ucap gadis dengan santainya lalu dia memiringkan kepalanya dan melebarkan kedua matanya..

Bangsat.. maksudnya apa ini..? kenapa gadis bicara seperti ini..? kan dia sendiri yang bilang, kalau ini semua adalah kutukannya dan kenapa dia bertanya seperti itu..? bajingaann..

“maksudmu apa dis..?” ucapku dan kali ini emosiku mulai naik kekepalaku..

Terus terang setelah semua yang kualami saat ini, aku merasa emosiku yang terpendam ingin disalurkan sekarang juga.. bangsaatttt..

“hihihihihi..” gadis lalu tertawa dengan senangnya sambil tetap duduk diatas batu.. sementara simbah dan siakai hanya melihatku sambil menghisap rokok kelobotnya..

“jangan tertawa kamu dis…” ucapku lalu berdiri dan aku langsung membuang rokokku yang masih sisa setengah..

Aku lalu berjalan kearah gadis dengan emosi yang ada dikepalaku.. gadis lalu berdiri dari duduknya dan melihatku dengan santainya..

“kamu mau marah sama aku..?” ucap sigadis dan kembali dia memiringkan wajahnya dan melebarkan kedua matanya.. dan aku langsung berhenti dihadapan gadis..

“ini semua karena kutukanmu kan dis..? dan kamu sekarang bertanya apa aku percaya atau tidak..? gila kamu ya..” ucapku dengan emosinya lalu aku menunjuk wajah gadis yang ada dihadapanku ini..

Aku benar – benar emosi saat ini.. kedua mataku memerah dan menghitam.. aku menatap tajam ke arah mata gadis dan belum pernah aku emosi seperti ini dihadapan seorang wanita..

“terus kamu mau apa..?” ucap gadis dengan santainya lalu menegakkan kepalanya sambil terus menatapku..

“GADIS…” teriakku dengan emosi yang menggila..

Tiba – tiba.. bola mata gadis yang berwarna putih dan hitam itu bersinar lalu berubah menjadi warna hijau dan teduh.. sinarnya langsung masuk kedalam mataku dan emosiku langsung turun seketika..

Bangsaaattt.. mahluk macam apa gadis ini..? kenapa dia bisa meredakan aku hanya dengan tatapannya yang menghijau itu..? dan aku benar – benar takluk dihadapannya.. gilaaa..

Dan aku merasa bola mataku pun perlahan menjadi normal kembali, hitam dan putih..

“apa yang kamu alami selama ini adalah takdir dari sang pencipta san.. kamu pasti akan menjalaninya, walaupun tanpa adanya kutukanku..”

“emosi dan nafsumu sangat diuji disini.. dan sang pencipta hanya melihat, apakah hatimu akan kamu libatkan..?” ucap gadis dengan tatapan hijau dan lembutnya..

“aku ini hanya mahluk ciptaannya san.. sama seperti kamu dan hanya berbeda alam..”

“kutukan dan karma itu memang ada, tapi tergantung dari sang pencipta.. kamu akan membayarnya tunai didunia ini atau dikehidupan yang abadi nanti, itu hak dan kuasa sang pencipta.. kita tidak bisa menolak dan hanya bisa menjalaninya..” ucap gadis dengan lembutnya..

“tapi kenapa harus ayahku dis..? kenapa bukan aku saja yang mati..” ucapku dengan bibir yang bergetar..

“sudah aku bilang san.. ini semua takdirnya..” ucap gadis lagi..

“dan sekarang, lanjutkan kehidupanmu sesuai dengan takdir yang telah digariskannya..” ucap gadis lalu berbalik dan berjalan kearah sungai.. dan aku hanya menatap kepergian gadis..

“tia.. kita pergi yuk..” ucap gadis ke tia.. dan tia langsung berdiri dari duduknya..

“terimakasih telah membantu keluarga tia mas..” ucap tia kepadaku sambil tersenyum dan aku menatap wajah tia dengan tatapan yang datar.. lalu tia berbalik dan mengikuti gadis berjalan kearah sungai..

“sampai jumpa ya le..” ucap simbah lalu berdiri.. cuukkk..

Pandanganku pun kualihkan kepada simbah..

“mbah mau pergi juga..?” tanyaku..

“iya le.. sudah cukup aku mendampingi kamu.. sudah banyak bekal yang akan menuntunmu menjalani kehidupanmu kelak..” ucap simbah sambil tersenyum..

“cuukkk.. kenapa satu persatu meninggalkan aku mbah..?” tanyaku kepada simbah..

“hakekatnya kehidupan itu memang kesendirian le.. yang ada disekitarmu itu hanya sebagai ujian dalam hidupmu.. bisa ga kamu berbagi sayang dengan mereka.. itu saja..” ucap simbah dengan tenangnya..

Hiuuufftttt.. huuuuu..

Aku lalu menarik nafasku dalam – dalam sambil menatap simbah..

“oke.. aku akan menjalaninya mbah.. tapi tolong jawab satu pertanyaanku.. siapa gadis itu sebenarnya..? kenapa matanya menghijau tadi..? padahal mbah pernah bilang.. hanya ada dua mata saja didaerah ini.. mata merah dari desa jati luhur dan mata hitam dari desa jati bening.. kenapa gadis berbeda..? apa dia dari daerah lain..?” tanyaku..

“gadis kan pernah cerita kekamu le.. dia keturunan dari desa jati bening.. tapi yang mata hijau seperti dia itu memang jarang sekali kemunculannya didesa ini.. sama seperti kamu, jarang sekali ada yang berwarna merah dan hitam..” ucap simbah dengan santainya..

“kalau jarang ada, berarti kan masih ada selain gadis mbah..? walaupun itu sulit ditemukan..” ucapku dengan penasaran..

“kenapa kamu penasaran le..? ooo… kamu kaget ya, kenapa mata hijau itu bisa meredakan emosimu walau hanya dengan tatapannya saja kan..? ” ucap simbah kepadaku dan aku langsung menganggukkan kepalaku..

“kamu pasti akan melihat lagi le.. sekarang jalani saja sisa kehidupanmu ini..” ucap simbah lalu berbalik dan berjalan kearah sungai juga..

“ayo ki..” ucap simbah kepada siaki.. lalu siaki tersenyum kepadaku dan berbalik juga mengikuti simbah berjalan kearah sungai..

Dan sekarang tinggal seorang pemuda saja yang duduk dihadapanku dan dia terus tersenyum kepadaku.. lalu diapun berdiri juga..

Cuukkk.. bangsat.. kenapa dia tersenyum sama aku sih..? assuuu..

“halo bang..” ucap pemuda itu lalu tersenyum lagi kepadaku..

Cuukkk.. bajingaannn.. suara itu.. kok suara pemuda itu seperti suaranya jago sih..? bangsaatttt..

“jago..” ucapku sambil melotot kepadanya..

“hehehehehe.. kenapa bang..? abang kaget ya melihat wujudku..? kalah ganteng ya sama aku.. hahahahahahaha..” ucap jago lalu tertawa..

“assuuu..” ucapku sambil menggelengkan kepalaku..

“aku kira kamu itu mahluk…” ucapku terpotong..

“apa bang..? mahluk diselangkanganmu itu..? assuuu.. jadi beneran kamu anggap aku ini peliharaanmu yang guuaateeelll itu..? bangsat kamu bang..” ucap jago sambil menggelengkan kepalanya..

“kamu kan bersuara ketika aku melihat peliharaanku ini aja go.. oh iya sama ketika ketemu betina juga.. jadi, ya wajarlah kalau aku berpikiran seperti itu..” ucapku lalu aku membakar rokokku..

“assuuu.. cuma orang gila aja yang berpikiran seperti itu bang.. dan orang stres aja yang berbicara sama batangnya.. hehe..” ucap jago sambil tersenyum..

“cuuukk..” ucapku pelan..

“ya udah kalau gitu bang.. aku pergi dulu ya..” ucap jago..

“kamu juga pergi go..? dan kamu ga balik lagi..?” tanyaku..

“kenapa bang..? kamu berat ya melepas aku..?” tanya jago dan lagi – lagi dia tersenyum..

“assuuu.. bajingan kamu..” ucapku..

“hahahaha.. kamu pasti merasa kehilangan aku kan bang..? apalagi kalau sudah dekat sama betina, kamu pasti tidak akan berkutik.. kamu kan mahluk yang paling lemah sama betina, cuma karena ada aku aja kamu itu bisa menikmati wanita disekitarmu.. hahahahaha..” ucap jago menghinaku..

“assuuu..” dan aku hanya bisa memaki..

“ya udah bang aku tinggal dulu ya..” ucap jago pamit..

“baiklah go.. tapi kita ga perlu salaman kan..? soalnya kamu kan…” ucapku terpotong sambil tersenyum..

“bangsatt.. kamu mau bilang aku ini kontol..?” ucap jago sambil melotot.. dan aku hanya tersenyum..

“tapi terus terang aku ini masih penasaran bang.. aku pergi belum bisa melihat betinanya merry sama ayu.. hehehehe..” ucap jago lalu tersenyum dengan guatteellnya…

“asssuu..” ucapku sambil menggelengkan kepalaku..

“tapi sudahlah.. sekarang aku mau senang – senang dulu sama gadis..” ucap jago sambil memainkan kedua alisnya kepadaku dan dia seperti mengejekku.. bangsatt..

“oke deh go.. oh iya.. kamu bilang aku ini lemah sama betina ya..?” tanyaku..

“iya.. kan kenyataannya memang seperti itu..” ucap jago dengan senyum kemenangan..

“hehehe.. aku cuma mau bilang sama kamu.. aku sudah pernah dekat sama gadis dan aku sudah merasakan betinanya.. dan kamu taukan, itu sebelum kamu ada didekatku.. dan sekarang kamu mau senang – senang sama gadis.. silahkan saja..” ucapku dengan santainya ke jago.. dan dia langsung terkejut mendengar ucapanku.. setelah itu aku langsung berbalik meninggalkan jago dan setelah beberapa langkah aku berbalik lagi menatap jago..

“go.. dimeki gadis sebelah kiri itu ada tai lalatnya loh.. imut dan ngegemisin banget.. jadi, selamat bersenang – senang sama gadis ya go..” ucapku lalu memainkan kedua alisku dan dilanjutkan dengan menghisap rokokku.. wajah jago makin terkejut dan mulutnya menganga.. aku lalu berbalik dan berjalan dengan santainya, meninggalkan jago yang masih melongo dengan wajahnya yang menjancukkan itu..

“bangsaattt.. maksudmu apa kamu bicara begitu bang..? maksudmu aku dapat….” Ucap jago terhenti dan aku tetap santai berjalan sambil menghisap rokokku..

“ASSUUU KAMU BANG.. BANGSAATTTTTT..” teriak jago dari kejauhan..

Aku terus berjalan melewati pematang sawah menuju rumah mbah jati.. dan kali ini, pikiranku sedikit tenang setelah pertemuan dengan gadis tadi.. kata – katanya tadi membuka pikiranku dan tatapan matanya yang hijau itu, menambah kekuatan didalam hatiku..

Dan setelah sampai dirumah mbah jati.. banyak sekali orang yang berkumpul untuk mengadakan doa kepada almarhum ayahku.. teman – teman dari pondok merah pun masih terlihat disana..

“cuukk.. dari mana kamu itu..? kok senang betul sih bikin semua orang bingung..” ucap aldo ketika aku didekatnya..

“menenangkan diri do..” ucapku dengan santainya sambil menghisap rokokku..

“wajahmu kok terlihat beda cuukkk..?” tanya surya..

“biasa aja..” ucapku dengan santainya..

“assuuu.. tambah ngeri aja aku lihatnya..” ucap yuda menyahut..

Dan setelah acara doa selesai.. semua keluarga dari pondok merah pamit kepadaku dan mereka semua memelukku.. dan kali ini tidak ada air mata yang menetes dari teman – temanku itu.. mereka hanya tersenyum sambil memelukku satu persatu dan menepuk punggungku..

Merry yang juga berpamitanpun, memelukku dengan erat.. dia diantar mas rendi dan gabby untuk balik kekota pendidikan..

Dan akhirnya, hari berganti hari.. dan setelah tujuh hari kepergian ayahku, aku lalu pamit kepada keluarga besarku.. dan aku mengajak ibu dan kedua adekku untuk balik kepulau seberang..

“bu.. kita balik ya..” ucapku kepada ibuku dan ibuku tersenyum kepadaku..

“mas.. ibu minta izin ya.. ibu disini aja, ibu ga bisa meninggalkan ayahmu jauh – jauh..” ucap ibuku kepadaku..

“bu.. kok gitu..? terus yang jaga ibu disini siapa..? kan sandi sudah janji sama ayah untuk jaga ibu..?” ucapku dengan bibir yang bergetar..

“nak.. ibu akan tinggal bersama eyang ranajaya.. dan asal tau aja, ibu dan ayah dulu itu pernah berjanji untuk tidak saling menjauh, ketika kami dipisahkan oleh kematian.. jadi tolong ijinkan ibu memegang janji ibu ini..” ucap ibuku dengan mata yang berkaca – kaca..

Cuukkkk.. janji dan janji.. kalau sudah berhubungan dengan janji, akupun tidak bisa berbuat apa – apa.. bangsattt..

“terus adek – adek gimana bu..?” tanyaku..

“anna kan sudah wisuda mas.. jadi anna cari kerja disini sekalian temani ibu.. bolehkan mas..?” ucap anna yang ada dibelakangku..

“ita juga mas.. ita kan sudah lulus SMU.. ita lanjut kuliah disini aja ya..” ucap ita kepadaku..

“jadi sandi sendirian ya dirumah..” ucapku sambil menatap ketiga wanita yang sangat aku sayangi ini..

“mas.. jangan bicara begitu dong.. ibu jadi sedih..” ucap ibuku lalu memelukku dan kedua adekku pun langsung ikut memeluk aku..

Dan ketiga wanita inipun menangis dipelukan ku..

#cuukkk.. akhirnya kesendirianpun datang kepadaku.. dan itu seperti yang diucapkan simbah, hakikat manusia itu hidup dengan kesendirian.. bangsaatttt..