web hit counter

Petualangan Telanjang Part 14

0
353

Petualangan Telanjang Part 14

Au Naturel

Pagi datang dan membawa terang yang masuk dari tirap-tirap kayu. Siska terbangun oleh desakan pada kandung kemih. Tubuhnya terbaring di antara kasur kapuk dan selimut tipis garis-garis. Siska melihat arloji. Pukul setengah lima pagi, dan tak ada tanda-tanda Badeng dan Leo sudah kembali. Siska mulai khawatir, berharap tak terjadi apa-apa dengan mereka.

Siska membangunkan Kinan, lalu hanya mengenakan kemben jarik, dua orang itu mengecek ke arah persada. Rumah itu adalah rumah tradisional Bali. Empat bangunan mengelilingi halaman tengah sesuai empat arah mata angin. Merajan / Pura Keluarga terletak di kompleks terpisah, dibatasi dengan tembok bata yang mendandai kawasan suci, Kinan bisa melihat puncak-puncak meru-nya yang terbuat dari ijuk.

Bangunan-bangunan lain yang difungsikan sebagai tempat tinggal memiliki serambi luas dengan tiang-tiang kayu dan bale-baleBesek (keranjang bambu) berisi anyaman janur yang akan digunakan sebagai sesaji terlihat memenuhi.

Paon (dapur) terletak paling belakang berbatasan dengan lahan tegalan yang ditanami ketela dan palawija. Lumbung Badi dan rumpun-rumpun bambu petung tampak sebagai siluet hitam yang menandakan tapal batas. Terdengar suara sapi dari arah itu pertanda kandang ternak berada di area yang sama.

Di natah, Bapak Bendesa membereskan perkakas tani bersama dua orang anaknya yang tinggi-tinggi. Mengikat arit dan kantong-kantong rabuk ke atas sepeda kumbang. Sementara si bujang yang paling bungsu ditugasi mengeluarkan kandang-kandang ayam ke halaman. Kesemuanya mengenakan penutup tubuh dari kain berwarna alam. .

Bapak Bendesa menangkap kecemasan dari wajah Siska dan menawari anak tertuanya untuk menyusul Badeng ke Hotel tempat mereka menginap. “Ndak apa-apa. Sekalian saya suruh Wayan membeli bibit di Gianyar Kota,” laki-laki tua itu tersenyum hangat.

“Betul, untuk sementara anak berdua istirahat saja dulu. Mandi-mandi. Setelah itu kita sarapan bersama-sama,” imbuh Ibu Bendesa. “Lagipula sudah disiapkan makanan. Kasihan kalau pulang buru-buru.”

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

Pendiangan di dapur mengepulkan asap, menandai kehidupan yang mulai berdenyut di tempat itu. Terdengar bunyi talenan kayu bertalu-talu, diikuti suara daging yang dijerang. Matahari belum terbit benar, tapi Ibu Bendesa dan keempat anak gadisnya sudah sibuk menyiapkan hidangan seperti ada hajatan besar. Dapur itu berdinding paras dengan lantai tanah dan atap genting. Ada tiga buah tungku tanah liat di dalamnya. Menyala oleh kayu bakar dan menebarkan kepulan asap bersama gemeretak bara. Ibu Bendesa bersimpuh di balai-balai bambu, tangannya bergerak cepat merajang bawang merah menjadi potongan-potongan kecil. Sementara menantu perempuannya penggorengan besar berisi potongan-potongan ayam. Tubuh mereka hanya dibalut kain jarik hingga sebatas pinggang, sementara perut ke atas dibiarkan terbuka sehingga menampakkan buah dada.

Kinan membayangkan sebuah masa ketika negeri ini masih bernama Hindia Belanda, lagi, ia terkenang lukisan-lukisan tua koleksi sang kakek: pohon nyiur, sawah bertingkat yang membentang sejauh mata memandang: gadis-gadis berkulit sawo matang yang mengusung sesaji dengan dada telanjang. Desir angin. Nanyian gamelan bambu. Sepasang matanya memejam. Rasanya ia berada dalam ruang waktu yang sama sekali berbeda.

“Mohon maaf ya nak Kinan, kalau membuat anak merasa risih. Tapi kami di rumah memang biasa berpakaian seperti ini….”

“Ndak apa-apa, bu.” Kinan tersenyum lembut. Tangannya bergerak cepat merajang bawang merah menjadi potongan-potongan kecil. “Nenek saya juga orang Bali. Saya sudah biasa polosan seperti ini kok, bu.”

Ibu Bendesa meneleng sangsi. Dan Kinan mengangguk meyakinkan, menyebutkan sebuah marga besar yang membuat keluarga itu langsung menghormat-hormat dan berbicara dalam bahasa Bali Alus Singgih. Kinan hanya tersenyum lembut dan berkata bahwa tidak perlu memikirkan kasta.

“Di sini saya cuma orang biasa, bu. Lagipula kalau memang di desa ini begitu adatnya, saya ndak keberatan untuk menyesuaikan diri,” kata Kinan pelan, dalam Bahasa Bali halus pula.

Pipinya agak bersemu, dan tangan Kinan sedikit gemetar ketika ia menggulung kemben jariknya hingga sebatas perut. Sepasang payudaranya yang montok kini terungkap. Membusung dan menampakkan tajuk-tajuknya yang mengacung.

Ibu Bendesa dan anak-anak berpandangan heran, dan Kinan kembali pada kegiatannya seolah tak terjadi apa-apa.

“Ibu saya, Bibi-bibi dan sepupu saya kalau berkumpul di kampung ya seperti ini semua,” kilah Kinan.

Terbiasa membantu ibunya di dapur membuat Kinan lincah menggerus dan menghaluskan bumbu-bumbu dapur. Sementara Ibu Bendesa mengaduk penggorengan besar yang dipanaskan dengan kayu bakar yang membara.

Plecing Kangkung, Ayam Sisit, Sambel Matah, Pesan Tlengis (Pepes dari ampas pembuatan minyak kelapa), Kinan segera mengenali masakan dari aroma sedap yang membuat air liurnya segera menetes. Lalu ketika batang-batang kayu itu habis menjadi bara dan abu. Santapan penggugah selera itu siap dihidangkan.

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

Siska sedang mencari Kinan ketika iring-iringan itu muncul dari arah dapur. Ibu Bendesa datang membawa rantang, sementara anak-anaknya mengusung bakul nasi dan beberapa perabot makan. Siska agak kaget melihat penampilan mereka yang polos dari pinggang ke atas, dan bertambah kaget lagi ketika melihat Kinan berada di antara wanita-wanita telanjang dada itu!

Siska langsung melotot. Kinan sepertinya cuek saja payudaranya tak berhalang!

Si Montok hanya memeletkan lidah, lucu. Sambil tersenyum-senyum sendiri. Menikmati betul sandiwaranya.

Dan Siska bahkan belum sempat mengajukan protes lebih jauh, karena tuan rumah keburu mengadakan perjamuan di Bale tengah rumah induk. Perutnya belum diisi sejak kemarin malam, dan hidangan tradisional yang mengepul hangat di atas piring besi itu membuat perutnya mengeluarkan sinyal-sinyal pemberontakan.

“Sambil menunggu kakaknya, mari nak sarapan-sarapan dulu. Tapi harap maklum, hidangannya kampung, namanya saja di desa,” kata Ibu Bendesa, merendah.

Siska tersenyum sopan, meski ia juga tahu, hidangan ini istimewa. (Belakangan Siska baru mengetahui bahwa semalam Badeng menitipkan uang dengan nominal cukup besar kepada keluarga itu!)

Pesan Tlengis adalah pepes berisi ampas pembuatan minyak kelapa (tlengis), dibungkus daun pisang, dan dibakar hangat-hangat sehingga aroma bumbu balinya sedap menguar ke hidungmu. Sementara ayam sisit adalah potongan-potongan daging ayam yang dimasak kering dalam campuran bumbu merah dan terasi. Minyak panasnya yang meleleh bersama cabai membuat lidahmu mendecap-decap! Dan bila itu saja sudah membuatmu kepedasan, jangan berpikir untuk terlalu banyak menyendok sambel matah; bawang merah yang dicincang bersama daun bawang, cabai rawit, dan disiram dengan minyak mendidih. Senyawa pedas capsaicin-nya akan membuat lidahmu meledak dalam skala Scoville!

Siska bersimpuh di atas tikar pandan. Nasi putih masih mengepulkan uap hangat ketika bakul bambu itu dibuka. Agak malu-malu anak itu menyendok nasi dan mangambil sejumput ayam sisit bersalut bumbu Bali yang kemerahan ke atas piring besi, tapi belum sempat ia menyuap, Kinan memotong.

“Siska. Di desa ini peraturannya kalau mau makan harus mengikuti ada istiadat yang berlaku!”

“Eh?” Siska melongo tak mengerti.

Sama seperti ketika engkau memasuki sebuah restoran dengan 3 bintang Michelin, di tempat ini pun kau mengenal yang namanya table manner, jelas Kinan, berbohong tentu saja, salah satunya adalah berpakaian sebagaimana layaknya masyarakat di sini berpakaian!

Siska menoleh sangsi ke arah Ibu Bendesa, yang hanya tersenyum kikuk. Siska tahu Kinan 100% berdusta, tapi entah kenapa, ada sesuatu dalam dirinya yang menyambut gembira permintaan itu!

“Oh, ya?” Siska membeliak (pura-pura) polos. “Kalau begitu apa boleh buat,” ia tersenyum dengan wajah bersemu. Tangannya gemetar, membuka jarik penutup dada dan menggulungnya sepinggang. Menampakkan sepasang gundukan kenyal yang mungil. Puting susunya segera melenting terkena udara dingin. Pandangan orang-orang pada bagian tubuhnya yang paling privat selalu berhasil membangkitkan gairahnya!

Ibu Bendesa membelalak, tapi belum sempat ia berkata, Kinan keburu menyela.

“Ndak apa-apa. Biar melestarikan budaya!” sahut Kinan ramah dan menyuap dengan tangan.

“Oh. I-iya… kalau begitu, senyamannya anak saja….,” matanya beralih canggung ke arah payudara Siska yang terbuka.

Siska berusaha bersikap wajar walaupun sebenarnya jantungnya melewatkan beberapa debaran! Huaaah, baru telanjang dada aja udah gini, gimana kalau bugil! runtuknya dalam hati.

“Dulu waktu tiyang masih kecil, hampir semua orang seperti ini,” jelas Ibu Bendesa. “Jaman sekarang sudah semakin jarang yang telanjang dada seperti ini, nak. Malu, katanya. Padahal saya dan anak-anak merasa lebih nyaman ya seperti ini. Polos.”

Kinan tersenyum santai dan menyesap segelas teh hangat terhidang bersama tapai ketan sebagai camilan. Sepiring kecil buah pinang dan batang sirih tersedia untuk dikunyah sebagai pengganti sikat dan pasta gigi. Anak itu mencoba satu.

Bapak Bendesa yang hendak berangkat ke kebun berjalan melewati serambi. Agak terkejut melihat Siska dan Kinan yang juga bertelanjang dada. Bapak Bendesa lalu bertanya apakah tidak apa-apa bertelanjang dada seperti ini? Karena sebentar lagi akan ada tamu lain yang menginap di tempat ini.

Kinan balik bertanya, apakah beliau berkeberatan bila mereka berpakaian seperti ini saja? Sang Tuan Rumah hanya mengernyit heran dan berkata, kalau mereka tidak merasa risih ya tidak apa-apa.

Ibu Bendesa mengatakan tempat ini memang menjadi Desa Wisata. Beberapa wisatawan asing kerap menginap, maka beliau menyediakan beberapa kamar tamu untuk disewakan. Meski sebagian hanya singgah sebelum melanjutkan perjalanan menuju air terjun X.

“Nanti kalau mau ke sana, saya suruh anak saya yang antar. Tapi sekarang manjus-nya di telabah saja.”

Manjus?” Siska bertanya.

“Mandi.” Ibu Bendesa menjelaskan. “Mau ikut?”

Siska mengangguk cepat.

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

Mereka melintas melalui tapal batas menuju kebun cengkeh di pinggir pemukiman. Desa kecil itu berada di ketinggian. Kinan menyadari itu dari vegetasi yang sama sekali berbeda dengan dataran rendah Ubud. Pinus tampak mendominasi, diikuti Spatodia, Flamboyan, Trembesi, dan Kaliandra yang merindangi lereng-lereng gunung. Sementara pohon-pohon kopi membentang menggantikan persawahan dan padi. Daerah Perkebunan, batin Kinan ketika melewati pokok-pokok jeruk yang ditanam dalam baris-baris sejajar. Markisa yang merambat ditanam dengan pergola dari bambu. Buah-buahnya yang ranum tampak bermanik-manik membentuk lorong warna hijau-jingga.

Ada sebuah saluran irigasi (telabah) di antara batang-batang rapat pohon cengkeh. Mengalir dari dam besar di arah hulu, Kinan bisa mendengar suara gemuruhnya di kejauhan. Sebuah aquaduct membelah gunung dan mengalirkan air menuju perkebunan yang dikelola warga. Posisinya yang lebih tinggi dari lembah di bawah, membuat mereka seperti mandi di ketinggian. Beberapa ibu-ibu dan remaja putri sudah berada lebih dulu di dalam aliran jernih selutut itu.

Rasanya seperti berendam dalam infinity pool! Kinan membatin bahagia bersandar santai di tepian saluran. Di bawahnya adalah jurang curam. Kabut tipis masih terlihat mengaput lereng gunung yang menghijau. Matahari mengintip dari pucuk-pucuk pinus.

Dengan segera Kinan menggabungkan diri dengan gosip pagi Ibu Bendesa dan para warga dengan bahasa Bali pergaulan.

“Begitulah bu, namanya juga tekanan kehidupan, jaman jani makin banyak orang setres!” seorang ibu mengomentari tetangganya yang merantau di Denpasar dan depresi.

“Oh iya, betul! Kemaren tiyang dengar malah di seputaran Kedewatan sana ada orang stress yang sampai… maaf… digilir oleh anak-anak kampung!” seorang ibu-ibu kurus menambahi.

“Ya Tuhan! Benaran?!”

“Benar! anak gadis gila yang berkeliaran telanjang bulat!” ia berkata sungguh-sungguh. “Suami saya melihat dia berkeliaran di daerah Ubud dan main-mainin pepek di tengah jalan!”

“Keponakan tiyang di desa Singapadu juga digoda sore-sore! Diajaknya bersetubuh!”

“Lalu?!”

“Ya itu, dia lalu digilir beramai-ramai oleh pemuda kampung.”

“Yang benar? meme ratu…. benar-benar tidak bermoral!”

Kinan ingin menepuk jidatnya sendiri. Rupanya dia tengah menjadi buah bibir masyarakat!

Sementara Siska harus lebih membiasakan diri. Saluran irigasi itu terletak di gigir tebing. Dan tak seberapa lebar. Mungkin sekitar satu meter dengan kedalaman air selutut. Kalau tidak karena airnya yang jernih dan mengalir langsung dari pegunungan, pastilah ia akan mengira ini selokan! Karena tepat di sampingnya adalah jalan tanah yang menghubungkan desa dengan jalan raya, dan berkali-kali penduduk melintas tepat di samping Siska yang tak berbusana.

Agak risih sebenarnya. Warna kulit Siska yang putih dan kontras dengan kulit sawo matang para penduduk membuat mata orang-orang yang kebetulan lewat mau tak mau melirik ke arahnya. Butuh waktu bagi Siska untuk mengatasi debaran-debaran di dadanya. Hingga lama-lama rasa malu itu berganti dengan rasa bangga.

Siska menarik napas panjang sebelum duduk di tepian saluran irigasi. Sepasang tungkainya yang jenjang tercelup. Sementara pinggul dan punggungnya bebas terpampang. Siska menyadari penuh bahwa ia kini mandi di pinggir jalan setapak, tapi malah dengan sengaja mengatur posisi terbaik agar keindahan tubuhnya tereksibisi dengan sempurna!

Sekelompok remaja pria yang berangkat mandi melintas menuju kumpulan bapak-bapak yang berendam di tempat terpisah. Tubuh mereka yang tegap dan sawo matang hanya dibalut cawat kain jarik yang membungkus bagian terlarang di pangkal baha. Serat-serat maskulin para pemuda itu membuat dada Siska berdesir.

Seorang berhenti di dekat ibu Bendesa, berbicara dengan bahasa Bali pergaulan. Berpakaian cukup rapi dengan celana pendek kheki dan kemeja putih bermotif bunga. Berkata bahwa siang nanti tamunya akan datang dari Denpasar.

Selebihnya Siska tak mengerti apa yang dibicarakan, tapi jarak yang tak bersisa terlalu jauh membuat ia yang duduk di tepian irigasi merapatkan paha. Sedapatnya ia mencoba bersikap wajar, menyilangkan tangan kiri di depan dada dan meletakkan sebelah telapak di atas daerah tak berbulu di bawah perut ─seperti adab sopan santun di desa ini.

Kehadiran Siska segera menyita perhatiannya. Pemuda itu menyapa Siska dalam bahasa Indonesia, dan bertanya apakah ia berasal dari sini? Remaja ibukota itu menggeleng.

Jakarta, jawabnya.

Liburan?

Siska mengiya.

Siska sepertinya dengan senang hati meladeni. Pemuda itu pun sepertinya sengaja berlama-lama. Ekor matanya mengikuti lekuk tubuh Siska yang tak berhalang seolah ingin menikmati detil-detil sedap dari tubuh sang remaja ibu kota. Tangan yang disilang di depan bagian intim tubuhnya tentu tidak cukup sebagai penghalang. Tubuh remaja yang tak berbalut benang sehelaipun itu tidak menyisakan apapun lagi untuk ditutup-tutupi.

Tidak malu? Pemuda itu bertanya. Karena saya pikir anak gadis dari Ibukota tentulah risih bertelanjang bulat di tempat seperti ini. Ia berkata.

Kenapa harus malu? Siska tersenyum santai dan menurunkan kedua lengannya, membiarkan bagian depan tubuhnya terekspos sepenuhnya.

Sepasang payudaranya yang mungil kini menampakkan diri bersama bikini area yang tak berbulu sama sekali. Membasah dengan bulir-bulir air di atas kulitnya yang putih mulus. Kontras dengan semak-semak lebat bulu kemaluan ibu-ibu dan para remaja putri di tempat ini.

Siska bahkan tak peduli lagi. Dia malah tersenyum riang, mengangguk-angguk dengan pipi bersemu ketika pemuda itu menjelaskan objek-objek wisata menarik yang terletak di sekitar sini. Lalu di antara percakapan-percakapan kosong itu, dengan serileks mungkin Siska menekuk kaki, memeluk pahanya di depan dada, karena hanya dengan cara ini vaginanya bisa terlihat dari sela-sela kaki tanpa harus melacurkan diri. Siska bisa melihat kilasan mata sang pemuda pada bagian intim tubuhnya.

Hati-hati, Siska menyabuni seluruh kulit dengan batu apung dengan khidmat dan penuh perasaan. Matahari pagi muncul dari pucuk-pucuk pinus, memandikan tubuh telanjang Siska dengan cahaya kuning yang membuat kulitnya mengilat indah. Payudara yang mungil terpampang bebas bagi pengguna jalan yang melintas. Lengkap dengan sepasang puting kecil berwarna merah hati yang mencuat. Jari-jarinya yang lentik membalurkan buih-buih sirih di atas kulitnya yang lembut: leher, pundak, lalu ketika ia menyabuni ketiak, dengan sengaja Siska melipat tangannya di belakang kepala agar bongkahan kenyal dadanya itu terlihat semakin membusung indah.

Siska mengusap payudaranya dengan buih daun sirih, meratakan cairan kental bening ke atas bongkahan mungil yang kini berkilat-kilat erotis. Puting mungilnya kini berdiri tegak tak luput dari belaian erotis: dijepit dengan jari, ikut diusap pelan, bahkan dipilin dengan penuh perasaan. Sementara sebelah tangannya menjangkau ke daerah tak berbulu di bawah sana. Dadanya berdesir menghayati setiap detil-detil kenikmatan ketika jari-jarinya bergerak membelai belahan kewanitaannya.

Siska beringsut ke balik sesemakan, berjongkok di antara semak-semak paku-pakuan, tapi sengaja ia menyisakan celah agar semburan indah air kencingnya terlihat oleh penduduk yang berlalulalang. Lalu Siska merendam diri di dalam aliran sebatas mata kaki, tangannya pura-pura bergerak menceboki.

Kinan tersenyum dalam hati. Dari sudut matanya ia bisa melihat ekspresi sayu Siska. Wajahnya yang setengah bule dipenuhi dengan rona-rona merah muda. Pahanya sudah merentang membuka. Bibirnya yang digigit sesekali menunjukkan betapa anak itu sebenarnya tengah masturbasi.

Siska gemetar dalam diam. Puncak kenikmatan itu tiba dalam kesunyian.

To Be Continude