web hit counter

Sinar Rembulan Part 13

0
319

Sinar Rembulan Part 13

Hari ke Tiga_Renata

Sampai di rumah Renata, kami disambut dengan senyum ibu nya yang teduh dan menenangkan.

Saya paham betul bagaimana Renata dibesarkan selama ini, sehingga muncullah sosok yang penuh kedamaian tapi juga penuh semangat juang yang tinggi. Sosok yang hangat sekaligus sosok yang kreatif.

Paduan yang pas untuk seorang dewi.

Romantis.

Hangat.

Penuh kasih sayang.

Pejuang tangguh.

Kalau ada wanita seperti itu, itulah Renata, sosok yang patut untuk jadi ibu anak2ku.

Sosok yang tepat mendampingiku menjalankan kerajaanku.

Sosok yang hangat dalam kasih sekaligus pemberi semangat.

Itulah dewi pujaanku dalam mimpi2ku.

***

Sarapan bersama dengan kedua orang tua Renata berlangsung hangat, sama seperti sarapan sebelumnya yang aku ikuti.

Tak ada kesan menceramahi, tapi lebih kepada bimbingan dan arahan sekaligus memberi semangat, kadang ungkapan kasih seorang ayah/ibu.

Coba rasakan satu saja kalimat beliau kepadaku.

“Nak Budi, bapak dulu awalnya ga punya apa2 tapi akhirnya bisa berdiri sampai sekarang, sekalipun badai menghadang. Kamu memulai usahamu jauh lebih mapan dan kuat dari segi modal, baik dana maupul sumberdaya.

Ha ha ha…

Dibantu 5 orang gadis dengan kualifikasi hebat, tentunya modal yang sangat berharga, jauh melebihi modal dana berapapun, kalau kamu bisa mensinergikan kekuatan 5 orang ini, kamu bisa kuasai dunia.

Ha ha ha…

5 orang gadis…. Gila

Bapak saja cukup ibumu ini sudah berani menantang dunia, masa kamu ga berani ?

Masalahnya, jika kamu tidak berhasil menyatukan mereka, kiamat menunggu usahamu. Jadi…. Berhati2lah…

Bukan kepada siapapun tapi pada dirimu sendiri nak Budi, sebab bersatunya atau pecahnya 5 orang ini sangat tergantung pada dirimu bisa atau tidak mengalahkan dirimu sendiri”

Luar biasa….

Ada putrinya disana…

Ada istrinya disana…

Dengan ringannya semua disebut, seolah 5 orang calon istriku itu pasti jadi istriku semuanya.

Satu kalimat mengena dilubuk hati semuanya.

Aku
Renata
Ibunya
Sekaligus.

Menantangku, menenangkan ibu Renata dan Renata sekaligus.

Dengan kata2 yang ringan dan sambil bergurau..

Aku membayangkan bila aku berada dalam posisi anakku hendak dimadu, susah payah sekali…

Itulah bapak Renata, yang bijaksana.

Sungguh tepat aku mengikuti kata hatiku untuk melakukan sarapan pagi di rumah Renata.

***

Kembali beraktifitas seperti biasa, mengantarkan Renata sambil berbincang sepanjang perjalanan benar2 mengurai emosi menghadapi kemacetan kota Bandung yg semakin parah.

Kalau dengan Tiara, kami saling mengenal secara badaniyah dan rasa…

Dengan Wanda kami berusaha mengubah rasa dari saudara menjadi kekasih.

Dengan Renata kami sudah seolah kekasih yang sedang menjajagi kemungkinan lebih jauh sebuah hubungan.

Menjajagi kesamaan pemikiran, atau tepatnya keselarasan berfikir kami.

Menjajagi kemajuan rasa sayang dan cinta kami dengan cara mendekatkan diri atau mungkin lebih tepat kalau disebut keserasian langkah dan rasa kami dalam hidup.

Dengan Renata, aku diajak menggapai mimpi yang lebih jauh ketimbang utusan ragawi semata.

Itulah kelebihan dan sekaligus kelemahan hubunganku dengan Renata….

Lain padang lain belalang…

Lain meki lain cengkramannya.

Ha ha ha ha….

***

Aku janjian pulang bareng agak sorean…

Ok ok saja, toh tugasku sudah agak ringan sekarang setelah kemarin lembur sampai malam.

Bukan hendak kemana2 melainkan hendak melihat lokasi tanah yang akan jadi calon pusat kantorku.

Ga jauh2 masih di bandunglah.

Agak ketimur.

Di bilangan dekat jalan Soekarno Hatta dekat bundaran cibiru.

Daerah yang full macet kala pagi dan petang, luar biasa kemacetan di kawasan ini, hampir sepanjang pagi dan sepanjang petang selalu ramai kendaraan lalu lalang, sampaipun tak ada tempat buat motor sekalipun utk nyaman berkendara, apalagi mobil.

Aku tahu kenapa Renata berusaha membeli disini, kami semua memutuskan begitu memang, alasannya sepele, karena harganya masih relatif murah dibanding wilayah2 lainnya yg sesuai utk berbisnis dan ke depan daerah ini merupakan daerah premium yang akan diburu orang karena adanya fasilitas2 yang dibangun nanti

Ada kereta api cepat, stadion, masjid raya bahkan pintun tol juga, inilah alasan kami sesungguhnya. Kami melihat prospek yang luar biasa di daerah ini.

Jauh lebih bagus dengan puat kota bahkan nantinya.

***

Di kantor, aku tak melihat Mbak Tiara, ha ha ha secara panggilan aku memang berusaha utk selalu sadar.

Dirumah atau di luar kantor aku panggil sayang, namun di kantor berbahaya. Sebenarnya sih sudah ga masalah kala kemaren aku membuka kedok para penghianat bapak Tiara, Bapak Wibowo membuka kedok Tiara dan termasuk diriku sebagai anak dan calon menantunya yang dia akui. Tapi khan ga pas kalau saya panggil sayang di kantor khan…?

Ha ha ha

Ga enak sama yang suka coli in mbak Tiara sih, takut diguna2 soalnya ha ha ha.

Masih beberapa hari Bagas dan Ayu pulang.

Dalam pesan ku terakhir kemaren aku sudah mengatakan bahwa “tikus sudah masuk perangkap”

Artinya mereka silahkan berbulan madu saja.

Sebenarnya Bagas dan Ayu memang sudah jadian disana, sejak hari pertama disana.

Selama ini Bagas mau nembak ga enak sama aku, setelah Ayu membuka jati dirinya dan tugasnya dari mbak Tiara utk menggodaku dan tak mungkin merebut aku dari mbak Tiara, maka terbukalah semua belenggu Bagas utk berani menembak Ayu.

Jangan tanya menembaknya langsung pake kuda2an atau acara roman2an, mana aku tahu begituan. Cuma aku salut dengan Bagas, masih menerima Ayu apa adanya.

Semoga saja mereka berdua langgeng sampai ke jenjang pernikahan.

Itu saja do’aku buat mereka berdua.

Secara kemampuan, Bagas sangat luar biasa, sebab dialah yang membantuku membuat virus dan mengeksekusi banyak progran2 pilihan utk diajukan dalam proposal.

Bagas juga berjiwa pemimpin dan humble. Banyak orang suka padanya dan bisa menerima dia sebagai koordinator acara2 di kantor.

Bagaslah yang aku hendak promosikan sebagai Manajer pengganti ayu. Dan itu harus dipersiapkan sejak sekarang.

Rancangan kegiatan2 utk mengorbitkan Bagas sedang kami susun. Itulah kenapa kami pulang malam kemaren, tepatnya aku pulang malam kemaren. Sebab Tiara memang aku suruh pulang duluan untuk tidak membuat yang lain curiga dan cemburu, selain juga untuk menjelaskan urgensinya aku lembur

Hari ini Tiara, eh mbak Tiara memang tugas luar.

Ada beberapa deal2 yang kami buat untuk proses produksi unggulan kami tahun depan. Kami yakin benar bahwa, tahun ini akan benar2 menjadi milik kami.

Kami bukan hendak membuat barang baru, tapi hanya membuat perbaikan dr barang lama kami selama ini, tak kurang dari 17 item produk yang akan kita launching. Luar biasa bukan ?

Ah itu belum seberapa, sebab 17 item itu akan kami launching bersamaan dalam acara yang super mewah. Plus kami akan secara eksklusif melaunching 3 produk unggulan yang baru.

3 produk inilah yang kami buat secara terpisah part2nya di 4 perusahaan lokal rekanan kami, dan akan kami assembli/rakit secara internal.

Setiap item, kami pecah menjadi 3 part sehingga seolah kami membuat 12 produk baru. Dan biasanya mereka, para plagiator akan memakan umpan dan membuat tiruannya….

Dan itulah keunggulan produk kami, karena masing2 part nya bisa berfungsi maksimal secara mandiri

Ha ha ha….

Kami yakin, begitu kami lounching produk kami, para penjiplak akan jebol kantongnya, sebab setiap part tak akan bisa digabung tanpa connector yang kami rancang khusus dan kami produksi secara terpisah lagi di tempat yang tersembunyi….

Ha ha ha…

***

Pukul 3 sore, aku sudah berkemas, mohon ijin kepada Bapak Dirut yang merangkap jabatan sekaligus Direktur Teknik.

“Assalamu’alaikum Bapak”

“Eh… wa’alaikum salaam, sini ngger sini, ada apa tho ?”

“Saya mau mohon ijin pulang sore bapak, soalnya saya hendak menengok tanah yang akan kami beli utk jadi markas kami”

“Walah dalah, yo ngger….

Arep tuku nang daerah ngendi kowe ngger? “

“Saya mau beli di sekitaran gedebage pak”

“Waah cocok kuwi, murah meriah prospeknya tinggi, cukup ra duitmu ngger, lek ra cukup jo wedi njaluk yo ngger”

“Waduh, jangan sampai saya minta lah bapak, insyaAllah saya terbiasa bermimpi sesuai isi kantong saya, mudah2an bisa bapak, mohon do’a restunya”

Sambil aku minta restu, aku cium tangan bapak Tiara, beliau menerima sungkemku, dengan berkaca2 beliau mengelus2 kepalaku.

“Urip ki sing ati2 yo ngger, bapak selalu mendukungmu, secara keluarga kowe ki sik keponakanku sejatine. Aku iki isih pakde mu ngger, dudu wong liyo”

“Inggih pak de, eh bapak, saya mohon pamit”

“Ha ha ha, ojo nyeluk pakde yo ngger, iso2 awakmu dianggep nolak Tiara, iso pedhot iku wetengmu dicubit Tiara nanti, ha ha ha

Ya kamu berangkat saja, do’a dan restu pakde buat kamu selalu ada”

“Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikum salaam”

***

Tepat jam 3.30 aku sampai di depan kantornya Renata, tepatnya warung samping depannya kantor Renata. Biasa ngopi lah…

Lumayan sambil ngerokok, ngopi sachet itu nikmat lho..

Ha ha ha

Apalagi melihat cewek2 cantik lalu lalang, beuh bener2 warung ni kayak di cafe2 saja.

Harga kaki lima fasilitas cuci mata ala Cafe…

Top ngga ?

Banyak rombongan gadis cantik, dengan rok pendek lalu lalang, beberapa diantaranya ada yang tersenyum padaku, sebagian lagi malah ada yang kasih cium jauh bahkan..

Ha ha ha.

Gadis jaman sekarang memang paham emansipasi kok, main hajar saja.

Tiba2 ada yang menjewer kupingku…

“Waaaaddaooowww…..”

“Gitu ya, main ganjen disini, rasain kamu mas, nanti tak bilangin ma yang lain, uhhhhh”

“Waadddoouuh… duh sayang sakiit sayang aduuuuh”

Bener2 nih si Renata, kalau lagi cemburu luar biasa kejinya…

Ha ha ha…

Beda ma si Tiara, dia malah minta si sahabatnya Ayu menggodaku pake nempel2in susunya lho.

Ini si Renata, baru dikasih senyum cewek lain saja sudah meledak….

Ha ha ha…

Lumayan sih telingaku agak panas juga…

Sebenarnya sih ga sakit2 amat lah, cuma kalau ga teriak khan ga kelihatan mesra

Ha ha ha

Itu cewek yang senyumin aku, kontan tertawa terbahak2 melihat ku takluk dijewer ma Renata.

Kata ibu,

Wanitamu akan luluh kalau dia terlihat bisa menguasaimu didepan wanita lain.

Trik ini manjur lho…

Ha ha ha…

Renata kelihatan bangga sebagai pemilik syah diriku di depan wanita lain.

Kekejamannya hilang musnah…

“Duh sayang, sakit ya….

Sini sayang aku tambahin lagi ya, biar ga tambah nakal”

Waddoooow…

Ibu…

Ibu salah beneran salah…

Teorinya ga mempan sama Renata, terbukti sekarang perutku dicubit mesra sampai kaya dicapit kepiting…

“Emmm enak ga sayang ?”

“Sakit sayang, sakiit betulan nih sakit”

Eh malah ditambah tenaga capitan kepitingnya,

Waaadddaaaaooowww….

“Emmm enak saaayaaaaangg…eenaaakksss sseekaliii”

“Mmmm, enak ya, mmm nanti lagi ya…?”

Wah…

Gawat, resep ibu kaga mempan, lha dia wanita ga bakalan paham jurus lelaki lah.

Harus pakai jurusku nih, maaf ibu, bukannya merendahkan, tapi kayaknya jurus ibu kurang cocok buat Renata.

Ha ha ha

Sambil tertawa aku balik badan menghadap Renata, garuk2 kepala kemudian memeluknya dan menciumnya didepan khalayak ramai…

“Muuaaach…. Duh sayang ku, dewi pujaan ku yang tercantik, maafkan mas mu ya….”

Sambil berkata lebay aku tetap memeluknya.

Wah ha ha ha

Renata langsung kaku kejang badannya. Tak menyangka aku peluk cium di keramaian begitu.

Malah diiringi tepuk tangan khalayak memuji keberanianku.

“Ihhh maasss, apaan sih ini?”

“Lha ini bukti cintaku padamu sayangku yang tercantik seluruh jagad”

Renata tak berkutik, dia terpaksa menyembunyikan mukanya didadaku…

Dan akulah pemenangnya sekarang…

Ha ha ha

***

“Sayang, ini jadi mau ke gedebage atau pelukan disini saja…”

Sambil kukecup keningnya…

Dimatanya sudah tak terlihat orang lain sama sekali…

Dia sudah mutlak menjadi gadisku sekarang…

Tak ada rasa malu memilikiku di tempat ramai…

“Hi hi hi ayolah sayang, kita kemon”

***

Rembulan seolah bersinar kala aku peluk dirinya menuju parkir mobil yang “sedikit” melanggar aturan main.

Kalem we bro…

Itu tukang parkir kaga bisa marah2 padaku…

Secara kewilayahan kota Bandung ada di genggamanku sekarang, ha ha ha.

Soalnya boss nya preman saat ini ya akulah…

Kok bisa ?

Jangan tanya…

Itu satu episode sendiri nanti tak ceritain.

Aku naik mobil, aku panggil tukang parkir nya…

“Bro… amankah ?”

“Aman boss, nih bro ingat2 bini gua, kalau ada yang macem2 hajar we ya bro”

“Siap boss… laksanakan”

“Ha ha ha ok boss, ini ada rejeki, makan2 sono sama yang lain ya”

“Duh boss, ga usah boss…. Maksih”

“Hei… ambil ga usah mikir, ini perintah, salam ya nanti sama kang Ajum, besoj minggu gua mau mancing, dia suruh siap2 aku mau ajak dia, kalau ada yang mau iku ikut sajalah”

“Siap boss…”

“Ok gua cabut dulu ya”

“Siap boss…”

***

Jangan tanya Renata bingungnya segimana, jelas2 dia bingung lah.

Aku yang seolah cowok lemah ini bisa perintah2 para preman…

Bengong saja Si Renata sampai aku elus pipinya..

“Sayang, kenapa kok bengong sayang..?”

“Jadi benar kata mbak Tiara, mas punya kawan preman ?”

“Ha ha ha iya sayang, tepatnya anak.buah preman…

Itu gara2 kamu lho sayang?”

“Kok aku…?”

“Ingat ga waktu itu kamu pernah hampir digodain preman sayang?”

“Mmm waktu itu sudah temenan sama mereka?”

“Husss…. Kamu ni negatif thinking deh, ha ha ha masa masmu ini ada tampang preman sayang ? Lagian apa untungnya buat mas mu ini pura2 bantuin kamu kalau terus pergi ga pakai kenalan ?”

“Hi hi hi iya yah, waktu nabrak kapan itu mas lupa sama wajah Ranata khan, mas nya memang baik deh, nolong orang ga pake pamrih hi hi hi”

“Nah selesai ngantar Renata, mas diajak ketemuan mereka dipojok jalan sekitaran rumahmu, dikeroyok 5 orang sayang”

“Heei ada kisah begitu mas ?”

“Iya sayang, secara kamu ini cantik incaran boss preman situ, aku dianggap menghalangi maksud boss mereka”

“Iih beneran mas?”

“Iya sayang, kamu ini merasa ga sih, kalau punya wajah luar biasa cantiknya bak bidadari, mas heran saja kok mau2nya kamu sama aku sih sayang ? Yang culun dan kayak anak mami?”

“Iih mas, gitu deh, lanjutin ceritanya”

“Singkatnya, mereka berlima maa kalahkan sayang, kemudian boss nya ga terima, ya mas ladeni, soalnya takut Renata sang dewiku kenapa2”

“Sampai ujungnya bossnya si boss tadi juga mas kalahkan, jangan tanya bagaimana ya mengalahkannya, pokoknya mas bisa ngalahkan mereka deh, sampai akhirnya mereka semua tunduk deh

Mas diangkat jadi ketua mereka, cuma mas kaga mau, jadi penasihat sajalah akhirnya.

Semua jabatan preman level menengah ke atas di Bandung kenal mas mu ini lho Renata, dan kamu sejak saat itu juga dikenal sebagai pacarku dikalangan preman, makanya ga akan ada yang berani ganggu kamu.

Itu yang mas lakukan agar kamu tak ada yang ganggu lagi, cuma kadang2 ada lucunya…

Pernah ada laporan, bahwa ada cowok ngedeketin kamu sudah di”aman”kan.

Ha ha ha, pokonya sejak saat itu ga akan ada cowok deketin kamu lah kalau ga mau diancam sama mereka.

Sampai aku tahu gara2 laporan tadi, aku marah2 lah, bukan itu maksudku membantu kamu.

Ada sekitar 1 tahunan setelah aku nolongin kamu itu kajadiannya.

Baru setelah aku jelaskan semuanya, kalau kamu itu sebenarnya masih saudaraku, baru mereka ga berani mengancam yang deketin kamu.

So sorry ya Renata…

Dah lama aku pengen jujur mengatakan ini, cuma aku mana berani menghadap sang dewi pujaan..

Aku aslinya sampai saat ini masih grogi lho ma Renata, soalnya cuantiikkk pake banget banget banget… “

“Iii hh masss…. Makasih ya mas…
Renata makin sayang sama mas…

Soal yang ngedeketin Renata memang banyak, diancam ga diancam ma preman2 itu, hati Renata sudah buat mas sejak kejadian itu

Makanya pas ibunya mas kerumah ngobrolin soal perjodohan, Renata langsung setuju tanpa nanya2 apapun ketika tahu yang akan jadi jodoh Renata ya mas ku ini… “

“Duh….gusti….

Matur nuwun sanget…. Alhamdulillah ya Allah

Makasih ya sayang telah menjadi bagian dari cerita hidupku, cuma mas mu ini masih belum puas kalau urusan hutang budi ini belum impas. Mas ga mau, punya istri gara2 hutang budi atau dijodohkan.

Ga papa khan sayang ?”

“Iya mas…. Yang jelas Renata makin sayang saja mas”

Sempurna….

Rasanya benar2 sempurna kalau bisa memiliki istri dan ibu anak2ku kaya Renata…

Sungguh luar biasa…

Bermimpipun sejatinya aku tak berani sejauh itu.

***

“Eh, Renata, ini sudah dekat lho, kamu tahu lokasinya kah?”

“Tahulah mas…. Ikut arahan Renata saja ya mas…”

“Ok boss”

Setelah berkelok2 sesuai arahan Renata, aku sampai pada suatu lahan yg cukup luas.

Hampir 15000 meter persegi.

Persis dipinggir jalan besar menuju suatu perumahan terkenal di bilangan gedebage.

“Wwwooooaaa…. Ini mana cukup duitku ya Renata ?”

“Hi hi hi….

Ini tidak bisa dibayar dengan duit mas….?”

“Lha bayarnya pake apa? Menari telanjang ?”

“Hiisss, mas ini senengnya mesum deh”

“Lha gimana tanah seluas ini dilokasi premium begini menghabiskan semua tabunganku juga ga akan cukup lah Sayang… mas cuma realistis saja kok”

“Hi hi hi….

Ini statusnya tanah hibah buat mas, hibah dari Renata buat calon suaminya. Anggap saja ini perwujudan rasa sayang Renata mas.

Tanah ini Renata beli waktu masih SMA mas, Renata bikin buku yang best seller, hi hi hi bukunya unyu2 punya khas remaja mas. Masih murah dulu mas.

Eh tahunya lebih dari sejuta eksemplar lakunya, dapat royalty gedhe mas, sama ibu dibelikan tanah ini, biar ada kenangan buat Renata bahwa tanah ini adalah hasil Renata berkarya”

Aku cuma bisa bengong saja…..

Seperti mimpi yang benar2 mimpi….

Seperti bukan lagi hidup memijak bumi….

Dikaruniai gadis cantik seperti Renata dengan segala kecantikan dan kehebatannya saja sudah merupakan hal yang diatas mimpi….

Beyond my imagination….

Ini plus dengan rasa sayangnya…

Pengorbanannya….

Mana sanggup aku terima….

“Mas….. Mass….. MAS….”

Renata akhirnya sedikit memekik memanggilku, karena sekian lama aku benar2 bengong tak bisa berkata2 bahkan seolah aku tak bisa merasakan lain selain keharuan….

“Duh sayangku, cintaku…. Pujaan hatiku, bagaimana masmu bisa menerima ini semua ? Sedangkan mas ini dibandingkan kamu jauh berada di bawah…

Mas mu banding kamu itu ibarat pungguk merindukan bulan….

Duh….

Renata… sayangku cintaku….

Maafkan masmu ini, mas mu tak sanggup menerima hadiah ini darimu…

Duh sayangku cintaku…. Terima kasih ya sayang”

“Hi hi hi, mbak Tiara sudah menyangka mas kalau mas tidak akan mau terima tanah ini cuma2. Kemaren kami sepakat utk tidak mau menerima saham kosong mas.

Kami semua bukan cewek kosongan yang tak punya uang dan kami tahu persis kalau uang mas bakalan kurang untuk membuat sebuah perusahaan sesuai dengan bisnis plan yang mas rencanakan kalau belum2 sudah kita habiskan untuk menggaji 6 orang direksi.

Belum manajernya belum lain2…

Maka, kami semua sepakat setor modal sesuai dengan jumlah saham yang mas setorkan. Jadi perusahaan ini kala diresmikan akan memiliki modal awal sekitar 75 M.

Hi hi hi, utk modal yang Renata setor ya dinilai dari tanah ini mas…

Renata cash ga punya segitulah…

Dengan catatan mas…

Ingat dengan catatan…

Itu semua hutang yang mas tanggung kalau perusahaan dah maju. Ini bukti kami membayar hutang budi ke mas….

Sekarang sudah impas khan…

Hi hi hi

Harga tanah ini sudah didiskusikan dengan penaksir (appraisal) asset profesional. Harganya ditaksir dikisaran 10 sd 12 M mas.

Ya plus plos lah dengan uang yang harusnya disetor. Hi hi hi”

***

Duh….

Malunya diriku….

Aku terduduk diam tak bergerak…

Penjelasan Renata bahwa para gadisku ternyata begitu banyak mau berkorban membuatku merasa malu.

Melihatku diam…

Renata memelukku dalam diam dari belakang.

Begitu saja yang dia lakukan.

Tak lebih dan tak kurang.

Kepalanya direbahkan ke punggungku…

Sepele saja pelukan itu….

Namun benar2 telah mengangkat semua rasa bimbangku…

Renata benar2 calon istri yang luar biasa….

Pemikirannya jauh kedepan…

Kreatifitasnya begitu membahana…

Tapi keanggunannya adalah segala galanya…

Kecintaannya diwujudkan dengan pengabdian yang tak terbatas….

Aku manangis….

Terguguk….

Merasa malu kepada semua gadisku….

Betapa pongahnya aku selama ini….

Aku masih menangis….

Renata masih memelukku dalam diam…

Kami benar2 menyatukan hati dan rasa kami akhirnya….

Menambal lubang2 rasa…

Menyulam bagian2 yang kurang….

Kami menyatu dalam diam…

Jiwa raga kami sudah menyatu….

Tanpa sex sama sekali….

Lejitan cintaku melebihi kepada siapapun ke Renata…

Rasa sayangku begitu membuncah luar biasa…

Hanya dengan pelukan dalam diam dengan kepala rebah di punggungku….

Itulah Renata ku yang luar biasa…..

***

“Sudah nangisnya mas ?

Bisa2 kalau teman2 premannya mas tahu mas nangis, besok langsung dipecat mas….

Hi hi hi”

Renata ku

Ya, Renataku lah yang akhirnya menceritakan betapa masing2 telah berbuat yang terbaik untuk dipersembahkan padaku. Tak ada rasa cemburu kala menceritakan bagaimana Tiara dan Wanda menyiapkan perusahaan dengan segala kemampuanya…

Bagaimana kala Santi dan Sinta siap2 meninggalkan membahananya restoran plus cafe nya yang sudah berpuluh cabang di banyak kota.

Santi dan Sinta adalah pengusaha sejak mereka masih kuliah dulu, dan itu siap2 akan dileburkan ke dalam perusahaanku nantinya aebagai wujud pengabdian kepadaku…

Santi dan Sinta….

Tak tahulah rasanya bagaimana aku kala menyebut nama mereka.

Sebenarnya aneh rasanya kala menyebutkan nama mereka, soalnya aku ga paham apa2 tentang mereka selain ingatan masa kecil dulu.

Mmmm…

Entahlah…

***

Eh….

Ada kang Ajum datang dilokasi tanah yang aku kunjungi….

“Assalamu’alaikum pak boss”

“Wa’alaikum salaam kang Ajum, naha akang kamari ayeuna. Apan mancingnya baru Minggu besok ha ha ha”

“Ieu boss, akang dipiwarang ku si kentang, si boss kamari, ya datang lah masak ga ngadep, kuwalat atuh boss….”

“Ha ha ha, ieu kang tepangkeung, calon istri saya kang ?”

“Ha ha ha, tah apa saya bilang, moal mungkin cuma saudara hungkul, pasti ada apa2nya nih sama si eneng itu, neng, abdi Ajum anak buahnya si akang boss, bilih aya nenaon, tinggal bilang saja neng ha ha ha

Iraha uandangan disebar kang?”

“Duh kang Ajum, ieu nuju lieur mikir mau usaha kang, ieu abdi bade ngabangun kantor didieu kang, engke tolong bantuanana nya kang “

“Siap2 boss pokokna mah aman we, tahu beres lah”

“Siip kang, minggu kumaha ieu? Mancing urang mancing di jatigedhe nya kang? Eh pancing belum siap euy, nanti deh aku beli dulu, kumpul di rumah akang nya”

“Siap pokokna mah, pancing jeung umpana pokokna beres… Sarapan di rumah kang Ajum saja ya”

“Duh…moal wantunen kang, eta bini bisa ambeg2an kalau sarapan dirumah orang mah…
Susah…. Ha ha ha”

“Siap lah boss…. Akang tunggu ya dirumah boss”

“Mantaap, ok kang, saya pulang dulu ya”

“Mari kang Ajum, saya pulang dulu, eh entar mancingnya jangan lama2 ya kang, pokokna mah jam 5 sore mas Buas harus sudah di rumah”

“Kwkwkwkw….. Siap neng, pokokna mah percaya sama akang, si Mas Buas ha ha ha, meuni enakeun manggilna euy… pasti aman deh, jam 5 balik tanpa kurang suatu apapun,
Ha ha ha, mangga boss Buas….. Ha ha ha”

“Ha ha ha, kang eta panggilan kesayangan istri ane, jangan dibuat ketawaan ha ha ha”

“Eits…. Ha ha ha siap bosss pokokna siap we lah ha ha ha”

***

Sebelum pulang, kami mampir beli martabak kesukaan ibu, di Metro, dipinggir jalan sih, cuma enak memang…

Selera hotel bintang lima disajikan di kaki lima deh pokokna.

Hari ini benar2 mengalir saja semuanya, lihat lokasi ok, persiapan keamanan ok punya…

Tinggal jalan

***

Duh para gadisku memang joss gandoss….
Sebenarnya aku beneran ga paham apa yang mereka lihat pada diri ane… ya?

Edaaannnnn…..

Kayaknya mereka kena virus edan deh…
Mau ama yg lebih kere…
Mau dimadu…
Mau mbandani (membiayai)…
Edaaannn iki pastine…
Ah ga tahu lah…

***

Kami berdua masuk rumah bergandengan tangan, tepatnya tiara memeluk tanganku sambil kepalanya didebahkan ke bahuku

Ibu dan para gadisku lainnya terrsenyum melihat keakraban kami, jauh dibanding saat berangkat…

Ha ha ha…

Renata mencium tangan ibu, kemudian memeluk calon madunya, cipika cipiki, aku juga cium tangan ibuku…

Kemudian memeluk gadisku satu persatu…
Sambil mencium bibir mereka tipis satu2…
Dan tetap saja belum dapat feel nya dengan Sinta dan Santi…

Beuh ya sudah lah nanti juga bisa, kalau bisa lho…

***

Makan malam yg penuh gembira, bukan apa, ternyata pengurusan pendirian Perusahaan yang biasanya ribet ge ketulungan ternyata bisa cepat diselesaikan oleh Wanda.

Wanda ku memang joss soal beginian.kemampuannya mengurus dan mengatur tak perlu diragukan lagi. Sejak kuliah dulu Wanda memang sudah punya penghasilan, tadinya kukira kelas receh, ternyata…

Beuh omzetnya milyaran setahun…
Asset2 Wanda pribadi juga lumayan banyak, setidaknya Rumah dia punya beberapa dikontrakin semua ke expatriat (pekerja asing)

Bener2 jiwa usaha nya teruji…

Ha ha ha…

Ngenes aku…

Kayaknya yang omongnya besar dan paling ga bisa ya aku ini…

Ha ha ha…

Sedihnya…

Ternyata para gadisku sudah paham soal membuat perusahaan, bisnis plannya harus bagaimana action plannya bagaimana bahkan bukan sekedar teori kaya aku…

Praktek mereka sudah teruji…

Yaahhh….
Malunya itu lho….
Ha ha ha ha….

Kalau boleh melarikan diri jelas2 aku mau lari lah…

Ini yang buat aku semakin ga paham, kenapa mereka sebegitunya padaku…

Apa yang mereka lihat dariku ?

***

Rupanya posisi akward bin memalukan bin menyesakkan dada dan penuh kekakuan diriku dilihat secara bijak oleh Renata….

“Mas… ngantuk nih, yuk ah tidur….”

“Cieee…. Masih sore Nat…. Hi hi hi “

“Hi hi hi tau aja kalian nih, dah pengen tahu… hi hi hi”

Busyet dah….

Renata benar2 bidadariku.

Bidadari yang paham diriku luar dalam….

Betapa masuk kamar adalah pilihan yang terakhir baginya, rasanya kalau Renata boleh memilih yakin deh dia bakalan pilih tidur sendiri.

Cuma karena aku dalam keadaan “terpuruk” dia memaksa aku masuk kamar sekalipun itu bukan inginnnya dia…

Lagi2 Renata dengan kelembutan rasanya bisa paham apa yang aku mau tanpa sentuhan tapi tetap saja hatiku penuh kehangatan olehnya…

Renata adalah dewi kelembutan…

Dimana tatapan matanya sanggup melunakkan singa buas sekalipun…

Dan aku takluk…

Benar2 takluk padanya

***

Ceklek…..

Pintu terkunci…..

Aku benar2 ingin mengungkapkan terima kasihku…

Kupeluk dirinya, kusampaikan segala resah lewat pelukan…

Renata cuma tersenyum sambil mengucak2 kepalaku perlahan…

Seolah sedang ingin menyampaikan tak apa2….

It’s ok….

It’s ok…..

Jiwaku melayang memandangnya….

Dialah dewiku, yang pantang aku sentuh tanpa ijinnya….

“Aku mandi dulu ya….”

“Mmmm…. Nanti aku siapkan bajunya mas”

“Ya ga usah juga ga papa….”

“Husss… mas nya mandi saja sana deh”

“Ok… ok…”

***

Tak ada apa2 lagi, semuanya berjalan seolah kami ini memang suami istri sejak lama, tak ada yang menggebu2 dalam sentuhan fisik. Tapi isyarat2 batin dan rasa sangat kental.

Sepanjang malam kami berbincang banyak hal.

Obrolan2 ringan yang seolah kami ini orang kebanyakan, bukan calon pemimpin perusahaan.

Soal makan di warung tegal.
Menu di pujasera depan kantor.
Warung kopi langgananku di depan samping kantornya.
Soal sandal jepit
Soal kaos singlet…

“Mas…. Sini deh, bobo sama Renat…”
Aku bengong…..
Aku bingung…..
Otakku konslet….

Bruukkkk

“Mas nya pasti mikir mesum ya…. Hi hi hi”

“Lha diajak bobo dewi cantik gimana mikirmya, beneran kaget tadi…. Shock berat. Ha ha ha”

“Mas sini peluk Renat…. Terus tidur, Renat pengen disayang2 sama mas”

“Oala…. Gitu toh…. Hayuk lah siap kalau gitu”

“Hi hi hi….. Siap2 kayak mang Ajum”

“Ha ha ha… iya ya….”

Kami melanjutkan bercengkerama di tempat tidur sambil berpelukan…

“Mas…. Renat ngantuk mas….”
“Muach, sok atuh bobok sambil peluk mas”

Kemudian Renata merebahkan dirinya di dadaku, kepalanya tepat dibawah bibirku.

Dengan penuh kasih aku mengusap kepalanya

Kukecup keningnya…
Tanpa rasa birahi…
Hanya rasa sayang….

“Renata sayang dan cinta banget sama mas……”

Suaranya tipis lamat2 entah mimpi ntah beneran, nafasnya perlahan persis orang tidur…

“Mas juga sayang Renata, cinta banget “

“Mmmmmmm”

Sejenak kemudian akupun turut tenggelam dalam mimpi…

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part