web hit counter

Sinar Rembulan Part 17

0
295

Sinar Rembulan Part 17

Masih Sinta Santi

Ternyata aku terbangun lagi, tepat lewat tengah malah dan mulai mendekati waktu subuh.
Entah kenapa tiba2 aku terserang perasaan ga enak seolah ada sesuatu yang memanggilku.

Pagi itu tepatnya dini hari itu, aku mandi jauh sebelum subuh, lagi2 entah kenapa aku ingin ke masjid….
Dosaku hari2 ini benar2 membuat hati ini agak suram cahayanya…
Dosa ? Ntahlah…
Harusnya sih iya….
Tapi ntah kenapa aku seolah terseret arus untuk menikmatinya, dan menyenanginya….

Sudah lama aku tidak sholat malam juga….
Sudah lama aku tenggelam dalam lesenangan….
Lepas ini soalannya suka sama suka atau apapun tetap saja ada yang tidak pas di hati…

Dini hari sebelum Subuh itu sungguh syahdu….
Aku keluar rumah setelah sekian lama tidak ke masjid…
Ini semacam kembali lagi ke asal…
Mencoba mencari titik dimana aku merasa nyaman dulu. Dengan lari menuju keharibaan ilahi lewat lantunan do’a2 dan segala pujian.

Dini hari menjelang Subuh ini begitu indahnya….
Entah kenapa baru hari ini ya aku ingat lagi untuk ke masjid ?
Entahlah, yang pasti aku ini manusia pendosa, jauh lebih banyak dosa yang kuperbuat dibanding pahala. Dan aku tak akan menyangkal itu semua.

Berjalan menuju masjid kali ini seolah penyegaran badan dan jiwa secara bersamaan…
Anggap saja olah raga.

“Nak, ke masjid lagi ?”

Suara itu begitu lembut ditelingaku dan sangat kerindukan, aku menoleh kebelakang….
Ada sosok yang aku rindukan selama ini, sosok yang entah siapa namanya, aku hanya memanggilnya Abah. Entah berapa umur beliau, yang pasti sejak aku kecil dulu, wajah beliau selalu sama.

Pertama kali berjumpa beliau saat aku benar2 marah dan terpuruk, kala ibu menangis di depan banyak orang gara2 bullyan atas namaku di atas panggung. Malam dihari itu aku benar2 tak dapat tidur sama sekali.

Entah pukul berapa kala itu, yang pasti lewat tengah malam, aku keluar rumah saking panasnya dada ini. Orang boleh menghinaku silahkan. Tapi jangan membuat menangis ibuku. Hal itu sungguh aku tak terima. Benar2 tak terima, masalahnya adalah aku harus marah kepada siapa? Apa ya harus marah kepada semua orang yang ada di acara penghargaan atas prestasiku ?

Dalam rasa pepat di dada dan penuh hawa amarah aku keluar rumah dan entah kenapa kakiku melangkah menuju ke masjid. Dan tiba2 ada suara halus menyapa dari belakang.

“Cep, mau kemana malam2 begini ?”

Seolah terhipnotis, aku membalikkan badan, tampak olehku seorang yg sudah berumur, namun tegap badannya, wajahnya sangat lembut senyumnya menenangkan hati.

“Saya mau ke masjid kek”
“kenapa malam2 begini ?”
“Saya suntuk kek, pengen ngadhem di massjid”
“Ha ha ha ha…. Bagus cep, yuk sama abah kesananya, abah temani”

Beriringan kami ke masjid dini hari itu, kemudian sholat malam berjamaah, entah berapa rakaat aku tak ingat, yang kuingat adalah kelembutan suara bacaan abah. Halus mengusap2 kalbu, tak terasa pepatku lenyap tak berbekas…

Sekali, dua kali, tiga kali…..
Entah berapa kali kami sholat malam bersama seperti hari itu.
Sepertinya setiap dada pepat, aku selalu ke masjid, dan entah bagaimana ceritanya, selalu saja abah tahu kalau aku lewat dan menyapa.

Setelah berminggu kejadian itu berlangsung, aku mulai akrab dengan beliau.
Ntah beliau ini tinggal dimana, soalnya setiap kutanya selalu tak pernah dijawab. Mungkin takut aku mintain duit kali ya…
Ha ha ha.

Waktu terus berputar, kami semakin akrab, bak kakek dengan cucunya.

Suatu ketika kalau ga salah saat kelas 2 SMP, aku benjol2 bengkak2 karena dipikuli oleh kakak kelasku yang jengkel padaku, bukan apa, karena membela adik kelasku yang digoda oleh kakak kelasku sampai menangis.

Entah waktu itu kenapa aku merasa harus menolong nya, seorang gadis kecil, kurus namun memanglah cantik. Melihatnya menangis hatiku terbakar. Aku menolongnya dari gerombolan kakak kelas yang menggodanya sampaipun ada yang berani menowel2nya.

Segera saja aku menarik tangan gadis itu dan mengajaknya menuju pintu keluar. Karena memanglah saat itu bubar sekolah. Alhamdulillah sesampai diluar ada mobil yang menjemputnya, kulihat wajah seorang wanita dibelakang kemudi yang senyumnya lembut tersenyum kepadaku, aku membalas senyumnya sambil membungkukkan diri, entah kenapa itu seolah otomatis terjadi.

Seperginya mobil sang gadis tadi, tiba2 …
Bukkk….
Plak…
Gubrak….
Beberapa kaka kelas yang tadinya seolah bengong kala aku membantu si gadis, tahu2 berada di sekelilingku dan melayangkan pukulan, tamparan bahkan tendangan.
Sore itu aku pulang dengan rasa sakit diseluruh tubuhku.
Dan anehnya, tiada temanku yang berniat menolong. Itulah aku yang memang bukan siapa2nya siapapun. Tak ada kawan….

Ibu tak tahu masalah ini, karena aku menutupinya dengan baik. Aku bilang tadi jatuh bergulingan karena terpeleset kulit pisang.. Ha ha ha alasan klasik yang manjur.

Si abah kala bertemu denganku pun bertanya, kenapa jalannya kaya kesakitan cep. Jawabkupun sama dengan saat ibu bertanya…
Abah hanya tersenyum…
Tangannya seolah memijit seolah tidak hampir kaya mengelus namun agak menekan dibeberapa bagian tubuhku…
“Gimana cep, agak mendingan ?”
Ajaib, rasa sakit yang kerasakan seolah lenyap tak berbekas.
“Lhaa… abah enakan sekarang, sakitnya hilang Abah… terima kasih Abah”

Keh keh keh….
Abah hanya tertawa saja….

Kejadian itu berlangsung berkali2 hampir tiap hari…
Dan selalu dengan cepat Abah menyembuhkannya…
Kepada ibu, aku selalu menjawab hal yang sama, ketika ditanya kenapa.
Juga kepada Abah.
Anehnya baik Ibu dan Abah tak pernah menanyakan atau menyelidikinya lebih lanjut.

Suatu ketika, kala entah sudah berapa kali aku digebukin kakak kelas, Abah berkata…
“Den, mau tidak abah ajari sesuatu yang kalau aden jatuh kepleset lagi tidak sakit2 ?”
“Waah…. Ilmu apaan ?”
“Kek kek kek, namanya ilmu kebo dungu cep, udah kebo dungu pula, bisanya cuma kuat menahan sakit saja kek kek kek.”

Warakatak….
Edan si abah nih, nyindirnya keterlaluan sih…
Memang aku kayak kebo sih selama ini, mau saja digebukin…
Bayangin, seminggu lebih aku digebukin…
Selalu masalahnya sama, gara2 menolong si gadis adek kelasku yang aku sendiri malah tak tahu namanya..
Pernah sekali pas aku mengantar dia keluar gerbang yang jemput belum datang.
Alhasil dia, gadis kecil itu melihatku digebukin sampai airmatanya tumpah tak tega melihatku digebukin seperti itu, tapi entahlah, aku kok merasa biasa saja ya… bagiku itu resiko menolong orang, itu saja

Balik soal ilmu kebo dungu, asli aku tertarik, bukan apa, aku ga pengen bisa mukulin orang soalnya, aku cuma pengen kuat dipukuli, biar saja dianggap kebo pake dungu lagi, ok saja lah.

“Aku mau Abah… kapan belajarnya ?”
“Kek kek kek, abah suka banget sama aden kalau begini. Ayok lah kita belajar mulai sekarang, sambil jalan ke masjid”

Sambil berjalan ke masjid Abah memberikan dasar2 teori pernafasannya yang luar biasa sederhana, lha gimana tidak cuma tarik tahan hembus gitu saja, cuma harus tepat kapan tarik kapan tahan kapan hembus.
Intinya adalah saat dipukul atau kena gebuk aku harus pada posisi tahan. Lucu memang, cuma kala aku berjalan sambil belajar pernafasan Abah sesekali menepuk badanku. Nah sering mbeleset soal tahan nafasnya…
Ha ha ha ha…
Ini ibarat main suit, harus pas bareng2 kita nahan nafas dengan pukulan yang datang.
Kalau satu orang sih ga masalah, kalau 2 3 orang bisa2 aku nahan nafas terus .. waduh…

Ilmu lucu itulah yang besoknya teruji.
Sekali lagi aku dipukuli, namun dengan ilmu satu ini, kala dipukul lucunya seolah dikitik2…. Beuh gelinya minta ampun sampe aku pengen ketawa….
Kelucuan gara2 ilmu ini terjadi….
Akhirnya aku ga kuat nahan tawa…

Ha ha ha ha….
Eh ada yang mukul lagi gregetan soalnya aku tertawa…
Nahan nafas lagi….
Begitu seterusnya sampai akhirnya yang mukulin aku capek sampai terduduk….
Aku masih ketawa melepas geli…
Keributan di luar yang biasanya ga ada yang berani melerai. Dalam diam mereka semua yang menonton bahkan banyak temanku disana yang cuma ngelus dada.
Hari itu seolah acara debus….
Bedanya aku tertawa setelah dipukuli terbahak2 lagi…
Ha ha ha…
Semua akhirnya ikut tertawa….
Sampai lemes….

Aku tak mengira akhirnya seperti itu, kakak kelasku benar2 dendam, karena jadi bahan tertawaan orang banyak..
Mereka tak lagi disegani, tapi dianggap lucu…
Masa mukul kaya kitik2 ?
Ha ha ha….
Ilmu si Abah benar2 luar biasa….
Tak menyakiti, namun kena justru di hati.
Cuma yang namanya dendam itu juga luar biasa…
Jatuh pamor adalah sebab yang paling gila

Keesokan harinya aku digebukin lagi, kali ini tidak di pintu keluar, namun agak jauh dari sekolah, setidaknya ada 10 orang yang gebukin….
Kejadiannya hampir sama tapi lebih gila rasanya….
Hampir aku tak kuat menahan gelinya…
Tapi begitu tertawa ada yang gebukin sakitnya luar biasa….
Nafasku terpaksa aku tahan agak lama, jeda ambil nafas juga semakin sempit….
Daaannnn….
Entah kenapa, dalam keterpaksaan yang semakin ripuh bagiku, tiba2 rasa geli berubah menjadi nikmat sekali….
Otot2ku rasanya seperti diurut nyaman sekali….
Akhirnya sama saja….
Kakak kelasku ngos2an ga jelas….
Mereka sepertinya takut aku mati, sebab selama itu aku hanya diam melindungi mukaku dengan menunduk sambil jongkok.
Melihat itu mereka sadar terlalu berbuat berlabihan…
Langsung kabur tinggang langgang…

Keesokan harinya kakak kelasku haran bin takjub dan gempar….
Aku masuk sekolah seolah tak sedang sakit atau luka apapun….
Semakin marah mereka….

Ntah bagaimana rasa dendam itu begitu besarnya…
Sorenya aku digebukin lagi….
Besoknya juga…
Sampai akhirnya kakak kelasku paham bahwa aku terlalu luar biasa bagi mereka…
7 hari berturut turut….
Digebugin ramai2 tak berkurang suatu apa…
Mereka takjub…. Tapi lebih kepada takut….
Takut aku membalas dendam pada mereka….
Kasak kusuk berhembus…. Kalau aku sakti mandraguna…
Dan, sejak itu tak ada yang berani main kasar lagi.
Ha ha ha….

Ternyata, selama pernafasan ala kebo dungu, digebukin itu sesuatu yang wajib bahkan dilakukan. Kalau tidak digebukin malah salah. Dengan digebugin peredaran darahku semakin lancar, manfaat pernafasan akhirnya menjadikanku semakin kuat, otot2ku kuat, kulitku kuat dan tak mudah terluka…
Tahunya ini semacam ilmu kebal yang aneh, cocok untuk kelakuanku yang tak suka memukul orang lain.

Ha ha ha…
Hatur nuhun Abah…

Latihan setelahnya malah bingung aku, soalnya ga ada lagi yang berani nggebukin aku….
Akhirnya aku diajak Abah jalan2 habis subuh ke pasar terdekat….
Entah bagaimana caranya, si Abah membuat masalah dengan preman pasar waktu itu…
Abah hampir digebukin oleh preman, dan sesuai watakku ga bisa aku melihat orang tua digebukin lah…
Aku bantuin, eh malah aku yang digebukin…
Jelas bedalah antara anak SMP sekalipun kelas 3 dengan preman…
Sakit betul rasanya, perutku serasa mulas sakit sekali, nafasku sesak seketika….

Sebenarnya aku lupa sama sekali ilmu keboku…
Begitu ingat, setidaknya 5-6 tonjokkan sudah kena telak. Beuh… terpaksa sambil menahan sakit aku mulai pernafasan keboku lagi….
Ajaib, sakitku hilang tergantikan oleh rasa nyaman digebukin….
Ha ha ha….
Kejadian serupa terjadi, pokoknya kalau preman ketemu aku, nyerahlah….
Bukan apa percuma nggebukin aku soalnya…
Ha ha ha….
Cuma ya itu dia, mereka sebenarnya ga takut sama aku tapi takut aku kenapa2…

***

Ilmu kebo dungu memang ajaib namun sifatnya pasif, yang memukuliku tak merasakan sakit selain karena sakitnya memukul tubuhku dan itu biasalah paling juga cuma capek dan pegel2.

Tetap saja tak akan bisa menaklukkan orang lain.
Bagiku tak ada masalah toh bagiku yang pentingbaku selamet. Ga kurang suatu apapun. Itu saja cukuplah.

Sampai suatu ketika, ada anak gadis bersama ibunya dirampok, aku coba membantu, kisah yang sama terjadi, tetapi….

Tetapi tetap saja mereka berhasil merampok si ibu dan anaknya teruas kabur. Mereka berdua tetap menyatakan terima kasih karena toh cuma uang sedikit yang diambil.

Peristiwa ini begitu memilukanku. Ternyata salah satu dari preman tersebut bisa menempeleng si ibu hingga pipinya bengkak…
Teganya …
Teganya….
Teganya….

Abah melihat aku sedih begitu bertanya, “kenapa cep kok kaya orang sedih banget gitu”
Meluncurlah ceritaku….
Abah hanya diam dan membisu….
Tetap tersenyum beliau….

“Kek kek kek….
Lha kamu ini bagaimana katanya ga mau nggebukin orang, terus kalau kejadiannya begini apa bisa tanpa nggebukin orang den ?”

“Itulah Abah, aku ga mau mukulin orang tapi pengen selamet in orang lain gimana ya caranya ?”

“Kek kek kek…. Ini yang abah suka dari Aden..
Jiwa aden adalah jiwa yang lembut, cocok kalau abah ajari ilmu satu lagi, namanya kethek ketulup, atau kera kena sumpit, kek kek kek….”

“Ha ha ha ha….
Namanya lebih edan bah dari yang dulu, ilmunya macam gimana bah ?”

“Kek kek kek, macam kebo ****** lah, kebo dungu, tapi ini lebih bego lagi pake plonga plongo gitu….
Namanya juga kera kena sumpit, bingunglah dia, bingung nyari yang nyakitin dia, kirain deket2 dia soalnya tahunya yang nyumpit jauh disono”

Lalu aku diajari abah ilmu aneh itu, seaneh namanya, soalnya ini soal pemindahan energi, jadi harus ada energi masuk yang diolah menjadi energi keluar. Persis deh kaya ilmu fisika dasar, aksi = reaksi. Model begitu teorinya.
Jadi semisal aku dipukul, maka tubuhku yang menerima bisa menyimpannya tinggal ngarahkan kepada siapa. Itu sederhananya.

Tapi prakteknya ya gitu deh, aku harus dipukuli dulu. Ha ha ha….
Pokoknya ilmu sansak hiduplah…
Kalau aku mau jadi sansak hidup baru ilmu ini jalan. Satu lagi syaratnya, harus dikeroyok biar pas kena nya.
Misal yang ngeroyok 5, ya lebih asyik, karena kala aku dipukul si A, maka energinya bisa untuk memukul si B, semakin banyak yang mukul semakin banyak yang kesakitan dan asyiknyanaku ga ngapa2in selain menerima pukulan. Toh aku kuat lah kalau menerima pukulan kelas berat sekarang.

Ha ha ha….
Ada2 saja si Abah ini.

Uji coba pertama ya di pasar, pas ada copet aku teriak dan mencoba menggagalkan usaha pencopetan itu.
Alhasil kawan2 pencopet kaga terima..
Dihajarlah aku ramai2.

Kala pukulan 1 kena di perutku, di belakangku orang yang terdekat yang mules2 ga jelas. Pas ada tendangan masuk ke kepalaku, dari belakang yang nendang, orang yang didepanku guling2 kepalanya sakit.
Pokoknya lucu bin ga jelas…
5 orang tersebut akhirnya kaya kera yang kebingungan, bener2 kebingungan noleh sana sini ga jelas soalnya…
Ha ha ha…
Orang2 se pasar pada kepingkel2 semua…
Dikiranya ada hantu yang melindungiku…
Begitu mikir hantu, takutlah mereka…

“Hantu….”
Gedebuk gedebuk……semua lari tunggang langgang ga jelas arah.
Takut juga sama hantu, soalnya ga jelas yg mau dipukul siapa…

Aku masih pura2 meringkuk kesakitan waktu itu, so akhirnya ya hantulah yang jadi “tersangka”
Ha ha ha…
Aku suka sekali ilmu si Abah ini.
Aku tetap bisa low profile soalnya…

Mungkin hantu2 marah kali ya soalnya dituduh ga jelas gitu….
Jadilah aku dianggap punya gawan hantu macam perewangan gitu… wkwkwkkwkw
Pokoknya sejak saat itu aku dianggap anak hantulah…
Kaga ada yang berani.

***

Ada banyak ilmu2 aneh yang aku pelajari dari Abah, namanya aneh juga lah…
Ada yang namanya. Diudak Asu (dikejar anjing)
Ada lagi yang namanya kupinge lowo (kupingnya kelelawar)

Pokoknya macam2 ilmu aneh2 dan lucu2 lah.
Ada sekitar 10 tahunanlah aku belajar, eh… mungkin kurang dikit kali ya….
Soalnya begitu aku lulus kuliah aku sudah tak pernah bertemu dengan Abah.

Pernah kutanyakan rumah beliau dimana, asal dari mana dan pertanyaan sejenisnya. Tapi selalu saja jawab beliau hanya terkekkeh saja. Kutanya orang2 sekitar tempat aku bertemu dengan beliau juga ga ada yang tahu, bahkan merasa tak pernah ketemu. Aneh juga ya…
Soalnya si Abah juga sholat jamaah subuh di masjid sih, masa kaga ada yang tahu ?

Keanehan kedua adalah ibuku, masa anaknya keluar rumah dini hari hampir tiap hari ga pernah nanya2 sama sekali. Seolah aku keluar rumah itu sudah hal yang sewajarnya.

Waktu istirahatku memang sedikit sih sejak kelas 2 SMP, ya sejak ketemu dengan Abah, cuma kayaknya ga masalah bagiku. Pelajaran demi pelajaran dari Abah membuatku kuat lahir dan bathin.

Tubuhku jarang sekali sakit, aku malah lupa sakit terakhir kapan.

Sudah pahamkah sekarang kenapa aku bisa mengalahkan preman yang dulu menganggu Renata ?
Kalau masih ga paham juga, ga tahu lagi musti cerita apa saya…
Ha ha ha….
Satu2nya preman yang belum pernah ribut denganku ya mang Ajum itulah.
Malah dialah yang dengan senyum lebar dan suka rela memberikan posisinya kepadaku sebagai pompinan…

Kata2 mang Ajum ga pernah saya lupain.
“Ha ha ha, menghadapi murid si Abah sama saja ngadepin hantu lah, saya dulu dikasih ilmu kebo ****** saja bisa jadi boss soalnya. Ha ha ha den mangga den, mang Ajum jadi babunya Aden saja, soalnya pesen si Abah begitu”

“Abah? Abah pesen apa mang?”

“Si Abah bilang kalau ada muridnya datang, saya harus panggil aden dan nurut sama muridnya, ha ha ha, saya nunggu lama untuk bisa ketemu aden. Ada 5 tahun saya menunggu den”

“Lha kenapa saya digebukin mang?”

“Lah kalau ga digebugin terus gimana saya tahu aden muridnya si Abah ?”

Aku hanya garuk2 kepala…
Orang2 aneh
Ketemu orang aneh…
Timbulnya ya cara2 yang aneh….

Ha ha ha….

***

“Nak, ke masjid lagi ?”

Sapaan Abah sederhana, tapi meruntuhkan segala keangkuhanku….
Aku menangis mendengar sindiran Abah….
Lebih kepada kangen bertemu dengan Abah sebenarnya, sudah ada 4 tahunan lah aku tak berjumpa lagi dengan beliau.

Segera aku mengambil tangan beliau dan menciumnya, kemudian memeluk Abah….

“Kek kek kek…. Kamu sekarang cengeng den….
Kek kek kek kebanyakan dikelonin sih”

“Abah, maafkan saya Bah….”

“Kek kek kek….. Kenapa minta maafnya ke Abah ?
Yuk den kita jalan2 sambil ngobrol, lumayan biar ga suntuk ke masjidnya den”

Mulailah aku bercerita pengalaman2ku setelah berpisah dengan Abah dulu sampai akhirnya aku menceritakan kegalauanku tentang 5 orang gadis yang rela menjadi istriku…

“Kek kek kek…..
Itulah den masalah langit.
Masalah yang bisa diselesaikan dengan ilmu langit.
Kemaren aden sudah belajar ilmu bumi ke Abah, ilmu merendah, mandah diapa2in pun diinjak2.
Ke depan aden harus belajar ilmu langit…
Ilmu yang bersumber dr langit, tentang membaca alam dan bagaimana bisa berjalan seiring dengan alam.
Aden ke depan ada keperluan di bandung utara….
Disana Aden akan bertemu dengan Aki….
Beliau yang akan mengajarkan ilmu langit kepada aden…
Tunggu saja waktunya akan datang sendiri den…
Aden ga usah mencari Aki, beliau sendiri yang akan menemui Aden, seperti dulu Abah bertemu aden.

Sekarang aden khusuk saja di masjid.

Pesan Abah, tak semua yang nampak baik itu baik, tak semua yang nampak buruk itu buruk. Jaga hati sebab hati yang bersih akan bisa melihat cahaya kebenaran…
Abah pulang dulu…”

Plasss….
Abah menghilang dari pandanganku….
Aku tahu ilmu yang Abah gunakan…
Sebab aku juga bisa….
Namanya numpak mimpi, naik mimpi….
Ha ha ha….
Seolah bermimpi padahal tidak, seolah nyata padahal mimpi…

Ah sudahlah….
Aku siap2 saja lah…
Entah siapa dan bagaimana Aki itu….

Saatnya sholat subuh dan kembali pulang.

***

Mentari belum nampak kala aku masuk ke dalam rumah dan kembali ke kamar.

Klek…
Jebret….

Suara perlahan ketika aku mambuka pintu kamar dan menutupnya lagi setelah masuk kedalam.

Gubrak….
Gubrak….

Mukaku terpapar bantal dan guling yang dilemparkan kepadaku.

“Gitu ya…. Habis enaknya terus ditinggal pergi”

Lho…. Kok Santi yang ternyata ada di kamar, marah2 kepadaku ?
Lho… Kok Sinta menangis meringkuk di tempat tidur ?
Ada apa ?

“Lhaa ada apa Santi ? Mas dari masjid ini, ini pake sarung dan kopeah ? Kok ujug2 dimarahi ?
Sinta ? Kenapa menangis ? o
Lah dalah, ada apa ini ?”

Santi yang melihatku benar2 pake sarung dan kopeah tampak aneh, seolah tak menyangka aku ke masjid subuh ini. Secara kebiasaan, sebenarnya Santi dan Sinta paham kelakuanku kala dulu pernah menginap dirumahku.

Cuma sepertinya tidak menyangka kalau hal itu masih aku jalani, setelah 3 hari mereka menginap aku tak permah keluar kamar karena asyik masyuk dengan wanitaku lainnya…

Sadar dengan itu aku mendekati Sinta yang mulai reda tangisnya

“Duh sayangnya mas, manis… sini mas peluk sini sayang. Santi sini, ikutan peluk mas… biar ga marah2 terus….”

Kami bertiga kemudian larut dalam pelukan mesra.

“Duuh kenapa nangis sih ? Mas tadi takut bangunin soalnya kayak nyenyak gitu sih Sintanya.
Ini lagian napa Santi ada disini hayo ?”

“Hi hi hi, ini gara2 mas sih ke masjid ga bilang2, jadi we Sinta berfikir kalau mas tidak tertarik dengan Sinta, meweklah dia, aku ya marahlah melihat Sinta disakiti, tahunya…… hi hi hi”

“Hiks hiks habisnya Sinta khan sedih tiba2 bangun masnya ga ada…. Hiks hiks hiks”

“Ya deh mas minta maaf ya sayang, tadinya kalau tahu begini pasti mas bangunin dinda manisku ini buat pamitan….. Lha mas mandi dan ganti baju dinda sayang belum bangun2 sih, masnya khan kasihan kalau bangunin, muuach maafkan mas ya sayang…”

“Iya mas, Sinta juga minta maaf telah berbuat kekanak-kanakan”

“Hi hi hi, dah baikan nih…. Santi ga diperlukan lagi jadinya…. Hi hi hi, tadinya mau ngeroyok mas Budi ga jadi deh…”

“Ha ha ha, udah ah…. Santi dan Sinta mandi sono gih, sudah siang nih”

“Ok boss…. Siap laksanakan “

Eh…. Kok tiba2 Santi buka baju disini sih ?

“Eh lah dalah ini gimana sih ?”

“Hi hi hi, Santi ma Sinta mau mandi bareng disini, dikamar mandi mas Budi….
Eh pintu ga ditutup kok, jadi mas Budi biar dapat tontonan yang asyik punya”

Lah gimana ini, mereka berdua benar2 mandi dihadapanku karena memang pintu tak ditutup sama sekali, terbuka lebar lebar….
Beuh… dah kaya raja2 jawa jaman dahulu kala kali ya ini.
Raja jaman dulu melihat permaisuri dan dayang2nya serta selir2nya mandi di bilik terbuka yang menghadap kamar Raja…
Mungkin kaya begini….
Beuh….
Benar2 nih…
Adek kecilku meradang lah…
Tegak ga keruan rasanya…
Kalau ga percaya cobain deh….
Ha ha ha…
Kalau sudah punya gebetan 5 ya nyobanya…
Ha ha ha….

Pas bener2 ga kuat, asli jadi pengen ikutan, mandi lagi ga papa khan ?
“Mas… Sini mas ikutan”

Beuh ajakan yang mengundang selera ini….

Begitu aku lepas sarung dan kopea…
Tiba2

Brugh….
Klek….

“Hi hi hi ga jadi mas “

Coba tho….
Pusingnya bagaimana coba.
Edan eling bener adik kecilku yang gagal ngecroot lagi….
Maaakkkk….
Ini benar2 siksaan maaakkk….
Buyar saja deh acaranya….
Kentang we ti kemaren maaakkkkkk

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part