web hit counter

Skala Kehidupan Part 14

1
445

Skala Kehidupan Part 14

Dilema

Aku menjalani aktivitas seperti biasanya, tapi semenjak musibah yang diterima Pak Karim. Aku jadi tidak fokus di pekerjaan. Dengan kejadian meninggalnya Bapak, Ibu daan Kakek itu yang menjadikan aku kepikiran. Huft. Tak lupa juga, aku sering telpon Bu Juleha mengenai perkembangan Pak Karim. Apakah kondisinya semakin membaik atau malah sebaliknya. Akupun sudah siap-siap ijin cuti atau tidak kerja seandainya kemungkinan terburuk terjadi.

Tapi 2 hari ini semenjak kepulanganku dari Kota, kondisi Pak Karim alhamdulillah semakin membaik. Dari yang semula tidak bisa menggerakkan semua anggota badan, sekarang bisa menggerakkan jari tangan. Sedangakn berbicara hanya bisa “hmm, hemm saja”. Mungkin setelah kedatanganku itu membuat kondisi Pak Karim membaik. Cuks pede banget. Hehe.

Setelah mendapat kabar itu, aku jadi bisa fokus kembali. Hal-hal yang aku takutkan tidak terjadi, aku bersyukur akan hal itu. Tapi tetap rencana hari minggu menjenguk Pak Karim tetap berjalan, tidak bisa di tunda-tunda lagi sebagai rasa baktiku kepada beliau.

Hari Jumat, dapat kabar lagi dari Bu Juleha bahwa Pak Karim menunjukkan perkembangan lagi. Kemarin hanya jari sekarang tangan bisa di gerakkan tapi tetap tidak bisa di gerakkan secara bebas. Sedangkan kaki Pak Karim belum menunjukkan tanda-tanda bisa di gerakkan. Dan dokter mengijinkan Pak Karim untuk keluar kamar supaya tidak bosan. Tapi keluar kamar juga harus memakai kursi roda, dan itu hanya pada waktu pagi dan sore hari saja.

Hari Minggu sudah tiba, aku pun semenjak subuh sudah siap-siap untuk berangkat ke kota. Meskipun mata masih sayu, kondisi masih lelah karena tadi malam baru pulang kerja jam 1 dini hari, tidur hanya 2 jam saja, tidak menyurutkan semangatku untuk segera ke Kota. Bukan karena Bu Juleha atau Ine, hanya semata-mata untuk Pak Karim. Tapi kabari bagusnya sabtu kemarin aku gajian jadi aku tidak memikirkan akomodasi dan keperluanku ke rumah pak Karim.

Tepat jam 5 pagi aku meluncur menggunakan motor matic, suasana dingin dan gelap menyambutku. Maklum desaku ini terletak di lereng gunung, jadinya jam 5 pagi masih seperti malam. Embun turun mengurangi pandangan mataku. Tapi aku sudah terbiasa dengan dinginnya desaku. Akupun tetap melajukan motorku tanpa halangan apapun.

Jam 7 pagi aku sudah memasuki Kota, karena mata masih nagntuk dan lelah akupun singgah di warung untuk ngopi dan membakar rokok untuk mengurangi rasa kantukku itu. Aku berehnti bukan di warung mas Anton, tpi di warung yang kebetulan sudah buka.

Setelah ngopi sebentar dan menghabiskan dua batang rokok, aku segera meluncur ke rumah sakit. Tak lupa aku menelpon Bu Juleha mengabari kalau sudah di kota dan rencana mau membungkuskan makanan. Tapi Bu Juleha menolaknya dan menyuruhku segera ke rumah sakit karena Ine juga mau ke rumah sakitdan sudah memvungkuskan makan. Maka, Akupun segera meluncur ke sana.

Setelah sampai rumah sakit, aku segera menuju kamar Pak Karim.

Tok.. tok.. tok !!!

“Assalamualaikum Pak, Bu” Ucapku

“Waalaikum salam, ayo masuk.” Jawab Bu Juleha

Aku pun segera menyalimi Bu Juleha kemudian menuju Pak Karim, terlihat Pak Karim sedang menonton televisi tapi wajahnya sudah tidak sepucat kemarin. Sudah agak cerah, dan gurqtan wajahnya juga seperti orang tersenyum.

“Cepet sembuh ya Pak”

“Hmm” jawaban Pak Karim sambil wajahnya menunjukkan senyum.

Setelah itu tidak ada obrolan lagi dan aku ikut menonton televisi bersama Pak Karim, sedangkan Bu Juleha ijin untuk mandi karena sudah ada aku yang menjaga Pak Karim. Sedangkan Ine masih di rumah. Uh ingin rasanya aku juga ikut mandi. Kangen big boobnya Bu Juleha. :panlok2:

Selang beberapa menit, terdengar suara langkah kaki didepan pintu. Kemudian pintu terbuka terlihat Ine dengan tampilan yang menurut pandanganku semakin cantik. Dengan rambut panjang tergerai, memakai baju putih dengan rok mini selutut menambah kesexyannya. Akupun berdiri dan menyalami sambil tersenyum untuk menyambutnya.

“Dari mana mbak?” sapaku

“Dari rumah. Mama kemana?”jawabnya lembut

“Tu di kamar mandi sepertinya lagi mandi”

“Ohh. Habisni anterin beli sarapan ya, tadi warung biasanya tutup”

“Oke siap mbak”

Kemudian Ine ke arah Pak Karim dan menyalami sambil mencium keninf Pak Karim sebagai rasa bakti anak terhadap orang tua. Setelah itu kita sama-sama menonton televisi.

“Barusan datang ta Ntung?”tanyanya membuka obrolan

“Sekitar setengah jam yang lalu mbak” jawabku

“Oh. Kalau dua jam yang lalu berarti jam 5an ya berangkat?”tanyanya

“Iya mbak, makanya masih ngantuk sekarang. Hehe” ucapku sambik nyengir

“Iya kelihatan tu dari matamu” jawabnya sambil menatap wajahku

“Hehe, gimana lagi mbak, tidur juga cuma dua jam tadi malam”

“Lha kenapa tidur dua jam?” tanyanya dengan kepo

“Kerja mbak, sampai ke rumah sekitar jam 1an, jam 2 baru tidur, bangun jam 4”

“Kamu kerja di pabrik apa se?”

“Pabrik sepatu mbak merk dalam negeri”

“Oh. Gimana se ceritanya kamu bisa kerja di Pabrik?”

“Kepo” jawabku asal-asalan

“Ihh ngeselin”

“Hehe. Jadi gini mbak ..” belum selesai aku bicara sudah di sela Ine.

“Nanti aja ceritanya, habis makan temenin kemana gitu. Pengen cerita-cerita juga. Idah lama kan kita gak pernah cerita” ujarnya

“Oke mbak” Akupun menyanggupinya

Bersamaan dengan itu, Bu Juleha keluar kamar mandi dengan rambut basah. Uhh sexynya. Meskipun memakai pakaian yang tertutup dan sopan tetap saja bemper depan dan belakang tetap menonjol dengan indah. Huft huuuu. Aku menarik napas setelah melihat Bu Juleeha untuk meredam nafsuku.

“Sayang, kapan sampainya?” Tanya Bu Juleha kepada Ine

“Barusan, pas mama mandi. Ma, aku belum beli sarapan, warung biasanya tutup, karena males cari warung yang buka aku langsung kesini. Habisni aku mau cari sarapan sama Untung”

“Dasar. Yaudah buruan cari sarapan. Mama udah laper” ujar Bu Juleha

“Oke ma” jawabnya sambil memberikan kuci mobil kepadaku “Yuk Ntung”

Aku menerima kuncinya dan berdiri keluar dari kamar menuju parkiran rumah sakit. Setelah masuk mobil, kita mengubah rencana. Daripada bolak balik Ine menyarankan mama di belikan sarapan di depan rumah sakit aja. Kebetulan di depan rumah sakit ada yang jualan nasi pecel. Ide cemerlang. Aku pun menyuruh Ine di mobil saja, aku yang pergi membeli sarapan dan mengantarkannya baru kemudian kita berdua cari sarapan sambil cerita-cerita.

Setelah membeli sarapan, aku segera ke kamar Bu Juleha.

“Lho kok cepet?” Tanya Bu Juleha laget melihatku sudah membawa bungkusan nasi

“Hehe. Iya Bu, kata Mbak Ine, biar gak bolak balik, aku disuruh belikan pecel di warung depan rumah sakit aja, karena saya mau keluar agak lama dengan mbak Ine agak lama, gak tahu di ajak kemana.” Jawabku beralasan.

“Dasar kalian, yaudah gak apa-apa. Makasih ya Ntung” ujarnya sambil tersenyum. Alamak, ingin ku kecup bibirnya seperti dulu. Hehe.

“Siap Bu, kalau gitu saya pamit keluar ya Bu”

“Ya hati-hati. Jaga Ine ya”ujarnya.

“Pasti Bu” jawabku sambil berlalu dari kamar dan menuju parkiran.

Setelah masuk mobil, aku bertanya kemana kita sarapan sambil cerita-cerita. Ine mengajak ke restoran yang berada di dalam hotel yang mana berada di pusat kota. Bisa di katakan hotel yang di tuju termasuk hotel bintang 5 dan restorannya itu berada di rooftop hotel. Jadi enak buat cerita-cerita. Akupun mengiyakan karena juga gak pernah makan di situ. Sekali-sekali makan agak elit kan gak apa-apa. Hehehe.

Akupun melajukan mobil menuju retoran itu. Karena hari ini hari minggu jalanan agak padat, jadinya kita 30 menit sampai di sana, padahal kalau jalanan lancar hanya butuh waktu 10 menit.

Setelah sampai di sana, kita pun di beri akses sama resepsionis hotel menuju lift untuk sampai restorannya. Kita pun memesan makanan, Mbak Ine memesan tenderloin steak. Sedangkan aku kebingungan mau memesan apa. Dan atas saran Ine, aku di suruh makan steak aja, aku pun masih ragu-ragu. Steak itu bisa kenyang gak, secara perutku ini perut lokal jadi kalau gak makan nasi sama saja tidak makan. Tapi Ine meyakinkan kalau makan steak bisa kenyang, dan menyuruh kalau semisal belum kenyang bisa pesan lagi. Akhirnya aku menurut dan memesan sirloin steak. Waktu di tanya alasanku, dengan entengnya aku menjawab biar beda aja. Hehe.

Setelah pelayan restoran pergi, aku masih canggung untuk memulai pembicaraan. Hingga akhirnya Ine yang memulai pembicaraan.

“Gimana-gimana perjalananmu dari yang aku tinggal kuliah sampai sekarang?” Tanyanya memulai obrolan

Aku menggaruk rambut yang tidak gatal, karena bingung mau memulai dari mana.

“Ya setelah mbak Ine kuliah, aku sama kayak kebiasaan sehari-hari. Malahan dulu aku sempet sering keluar rumah, suka main game sampai harus di tegur Bapak, setelah itu aku jadi anak rumahan lagi sampai lulus” jawabku menjelaskan

“Lha emang kenapa kok sering keluar rumah?” keponya

“Habisnya kesepian di rumah setelah mbak kuliah dan jarang pulang kan dulu” ucapku

“Iya gimana lagi tugas kuliah banyak, mau pulang nanggung, apalagi aku ikut organisasi di ukm, jadinya meskipun libur kuliah ya masih banyak kegiatan” ujarnya beralasan.

“Iya kegiatan organisasi atau kegiatan pacaran? kan mbak dulu setelah dapat pacar jarang hubungi aku” godaku

“Hahahaha. Ya dua-duanya se, kok jadi aku se yang diinterogasi. Oke terus setelah lulus aktivitasnya?” jawabnya

“Dulu rencana aku mau kembali ke desa mbak, aku berpikir sudah cukup, aku pengen hidup dengan kakek. Eh malah Bapak sama Kakek melarang” ujarku

“Terus?”

“Nabrak mbak. Hehe”

“Ihhh.. lanjutin donk.” Manjanya

“Ya itu jadi sopirnya Ibu dulu, terus gak lama kemudian Ibu buka cabang toko di luar kota, aku di suruh megang” jawabku memberikan penjelasan

“Bisa megang toko?”

“Ya awalnya kesulitan mbak, mana ada langsung megang berhasil. Lagian aku juga lulusan STM, jadi masih butuh banyak belajar. Terus sama Ibu aku di bimbing” ujarku

Lagi Enak-enak ngobrol, pesanan kita datang. Akhirnya ngobrolnya kepending dan makan dulu. Setelah makan kita pun ngobrol lagi.

“Trus, maju gitu toko yang kamu pegang?” keponya

“Iya Alhamdulillah mbak, berkat bimbingan Ibu. Terus setelah dari toko ikut Bapak ke meubelan”

“Iya sudah denger dari Bapak, katanya kamu juga bisa membangkitkan meubel lagi?”

“Iya mbak, Alhamdulillah juga aku berhasil. Tapi sebentar aja di meubel gak se lama di toko. Setelah itu kakek meninggal dan aku kembali ke desa”

“Ohh.. terus katanya Bapak juga kamu mau buat meubel di desa?”

“Iya mbak, tapi ilmu yang aku dapat tidak bisa aku praktekan di desa.”

“Kendalanya apaan donk?padahal kamu udah bisa bangkitkan meubel lho. Harusnya mudahlah kamu memulai meubel di desa”

“Ya di modal mbak, sebenernya awal berjalan mbak, tapi kan statusku pengangguran jadi buatuh biaya hidup dan lain-lain, akhirnya kepake dan gak bisa jualan lagi”

“Termasuk kepake buat dana kenakalan?” tanyanya menyelidik.

“Lho kok mbak tahu?”

“Feeling aja” jawabnya cepat

Akupun hanya menggaruk rambut yang tidak gatel dan nyengir saja.

“Nakal apaan tu?” tanyanya masih dengan keponya

“Biasa mbak judi karena ajakan teman. Hehe”

“Yakin judi aja?” selidiknya

“Gak hanya judi aja se, di habisin mantanku”jawabku jujur tanpa satupun aku tutupi.

“Kok bisa?” tanyanya hampir persis seperti wartawan lambe turah

“Ya biasa mbak, ketipu, minta ini itu, karena sayang ya aku belilan eh ujung-ujungnya pas uang tinggal dikit tiba-tiba selingkuh. Yaudah aku juga bersyukur tidak terjerat terlalu lama”

“Mantanmu anak desa situ juga? Awalnya gimana kok bisa sampai pacaran dan kamu ketipu?”

“Kepo ih. Hahaha” jawabku sambil tertawa

“Hehehe. Penasaran aja sama ceritamu.”

“Temen SMPku mbak, ya emang matre se orangnya. Aku udah di ingetin temen Cuma sekali lagi karena sayang lupa segalanya. Hehe”

“Udah ngapain aja sama mantanmu itu?”

“Maksudnya mbak?” tanyaku dengan kebingungan

“Aku yakin gak hanya sebatas pegang tangan dan cipika cipiki”

“Perlukah aku critain mbak? gak perlu aku critain sepertinya mbak udah paham. Hehe” jawabku beralasan karena aku malu menjelaskan perihal aibku dengan mantanku.

“Hahaha. Yayaya. Yaudah gak usah di lanjut. Akhirnya kamu kerja di pabrik itu?” jawabnya. Huft untungnya gak terlalu ingin tahu.

“Iya mbak, akhirnya melamar-lamar kerja terus ketrima di pabrik sepatu itu”

“Kok gak balik ke rumah Papa aja kalau udah tahu kehabisan uang?”

“Ya gak enak aku mbak, aku udah terlalu merepotkan Bapak, dan juga rumahku di desa gimana kalau aku kembali ke sini”

“Kalau aku minta kamu kembali ke kota gimana?” tanya penuh harap

“Waduh berat mbak, aku sudah menikmati kehidupanku di desa.” Jawabku menolaknya

Setelah mendapat jawabanku itu, terlihat Ine menampakkan wajah sedih dan sedikit agak mikir. Aku yang kebingungan akhirnya bertanya.

“Kenapa jadi sedih mbak?” Tanyaku dengan iba

“Aku mikir kesehatan Papa, sekarang papa kan seperti itu kondisinya otomatis usahanya kan gak jalan. Kesalahan papa juga gak punya tangan kanan (orang kepercayaan) yang ketika papa sakit usahanya tetap jalan.” Jawabnya dengan nada yang sangat sedih.

“Emangnya usahanya gak jalan sekarang?”tanyaku.

“Ya semenjak papa sakit otomatis karyawannya ikut berhenti kerja, sebenernya berjalan beberapa hari kemarin tapi setelah di cek mama karyawannya malah kerjanya gak beneran alias banyak istirahatnya daripada kerjanya” jelasnya

“Terus?” gantian aku yang kepo

“Ya mama marah-marahlah, akhirnya di liburkan untuk sementata waktu sampai papa sehat”

“Waduh eman mbak. Usaha Bapak sudah maju lho, sudah banyak pelanggan” jawabku diplomatis

“Iya makanya terus orderan banyak di cancel sama mama jadinya. Lha gimana lagi, mau ya km kembali ke Kota” jawabnya mengajak aku.

“Kalau soal itu aku gak bisa mutusi mbak, aku juga sudah terlanjur kerja di Pabrik” jawabku masih berusaha untuk menolaknya

“Makanya aku juga sedih sekaligus bingung” ujarnya sambil menunjukkan raut wajah sedih

Kitapun sama-sama terdiam. Berkutat kepada pikiran masing-masing. Kemudian aku pesen kopi agar tidak mengantuk dan otakku jadi segar.

“Mbak boleh aku bertanya? Kenapa tiba-tiba Bapak sakit? Ada permasalahan apakah mbak?” tanyaku memberanikan diri karena dari kemarin penasaran.

Ine memandang aku dengan tatapan sendu, hingga tak terasa air matanya keluar membasahi pipinya daan wajah cantiknya. Karena notabene aku orangnya gak tegaan, akhirnya aku memegang tangan Ine, entah keberanian darimana cuman tujuanku gak ingin membuatnya sedih, karena dia sudah aku anggap keluarga, sudah aku anggap seperti saudara kandung.

“Kalau memang berat untuk di ceritakan, gak usah bercerita mbak. Aku gak ingin mbak bersedih” Ujarku yang tidak tega melihat Ine mengeluarkan air mata

“Hiks.. hiks.. hiks. Iya aku akan cerita semuanya Ntung. Apa yang terjadi dengan Bapak dan Aku?” ujarnya sambil menahan tangisnya

“Hah?? Ka..mu mbak?” tanyaku kaget mendengar penjelasan Ine barusan.

“Iya. Hiks.. hiks.. hiks.. Gara-gara aku Bapak jadi begini. Hiks.. hiks.. hiks”ucapnya sambil menahan tangisnya akan tetapi Ine tetap manusia biasa, gak bisa menahan kesedihannya karena air matanya terus mengalir.

Aku yang gak tega dengan tangisan perempuan terlebih Ine. Ingin rasanya mendekapnya, akan tetapi karena di public area akupun enggan untuk melakukan itu. Aku hanya mengeratkan pegangan tanganku ke dia.

“Ceritalah mbak, sebisanya aku bantu tapi kalaupun aku gak bisa bantu banyak, setidaknya mbak bisa mengurangi beban kesedihan ini.” Ujarku menangkan dirinya

“Hiks.. hikss. Hiks. Iya bener katamu. Hiks. Hiks”

“Pelan-pelan mbak, gimana ceritanya?” ujarku

“Jadi gini ceritanya. Aku.. aku.. aku …….” Belum juga menyelesaikan ceritanya tiba-tiba terdengar suara ringtone hpnya Ine, terlihat dilayar ada tulisan “mama calling” yang berarti telepon dari Bu Juleha. Akhirnya Ine menenangkan diri sebentar sebelum mengangkat telepon itu.

“Halo ma”
“…..”
“Iya ini masih di tempat makan sama Untung”
“….”
“Beneran ma?Alhamdulillah. Ya sudah aku ke sana sekarang”
“….”
“Iya ma, waalaikumsalam”

Telepon di tutup. Ine bercerita kalau Pak Karim sudah di perbolehkan pulang ke rumah. Meskipun belum sembuh total, tapi Pak Karim tetap mmelakukan terapi seminggu dua kali dan juga pemeriksaan ke rumah sakit di poli.

Karena mendapat kabar bahagia tersebut, aku pun ikut senang dan kita sama-sama segera kembali ke rumah sakit menjemput Pak Karim.

Sesampainya di rumah sakit, kita langsung menuju kamar untuk mempacking barang-barang yang di bawa dari rumah. Kemudian Bu Juleha menyelesaikan administrasi sekalian biaya selama opname itu. Akhirnya kita pulang dengan mobil, aku menyetir mobill, di sampingku Ine sedangkan di bangku belakang Bu Juleha dan Pak Karim, sedangkan motorku masih di rumah sakit rencananya nanti kembali lagi untuk mengambilnya.

Setelah menurunkan Pak Karim, dan membawanya ke kamar. Aku kembali ke rumah sakit untuk mengambil motor. Saat di perjalanan Ine tiba-tiba bilang kalau dia mau ceritaa masalahnya ketika aku mau kembali ke kota. Akupun hanya menjawab tidak bisa janji yang terpenting Ine tidak bersedih lagi, toh Pak Karim sudah mengalami perkembangan yang bagus sehingga sama dokter diijinkan pulang.

Begitu tiba di rumah sakit, aku mengambil motor sedang Ine menyetir mobil kita beriringan menuju kediaman rumah Pak Karim.

Sesampainya di kediaman Pak Karim, kita pun bercengkerama di ruang tamu bersama-sama Pak Karim juga, akan tetapi Pak Karim duduk di kursi roda sedangkan kita bertiga duduk di kursi untuk bercengkerama. Saat bercengkerama itu, Bu Juleha juga memintaku untuk kembali ke kota dan sudah dikasih pekerjaan mengurusi meubel lagi karena kondisi meubel seperti yang sudah di jelaskan Ine tadi. Dan Pak Karim juga menunjukkan gestur memintaku kembali ke kota dan meninggalkan desa. Aku belum bisa memberikan jawaban pada saat itu juga. Akhirnya aku meminta waktu untuk berpikir matang-matang untuk memberikan jawaban bersedia atau tidak.

Hari sudah mulai gelap, karena hari ini aku hanya tidur 2 jam membuat badanku letih dan pegal-pegal. Aku berpamitan ke Pak Karim, Bu Juleha dan Ine. Mereka bertiga menyambut tanganku ketika aku mengukurkan tangan untuk menyalami dengan gesture wajah mengiba dan berharap agar aku kembali ke kota meninggalkan desa. Huft, huuuu. Bingung deh.

(Bersambung)

Daftar Part