web hit counter

Skala Kehidupan Part 15

0
482

Skala Kehidupan Part 15

(Tamat)

UNTUNG HANYA SEBUAH NAMA

Sudah 4 hari aku tidak bisa tidur dengan nyenyak, perasaan dan logikaku berkecamuk. Bingung rasanya, logikaku mengatakan untuk menolaknya sedangkan perasaanku mengatakan untuk menerimanya.
Bicara soal logika, di situ terdapat idealisme jiwa mudaku. Karena aku sudah bertekad untuk sukses di atas kakiku sendiri dan sukses di tanah kelahiranku ini yaotu desa. Akan tetapi perasaan mengatakan kalau tidak ada Pak Karim, kamu tidak akan bisa sampai sekarang, tidak akan bekerja di pabrik, tidak akan punya ijazah STM, teringat ibumu di tolong sama Pak Karim, begitupun juga diriku. Kakekpun dulunya berpesan keluarlah dari desa jika ingin sukses.
Huft huuuu, aku menarik nafas karena tak kunjung menemukan keputusan. Di malam yang sunyi ini aku merenung, melamun, dan berpikir bagaimana kelanjutan hidupku. Kalau aku lebih condong ke arah perasaan terus bagaimana rumah kakekku ini, terlalu banyak kenangan disini dan berat meninggalkan rumah.
Tapi jika aku ke arah logika, iya kalau seandainya hidupku sesuai rencana, tahun depan kuliah sambil bekerja di pabrik, setelah lulus melamar kerja yang agak tinggi gajinya. Jika aku gagal bagaimana? Kegagalan aku membangun meubel jelas menjadi trauma tersendiri bahwa kadang kenyataan tidak sesuai dengan rencana.
Karena tak kunjung dapat keputusan yang tepat, akupun beranjak tidur karena waktu sudah larut malam sedangkan besok harus bekerja di pabrik lagi.

***

(Selang 10 hari kemudian)

Tok.. Tok.. Tok !!

Terlihat Ine membukakan pintu, setelah pintu terbuka Ine tertegun, kaget campur bahagia. Selang beberapa menit, dia langsung berhambur memelukku dan tak lupa mengucapkan terima kasih.

Ya sekarang aku di kediaman Pak Karim dengan membawa koper besar, koper berisi semua pakaianku, bawa Tas besar berisi peralatan sehari-hariku. Setelah beberapa hari bimbang saat ini aki sudah memutuskan untuk meninggalkan desa, mengubur logikaku, mengubur rencana hidup di desa, dan mengubur kenangan di sana. Dan bertekad membantu keluarga Pak Karim yang sedang mengalami masalah yang berat, kesehatan dan keberlangsungan usahanya, dua masalah itu yang coba aku bantu untuk melewati ujian hidup itu.

Setelah meyakinkan kembali keputusan akhirku, aku mengajukan resign ke atasanku di pabrik, tanpa di persulit aku akhirnya resmi resign sehari sebelum aku kesini karena posisiku yang hanya buruh biasa.

Setelah Ine melepas pelukan, Bu Juleha keluar menyambutku dan sama seperti Ine, beliau memelukku karena katanya sempet pesimis aku mau kembalo ke kota. Bu Juleha tahu dan mengerti bagaimana aku, memiliki pendirian yang kuat dan idealis, Bu Juleha sangat tahu diluar dan dalam. Dan kemarin sempet berkabar melalui telepon kalau aku masih bingung. Makanya Bu Juleha sempat pesimis aku datang ke sini. Dan aku datang ke sini juga tanpa mengabari dulu, maka dari itu beloau memelukku juga karena saking bahagianya.

Setelah Ibu dan anak yang menyambutku, aku segera ke kamar Pak karim biar Pak Karim tahu bahwa aku sudah datang. Setelah dari kamar pak karim aku di antar ke kamar yang dulu aku tempati. Kemudian aku membuka koper dan memindahkan baju dan keperluan lain-lain ke tempatnya. Namun ada yang aneh, Ine membantuku merqpikan pakaian dan membantu memindahlan keperluan yang lain. Alamak kenapa jadi perhatian gitu ke aku? Apa karena kedatanganku ini sangat di harapkan Ine? Sepertinya hanya Ine dan Tuhan saja yang tahu.

Setelah selesai merapikan baju dan keperluan lain, perhatian Ine semakin menggila. Dia membuatkan secangkir kopi untuk menemani melepas lelah. Sekarang suasanya terbalik, dulu aku yang melayani Ine, sekarang dia yang melayaniku. Bagaikan aku ini suaminya saja.

Sebenernya aku mau menagih janjinya Ine dulu untuk bercerita yabg sempet tertundah dua minggu lalu, akan tetapi aku takut kesedihan menghinggapi dirinya lagi. Aku gak tega setiap perempuan nangis, dan aku juga bukan tipe-tipe orang yang rasa ingin tahunya tinggi.

Akhirnya aku melepas lelah dengan kopi dan bercengkerama dengan Ine, tampak raut kebahagiaan terpancar dari wajahnya. Kemudian Bu Juleha menyusul aku dan Ine yang sedang bercengkerama, dan kita berdiskusi karena mulai besok aku langsung disuruh untuk menangani masalah di usaha meubel. Hasil dari diskusi panjang antara aku dan Bu Juleha adalah sore dan malam ini aku akan mendatangi satu persatu mantan tukangnya Pak Karim, memastikan masih bisa kerja apa enggak, kalaupun gak bisa aku di suruh mencari tukang lagi yang skillnya sudah expert di bidang perkayuan.

Anehnya lagi Ine menawarkan untuk menemaniku mendatangi tukang itu. “kenapa perhatian banget ya?” pikirku. Tapi aku menolak karena biar cepat aku pakai motor saja untuk mendatangi rumahnya para tukang.

***

Hari senin, aku mulai mendatangi gudang atau biasa di sebut workshop yang dimana para tukang mengerjakan meubel. Tampak para tukang juga sudah hadir untuk melanjutkan pekerjaan yang dulu sempat terhenti akibat murkanya Bu Juleha. Gak semua tukang mau kerja lagi, ada yang sakit hati akibat omongannya Bu Juleha yang dianggap melukai hati mereka. Akupun tidak bisa memaksa, aku hanya mengajak para tukang yang masih mau bekerja di usahanya Pak Karim. Untungnya, pelanggan-pelanggan masih mau bersabar karena usaha vakum hampir sebulan. Jadi aku hanya membenahi para tukang saja sedangkan pelanggan tidak ada yang perlu di benahu. Aku hanya perlu minta maaf saja proses pengerjaannya terlambat.

Aku kerja hari ini di temani Ine, aku sempat menolaknya tapi Ine bersikukuh mau menemaniku karena di rumah dia gak ada kerjaan. Aku sempat bertanya apakah tidak koas? Tapi ine menjawab dia dapat ijin dari kepala rumah sakit yang merangkap dosen pembimbingnya selama 6 bulan. Enak benar. Dan kebetulan di workshop ada bangunan kecil biasanya untuk tempat Pak Karim istirahat. Jadi Ine di situ menungguku untuk mengarahkan para tukang dan sebagainya.

Perhatian kecil maupun perhatian besar yang dilakukan Ine, membuat rasa yang dulu sempat hilang menjadi kembali lagi. Nama Ine sempat terukir di hatiku tatkala aku masih SMA, semenjak kuliah nama Ine hilang di gantikan Bu Juleha. Sekarang nama Bu Juleha sudah tergantikan Ine kembali. Bu Juleha pun tidak pernah membahas atau menggodaku selama aku kembali ke rumah ini. Beliau fokus merawat Pak Karim, dan sekarang Inelah yang memberiku perhatian.

Setiap pagi selalu menyediakan kopi, padahal aku sebenernya mau buat sendiri. Pokoknya setiap waktu dia selalu di dekatku. Setiap malam menemaniku sambil bercengkerama dan bercanda. Ine juga sudah lupa janjinya untuk cerita permasalahan tersebut dan aku juga tidak menagihnya karena keadaan Pak Karim juga sudah mengalami perkembangan yang positif.

***

Hari ini hari sabtu, aku sekarang berada di workshop meubel dan yang pasti di temeni Ine. Di sela-sela istirahat, Ine mengajakku untuk malam mingguan. Pengen nonton katanya karena sudah lama gak nonton. Akupun mengiyakannya karena aku juga sudah lama tidak pernah menonton film, seringnya nonton bokep. Hehehe

Sorenya Ine sudah mengajakku keluar, katanya pengen nongkrong di cafe. Karena aku tidak ada kerjaan akupun menyanggupinya. Setelah mandi dan ganti baju, aku berpamitan kepada Bu Juleha untuk malam mingguan sama Ine. Akupun menunggu Ine selesai dandan sambil memanasi mobil, terlihat Ine keluar dengan dandanan yang sangat cantik, memakai gaun warna hijau muda menambah kecantikannya.

Akupun melajukan mobil ke cafe yang dimaksud Ine, karena akan ada live show band ternama di kota ini. Setelah sampai aku berjalan beriringan dengan Ine. Tiba-tiba dia melingkarkan tangannya ke lenganku dan tanganku di genggamnya. Aku pun kaget tapi aku membalasnya dengan mengeratkan genggaman tangannya.

Kemudian Ine memilih tempat yang nyaman dan langsubg ke arah panggung tempat live shownya, kita memesan makan dan minum , tak lupa beberapa cemilan dan aku memesan kopi karena hidup tanpa kopi bagaikan sayur tanpa garam. Hehe

Aku ngobrol ringan dengan Ine, obrolan ini di dominasi Ine yang banyak menceritakan pengelamannya selama kuliah hingga tak terasa bandnya sudah memulai pertunjukannya. Saat ngobrol dan makan kita duduknya berhadap-hadapan, tapi sewaktu melihat live performance band kita duduk berdampingan.

Saat bandnya menyanyikan lagu padi yang berjudul mahadewi.

Hamparan langit maha sempurna
Bertahta bintang bintang angkasa
Namun satu bintang yang berpijar
Teruntai turun menyapaku
Ada tutur kata terucap
Ada damai yang kurasakan
Bila sinarnya sentuh wajahku
Kepedihanku pun terhapuslah

Alam raya pun semua tersenyum
Menunduk dan memuja hadirnya
Terpukau aku menatap wajahnya
Aku merasa mengenal dia
Tapi ada entah di mana
Hanya hatiku mampu menjawabnya
Mahadewi resapkan nilainya
Pencarianku pun usai sudah

Ho
Ada tutur kata terucap
Ada damai yang kurasakan
Bila sinarnya sentuh wajahku
Kepedihanku pun terhapuslah

Ada tutur kata terucap
Ada damai yang kurasakan
Bila sinarnya sentuh wajahku
Pencarianku usai sudah

Mahadewi resapkan nilainya
Mahadewi tercipta untukku
Mahadewi resapkan nilainya (na na na )
Mahadewi tercipta untukku (na na na)
Mahadewi resapkan nilainya
Mahadewi tercipta untukku
Mahadewi resapkan nilainya
Mahadewi tercipta untukku

Gantian aku yang memegang erat tangan Ine dan Ine membalas genggamanku dengan erat juga. Jadinya sepanjang lagu kita saling berpegangan tangan kadang-ladang saling menatap sambil tersenyum sampai bandnya selesai. Kita layaknya sepasang kekasih ala-ala india yang sedang dimabuk cinta.

Setelah selesai, Ine kemudian mengajak nonton di bioskop dan sudah memesan tiketnya lewat hp. Ya kita menonton di midnight. Tepat jam 9 kita beranjak dari cafe menuju bioskop. Setelah memarkirkan kendaraan roda empat, kita berjalan menuju gedung bioskopnya, tak lupa tangan tetap berpegangan.
Tepat jam 10 kita memasuki ruangan bioskop, tak lupa membeli popcorn dan minuman. Ine memilih untuk duduk di pojokkan atas. Dan beruntungnya meskipun malam minggu tapi yang menonton tidak terlalu rame.

Akhirnya film pun dimulai. Kita menonton dengan seksama karena filmnya kebetulan bagus, tak lama kemudian Ine mulai memakan popcorn sambil tetap fokus menonton. Karena kita beli popcorn Cuma satu dan kebetulan pengen nyemil akupun meminta popcornnya. Alangkah terkejutnya saat tanganku di tolak ketika mau meminta popcorn. Tapi dia menyodorkan popcornnya langsung ke arah mulutku. Jadinya aku di suapi popcorn sambil tetap fokus menonton bioskop.

Saat di tengah-tengah film, karena popcorn Cuma beli satu dan dimakan berdua maka popcornnya tak lama habis. Dan Ine tiba melakukan gerakan dengan menyenderkan kepalanya di pundakku sambil tangannya memegang tanganku. Tapi sorot matanya tetap fokus di layar bioskop menikmati adegan film.

Awalnya aku canggung dan degh-degh an tetapi aku sudah mulai terbiasa, malahan secara gak sadar aku sering mencium rambutnya Ine, aroma shampo yang wangi membuatku bolak balik menciumnya. Sadar rambutnya aku ciumi, Ine menegadahkan wajahnya ke arahku. Aku yang kaget awalnya mengira Ine akan marah, tetapi aku lihat tatapannya bukan tatapan tajam mau marah, tetapi tatapannya sayu.

Karena mendapat lampu hijau dan nafsuku sudah di ubun-ubun, gak pakai babibu langsung aku dekatkan bibirku ke bibirnya. Saat bibirku jaraknya sekitar setengah centimeter, terlihat mata Ine pun merem sambil bibirnya sedikit terbuka. Tanpa membuang waktu dan melihat keadaan, aku segera menempelkan bibirku ke bibirnya dan MELUMATNYA.

Mmwwuachhh.. smooocchhh.. smocoocchh.. smooocchhh..mwwuuaachhh

bibirku dan bibirnya Ine saling melumat, aku serang bibir atas dulu kemudian berpindah bke bibir bawah kembali lagi ke atas pindah lagi ke bawah terus menerus. Kita melakukan frenchkiss.

Kemudian Ine menjulurkan lidahnya, akupun langsung menyedotnya.

Sluruppp.. sluruppp.. sluruppp

Gantian aku yang menjulurkan lidah dan Ine pun langsung menyedotnya.

Slurupp.. slurupp.. slurupp

Kita saling membelitkan lidah, bibir-lidah-bibir-lidah kita lakukan secara bergantian, kita sudah luoa jalannya film, kita juga lupa apakah ada orang melihat tindakan kita apa tidak. Aku sudah di mabuk asmara tak peduli apapun. Sangat lama kita berciuman bibir. Aku gak ada bosannya mencium, menjilat bibirnya Ine yang sangat-sangat sexy ini.

Tak terasa filmnya pun habis, akhirnya mau gak mau kita menyudahi acara perang lidah dan bibir ini. Kemudian lampu bioskop di nyalakan, samping kursiku melihatku sambil senyum-senyum gak jelas. Menyadari akan hal itu, aku menunduk malu menyembunyikan wajahku yang mmemerah ini. Ine juga menyadari hal itu juga malu dan memerah wajahnya.

Jam 12 malam kita pulang, sepanjang perjalanan kita tertawa mengingat kelakuan kita kepergok orang yang duduk di sebelah.

“Kamu se, aku mau menyudahi eh kamunya masih nyosor” ucapnya

“Lha salah sendiri mbak, punya bibir sexy, jadinya pengen aku sosor terus. Hahaha” jawabku

Saat aku meliriknya, Ine tersenyum sambil bilang

“Kenapa? Pengen lagi?”

Akupun tidak menjawabnya hanya tertawa renyah melihat kekonyolan kita berdua. Tak terasa kita sudah sampai rumah Pak Karim, setelah memakirkan daan sebelum turun dari mobil akupun menarik tangannya sambil bilang dengan manja

“Mbak, pengen lagi”

Langsung aku sergap bibirnya dan melumat habis.

Mmwuaachhh.. sluruuppp..sluruppp..slurupppp.. smocchhh.. smocchhh.

Kita lama berciuman di dalam mobil sambil tanganku menggenggam erat tangannya. Karena gak tahan tanganku pun melepaskan diri dan langsung mengelus-elus lengannya, lehernya sambil bibir kita saling melumat. Dari lehernya tanganku turun ke pundaknya dan lanjut turun lagi menuju payudaranya yang berukuran 34A. Aku meremas pelan.

Ketika sedang enak-enaknya meremas, tiba-tiba tanganku di singkirkan Ine. Dan dia langsung melepas pagutan bibirku. Awalnya aku kira akan marah tapi dia Cuma bilang

“Sudah gak boleh keterusan ya” ucapnya sambil tersenyum. Akupun malu-malu dibuatnya.

“Maaf ya mbak, kelepasan” sahutku.

“Sudah ayo masuk ke dalam, nanti ketahuan mama” ajaknya dengan memelankan suaranya.

Akhirnya akupun turun dari mobil dalam keadaan kentang rebus. Saat memasuki rumah, Ine langsung menyelonong ke kamarnya sambil melambaikan tangan kepadaku sambil bibirnya bergerak tanpa suara “Sampai jumpa besok pagi”.

“Shit, padahal aku mau ajak ciuman lagi” batinku. Tapi akupun cuman tersenyum dan iku melambaikan tangan.

Akupun segera menuju kamar dan bersih-bersih kemudian beranjak untuk tidur karena waktu sudah larut malam.

***

Sejak adegan ciuman dengan Ine, akupun teringat terakhir sebelum Ine pergi kuliah kita juga melakukan ciuman itu tapi gak sedahsyat tadi. Benih-benih cinta pun tumbuh segar di dalam sanubariku. Tapi dilain hal, aku takut jika sebenernya Ine masih punya pacar. Ciuman kemarin bukan ciuman nafsu tapi ciuman sebagai ungkapan cinta dan sayangku ke Ine. Alangkah patah hatinya aku jika Ine ternyata punya pacar. Tapi dilihat dari semenjak aku kesini gak pernah rasanya Ine telpknan sama pacat, pergi bersama pacar, dia selalu terus bersamaku. Akhirnya dengan segala tekad yang kuat entah akibatnya seperti apa, mengesampingkan status sosialku dengan dia. Aku berencana menembaknya.

Dulu aku begitu takut, degh-degh an ketika mau menembak cewek, akan tetapi setelah aku berpacaran dengan Lekha, kepercayaan diriku untuk menembak cewek sudah ada. Istilahnya wani mengambil keputusan tidak memikirkan akibatnya. Di terima atau di tolak menjadi urusan nanti, mau di judesi kayak dulu gak masalah. Apalagi dia dan keluarga yang memintaku kesini.

Karena kemarin ada momentum ciuman, kemungkinan di terima 99% di terima hanya 1% di tolak mungkin dia punya pacar. Tidak ingin kehilangan momentum itu nanti sore rencana aku ajak makan malam lagi dan yang pasti aku yang menraktirnya.

“Mbak, nanti malam keliar lagi yuk, nongkrong gitu di cafe”

“Enggak ah, pasti mau nakalin lagi. Ya kan? hahaha”

“Eh yang ada mbak yang nakalin aku”

“Hehe. Oke jam berapa?”

“Malam aja sekitar jam 6”

“Oke bos” jawabnya dengan gerakan hormat. Aku tertawa saja melihatnya.

Setelah dia menerima ajakanku, aku sekarang kebingungan. Mau nembak seperti apa, meskipun sudah ada pengalaman, tetap saja aku degh-degh an. Kemudian aku simulasi di kamar cara nembak cewek dengan baik dan benar. Aku juga sempat googling bagaimana cara menembak cewek yang elegan. Hehe.

Setelah mencoba beberapa simulasi. Akupun berpikir biar kesannya romantis di kasih apa ya? Coklat, bunga, boneka atau cincin?. Setelah aku pertimbangkan, akhirnya aku memilih cincin, kalau cincin Emas aku gak ada banyak uang. Setelah mencati di internet harga emas, uangku tidak cukup. Cukup se. Tapi sisanya tinggal sedikit, apalagi nanti menraktir dia. Akhirnya cincinnya jatuh ke perak aja, meskipun kesannya murahan yang penting romantis.

Mumpung hari masih siang, aku segera keluar rumah menggunakan motorku, waktu di tanyai kemana aku jawab aja ketemu teman STM biar tidak curiga. Aku peegi ke toko perhiasan untuk memilih cincin, untuk ukurannya aku by feeling aja. Akhirnya cincin perak sudah di genggaman dan aku kembali ke rumah.

Haripun sudah mendekati malam, detik-detik proklamasi pun akan aku kumandangkan. Aku pun beranjak untuk mandi, biasanya aku mandi paling lama 5 menit, ini mungkin hampir 2 jam aku di kamar mandi. Kulitku aku gosok biar cerah dan gak malu-maluin.

Tepat jam 6 Ine keluar menggunakan gaun selutut dengan tas bermerk, apalagi gaunnya pun bercorak hitam putih kayak catur. Bukan se, kalau catur kotak-kotak, ini sepeeti zebra sesuai dengan jersey tim kebanggaanku yaitu Juventus. Aku pun hanya memakai kemeja polos beecorak dengan warna dominan putih. Kita seperti serasi dalam hal memilih baju.

Setelah berpamitan kepada Bu Juleha dan Pak Karim, kita menuju cafe di kota, tak lupa aku sudah membawa cincin perakku. Cafe yang akan kita tuju berbeda dari kemarin, di sini suasananya lebih romantis. Setelah mobil terparkir di halaman cafe, akupun berinisiatif membukakan pintu Ine, dan tak lupa aku menggandengnya.

Kita pun duduk di area berAC, biar nanti ketika aku degh-degh an keringatku tidak ikut keluar. Aku seperti orang cupu aja kali ini. Setelah pesan makan dan minuman kita pun saling ngobrol.

“Tumben ngajak makan berduaan? Biasanya aku yang ngajak”

“Hehehe. Sekali-kali mbak, lagian kemarin aku resign dari Pabrik dapat pesangon meskipun gak banyak tapi bisa lah untuk menraktir mbak Ine” bohongku. Padahal ketika aku resign hanya ucapan terima kasih atas dedikasi selama bekerja di Pabrik. Semoga sukses ke depannya. Itu yang di ucapkan atasanku ketika aku mengajukan resign. Maklum hanya buruh. Hehe

“Oh gitu, kenapa gak kemarin-kemarin ngajaknya, kok malah sekarng?” tanyanya. Duh mati aku, kena skak Ine.

“Ya belum kepikiran Mbak, tapi melihat kebaikan mbak Ine selama ini rasanya aku sangat berdosa bila tidak mentraktir sebagian rezekiku” gombalku. Aku seperti pujangga cinta saja.

“Kamu dapat kata-kata dari mana itu Ntung?haha” ujarnya sambil tertawa sambil tangannya menutupi bibirnya.

“Hehehe. Reflek aja aku mbak” maluku sambil menggaruk rambutku yang tidak gatal.

Tak berapa lama, pelayan datang membawa pesanan makan dan minuman. Kita pun mengakhiri obrolan untuk makan dulu. Setelah itu aku akan mengumandangkan proklamasinya.

DEGH..

DEGH..

DEGH..

Aku sambil makan degh-degh an sekali. Padahal tadi sudah simulasi tapi entah kenapa denyut jantungku berdetak lebih kencang, seperti genderang yang mau perang.

Setelah selesai makan dan minuman, tiba-tiba Ine melihatku dengan wajah terheran-heran. Akupun bingung kenapa Ine menatapku seperti itu? Akupun kebingungan. Apa ada yang salah denganku.

“Kenapa kamu keringetan Ntung?”

“Eh. Lho? Eh.. pedes mbak. Iya pedes banget makanannya”

“Masak? Perasaan makananmu tidak ada sambalnya” jawabnya. Oh shit. Aku lupa, Ine kan yang memilihkan makananku. Wasyem.

“Gak tahu mbak, mungkin juru masaknya salah ngasih sambal mungkin mbak” jawabku beralasan.

“Hehe. Alasan. Ada apa nih kok tiba-tiba keringatan?”

Karena mau mengelak apa aja sudah ketahuan, maka aku sudah bertekad menembak saat ini juga.

“Hehe. Gini Mbak, sebenernya ini kurang sopan karena perbedaan kita sangat mencolok, di samping secara sosial, juga secara kepribadian, umur dan perbedaan bentuk badan. Mbak Ine denganku bagaikan langit dan bumi. Sejak dulu sebenernya aku punya perasaan lebih kepadamu mbak. Sejak STM cuman aku malu waktu itu, perbedaan kita terlalu mencolok, akhirnya aku hanya menganggapmu sebagai kakak kandung. Perasaan itu aku kubur dalam-dalam. Sebenarnya aku juga cemburu ketika kamu memberi kabar kalau sudah jadian dengan senior kampusmu. Tapi semenjak aki ke sini lagi perasaan yang sudah kukubur itu entah kenapa bangun lagi. Apalagi dengan kejadian kemarin, kita berciuman mesra. Jujur mbak, kemarin ciuman terenak dan terdahsyat. Bukan ciuman nafsu tapi ciuman sayang dan cinta. Mohon maaf ya mbak biar aku lega, aku tekadkan ini. Maukah kamu jadi pacarku mbak? Gak usah sungkan atau malu menjawabnya. Apapun jawabanmu aku hormati. Seandainya jawabanmu mohon maaf menolak, tidak masalah mbak, kamu tetap aku anggap sebagai saudaraku” ucapku lancar tanpa jeda. Gak tahu darimana tiba-tiba aku berbicara lancar sekali, mungkin efek dari simulasi tadi siang. Tak lupa juga aku menyodorkan cincin yang aku beli tadi.

“Ini sebagai bukti aku serius dengan perasaanku mbak”

DUARR !!!

Orang-orang di dalam cafe ini berhamburan keluar. Sebenernya aku juga mau iku keluar melihat apa yang terjadi tapi karena suasananya terlanjur romantis, aku pun tidak bergeming dan tetap duduk menatap wajah Ine.

Terlihat orang-orang pada kembali dari luar dan berbicara kalau tadi ternyata bank tronton meletus. Bangke, menganggu keromantisanku aja. Huft.. huuu

Ine diam dalam pikirannya. Dia melirik cincinku sebentar kemudian menundukkan kepala. “Waduh, ada apa ya? Apa jangan-jangan dia mau menolakku cuman gak enak kepadaku”batinku saat ini.

HIKSS.. HIKSS.. HIKSS..

Terdengar suara isak tangis dari insan manusia setengah bidadari ini, aku kaget setengah mati. Apa aku terlalu cepat menembaknya?, apa kata-kataku salah barusan? Terus kalaupun dia tidak mau kenapa kemarin dia mau membalas ciumanku, dan sempat-sempatnya menyuapiku?. Akupun bingung dan merasa bersalah terhadap sikap Ine.

“Mbak, kenapa nangis? kalau memang mbak gak ada perasaan sama sekali terhadapku aku mengerti mbak, aku gak akan kecewa karena perasaan gak bisa di paksa” ucapku dengan nada yang sangat melas.

“Hiks. Hiks. Hiks. Bukan begitu, nangisku ini antara senang dan sedih”

“Kalau gitu ceritain yang sedihnya dulu mbak?” Ucqpku kebingungan

“Hiks.. hiks.. hiks gak mau. Senangnya dulu aja”

“Yaudah terserah mbak, tapi jangan nangis dulu donk. Bingung ni aku” ucapki memelas agar tangisnya mereda.

“Perasaanku sama kayak kamu Ntung, aku nyaman, ingat kejadian aku dengan mantanku Elle, sejak saat itu aku mulai memandang kamu, entah kenapa auramu membuatku terkiwir-kiwir. Ingatkan, waktu aku pamit kuliah, aku menciummu sebagai ungkapan sayang dan cintanya kepadamu. Aku gak memandang kamu anak orang miskin atau apa, yang terpenting aku nyaman ketika sama kamu. Dan sekarang perasaanku ke kamu sama, tidak berkurang bahkan lebih. Hiks. Hiks. Hiks” jelasnya sambil terisak-isak

Setelah mendengar jawaban Ine aku sumringah, entah kenapa aku jadi orang paling bahagia sekarang. Tapi aku inget Ine belum cerita sedihnya. Akupun menyiapkan mental sekuat-kuatnya.

“Makasih mbak atas perasaannya kepadaku. Terus cerita sedihnya gimana mbak?” Tanyaku sambil aku degh-deghan.

HIKS.. HIKSS.. HIKSS.. HUHUHUHU !!!

Tangisan Ine semakin dalam, aku menatapnya penuh iba sambil menyiapkan mental.

“Hiks. Hiks.. ta…pi, ta..pi a…ku ti..daaakk bisaaa Ntung, Huaaa. Hikss..hiks.. hiks” katanya terbata-bata menahan tangis “aa..aaa..aku Hamik Ntung, hiks..huaaa. Aku gak mau kamu tanggung jawab atas anak yang bukan benihmu. Huaahhh.. Itulaah kena..pa Papa jatuh sakit karena kondisiku yang berbadan dua ini. Huaaa.. hiks..hiks hiks”

“Aaaa….paa?? Ka…kamu hamilll mbakk??” Ucapku tidak percaya bahwa Ine hamil. Yang jelas bukan aku pelakunya. Tapi siapa??.

Cuk.. Apes lagi sepertinya aku kembali ke kota. Sudah meninggalkan kerjaanku, cintaku pun kandas. Huft. Untung hanyalah namaku bukan nasibku. Fuck.

TAMAT

Daftar Part