web hit counter

Status Berkelas Part 10

0
277

Status Berkelas Part 10

Penasaran III, Scene 1

POV Dana

Aku merasa menyesal dengan kejadian semalam. Sesuatu yang tak seharusnya kulakukan. Apalagi aku masih dalam upaya mendekati pujaan hati bernama Nada. Penyesalanku semakin dalam terasa tatkala kuingat kembali perjuanganku untuk meraih perhatian Nada di acara kafe kala itu.

Meski kuakui bahwa Dona juga memiliki kecantikan dan daya tarik seksual yang luar biasa, namun rasa kasih tak bisa dipaksakan. Hatiku terlanjur tertaut pada dara yang telah berenang jauh di dalam genangan sukmaku. Dan lagi, bukannya aku tak peduli pada keberadaan janda yang memerlukan pendamping. Aku lebih peduli pada diri ini yang mana secara naluri fitrah pasti ingin mendapatkan pendamping yang single, bukan wanita berstatus mantan istri.

Dalam penyesalan ini terbesit rasa benci, kesal, dan muak atas tipu daya Dona dalam memperlakukan aku. Ini sebuah cara yang sadis untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Sungguh aku baru mengerti, ia tak sebaik dugaanku. Pandangan mata kadang bisa tersilapkan oleh teknik komunikasi verbal maupun non verbal.

Hari ini aku sudah memastikan untuk libur berjualan. Selain sudah terlambat untuk berbelanja karena ketiduran di rumah Dona, aku juga masih enggan kalau-kalau Dona muncul kembali menemuiku di lapak dagangan.

Untuk menebus kesalahan tadi malam, aku berniat menghubungi Nada untuk melanjutkan kisah cinta yang terhenti sejenak. Rasa bersalahku semakin menguatkan tekad untuk segera berinteraksi dengan Nada.

“Hai.. “, sebuah pesan singkat aplikasi whatsapp terkirim dari hpku. Menunggu agak lama akhirnya kuterima balasan pesan.

“Hai pagi.. “, jawab orang diseberang sana tanpa panjang lebar.

Ganggu ga nih?”, kulanjutkan pesan chat sebelumnya.

Aku menunggu agak lama untuk balasan chat yang ini. Berbagai pikiran berkecamuk mereka-reka tentang apakah gerangan yang membuat ia tak segera membalas chat dariku.

“Ehmm..hanya sedikit kesibukan di kantor”, akhirnya aku menerima balasan pesan tersebut. Plass..hilang sudah kekhawatiranku yang berpikir macam-macam.

“Nada, aku pingin ngobrol sithik karo awakmu. Ada waktu ga?”, (Nada, aku ingin ngobrol dikit sama kamu. Ada waktu?) aku mencoba peruntungan dengan mengajak Nada bertemu muka. Yapp..tepat sekali, orang yang sedang chatting bersamaku adalah Nada. Nada sang pujaan hati.

“Engkok awan pas jam istirahat kantor yopo mas?”, (Nanti siang pas jam istirahat kantor gimana mas?) senyum tersembul di roman muka saat kubaca balasan Nada yang sangat menyenangkan.

“Yo wes, nyuwun alamat kantor e engkok tak susul, golek maksi nang njobo ae yo”, (Ok, minta alamat kantornya nanti kujemput, cari makan siang diluar aja ya) dag dig duk kutulis balasan untuk Nada. Duh Gusti..semoga semua berjalan lancar tanpa terkendala.

Kuberlonjak girang bukan kepalang saat mengakhiri chat dengan Nada. Dengan semangat’45 beranjak kucuci si Prima kesayanganku agar bersih kinclong karena akan membawa muatan spesial nanti siang..Yiiihaaa.

Kupilih baju dan celana yang bersih di lemari pakaian. Momen istimewa harus dilakukan dengan cara yang istimewa. Sembari memilih baju, kuatur strategi jitu tentang akan kemana berikut plan ABC untuk mengantisipasi jika terjadi perubahan kondisi atau semisalnya.

Berbagai pilihan kata dan kalimat kulatih dengan mematut diri di depan cermin kamar. Hanya untuk memastikan, aku dalam kondisi persiapan yang benar-benar prima se-prima motorku tersayang yang bernama prima.

——-

Tak ada awan bergulung di atas sana. Hamparan permadani biru langit terpampang bersih tanpa coretan remang mega. Dominasi terik matahari laksana singa mengaum gagah berwibawa bertengger di kanvas Maha luas.

Jarum jam baru saja meninggalkan posisi tegak berhimpitan. Aku telah sampai di depan kantor Rapi Design, kupilih tempat berteduh di bawah pohon sebelah barat kantor tersebut.

“Aku nang ngarep rodok ngulon sithik, goncengan ae yo. Aku nggowo helm loro”, (Aku sudah didepan agak ke barat sedikit, boncengan aja ya. Sudah kubawakan helm) kukirim pesan kepada Dana dan dengan cepat langsung diiyakan olehnya.

“Hai.. Naik sini!”, kulihat Nada muncul dari balik pintu kantor yang berbentuk ruko tiga lantai dan kusapa ramah mempersilahkan Nada naik di boncengan motor primaku. Nada nampak kikuk dan salah tingkah. Kubuang pandangan ke arah lain agar ia tak merasa semakin grogi.

“Maem nang ndi iki?, (Makan dimana ini?) aku sedikit berteriak melawan gemuruh angin yang menerpa wajah kami saat motor mulai melaju di perjalanan meninggalkan jalan Veteran Surabaya.

“Sakkarep..”, (terserah) Nada menjawab dengan pendek dan lugas.

Aku berinisiatif membelokkan motor menikung ke arah kiri saat bertemu dengan perempatan Siola. Sepanjang perjalanan kuamati Nada hanya diam membisu. Mungkin dia sedang tegang, atau bisa jadi dia sedang sariawan heheh.

Kukurangi kecepatan motor saat melintasi kantor Ibu Risma, Walikota Surabaya kemudian berbelok ke arah kiri. Beberapa saat kemudian motor kuhentikan tepat di tikungan samping kantor Satpol PP. Aku berinisiatif mengajaknya untuk makan di Mie Pangsit Kotamadya. Sebuah tempat yang mudah diingat. Yang akan memberikan kenangan kuat pada lembaran memorinya.

Nasib beruntung sedang berpihak pada kami. Lapak pangsit yang biasanya penuh sesak oleh para pegawai pemkot yang istirahat, terlihat agak lengang. Kemungkinan ada rapat atau sejenisnya yang membuat mereka tak bisa menikmati jam istirahat sebagaimana biasanya.

Aku memilih kursi terjauh dan terpojok. Bukan niatan ingin mojok, namun aku lebih suka ketenangan. Sedikit menjauh dari keramaian dan lalu lalang pembeli maupun mas pelayan akan terasa lebih nyaman.

“Sehat Nada?”, kubuka pembicaraan untuk mencairkan suasana yang masih terlihat kaku.

“Lumayan hemm”, kurasakan ia berusaha memilih kata yang tepat agar tak merusak usaha pencairan yang sedang kubangun. Makcesss..terasa sejuk jiwa ini tatkala kulihat Nada melemparkan senyum mautnya. Senyum manis khas ala Nada yang bikin aku mabuk kepayang.

“Ehmm.. Nada. Sepurane kapan hari lek nggae awakmu nesu”, (Ehmm.. Nada. Maaf kejadian waktu itu jika membuatmu tersinggung) kuberanikan diri membahas kejadian tempo hari di kafe Kasino yang mungkin menjadi biang keladi menjauhnya Nada dariku.

“Iyo mas, aku ngerti lek sampean mesti ga enak kabeh karo aku. Tapi aku ga nesu kok. Cuman yo mungkin rodok kaget ae. Isin rek ditontok wong akeh!”, (Iya mas, aku memahami jika kamu merasa serba salah. Tapi aku ga marah kok. Hanya kaget saja. Malu dilihat orang banyak!) syukurlah ternyata Nada tak tersinggung. Aku menjadi tenang dibuatnya.

“Tapi aku isih oleh dadi koncomu kan?, Isih oleh pedekate dan ngejer awakmu kan?”, (Tapi aku masih boleh jadi temanmu kan?, masih diperbolehkan untuk PDKT dan mengejar kamu kan?) kukernyitkan kening lebih serius berbicara.

“Lek konco yo jelas oleh mas. Khusus ngejer aku, ehmm.. Cobaen ae. Berusahalah lebih keras. Ancen saiki aku durung isok, tapi aku isok berubah tergantung yopo usahae pean ngrebut atiku”, (Kalau pertemanan ya tentu saja boleh. Khusus ngejar aku., ehmm.. Coba aja. Berusahalah lebih keras. Memang saat ini aku belum bisa, tapi aku bisa berubah tergantung gimana usahamu merebut hatiku) Cara tanggap yang lugas dan tanpa basa-basi dari Nada. Oh kusuka cara dia menyikapinya. Ini membawa kesan bahwa ia bukan gadis yang senang neko-neko. Apa adanya.

Kami melanjutkan dengan obrolan ringan seputar pekerjaanku, keluarga dan sahabat sembari menikmati mie yang baru saja dihidangkan. Aku tak menyangka hubungan akan cepat membaik seperti ini. Duhh Gusti.. Panjenengan memang satu-satunya Sang Maha Pemberi Pertolongan.

“Ehmm.. Dadi ide, promosi, kreasi, dekorasi, sampek eksekusi sampean garap dewe kabeh?. Gendeng koen. Opo ga njlimet mas?. Uakeh berarti ilmune pean”, (Ehmm.. Jadi ide, promosi, kreasi, dekorasi, sampai pada eksekusi kamu kerjakan sendiri semua?. Luas biasaa. Apa ga rumit mas?. Banyak ya berarti pengalamanmu) Nada terbelalak heran pada cerita yang baru kupaparkan. Sepertinya ia terpukau. Tapi aku tak ingin besar kepala dan takabur. Semua orang memiliki daya upaya dan kelebihan masing-masing.

“Yo sering ngewangi dolor & konco dadi nular ilmune hehe”, (Ya sering bantu saudara & teman jadi nular ilmunya) jawabanku apa adanya.

“Tak pikir sampean melok seminar-seminar ngunu mas. Wah berarti daya serap pean dhuwur lho mas”, (aku kira kamu ikut seminar-seminar gitu mas. Wah berarti kemampuan pemahaman kamu tinggi mas) Nada kembali terbengong menatapku. Dan aku lebih terbengong lagi menatap dara cantik didepanku yang sedang menatap wajah ini. Betapa indah binar matanya, hidungnya, lekuk rahangnya, bibirnya, gerai rambutnya…. Oww ow gadisku. (hehe jadi inget judul cerita karangan Gadies di LKTCP perdana).

“Wahh lek melok seminar yo isok jebol bandar e non. Duwik sak ipet ga ngatasi gae melok-melok koyok ngunu iku”, (Wahh kalau ikut seminar ya bisa bangkrut neng. Uang sedikit ga akan cukup buat ikut yang begituan) dengan mbanyol kuungkapkan keterbatasanku dalam dana. Tanpa sadar mie santapan telah ludes kami hajar sembari mengobrol. Lembaran baru telah tertulis, harapku semoga indah hari-hariku bersamanya.

“Na, aku oleh request ga?”, (Na, aku boleh request ga?) kubisikkan pelan sebuah permintaan saat kami sedang menuju parkiran motor.

“Apa mas?”, tanya Nada antusias.

“Perjuangan babak 1, aku request awakmu ga mbalik kantor awan iki yo. Pliss.. Tak ajak kluyuran hehe”, (Perjuangan babak 1, aku request kamu tidak balik kantor siang ini ya. Pliss.. Kuajak nglayap hehe) kedua tangan memohon kutelangkupkan di depan wajah seperti orang semedi demi membuat Nada meloloskan permintaanku. Ia menjawab dengan anggukan berikut senyuman khasnya yang swearr.. Muanisss poll.

Kulihat Nada beranjak menjauh untuk menelepon seseorang. Mungkin dia menghubungi Hajar untuk minta handle pekerjaan atau apalah itu namanya aku tak terlalu paham. Yang pasti aku sudah sangat senang saat planning berjalan dengan baik. Kunyalakan sebatang rokok filter ketika sepertinya Nada masih sibuk mengobrol ditelepon cukup lama. Sambil duduk manis diatas motor manis menunggu dara manis, lagi-lagi kuatur strategi jitu untuk melumatkan hati Nada menggunakan serangkaian tehnik apik dan mengesankan.

“Sido nang ndi iki non?”, (Jadi kemana nih kita neng?) strategi pertama ku jalankan dengan memasangkan helm ke kepala Nada. Jelas akan memberikan kesan berbeda buat si dia Hehe.

“Lho.. Yo terserah pejuang dong. Tapi kalau boleh usul, jangan di keramaian seperti mall dan semacamnya yahh”, Jawaban Nada dan langsung kubalas dengan anggukan. Semenit kemudian motor manisku sudah melaju lincah diantara padat nya kendaraan yg mengalir kearah grand city dan sekitarnya.

Siang hingga sore kami habiskan dengan berjalan-jalan santai di kebun bibit Surabaya. Ya memang tempat tersebut adalah tempat yang tergolong kurang menarik dan ga keren. Tapi strategi jituku harus tetap berjalan. Mendekatkan Nada ke alam akan mempermudah untuk menyentuh hatinya.

Strategi berikutnya berjalan. Kuajak Nada cantik untuk duduk sejenak bersinggah di dekat kolam ikan. Ditepian kolam ikan koki kami duduk bersama. Menatap kedamaian kehidupan air. Ikan-ikan berenang kesana kemari dengan bebasnya. Hati bersih Nada akan dapat membaca ketenangan dunia air. Kupastikan lagi bahwa hatinya akan semakin terhanyut. Terhanyut bersama daun-daun yang berguguran kemudian terdorong kesana-kemari oleh kecipak ikan-ikan yang riang berenang tanpa rasa letih.

Kuberikan seikat perhatian dan setumpuk rasa nyaman kepada bidadari di sampingku. Tak ada lagi keraguan yang menghalau jiwa. Keyakinan yang tinggi kutambatkan dipuncak menara hati. Aku yakin perjalanan indah ini tak akan berhenti sampai disini. Aku yakin bidadari ini yang akan menemaniku hingga tua nanti. Semoga Sang Maha Kuasa Mendengar lirih hati ini.

——

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part