web hit counter

Status Berkelas Part 13

0
296

Status Berkelas Part 13

Just for Nada

——-

Malam semakin larut. Mendung bergelayut pekat menyimpan bermilyar ton air yang siap dimuntahkan membasahi kota buaya. Dana, Khusna, Hajar, Indra, Najar, berikut Pak ali dalam dekapan ketegangan menunggu di depan Ruang Gawat Darurat bagian pemeriksaan intensif Rumah Sakit Karang Menjangan Surabaya. Di dalam sana, Nada sedang diperiksa intensif terkait peristiwa tabrak lari yang dialami dara cantik tersebut beberapa saat yang lalu.

Tak ada luka luar yang terlihat parah kecuali hanya sedikit baret-baret di pelipis dan beberapa bagian tubuhnya. Namun kondisi pingsan Nada membuahkan kerisauan tersendiri kalau-kalau terdapat luka serius dalam tubuh Nada.

“Bapak ga popo ta Sayang ikut kesini?, kasihan lho jek dorong fit”, (Bapak ga papa kah Sayang ikut kesini?, kasihan beliau masih belum fit) Khusna sedikit berbisik ke arah Hajar yang ada disampingnya.

“Santae ae Khus, bapak wes kuat kok. Ngejak balapan mlayu ta saiki? Hehe”, (Santai saja Khus, bapak sudah kuat kok. Ngajak lomba lari kah sekarang? Hehe) tanpa disadari ternyata Pak Ali mendengar bisikan Khusna. Sedikit komentar menggelitik beliau sengaja untuk sedikit mencairkan suasana tegang diantara mereka.

“Hehe ampun pak, saya mending diajak balapan makan daripada lari”, Khusna terkekeh mendengar candaan Pak ali.

“Aduhh.. Mugo-mugo Nada ga popo rek”, (Aduhh.. Semoga Nada baik-baik saja) senewen Hajar tetap saja menyeruak meski Pak Ali dan Khusna berusaha memberikan candaan pereda stress.

“Koen seh No, katek ngejer-ngejer Nada barang.. Areke poleh gedandapan”, (Kamu sih No, pakai acara ngejar Nada segala.. Tuh cewek kan jadi kelabakan) giliran Indra menyuguhkan banyolan segar dengan maksud mengajak lebih santai.

“Cuk, lambe tak solder lho yo engkok lek angger njeplak ae ngomonge!”, (Brengsek, aku solder mulutmu nanti kalau asal nyablak) candaan Indra ternyata dibalas dengan sewot oleh Dana yang terlihat sangat khawatir terhadap Nada melebihi kekhawatiran Hajar sebelumnya.

“Solder of fortune ta maksudmu? Hehe lagu cinta rek.. Ciee ciee.. Ihirrrr…”, (Solder of fortune kah maksudnya? Hehe lagu cinta nih yee.. Ciee ciee.. Ihirrr..) candaan Indra kali ini benar-benar membuat Dana naik pitam. Dana mendesak Indra hingga ke tembok dan kemudian mencengkeram krah baju yang dikenakan Indra.

“Sing enak po’o koen lek ngomong”, (Yang enak napa kalau ngomong) gemeretuk gigi Dana mengumpat ke Indra penuh emosi.

“Hei.. J*nc*k, ga usah emosi cak.. kalem ae lek ngomong”, (Hei.. J*nc*k, ga usah marah bos, slow aja kalau ngomong) alis mata Indra naik terdorong kerutan di dahinya. Panas juga ia merasakan cengkeraman di lehernya yang belum dilepaskan Dana.

“Koen ga iso ta prihatin sithik? Pringisan ae. Ancen repot nggenahno arek ga duwe gendakan iku Hahh. Dasar ga duwe perasaan koen!”, (Kamu apa ga bisa sedikit saja menunjukkan rasa prihatin? Becanda mulu. Emang repot ya kalau ngomong ama orang yang jomblo Hahh. Dasar kau ga punya perasaan!) Bentakan Dana kali ini cukup untuk memantik panas telinga Indra. Dengan gusar didorongnya Dana mundur beberapa langkah. Namun Dana yang sudah tersulut api amarah langsung mendaratkan satu pukulan telak ke pipi kanan Indra.

Bukk..
Meski pukulan itu tak terlalu keras karena posisi Dana yang sedang melangkah mundur, namun reflek Indra yang seorang atlit karate spontan menjawab berupa benturan tendangan ke arah perut Dana. Jlebbb.. Seketika Dana tersungkur menahan sakit.

“Hehhh.. Entut koen kabeh. Kok malah gelut karepe dewe. Stopp stop. Hajar, tolong ajak Dono menjauh. Indro biar ku urus dulu”, (Hehh.. Kentut kau semua. Kok malah bertengkar sendiri. Stopp stop. Hajar, tolong ajak Dono menjauh. Indro biar ku urus dulu) Khusna cepat menengahi pertengkaran dua sohibnya. Kondisi kalut dan stress seperti ini memang sangat mudah untuk digunakan setan menggerogoti kesabaran dan mengadu domba.

Hening sejenak suasana di sekitar Dana. Semuanya terdiam tak berani angkat bicara. Beberapa pengunjung lain yang sempat memperhatikan pertengkaran Dana dan Indra juga sudah kembali pada aktifitas masing-masing.

“Keluarga Annada Kamaniai?”, dokter jaga yang sedang memeriksa Nada tiba-tiba muncul dari balik ruang pemeriksaan. Serentak Dana dan yang lain mendekat.

“Jadi begini Pak, mas, mbak.. Pasien Annada mengalami trauma di daerah kepalanya, istilah umumnya disebut gegar otak. Namun belum diketahui seberapa parah trauma tersebut sebelum kami mendapatkan foto scan rontgen kepala. Beliau telah sadar barusan. Selama pemeriksaan mbak Annada beberapa kali muntah dan mengeluh pusing hebat. Besok pagi kami akan melakukan rontgen. Sementara silahkan jika njenengan ingin melihat kondisi pasien, tapi jangan gaduh karena ybs baru saja bisa tertidur. Tolong juga diurus administrasi untuk memindahkan pasien ke kamar inap.” dokter menutup kalimatnya dengan sebuah senyum penghibur. Semoga saja senyuman itu adalah bentuk keoptimisan dokter dalam menanganinya.

——-

Sebuah ruangan kamar kelas VIP dipilih Hajar untuk kamar tidur bos sekaligus sahabatnya. Jam telah menunjukkan pukul 00.05 malam. Seluruh yang ada masih terpaku di teras kamar VIP Nada. Hanya Dana yang masih duduk mematung disisi Nada. Melihat ‘calon kekasihnya’ masih tertidur, akhirnya Danapun berdiri dan melangkah beranjak duduk di teras bersama dengan yang lain.

“Eh sayang, mending bapak karo mbak Najar diterno balik sik ae. Mesakno bapak kebengen, adem. Mbak Najar jen ngancani bapak cek ga dewean”, (Eh sayang, mending bapak dan mbak Najar dianter pulang dulu. Kasihan bapak kemalaman, dingin. Mbak Najar biar nemenin bapak) Hajar angkat bicara mengarahkan bapak kesayangannya untuk istirahat terlebih dahulu mengingat kondisi Pak ali yang belum terlalu sehat.

“Aduh Ndut, aku sakjane pingin ngancani Nada. Kepikiran aku lek ndok omah ae”, (Aduk Ndut, aku sebenarnya pingin nemenin Nada aja. Malah kepikiran kalau nunggu dirumah) berat hati Najar untuk meninggalkan Nada yang masih tergolek lemah tanpa diketahui kepastian kondisinya.

“Bapak yo sakjane ga tego nduk nontok kondisi Nada. Tapi ga lucu lek malah nambahi beban pikiran wong-wong nang kene lek sampek aku karo koen malah loro pisan. Giliran ae ngonconi Nada, gantian istirahat. Mene koen lak iso rene maneh”, (Bapak ya sebenarnya tidak tega melihat kondisi Nada. Tapi tidak lucu kalau malah nambahin beban pikiran orang-orang disini kalau aku dan kamu drop kesehatannya. Giliran aja nemenin Nadanya, gantian istirahat. Besok kan kamu bisa kesini lagi) kebijakan Pak ali muncul memberikan cara pandang dewasa. Najarpun akhirnya nurut pada keputusan tersebut.

Khusna baru saja hendak melangkah untuk menghantarkan Pak ali dan Najar pulang ketika muncul sepasang suami istri bersama seorang pria.

 

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part