web hit counter

Status Berkelas Part 20

0
340

Status Berkelas Part 20

Badai Kemarin, Scene 1

Waktu sudah berlangsung cukup lama. Tak terasa sudah menginjak 1 tahun sejak peristiwa gegar otak yang dialami Nada, Annada Kamaniai.

Dalam kurun waktu 1 tahun, masalah sejenak mereda. Semua kembali pada rutinitas masing-masing. Dana dengan gorengannya, Nada dan Hajar dengan Rapi Designnya, Khusna dengan bait-bait nada yang masih setia mengiringi para pengunjung cafe, Indra dengan turnamen karate nya yang telah menghantarkan hingga tercapai 3 medali emas dalam kurun waktu tersebut, Angga dengan pekerjaan co-pilot pesawatnya yang masih beroperasi namun masih juga belum dikarunia anak hasil pernikahan bersama Hera.

Sedikit berbeda dengan yang lain, Dira bahkan baru memulai bisnisnya dalam 1 tahun ini. Keahliannya mendesign pakaian menghantarkan pada bisnis designer yang perlahan merambat pesat. Tak sedikit pesanan pakaian berbagai model mengalir di meja kerjanya. Mulai dari pakaian anak hingga pakaian orang tua ia mampu kuasai. Bahkan konon beberapa pakaian konser artis pantura Nella Kharisma dan Happy Asmara adalah design dari Dira. Satu sahabat sekaligus pelanggan setia Dira adalah Indra. Yaa.. semua kemenangannya dalam kompetisi karate hingga menyabet tiga medali emas tak luput dari campur tangan Dira. Tiga seragam yang dibuat Dira mendampingi Indra hingga mencapai final. “Aku merasa lebih percaya diri jika menggunakan seragam buatan Dira”, begitu kata Indra. Pesatnya bisnis yang dijalani Dira dibuktikan dengan jumlah karyawan yang telah turut membantu disana. Sepuluh orang asisten jahit, satu leader, dua orang quality control, dua orang customer service merangkap marketing, dan dua orang bagian pengiriman. Bahkan lebih banyak daripada karyawan yang ada di perusahaan Nada, adiknya Dira.

Lain Dira, lain pula Najar. Rencana interview untuk masuk ke rapi design yang batal karena kondisi Nada yang segera pulih waktu itu membuat Najar melirik peluang lain. Dibantu modal dari Hajar, adiknya. Najar mengembangkan usaha Bakso yang sebelumnya digeluti Pak Ali. Keahlian Pak Ali dalam memproduksi bakso kualitas spesial mampu ditularkan kepada Najar dan beberapa anak buah. Dalam waktu satu tahun bisnis bakso mereka mengalaminkemajuan yang sangat berarti. Berawal dari satu kios di dekat rumah Pak Ali, sekarang Najar dan Pak Ali telah memiliki 5 cabang depot bakso yang tak pernah sepi pembeli. Lalu dimanakah Dion sang suami Najar ?, mari kita tunggu di part-part berikutnya.

———-

Pagi yang mendung, kegelapan memulas kelam warna angkasa. Pancar kuning mentari yang biasa tampil memperlihatkan sulur indah keemasan, pagi itu tak terlihat. Hanya arsir abu-abu dipertegas guratan tinta hitam mengambil alih kenyataan, seolah tak ingin biarkan sebentar saja kecerahan merasuki relung pagi. Nun jauh di atas sana kelelawar dan beberapa burung malam terlihat senang mendapatkan dispensasi waktu atas perpanjangan masa gulita. Atap dunia sudah tak sanggup lagi menyimpan genangan di kelopak matanya.

“Kak, yopo (gimana) kelanjutane nasib kita bertiga?. Apa tak sebaiknya segera kita datangi Pak Kusno dan Bu Estu untuk menyudahi semua sandiwara ini?”, Nada membuka suara saat ia, Angga, Hera, dan juga Dira duduk santuy di serambi lantai dua rumah Angga. Sudah sejak sakitnya Nada saat itu, dan terbongkarnya rahasia ‘anak angkat’, Nada dan Dira memilih tinggal di rumah kakaknya, Angga. Sekaligus menemani Hera yang sering ditinggal Angga tugas penerbangan.

“Mmhehh.. Ya ancen kudu ndang (memang harus segera) diselesaikan masalah ini biar ga berlarut-larut. Tapii.. yopo yoo (gimana ya), aku iku mualess ketemu mereka. Gatel kupingku krungu (dengar) ucapan-ucapan mereka yang lebih mirip ucapan iblis!”, Angga mendesah berat. Namun seburuk apapun ucapan Master Kusno and the wife, tetap saja beban tanggung jawab menaungi adik-adiknya ada di pundak dia.

“Ya tetep harus diselesaikan mas.. kasihan adik-adik kita”, Hera yang notabene adalah kakak ipar, namun rasa sayangnya kepada Nada dan Dira begitu besar, seperti adiknya sendiri.

“Iya tapi kalau kita kesana yo ojok lawaran tok rek (ya jangan tangan kosong aja)”, Dira yang sedari awal diam akhirnya ikut berbicara memberikan pendapat.

“Haah.. Lawaran?, maksudnya Ra..”, Angga mengernyitkan kening.

“Kak, Romo..ehhm Pak Kusno dan istrinya itu mendampingi kita sejak kecil. Bahkan sampai sekarang, yang kita tahu ya hanya mereka ortu kita. Kita jangan lawaran menghadapi mereka.. persiapkan semua amunisi untuk mengatasi omongan mereka yang selalu berbelit koyok silit, agar kita ga kalah omong. Termasuk amunisi financial jika ternyata mereka meminta ganti rugi karena telah merawat kita. Dan juga amunisi pertahanan kalau-kalau ada tindakan anarkis dan premanisme pasca pertemuan”, kening Dira ikut berkerut melantunkan kata demi kata yang membuat seisi teras berdecak kagum.

“Weiiss.. mbak Dira rek. Berkelas ngunu analisanya.. Nada malah ga kepikiran sama sekali hal itu.. hahaha”, wajah terpukau Nada mengiringi ucapannya menanggapi penjelasan Dira.

“Iyo lho.. koen kok pole pinter ngunu (kamu kok jadi pintar gitu).. diajari sopo Ra?”, imbuh Angga menimpali dengan takjub.

“Hahahaha.. opo seh (apaan sih)?. Aku iku habis baca cerita seru nang forum internet. Judule =Aku Cinta Kau & Dia= , penulisnyaa.. ehhm.. FiktorX kalau ga salah. Analisa, berpikir tenang, antisipasi premanisme.. aku jadi dapat inspirasi setelah membaca. Heheh.. aku menyadur iki. Bukan pikiranku dewe”, Dira tertawa riang. TS-pun juga ikut riang hehe.

“Hahaha mbooh, sakarepmu mbak.. cepek deh. Wes gini ae. Kita bagi tugas!”, Nada terkekeh. Sebenarnya diam-diam Nada sendiri pun sudah membaca cerita tersebut. Tapi tidak dapet ide inspirasi sama sekali. Hanya SS yang melekat di ingatannya, yah memang niatnya buka forum juga pengen baca yang enak-enak, bukan yang pusing-pusing. Maklum lah, wanita single yang siap dibuahi.

“Wkwkwk bagi tugas, adane sekolah ae katek kerja kelompok disek ngunu trus bagi tugas hahaha (seperti jaman sekolah saja pakai kerja kelompok dulu trus abis itu bagi tugas hahahaha)!”, Angga ngakak mendengar kepolosan ucapan Nada. Pun juga Dira dan Hera yang mesam-mesem lambene.

“Aku serius ah.. kita bagi tugas dalam menghadapi mantan ortu kita”, kali ini tekanan suara Nada terdengar sungguh-sungguh. Terpancar kobaran api kebencian dari matanya.

“Hmm..coba dik kamu jelaskan”, Angga membedikan respon positif atas ucapan Nada sebelumnya.

“Iya kami pengen denger ide cemerlang dari si bungsu haha”, imbuh Hera menimpali.

“Begini… yang perlu kita persiapkan sesuai asumsi mbak Dira tadi adalah trik pembicaraan agar kita tidak terbelit ucapan mereka yang berbelit, persiapan finansial jika saja mereka meminta ganti rugi, dan yang terparah adalah resiko kekerasan. Jadi ideku.. mas Angga yang sudah terbiasa ngobrol dengan mereka kebagian tugas men-tacle semua ucapan mereka yang seperti belut..ehh setan belut, aku yang akan melayani tantangan mereka jika mengungkit seputar pengeluaran dan kerugian, dan mbak Dira tolong koordinasi dengan eheemm.. si jago karate yang lagi deket ituu tuh..hehe untuk mengantisipasi kalau terjadi hal yang tidak diinginkan”, tandas Nada penuh keyakinan. Yang lain hanya manggut-manggut geleng-geleng mengamini ide brilian si bontot.

Ujung akhir ucapan Nada seiring dengan mulai turunnya titik hujan. Sepertinya ini adalah berkah dari rencana mereka. Dengan segera adik kakak tersebut berlarian masuk ke bangunan lantai dua untuk menghindari tubuh basah karena hujan.

Hujan semakin deras. Petir menyambar, mengirim kilat dan gemuruh laksana hentakan Maha Dahsyat. Hati Angga bersaudara tergetar meresapinya. Menghayati liku hidup mereka yang terdampar tanpa orangtua. Terlahir dan kemudian dibesarkan oleh orangtua sandiwara yang tak beretika namun terselubung kemasan priyayi. Sebuah keluarga yang pura-pura harmonis awalnya, bukan keluarga cemara, tapi keluarga cempedak 😆

———-

Hari yang dinantikan tiba. Kini Angga bersaudara tengah duduk berderet di hadapan dinding keangkuhan milik Pak Kusno dan Bu Estu. Rona muka penuh kemarahan, tergambar jelas disana. Namun tiga bersaudara tak pernah gentar. Mereka adalah saudara yang saling menguatkan.

“Weehh.. wes wani muncul rene yo kowe cah telu (sudah berani muncul di sini ya kalian bertiga). Bocah ra ono maturnuwun e (anak kok ga ada terimakasihnya). Dijadiin priyayi kok ndak mau, malah milih dadi gelandangan”, Pak Kusno mengawali ucapannya dengan serangan beruntun yanh sangat khas.

“Pramilo meniko (oleh karena itu), kami datang untuk menghormati panjenengan berdua sebagai bentuk terimakasih kami karena telah di rawat selama ini”, ucapan Angga yang tenang cukup menggetarkan gendang telinga Pak Kusno dan istrinya. Bagaimanapun juga Angga adalah sosok yang selalu santun dan penurut selama mereka merawatnya meski di didik dengan pendidikan yang kejam.

“Mung (terimakasih)?. Ora ono (tidak ada) permintaan maaf?. Ojo angkuh koyo mangkono (seperti itu). Kita tidak pernah mendidik cara angkuh seperti itu !”, Nyai Dasima penjelmaan Bu Estu angkat bicara, lebih menyudutkan. Memutarbalikkan ucapan.

“Injih saya mewakili adik-adik nyuwun pangapunten (minta maaf) jika kami punya salah selama ini”, Angga tetapnberusaha bertutur tenang dan santun. Menahan amarah, menyimpannya demi meminimalisir terjadinya ketegangan yang lebih memuncak.

“Pangapunten opo??.. kowe Angga.. wis dinasehati yen rausah nikah karo (dengan) wong wadon kampungan iki, tapi kowe mbantah. Opo jebule (apa ternyata) ?. Sampe saiki ora bisa mgasih keturunan to?. Yen pangapunten kuwi kudume kowe minta maaf dan meninggalkan bojo mandulmu kuwi!”, Bu Estu bukannya mengendur setelah dimintai maaf, sebaliknya semakin sengit dan bahkan memojokkan Hera yang tertunduk pedih disamping Nada. Remasan tangan Nada dalam genggaman tangan Hera cukup memberikan efek ketenangan meski tak sepenuhnya akibat bulan-bulanan kalimat pedih yang terucap dari lawan bicara mereka.

“Kowe Dira.. wes dijodohkan dengan orang kaya raya di Jakarta. Opo jebule?, kowe malah pulang kesini dan sekarang lontang lantung ga jelas. Mbokyao ngopeni (merawat) bojomu kono. Ngono kok jare pangapunten!”, lanjut Bu Estu semakin memedihkan telinga. Ucapannya sungguh tak manusiawi.

“Yang terakhir kowe Nada, bocah ora bisa di tata. Ingat ya, kamu sudah kami jodohkan, tidak bisa ditarik. Bakal nggawe wirang (akan bikin malu) jika kamu batal. Tunjukkan kesetiaanmu pada kami!!”, ucapan pamungkas yang membuat Angga bersaudara terdiam. Akan panjang ceritanya jika Nada sampai menikah dengan orang yang dijodohnya dengannya.

“Cukuppp.. kalian sudah keterlaluan. Mulai detik ini kami sudah tidak peduli pada kalian. Hanya tua saja tapi mental tak mencerminkan usia kalian. Kami akan memutus hubungan dengan kalian.. paham??”, Nada menyalak keras. Matanya berapi-api, tubuhnya tergetar menahan emosi yang meledak-ledak.

“Wahh wahh.. kowe mau jadi anak durhaka?. Begitu balasan untuk orang yang sudah merawat kalian?”, pak Kusno terpancing semakin meninggi emosinya.

“Durhaka apa?.. itu jika kalian orang tua kandung kami. Lagipula kami tak pernah meminta untuk kalian rawat?. Lalu merawat apa yang kalian maksud??. Sejak kecil kalian perlakukan kami seperti pembantu. Makan seperti kucing. Tidur seperti anjing. Itu namanya merawat??. Kalian hanya memanfaatkan keberadaan kami sebagai lakon sandiwara kepriyayian. Beruntung kami selalu mendapatkan beasiswa sehingga tidak pernah meminta uang sekolah kepada kalian..”, Nada terus menumpahkan apa yang selama ini ia pendam.

“Woooh yo pancen nurun bejat bapake kae (ya emang keturunan bejat dari bapaknya itu). Ora iso dadi priyayi”, Pak Kusno masih saja ngomel tak jelas.

“Tak perlu kalian mengomentari garis keturunan kami. Bercerminlah sebelum berucap. Semua hal buruk yang kalian tuduhkan ke kami itu ada pada kalian semua. Satu lagi, mbak Hera tidak mandul.. justruuu istrimu itu yang mandul..!! sampai tega memperalat kami menjadi anak sandiwara!!”, Dira ikut mengecam segala tindakan buruk Pak Kisno dan istrinya. Amarah Dira melonjak drastis seiring kemarahan Nada yang juga belum mereda.

“Opoo?.. mau minta ganti rugi?. Gausah ngomong, saya sudah paham isi otak kalian. Dengarkan ucapan Annada Kamaniai ya.. jika kalian ingin, maka kami yang akan menghidupi di sisa umur kalian. Anggap saja itu sebagai ucapan terimakasih kami telah kalian jadikan babu disini!!!”, Pak Kusno terperanjat saat Nada tiba-tiba berbicara seolah mengerti apa yang sedang ia batin.

“Terserahhh.. bocah-bocah edan sulit diajak ngomong baik-baik. . Uhukk hukk”, Pak Kusno hampir putus asa kemudian terbaruk-batuk memwgang dadanya.

“Wes ndang ngalih (pergi) dari sini. Suamiku hampir kambuh jantungnya gara-gara kalian”, Bu Estu berdiri, sejenak kemudian diikuti Pak Kusno berdiri dengan tetap memegangi dadanya.

“Ingat ya.. calon suamimu tak akan tinggal diam !! Uhukk huk hukk”, masih sempat Pak Kusno mengancam Nada lalu melangkah meninggalkan Angga bersaudara dengan di papah oleh Bu Estu.

———-


Sekian jam setelah Angga bersaudara berlalu..

“Haloo nak Pras.. bisa datang ke rumah?. Membicarakan Nada calon istrimu!”, terdengar Bu Estu menghubungi seseorang.

Badai kemarin belum juga usai..

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part