web hit counter

Status Berkelas Part 29

0
280

Status Berkelas Part 29

Njumbul !!!

Mendekati malam, geliat pedagang makanan mulai terlihat di beberapa sisi jalanan pucang anom. Indra nampak sedang mojok sendiri di sebuah warung Jumbo Jus menikmati segelas besar jus sirsak mix strawberry ditemani satu batang Surya 12 Gudang Garam. Itulah rokok sejuta umat yang ngehitz banget di kalangan pria Surabaya dan sekitarnya.

Matanya sesekali menikmati cewek-cewek cantik yang sedang antri untuk membungkus jus. Sebentar kemudian mata Indra menerawang kearah lalu lalang jalanan. Pikiran dan hatinya sedang dalam kondisi tidak nyaman. Bayangan wajah Najar sesekali melintas merisaukan perasaan.

Memang Indra sudah memutuskan untuk fokus bersama Dira. Posisinya bersama Najar yang selalu mengambang sudah pada puncak kebosanan. Najar memang cantik, seksi, baik hati.. tapi itu semua tak cukup jika Indra tak bisa tuk memilikinya. Terakhir Najar menyampaikan bahwa kinilah saatnya bagi Indra untuk memilikinya. Namun semua itu terlambat, Indra telah memiliki Dira. Terlalu lama bagi Indra untuk menunggu tanpa ada kejelasan. Mungkin begitulah garis jodoh yang ditentukan sang pencipta.

Tapi meskipun demikian, ada rasa iba menyeruak di hati Indra. Saat hubungan dengan Najar berakhir, Indra masih cukup tenang karena ada Dira. Namun bagaimana dengan Najar?. Kepergian Indra tentu menyisakan kedukaan yang mendalam bagi Najar. Apalagi Najar masih dalam posisi sendiri tanpa pasangan pengganti. Betapa perih tentunya perasaan Najar. Disitulah letak kekalutan Indra. Hati kecilnya seperti tak tega membuat Najar menderita karena cinta.

Dalam kesendiriannya tersebut, tatapan Indra berhenti pada seorang wanita muda yang duduk tak jauh darinya. Umirnyq berkisar 30 tahun. Posisi Indra yang duduk dibelakang wanita tersebut membuat si wanita tidak menyadari jika sedang diamati.

Wanita tersebut seperti sedang tegang. Berkali-kali ia membuka handphone nya dengan gusar. Indra menangkap gerak tubuh yang sedikit janggal dari si wanita. Hingga pada menit berikutnya terlihat si wanita menerima panggilan telepon.

“Haloo, yaopo mas? Aman?. Sampean kan sudah aku bilangin. Aku sudah gerak untuk menekan Dana. Ngapain sih sampean jalan lagi pakai cara lain. Malah bisa runyam nanti rencana kita gara-gara kamu !!”, ucap si wanita.

Lawan bicara si wanita seperti sedang menjelaskan sesuatu yang kemudian dijawab lagi oleh si wanita.

“Tapres saiki?. Yowes tunggu. Otw kurleb 1/2 jam aku sampai sana”, ucap wanita itu lagi.

Indra terhenyak begitu mendengar nama Dana disebut. Dengan cekatan ia ketik pesan whatsapp untuk grup DKI.

“Bro. Urgent.. aku sedang membuntuti seorang wanita yang menyebut nama Dana. Aku curiga kalau dia adalah Dona yang pernah diceritakan Dana kapan hari. Segera meluncur ke taman prestasi ya kalian. Kita ketemu disana. Cari tempat yang aman dari pandangan karena wanita ini tidak sendiri. Dia ada janji dengan seseorang di tapres. Aku otw ngikutin. Kalian buruan !!!”, Tulis Indra sambil membayar jus. Matanya sesekali melirik wanita tadi yang sedang berkemas dan kemudian berjalan ke arahnya, hendak membayar jus.

Indra sejenak mengamati merk mobil dan plat nomer yang baru dikendarai si wanita. Dengan cepat Indra melesat meninggalkan mobil tersebut, menuju taman prestasi.

———-

Indra baru saja memarkir motornya ketika tiba-tiba tangannya diseret oleh dua orang bermasker. Dengan cepat Indra mengangkat tangannya bersiap melepaskan pukulan.

“Waiit.. Jangkrikk. Aku Dana.. maen pukul aja lu !! Sem..”, pria bermasker merunduk dengan menengadahkan tangan. Khawatir jika Indra benar-benar melesatkan pukulan ke arahnya.

Indra tekekeh dan segera mengikuti langkah kedua temannya memasuki rerimbunan tanaman taman. Tak berselang lama, datanglah mobil yang tadi dilihat Indra.

Si wanita segera turun bersamaan dengan seseorang pria yang langsung menggamit tangannya menuju sebuah kursi beton di tengah taman. Indra dan tim pun mendekat, memperpendek jarak pengintaian.

“Bener koen Ndro.. itu Dona”, bisik Dana saat temaram lampu taman menyinari wajah si wanita.

“Wahh.. Dona tibakno ayu yo rek (Dona ternyata cantik ya)”, bisik Khusna kagum, namun segera dijawab isyarat jari telunjuk di depan mulut oleh Indra.

“Sampean cari masalah aja sih mas. Ngapain gerak sendiri seperti itu?. Sia-sia dong usahaku menjebak Dana kapan hari!!?”, ucap si wanita yang ternyata adalah Dona kepada pria yang duduk disampingnya.

“Halahh giringanmu kesuwen (kelamaan). Selak (keburu) Kusno bangkrut. Gigit jari nanti kita sayang”, sambut si pria membela diri.

“Sek sek.. tolong sampean jelaskan semua rencana dari awal. Biar aku paham dan tidak tumpang tindih seperti sekarang ini !!, pinta Dona kepada si pria.

“Hmm.. sudah rencana kita dari awal dulu kan untuk merebut kekayaan Kusno dan Hadi papanya Najar itu!!”, ungkap si pria.

“Iya paham!!, yangvaku masih bingung itu gimana skemanya??”, tanya Dona lebih detail.

“Aku sudah masukkan adikku ke dalam lingkup keluarga Hadi melalui pernikahan dengan Najar. Tapi dasar anak bodoh.. malah dia terima panggilan kerja ke jepang. Jadinya sementara ini aku kehilangan akses masuk ke tubuh keluarga Hadi. Harus segera dipikirkan rencana berikutnya”, ucap si pria yang sontak membuat trio DKI yang mengintip menjadi kaget.

“Lalu gimana langkah buat keluarga Kusno?”, tanya Dona lagi.

“Jauh-jauh hari aku sudah masuk melalui orang bayaran di Jakarta sana yang aku atur sedemikian rupa biar menikah dengan Dira, anak Kusno yang nomer dua. Tapi ini orang juga begonya kebangetan.. dia malah maen api dengan menjual tubuh anak Kusno. Hmm.. daripada lama-lama malah terdengar Kusno, ya sudah orang ini aku mampuskan saja. Akhirnya aku maju sendiri ke Kusno dan bersiap untuk menikahi anaknya yang bungsu. Cara pertamanya adalah dengan kusuruh orang agar menyerempet si anak bungsu Kusno, harapanku agar Kusno khawatir terhadap anaknya dan segera menikahkan denganku. Eh ternyata ada si kampret penjual gorengan ya pedekate. Makanya aku suruh kamu tempel si kampret agar ga mengganggu rencanaku!!”, wajah si pria ber api-api penuh semangat.

“Iya kan mas sayang, sudah aku tempel si Dana itu”, ucap Dona.

“Iya tapi ojok diajak kelon. Haaahh !! Koen koplak. Kurang gede ta kontolku??”, si pria sedikit berang kepada Dona. Tubuh Dona mengkerut takut.

“Iya tapi itu mas juga mau nikahi anaknya Kusno hayoo.. mas ga hargai perasaanku !!”, Dona memberanikan diri menyentil si pria.

“Halahhh.. itu kan cuma skenario saja.. toh nanti setelah kekayaan dua keluarga itu kita rebut, tentu kamu yang akan aku ajak kabur ke LN.. kita foya-foya disana hahaha”, si pria tertawa menjengkelkan. Hampir saja Dana melompat menunjukkan diri jika Indra dan Khusna tak menahannya kuat-kuat.

“Trus yang mas lakukan tadi sore apa tidak terlalu bahaya?. Meleset dikit bisa runyam kita!!”, ucap Dona.

Trio DKI masih bertanya-tanya dalam hati tentang apa maksud perkataan Dona barusan.

“Westalah menengo ae (sudahlah diam saja). Kamu nikmati saja pertunjukanku !!”, si pria menjawab pongah kemudian berdiri dan cepat berlalu. Di ikuti Dona yang setengah berlari mengejarnya.

Dana dan kedua sahabatnya baru saja hendak melangkah untuk mengikuti Dona sebelum kemudian terdengar handphone Khusna berdering.

“Mas Khus.. segera ke IRD karmen. Mbak Hera kritis !!”, teriak Hajar dari seberang telepon.

———-

Cuaca Surabaya petang itu tak mendung. Hanya kegelapan malam yang mulai merambat menjamah sore. Jalanan memadat akut, penuh dengan lalu lalang manusia pulang kerja. Biasanya jalanan selepas jam 19.00 baru sedikit longgar.

Namun mendung bergelayut di wajah Dodo dan Hajar. Dengan kecepatan terbaik mereka membawa tubuh Hera ke rumah sakit dr. Soetomo.

Wajah Dodo menegang. Ia takut membayangkan apa yang bakal terjadi pada Nada. Dodo masih sangat trauma mengingat kejadian pemerkosaan atas Mita waktu itu. Ia tak mau kejadian itu terulang pada Nada. Terlebih sekarang ada satu lagi korban yang entah bagaimana nasibnya nanti. Kakak ipar Nada terkapar tak sadarkan diri. Hajar yang mengemudikan mobil milik Nada juga mulai terlihat membiru pipinya bekas tamparan anak buahnya Pras tadi.

Dodo tak kuasa menahan kekhawatiran, ketakutan, kengerian melihat Hera yang tergolek di jok belakang mobil dengan kepala dalam pangkuan Dodo. Pakaian Dodo sudah ikut basah memerah dimana-mana terkena darah dari tubuh Hera.

“Mas..mas.. gawat darurat mas..segera !!”, teriak Hajar dari dalam mobil kepada sekuriti yang berjaga di gerbang IRD Rumah Sakit dr. Soetomo Surabaya. Perawat segera berdatangan menyambut mobil yang dikendarai Hajar.

Dodo baru saja selesai membersihkan tubuh dan pakaiannya di toilet Rumah Sakit saat melihat Hajar sibuk menelepon kesana kemari.

“Mbak Hajar, sampean juga terluka.. ayo aku antar ke perawat untuk diobati dulu sambil menunggu kabar berikutnya. Mbak Hera sudah dirawat intensif kok”, ajak Dodo yang mengenakan jaketnya karena terpaksa ia membuang kemeja yang kotor terkena darah Hera.

“Iya mas”, Hajar mengangguk lemas yang kemudian digandeng oleh Dodo menuju perawat jaga. Lumayan rek Dodo bisa menggandeng Hajar hahaha.. kalau dalam kondisi normal bisa ditabok mungkin Dodo hehe.

“Halooo Yos.. isok nang rumah sakit karmen?. Ceritanya panjang. Kesini aja dulu nanti aku jelaskan”, Dodo menghubungi Yosa sambil menunggu Hajar mendapatkan pengobatan.

———-

Scene 2


》》》》○《《《《

“Mas Dodo…”, seseorang memanggil Dodo, iapun menoleh.

“Lho mbak Najar…”, Dodo mendapati Najar datang bersama seorang pria yaitu Angga.

“Hajar mana mas?… aduuuhh gimana ceritanya??”, Najar tak sabar mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya.

“Monggo mbak, mas, kita duduk dulu di kursi tunggu sambil berbicara”, ajak Dodo kepada Angga dan Najar.

“Ceritanya begini.. sebelum kejadian, aku sempat ngobrol dengan mbak Nada, Mbak Hajar, dan mbak Hera. Rencananya aku akan bantu kerjaan di kantor mereka. Semua baik-baik saja sampai aku pulang. Nah saat aku kembali untuk mengambil helm yang tertinggal tahu-tahu mbak Nada dalam posisi di kejar 6 orang tak dikenal. Aku langsung membantu dan bertarung melawan mereka. Namun saat aku masih belum selesai mengatasi mereka tiba-tiba datang mobil dan menyeret mbak Nada. Mbak Hajar dan mbak Hera berusaha menolong tapi sia-sia. Mbak Hajar dipukul hingga berdarah mulutnya lalu terjatuh, dan lebih parah mbak Hera disabet samurai dadanya”, Dodo menceritakan awal kejadian perkara.

“Yaa ampun…”, Najar menutup mulutnya dan menangis mendengar cerita Dodo.

“Bangsattt… itu pasti Pras dan anak buahnya !!”, Angga mengumpat marah.

“Pras siapa mas?”, tanya Najar seperti mengenal nama itu.

“Orang yang mau dijodohkan dengan Nada oleh Kusno”, jawab Angga lirih.

“Trus gimana keadaan mereka sekarang mas??”, tanya Angga kepada Dodo.

“Mbak Hera sudah dirawat intensif, mbak Hajar juga sedang diobati.. tapi mbak Nada mereka bawa mas. Maafkan aku gagal membantu, aku sudah berusaha maksimal melindungi mereka”, ucap Dodo kecewa.

“Nada nanti kita bahas lagi.. ayok mas antarkan aku melihat kondisi Hera dan Hajar. Aku suaminya Hera, kakaknya Nada mas. Terimakasih banyak atas segala bantuannya. Kami berhutang budi pada mas… “, wajah angga merebak, matanya mulai berkaca-kaca.

“Ooh maaf aku baru tahu kalau mas suaminya mbak Hera. Aku Dodo mas.. temannya mbak Najar, mbak Hajar, Dana, Indra.. mari saya antar menemui mbak Hajar dulu.. sepertinya mbak Hajar sudah selesai diobati”, lanjut Dodo.

“Mas Do kok kenal Dana dan Indra?”, Najar sedikit heran.

“Nanti aja mbak ceritanya yahh..”, jawab Dodo kemudian berdiri dan berjalan ke arah ruang dimana Hajar dirawat.

“Yaa ampun Ndut… kamu gapapa??”, Najar berlari memeluk adiknya. Ia sangat khawatir melihat kondisi Hajar yang kusut dengan wajah lebam membiru.

“Mbak Najar… hikkss.. mas Angga… aku gapapa.. tapi Nada dan mbak Her gimanaaa.. hwaaa hik hik”, Hajar menangis dalam pelukan Najar. Dodo segera menarik tangan Angga dan mengajaknya melihat kondisi Hera. Namun ternyata sia-sia karena ruangan Hera ditutup sementara. Tim medis sedang melakukan perawatan intensif di dalam sana.

Sejenak kemudian datanglah Dira hampir bersamaan dengan Dana, Indra, Khusna, dan Yosa.

“Mas Ang.. Najar..”, Dira berlari dan memeluk Angga kemudian Najar. Angga kembali menceritakan kejadian kepada Dira yang tersedu dalam pelukan Najar.

Dalam hati Najar bergetar, “Memang benar apa kata mas Angga. Persaudaraan lebih penting. Aku ga bisa untuk membenci Dira”, batin Najar kemudian mempererat pelukannya pada Dira.

Dana dan pria lainnya segera bergerombol bersama Dodo untuk membahas apa yang telah terjadi. Wajah-wajah tegang, marah, sedih, berpadu menjadi satu. Nampak Hajar memeluk Khusna dengan terisak.

“Haloo bos bro Dodo, Yosa.. ketemu disini kita”, Dana menyapa dua orang yang dikenalnya setelah sebelumnya mendengar cerita dari Dodo.

“Haloo trio DKI.. hehe iya, ceritanya panjang”, jawab Dodo tersenyum.

“Iya nanti kita ngobrol lagi broh. Aku juga masih sedikit bingung karena tadi aku ga ikut. Nanti biar Dodo cerita lebih lengkap ke kita”, ucap Yosa dengan wajah kaget. Wajar saja karena begitu ia datang langsung disuguhkan cerita berdarah seperti itu padahal Yosa belum tahu yang mana Nada itu, yang mana Hera itu.

“Eh tapi asli keren Do aksi individu mu melawan 6 orang tadi.. jangkrikk koncone mas Sinto hebat-hebat rek. Belum lagi bro Yosa iki juga jawara silat pas dulu lawan sugeng.. mantull.. wah josss”, ucap Indra berdecak kagum.

“Halahh koen yo hebat Ndra.. juara karate dimana-mana gitu”, ucap Yosa balik memuji.

“Pada jago tapi bisa ga nih bantuin aku selametin Nada??”, tiba-tiba Dana menyindir. Pikirannya mulai kacau karena hilangnya Nada.

———-

“Keluarga Hera Sindu..”, seorang dokter muncul di depan ruang perawatan. Angga dan Dira segera berlari mendekat diikuti semua yang ada disana.

“Saya suaminya dok”, ucap Angga tegang.

“Baik mas.. mbak Hera sudah kami periksa. Ada luka sayatan sepanjang bahu melintang hingga tengah dadanya. Luka tidak terlalu dalam tapi cukup panjang. Sudah kami sterilkan dan kami jahit. Saat ini beliau masih belum sadar dan belum bisa dijenguk. Biarkan tim kami menjaganya dengan intensif. Kabar terbaru akan kami update nanti. Saya dokter Dadang, silahkan temui saya di ruang dokter jika diperlukan”, ucap dokter Dadang memungkasi ucapannya.

“Terimakasih dok”, Angga menyalami.

“Ini namanya mas siapa suaminya?”, tanya dokter Dadang.

“Saya Angga dok”, jawab Angga lugas.

“Mas Angga ga usah khawatir.. ehmm.. buah dadanya masih utuh kok hehe”, dokter Dadang mencoba bercanda mencairkan ketegangan.

Sontak semua menjadi riuh tertawa.. 😂

“Doakan saja istrinya bisa segera siuman dan berangsur membaik”, lanjut dokter Danang.

“Nyawanya bisa diselamatkan kan dok??!”, Angga masih saja khawatir, sangat khawatir.

“Selama belum siuman kami belum bisa menyimpulkan apapun. Semua kembali pada daya tahan tubuh mbak Hera dan pertolongan Yang Maha Kuasa. Kami akan terus berusaha maksimal. Baiklah.. saya mohon diri dahulu”, dokter Dadang berlalu meninggalkan Angga dan semua yang hadir. Menyisakan sebuah tanda tanya besar atas keselamatan Hera.

Akhirnya semua bersepakat menunggu disana. Dira mengeluarkan sebuah tikar yang ia bawa. Mereka pun duduk bersama di pinggir lorong tempat Hera dirawat.

———-

Malam semakin larut. Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 saat semua masih setia menunggu perkembangan Hera. Sejenak Khusna mengantarkan Hajar dan Najar berganti pakaian di rumah dharma husada yang tak jauh dari Rumah sakit sekalian mengabarkan berita tersebut pada Pak Ali. Mereka kembali dengan membawa bungkusan nasgor untuk semua yang sedang menunggu Hera.

“Mas Angga dan semuanya, salam dari bapak. Yang tegar kata bapak. Tetap tenang menghadapi situasi sesulit apapun. Pesan bapak mending semua geser ke rumah dharma husada saja dulu. Dari sini kan dekat. Nanti jika mbak Hera siuman pasti di telepon petugas sini”, Najar menyampaikan pesan Pak Ali.

“Jangann !!. Tetap disini saja. Rumah Hajar juga sedang diawasi. Lebih baik secepatnya Kasino dan Indro segera jemput Pak Ali dan ungsikan. Bawa kesini atau ke hotel dulu yang penting aman”, Dana menyela. Semua tertegun mendengar ucapan Dana.

“Ada rahasia apa ini?, siapa yang mengawasi rumah Pak Ali?, apa ada hubungannya dengan Nada juga?”, Angga menjadi bertanya-tanya, bingung.

“Iya mas.. semuanya berkaitan. Ayo Kas, Ndro ndang budal jemput Pak Ali. Biar aku yang menjelaskan ke mereka semua”, imbuh Dana lagi.

Kasino dan indro segera berlari pergi memburu waktu. Hajar dan Najar kembali duduk bersama di tikar.

“Mas Angga.. ini lho foto pria yang namanya Pras itu. Aku sempat di share sama Nada pas dia di teror whatsapp kapan hari”, Hajar menunjukkan sebuah foto kepada Angga. Yang lain pun ikut mendekat untuk mengamati.

“Lho iya.. itu dia yang tadi bawa samurai kan mbak Hajar?”, ucap Dodo meminta Hajar menanggapi.

“Iya mas bener. Itu dia Pras”, jawab Hajar kepada Dodo.

“Lhooh.. dia kan orang yang aku intip tadi..”, Dana menyeringai.

“Mbak…mbak Najar.. coba lihat ini fotonya, mbak pasti sangat kenal”, Dana mengangsurkan handphone Hajar kepada Najar.

“Lhoo.. ini Pras kakaknya mas Dion !!!”, Najar sedikit histeris. Kecurigaannya saat awal tadi Angga menyebut nama Pras terbukti sudah. Tapi mengapa Dana yakin sekali tadi jika Najar pasti kenal foto itu??

Apaaa !!!

Angga dan Hajar berteriak bersamaan.

“Aku kok ga kenal sama kakaknya mas Dion to mbak”, Hajar cukup bingung dengan semua ini. Pun juga Angga yang merangkai rangkai namun tak jua menemukan jawaban atas kebingungannya.

“Kamu inget ga, sejak lamaran sampai nikah mas Dion berangkat sendiri dengan alasan sudah yatim piatu, tidak punya keluarga dekat, dan kakak satu-satunya sedang ke luar negeri??!. Aku sempat kenal dengan kakaknya saat masih jaman pacaran. Aku dikenalkan”, Najar berusaha menjelaskan agar Hajar paham. Tapi Najar sendiri masih bingung tentang hubungan Dion dengan Nada.

“Dan, kamu tadi ngintip Pras dimana dan kenapa kamu yakin sekali bahwa Najar pasti kenal?”, Angga angkat bicara, meminta penjelasan lebih masuk akal dari Dana.

Akhirnya Dana menceritakan sejak awal kejadian Dona menjebaknya dengan obat perangsang, mengancam dengan foto-foto, taktik busuk Pras terhadap Dira, Indra yang tak sengaja mendengar Dona yang menyebut nama Dana saat telepon, Indra yang menguntit Dona dan mengajak Dana serta Khusna, peristiwa pengintipan di taman prestasi, pertemuan Dona dan Pras, obrolan dan rencana busuk Pras terhadap keluarga Pak Kusno dan Keluarga Pak Hadi (papa tiri Hajar), hingga rencana kaburnya pasangan kumpul kebo Dona dan Pras ke luar negeri setelah mereka berhasil merebut kekayaan dua keluarga tersebut.

“Apa Dan??.. jadi masalahku di Jakarta selama ini juga hasil dari skenario Pras?”, Dira berteriak kaget. Badannya gemetar mengingat masa-masa sulit dan kelam di Jakarta.

“Ooh.. pantas saja Dana meminta Pak Ali segera diamankan. Ehmmm.. aku paham sekarang”, Angga menimpali ucapan Dira sebelumnya.

“Hati-hati mas.. mbak.. kita sedang berhadapan dengan mafia tangguh !!”, ucap Yosa menambahkan.

Tiba-tiba Khusna dan Indro datang dengan terengah-engah.

“Pak Ali ga ada di rumah !!!”, ucap Indra.

Tidaaaakk !!!

Hajar dan Najar berteriak histeris.

———

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part