web hit counter

Status Berkelas Part 30

0
325

Status Berkelas Part 30

Jancukan Jiwa, Scene 1

Jam 00.00 waktu Indonesia bagian karmen..

“Lhohh.. nduk.. kok podo nangis ngopo?”, Pak Ali muncul di sisi tikar yang menjadi alas duduk Angga Cs. Tatapannya mengarah pada Najar dan Hajar yang sibuk menyeka airmata.

“lho.. bapaaakk ga diculik??!”, Hajar melongo kaget melihat Pak Ali tiba-tiba ada disana.

“Culik?.. sopo seng nyulik??!!”, giliran Pak Ali yang terbengong-bengong bingung.

“Lho Pak.. sanjange (katanya) Khusna dan Indra tadi njenengan tidak ada di rumah. Ya kami khawatir yang tidak-tidak jadinya”, ucap Najar menyempurnakan ucapan Hajar sebelumnya.

“Owalahhh.. iku mau ta??!!. Iku mau aku ngeseng (boker) pas Indra celuk-celuk (manggil). Arep metu yo eman lagi separo hahaha”, jawab Pak Ali terkekeh.

“Yaa Salaaam..”, Indra menepok jidatnya sendiri melihat bocah tua nakal alias Pak Ali.

“Makanya aku nyusul kesini nyariin kalian, koyoke kok ada yang penting gitu..”, imbuh Pak Ali.

Akhirnya Pak Ali ikut berjubel diantara vantat yang memenuhi tikar. Sudah tak kelihatan lagi ujungnya tikar saking penuhnya penumpang haha.

Dana sebagai juru bicara kenegaraan segera angkat bicara menceritakan kejadian A sampai Z. Pak Ali tertegun, melongo, dan akhirnya terbatuk-batuk kaget mengetahui bahwa keluarganya juga dalam incaran Pras.

“Lha trus kepriye saiki rencanane?”, Pak Ali mencoba membuka obrolan terkait upaya selanjutnya yang harus segera dipikirkan agar Nada bisa segera diselamatkan. Dan keluarga mereka juga kembali aman, damai, tentram kertaraharja.

“Mungkin bapak ini benar rek.. kita harus segera berdiskusi tentang rencana selanjutnya. Sakno (kasihan) calon e cak Dana engko jadi ikan pindang santapan kucing disana”, Yosa mencoba memberi usulan. Kebiasaannya untuk bertindak cepat merasa terpanggil.

“Kita perlu cari tahu keberadaannya Pras dulu”, Indra menjawab perkataan Yosa.

“Satu-satunya cara ya Dana harus bisa mengorek dari Dona. Meski ini akan sulit”, sambut Angga berpendapat.

“Hmmm.. dia pasti tidak mau lah untuk memberi tahu dimana Pras berada”, desah Dana resah.

“Mau tapi dengan satu pengorbanan hehe..”, Dodo tersenyum aneh. Semua langsung melihat ke arah Dodo.

“Maksudnya bro??!”, kejar Dana penasaran.

“Dona asline kan beneran terkiwir-kiwir sama kamu Dan.. nah caranya adalah, sumpal mulutnya pakai danganan oyohmu (batangmu) agar dia buka suara. Buat dia mabuk kepayang dulu. Setelah itu kau minta rembulan pun pasti akan dia berikan hehe. Sori lek vulgar, tapi inilah yang paling masuk akal”, ucap Dodo yakin. Keahliannya dalam bermain danganan oyoh tak dapat diragukan lagi 😁. Mita aja sampai ampun-ampun kok hehe.

“Hadoooh gendeng be’e aku sampe kelon sama Dona untuk kedua kalinya”, balas Dana tak setuju.

“No, yang dibilang Dodo bener juga. Kita tak punya waktu lagi untuk memikirkan cara lain. Cara itu satu-satunya yang paling ampuhh!!”, Khusna berusaha meyakinkan Dana.

“Halah Kas.. matek aku”, Dana tersenyum kecut.

“Yo maen cantik to Dan. Ojok langsung dilebokno pentunganmu kuwi hmm (jangan langsung dimasukin anu mu itu). Dikereki koyok pitik jago kae lho.. (digiring dulu seperti ayam jago itu lho). Kamu pasti tahu lah caranya tarik ulur seperti apa. Nah.. kalau mendekati penetrasi ternyata dia masih bungkam yo plan B kita jalankan.. langsung aja Dona kita culik ganti !!!”, Pak Ali rupanya juga cukup jago memainkan danganan oyoh haha.

“Iyo Westalah Dan… nanti aku yang bela di depan Nada kalau dia ngamuk gara-gara pentolmu nyicip lubang lain”, Angga pasang badan demi terselamatkannya sang adik bungsu tercinta.

“Hahhh.. yoweslah sakareppp.. ngelu ndasku !!”, Dana berang. Berang pada dirinya sendiri yang waktu itu sedemikian bodohnya hingga masuk dalam jebakan obat perangsang merk ‘Dona’.

“Besok pagi aja kamu mulai jalan.. tengah malam gini datangi Dona malah digebuki hansip engkok !!”, imbuh Yosa sambil menahan senyum.

“Iyo ok ok okkkk. Lalu rencana berikutnya gimana?, ojok sampe otongku yang cihuii iki menusuk dengan sia-sia”, Dana mereda. Namun ia mengejar langkah selanjutnya dari rencana mereka.

“Perlu kita ajak Sinto Yos??”, Dodo meminta pendapat sahabatnya.

“Kali ini jangan.. lawan kita kelas atas. Jangan sampai status preman Sinto malah mempersulit dia kedepannya. Ok lah kita memberi tahu perihal ini pada Sinto, tapi dalam upaya backup aja. Dia jangan turun sendiri, bahaya!!”, penalaran Yosa yang cukup encer melengkapi kepiawaiannya dalam beladiri. Mantapp Yosaa..

“Ok berarti kita ber enam berangkat sendiri ya kecuali Pak Ali. Dodo dan Yosa bersedia membantu kan?”, Indra yang cukup lama terdiam akhirnya ikut berembuk.

“Lehhh aku ga diajak.. wooh aku yo iso gelut lho rek !!”, Pak Ali segera berdiri, memperagakan Jap Jap di udara, membuat Hajar dan Najar tergelak melihat tingkah kocak bapaknya.

“Bapak yang jaga para cewek ini pak. Mereka butuh penjaga terhebat !!!”, jawab Angga menghibur. Disambut acungan jempol Pak ali tanda setuju.

“Ok sekarang aku dan Yosa bisa menemui cak Sinto dulu untuk koordinasi. Setidaknya biar dia tahu duduk permasalahannya. Besok kita akan gerak setelah mendapat info akurat dari Dana”, Indra menarik kesimpulan dari semua obrolan yang ada. Sebentar kemudian ia dan Yosa sudah menghilang dibalik tembok rumah sakit untuk menemui Sinto di warung biasanya.

———-

Di sebuah rumah mewah…

“Aduh cah ayu.. kita akan menjadi suami istri.. kamu pasti senang”, Pras merayu Nada yang duduk lemas diatas kursi. Ia tidak di ikat seperti layaknya kasus penculikan. Namun penjagaan di rumah tersebut begitu ketat. Diluar ruangan sedang duduk melingkar tiga orang berwajah dingin. Nampaknya mereka adalah Paspampras (Pasukan Pengamanan Pras) yang dibayar tinggi untuk mengawal bos bejat tersebut.

Di sekeliling rumah juga nampak berjaga dengan ketat dua belas orang berwajah garang. Hingga selarut ini tak satupun dari mereka yang terlihat mengantuk. Mungkin saja mereka sudah minum kopi giras khas gresik yang terkenal itu.

“Cuihhh.. suami istri matamu !!”, Nada membelalak sadis. Tak ada rasa takut sedikitpun pada dirinya.

“Iiih.. galaknya sih calon istrikuu”, Pras masih belum terpancing emosinya. Atau tepatnya mungkin ia berusaha mengendalikan amarahnya terhadap Nada agar rencananya dapat berjalan mulus.

“Bedebahh !!”, imbuh Nada ganas.

“Kamu ga usah melawan seperti itu.. sekali jentik saja aku bisa menggagahi mu saat ini juga jika aku mau !!”, Pras berkata pelan, tapi telak. Alhasil Nada langsung tertunduk lesu tanpa bisa berucap. Nasib kehormatannya sudah ada diujung tanduk.

“Hahaha.. tapi kamu tenang. Tunggu cerutu ku ini habis dulu baru nanti kita kuda-kuda an ya sayang.. hahahaha”, Pras menambahkan ucapannya sambil menjentikkan ujung bara cerutu ke atas asbak, membuat Nada semakin mengkerut.

“Gimana cah ayu?. Masih mau melawan? Masih berani menolak lamaranku??”, Pras memicingkan mata.

Nada bergidik. Pikirannya semrawut, melayang membayangkan hidupnya yang tiba di masa sesulit ini. Kehormatannya hampir terenggut, bahkan esok dia masih hidup atau tidak pun Nada tak tahu.

Terbayang wajah Dana yang tersenyum. Hati Nada kian remuk.

“Dan.. kamu dimana.. tolong aku Dannn”, bisik hati Nada. Sama sekali ia tak bisa berkontak dengan siapapun setelah tas yang berisi handphone entah terjatuh dimana saat ia diseret paksa oleh Pras dan anak buahnya.

Pikiran Nada kembali melayang membayangkan Hera yang bersimbah darah. Akankah Hera masih hidup sekarang??. Hati Nada dilingkupi kedukaan yang sangat dalam. Kedukaan yang terhimpit rasa takut, kebencian, amarah, dan keputus asaan. Airmata seperti bosan untuk terus membasahi pipinya. Sudah sejak sore hingga selarut ini Nada hanya bisa menangis dan berteriak tanpa mampu berbuat lebih.

Seketika Nada berdiri dari duduknya. Pras memandangnya dengan kaget. Tersungging senyuman di bibir Nada yang kering karena lelah menangis. Seribu pertanyaan bermunculan di benak Pras.

“Mas.. aku sudah berpikir.. aku berubah pikiran mas”, ucap Nada lembut.

“Maksud kamu??!”, Pras masih terbengong dengan perubahan sikap Nada.

“Aku sudah berpikir bodoh dengan menolakmu. Harusnya aku tak boleh durhaka kepada orang tua kan mas??!!”, lanjut Nada.

“I.ii ya betul”, Pras terbata.

“Baiklah.. mas boleh nikahi aku. Tapi aku ga mau memekku yang masih perawan ini dimasuki kontol kekarmu sebelum kita resmi menikah mas. Plisss.. pahami calon istrimu ini. Malam ini kamu boleh menikmati tubuhku. Mau minta kulum kontol nya juga sini ajahh. Tapi tidak untuk bersenggama. Aku ingin persembahkan mahkotaku buatmu di malam pengantin nanti!!”, Nada meliuk erotis. Pakaian di bahunya ia turunkan sedemikian rupa mempertontonkan indahnya pundak dan dada bagian atas.

“Iy..iyaa sayang.. aa aku setuju”, Pras bergerak maju menyambut tubuh indah Nada yang mengundang syahwat.

“Persetan dengan Dona.. jika cah ayu ini mau sama aku, buat apa ada Dona hahaha”, batin Pras berteriak girang bukan kepayang.

Pras melumat habis bibir Nada. Nada berusaha mengimbanginya meski sangat sulit baginya melawan rasa benci yang sudah di ubun-ubun. Tapi demi rencananya berjalan mulus, ia akan berusaha berakting dengan maksimal. Toh jika ia menikmatinya juga tak ada yang tahu hehe.

Dengan tergesa Pras melucuti semua pakaian Nada. Kudu Nada meremang. Baru kali ini ia bugil di depan pria dewasa. Ada perasaan jengah bercampur birahi yang menggerogoti jiwanya.

“Oooh.. kamu sungguh elok sayang.. badanmu bagus”, Pras berdecak kagum sambil tangannya melepaskan satu per satu pakaiannya sendiri.

“Hmm.. makasihh mas… Ohhhh!!!”, Nada mendelik kaget saat melihat batang Pras yang hitam dan besar. Mungkin baru kali ini Nada melihat batang laki-laki secara langsung. Tapi pengalamannya dari film-film blue lokal yang sempat ia tonton menunjukkan bahwa batang kelamin Pras jauh lebih besar dan sangat hitam. Dalam hati sempat terbesit membayangkan batang sebesar itu merojok liang kewanitaannya. Namun segera ia tepis.

“Oookhh mass”, Nada merinding ketika tiba-tiba Pras menjilat dan mengulum salah satu putingnya. Satu tangan Pras meremas lembut buah dada Nada yang lain.

Tangan Pas menuntun tangan Nada untuk memegang batang besar yang membuat Nada merinding. Dengan takut-takut Nada menggenggam batang tersebut, sriiing…. estrogen seketika melonjak tinggi. Perasaan takut, geli, penasaran, terkumpul menjadi satu. Diam-diam bibir kemaluan Nada meleleh basah.

Pras mendorong Nada mundur hingga tertelentang di sebuah meja besar. Dibukanya kedua paha Nada lebar-lebar. Terkuaklah pemandangan yang sangat menggairahkan. Liang surgawi merekah mengkilap kemerah-merahan. Nada sepertinya malu untuk mengakui bahwa ia juga terangsang hebat. Sangat manusiawi.

“Auuuchhh..”, Nada memekik nyaring saat lidah kasar Pras mencumbui lubang kenikmatannya. Lidah itu terus menari dan menari menyapu setiap jengkal area sensitifnya.

“Uuusshh”, desahan terkumandang mendapati lidah Pras yang meronjok masuk mengorek kewanitaannya lebih dalam.
“Aaashh masss ohh”, Tak sampai disitu, jari Pras ternyata turun ikut bermain. Menggosok-gosok area pejal di ujung atas kewanitaan Nada. Klitoris Nada menjadi sangat terangsang.

Pinggul Nada bergoyang seirama permainan mulut Pras. Mengejar kemana mulut itu bergerak, seolah tak rela meninggalkan kenikmatan barang sejenak. Hampir saja Nada meminta Pras untuk melesakkan batang kerasnya saat tiba-tiba Nada merasakan getaran kuat dari dalam dirinya.

Tubuh Nada bergetar-getar, meliuk, menegang. Rupanya gelombang orgasme telah siap menghamburkan cairan hangat.

“Oooh ooohh mass ahhhhhh”, Nada mengejang kuat. Serrr serr serr.. beberapa saat lidah Pras tersiram sesuatu yang hangat dan memabukkan.

“Oooohhh nikmat mass..hmmm”, Nada mendesah. Tak lama kemudian tubuhnya melemah. Terkulai tanpa daya. Sesekali masih tubuhnya tersentak tipis melepaskan sisa-sisa syahwat yang masih terperangkap.

“Yakin ga mau dimasukin sayang??!!”, suara Pras memecah keheningan yang sesaat tercipta. Nada segera bangun. Kesadarannya segera pulih. Sebagian nafsu setan telah terlepas bersama orgasmenya. Kini hanya ada Nada dengan sebagian hasrat dan separuh akal sehat.

“Sini aku kenyot aja mas yahh. Pliss sshh jangan dulu ya. Bantu aku menjaganya”, Nada perlahan berjongkok memposisikan wajahnya menghadap buah zakar Pras. Sepertinya Pras cukup gentle dan bisa memahami wanita. Ia tak meminta paksa kepada Nada untuk bersetubuh. Sepertinya upaya Nada untuk berakting telah berhasil. Ohh.. berakting natural tepatnya. Sambil menyelam, minum air.

Susah payah Nada melumat batang Pras yang besar. Keahliannya yang minim dalam BJ ditambah dengan ukuran yang diluar rata-rata membuat Nada kuwalahan.

Pras sampai harus rela mengajari cara kepada Nada agar terbiasa. Hahaha asyeeekkk.. Nada dapat kursus gratis hehe.

Kulum, jilat, kocok, dan sedot. Variasi yang diajarkan Pras cepat dikuasai oleh Nada. Pras mulai merek melek menikmati servis yang dilakukan Nada.

“Ooh terus yangg… kamu pinter ahhh”, Pras merancau menandakan gelombang klimaks sudah hampir tiba.

Segala upaya terus dilakukan Nada untuk melayani batang pejal tersebut. Tanpa Pras tahu, jari Nada juga asyik bermain dibawah sana menggelitik liangnya sendiri. Gerakan natural akibat rangsangan yang terjadi.

Nada mengejan lagi menikmati orgasme rahasia akibat perbuatan tangannya sendiri. Badannya menjadi kaku. Bersamaan dengan itu Pras mendesah keras.

“Ooohh.. telan sayangg.. ahhhh”, cairan hangat menyembur dari batang Pras.. menyentak masuk ke dalam kerongkongan Nada. Nada tak peduli. Ia lebih peduli pada kenikmatan orgasmenya kedua. Nada terdiam menikmati getaran orgasme. Namun Pras berpikir Nada diam karena menikmati lelehan sperma di dalam mulutnya. Tanpa pikir panjang Nada menelan sperma tersebut sampai habis agar kebejatan Pras segera berakhir. Hmmm.. nona.. kebejatan yang kau mau kan tadi??. Dasar.

Pras tersenyum puas. Ia melangkah menyulut cerutunya dan membiarkan Nada kembali berpakaian. Sejenak kemudian Pras meninggalkan ruangan, membiarkan Nada yang mulai terkantuk-kantuk di atas kursi bertelekan meja yang tadi menjadi saksi bisu permainan panas yang terjadi.

Menjelang dini hari Nada terjaga. Ia edarkan pandangan di sekeliling ruangan kamar tempat ia di sekap. Sunyi senyap, hanya suara gemericik air kran dari kamar mandi di dalam kamar tersebut yang terdengar menguasai sepi. Di kursi sofa seberang meja dimana Nada tidur tergolek Pras yang masih mendengkur. Ia tidur tertelentang begitu saja dengan handphone masih di atas dadanya.

Nada merayap turun. Berjingkat ia mendekati Pras yang sedang tidur. Perlahan ia ulurkan jemari lentiknya menggapai handphone milik Pras. Namun saat handphone sudah ada di dalam genggamannya, Pras terbangun.

“Ada apa cah ayu.. kok sudah bangun??”, Pras menggeliat dalam tidurnya.

“Ehmm.. gapapa..hehehe.. masih penasaran sama yang ini”, Nada tersentak dan segera meletakkan handphone tersebut di lantai, tepat dibawah kolong kaki-kaki sofa. Mau tak mau Nada kembali akting untuk memasang alibi karena sudah terlanjur ada di dekat Pras.

“Ehmm.. sayang bikin gemes. Baru juga berapa jam jadi nelen pejunya mas. Sekarang masih mau lagi… yaudah dibuka saja sendiri. Mas ngantuk berat”, sambut Pras senang.

Nada segera beraksi membuka celana Pras, ia loloskan kebawah. Disusul celana dalam Pras yang menonjol terdorong batang kekarnya.

Lagi-lagi Nada terbelalak. Belum familiar juga ia melihat batang hitam sebesar itu. Jika itu milik Dana, mungkin sudah ia tunggangi berkali-kali. Batang Pras menegang sempurna. Besar, keras, hitam, dan tentu saja bakal sangat nikmat jika dikecapi oleh mulut bawahnya yang tersembunyi di antara jenjang tungkai-tungkai kaki.

“Ehmm.. semoga punya Dana seperti ini.. ooooh aku rindu kamu Dan.. cepat tolong aku”, pikiran Nada kembali melayang. Dengan tangkas ia kulum dan lumat batang besar pas dengan membayangkan itu adalah milik Dana. Mata Nada terpejam menikmati centi demi centi daging panjang menyeruang ke dalam rongga mulutnya. Dengan memejamkan mata, ia dapat membayangkan Dana dengan lebih maksimal.
“Aku harus segera menuntaskan ini sebelum terlambat..”, batin Nada dan segera mempercepat kuluman dan kenyotan.

Ternyata ejakulasi di pagi buta lebih lama terjadi. Rahang Nada sudah terlalu lelah menganga namun batang Pras belum juga menunjukkan tanda akan memuntahkan lahar putih hangat.

Melihat upayanya sia-sia terpaksa Nada kembali melepas pakaiannya bagian atas berikut bra yang ia kenakan. Dengan kedua buah gunung momtok miliknya ia jepit buah kejantanan Pras dan ia gesek maju mundur berulang-ulang. Liur menetes membasahi kedua bukitnya demi memperlancar gosokan penis Pras.

“Uhhhh sayang, iya ee.enak begituu ahh”, Pras kembali mendesah. Dan tak lama kemudian ia mencapai puncaknya.

“Ahhh.. aku keluar ayu syang, ahhhh ahhhh”, batang Pras menyembur kuat diantara himpitan buah dada indah Nada. Sebagian cairan lengket membasahi dagu hingga mulut Nada. Sebagian lagi menggenang di sekitar wilayah dada.

Nada segera mengambil bra untuk menyeka semua sperma yang ada di wakah dan dadanya. Terpaksa ia kembali berpakaian tanpa menggunakan bra karena basah.

“Iiih mas jorok ihh. Udah sana dibilas dulu kontol kesayanganku. Biar bersih, ga lengket-lengket. Abis itu merem lagi gapapah”, bisik Nada manja di telinga Pras yang kembali terpejam matanya bersiap tidur.

Demi mendengar rengekan manja dari calon istri gadungannya, Pras tersenyum dan segera berlari ke kamar mandi di ujung dalam kamar.

Waktu yang singkat digunakan Nada untuk segera meraih handphone yang tadi ia sembunyikan di kolong sofa. Pikirannya sangat buntu tanpa bisa mengingat satu nomerpun dari orang yang ia kenal. Terpaksa Nada membuka phonebook di handphone Pras untuk mencari inspirasi nama.

Bibir Nada yang berlapis cairan kenikmatan pria, menyungging senyum saat ia membaca nama Najar disana..

“Najar……”

——-

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part