web hit counter

Status Berkelas Part 38

0
287

Status Berkelas Part 38

Loveee melulu 💙, Scene 1

“Saudara Bangga Pambudi bin Ruslan Effendi, saya nikahkan anda dengan Najar Rina Mahadewi binti Ali Mahmudi dengan mas kawin uang senilai dua juta dua ratus dua puluh dua ribu dua ratus rupiah dibayar tunai”, Ustadz Zain dengan jelas mengucapkannya. Nampak disampingnya ada Pak Ali yang hikmad mendampingi.

“Saya terima nikahnya Najar Rina Mahadewi binti Ali Mahmudi dengan mas kawin uang senilai dua juta dua ratus dua puluh dua ribu dua ratus rupiah dibayar tunai”, dalam satu tarikan napas Angga melanjutkan prosesi akad nikah.

“Saaaahhh”, ucap keluarga kedua belah mempelai beserta sahabat-sahabat yang hadir. Acara ini hanya dihadiri keluarga Angga dan Keluarga Najar, diluar itu hanya ada trio DKI dan duo kadal buntung turut melangkapi. Ya karena ini hanyalah ijab qobul secara agama, belum didaftarkan ke KUA setempat.

“Wihhhh aku seneng bangettt”, Hera mulai kumat. Biasanya sih dimana-mana itu istri pertama agak sedih atau minimal akting murung lah jika menyaksikan acara semacam ini. Tapi entah apa yang merasuki Hera, kok malah dia yang ngebet banget.

“Mbak ga sedih mbak??, ada kompetitor lho sekarang”, Hajar menatap Hera dengan heran.

“Hmm.. kamu mau sekalian dinikahin sama mas Angga. Mumpung masih ada kuota lho..”, lhuk Hera gendeng.

“Woiiss.. ga mbak.. ampun. Sama Khusna aja hehe”, Hajar bergidik. Hera ini istri macam apa sih?? Suaminya di obral wkwkwk.

“Nak Hera.. terimakasih ya sudah bersedia berbagi dengan Najar”, Pak Ali mendekati Hera.

“Lho saya yang malah berterimakasih pak, Najar sudah bersedia menolong saya untuk merawat mas Angga”, dengan kepercayaan diri yang tinggi Hera tak ragu-ragu menjawab.

“Aduhhh adikku sayangg.. selamat ya cantik”, Hera memeluk dan mencium pipi Najar yang terisak dalam tangis bahagia. Sejurus kemudian Angga duduk diantara kedua istrinya. Hera di kanan dan Najar di kiri.

Pak Ustadz sudah berpamitan, tersisa hanya keluarga dan sahabat yang kini duduk melingkar mengelilingi ruang tamu rumah Angga dengan Angga dan kedua istrinya di bagian ujung lingkaran.

“Wahh.. Ngga, kowe katon gagah (kamu kelihatan gagah) kinapit widodari loro kang ayu-ayu (diapit dua bidadari yang cantik-cantik). Wedan tenan kowe hahaha”, Pak Kusno terkekeh melihat anak sulungnya duduk seolah raja yang diapit permaisuri dan selir.

“Mantap yo broh.. jos tenan”, Indra mencolek Dana dan Khusna. Namun dengan cepat Nada, Dira, dan Hajar mendelik galak.

“Awas ya coba-coba meniru kayak gitu. Tak obras manukmu!!”, Dira mengancam. Indra reflek menutup selangkangannya ketakutan.

“Setujuu”, ucap Nada dan Hajar berbarengan. Dana dan Khusna pun ikut mengkeret takut.

“Eh Nad.. gimana rencana besok jadi kan ya?. Sekalian biar mempelai berdua bulan madu. Iya ga?”, Hera bertanya dengan riang ke Nada.

“Jadi dong mbak.. sudah booking hotel juga lho”, jawab Nada antusias.

Rencananya esok hari setelah pernikahan Angga dan Najar malam ini, keluarga besar PT. RDG akan mengadakan rekreasi bersama. Tak perlu jauh-jauh. Cukup ke kota dingin Malang untuk mempererat kebersamaan mereka.

Semua akan ikut serta. Mulai dari jajaran komisaris, direksi, manager, Koordinator unit usaha, hingga staf akan berangkat bersama. Tak terkecuali Pak Kusno dan istri serta Pak Hadi dan istri.

Mengingat mereka akan berangkat pagi-pagi sekali maka seusai acara akad nikah Angga, semuanya segera berpamitan. Angga dan Najarpun menunda malam pertama untuk menjaga fisik mereka.

———-

Hari H rekreasi…

Rombongan tiba di hotel kawasan Batu sekitar pukul 8 pagi waktu setempat. Masing-masing segera menuju kamar yang sudah ditentukan untuk berbenah diri sekaligus istirahat sejenak sebelum memulai rangkaian acara yang telah disusun.

Angga satu kamar bersama kedua istrinya, Nada Dira dan Hajar di kamar yang lainnya, Dana Indra dan Khusna dalam satu kamar, Yosa dan Dodo satu kamar, sedangkan pak Ali seorang diri dalam satu kamar.

“Aku takut Dan.. emoh aku.. turun aja, ga jadi!!”, Nada berteriak ketakutan saat ia akan meluncur menggunakan Flying Fox. Acara mereka hari itu adalah kegiatan outbond yang dipandu oleh instruktur setempat.

“Mbaknya tenang aja.. aman kok”, ucap mbak instruktur mencoba menenangkan Nada. Namun Nada bersikeras untuk tidak ikut dan bersiap turun dari tangga. Dana hanya bisa terbengong melihat kekasihnya ketakutan.

“Yawes gini aja, mbak naik berdua sama masnya gimana?. Kalau takut ya peluk aja masnya hehe”, usul mbak instruktur memberikan solusi. Akhirnya Nada pun bersedia.

“Huwaaaaaa… matek aku Daaaaan…!!!”, Flying Fox meluncur dengan cepat. Nada meraung-raung ketakutan dalam pelukan Dana. Tiba di tujuan mereka disambut teriakan seluruh yang hadir.

“Cieeeeh.. lengket terus reek!!”, goda Indra saat Nada dan Dana selesai melepas karabiner.

“Ishh jantungku hampir lepas rasane.. wes emoh lagi naik yang lainnya.. ampuun”, Nada merajuk manja. Dana cengar-cengir melihat polah lucu calon istrinya.

“Jantungnya lepas juga ada Aa’ Dana yang nangkepin hahaha”, Khusna ikut nimbrung menggoda.

“Wehh iki wong loro melu ae (ini dua orang ikut aja), iko deloken bojo-bojomu yo bakal kepoyoh-poyoh keweden (tuh lihat cewek-cewek kalian juga bakal terkencing-kencing ketakutan)”, dengan kesal Nada menyemprot Indra dan Khusna. Tapi yang disemprot bukannya diam tapi semakin menjadi-jadi.

“Tapi cuma kamu Nad yang minta dipeluk hehe”, imbuh Indra masih cengengesan.

“Bodoo !!. Ahh sudah ah, yuk kita balik hotel aja yuk Dan.. yang lain biar lanjutin acara”, ucap Nada sewot, yang dibalas oleh Dana dengan anggukan kepala.

“Yeee durung sore wes pengen mlebu kamar ae rek (yeee belum sore udah pengen masuk kamar aja ihh)”, lagi-lagi Khusna menggoda. Namun yang digoda udah kabur dan menghilang.

Hotel masih sepi tak ada seorangpun anggota PT. RDG nampak disana. Memang rencananya outbond akan dilanjutkan dengan kegiatan petik apel dan bermain berbagai wahana. Makan siangpun sudah disediakan panitia disana.

Yang sepuh-sepuh seperti Pak Ali dan Pak Kusno memilih untuk mengadakan acara sendiri dengan berkunjung ke sanak saudara dan kerabat yang ada di Malang. Ya ga mungkin juga sih jika mereka ikut outbond, bisa kumat sakit jantungnya Pak Ali.

“Lho mas Angga ga ikut acara ta?”, tiba-tiba Dana dan Nada bertemu dengan Angga yang sedang mengambil jatah makan siang untuk dibawa ke kamar.

“Ooh enggak Dan.. masih capek banget habis acara semalam. Lagian juga kasihan Hera kalau ditinggal sendiri”, jawab Angga sedikit kebingungan tak menyangka Dana dan Nada akan kembali secepat itu ke hotel.

Dana segera mengajak Nada berlalu. Bersama mereka menikmati jatah makan siang hotel dan duduk di kursi yang langsung menghadap area pertanian sayur di luar hotel. Sungguh pemandangan yang indah dan sejuk.

———-

“Waktunya pengantin baru beraksi.. eaaa eaaaa”, Hera menggoda Angga dan Najar yang baru menyelesaikan makan siang mereka di kamar hotel.

“Ihh malu mbak ah. Masa disini sihh”, Najar merajuk mencari pembelaan dari Angga. Tapi nampaknya Angga tidak sependapat dengan Najar.

“Ya simple sih.. pindah tidur aja sama bapak kamu”, goda Angga. Nah ikan pindang udah di depan mata kok di sia-sia kan, ya ga pemirsah?? Hehe.

“Lahh mas kok malah belain mbak Hera siih”, Najar semakin malu dipojokkan begitu.

“Adikku sayaaang.. bukan saatnya untuk malu. Kamu itu istrinya mas Angga lho. Jangan malah bikin malu ahh”, Hera masuk memberikan persuasif.

“Iyaa iya… hmm ni dua orang berkomplot kayaknya deh”, Najar sedikit merengut, tapi itu hanya pura-pura saja.

“Yaudah gih sana masuk kamar mandi, dipakai dong lingerie yang dibeliin mbak Hera”, ucap Hera mempercepat persuasif. Hera sendiri sudah sedemikian menggebu membayangkan aksi hot Angga dan Najar.

Selang sekian menit muncullah Najar dsri balik pintu kamar mandi. Wajahnya yang cantik menyemu merah. Menempel di tubuhnya sebuah G-string putih bersih, ditutup oleh semacam kemeja berumbai-rumbai dengan bahan jaring terawang tanpa menggunakan bra.

Spontan Angga melotot tiada terkira melihat Najar yang sedemikian seksinya. Pun juga Hera yang takjub melihat tubuh adik kesayangannya. Batang kelamin Angga yang masih tertutup boxer menjadi mengeras tegak sempurna.

“Kalian mulai dulu yah.. aku nonton dulu aja”, ucap Hera dengan menggigit bibir bawahnya, mulai terbakar birahi.

Tak menunggu lama Angga segera menarik Najar ke dalam pelukannya. Dengan cepat Angga melumat bibir istri keduanya tersebut. Najar tergagap mendapati ciuman yang mendadak, namun segera beradaptasi mengimbangi.

Pertukaran liur pun terjadi. Saling sedot lidah, saling kulum, saling lumat. Suaranya sungguh terdengar indah dan seksi.

Ehmm..

Najar melenguh tertahan saat Angga meraba lembut buah dadanya yang membulat montok. Perlahan wajahnya turun menggapai pucuk buah ranum di dada Najar.

Entah sejak kapan, tahu-tahu Hera sudah telanjang bulat menyisakan hijabnya tetap menutup rapi area kepala dan kemudian melangkah menghampiri Najar dan Angga.

Oouhhmmhh

Najar mendesah ketika mulut Angga mulai menjilati puting kanannya. Namun desahan Najar tiba-tiba tertahan oleh mulut Hera yang menyumpal bibir Najar. Najar sejenak kaget. Seumur-umur ia belum pernah mencium bibir wanita. Namun anggukan Hera meluluhkan hati Najar. Dengan buas ia terima bibir Hera dan kemudian saling melumat.

Angga tak tinggal diam. Bergantian ia jilati puting kanan dan kiri Najar. Tangan Angga meremas-remas dada indah tersebut tiada henti. Najar seperti melayang mendapatkan rangsangan dua arah dari Angga dan Hera.

Ooouhh.. hmmm

Angga yang tak sabar segera mendorong tubuh Najar hingga tertelentang di tempat tidur. Dibukanya lebar paha Najar kemudian menyingkap tali yang menutupinya. Nampaklah kini bukit indah merekah.

Auuchh..

Najar menggelinjang kuat saat mulut Angga yang sekonyong-konyong menerkam vegie nya. Rasa geli terpusat di setiap permukaan yang di jilat oleh Angga.

“Auuuh mass…ssshhh”, Najar mendesah merasakan kenikmatan yang telah lama tak ia dapatkan.

“Eeehh aauhh”, pinggulnya terangkat-angkat seiring permainan mulut Angga.

Hera berdiri menaiki tempat tidur. Ia kangkangi wajah Najar dan perlahan menyorongkan liangnya yang basah ke mulut Najar.

Seketika Najar paham akan apa yang dimau Hera. Dengan pelan ia mulai memainkan lidah di vegie Hera. Najar meniru semua perlakuan Angga dan ia terapkan di liang kenikmatan Hera.

“Ooouhhh dikk… shh sayangg eenn nakk”, Hera mendesah merasakan nikmat yang luar biasa. Cukup lama ia tak tersentuh Angga karena sakitnya. Dan kini hasratnya begitu membuncah laksana gunung berapi yang siap meledak.

“Oouhh iyaa ahhh yang situu oowh owhh ahh” Hera terus merancau dan mengerang nikmat.

“Sshh ehhmmm”, Najar juga merasakan kenikmatan yang sama sambil terus bibirnya bermain di lubang surgawi Hera.

Ooohhh

Aahhh

Sshhh ahh

Auuuwww hhhmm

Ahh ehh sshh

Desahan bersahutan diantara mulut Najar dan Hera. Keduanya menikmati rasa yang sama di bibir vegie masing-masing.

“Ooohh Jar.. ohhsss sayaangg.,mbakk mau kluarr ahh”, Hera mengerang untuk segera mencapai orgasme.

“Aahh ahhh aku kelluuarrr ahhhhhhh”, paha Hera mengapit kuat wajah Najar. Badan Hera melengkung ke belakang.. matanya terpejam meresapi orgasmenya.

Sesaat kemudian Hera terjatuh ke samping kasur. Napasnya ter engah-engah.

“Auhh mass.. akuuh jug ahh mauu dapethh ahh”, Najar semakin mengangkat tinggi pinggulnya.

“Masss.. aahhhh ahhhh akuu nyampe aahh aaashh”, Najar mengejan kuat. Badannya kaku. Hera segera bangkit dan memeluk wajah Najar dengan lembut. Dibawah sana Angga gelagapan karena ternyata Najar orgasme dengan squirt. Banjir aliran kenikmatan menyembur kuat ke wajah Angga.

“Hihihi.. lagi cuci muka mas??”, goda Hera. Angga terkekeh, sedangkan Najar tersenyum lemas.

Permainan belum usai. Hera segera turun dan melucuti pakaian Angga. Terakhir ia lepas boxer di selangkangan Angga.

“Ooohh dik..”, Angga melenguh saat mulut Hera mencaplok batang kejantanannya.

Lama Hera bermain-main dengan mengulum batang Angga. Tak luput skrotum dua telor angga juga jadi santapan nikmat bibir Hera.

Najar yang baru pulih dari rasa lemas segera bangkit dan melihat apa yang sedang dilakukan Hera dan Angga.

“Hahh !!!.. Mass.. kok guede ndlondeng ngunu.. yaa ampun”, mata Najar terbelalak. Baru kali ini ia melihat batang sebesar itu. Jauh lebih besar dari punya Indra.

“Pantesan susunya Nada gede, ternyata kalian keluarga jumbo”, lanjut Najar masih dengan menutup mulutnya menggunakan tangan.

“Najar mo nyobain?.. sini sayang..”, Hera masih melongo tak bergerak.

“Kok bisa besar gitu mass??.. aduhh memekku langsung basah lagi”, Najar kini tak malu-malu lagi. Nafsu telah munguasai dirinya.

“Dulu awalnya biasa ukurannya. Suatu hari mbak Hera bikin Donat. Nah pas ngaduk fermipan campur air hangat eh kesenggol dan tumpah deh ke celanaku. Akhirnya jadi bengkak gini sekarang”, Angga tersenyum menggoda.

“Hahaha.. asal aja deh kalau ngomong”, balas Najar tak percaya.

“Ayooh sini sayang cobain”, Hera lagi-lagi mengajak Najar untuk ikut mengulum batang besar Angga.

“Mbakk.. boleh langsung dimasukin aja untuk kali ini??.. memekku udah kedutan banget!!”, Najar dengan vulgar berterus terang.

Tanpa diminta kedua kalinya Hera segera mendorong Angga untuk melakukan penetrasi ke liang vegie Najar.

Dengan berdiri di sisi tempat tidur, Angga segera meraih paha Najar kemudian ia letakkan di pundaknya. Lembut Angga menggesekkan kepala konti di bibir kemaluan Najar. Najar menggelinjang kegelian.

Ooouuuhhgggh..

Najar mendelik kuat saat batang segede pentungan melesak masuk merojok liang kewanitaannya. Sangat besar dan kokoh. Namun basah berlebih di liang vegie Najar mempermudah penetrasi. Dalam empat hingga lima kali hentakan, masuklah keseluruhan batang Angga.

“Hhhkkkk mass.. gede bang ett.. hampir ga muat rasanya ehmmm”, Najar mendelik lebar. Airmukanya tak serius dan tegang mendapati desakan super besar di bawah sana.

Perlahan Angga mulai memompa. Kian lama kian cepat..

“Oooh masss aku ga kuatt.. mauk sampe lagiih ahh”, tubuh Najar terlonjak-lonjak. Badannya bergetar menahan gejolak, padahal baru sebentar batang besar Angga memasuki liangnya yang cukup sempit.

“Mass.. aahhhhhhh”, Najar mengerang saat orgasmenya Yang kedua datang. Angga segera mencabut batangnya dari liang Najar. Aliran squirt kembali menyembur kuat membasahi seprei dan lantai.

Melihat Najar lemas, Hera segera naik keranjang di samping tubuh Najar dan menunggingkan buah pamtatnya yang semok. Angga langsung mengerti dan cepat bergeser selangkah menyambut tubuh Hera.

“Oussshh mass..”, dalam sekali hentakan melesaklah batang besar kemaluan Angga diantara rongga kewanitaan Hera yang berkedut.

Angga kembali melakukan gerakan memompa. Batangnya keluar dan masuk dengan cepat membuat pertemuan kulit pahanya dan kulit buah pantat Hera menyisakan bunyi seperti tamparan.

Ceplakk ceplak..

“Ooh mass terussshh eeh enakk mass”, Hera mendesah-desah. Liangnya semakin becek dipenuhi cairan cinta.

“Ooooh ohh ohh mas lebih kerasss ahh mass”, Hera makin merancau parau. Kepalanya terpelanting ke kanan dan kiri mengikuti setiap hentakan.

“Mas ahh mass.. aahhhhhh”, Hera mencapai orgasme kedua dan tersungkur ke depan. Najar menikmati pemandangan disampingnya dengan tatapan gairah.

Angga sejenak beristirahat. Ia melangkah mengambil air putih di kulkas mini kamar kemudian menenggak habis satu botol tanggung air mineral.

Saat Angga kembali ke tempat tidur terlihatlah di depan Angga sebuah pemandangan yang sungguh indah. Hera menungging mengangkangi tubuh Najar. Mereka berdua berciuman. Di depan batang perkasa Angga kini terpampang dua liang surgawi.

Angga dengan sigap kembali menyodok liang kenikmatan Najar.

“Oooouhmmpp”, Najar melenguh namun terhalang perciuman bibir dengan Hera.

Sekitar sepuluh tusukan, Angga mencabut batangnya kemudian berpindah pada liang kewanitaan Hera.

“Ooohhhmmp”, giliran desahan Hera hilang tertelan lumatan bibir Najar.

Terus saja Angga menusuk secara bergantian kedua liang istrinya. Setiap sepuluh hingga lima belas tusukan ia berpindah, begitu seterusnya.

Aouuhh

Aahhh
Awwww

Hmmm ahhh

Najar dan Hera silih berganti melenguh dan mendesah. Sesekali mereka masih saling melumat bibir satu sama lain.

“Ooohh.. masss enakkkhh”, Hera mendesah keras.

“Masss.. Ang gaa.. ampunnn enakk bangett gedehh ahhhh”, Najar menyusul mendesah keras.

Kamar mereka dipenuhi teriakan nikmat dari dua permaisuri yang sedang di garap oleh sang raja.

Hingga akhirnya keduanya kembali melenguh..

“Aaahhhh masss aku keluarrr ahhhhhh”, Hera menegang kuat, badannya mengejang menikmati orgasme ke tiga. Namun ia masih berusaha tidak menindih tubuh Najar yang ada dibawahnya.

“Keluarin pejunya di memek Najar mass.. moga jadi dedek”, bisik Hera diantara desahan yang makin melemah.

“Mass aahhh ahhhh akuuu nyampe”, Najar mengerang dan kelojotan.

Angga terus memompa mengejar klimaksnya yang sebentar lagi tercapai.

“Oooh.. aku kluarrrrr ahhhh”, Angga mendorong kuat batangnya dan menyemburkan semua cairan cinta di rahim Najar.

Ketiganya terengah. Angga segera berbaring di ranjang. Diikuti kedua permaisuri yang merangkul mesra di kanan dan kirinya.

“Terimakasih sayang.. cupp cupp”, Angga mencium kedua kening istrinya dengan penuh kasih sayang.

Angan Najar melayang. Sebuah kenikmatan yang belum pernah ia rasakan. Sangat nikmat hingga seluruh persendiannya terasa lemas. Tungkai kakinya seperti tak kuasa untuk menopang berdiri. Ia tak pernah menyangka akan menikmati percintaan 3some di sepanjang hidupnya. Dan tentu saja nikmatnya tiada tara.

——

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part