web hit counter

Status Berkelas Part 6

0
341

Status Berkelas Part 6

To d’point 1

Malam menjelang, bulan yang hampir bulat sempurna nampak bersinar teduh. Bintang gemintang berkelipan diatas sana menambah indah hamparan langit yang Maha luas.

Celoteh derit jangkrik membelah keheningan malam menemani semilir angin menghantarkan titik embun. Dedaunan dan tumbuhan lainnya terlihat serempak menelangkupkan diri menyambut tidur malamnya hingga esok menjelang.

Aku sedang duduk sendiri di teras rumah kos memandangi rimbunnya tanaman toga yang disusun rapi oleh bapak kos pada sebuah papan panjang bertingkat mirip sebuah tangga.

“Beneran deh, aku naksir sama tuh cewek. Aku banget deh tipenya”, mengalir lamunan yang dalam, kurasakan gejolak asmara yang menyelimuti jiwa.

Eh lho, kenapa aku pakai bahasa Indonesia? Kenapa tidak pakai dialek suroboyoan seperti saat bersama trio geblek?. Yah karena aku adalah orang Tasikmalaya. Tapi sayangnya bahasa Sunda sudah jarang kupakai sejak menginjakkan kaki pertama kali di kota pahlawan ini. Disini minim sekali kutemukan lawan bicara yang sama-sama sunda, kecuali dengan Ujang yang jualan bubur ayam di Raya Menur, atau juga beberapa teman kuliah yang memang merantau sepertiku. Alhasil, bahasa Indonesialah yang kini sering kupakai, disamping dialek suroboyoan yang hanya seperlunya kugunakan saat berbicara dengan penduduk setempat ataupun dengan teman-teman lokal.

“Aku jadi kayak bocah tolol… Boro-boro lihat tanaman toga di rumah kos, duduk di teras aja baru kali ini rasanya. Janggal banget deh melihat seorang Khusna Dwipa Mahendra yang gaul dan banyak tingkah, eh tiba-tiba bengong kayak sapi ompong.. Hadeuhh. Hajarr Hajar.. Kau mencuri hati.. Hatikuu”, aku tersenyum sendiri merasakan gelora api cinta yang kian berkobar. Bibirku bergoyang tipis melantunkan perlahan lagu .. Stop! Kau mencuri hatiku.. hatiku..

Bipp bip.. Bipp bipp..
Aku tersentak dalam lamunan ketika hp ku yang ada di saku celana tiba-tiba bergetar.

“Haisst.. Siapa sih ini?? Gangguin orang lagi ngelamun aja!”, ku ambil hp sembari bersungut.

“Hai cowok…!”, sederet nomer hp tak dikenal telah mengirim sebuah pesan melalui whatsapp. Kubiarkan saja tanpa membalas chat tersebut, toh juga bukan nomer yang kukenal ini.

Kembali ku pandangi dedaunan di taman kecil bapak kos yang sungguh beragam seperti tomat, jeruk nipis, daun sirih, serai, binahong, dll. Tanaman itu memiliki berbagai manfaat untuk kesehatan. Contohnya tomat, ia memiliki kandungan yang sangat baik untuk kebutuhan akan vitamin C dan A. Jeruk nipis, memiliki kandungan vitamin C yang ampuh dalam membantu memperbaiki peradangan yaitu radang tenggorokan, batuk, sariawan, dsb. Daun sirih dan binahong memiliki khasiat tinggi sebagai antibiotik alami dalam kasus luka dan perdarahan. Serai bersama jahe dan beberapa tumbuhan lain mampu memberikan efek aromatherapy, membantu kelancaran pernafasan, meningkatkan stamina tubuh, dsb.

Bipp bip.. Bipp bip..
PING!
PING!
Nomer yang tak dikenal tadi kembali menghubungi via wa dan menuliskan “Ping” karena merasa tak mendapatkan respon dariku.

“Kok ga dibls mas?”, kembali nomer tersebut mengirim pesan setelah tulisan Ping-nya pun tetap kuabaikan.

“Hei..mas. inget nama Hajar ga nih? yang kemarin kamu ngintipin kakaknya pas lagi bercinta?”, spontan aku langsung mengkerutkan kening begitu membaca kata ‘Hajar’ dan ‘Ngintipin’.

“Siapa sih ini?, langsung aja to d’point gitu lho ga usah muter-muter ngomongnya!”, chat kukirim balik kepada nomer misterius.

“Ih kok sewot sih??. Iya iya aku ngaku. Ini Hajar mas!. Masih inget kan??”, pemilik nomer misteri yang ternyata Hajar akhirnya membuka kartu.

Glekk..!
Lidahku tercekat. Sungguh diluar perkiraan jika seorang Hajar idola hati ternyata menghubungiku. Jadi linglung rasanya, tak tahu harus membalas kalimat apa lagi. Tapi jauh di lubuk hati tersirat satu ekspetasi yang begitu besar pada kehadiran sosok Hajar dalam perjalananku, pada masa depanku.

“Yee..kok malah meneng mas?, keturon ta???. Ih.. Nom-noman ngganteng mosok isih jam wolu wes tebal rek?”, (Yee..kok diem mas?, ketiduran ya???. Ih masa pemuda ganteng jam 8 malem udah ngantuk?) notifikasi baru muncul di layar hpku sebelum aku sempat menuliskan balasan pada chat Hajar sebelumnya.

Degg..
Hati ini bergejolak tatkala kubaca chat Hajar yang terakhir dan terhenti pada kata ‘ganteng’. Akankah ini sebuah signal bahwa perasaanku tak bertepuh sebelah tangan?. Ataukah ia hanya abang-abang lambe (basa-basi) ?

Jarum jam sudah mendekati angka 9 malam, bahkan hanya tinggal menyisakan beberapa menit lagi. Namun jangan berharap jalanan akan lengang. Surabaya akan tetap ‘hidup’ meski sebagian penduduknya telah lelap dalam buaian permadani mimpi. Terutama di jalan-jalan tengah kota yang dekat dengan tempat hiburan seperti kawasan delta dan tunjungan, mungkin surutnya hanya berkurang sekian persen saja dibanding pada jam efektif.

Hari ini aku memang masih mengambil cuti karena kondisi tubuh rasanya sedang kurang fit. Bisa jadi lamunan yang menggelayut telah menjamah konsentrasi kesehatanku menurun ke titik letih. Namun, meski ‘sakit’, tetap kupacu brio putihku membelah jalanan ibukota provinsi jawatimur dari arah jalan Dharmawangsa menuju sekitaran basra yang dekat dengan jalan tunjungan.

Setelah melihat mobilku akan melintasi gramedia expo, segera kugeser posisi mobil lebih ke arah bahu jalan sebelah kanan, namun itupun juga harus hati-hati agar tidak terseret arus menuju jalan taman apsari atau lebih dikenal dengan radio suzana.

Lampu sein kanan mulai kunyalakan saat melihat restoran fastfood McDona** dan kuputar haluan untuk masuk ke gang di sebelah restoran tersebut. Pembaca pasti sudah bisa menebak gang apa yang kumaksud. Yapp.. Gang setan. Mengenai kenapa tempat itu disebut sebagai gang setan kayaknya tidak perlu dibahas disini. Yang pasti disitu adalah tempat cangkruk (kumpul) alternatif selain pilihan berbagai cafe yang begitu menjamur di Surabaya. Tempat tersebut hanya berupa pedagang kopi biasa lengkap dengan gerobaknya yang menyediakan lesehan emper berjajar disepanjang gang. Selain kopi, terkadang gerobak nasi goreng juga ikut mengais rizki disana.

Seseorang melambaikan tangan kearahku saat baru saja alarm central lock pintu mobilku berbunyi. Kulangkahkan kaki ini menuju tempat lesehan dimana orang yang memanggil tadi duduk.

“Hai.. Sudah lama?”, sapaku pada orang tersebut sembari berjabat tangan.

“Yaa.. 10 menitan lah. Sing angel iku coro nilap e Nada. Bingung aku golek alasan. De’e mekso ae kate ngeterno moleh hehe”, (Yaa.. 10 menitan lah. Yang sulit itu cara menghindar dari Nada. Bingung aku cari alasannya. Lah dia maksa mau nganterin aku pulang hehe) seorang dara cantik berbicara santai sambil matanya tak lepas dari menatapku.

“Lha trus yo’opo carane kok isok ucul?,(Lalu gimana caranya kok bisa lolos dari Nada ?)! tanyaku balik menanggapi penjelasannya.

“Ya terpaksa aku bohong. Tak omongi ae lek aku kate mbungkusno kentaki adikku sik, nah iku kan ngantrine rodok suwe.. Dadi aku isok alasan lek mulihe tak numpak taxi ae!”, (Ya terpaksa aku bohong. Aku bilang kalau mau bungkusin adikku kentucky, nah itu kan antrinya lumayan lama.. Jadi aku bisa kasih alasan kalau aku pulang naik taxi saja!) lanjut gadis cantik tersebut.

“Hehe.. Isok ae golek alesan!, eh Jar..wes pesen ngombe durung?”, (Hehe… Bisaaa aja cari alasan. eh Jar..udah pesan minum belum?) aku bertanya balik pada nona cantik yang ternyata adalah si Hajar.

“Uwis mas, pesen nutrisar* iku mau tapi durung diterno, sampean tak peseno pisan ta? “, (Sudah mas, pesan nutrisar* tadi tapi belum diantar kesini, mau aku pesankan sekalian?) ucap cewek cantik bernama Hajar dengan gerakan hendak berdiri dari duduknya.

“Ga usah, tak pesen dewe ae Jar”, (Ga usah, aku pesan sendiri aja Jar) kutahan bahu Hajar yang hendak berdiri sehingga terpaksa ia jatuhkan kembali tubuh indahnya ke hamparan kain terpal lesehan. Rok bagian bawahnya yang sebatas lutut sedikit terangkat naik saat ia kembali duduk, terlihatlah sekilas putih bersih kulit pahanya yang padat berisi membuat mata ini terotomatis menikmati suguhan langka tersebut. Namun ia menyadari hal itu dan segera merapikan duduknya.

Setelah memesan secangkir kopi jahe pahit dan sepiringan gorengan (yang pasti enakan gorengannya Dana tentunya), akupun ikut duduk di samping Hajar dan kemudian diam. Ya diam tanpa tahu berucap apa. Hajarpun demikian jua adanya. Kami saling diam tanpa bisa memulai obrolan. Sesekali kutoleh cak (mas) penjual untuk menghalau rasa kikuk ini dengan menggunakan alibi seperti tak sabar menunggu minuman datang.

Dalam diam kunyalakan sebatang marlbor* black menthol untuk mengusir keheningan yang ada. Asap putih langsung mengepul di sekitarku saat hisapan pertama kulakukan.

“Uhukkk.. Uhuk”, terdengar Hajar terbatuk-batuk akibat asap rokokku.

“Waduh sori Jar..”, ucapku merasa bersalah dan bergerak hendak mematikan rokok yang terselip di antara jari tengah serta telunjuk tangan kiriku.

“Ga popo mas, ga usah dipateni. Iki watuk flu. Duduk mergo rokoke sampean kok. Terusno ae ga popo..!”, (Ga papa mas, tak usah dimatikan. Ini batuk flu kok. Bukan karena rokok kamu. Teruskan aja ga papa..!”, jemari lentik Hajar secara reflek menempel di atas lengan kiriku untuk menahan gerakan mematikan rokok.

“Aku seneng arek rokokan. Luwih ketok gagah…”, (Aku suka cowok merokok. Lebih kelihatan macho…) Hajar sedikit condong ke arahku dan kemudian membisikkan sesuatu namun masih dalam keadaan tangan menempel di lenganku.

“Aku yo seneng arek wedok nyenengi rokokku. Opo maneh rokokku dirokoki..”, (Aku juga suka sama cewek yang menyukai rokokku. Apalagi dia merokok pakai rokokku) imbuhku asal ngomong yang menghasilkan satu cubitan gemas di lenganku yang tadi.

“Huss.. Mesum la’an pikirane !”, (Huss.. Mesum ihh pikirannya!) sambil mencubit, Hajar tersenyum dengan mimik sewot. Kamipun tertawa bersama mencairkan gunung es menjulang yang berada diantara kami. Keakraban mulai tercipta. Selanjutnya… Terserah anda.. Hehe.

“Lagi suntuk nih mas. Pengen refreshing ngilangno sumpek. Sampean ga lagi repot kan?, koyoke aku butuh konco melekan bengi iki”, (Lagi suntuk nih mas. Pingin refreshing buat menghilangkan stress. Kamu ga lagi repot kan?, kayaknya aku butuh teman begadang malam ini) Hajar membuka pembicaraan saat tawa kami mereda.

“Sante ae. Tapi sakjane ojok melekan nang njobo ngene. Isok masuk angin awakmu engkok!, katanya tadi flu kan??”, (Santai aja. Tapi harusnya jangan duduk begadang di udara terbuka gini. Malah masuk angin kamu nanti!, katanya tadi flu kan??) sambutku atas obrolan yang diciptakan Hajar.

“Lha terus..?”, Hajar menggantung kalimatnya menunggu respon.

“Mari ngene muter-muter ae numpak mobil karo awakmu be’e pingin curhat pekoro sumpekmu mau. Pisan refreshing muter-muter ngumbah moto, nontok sembarang gae obat sumpek!, tapi entekno sik rek ngombene !.. Kadung pesen e”, (Habis ini kita muter-muter aja naik mobil sekalian kamu mungkin ingin curhat perihal rasa stressmu tadi itu. Sekalian juga refreshing muter-muter cuci mata, lihat apapun yang bisa buat obat stress!, tapi habisin dulu lho minumnya !, terlanjur pesan ini) kutanggapi antusias kegundahan Hajar dengan berupaya maksimal memberikan solusi terbaik dan nyaman untuk masalah yang sedang dihadapinya.

Obrolan ringan santai mengiringi malam yang semakin larut bersama segelas kopi jahe dan nutrisar*. Gang setan bukannya semakin sepi, beringsut lebih malam semakin bertambah banyak pengunjungnya, semakin beragam pula bentuk dan penampilannya.

“Iki wes setengah suwelas bengi Jar. Ga digoleki papa mama mu ta?”, (Ini sudah jam 22.30 malam Jar. Apa papa mama mu ga nyariin?) kusampaikan kekhawatiranku karena sudah cukup larut bagi seorang dara kembang seperti Hajar untuk kelayapan di kota buaya yang konon banyak buaya buntungnya hihi.

“Hehe.. Dek sore aku wes pamit kate nginep omahe Nada mas..!”, (Hehe.. Tadi sore aku sudah pamit mau tidur di rumah Nada mas..!) sedikit malu-malu tersirat dari wajah ayu nya saat Hajar menceritakan kalau ia telah berbohong pada orang tuanya.

“Aduhh koen… Hajar rek. Kudune ga oleh awakmu nggorohi wong tuwo Jar!”, (Aduhh runyam.. Hajar.. Hajar. Harusnya kamu tidak berbohong pada orang tua Jar!) nasehatku pada Hajar yang nampak malah cemberut mendengar petuah sok bijak yang kusampaikan.

“Critone dowo mas. Engkok ae tak critani. Intine, aku iki anak ga kopen!”, (Ceritanya panjang mas. Nantilah aku ceritain. Intinya, aku ini anak tak terurus!) ungkap Hajar dalam kecemberutannya. Dahiku mengkerut mencermati kalimat Hajar, namun tak lagi kulanjutkan aksi petuah karena melihat Hajar yang menjadi tak nyaman. Ku hela nafas dalam diam menunggu reaksi Hajar selanjutnya.

Singkat kisah..
Aku beriring bersama Hajar menuju mobil setelah sebelumnya ‘melunasi’ tunggakan kopi jahe and friends. Kugamitkan lengan ke pinggang rampingnya dan tak ada sinyal penolakan. Oh indahnya..

Malam itu Hajar nampak masih berpakaian kerja. Terusan blouse selutut dengan bentuk tangan tanpa lengan alias ‘you can see’ berwarna hitam dengan motif grafir mirip batik. Untuk menutupi terbukanya ketiak dan lingkaran leher yang cukup rendah, ia gunakan cardigan warna cream panjang hingga dibawah lutut. Sungguh terlihat elegan.

Jam digital yang muncul di layar monitor GPS mobil menunjukkan pukul 22.45. Kupacu santai brio dengan kecepatan rendah menyusuri jalan Gub. Suryo, melewati gedung Grahadi dimana pakdhe Karwo berkantor. Sampai disimpang pemuda kuputar haluan menuju arah Taman Prestasi di sisi sungai ketabang. Nampak beberapa pasang muda-mudi asyik masyuk bermesraan di remang taman tersebut. Ada pula beberapa dari mereka yang telah sampai pada tahap cium dan raba. Kucolek lengan Hajar sembari menunjuk sepasang muda-mudi yang berpangku-pangkuan disamping mushola taman. Kami terkekeh berdua melihatnya. Setiap orang punya pandangan dan pendapat berbeda dalam menyikapi segala hal. Bagiku pribadi, terlalu murahan jika seorang bidadari yang kucintai harus menikmati cara bercumbu di tempat terbuka semacam itu. Terlebih lagi dengan tempat duduk ala kadarnya dengan suasana yang jauh dari kata romantis. Seorang pria harus mampu menjadi pengayom, pelindung, tempat bersandar, penopang tumbuhnya rasa aman dan nyaman pasangannya. Namun sekali lagi, ini hanya pendapatku pribadi. Semua bebas memilih jalannya masing-masing.

Mobil terus berjalan melewati Flamengo menuju perempatan Siola. Kami mengobrol santai menikmati perjalanan. Belum ada obrolan curhat seperti apa yang dimaksudkan Hajar tadi. Mobil terus ku arahkan menuju Bubutan kemudian menikung ke kiri menyusuri jalan Tembaan.

Sekian menit berlalu terlihat di depan sana papan penunjuk arah tol pasar loak Dupak. Tanpa ragu-ragu kuarahkan brio putih bernopol L 1144 R menaiki tanjakan tol.

Mendekati gerbang tol pengambilan tiket, kupilih jalur kosong paling pinggir dengan papan penunjuk arah Malang. Seketika Hajar menoleh kepadaku dengan menyimpan tanda tanya yang tergambar pada raut wajah cantiknya.

“Lho kok Malang?, kate nang ndi iki mas?”, (Lho kok Malang, mau kemana ini mas?” Hajar akhirnya menyampaikan tanda tanya yang ia simpan. Aku hanya tersenyum penuh arti. Tak lama kemudian kupegang tangan kanan Hajar yang ada dipangkuannya dan kugenggam sembari kubisikkan cepat ke telinganya,
“Tretes !”.

Bersambug

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih đŸ™‚

Daftar Part