web hit counter

Suradi Adventure Part 21

0
333

Suradi Adventure Part 21

CINTA PERTAMA SI GEMBIL 8

Pulang dari Kertajati, Melinda hampir tidak bisa tidur setiap malam. Dia kehilangan akal. Dia mencoba memikirkan berbagai skenario, tapi semuanya terasa musykil. Sementara itu Suradi terus menelponnya. Bagaimana, bu? Kapan?… Nanti Pak, saya sedang usahakan. Begitu terus puluhan kali.

Sampai akhirnya Suradi tak pernah lagi menelponnya.

Melinda pernah sekali menelpon Suradi, kata-kata pertamanya adalah, “Bagaimana, Bu? Kapan?”
“Saya sedang usahakan.”

Klik. Telpon ditutup. Suradi tak pernah lagi mau mengangkat telponnya ketika dihubungi.

Akhirnya Melinda mencoba menemui Suradi di rumahnya. Wajah lelaki yang sangat dikasihinya itu tampak sangat kecewa. Dia ditemani istrinya dan meninggalkannya sendirian di ruang tamu itu.
“Dia sangat menginginkan Lin lin, dan aku sudah menipunya.” Katanya penuh sesal. “Linda, kamu melakukan kesalahan besar.”

10

Ada sebuah telpon yang sangat mengejutkan siang itu. Seorang yang mengaku bernama Dewi memberi tahu kalau Suradi sedang bersama Melani, sepupu jauh Mami. Mereka terlibat hubungan asmara.

Melinda tidak cemburu. Sudah terlambat 19 tahun baginya untuk cemburu. Dia hanya berpikir bahwa Melani bisa berbahaya bagi Suradi.
“Dia itu perempuan bodoh.” Pikirnya. “Seharusnya dengan modal awal yang cukup baik, dia dengan Derry bisa mencapai taraf kehidupan lumayan. Hm, apakah kebiasaan judi ding dongnya masih belum hilang?”

Melinda memutuskan untuk pergi ke butik dan menemukannya tengah terkapar dalam keadaan telanjang bulat. Wajah lelapnya berseri-seri tanda telah dipuaskan kebutuhan sexnya. Di sekitar kemaluannya masih tersisa lendir kenikmatannya.
“Gila!” Bisik Melinda dalam hatinya. “Wanita jalang ini pernah bercerita sama mami bahwa dia tidak puas dengan Derri. Bangsat betul!”

Melinda merasa geram. Dan bertambah semakin geram ketika Melani terbangun, lalu dengan santainya dia bercerita tentang kehebatan Suradi. Sambil tertawa, Melani mengatakan bahwa lelaki itu telah digangbang olehnya, Siska dan Dewi.

“Edan!” Bisik Melinda dalam hatinya. Sehebat itukah?

“Saya datang ke sini bukan untuk mendengar petualangan sex, tante.” Kata Melinda dengan tenang. “Winardi sudah bosan mendengar cicilan tante yang selalu telat.” Kata Melinda berbohong. Uang yang dia pinjamkan kepada Derry untuk membangun kost-kost-an itu adalah uangnya pribadi. Bukan uang perusahaan apalagi uang suaminya.

Melani berkilah dan mengemukakan banyak alasan. Tapi Melinda tidak mau mendengar.

“Kalau sampai Winardi yang datang menagih, itu urusan bisa jadi runyam. Saya datang ke sini untuk menolong tante.” Katanya.
“Lin lin, apa maksudnya?”
“Winardi saat ini mungkin sedang marah. Tapi sudahlah, saya akan tangani, yang penting tante selamat. Jangan seperti Alex, tante. Dia kini cuma punya los kecil di Surabaya. Dia enggak mau dengar Lin lin.”

Melani terdiam. Dia tahu Linda tidak sedang beromong kosong.
“Malam ini pergilah ke Medan, di sana ada rumah kontrakan punya Lin-lin, memang lebih sedikit, cuma 20 kamar. Tante saya kasih 150 juta. Kost-kostan dan butik Lin lin ambil alih. Semua utang Tante selesai. Setuju?”

Melani termenung. Ah, bagaimana dengan Suradi? Baru saja satu kali menikmati, sudah harus ditinggal pergi.
“Baiklah kalau mau bertahan di sini, enggak apa-apa tante. Tapi…”
“Tunggu, tante ambil Lin lin. Itu jalan terbaik.”
“Bagus.” Seru Melinda.

Bersambung

Daftar Part