web hit counter

Suradi Adventure Part 42

0
323

Suradi Adventure Part 42

ANASTASIA MELINDA LIEM 7

Mobil double Cabin itu seperti tiba-tiba muncul di pintu gerbang, dia bergerak cepat, meliuk dan melakukan pengereman mendadak di halaman samping, di mana Melinda sedang menikmati kopi pahitnya.

Orang yang berada di belakang setir tersenyum. Ke luar dari pintu mobil dan mendekati Melinda.
“Bagaimana? Kamu suka, kan?” Kata Suradi. “Kendali manual 3000 cc, cocok untuk di kota dan di desa.”
“Kamu siapa?” Kata Melinda, wajahnya sebal.

Suradi bengong.
“Saya, Kaka.”
“Kaka rambutnya gondrong. Kamu enggak!”
“Kan Kaka baru dicukur.”
“Tempelin lagi rambut gondrongnya. Tempelin lagi sana ke tukang cukur!”
“Kamu enggak senang Kaka jadi tampil rapi?”
“Enggak.”
“Kenapa?”
“Enggak senang pokoknya.”
“Padahal Kaka jadi kelihatan lebih keren, nii lihat… kayak peragawan kan?”
“Kaka genit. Jelek!” Kata Melinda. “Mana sini pesanan.”
“Nih, Laptopnya core I9 harganya beda dikit dengan I8, android oreo, V-Satelit sama parabolanya ada di bagasi.” Kata Suradi. “Kamu kenapa sih, Lin? Koq jadi begitu.” Suradi merasa heran.
“Tahu ah, gelap. Siniin semua pesanannya.”

Melinda kemudian membawa semua pesanan itu dan masuk ke dalam kamar kerjanya dengan membanting pintu.
“Sayang… buka pintunya.”
“Tempelin dulu rambut gondrongnya.”
“Jauh, harus ke Bandung lagi, ke tukang cukur.”
“Kalau gitu jangan masuk ke sini.”

Suradi beberapa kali merayu tapi gagal. Akhirnya dia pergi ke kamar dan menggelar kasur busa. Tidur.

Jauh sampai larut malam Melinda terus berkutat dengan laptop baru, HP dan V-Satelitnya. Dia merasa kesal karena antena parabolanya belum dipasang. Jadi dia belum bisa mengakses internet dengan leluasa.

Dia masuk ke dalam kamar. Melihat Suradi yang tengah lelap dan entah mengapa dia merasa sebal. Dia duduk di ranjang. Tak bisa tidur. Dia tiba-tiba teringat Mami dan kangen ingin bertemu.

Tiba-tiba Melinda menangis.

Suara tangisnya membuat Suradi terbangun dengan terperanjat.
“Lin lin, kamu kenapa?”
“Diam! Enggak usah nanya.”
“Apa salah Kaka?”

Tapi Melinda tidak menjawab. Dia malah terus menangis dengan lebih keras.
“Kamu enggak suka dengan mobilnya? Nanti Kaka tuker.” Suradi duduk di pinggir ranjang. Mencoba memeluk Melinda dari samping. Tapi Melinda menolaknya seperti mengusir Suradi.
“Ya, udah. Kaka tidur di luar aja.”

Tapi ketika Suradi hendak pergi, tangannya dipegang.
“Harusnya… Kaka jangan dicukur.” Katanya dengan setengah terisak.
“Tapi kan rambut Kaka udah panjang, kelihatannya kurang bagus.”
“Harusnya nanya dulu sama Lin lin.”
“Masa mau cukur harus minta izin dulu sama Bu Dirut.” Kata Suradi.
“Ya, harusnya minta izin dulu!” Kata Melinda, nada kerasnya menghilangkan isaknya.
“Aturan perusahaan nomor berapa itu? Koq Kaka enggak tahu.”
“Pokoknya kalu mau cukur izin dulu sama Dirut!” Teriak Melinda.

Suradi menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Ya, udah. Besok izin rambut Kaka digundulin.” Kata Suradi.
“Aahh… jangan. Kalau gundul nanti susah Lin lin ngejambaknya.” Kata Melinda, dia lalu meraih kepala Suradi dan jari jemarinya kemudian menjambak rambut pria itu. “Tuh, kan susah.” Katanya.

Suradi memeluk Melinda dengan mesra.
“Kamu jangan terlalu manja, sayang.” Kata Suradi.
“Lin lin enggak manja, cuma enggak suka aja Kaka dicukur… kegantengan.” Katanya, isaknya sudah mulai hilang.

Suradi tertawa.
“Kamu itu aneh dan lucu.”
“Ka, maafin ya Lin lin sudah bersikap menyebalkan.”
“Ga pa pa. Mungkin kamu cape atau bosan.”
“Ka… gatel.”
“Apanya? Punggungnya? Sini digarukin.”
“Bukan punggungnya. Ininya.”
“Oh. Kakinya.”
“Bukan kakinya. Ininya!”
“Apanya?”
“Kaka… ininya!” Kata Melinda sambil menarik tangan Suradi ke selangkangannya.
“Oh, pahanya.”

Tiba-tiba saja Melinda menyerbu Suradi dan mengigit kupingnya dengan ganas. Tidak lama kemudian, terjadi pertarungan asmara di kamar itu.
“Hadeuh… enaaaakkkk.” Kata Melinda sambil melepaskan diri dari Suradi dan tidur di ranjangnya dengan lelap.

Melinda terbangun oleh suara teriakan Suradi.
“Kiri, sedikit lagi. Nah di situ, Sep.”
“Apa tidak terlalu ke pinggir, Pak.”
“Itu cukup di situ. Biar panjang kabelnya nanti bisa pas masuk ke kamar kerja Bu Linda.”
“Langsung dipaku, Pak?”
“Ya.”
“Lagi ngapain sih?” Tanya Melinda.
“Masang parabola. Nah, sebentar lagi kalau instalasi sudah selesai, kamu bisa mengakses internet sepuasnya.” Kata Suradi. “Nanti kabel HDMI V-satnya tinggal dicolokin ke laptop, instal aplikasi, beres.”
“Berapa harga langganannya?”
“5 juta setengah.”
“Mahal sekali.”
“Per tahun, sayang. Bukan per bulan.”
“Owh. Nanti tagihannya masukkin ke laporan ya.”
“Siap, Bu Dirut.”
“Kaka sekarang jangan ke mana-mana dulu, di rumah.”
“Loh, Kaka mau ikut tender ke Purwakarta.”
“Enggak usah, deh. Di rumah aja.”
“Mau ngapain di rumah?” Kata Suradi. “Setidak-tidaknya Kaka akan pergi ke Cisaranten, lihat kemajuan pekerjaan.”
“Enggak usah. Di rumah aja.” Kata Melinda, lalu dia mendekati Suradi dan berbisik. “Ngentot lagi, yuk. Ini masih gatel.”

Suradi menatap Melinda.
“Kamu enggak takut jadi dower?”
“Biarin, yang penting enak.”

Bersambung

Daftar Part