web hit counter

The Best Employee Part 02

0
676

Part 02 – Black Rose

[POV Reza]

Kupacu motor sportku menuju titik lokasi dimana Sandra berada. Sore tadi ia mengirim WA bahwa ia membutuhkan pertolongan. Tak sampe 20 menit aku sampai pada lokasi yang dituju. Kulihat sebuah mobil SUV terparkir di pinggir jalan. Jalanan sini memang sepi. Apalagi saat hari kerja. Di tengah taman kulihat ada sebuah toilet.

“Apakah Sandra di sana.?” gumamku

Aku langsung menuju toilet tersebut. Ku dengar suara gaduh di dalam toilet. Dugaanku adalah Sandra sedang di sekap di dalam. Lalu aku mencoba mengintip keadaan di dalam toilet lewat celah ventilasi.

Oh my God!!! Sandra telanjang bulat tanpa sehelai benangpun. Perfect! Tubuh indah yang selama ini hanya ada di setiap mimpi basahku kini terpampang dengan nyata. Sedangkan kulihat ada lelaki sedang duduk di atas closet. Lelaki tersebut kemudian melucuti semua pakaiannya.

Tenang.. aku mencoba tenang. Aku segera mencari ide bagaimana cara menyelamatkan Sandra. Setelah kupikir pikir, kuharap ideku kali ini cemerlang. Ada karet gelang dan kertas slip gaji. Karet yang biasa ku gunakan untuk mengucir rambutku lalu kulepaskan. Lali kulipat lipat kertas slip gajiku sampai membentuk persegi kecil.

“REZAAAA KUMOHON TOLONGLAH AKU” teriak Sandra memanggil namaku.

“Iya Sandra. Tapi bentar lagi itu masuk kontolnya” batinku gila.

Tanpa basa basi lagi sebelum kontol lelaki itu masuk. Aku jepretkan kertas yang kubuat jadi peluru dengan karet gelang sebagai penarik pegas. Kuarahkan tepat di kepala penis lelaki itu. Agak susah memang namun jika gagal mungkin aku akan ikut threesome saja. Tapi bukan diriku jika menuruti pemikiran gila tersebut.

CEEETAAAAK

AAAAAAUUUUUUU

“SIAPAA ITU !!!”

FUCK!!! Tembakanku malah mengenai payudara Sandra. Kalo begini urusannya harus threesome nih. Lari!!! Aku kemudian segera berlari. Seenggaknya peluru tadi mengalihkan perhatian lelaki tersebut untuk balik mengintip ventilasi tersebut. Ya, itulah perangkapku. Sebelumnya telah kulihat lokasi pintu mengahadap ventilasi. Jadi sekarang saatnya beraksi. Aku berlari mengitari toilet menuju pintu depan.

Dengan sekali tendangan kujebol pintu itu. Pintu sampai ambruk menimpa lelaki tersebut. Lalu aku lompat ke atas pintu. Kuinjak pintu itu sampai rusak. Gatau deh lelaki itu ikut patah apa tidak. Yang terpenting aku berhasil menyelamatkan Sandra.

“ARGHHHH!! LEHERKU PATAH!!!”

“KENAPA NGGA KONTOL LOE AJA YANG PATAH JING!!! umpatku pada lelaki tersebut.

“Dan loe San! Cepet pake baju! Sebelum gue ngaceng total dan justru gue yang perkosa loe!!” bentakku pada Sandra yang masih memegangi payudaranya.

Hmmm payudara yang indah. Oooh disaat seperti ini kontolku ngaceng bangeeet. Rasanya penget banget memegang. Tapi… No! Fokus Reza!!

[table id=Ads4D /]


Sandra

Setelah Sandra memakai semua bajunya yang agak kotor, ku injak sekali lagi pintu dibawahku hingga pintu dari seng ini penyok. Kemudian Sandra merogoh celana lelaki tersebut.

“Ngapain lu San. Kalo mau kontol nanti punya gue aja!!”

“MASIH SEMPET YA LU NGOMONG GITU!!!” maki Sandra yang membuatku tersenyum.

Ternyata Sandra mengambil hape milik lelaki itu lalu mengutak atiknya. Ku dengar lelaki itu masih merintih kesakitan.

“ARGGHH BAJINGAN KALIAN!!!! TUNGGU PEMBALASAN GUE !!!!” ancam lelaki tersebut.

Kuraih tangan Sandra lalu meminta dia cepet keluar. Sebelum keluar ia lempar hape lelaki itu ke dalam closet. Aku yang belum puas menyiksa lelaki tersebut kemudian mengangkat pintu tersebut. Sungguh mengenaskan. Lelaki itu menoleh ke kanan seperti orang tengeng. Sepertinya memang benar. Leher lelaki itu patah. Ku tarik rambutnya lalu ku angkat hingga berdiri. Dengan sekuat tenaga ku arahkan lututku ke arah perutnya berkali kali sampai dia menyerah minta ampun.

“Sudah cukup Za! Kita bisa telat nanti!!” ucap Sandra

“ARGHH AMPUN!!” erang lelaki itu.

“Yuk kita pergi.” ucapku pada Sandra lalu menarik tangannya

Aku baru ingat nanti malam aku harus menemani Sandra ke Bali. Sandra masih shock mengalami kejadian tadi. Ku lihat matanya sembab. Bibirnya ada sedikit luka. Tanganya memelukku erat dari belakang. Ku antar dia pulang yang kebetulan rumahnya searah dengan kontrakanku

“Makasih Zaa.” ucap Sandra lirih

“Nanti biar gue aja yang jemput loe.”

“Iya ntar loe bawa mobil gue aja. Motor lu taruh aja di rumah gue.” ucap Sandra kemudian menepelkan kepalanya pada pundakku.

“Nggak ah. Macet!!”

Bletaaaak … sebuah tamparan mengenai helmku.

“Apaan sih San!!” Bentakku kesal

“Lu itu ya.!! Sakit tau susuku tadi !!!”

“Hahaha.. habis gue ngga konsen tadi. Jadinya salah sasaran deh.” Jawabku ngeles.

Setelah sampai di rumah Sandra. Ia kemudian masuk ke rumahnya lalu keluar lagi.

“Loe bisa bawa mobil kan ??” ucap Sandra keudian menyerahkan kunci mobilnya.

“Bisa. Trus entar parkirnya di mana.?”

“Udeh jangan banyak tanya! Gue ada kerabat di bandara. Ntar dia yang bawa pulang mobil gue.!”

Aku pun menyerah. Lalu kubawa mobil Sandra pulang.

[table id=AdsKaisar /]


Luna

#1 jam yang lalu di kontrakan Reza

Pak Yudho tak dapat menahan birahinya. Melihat kemolekkan tubuh sang Luna Maharani. Ingin rasanya ia membekap lalu memerkosanya. Namun pikiran negatif itu ia buang jauh. Mengetahui ibu Yati segera pulang, akan bahaya urusannya jika nanti kepergok.

Saat mau mengantarkan kopi, Luna tiba-tiba terpeleset jatuh ke lantai. Alhasil kopinya jatuh dan Luna mengerang kesakitan. Setelah ia sadari ia lupa tak meniriskan tubuhnya saat keluar dari kamar mandi tadi.

PRRAAANK AAAAAKHHH

Suara yang muncul dari arah dapur itu mengagetkan Pak Yudho yang sedang berimajinasi menyetubuhi Luna. Pak Yudho lalu lari menuju dapur. Dilihatnya Luna sedang tengkurap dan pecahan gelas yang sebelumnya berisi kopi di samping tubuh Luna.

“ASTAGAAAA LUNAAA !!!!!” teriak Pak Yudho

Kemudian membantu Luna berdiri. Ketika Pak Yudho mencoba membantu berdiri, tangan kirinya dengan inisiatif merangkul pundak Luna dan tangan kanannya meraih paha mulus Luna.

“Sini Bapak bantu.”ucap Pak Yudho.

“Nggak usah digendong Pak, Saya bisa berdiri sendiri.” ucap Luna mengetahui tubuhnya sekarang sedang di bopong. Dilihatnya pria tua berkumis itu tepat di wajahnya.

“Ngga apa nanti kamu malah kena pecahan kaca lho.” jelas Pak Yudho setelah mendegar penolakan Luna.

Memang banyak kaca yang berserakan. Dengan hati-hati Pak Yudho membawa Luna ke ruang tamu. Lalu dibaringkanlah Luna di atas sofa. Dalam hati Pak Yudho ia merasa kasihan namun penis Pak Yudho tak bisa menahan konaknya ketika melihat seorang gadis kecil nan seksi yang seumuran dengan cucunya itu sedang tergeletak lemah di sampingnya. Harum aroma parfum Luna membuat darahnya berdesir. Tongkat saktinya mengacung tegak hingga terlihat tonjolan diluar celananya. Karena nafsu yang sudah di ubun ubun, Pak Yudho tak menyadari ada sedikit beretan kaca yang menembus jempol kakinya.

“Aduuuuh..” erang Luna pada kedua lututnya yang memar.

“Ya ampun, ini harus diurut kalo nggak nanti bengkaknya bisa tambah gedhe.” ujar Pak Yudho langsung meraih paha Luna yang mulus. Dielusnya paha itu di sekitaran luka yang memar dekat lutut.

Luna hanya pasrah ketika tangan kasar Pak Yudho menyentuhnya lembut. Tiba tiba jantungnya berdebar seketika ketika dilihatnya sebuah tonjolan diluar celana Pak Yudho. Sambil menganga Luna melihat celana itu bergerak gerak seolah ada benda hidup di dalamnya. Karena takut Pak Yudho melihatnya, Luna mengalihkan pandanganya.

“Sakit ngga pijitannya? Apa terlalu keras ??” tanya Pak Yudho

“Sakit sedikit di lututnya Pak. Tapi pijitannya enak kok Pak.” balas Luna.

Luna tersenyum, baru kali ini di pijit seenak itu. Namun saat tangan Pak Yudho dengan telaten memijitnya pikiran tentang tonjolan itu membuat darahnya berdesir seperti menahan ngompol. Saat tangan Yudho pindah semakin ke atas pahannya, ia terpekik dan merasakan kegelian namun rasanya nikmat. Meski tak ada pikiran negatif ke Pak Yudho, Luna merasa sungkan jika terus dipijitin.

” Pak, geli banget jangan terlalu ke atas.”

“HAH, geli ya. Hahahaha.”

“Iya pak. ”

“Kamu udah punya pacar Lun?

“Belum Pak.”

“Ih masa cewek secantik kamu belum punya pacar??”

“Kata mamah ngga boleh pacaran Pak.”

“Oh gitu. Wajahmu cantik banget lho. Ih gemesss.” puji Pak Yudho sambil mencubit pelan paha Luna.

“Ih kok dicubit Lunanya. Eh itu jempolnya berdarah !” ucap Luna kemudian arah matanya tertuju pada jempol kaki Pak Yudho.

Ketika Luna membungkuk untuk melihat kaki Pak Yudho, payudaranya menekan lengan Pak Yudho. Kejadian tersebut membuat Pak Yudho tegang maksimal. Luna yang tak menyadari payudaranya menempel, malah tercengang lagi dengan sesuatu di balik celana Pak Yudho

“Luka dikit Lun. Eh kulitmu itu kok mulus bener sih. Lihat nih, tangan Bapak bisa kaya seterika gini yak.” canda Pak Yudho menjurus mesum.

“Ih tangannya nakal sampai ke atas. Hihi.”

“Emang ada apa di atas??”

” Geli pak jangan!”

Pak Yudho menyadari bahwa Luna mulai terangsang. Jurusnya membuat wanita terangsang tak diragukan lagi jika dilihat dari umurnya. Luna sang gadis SMA pun dan masih polos bisa ia taklukan. Kini Pak Yudho semakin berani mengelus paha Luna sampai ke ujung. Luna hanya melongo disaat yang bersamaan tubuhnya merasakan sesuatu hingga mulut mendesah.

“Hmmmmphh.. Pak!! Jangan!! Luna kebelet pipis!”

“Ini biar ngga keram Luna sayang .”

“Ahhhh..” desah Luna saat jemari Pak Yudho sedikit demi sedikit menyentuh ujung selakangannya

Wajah Luna memelas pucat pasi berharap Pak Yudho tak melajutkan pijitannya. Tanpa ia sadari tangannya memeluk erat tubuh Pak Yudho. Dilihatnya wajah Pak Yudho yang hanya tersenyum ke arahnya.

“Enak ngga Luna??”

“Jangan terusin Pak! Luna ngompol entar!!”

“Ya udah ngompol aja! Ntar biar lukanya cepet sembuh!!” dengan gemas Pak Yudho kini menyentuh bibir vagina Luna. Dengan berani jemarinya mengelus gundukan daging yang telah membasah itu.

“Ahhhhh… PAAAAAK LUNAAA NGOMPOOOOL!!”

Luna menggelinjang. Tubuhnya seperti disengat setrum tangannya memeluk erat tubuh pak Yudho. Sadar akan hal itu, Luna kemudian menundukkan kepalanya. Pak Yudho hanya tersenyum lalu mengusap rambut Luna.

“EngghhZ.. Bapak tangannya !!” ucap Luna menyingkarakan tangan Pak Yudho yang masih di dalam hotpantsnya.

“Eh.. maaf! Tapi enak kan ??” Pak Yudho berkelit lalu mengeluarkan tangannya. Dilihatnya tanganya basah penuh cairan kewanitaan Luna.

“Luna malu Pak! Kok bapak memegang anu saya”

“Itu biar kamu melupakan rasa sakit pada memarmu aja Luna.”

Namun kejadian tak berlanjut setelah ada suara motor yang kemudian berhenti di depan rumah.

“Eh itu kak Sheila dateng!!” seru Luna kemudian melepasankan tangan Pak Yudho yang masih membelai pahanya.


Sheila

Luna melihat kakaknya berdiri di depan muka masam. Dengan baju agak kusut dan mata sembab Sheila menatap dua insan berbeda umur sedang duduk saling menepel.

“HEH AKI AKI NGAPAIN LOE !!!”

“Wah Sheila baru pulang. Ini saya cuma mau menagih uang kontrakan.”

“NGAPAIN LOE BIARAIN DIA MASUK DEK !!”

“EMANG KENAPA KAK!!! KAN PAK YUDHO CUMA MAU KETEMU MAMAH !”

“ANAK KECIL POLOS BANGET!!! PERGI KE KAMAR!!”

“Kamu jangan berpikiran yang enggak-engga Sheila!”

BRUAAAKKKKKK

Luna yang kesal pada kakaknya kemudian masuk ke kamarnya lalu menutupnya keras. Pak Yudho kemudian berdiri dari sofanya. Sedangkan Sheila dengan memasang wajah marahnya melotot ke arah Pak Yudho.

“Bertamu itu ada sopan santunnya lah Pak ! Anda tentu tahu kan? APAKAH PANTAS DUA ORANG BERLAIN JENIS DI DALAM RUMAH ! ANDA MINTA UANG KONTRAKAN ??” bentak Sheila lalu menyerahkan uang dalam bungkus amplop coklat.

“KAMU JANGAN SALAH PAHAM!! Saya tahu umur!” ucap Pak Yudho lalu mennyahut amplop tersebut.

“Bagus. Mohon maaf, boleh anda pergi sekarang juga.??” usir Sheila secara halus.

“Baik. Permisi. Kalo bukan ayahmu baik kepada keluargaku, sudah kuusir kalian.” ucap Pak Yudho keluar dari rumah tersebut.

BRUAAAAK

Sheila menutup pintu rumahnya. Tak lama kemudian ia menangis bersandar pintu.

“REZAAA MAAFIN KAKAK!!!!”

[table id=Lgcash88 /]


Shinta

[POV Shinta]

Malam ini aku pulang agak telat. Setelah meeting sore tadi aku harus kehilangan operator tertampanku. Eh kok aku bilang dia tampan. Memang sih Reza mengingatkanku pada Gino. Sikapnya yang lucu dan kejujurannyalah yang membuatku kagum padanya.

Dengan berat hati aku harus merelakannya pindah ke bagian RnD. Dan semoga dia bisa lebih berkembang di sana. Setelah semua berkas beres, aku bergegas pulang. Tak lupa ku matikan ruanganku. Waktu hampir maghrib, lampu lampu lorong sudah mulai menyala. Karena lokasi ruanganku paling belakang aku harus melewati lorong . Sambil berjalan kulihat ada ruangan yang menyala.

“Itu ruang HRD kok masih nyala.” gumamku

Setelah sampai di depan ruangan HRD, langkahku terhenti. Aku mendengar suara rintihan wanita. Apakah Bu Nuri belum pulang kok ada suara Bu Nuri. Karena penasaran aku mengintip lewat jendela yang korden nya tak tertutup sempurna. Dari celah itu sebuah kejadian yang belum pernah aku lihat terpampang jelas di depan mataku

Bu Nuri dengan tubuhnya yang agak gemuk sedang telanjang menduduki seorang lelaki yang terbaring di atasnya. Kulihat dengan jelas vagina Bu Nuri menancap sempurna pada penis lelaki itu. Setelah kuamati dengan teliti lelaki itu adalah Pak Rendy

Pak Rendy meremas payudara Bu Nuri yang toge. Sedangkan Bu Nuri bergoyang menaik-turunkan pantatnya. Kulihat Bu Nuri menikmati sekali permainan tersebut. Matanya terpejam dan mulutnya menganga ke atas.

Entah mengapa darahku berdesir. Hawa panas tubuhku tak bisa kukendalikan. Ingin rasanya pergi namun tubuhku terpaku menyasikan permainan tersebut. Ahhh.. kenapa aku jadi ikut terbawa suasana. Nggak!! Ini nggak boleh !! Aku menutup mata lalu melanjutkan langkahku dengan cepat meski pikiranku masih terbayang tentang kejadian itu.

Di usiaku yang matang ini harusnya aku segera mencari seorang suami. Namun entah mengapa aku merasa belum ada yang pas meggantikan Gino. Gino meninggal saat kita masih pacaran dua tahun yang lalu.

Kupacu mobil sedanku menuju appartemenku. Di sini aku tinggal sendiri. Orang tuaku berada jauh di Surabaya. Sebenernya dulu aku di tempatkan di cabang Surabaya, namun karena disini membutuhkan orang aku pun setuju karena posisi yang ditawarkan juga menjanjikan.

[table id=iklanlapak /]

#Di sebuah Hotel bintang 5 di pusat kota.

Seorang wanita sedang tertidur pulas tanpa busana. Dia adalah Melanie. Terdapat banyak luka memar pada tubuhnya. Sedangkan disampingnya ada pria tua buncit sedang berada di depan laptopnya dengan memakai sarung untuk menutupi bagiam bawah tubuhnya. Dia adalah Robby.

“Hahahahaha. Ini bakalan laku mahal kalo di upload disini.” tawa Robby

Mmmmuuaah..

Dengan girang Robby mencium pipi Melanie kemudian di belainya tubuh tak berdaya itu dari ujung pundak menuju selakangannya.

“Coba kalo kamu ngga nakal. Aku jadikan kau istri keduaku.” lanjut Robby.

Melanie tak bergerak sedikitpun dari tidurnya. Tubuhnya terasa lemah. Hari ini adalah hari paling memilukan untuknya. Penangkapan Didik menyeretnya ke dalam penderitaan.

Didik di tangkap kemarin malam di sebuah appartemen saat sedang bergumul dengan Melanie. Melanie sendiri yang tak tahu apa apa kemudian di amankan oleh pihak berwajib. Namun karena hasil tes negativ ia bebas. Saat hendak pulang tiba tiba dua orang berjas menahannya. Kemudian dua orang itu membawanya ke dalam Mobil Jeep hitam. Melanie bersedia mengikuti kedua orang itu karena mereka adalah Hendro dan Robby.

[table id=AdsTbet /]


Melanie

[POV Melanie]

#24 Jam yang lalu

Saat ini aku berada di sebuah appartemen milik Didik. Aku tahu betul maksud Didik membawaku kesini. Kulihat Didik sedang memakai piyama putih berjalan ke arahku. Ku alihkan pandanganku pada matahari yang mulai tenggelam. Tiba tiba dua tangan kekar hinggap di perut ku. Kurasakan tubuh didik memelukku dari belakang.

“Kita mulai yuk.” bisik Didik padaku.

“Ahhh.. kamu ini. Aku takut mas jika suatu hari nanti istri mas mengetahui hubungan terlarang ini.”

“Dia tak akan tahu.” ucap Didik sambil tangannya menurunkan tali bra kananku.

“Hmmmph…” aku mendesah pelan saat lidah Didik menyapu leherku lalu turun ke lenganku. Kemudian dibalikkan tubuhku. Di depan ku , Didik mencium jemariku satu persatu sambil matanya yang sayu menatap mataku.

“Kamu cantik banget Melanie.” ucap Didik teesenyum padaku.

“Ahh… kamu membuatku bergairah mas. Jangan menatapku seperti itu.” aku tak tahan lagi. Langsung kusambar bibir tebal itu. Didik pun tak kalah, lidahku dihisap hingga kami bertukar air liur.

“Aku suka susumu Mel” ucap Didik kemudian turun meraih payudara kananku. Dihisapnya putingku yang berwarna pink. Jujur rangsangan Didik membuat vaginaku basah.

“Aku tak tahan mas. Cepat masukkan penismu. Uhhhh… enaaak masss…” desahku menikmati permainan Didik.

Didik kemudian membuka piyamanya. Sementara aku melucuti semua pakaian yang masih tersisa di tubuhku. Dua tangan kekar nya meraih bokongku. Tanganku inisiatif merangkul pundaknya. Dengan enteng Didik mengangkatku lalu direbahkan tubuhku di atas kasur.

“Cepaaat masukiiin…”

DOK DOK DOK DOK

DAMN!!! Tiba tiba ada yang menggedor pintu disaat penis Didik sudah tepat berada di bibir vaginaku. Didik kemudian memakai lagi piyamanya. Lalu melangkah menuju pintu

“Siapa sihhh masss. Kentang bangeeet nih..” rengekku pada Didik.

“Hahaha. Tunggu sebentar sayang .” ucap Didik.

Ku tutupi tubuhku dengan selimut . Aku merasa kesal karena disaat nikmat nikmatnya ada orang menganggu. Nafsu yang sedang tinggi tingginya tiba tiba meredup. Ahhh… siapa sih itu.

“Saudara Didik anda ditahan karena diduga memakai Narkoba!”

“Sebentar.. mungkin ada salah paham. Saya nggak pernah..”

“GELEDAH KAMAR INI!!”

Ohhh. Apalagi ini. Didik pemakai?? Dengan gesit 5 petugas masuk menggeledah kamar ini. Kulihat wajah Didik panik dan menatapku lemas. Tanganya di borgol oleh salah satu petugas.

“Nona ! Anda juga harus kami tangkap. Sebelumnya pakailah pakaian anda!” ucap salah petugas kepadaku.

Aku menuruti perkataan petugas itu. Kuraih pakaian seadanya. Kupakai pakaian itu di dalam selimut yang lebar agar tak terlihat kebugilanku.

Jantungku berdebar 2 kali lebih cepat. Aku yang tak tahu apa apa harus ikut terseret.

“Kita menemukan ini Pak!!”

“Apa itu !!”

“Sejenis Heroin.”

Tamat sudah riwayatku. Ternyata Didik adalah sang pemakai. Aku dan Didik lalu di bawa ke kantor polisi untuk di mintai keterangan. Di sana aku mengaku tak pernah memakai barang haram itu. Kemudian saat di tes urine hasilnya negative dan aku boleh pulang.

[table id=AdsLapakPk /]

#Sekarang

“Uhmmm dimana gue..”

Kulihat tubuhku masih telanjang. Baru kuingat setelah pertemuanku dengan Hendro dan Robby. Itu adalah awal dari penderitaanku. Di mana siang tadi tubuhku kuserahkan pada empat manager bangsat. Air mataku kembali keluar. Ku pakai pakaianku lalu kulihat ada secarik kertas di atas meja.

“Pulanglah jika kau ingin pulang. Dan ingat hari ini kamu resmi jadi budak kita. Jika kamu berusaha kabur videomu akan kusebar. Dan jangan sekali kali lapor polisi atau kamu akan menyesal seumur hidup.”

PRAAAAANK

Emosiku meluap setelah membaca isi surat itu. Ku pecahkan vas bunga di atas meja. Air mataku tak mau berhenti mengalir. Ku lihat jam dinding menunjukkan pukul 7 malam.

Apa salahku???

Didik ??

[table id=AdsKaisar /]

[POV Luna]

Aku masih berada di kamarku. Baru saja kakakku pulang dan kedatangannya membuatku kesal. Gimana ngga kesel, ada tamu kok malah diusir. Tapi jika kupikir ada benernya. Meski Pak Yudho tak bermiat jahat padaku, aku pun harus waspada jika tiba tiba dia memerkosaku. Apalagi anuku sudah dipegangnya. Ahhh.. kenapa aku bodoh sekali. Kenapa tadi aku hanya pasrah ! Tapi jujur ini adalah pengalamanku disentuh oleh seorang pria. Tapi kenapa harus Pak Yudho ??? Jadi senikmat itukah ??

DOK DOK DOK DOK

“Adek keluar. Makan malam sudah siap tuh!”

Kudengar suara kak Sheila memanggilku. Kulihat waktu menunjukkan pukul 7.00. Masih dengan perasaan yang kesal aku keluar dari kamar. Kulihat kak Sheila dan Mamah sudah barada di meja makan.

“Ya ampuun sayang. Sini! Kucel amat muka anak mamah.” ucap Mamah lalu menggandeng tanganganku

BRRRRMMMM

“Papah pulang??” tanyaku pada mamah setelah mendengar suara decitan mobil.

“Biar gua cek.!” sahut kak Sheila lalu menuju pintu depan.

“Luna. Mamah udah denger dari kak Sheila. Tadi Pak Yudho kesini yah.? Kamu ngga di apa apain kan sayang??” tanya Mamah

“Nggaaak mah. Kak Sheila aja terlalu alay! ” ucapku bohong.

“Hssst! Dia melakukan itu kan demi melindungi kamu.” tutur Mamah padaku.

“Iya sih Mah. Luna minta maaf. Lain kali akan lebih hati hati.”

Dari arah pintu depan kulihat kakak gondrongku pulang. Dalam hatiku aku ingin menangis. Ingin rasanya aku mengadu pada kakaku. Namun mengingat Pak Yudho tadi hanya berniat meringankan lukaku, aku urungkan niatku.

“Mobil siapa itu Reza ??” ucap kak Sheila menyusul langkah Kak Reza.

“SANDRA!!” Jawab Kak Reza lalu duduk sebelahku.

“Hallo mah! Aku nanti mau terbang ke Bali. Ada tender di sana.” Imbuh Kak Reza.

“Lho bukannya sekarang kamu bagian produksi??” tanya Mamah pada Kak Reza

“Ceritanya panjang, Mah. Mau ngga mau aku di tarik lagi jadi Chemist.” Jelas kak Reza.

“Kak ntar bawa oleh-olehnya yaaa.!” ucapku pada Kak Reza

“Iyaaa sayaang!!” jawab Kak Reza sambil mengacak acak rambutku.

Selesai makan kurebahkan tubuhku di atas kasur kamarku. Lalu tiba tiba pintuku terbuka. Kulihat kak Sheila masuk mendekatiku.

“Luna. Kakak mau ngomong. Terserah loe boleh benci kakak!! Kakak ngga mau ada yang nyakitin loe! Karena kakak sayang sama loe Lun! Dan satu hal yang harus loe tahu. Kakak ngga pengen nasib loe seperti kakak !!”

Aku tak bisa menahan air mataku. Jika aku pikir memang benar apa yang dilakukan oleh Kak Sheila. Kenapa aku sepolos ini!! Aku sudah gedhe!! Harusnya aku tahu!!! Tapi jika membayangkan kejadian tadi.?? Ahhh .. tapi itu enak banget. Kenapa harus Pak Yudho sih!!!

Sepertinya aku harus mencari tahu sendiri. Aku sudah dewasa! Bukan anak kecil lagi !! Iseng-iseng aku browsing melalui hapeku lalu membaca sebuah artikel forum dewasa.

Forum apaan ini??

[table id=Ads4D /]

#Di sebuah appartemen mewah

Seorang wanita cantik nampak berdandan di depan cermin. Di belakangnya ada seorang pria tanpa busana sedang menggeranyangi tubuhnya.

“Tessa kamu lihat ngga ekspresi Reza tadi???”

“Hahaha. Anak itu polos beb! Pasti dia tadi ngaceng berat.” ucap Tessa yang kini memainkan clirotisnya sendiri

Uhhhh…

“Kamu pengen ngga kalo threesome bareng Reza??”

“Uhmm mauu bangeeeet beeeb”

Riko kemudian melumat payudara Tessa. Dengan sedikit menggigitnya ia mainkan payudara itu bergantian kiri kanan. Tessa melenguh menikmati permainan Riko. Dengan cepat ia berbalik lalu melumat bibir pria botak itu.

Mmmmmhhh…

Ummmmmhh…

“Enaaaak bangeeeet! Fuck!!” desah Tessa

“Aku masukin ya beb!!” ucap Riko yang kini tengah menekan penisnya di bibir vagina Tessa.

Masih berada di atas kursi rias, tangan Tessa bertumpu pada pundak Riko. Riko membuka lebar paha Tessa lalu dihujamlah penis itu menusuk vaginanya yang berbulu tipis.

CEPLAK CEPLAK CEPLAK

Uuhhhhh

Ohhhhhhh

“Teruuuuussss bentar lagi….!!!” racau Tessa

“Enaaaaaak…???” tanya Riko yang kini jarinya memilin puting Tessa

“ENAAAAK BANGEEET!!!”

Riko lalu mengangkat tubuh Tessa. Dengan penis yang masih menempel pada vaginanya, pria botak itu menaik turunkan tubuh Tessa sambil melahap kedua payudaranya. Keringat kedua insan itu mencucur deras. Rambut Tessa yang panjang terlihat acak acakan, sebagian menepel pada kulitnya yang berkeringat.

Kini Riko mengubah posisi, dibalikkan tubuh Tessa hingga menungging. Kali ini mereka dalam posisi doggy . Dengan ganas Riko menyodok dari belakang sambil kedua tangannya bertumpu pada pantat Tessa yang semok.

PLAAAK PLAAAK

“Pantatmu empuk banget beb!!”

“Terus aku hampir sampai.!!”

“Aku juga!! Dalem apa luar??”

“LUAR!!!”

CROOOT CROOOT CROOT


Tessa

Dengan cepat Riko mengeluarkan penisnya. Keluarlah sperma Riko, menyembur membasahi pantat Tessa. Tessa pun langsung ambruk bersimpuh dengan pantat yang masih menungging. Riko yang nampak kelelahan tergelatak di sampingnya.

[table id=AdsKaisar /]

#Pukul 19.30 WIB

Di depan rumah elite sebuah sepeda motor sport terparkir. Di sampingnya berdiri seorang wanita dengan koper besar di tangan kirinya. Dia adalah Sandra. Sambil mengutak-atik hape wajah Sandra tampak cemas.

Tak lama kemudian sebuah Mobil SUV warna putih berhenti di depannya. Lalu keluar seorang pria tampan dengan jaket jeans dan memakai kaca mata hitam. Pria itu adalah Reza Sanjaya.

“LAMA BANGEEEET SIIH!!! UDAH TELAAAT INI.” bentak Sandra

“BAWEL BANGET SIH LOE!!!” sahut Reza

“Ihhh.. Itu buka pintunya!!” suruh Sandra

“Lagian loe ribet amat bawa koper segedhe itu ! Kita mau dinas bukan piknik ibu negara!!” ketus Reza lalu membuka pintu belakang mobil.

Setelah itu Reza membukakan pintu untuk Sandra. Dengan gaya tengil ia buka kacamatanya ditarik keatas kepalanya

“Silakan tuan putri..” ucap Reza dengan senyuman tengilnya

“Ihhh lebay!!!” ketus Sandra lalu tersenyum melihat tingkah Reza.

Setelah Sandra masuk, Reza segera ikut masuk mengambil kemudi. Masih dengan wajah yang sama kali ini Reza menurunkan pitch suaranya.

“Mah kemana nona??”

“BANDARA!! CEPETAN!!! HAHAHAHA!!!”

“GITU DONG KETAWA!!! Hidup jangan terlalu di buat murung. Yang lihat juga sepet kale San!! Udah lupain masalah tadi!!” jelas Reza hingga membuat Sandra terharu

“Loe baik banget sih ke gue! By do way makasih ya Za!!”

Ckck.. Reza hanya mengedipkan satu matanya sambil tersenyum.

Tak sampai sejam mobil tiba di Bandara. Reza kemudian memberhentikan mobilnya. Mobil tersebut di parkir di depan Terminal 1.

“Terminal 1 kan San??”

“Iyah. Sudah sampai??”

“Loe mikir apaan sih. Sudah bu!!”

“Iya udah ayok turun. Hehehe. Tunggu gue mau WA kakakku!!

“Kakak???”

“He ehm.”

Reza dengan inisiatif turun lalu menurunkan koper. Dari pintu utama berjalan seorang wanita dengan jaket hitam. Ia memakai kaca mata hitam. Wanita itu berjalan menuju mobil Sandra.

“Sandra??”

“KAKAK!!”

“Kamu siapa??” tanya wanita itu pada Reza

“Aku Reza!!”

“ARDHELIA! SAVIRA ARDHELIA!!”

Setelah sedikit berbincang, Reza menyerahkan kunci mobil kepada Ardhelia. Disaat bersamaan tanpa sepengetahuan Sandra, Ardhelia memasukkan sebuah amplop kecil ke dalam saku jaket Reza. Belum sempat Reza menanyakan isi amplop itu, Ardhelia menahannya dengan kode telunjuk menepel pada bibirnya.

Sambil berjalan menuju loket check in, Reza mengintip sedikit amplop itu. Di luar amplop itu tertera sebuah tulisan. ‘ BLACK ROSE ‘

“Black Rose??” gumam Reza pelan.

Halaman Utama : The Best Employee

BERSAMBUNG – The Best Employee Part 02 | The Best Employee Part 02 – BERSAMBUNG

Sebelumnya ( Part 01 ) | ( Part 02 ) Selanjutnya