web hit counter

The Best Employee Part 04

0
694

Part 04 – Swimming Sensation


Sheila

Luna

Pagi ini aku bangun pagi sekali setelah kulihat layar hapeku menyala, ada nama ‘Boss Besar’. Dering lagu Evanescsene – Dissapear memekikkan telingakaku. Aku beranjak dari tidurku lalu meraih hapeku.

“Iyaa. Halllo Om!”

“Sheila. Apakah hari ini kamu free pemotretan?”

“Free Om.”

“Bagus. Nanti kamu datang ke rumah Om yah. Masih ingat kan rumah om??

“Masih kok Om!”

“Iya nanti sekitar setengah jam lagi si Sobirin akan menjemputmu.”

Orang itu. Masih teringat di dalam memoriku saat pertama kali bertemu dengannya. Robby William Rahardja. Bahkan nama panjangnya pun aku hafal. Kejadian itu terjadi 2 minggu yang lalu.

[table id=Ads4D /]

“Kakak yakin mau jadi artis??”tanya Reza padaku

“Yakin pakek bangeet.” Jawabku.

“Inget ya kak! Dunia entertaint itu kejam!!” pesan Reza kepadaku

“Iya baweeel!”

Langkahku menuju sebuah ruangan. Ruangan di mana mimpiku selama ini akan segera terwujud. Adiikku Reza yang mengantarku lebih memilih menunggu di luar. Karena di dalam gedung ini ngga boleh merokok. Dasar Reza merokok melulu..

Setelah memasuki ruangan casting, ada setidaknya sepuluh orang di ruangan itu. Ada 3 orang memegang kamera. Ada 2 cewek cantik yang memiliki tubuh proposional sama sepertiku. Ada 2 orang di depan monitor besar, mungkin mereka adalah sutradara dan produsernya. Dan terakhir ada sepasang lelaki paruh baya dan wanita wanita paruh baya, mungkin wanita itu istrinya.

“Kamu siapa?” tanya seorang photographer padaku

“Saya Sheila Pak. Benarkah ini lokasi syutingnya?” tanyaku balik kepada lelaki berkumis tebal itu.

“Benar sekali nona. Kamu duduk di sana ya. Tunggu giliran. Di sini tak perlu ada naskah. Kita akan melakukan adegan tanpa dialog. ” jelas lelaki paruh baya menyahut pembicaraanku dengan photographer.

“Kalo begitu saya kesana ya, Pak.” ucapku lalu menuju kursi kosong di dekat wanita wanita yang sama sepertiku.

Dari tempat duduk, aku melihat seorang pria memanggil salah satu wanita di sampingku. Wanita itu berjalan ke arah mereka. Kemudian seorang pria memberikan sebuah dress kepada wanita itu.

Setelah menerima drees, wanita itu menuju ruang ganti. Setelah cukup lama di ruang ganti, wanita itu keluar.

“Astagaaa!!” batinku terhenyat saat kulihat wanita itu hanya memakai dress yang transparant. Bahkan aku dapat melihat lekuk tubuh dan putingnya yang berwarna hitam.

Gilaa!! Apakah aku nanti juga akan memakai pakaian itu. Ingin rasanya aku beranjak dan pergi dari ruangan ini. Namun seorang pria tiba tiba menghampiriku. Ia menyodorkan sebuah kertas dan pena.

“Tolong di tanda tangani kertas ini mbak.”

“Ini apa Pak?”

“Ini cuma buat data saja.”

Entah begitu bodohnya kenapa aku langsung menandatangani langsung kertas itu. Jika buat data kenapa ada materainya?

Di tempat pemotretan kulihat wanita yang memakai dress tadi berpose mengikuti instruksi photographer. Tiba tiba tirai ditutup oleh oleh wanita paruh baya.

“Sheila!”

“Iya.”

Seorang lelaki paruh baya memanggilku. Lalu memberikan sebuah dress untukku. Kulihat dress ini tidak transparant. Dress ini berwarna coklat tua.

“Jangan pakai bra yah. Oyah kenalin nama saya Robby. Nanti akan Om pandu apa yang harus kamu lakukan nanti. Kamu cantik sekali. Wajahmu bakalan laris di dunia hiburan.” ucap Robby

“Terima kasih Om.” jawabku singkat lalu menuju ruang ganti.

Setelah di ruang ganti, kutaggalkan semua pakaianku kecuali celana dalamku . Agak risih sih jika ngga make bra. Kemudian aku memakai dress.

“Ini minim bangeet.” ucapku

Kulihat diriku di pantulan kaca. Belahan dadaku terlihat. Dan bagian bawah hanya mampu menutupi separo pahaku. Aku kemudian keluar. Rasanya agak malu ketika mereka semua memandangku.

“Luar biasaaa.. hahahaha. Oke. Sekarang kamu berpose disana yah.”

“Iyaah Om.”

JEPRET JEPRET JEPRET

Aku mulai bergaya saat cahaya kilat itu mengabil gambarku. Kemudia seorang pria berkumis menghampiriku. Ia meraih tali dress lalu menurunkanya satu. Sedikit cemas rasanya karena sebelumnya aku tak pernah sevulgar ini saat berpakaian.

JEPRET JEPRET JEPREET

Kini aku bergaya di atas kursi. Tiba tiba tirai di tutup. Awalnya aku sedikit kaget. Tapi aku sedikit lega saat wanita paruh baya masuk.

“Saya Imelda. Sebentar lagi ada pemeran pembantu masuk. Kamu bersiap yah. Jadi, intinya kamu ikuti alurnya saja. Pemeran pembantu akan memberikan instruksi . Karena ini di rekam patuhi setiap instruksi agar tidak terjadi pengulangan. Paham ?” jelas

“Paham bu” jawabku

“Ini kamu minum dulu.” Bu Imelda memberikan sebotol minuman.

Aku menerima minuman itu lalu kuminum tapi tak sampai habis. Kemudian seorang pria masuk dengan hanya memakai celana dalam.

“Astaga apalagi ini !”batinku.

Sekilas kulihat pria ini cukup tampan. Badannya athlestis. Dan yang membuatk darahku berdesir adalah tonjolan besar di balik celana dalamnya. Baru pertama kali ini aku melihat keseksian seorang pria. Rambutnya cepak model kekininan. Ahh… tiba tiba vaginaku merasa gatal.

Pria itu kemudian mengahampiriku lalu berada dibelakangku. Kini kamera dipegang sendiri oleh Om Robby. Saat Om Robby mengacungkan tangannya. Tiba tiba tangan kekar pria ini memegang perutku. Aku bingung. Adegan seperti apakah ini?? Tapi tangan hangatnya seolah menghipnotisku untuk berada dalam pelukannya. Sedikit hembusan dapat kurasakan di tengkukku. Ohhh..

“Jangan nervous. Rilex aja. Tatap terus mataku.” bisik pria ini pelan.

Aku pun mengiyakan apa yang diucapkannya. Mataku terus memandang matanya. Dari arah samping pria ini mulai mendekatkan wajahnya. Tiba tiba bibirnya mengecup bibirku. Ahhmmmm… perlahan ciumannya turun ke leherku.

“Ahhh… ini nggak boleh. Sadar Sheila!” batinku

Dapat kurasakan tangannya mulai menurunkan tali dressku. Tiba tiba dress itu jatuh dan kini terpampanglah kedua payudaraku. Aku panik dengan reflek kedua tnganku menutupi payudarakutapi mataku terus memandangnya.

“Jangan panik. Percayalah Pak Robby pandai mengambil angle yang pas. Jadi jangan khawatir.”

Setelah mendengar perkataannya aku sedikit lega. Tiba tiba kepalaku pusing. Tapi aku berusaha menahannya. Aku ga boleh menyerah disini. Saat aku hendak memungut dress yang jatuh tadi, tiba tiba Om Robby mengahampiriku.

“Ga usaha di pakai. Om sudah biasa melihat wanita bugil.” ucapnya lalu meremas payudaraku

Apa apaan ini. Kenapa jadi seperti ini. Saat tangannya meremas payudaraku, aku hanya terdiam melihatnya. Padahal dalam hati kecilku ingin memberontak tapi seluruh tubuhku terasa kaku. Remasan Om Robby membuatku merasa aneh. Aku terangsang.

“Nikmati saja. Kamu pasti akan menyukainya??”

“Apa ini sebagian dari adegan?” tanyaku .

“Benar sekali nona. Coba kamu pegang ini. Dari tadi kamu penasaran kan dengan di balik celana dalamku. ?”

Kulihat pria ini mengeluarkan penisnya. Penisnya tegak berdiri dan panjang. Ah kenapa aku memandangnya
Bodoh jelas jelas aku sedang dipermaiankan. Tiba tiba tanganku dituntun untuk menyentuh penisnya. Sementara Om Robby kini mengulum putingku.Ahhh..

“Ini namanya kontol. Kontolnya Rio!” ucap pria yang bernama Rio ini sambil memegang erat tanganku.

Tidak. Aku tidak menginginan ini. Aku harus kabur..

PLEASE

AYO

KEMBALILAH SHEILAAAAAAA

PLAAAAAK

Kesadaranku kembali. Aku menampar keras Om Robby saat tangannya mencoba menuruunkan celana dalamku. Dengan reflek aku pun menendang penis Rio hingga ia jatuh tersungkur. Semoga telurnya aman. Bodoh amat kalo pecah malah untung buat gue!

“Hey apa apaan ini. Jono! Tarjo! Kejar wanita itu! Aku kecewa!!!”

DEG DEG DEG

Apakah sudah benar keputusanku ? Tubuhku bergetar hebat. Rasa takut kini menyelimutiku. Aku buka tirainya sambil memakai dress mini tadi. Dan sebuah pemandangan tabu kembali meyakinkanku bahwa tempat ini bukanlah tempat casting ! Aku berhenti.

Kulihat 2 wanita sedang digenjot. Tubuhnya naik turun sedangkan satunya digenjot dari samping. Dan dari arah depanku kulihat ada Ibu Imelda menghampiriku. Langkahnya cepat dan tiba tiba,,

BUUUUAAAAAGGGH

Sebuah tinjuan keras mengahantam pipiku hingga membuatku terjatuh tersungkur. Kepalaku pusing. Kulihat Ibu Imelda dari bawah. Wajahnya tersenyum padaku lalu ia merenatangkan kedua tanganya seperti akan menepuk nyamuk. Dan satu gerakannya mengakiri usahaku untuk kabur.

PLAAAAAAAAAAKKKKK

NGIIIIIIIIINNGGGGGGGGG

NGIIIIIIIIIINNGGGGGGGG

Kupingku seperti ada suara sirene. Dan tiba tiba semua gelap.

ASTAGAAA

Kulihat tubuhku kini telanjang. Sepintas aku terhenyat perkataan Reza.

“Kakak yakin mau jadi artis??

“Yakin pakek bangeet.”.

“Inget ya kak! Dunia entertaint itu kejam !!”

“KEJAAAAAMMM !”​

“REZAAAAA HIKSSS” teriakku.

Jono dan Tarjo kemudian memegangi tanganku. Saat melihat penis mereka yang bergantungan membuat rasa sesalku bertambah. Tubuhku dijatuhkan di lantai. Kemudian dengan kasar mereka mengulum payudaraku. Sementara Rio dengan tatapan bencinya terhadapku hanya duduk di samping ibu Imelda Kemudian tangan mereka melebarakan kakiku hingga mengangkang. Dari arah depan kulihat Om Robby sudah bertelanjang. Di belakangnya ada Ibu Imelda sedang memegang kamera.

Apakah ini ??

Om Robby semakin mendekat

Mendekat

Mendekat

Kemudian dengan sekali hentakan penis itu merobek selaput daraku.

AAAAAARRRRRRGHHHHHH

Apa ini?

Sakit

[table id=AdsKaisar /]

“Woy kak!! Melamun aja!! Sarapan sudah siap. Mandi dulu sono!”

Aku tersentak dari lamunanku setelah dikagetkan oleh suara Luna. Sekilas aku mengingat kejadian di mana Luna, adikku yang sangat manis ini digrepe-grepe oleh tangan Yudho. Dasar bandot tua cabul !

Aku tak ingin nasib adikku seperti aku. Luna memiliki otak yang lebih cerdas dariku. Dia bisa menitih karirnya lebih baik. Sebagai anak sulung yang harusnya bisa memberikan contoh yang baik untuk adik adiknya, aku merasa malu. Aku benci dengan diriku sendiri. Dan rasa penyesalan terdalamku adalah tidak mengindahkan perkataan Reza.

Setelah mandi aku menuju kamarku. Kamarku berada di antara kamar luna dan kamar mandi. Dengan handuk yang masih melilit di tubuhku aku buka lemari pakaianku. Kemeja putih dan jeans biru. Setelah memakai lengkap pakaianku, tiba tiba hapeku bergetar di atas meja rias.

DRTTTT DRTTT DRTTT

Suara itu lagi! Hashhh. Ingin rasanya aku membuang hape sialan itu. Namun tanganku malah meraihnya. Kulihat ada notife masuk di WA. Dan setelah kulihat isinya membuat darahku mendidih.

BOSS BESAR :
Sayang.. kamu jangan lupa bawa bikini yah. Nanti kita ada sedikit swimm party. Pokoknya kamu akan menyukainya. Ada tamu spesial. Dan saya harap kamu tidak mengecewakannya.

Soal bonus nanti akan saya beri lebih untukmu

Bonus?? Jika boleh memilih aku menginginkan bonus itu adalah bebas dari semua ini. Untuk apa penghasilanku yang melimpah ini jika statusku lebih dari kata seorang pelacur!!

“Kamu ngga sarapan dulu Shel?” tanya Mama padaku

” Ngga mah. Di tempat casting nanti ada catering kok.” jawabku bohong pada ibuku.

Maafkan aku mah.. anakmu ini tak pantas jadi anakmu. Selama ini aku belum menceritakan kepada siapapun tenntang pekerjaan hinaku ini. Biaralah ini menjadi rahasiaku sendiri. Aku tak ingin membebani mereka.

” Kamu itu casting melulu. Kapan lho filmnya akan tayang. Mama kan ga sabar ingin melihat kamu di layar tancap.” ucap Mama

” Bioskop Mah. Emang jaman sekarang masih ada layar tancep?? Hahahaha.” sahut Luna

“Iyakan dulu Mama sama Papa waktu pacaran nontonnya kan layar tancep. Hehehe.” jawab Mama

Papa.. kapan kamu pulang pa… Air mataku hampir tumpah saat Mama menyinggung Papa. Sebisa mungkin aku tahan. Aku tak ingin dua bidadari cantik di depanku ini melihatku bersedih.

“Ya sudah ya mah, Lun. Sheila pamit. Sudah di tunggu nih.” ucapku berpamitan kepada mereka.

Kali ini aku tak menggunakan jasa ojek online. Karena tempat yang aku tuju saat ini adalah kediaman Robby. Robby sudah menyiapkan sopir pribadi untuk menjemput para gadisnya.

“Masuk Non.”

“Iyah..”

Tak kuduga mobil jemputanku tiba tepat waktu. Aku lalu masuk ke dalam mobil. Kulihat di jok belakang sudah ada ketiga gadis cantik. Tatapan mereka berbeda denganku. Mereka sangat ceria pagi ini. Bagaimana tidak bonusnya aja senilai 5 juta. Dasar wanita wanita meterialitis !

Tak ada obrolan di dalam mobil. Karena mereka tahu aku orangnya judes. Setengah jam perjalanan mobil yang mengantarku ini tiba di kediaman Robby.

Sesampainya di rumah Robby, kita berempat langsung menuju ruang tamu. Kulihat Robby duduk di sofa empuk dengan hanya memakai piyama.

“Eh gadis gadis cantik sudah tiba. Bagaimana kabar kalian? Sehat?” tanya Robby

“Sehat Oooom..” jawab mereka bersamaan. Aku juga menjawab tapi tak bersuara. Males banget !!

Ternyata hal itu disadari oleh Robby. Pria tua itu mengahampiriku lalu menggandeng tanganku. Kemudian dia duduk kembali, dengan sekali tarikan tubuhku terjatuh duduk di pangkuannya.

“Kalian bertiga boleh langsung menuju ke kolam renang. Sebentar lagi tamu akan datang.” ucap Robby kepada mereka.

Setelah kepergian ketiga gadis itu, otomatis tinggal aku dan Robby. Tangan kananya kini berada di atas perutku. Sementara tangan kirinya membelai rambutku lalu turun menyentuh dahi, hidung, dan bibirku. Saat berhenti tepat di depan bibirku, ia memasukkan jari telunjuknya ke dalam mulutku. Aku pun dengan pasrah mengemut jarinya yang berlemak itu. Untung Robby selalu menjaga kebersihan kukunya. Kalo ngga pasti aku sudah muntah muntah.

“Pakaianmu terlalu sopan untuk seorang model.” ucap Robby

“Saya bukan model pak. Tapi pelacur!” bentakku

“Hahahaha. Benar sekali. Tapi aku ngga suka melihat sikapmu. Jika kamu masih mempertahankan sikap judesmu itu, jangan salahkan saya ya jika foto dan videomu tersebar.” ancam Robby

Apalagi ini!!! Aku bukan bonekanya. Seolah hak asasiku sebagai manusia sudah direnggut olehnya. Oke kali ini kau menang ! Kali ini ? Kapan aku pernah menang ?

“Baik Om. Aku akan akan menuruti semua keinginan anda.” ucapku lembut padanya

“Puass loe anjiing!!” umpatku dalam hati

Robby hanya teesenyum kecut melihat perubahanku. Tapi tanganya melepaskan kancing kemajaku satu persatu dari batas ke bawah. Hingga terpampanglah tank top putihku.

“Hemb. Kenapa ngga pakai langsung bikininya??” tanya Robby sambil membuang kemeja putihku.

“Tadi Om WA setelah aku sudah berpakaian lengkap. Jadi ribet Om kalo harus lepas pakai lagi. Aku bawa kok bikininya di dalam tas.” ucapku tersenyum

“Nah gitu ! Kamu terlihat sangat cantik jika tersenyum. Pertahanin itu yah sayang!” girang Robby melihat aktingku yang berhasil mengelabuinya.

Kini kemeja putih sudah terjatuh di lantai. Tangan Robby berada di bawah tanktopku lalu menariknya hingga terlepas dari tubuhku. Berikutnya kedua tangannya melingkar mencari pengait bra ku. Dengan dua kali gerakan pengait itu lepas. Lalu Robby meraih cup bra dan menariknya ke bawah.

“Kamu memang istimewa” ucap Robby.

Aku hanya bisa pasrah. Robby menatap mataku sayu. Tangan kanannya mendorong tubuhku sampai terlentang di atas sofa. Robby membungkukan badannya. Wajahnya mendekati wajahku. Dasar muka sampah!!

Wajah itu semakin dekat hingga bibirnya mengecup keningku. Sedikit rasa basah di dahiku. Ternyata Robby menggunakan lidahnya. Seperti anjing, Robby menjilatiku. Lidahnya turun ke pelipis mataku menjilati maskaraku. Nyari apaan sih ini tua bangke !! Mau ngga mau aku harus memejamkan mataku. Rasa basah itu tersasa di kelopak mataku. Bergantian kanan kiri. Kemudian mulutnya melahap hidung mancungku. Wajar jika aku terangsang. Tangannya pun tak diam, satu tanganya memilin putingku dan tangan satunya lagi menyangga tubuhnya.

Rasa ini adalah rasa yang kubenci. Pria tambun ini sangat lihai merangsang wanita. Untuk kesekian kalinya aku harus menyerah pada akal sehatku. Aku pun dengan inisiatif langsung melumat mulutnya. Aku tak tahan dibuat seperti ini. Mungkin dia sengaja agar aku lebih aktif.

Lidah Robby kini merasuk ke dalam mulutku. Aku pun membalaa pagutannya. Ahhhh… aku mendesah. Dapat kurasakan pergulatan lidahnya dari sela gigi sampai ke pangkal. Air liurnya pun menyatu dengan air liurku. Jijik? Robby sudah membuang jauh kata itu dari otakku. Ku akui dia berhasil.

Mulut Robby kini turun mili demi mili ke leherku dengan gerakan zig zag lidahnya menyapu kulit putih mulusku. Aku benar benar sudah basah . Rasa gatal dapat kurasakan di vaginaku yang masih teetup jeans panjang.

“Ahhhhh…” aku mendesah menikmati setiap cumbuan Robby. Kini payudaraku jadi sasarannya. Sambil tanganya meremas, lidahnya mengitari bulatan indah payudaraku hingga ke puting. Giginya sedikit menggigit putingku kiri kanan bergantian.

“Hmmmpph…” aku tak tahan. Padahal dia belum sama sekali menjamah tubuhku bagian bawah. Tiba tiba Robby menghentikan cumbuannya. Kulihat dia berdiri sambil matanya tak lepas menatapku. Tangannya menarik ikatan pada piyamanya. Berikutnya ia turunkan celana dalamnya. Alisnya mengernyit ke atas seolah memberi kode untuk aku melepaskan celana jeansku.

Setelah kutanggalkan celana jeansku beserta celana dalamku, aku menghampiri Robby dengan tubuh telanjangku. Ku lumat habis mulutnya. Lalu lidahku turun langsung ke penisnya. Tanpa diperintah aku langsung melumat penisnya. Dengan gerakan maju mundur sampai membuat Robby berteriak.

“FUCK!!! ENAK SAYAAAANG!!! MULUTMU JUARA!!!” racau Robby.

Entah naluri dari mana aku ternyata seliar ini. Kudorong tubuh Robby hingga terduduk di sofanya. Kemudian aku melompat mengangkanginya. Kuraih penis itu dan ku arahkan tepat di vaginaku. Tak butuh waktu lama penis itu masuk sempurna menembus lubang vaginaku.

Aku pun mulai menggoyangkan pantatku naik turun terkadang memutar. Dengan ritme yang selow namun konstan kunikmati posisi ini. Tangan Robby pun aktif meremas kedua bukit kembarku.

Ohhh ooooh oooh…

Nafasku terengah engah. Sebentar lagi aku keluar. Ahhh…. dengan cepat aku naikkan tempo goyanganku. Kunaik turunkan tubuhku.

AAAAAAHHHHHH

Tiba tiba tangan Robby membalikkan tubuhku dengan penis yang masih menancap ia menyodokku dari belakang. Tanganku bertumpu pada senderan sofa. Payudaraku bergoyang seirama genjotan Robby.

FUUUUUCKKK

Jujur rasanya nikmat sekali. Ahhhh… aku mendesah. Aaah… Ahhhh.. Ahhhhmmmmmm iyyyyyahhh iyyyyaaah… Aku meracau tak karuan. Tangan Robby meremas kencang pantatku.

SLLEP SLEEEP SLEEEP

Robby kini berganti posisi. Tanpa melepaskan penisnya kedua kakiku diangkat. Kakiku mengapit erat tubuhnya. Dan kini dengan tempo yang dipercepat Robby menghujamiku maju mundur.

Ahhhhhh ooooohh uuuuuuuhhhh

Hmmmmpppppphh

Taiii enak bangeeett. Keringatku bercucuran membasahi kulit mulusku. Cukup lelah di posisi ini, Robby kembali membaringkanku di sofa. Dengan posisi menyamping sambil mengangkat satu kakiku, penis Robby menusuk lagi vaginaku.

Ahhh.. aku tak berhenti mendesah. Tangan Robby yang satunya kutindih bisa meraih dan meremas payudaraku sedangkan yang satunya meremas pantatku. Wajahku menoleh ke arahnya kemudian ia menyambutnya dengan ciuman dibibirku. Ini adalah posisi yang aku sukai. Jujur sensasinya semua dapaet. Ahhhh.. aku tak tahan lagi. Ku pagut lidah Robby. Tanganku meremas erat sofa. Dan ..

Ahhhhhmmmmmm….. Aaaaaaaahhhhhk

Aku meraih oragasme pertamaku di hari ini. Tubuhku lemas menindih Robby. Robby hanya tersenyum melihatku. Dengan tubuh besarnya ia mengangkat tubuhku. Kini dia berdiri sambil memaju mundurkan pantatku. Kakiku melingkar dan mengapit tubuhnya. Tak lama kemudian ia mencabut penisnya.

Aku terjatuh dan duduk terkulai lemas di lantai. Robby kini mengocok penisnya ke arah wajahku. Tiba tiba cairan hangat menyembur mengenai wajahku. Robby kemudian duduk di sofanya dengan nafas lega.

“Itu vitamin lho. Coba kau rasakan.” ucap Robby

Aku pun menjulurkan lidahku memutar mengecap sperma Robby. Rasanya asin dan gurih. Gila! Kenapa aku menikmatinya ??

Setelah permainan panas itu, Robby menyuruhku untuk segera membersihkan diri. Ku bilas tubuhku di kamar mandi. Sedikit rasa kesal karena aku menikmati permainan itu. Ahhhh . .

Akankah ada pria baik yang akan menikahiku nanti ?? Harapan itu kadang terngiang di kepalaku.

Setelah membersihkan diri, aku menuju ke kolam renang dengan bikini hitamku. Di sana aku melihat ketiga gadis itu sedang berenang. Dan kulihat juga sudah ada Robby yang sedang meraih 2 gelas orange juice dari Pak Sobirin.

Aku berjalan mendekati Robby. Dari arah berlawan Pak Sobirin berjalan ke arahku. Kulihat lelaki pendek kekar ini sedang mengamati penampilanku. Aku dapat mengamati dari bola matanya.

“Non Sheila seksi dan cantik banget.” ucap Pak Sobirin saat berpas-pasan denganku. Lalu tanganya yang tak membawa nampan meremas bongkahan pantatku.

“Ahhh.. Pak Sobirin jail banget sih!” ketusku setelah mendapatkan perlakuan Pak Sobirin.

Kulihat Pak Sobirin hanya cengengesan lalu kabur masuk ke dalam rumah. Aku kembali berjalan lalu mengambil tempat duduk satu meja dengan Robby.

“Minum dulu sayang. Sebentar lagi tamu kita akan segera tiba.” ucap Robby menyodorkan segelas orange juice.

“Terima kasih.” ucapku lalu menegak orange juice pemberian Robby.

“Tadi sudah sarapan.??”

“Belum.”

“Kamu telen ini. Ini ada air putih.”

“Apa ini ?”

“Sudah minum aja.”

Aku tahu pil apa yang di berikannya padaku. Tapi mau ngga mau aku harus menelan pil itu. Apakah ini narkoba atau sejenisnya? Ah bodo amat!! Setelah meminum pil itu perasaanku menjadi lebih tenang. Ini bukan untuk pertama kalinya aku menelan pil yang serupa. Entah kenapa semangatku tumbuh. Serasa ada sensasi berbeda di dalam diriku.

Aku kemudian bangkit menuju kolam renang. Kuceburkan tubuhku di antara keruman ketiga gadis itu.

“AAAAKH! Ih Sheila main nyebur aja. Mata gue kemasukkan air nih.” protes Patricia

[table id=AdsTbet /]


Sheila
 
Regina

Patricia

Jihan

Sekilas tentang Patricia Rosaria. Wanita dengan wajah yang tak kalah cantik dariku ini nasibnya lebih parah denganku. Memiliki tubuh indah bak seorang model, membuat dirinya menjadi sasaran para penjahat kelamin. Menurut cerita dari mulut ke mulut, ia pernah diperkosa oleh Robby dkk di dalam rumahnya. Dan saat itu ada bapaknya. Bapaknya dibunuh di depan matanya. Miris banget! Dan satu lagi yang aku ketahui bahwa Patricia adalah karyawan perusahaan PT.IHH. Perusahaan yang sama dengan Reza. Bedanya Reza di Plant. Dan Patricia di kantor pusat. Untuk saat ini Patricia tak mengetahui bahwa aku adalah kakaknya Reza.

Di sebelah Patricia Rosaria ada si manis Regina Aruminingtyas. Ia hanyalah wanita binal yang materialitis. Dulu dia bekerja di salah satu minimarket. Karena kecantikannya, ia menjadi target Robby. Ia di culik saat pulang shift malam. Aku tahu berita itu dari mulut comelnya sendiri. Dan faktanya aku tak tahu.

Dan terakhir ada Jihan Marsilla. Si mungil tapi memiliki payudara yang lebih besar dariku. Ia adalah karyawan kantor pusat. Nasibnya tak jauh beda dengan Patricia. Hanya saja korbannya adalah pacarnya sendiri.

Dari mereka semua masih ada lagi wanita yang menjadi incaran si Robby. Menurut info dari anak anak. Ada seorang sekretaris yang kemarin di gangbang di gudang belakang pabrik. Aku belum tahu namanya.

Aku memandangi langit sambil berenang gaya punggung. Kulihat burung burung terbang dengan bebas. Ahh.. andaikan aku seekor burung. Damn!! Entah mengapa tubuhku terasa ringan sekali. Dari kejauhaan kulihat ada seorang lelaki paruh baya sedang berdiri dan berbincang dengan Robby. Tiba tiba di daerah selakanganku ada tangan jahil merayap. Ahhh… aku mudah sekali terangasang. Apakah ini pengaruh pil itu ya ? Setelah kutemukan ternyata itu adalah tangan jahil itu milik Jihan.

“Jihan, Patricia, Regina dan terakhir Sheila. Kalian kemari” panggil Robby kepada kami.

“Buset itu ngga ada yang jelek apah yaaah. Eh yang terakhir loe sebut bolehkan menemaniku?” ucap lelaki itu menujuk ke arahku.

“Itu siapa sih??” tanyaku lirih pada Jihan.

“Julian.” jawab Jihan

“Sheila kau ikut om itu yah.” perintah Robby

“Siap boss.” ucapku lalu melangkah keluar dari kolam dengan gaya erotis

Dapat kutangkap pandangan Julian tak berkedip ke arahku meskipun ia mencoba mengalihkan dengan sesikit berbincang dengan Robby

Aku berjalan dengan langkah gemulai mengahapiri Julian. Dengan sengaja aku goyangkan pantatku. Dan kukedipkan mataku berusaha menggodanya. Ahhh. Sebel! Aku harusnya nggak kayak gini. Entah kenapa aku menjadi sebinal ini.

“Boleh duduk, Om?? ” tanyaku dengan nada manja

“Eh… Sil.. Silahkan.” jawab Julian terbata bata. Di luar dugaannya Sheila kemudian duduk di pangkuannya. Wajah cantik itu berjarak 10 cm dari wajahnya. Dilihatnya bola mata indah memandangnya sayu.

“Lihat apa om??

“Kamu cantik banget.!”

Sementara Robby kini berada di atas matras . Matras tersebut sengaja di taruh di tepi kolam. Ada 3 gadis cantik mengelilinginya sambil berjongkok di bawahnya. Kemudian dengan saling bergantian ketiga gadis itu memberikan service oral untuk Robby.

“Ehmm.. Om mau berendam sekalian ngga ?? Kalo mau Sheila lepasin banjunya ya.” ucapku lalu melepaskan semua pakaian Julian.

“Kamu ngga sabar ya lihat ini?” ucap Julian menunujukkan alat vitalnya yang sudah ereksi sempurna.

“Wah kok udah tegang aja om. Om ikutin Sheila yaaaah.” Aku kemudian berlari meninggalkan Julian. Sampil kepalaku menoleh ke belakang memancing Julian untuk mengikutiku

BYUUUUUUUURRRRRRR

Aku meceburkan tubuhku ke a dalam kolam lalu berenang menuju ujung kolam. Di sini posisiku agak jauh dari posisi peegumulan Robby. Kulihat dari arah depanku Julian sudah menceburkan tubunya yang telanjang. Pria itu kemudian berenang gaya bebas ke arahku.

Saat hampir sampai ke arahku. Tiba tiba ia berhenti dan tubuhnya naik turun. Kulihat wajahnya panik.

“Toloooong… hmmph…” ucap Julian.

“Dasar! Apakah julian ngga bisa berenang??” batinku

“Om kenapa. Ayo Om bisaaaa..!” sorakku yang lebih tepat melecehkannya

Aku tak ingin membuatnya kecewa dan yang ada aku malah kena hukuman si Robby. Ku putuskan menyelamatkan Julian. Kuraih tanganya menuju le tepian kolam.

“Om berhutang nyawa loooh. hahaha” ucapku lalu tertawa

“Uhukk.. iyy.. iyaaah. Makasih banyak Sheila.”

“Om berjalan di tepian ini yah. Sheila tunggu di sana aja yang nggak terlalu dalam.” ucapku sambil menunjuk bagian kolam yang agak dangkal.

Kulihat Julian hanya mengangguk. Dan aku berenang kembali ke tempat yang kutunjuk tadi. Dengan gaya menyelam tak terlihat aku berubah pikiran. Dengan iseng aku berenang ke arah Julian yang sedang berjalan di tepian dalam kolam. Hemm.. bisa pedih mata ini kalo aku terlalu lama.

Kulihat bongkahan pantat yang agak keriput. Dengan iseng tangaku meraih kedua pelernya hingga membuat Julian tersentak. Nyebur lagi deh… hihihihi

“Akkkkhh…” teriak Julian

“BUAYAAA!!!” teriakku mengagetkannya lalu meraih kedua tanganya

“BU.. Bu… ay….ahh.. Sheila kamu nakal sekali.” dengus Julian.

Aku hanya tersenyum lalu menuntutnya di bagian kolam dangkal. Kulihat kakinya bisa menempel lantai. Masih menggandeng tanganya tiba tiba tangan Julian yang satunya meraih pinggangku. Lalu diangkat dan dilemparkan tubuhku yang telanjang ini ke atas.

Perasaan ini…. ohhh kenapa aku seceria ini. Apakah efeknya sedalam ini. Ahhhh.. aku terbuaii… seperti putri duyung yang dimainkan oleh pawangnya tubuhku tercebur lagi ke dalam kolam. Sejak kapan putri duyung punya pawang???

HUAHAHAHAHAHAHAH

Kudengar gelak tawa Julian. Kau pemenangnya jika di lautan dangkal, Julian! Eh.. kolam renang. Ahhh…. aku mabuk lautan. Eh mabuk asmara… ah enggaaak mabuk kontol… mana kontol… ahhh… aku menginginkanya…

Masih terhuyung oleh pikiran kacauku, aku meraih tangan Julian. Dengan senyuman gilaku kini wajahku tepat di depan wajahnya. Kurasakan tangan Julian mulai menggerayangi tubuhku. Diremasnya toketku dengan keras. Tapi aku menyukai perlakuannya. Malah aku mendesah seperti orang gila.

“Aaaah uuuuuuooooooh.. remas yang keras om” racauku tak terkendalikan.

Tanganku yang bebas lalu meraih penisnya yang tegak dan panjang. Ku gesekkan penis itu di dinding vaginaku.

“Kamu benar benar binal sayang. Tak rugi obat mahal itu aku beli demi sebuah sensasi ini. Swimming Sensation. Meski aku ngga pandai berenang tapi aku menyukai air. Apalagi air cintamu. Huahahaaha.” ucap Julian.

Aku tak mempedulikan omongannya. Yang aku inginkan saat ini hanya kepuasan. Tiba tiba mulut Julian melumat ganas bibirku. Aku yang belom siapa menerima agak kewalahan. Namun bukan Sheila namanya jika kalah dalam pergulatan lidah. Kini kumasukan lidahku menyapu gigi gerahamnya. Air liur kami menyatu. Aku terus mendesah menikmati bibir Julian. Ahhhhmmmm

Kini tangan Julian mengarahkan kontolnya tepat di lubang memekku. Ahh bahasaku semakin ngawur… ehhmmm kunikmati proses masuknya kontol ini. Penuh sesak gedhe dan pokoknya aku suka. Ahhh…. enak bangeeet..

Julian terus memompa tubuhku hingga menciptakan cipratan air. Tanganku merangkul kepalanya. Kini wajahnya tepat di kedua bukit kembarku. Lidahnya memanfaatkan momen ini. Dengan ganasnya ia menjilati bongakahan payudaraku. Eh toketku….

“AAAAAAAHHHHHHH… ENAK SAYANG CEPAT SAYAAANG” desahku

“Inikah Swimming Sensation!!!! “ batinku

“OOOOHHHH OOOOHHH OOOOOHH.. HUUUUOH” desah Julian tak mau kalah.

Bosan gaya ini Julian menurunkan tubuhku. Diraihnya tanganku lalu Julian menuntunku keluar kolam. Di depanku kulihat Robby sedang menggenjot memek Patricia dari belakang. Aku dapat mendengar desahan dahsyat Patricia. Sementara Jihan dan Regina mengulum kedua toket Patricia kiri dan kanan.

“Wah biar tambah panas mari sini gabung.” ucap Robby kepada Julian.

Julian yang masih menggandengku kemudian merebahkan tubuhku di matras. Kemudian kedua tangannya meraih pinggulku lalu kontolnya dengan cepat menusukku dari belakang. Kulihat Jihan bangkit dari matras. Kemudian ia menghampiri Julian

“Mau netek ngga ommmm.??” tanya Jihan sambil menawarkan kedua bongakahan toket yang gedhe kepada Julian.

“Mauuu banget sayang..” jawab Julian langsung menyosor kedua toket Jihan.

Ahhhhhhh oooooooh…

Aaaaaaahh

Oooohhh..

Desahan kami berirama seirama pergumulan yang indah dan penuh sensasi. Tanganku kemudian meraih bongkahan pantat Regina yang menungging sedang mengenyot payudara Patricia. Kumasukkan jariku mengobel memeknya yang sudah basah…

Aaahhhhhhh

Aaaaahhhh

Ahhhhhhhhh

Kulihat tubuh Patricia menggeliat mendapatkan orgasmenya. Tak lama kemudian aku menyusul meraih orgasmeku yang kedua. Tubuhku ambruk namun anehhnya aku belum merasa kelelahan. Justru rasa euforia masih dapat kurasakan. Ahhh.. kini Julian menarik lenganku ke belakang . Seperti koboi yang menaiki kuda ia menggenjotku dari belakang.

UUUHHHH OHHHH …

Aku sangat menikmati. Aku sangat birahi. Sepertinya pengaruh obat itulah yang membuatku seperti ini. Ahhh…. kurasakan ada yang menarik rambutku. Lalu tiba tiba sebuah kontol tepat di wajahku. Kontol ini lebih gedhe. Ah aku suka…. Punya siapa ini. ?

Aku langsung melahap kontol itu. Setelah kulihat pemiliknya adalah Pak Sobirin. Ahhh.. kenapa punya Pak Sobirin.?? Tapi kontol merupakan kontol terpanjang yang pernah aku lihat. Pak Sobirin memaju mundurkan kontolnya di mulutku.

“Ahhhh hmmmohh pppaaanjaang sekali.” ucapku terbata-bata.

Di samping kulihat Regina kini naik turun di atas tubuh Robby. Kurasakan genjotan Julian semakin cepat. Aku menduga sebentar lagi Julian akan keluar. Kedua tangannya meremas toketku lalu tiba tiba sebuah hentakan keras mengakhiri gerakan Julian . AHHHH Julian keluarin di dalem?? Bisa hamil aku nanti. Hemmmm.. tapi enak banget hangatnya. Bodo amat hamil.

Setelah Julian mencabut kontolnya, kini giliran Pak Sobirin menyergapku dari depan. Ohh.. gila !

“Mencari kesempatan juga kau tua bangke!!” batinku

Sobirin menciumi wajah, bibir, tengkuk dan tempat paling sensitivku di dekat telinga. Ahhhhmmmmm….. tanganya dengan cepat mengobel memekku.

“AAAAÀHHH… AKU MAU KELUAR LAGI.” Aku mengejang menyemprotkan air cintaku. Ternyata aku bisa squirting. Dan Pak Sobirinlah yang pertama membuatku squirting.

Sudah tiga kali aku mencapai orgasme. Namun perasaan ceria ini seakan menghapus rasa lelahku. Kini penis Pak Sobirin mulai menancap di lubang memekku. Penuh sesak dan aku sangat menyukainya.

AAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHH

OOOOOOOOHHHHH OOOOOOOOOOOOHHHH

Halaman Utama : The Best Employee

BERSAMBUNG – The Best Employee Part 04 | The Best Employee Part 04 – BERSAMBUNG

Sebelumnya ( Part 03 ) | ( Part 05 ) Selanjutnya