web hit counter

Wanita Idaman Part 9

0
363

Wanita Idaman Part 9

MENUJU PUNCAK GADIS BALI

Entah bagaimana caranya, kami sudah bergumul di ranjang. Tak ada kata apapun yang keluar dari bibir kami berdua setelah memasuki kamar tadi. Hanya ada suara pertemuan bibir, gesekan tubuh, dan suara ranjang. Di tubuh kami hanya tinggal pakaian dalam saja. Tiwi menyisakan Bra dan celana dalam, aku hanya menyisakan celana dalam. Hangat sekali. Di kamar yang entah berapa suhu AC-nya, kami saling memeluk, meraba, menciumi tubuh masing-masing, juga mendengus sekenanya. Aku merasakan perbedaan dibandingkan ketika bersama Dokter Ara. Aku tak tahu apakah Tiwi sudah memiliki pengalaman bercinta sebelumnya atau tidak, tapi ia cukup mahir. Gerakannya agresif tapi meyakinkan. Sejak pertama jatuh ke ranjang tadi, entah berapa kali kami berganti posisi, kadang aku diatas lalu ia mengambil alih kemudian aku yang menindih begitu terus berulang-ulang.

Tubuh Tiwi memang lebih kecil dari Dokter Ara jadi mungkin lebih mudah menguasainya bagiku. Bibir kami masih bertaut, air liur kami saling berpindah dari mulut satu ke lainnya. Aku tak tahu mana yg membasahi mulutku, air liurku sendiri atau miliknya. Bibirnya manis sekali. Lidahnya cukup ulet dalam menjelajah. Tangannya juga tak pernah berhenti mengeksplorasi tubuhku. Kadang di punggung, lalu menuju kepala, berikutnya main-main di dada, juga menjelajahi bokongku. Ia belum menyentuh Si Johny sama sekali. Aku yang tak mau kalah juga memainkan pola yang sama. Kami saling menggerayangi tubuh masing-masing sambil bibir kami menyatu, menikmati tiap gerakan dengan dalam.

Aku mengambil inisiatif untuk memulai lebih jauh. Kubuka penutup dadanya yang terakhir. Payudaranya kecil tapi sekal. Aku pernah baca bahwa wanita dengan payudara kecil justru nafsunya lebih besar. Sementara ini sih terbukti. Tiwi bergumul dengan nafsu yang membara. Posisiku kini dibawah, setalah bra berwarna abu-abu itu tanggal, kini waktunya aku menjelajahi payudaranya. Tanganku mendarat di posisi yang tepat. Payudaranya pas di genggamanku. Kumainkan pelan-pelan tanpa menyentuh putingnya yang sedikit merah muda. Kujelajahi terus sampai kemudian aku tak tahan sendiri, mulutku yang menyerang pertama.

“Ahhhhhhh” akhirnya suara Tiwi keluar juga.

Dengan mata terpejam, ia mulai mengeluarkan lenguhan-lenguhan. Tak kusangka, suara cemprengnya ketika berbincang berubah 180° saat bercinta seperti ini. Suaranya lembut sekali, desahannya halus.

Kujilati terus payudaranya dengan pelan, kadang sedikit cepat. Kini jariku juga sudah iku bermain. Payudara kanan kujilati, yang kiri kumainkan dengan jari-jariku. Begitu terus bergantian.

“Masssss” Tiwi mulai mengerang dan menjambak rambutku

Aku tak menghiraukan erangan dan lenguhannya. Fokusku tetap pada payudara kecil di hadapanku. Ternyata ini salah satu titik sensitifnya. Pantas saja tubuhnya meliuk-liuk tak karuan sejak kuserang pertama kali tadi.

Bosan memainkan payudaranya, aku mulai mengincar bagian lain. Kuubah posisi Tiwi menjadi tengkurap. Ia nampak protes, tapi kubiarkan. Kubelai rambutnya, lalu tangan, pelan sekali, kemudian kembali ke rambut dan turun ke punggung. Kulakukan gaya memijat ringan dan mengelus-elus tubuhnya perlahan. Bulu kuduknya nampak berdiri. Tak ada protes lagi. Tanganku terus bermain dan semakin ke bawah. Bokongnya kini jadi sasaranku. Celana dalam yang ia kenakan sengaja kubiarkan. Kupijat atau lebih tepatnya kubelai bokongnya yang sungguh mulus. Kumainkan jariku di sela-sela selangkangannya hingga ia menggelinjang.

“Massssss hmmmm,” ia nampak protes, tapi tentu saja tak kuhiraukan.

Kujatuhkan tubuhku menindihnya. Kini lidahku menjalankan tugas. Tentu pertama kali adalah bagian leher. Ia mulai melenguh, menggelinjang, dan bergerak tak teratur. Lalu turun ke bawah, punggungnya menjadi sasaran berikutnya. Tak ada cela sedikitpun di punggung tiwi. Putih, mulus, halus, dan menggairahkan. Tangan dan lidahku bekerja sama membuat Tiwi makin tak nyaman. Kini pergerakanku menuju bongkahan yang nampak tak terlalu tebal. Ia masih tertutup oleh kain segitiga berwarna abu-abu. Tanpa membukanya, aku memainkan tanganku di sana. Lembut. Kuselipkan jari-jariku di sela-sela bongkahan itu, kucari bagian yang bisa menambah kegelisahan wanita ini.

“Masss ahhh” Tiwi kembali melenguh

Ia menoleh ke belakang, menatapku dengan pandangan sayu penuh nafsu. Aku baru sadar ternyata ia begitu menggairahkan. Selama ini aku mengenalanya sebagai pribadi riang dan kocak. Berkali-kali kami bercanda saling menggoda. Ia juga tak canggung dengan laki-laki. Tapi kini, di ranjang putih dengan lampu redup, di sebuah hotel, ia sedang tengkurap hanya memakai celana dalam, melenguh karena kukerjai seluruh tubuhnya. Wajahnya sayu, penuh nafsu. Aku menikmati apa yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Siapa tahu ini yang pertama dan terakhir, aku ingin memberikan kesan yang baik.

Melanjutkan aksi, aku melepas kain terakhir di tubuh Tiwi. Ia memberikan jalan yang mudah. Dengan tubuh yang sudah telanjang bulat, aku memandang tubuhnya lagi. Seksi. Aku siap menggaulinya. Kubuka bongkahan pantat itu, kujatuhkan tangan dan wajahku disana. Waktunya mengeksplorasi.

Tiwi sedikit menunggingkan bokongnya. Ia bekerja sama dengan baik. Kukorek lubang vagina dan anusnya bergantian dengan jariku. Ia nampak kaget karena aku memainkan anusnya juga. Lidahku turut bekerja dengan menjilati garis luar vaginanya. Hangat. Lembut. Jarang sekali bulunya. Sepertinya ia tipe wanita yang tak memiliki banyak rambut vagina.

Bau vagina Tiwi beda dengan Dokter Ara. Aku tak tahu bagaimana menggambarkannya tapi milik Tiwi terasa lebih segar. Mungkin karena jam terbang juga. Tahu sendiri bagaiamana jam terbang Dokter binal itu. Vagina tiwi sudah basah dari tadi. Aku menikmati tiap jilatan dan sesekali kusedot cairan vaginanya.

“Awwww massss kamuuuh”

“Gila iniiih ohhhhh”

“Masssss aduuh”

Tiwi ternyata berisik juga. Ia mulai tak malu mengeluarkan sisi binalnya. Tangannya mencengkeram seprai kuat-kuat. Bokongnya melonjak ke atas ke bawah konstan mengikuti seranganku. Aku yang belum puas bermain di selangkangan Tiwi, terus melakukan serangan bertubi-tubi. Kujilati labia mayoranya. Kutusuk dengan jari tengah. Lalu memutari lubang itu dengan lidah. Kumainkan jariku lebih cepat. Lidahku membantu. Kusedot cairannya. Kumainkan lagi jariku. Kumainkan lidahku. Lebih cepat. Lebih cepat. Kulepas jariku. Kugosok klitorisnya. Lidahku makin liar. Makin cepat. Uhhh.

“Aaaaahhhhhhhh”

Aku tak tahan sendiri. Tiwi mengejang. Tubuhnya terlontar, menekuk. Ia berteriak sekenanya. Aku mundur. Kalau tidak, kepalaku akan ditimpanya dan aku tahu itu akan menyakitkan. Ia telungkup. Desah nafasnya jangan ditanya lagi. Aku memilih duduk. Dengan wajah belepotan cairan vagina Tiwi, Aku memandang wanita yang sedang tak berdaya di depanku. Kena juga kau, pikirku. Aku memiliki keyakinan ia akan takluk denganku setelah ini. Itu berarti akan bertambah satu lagi wanita yang bisa memenuhi hasratku.

Tiwi membalikkan badan, sambil terengah-engah, ia menatapku, menyunggingkan senyum. Kubalas serupa. Ia memberi kode untuk mendekat. Kami berpelukan.

“Barusan pengalaman yang luar biasa, Mas,” ia memujiku, aku melayang, angin jelas berpihak ke arahku sepenuhnya.

“Belum pernah?” kutanya saja sekarang.

“Sudah, tapi nggak seenak tadi hehehe,” ia berkata dengan malu-malu

Kami sama-sama mengambil jeda. Cairan vagina Tiwi yang tadi membasahi bibirku juga sudah kering tapi baunya masih membekas. Kami masih berpelukan. Aku masih mengenakan celana dalam. Dalam keheningan, Tiwi membuka perbincangan.

“Mas kok jadi gini ya?” ia bertanya sembari tersenyun

“Kayaknya kita sama-sama pengen cuma malu-malu aja, iya nggak?” kutanya padanya

“Kayaknya gitu. Ternyata kamu pinter. Udah sering ya?” Tiwi nampak penasaran dengan kemampuanku

“Kalau sering sih nggak, tapi pernah lah,” aku masih coba menyembunyikan pengalamanku. Rasanya ia tak perlu tahu kisahku dengan Dokter Ara.

“Tapi pinter gitu. Hayo ngaku kamu?” ia duduk, memelototiku.

Kudekatkan bibirku ke telinganya. Kubisikkan.

“Lumayan lah udah pernah bikin cewek squirt,” kuputuskan untuk sombong saja di depannya.

Tiwi kaget. Entah penasaran atau tak percaya ternyata pengalaman seksku sudah sampai sana. Nampaknya aku harus bersiap untuk membuktikan kemampuanku pada Tiwi.

Kami berpandangan. Tanpa dikomando, kami mencari bibir masing-masing. Ciuman panas tak terelakkan lagi. Ini jelas lebih panas dari pemanasan tadi. Mungkin pengaruh percakapan kami barusan. Ciuman Tiwi binal sekali. Lidahnya bergerak liar menyusuri seluruh bagian mulutku. Aku sedikit kewalahan. Kuimbangi dengan pergerakan tanganku di payudaranya. Ternyata ia makin menjadi jadi. Tangannya mencari-cari penisku. Sambil bibir kami tetap menyatu, ia masukkan tangannya ke celana dalamku. Dibelainya si johny dengan lembut. Wanita memang pandai kalau multitasking. Padahal kami berciuman panas sekali tapi gerakan tangannya di penisku bisa terasa lembut.

Tiwi kian tak sabar. Dilepaskannya bibirku, ia dorong tubuhku telentang. Tergesa-gesa, ia lepaskan celana dalamku. Yang terjadi berikutnya? Ia menyergap si johny tanpa babibu. Lidahnya mulai menyusuri seluruh bagian si johny, melumurinya dengan air liur, lalu dijilati dengan lembut. Tidak sebaik Dokter Ara tapi tetap menakjubkan. Pengalaman memang memegang peranan penting dalam mengukur tingkat kemahiran. Variasinya, jari-jari Tiwi ikut bekerja mengurut batang penisku. Ah. Rasanya tak bisa digambarkan.

Masih asik menikmati jilatan dan permainan tangan Tiwi, tiba-tiba si johny terasa hangat, ia seperti masuk ke dalam gua.

“Aaahhhhh Wiiiii” aku kaget, tapi keenakan

Kuluman Tiwi lumayan juga. Ia masukkan seluruh batang penisku ke mulutnya. Pintar juga ia melakukannya. Aku mulai keenakan, kujambak rambutnya, kubenamkan kepalanya.

“Wiiii ohhhhhh. Terusss lebih dalamm” selain keenakan, kupancing ia dengan kata-kata, sepertinya ia tipe yang makin binal kalau dipuji.

Benar saja, kulumannya makin tak karuan. Gerakannya cepat. Naik turun, jilat seluruh batang, hisap, jilat lagi, naik lagi, turun lagi, hisap lagi.

“Ohhhhh enak Wi terusss terusss”

Ia makin beringas. Tangannya ikut bermain. Urut, kocok, jilat, hisap, begitu terus. Bisa-bisa aku keluar dulu. Ini harus dihentikan. Kuangkat kepala Tiwi, kuserang bibirnya. Ia nampak protes tapi segera kuatasi. Jariku segera mendarat di vaginanya. Dengan posisi setengah berdiri, kami bercumbu lagi. Tanganku mulai memainkan vaginanya. Jempol mendapat bagian menghajar klitoris, sedangkan jari tengahku menyusuri kedalaman. Tiwi tersentak. Mulut kami tetap terpaut, tangan kami bermain di bawah. Kukocok terus vaginanya, 3 tusukan dangkal dan 1 tusukan dalam, jempol tetap pada posisinya. Begitu terus, konstan.

“Massss ohhhhhh massss” Tiwi setengah teriak keenakan

Ia menggigit pundakku. Tangannya sudah lepas dari si johny, ia nampak tak mampu mengendalikan kenikmatan.

“Aduuuuhhhhhh ooohhhhhhhh”

“Terusss masss lebih cepet ohhh”

“Ahhhh kok enak sihhh shhhh”

“Masss kamu belajar dimanaaa ohhhhhhhhh”

Kupercepat gerakan tanganku, Tiwi merangkul tubuhku. Vaginanya sudah banjir. Kalau sudah pernah, seharusnya Tiwi sudah squirt. Berarti ia memang belum pernah sama sekali.

“Jangan ditahan sayaaang, lepaskan, lepaskan,” aku membisikkan kata kata agar ia bisa mencapai squirtnya.

Kupercepat lagi. Kupercepat. Gerakan Tiwi makin tak teratur. Ia memeluk erat tubuhku, dicakarnya punggungku, pinggulnya meliuk-liuk.

“OOOOHHHHHHHHH MASSSSSSSSSS”

Benar. Air mengalir deras dari vaginanya. Tiwi berhasil. Aku berhasil. Gila. Butuh waktu lama untuk bisa membuat Dokter Ara squirt. Tapi baru foreplay kedua saja Tiwi sudah mendapatkannya. Aku harus menyombongkan diri sekarang.

Tiwi tergeletak. Ingin rasanya kuhajar langsung, tapi tak tega. Biarkan dia menikmati momen pertamanya mendapatkan squirt. Matanya terpejam, nafasnya ngos-ngosan. Aku memandangnya puas sekali.

Tapi tak disangka, ia bangkit. Mendorong tubuhku hingga telentang.

“Tadi enak banget mas. Tapi aku belum puas kalo belum rasain kontolmu,” ia nampak binal sekali.

Aku suka ini. Si Johny yang masih tegak memang sudah ingin masuk liangnya. Tiwi langsung mengarahkan si johny ke vaginanya. Karena sudah sangat basah, tak sulit bagi penisku masuk.

“Hmmmmmm shhhhh” Tiwi melenguh

“Uhhhhhh” aku nampaknya mulai keenakan

Tiwi langsung menggoyangkan bokongnya. Gila. Ini jelas lebih sempit dari milik Dokter Ara. Meski goyangannya tak semahir Bu Dokter tapi juga tak boleh diremehkan. Tiwi bergoyang bagai kesetanan. Naik, turun, putar, naik, turun, putar, begitu seterusnya. Tapi kian lama kian tak teratur.

Aku yang menikmati tiap goyangan Tiwi tak dapat berkonsentrasi. Kuputuskan mengerjai payudaranya. Tiwi masih terus bergerak dan bergerak. Dengan posisi woman on top, aku dapat melihat dengan jelas bagaimana Tiwi begitu menikmati permainan ini. Wajahnya binal. Matanya merem melek. Tubuhnya mulai basah oleh keringat. Ini benar benar menakjubkan.

“Massss ohhhh memekku rasanya ahhhh ohhhh” Tiwi meracau. Tak kusangka bicaranya nakal sekali kalau begini.

“Memekmu kenapa sayang? enak?” kupancing saja agar ia makin gila

“Ahhh enaak ohhhh terusss entot terus massss ohhhhh”

“Massss pokoknya kamu harus ahhhh jatah aku shhhh terusss ohhhh”

“aku mau ngentot ohhh terussss ahhhsss massss”

“Iyaaa gitu massss ohhhh”

Aku tak peduli lagi dengan ocehan Tiwi. Kubalikkan badannya. Kuposisikan ia menungging. Awalnya sedikit protes karena kelamin kami terlepas. Tapi itu tak berlangsung lama. Kuposisikan Si Johny ke liang yang sangat basah itu. Kutekan. Pelan. Pelan. Keras.

“Aaaawwwwww masssssss” Tiwi teriak, ia nampak tak siap menerima seranganku.

Kali ini kupacu Si Johny dengan kecapatan tinggi. Aku memang ingin segera mengakhiri pertempuran ini. Rasanya air mani sudah diujung ingin dikeluarkan. Tiwi lama kelamaan ikut menggoyangkan bokongnya seirama. Ia tipe wanita yang tak bisa diam kalau bercinta.

“Mas kayaaknya aaahhh aku mauuu OOOHHHHHHHB” Gila. Ia squirt lagi.

Ia lepaskan penisku. Terasa cairan deras dari vaginanya keluar seperti air terjun. Tak menunggu lama, ia masukkan lagi penisku. Kupacu lagi. Tiwi goyang lagi. Kami bertempur lagi. Hanya sekitar 2 menit, Tiwi melepaskan penisku lagi.

“MASSSSSS AAHHHHHH” ia squirt lagi.

Kami mengulanginya sampai 3 kali lagi ia mendapatkan squirt. Ranjang sudah seperti terkena hujan. Tapi kali ini hujan nikmat. Aku yang tak tahan ingin orgasme memacu lebih cepat.

“Masss pliss jangan keluarin di dalem. Di mulutku aja ohhhhh” Di tengah kenikmatan seperti ini, Tiwi ternyata masih sadar.

Aku yang kian tak tahan terus memacu. Kini tak kupedulikan apakah Tiwi squirt lagi atau tidak. Rasa-rasanya sih ada yang menyiram si johny di dalam sana.

“Wiii aku mau ohhhhhh Wiiii” aku tak tahan, kucabut penisku dari vagina Tiwi. Ternyata ia squirt lagi. Cairannya menghantam mukaku.

“AAAAHHHHHH WIIII OHHHHH” kuarahkan penisku ke mulut Tiwi. Ia menelan semuanya. Tak tersisa.

Aku yang masih terengah-engah mencoba membuka mata. Tiwi sedang menjilati sisa sisa spermaku. Ia tersenyum. Nakal sekali.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂