web hit counter

Whole Family Interlude Part 19

0
528

Whole Family Interlude Part 19

LINGKARAN HITAM

hingga pukul 8 malam lebih aku masih berada di kantor menyiapkan data yg akan kubawa kunjungan ke Makassar selama 4 hari 3 malam kedepan, tak hanya rapat dan quality control terhadap mitra namun juga kroscek data antara milik kami dengan milik mitra. ini dilakukan agar tak ada yg berusaha mempermainkan angka yang berimbas pada korupsi yang pastinya akan merugikan negara dan tentunya nama baik perusahaanku. duduk di depan komputer dengan berbaris-baris data. Tony berada diruangan sebelah terdengar bicara sangat kencang dengan menelpon beberapa orang kesana kemari. sedangkan dua model wanita, sudah pulang duluan sejak pukul 6 sore tadi. kupaham, lembur memang tidak ada di dalam rincian gaji jadi ya hak mereka kalau mau membantu atau tidak.

“bos, masih berurusan dengan data?”, tanya Tony yg tetiba membuka ruangan kerjaku.
“iya, tapi ini tinggal aku print terus ku bawa ke bos besar”, ujarku.
“hmm ada yg perlu dibantu gak?”, tanyanya kembali.
“gak, all done, mau balik sekarang?”, balasku dengan wajah yg sangat lelah dan capek.
“yoyoi, yauda aku duluan yak”, lanjutnya.
“oke, besok aku ngantor hanya sampai jam 11, soalnya lusa aku ke Makassar”, terangku.
“dengan siapa bos akhirnya?”, tanyanya dengan penasaran mengingat aku belum pernah berangkat selain dengan Tony.
“dengan elu!! haha kagak, dengan Tasya”, balasku yang sedikit kesal karena dia tidak bisa turut serta. lalu Tony berpamitan dan segera berjalan keluar ruangan departement kami. aku lantas ngeprint berkas yg aku tunjukan ke bos besar dan minta tanda tangan sebelum aku berangkat tugas, sangat penting persetujuan dari bos besar karena sebagai pertanggungjawaban dari perusahaan cabang Bali.

setelah mengambil print out dan last check. aku berjalan menuju ruangan bos besar yg bernama pak Roy, dia merupakan pimpinan tingkat atas yang sangat baik dan tidak sombong, beliau lulusan S3 dari Amerika yg lantas setelah itu jabatannya segera naik drastis hingga akhirnya menduduki kepala cabang disini, namun target dia adalah Direktur utama Indonesia. berjalan menuju ruangannya aku melewati beberapa department, yg kesemuanya masih pada lembur dan sebagian hanya ngobrol santai, aku memberinya sapa walau tak semuanya aku kenal. tiba di depan ruangan pak Roy, terdapat logo besar perusahaan terpampang di pintu kayu namun ada kaca semi transparan menuju ruangannya. sebelum benar-benar pada ruangannya, di depannya ada ruangan sekretaris, biasanya yg ingin bertemu dipersilahkan duduk menunggu sembari sang serketaris menghubunginya. sekretaris ini bernama Astrid. aku berharap beliau masih di kantor karena ku lihat lampu sekretaris dan ruangannya masih terang.

sebagai pemimpin department yg sudah biasa keluar masuk ke ruangan bos besar, aku tak perlu mengetuk, maka aku langsung masuk ke ruangan Astrid, namun terheran kenapa Astrid juga tak ada. tapi ruangan pak Roy yg tertutup kaca dengan motif debu sehingga yg dari luar tak bisa melihatnya masih terang. aku berjalan dengan mengendap-endap dan alangkah kagetnya aku mendengar desahan demi desahan yg tak kunjung usai.
“ahhh terus pak Dirut ah enak banget pak ahh beda dengan yg dirumah pak aaoohh”, desah yg terdengar, itu pasti suara Astrid.
“enak banget vaginamu oh Astrid ahhh ahh oohhh ahhh whhhh”, desah balasannya dari pak Roy yg sedang berada di dalam tubuh wanita seksi dan cantik berusia 30 tahunan itu.
samar-samar aku melihat Astrid berposisikan nungging dengan salah satu kakinya naik ke meja kerja pak Roy dan di sodoknya dari belakang. celana pak Roy yg berada di kakinya yg masih menggunakan sepatu membuatnya susah bergerak, sedangkan Astrid menaikkan rok yg sepanjang diatas lulut itu dinaikkan hingga berada di perutnya. mereka berdua bergerak maju mundur keenakan, nampaknya mereka berdua sudah sering melakukannya karena tidak ada rasa sungkan dari sekretaris pribadi pak Roy. saking serunya bercinta, mereka tidak sadar jika ada seseorang tepat berada di depan pintunya sedang nguping dan mengintip. bahkan suara daging bertabrakan sangat jelas terdengar dari dimana aku berdiri, sungguh panas dan penuh nafsu pak Roy dan Astrid bercinta.
PLOK PLOK PLOK PLOK PLOK
PLOK PLOK PLOK PLOK PLOK
“awwhh pak, tahan bentar pak, Astrid mau keluar pak ahh ahhh terus pak lebih kenceng pak”, desahnya sangat menggema hingga seluruh ruangan, pak Roy nampak menaikkan intensitas kentotannya hingga diluar batas kemampuan bagi pria yg sudah berusia 40 tahun keatas. lantas beberapa saat kemudian ledakan kedua orang yg sedang dilanda nafsu nampaknya meledak.
“AWWWHHHHH PAK ROYYYY AHHHHH ENAAK PAAAKKK OOWWWHHHH”, desah panjang Astrid yg lalu dibalas oleh pak Roy, “AWWHHH TRIIID AKU KELUARRR AHHHHH AAHHH AHHHH”, lantas keduanya menjadi lemas dan pak Roy menciumi leher Astrid dari belakang untuk beberapa saat sebelum pak Roy mencabut penisnya dari tubuh Astrid.
lalu kusaksikan pak Roy meminta Astrid untuk membuang kondom yg didalamnya ada benih cinta pak Roy.
“Trid, buang kondomnya ya”, ujar pak Roy sambil menutul-nutulkan penisnya dengan tisu dengan maksud membersihkan cairan yg tertempel di gumpalan dagingnya.
Astrid tidak membalas perkataan pak Roy, dia masih sibuk membersihkan vaginanya dengan tisu dengan ditangan kirinya memegang kondom milik pak Roy. lantas pak Roy sudah sibuk mengenakkan celananya, sedangkan Astrid menarik turun roknya dan merapikan bajunya.

dengan terburu aku duduk di sofa panjang diruangan Astrid agar tak terlihat jika aku mengintip mereka. lalu beberapa saat kemudian Astrid keluar dengan di tangan kirinya memegang tisu yg didalamnya ada kondom sambil terus merapikan pakaiannya, nampaknya dia belum sadar jika ada aku disana.
“oh…hmm..eh pak Andri, sudah lama pak?”, ujarnya terkaget sambil menyembunyikan gumpalan tisu yg dia pegangi.
“kagak, baru aja kok, bapak bisa ditemui?”, ujarku sambil menatap dia yg salah tingkah dan seperti kepergok.
“hmm bisa pak, silahkan”, lanjutnya dan aku langsung berdiri lantas masuk ke dalam ruangannya.

“pak bos”, sapaku pada pak Roy sedang duduk sambil main HP dan merokok.
“eh Dri, sini duduk, gimana?”, balasnya dengan tenang dan santai.
“anu pak, mau minta tanda tangan ini”, sambil aku menyodorkan kertas untuk di tanda tangani oleh pak Roy.
“oke, apa yg kamu dengar dan lihat buat kamu saja ya”, balasnya sambil membaca kertasku.
“ahaha santai aja pak, gak usah khawatir”, balasku.
“aku tau hahaa, gila memeknya Astrid enak banget, eh dia keluar kan?”, ujarnya sambil bercanda.
“haha iyalah bos, masih muda gitu”, balasku sambil melihat belakang memastikan Astrid sudah keluar, sebenarnya dia hampir seusia denganku, namun pendidikan dia yg rendah memaksa tidak bisa berpangkat tinggi.
“haha maklum Dri, istri jauh di Jakarta, kalau istri kan ngentot buat bikin anak, kalau yg tadi kan buat mengeluarkan beratnya pikiran hahahaha”, terangnya sambil menarik nafas menghirup rokoknya, “elu suka golf gak? ayo main golf, sama direktur keuangan dan pejabat yg lain juga, ntar seru juga hiburannya haha”, lanjutnya. memang aku pernah mendengar pemenang pertandingan mendapat cewek throphy yg cantik dan seksi untuk dikencani, tak main-main sekelas model atau wanita majalah dewasa di sewa untuk dijadikan throphy.
“hmm bisa main sih pak, tapi bolehlah kapan-kapan”, balasku.
“eh kamu berangkat ke Makassar kapan?”, tanya pak Roy.
“lusa pak”, balasku santai.
“sama siapa?”, lanjutnya.
“Tasya pak”, balasku.
“wih manteb tuh badannya Tasya, seperti model haha, diajak golf aja kapan-kapan haha”, canda pak Roy, “haha maklum jauh dari belaian istri jadinya gak mau dikontrol nih hahha”, lanjutnya sambil ngakak.
“ahhaha jangan lah pak, jangan rekan sendiri haha”, terangku, “saya pamit dulu pak”, pamitku pada pak Roy yg lalu memberikan kertas setelah di tanda tangani dan aku berjalan keluar pintunya.

saat tiba di ruangan Astrid, dia sudah rapi menggunakan jaket dan kain penutup pahanya.
“pulang, mbak Astrid?”, tanyaku pada dia yg masih malu karena kepergok.
“iya, bapak”, balasnya.
“mau naik motor yah kok pakai jaket gitu”, tanyaku penasaran.
“tidak pak, naik taksi”, balasnya.
“hmm bareng aku aja gimana?”, aku menawari Astrid untuk pulang denganku, kasihan dia pulang malam dan harus naik taksi.
“tidak usah bapak, terimakasih”, balasnya yg lantas aku berjalan menuju ruanganku setelah memberi sapa pada Astrid, dia berjalan keluar dan aku harus mengambil tasku terlebih dahulu.

aku sudah berada pada mobilku dan berjalan menuju keluar, namun aku lihat Astrid masih berdiri di depan gerbang kantor menunggu taksi lewat. bagi seorang wanita cantik berperawakan berisi dan seksi serta wajah cantik mudah jadi sasaran seseorang ingin melakukan hal jahat padanya, tak ada salahnya aku menawari dia untuk mengantarnya sampai rumah dengan selamat.
“mbak Astrid, ayo aku antar”, teriakku dari dalam mobil sambil membuka jendela penumpang.
“saya nunggu taksi aja bapak”, balasnya.
“ayo gapapa, sudah hampir jam 9 lho!”, balasku.
lalu dia meraih handle pembuka pintu dan masuk. dia duduk yg lalu memasang seatbealt.
“tinggalmu di daerah mana?”, tanyaku pada dia.
“daerah sana pak, 25 menit dari kantor, apakah sejalan dengan rumah bapak?”, tanya dia kembali.
“iya hampir sejalan kok”, balasku dengan singkat.
lalu keheningan terjadi karena dia merasa awkward denganku setelah kejadian tadi yg kepergok denganku, namun nampaknya bos besar juga sudah pulang, karena saat aku keluar mobil boss sudah tidak ada.
“pak, saya mohon yg bapak lihat tadi jangan diceritakan ke siapa-siapa, saya malu pak, saya punya suami dan anak”, terangnya yg sebenarnya aku hanya diam saja sejak tadi tidak membahas itu.
“haha santai aja sih, mbak, wong ya saya paham, santai lah denganku”, balasku dengan canda.
“iya pak, terimakasih”, lanjutnya.
“hmmm nampaknya banyak ya yg affair begitu”, tanyaku pada Astrid.
“hm banyak pak, pak Direktur Keuangan juga seperti itu, hmm pak Romi, pak Basri dan pak Tony, banyak kok pak”, balasnya yg membuatku kaget saat menyebut nama Tony.
“haah Tony juga, Tony operasional?”, tanyaku dengan nada sedikit meninggi.
“iya pak, pak Tony ada affair dengan bu Shelly dari Marketing”, terangnya, Shelly, wanita yg di department pemasaran, memiliki body hampir sama seperti Astrid yg tebal dan semok, aku tak menyangka Tony melakukan ini dan tidak menceritakanku, dia harus aku sidang.
“wow, aku gak nyangka hahaha”, tawaku menyadari bahwa mayoritas memiliki affair di dalam kantor, memang banyak yg LDR karena lokasi yg jauh dari keluarga dan hanya untuk beberapa tahun saja, jadi gak worth it membawa keluarga, terutama yg memiliki anak sudah agak besar, sudah seperti bedol desa.
“iya pak, sudah biasa sih, tapi kalau kepergok ya malu hehe”, balasnya.
aku mengantar Astrid hingga selamat, tak ada niatan untuk meminta jatah padanya atau mengancam jika tidak mau menyetubuhiku maka akan aku sebar hubungan mereka. aku tak sekejam itu pada bawahan, lagipula aku sudah diberi kenikmatan selain dari istriku yaitu kegiatan tukar guling. aku yakin banyak yg menginginkankan ikut sepertiku, namun apadaya jika tak ada jalan menuju kesana. setelah Astrid turun dan berjalan memasuki rumahnya. aku jadi berpikir, aku hanya tinggal satu langkah memasuki lingkaran hitam yg ada di dalam kantor, jika aku mengiyakan ajakan pak Roy bermain golf, atau jika Tony jujur padaku terkait affairnya, pasti aku juga ikut ingin melakukan yg sama pada rekan kerjaku dikantor. kini kupacu mobilku untuk kembali kerumah dan bertemu dengan anak istriku yg kurindukan selama seharian dikantor.

keesokan harinya, aku datang ke kantor hanya untuk setengah hari, mengingat esoknya aku berangkat ke Makassar. rencana hari ini hanya untuk check data apa saja yg akan aku bawa, jika berangkat bersama Tony, itu pekerjaannya. namun aku berangkat dengan orang yg relatif baru pada penugasan kali ini, maka aku harus memberi contoh padanya. berkas demi berkas aku kumpulkan ke dalam paper folder yg lalu aku masukkan ke dalam tas agar tak terlupa.

*
tiba di Makassar

setibanya di bandara Makassar, aku dan Tasya langsung di jemput oleh jajaran staff perusahaan yg akan aku kunjungi. karena aku menumpangi pesawat pagi dari Denpasar, maka masih pagi pula aku tiba disana, sehingga aku langsung memutuskan untuk ke kantor agar pekerjaan segera selesai dan mereka bisa melanjutkan aktifitasnya kembali layaknya. aku menyadari, perusahaan yg akan dikunjungi oleh mitranya pasti berusaha bersolek agar terlihat flawless, namun data dan kenyataan tidak bisa disembunyikan.

rapat dan diskusi berlangsung cukup panas dan lama, layaknya pegawai baru, Tasya hanya mendampingiku dan menyiapkan data yg akan aku tanyakan pada mereka. berbeda dengan Tony yg ikut nimbrung dan kritis, ya gimanapun tiap individu memiliki karakter yg berbeda-beda, maka aku harus bisa maklum. walau wajahku dan badanku sudah nampak lelah, namun berbeda dengan Tasya yg masih terlihat segar dengan pakaian yg jauh lebih sopan dibanding di kantor yg seringnya menggunakan rok span diatas lutut, kali ini dia menggunakan celana panjang dan blouse.
“bapak-bapak, mengingat ini sudah jam 5, nampaknya kita semua sudah dalam keadaan lelah dan nanti ngecek data malah ada selisih kan kacau, kita akhiri aja hari ini, lanjut lagi besok jam 9 ya”, ujarku disela-sela diskusi yg sudah nampak demotivasi.
“baik bapak”, ujar mereka dengan perasaan lega, lantas aku berdiri dan memberi salam pada mereka satu per satu dengan ramah dan penuh canda. salah satu staff yg kuketahui bernama Denny mendekatiku.
“bapak, untuk makan malam berkenan nanti kami antar”, ujarnya.
“hmm gini aja, ini kan sudah lelah semua, saya makan di hotel saja, besok malam saja gimana”, balasku.
“baik bapak kalau begitu”, ujarnya.
lalu kami diantar oleh mereka ke hotel yg menurutku sangat mewah, berbeda dengan hotel yg aku gunakan dengan teman Bella. mereka sedang mengurus kamar untuk aku dan Tasya.
“untuk bapak Andri, ini kamar bapak di 508, dan ibu Tasya di kamar 505”, ujar pria yg bernama Denny berperawakan gempal dan kepalanya sudah mulai membotak.

lantas mereka berpamitan sedangkan aku dan Tasya berjalan menaiki lift untuk menuju kamar masing-masing.
“gimana, capek tidak?”, tanyaku pada dia yg berdiri sambil sedikit tersenyum.
“enggak bapak, seru kok malahan, maaf pak saya belum banyak bicara tadi”, balasnya.
“gapapa mbak, nanti lama kelamaan juga bakal bisa kritis”, lanjutku.
TING, suara lift yg menunjukkan jika kita sudah tiba di lantai 5. lalu kami berdua berjalan menuju kamar masing-masing.
“mbak, nanti makan malam ya di resto, jam setengah 8, saya samperin ya”, ujarku.
“baik bapak”, balasnya singkat sambil masuk ke dalam kamarnya.
aku istrirahat sejenak, merebahkan badanku di atas kasur, dan tentunya melepas semua pakaianku yg hanya tersisa celana dalam, rasanya segar kulit ini terkena hembusan angin AC yg sejak pagi tadi tertutup oleh pakaian. kurang lebih 30 menit aku istirahat, sebelum berjalan ke kamar mandi untuk kembali merechange badanku agar kembali fit.

usai selesai mandi dan semuanya aku melihat jam tanganku, sudah menunjukkan pukul 7.31, aku langsung keluar, tak lupa membawa kunciku dan menutupnya.
KNOCK KNOCK KNOCK, aku mengetuk kamar pintu 505 milik Tasya.
“pak Andri?”, dari dalam terdengar suaranya.
“iya”, balasku.
lalu Tasya membuka pintunya dia sedang mengeringkan rambut panjangnya, namun dia sudah menggunakan celana jeans ketat yg membentuk indah kakinya serta kaos sedikit longgar. lalu aku menunggu sejenak sambil menyaksikan Tasya sibuk mengambil HP dan kunci kamarnya. lantas kami berdua berjalan ke resto, dan memesan makanan sesuai dengan selera masing-masing, aku memesan nasi goreng dan Tasya memesan Chicken Gordon Blue, atau apa itu entah namanya, yg jelas aneh. nampaknya rasa sungkan masih begitu lekat pada dirinya, dilihat dari cara makannya yg masih sangat sopan dan rapi.
“kamu masih sungkan-sungkan gitu ya?”, sindirku padanya.
“enggak bapak, kenapa ya”, balasnya.
“haha itu makan masih rapi dan duduknya seperti gak nyaman”, balasku.
“haha maklum bapak, masih anak kemarin sore”, lanjutnya.
“hha sante aja denganku, gak usah manggil bapak, pak atau mas juga gapapa”, terangku.
lalu kami berdua ngobrol untuk sekedar mencairkan suasana dan dia sudah mulai bisa santai denganku.
“kamu sudah ijin suamimu kan haha eh kerja dimana dia?”, tanyaku santai.
“sudah pak, dia kerja di tambang”, balasnya.
“wah ditinggal dong haha”, lanjutku.
“haha sudah biasa pak, tugas 8 minggu, balik 2 minggu”, terangnya, “baru saja balik ke proyek beberapa hari yg lalu”, balasnya.
“oooo, sering kering dong ya haha”, candaku.
“kering apa ya pak hahaha, bisa aja ini pak Andri”, balasnya bercanda.
“nah, gitu dong, gak usah sungkan hahaha”, ujarku, “kalau ditinggal gini anak dengan siapa?”, tanyaku.
“anak dengan saudara pak, yg sama tinggal di Bali juga, kadang kalau suami pulang juga sering dititipin disana hehehe”, terangnya.
“karena kalian berdua bikin gaduh ya kasian anaknya ya haha”, balasku sambil tertawa.
“nah itu tau pak”, balasnya.
dia sungguh anggun jika sudah mulai santai dan tidak lagi sungkan seperti biasanya, aku bisa membayangkan yg ada di dalam tubuhnya, bentuknya hampir mirip milik Gladis, hanya saja dia lebih putih dan muda.

tak terasa hampir satu jam di resto ini, mejaku sudah bersih setelah tiap piring yg kosong diambil oleh para pelayannya, sehingga rasanya tak enak jika masih ngobrol sedangkan meja sangat kosong tanpa ada piring di depannya. maka aku memutuskan untuk kembali ke kamarku dan istirahat.
“yuk, balik kamar, mau mampir ke kamarku, sambil ngobrol, lagian ini masih jam segini?”, tanyaku pada Tasya, “kalau mau, kita pesan minum untuk biar diantar ke kamar”, lanjutku dan Tasya nampaknya masih sedikit berpikir.
“hmmmm boleh pak…..”, balasnya. lalu aku memanggil pelayan untuk memesan kopi agar diantarkan ke kamarku.
lantas kami berdua berjalan menuju kamarku, aku persilahkannya dia masuk ke dalam kamarku.
“wow lebih besar ini pak, ada sofanya juga”, ujar Tasya.
lalu dia menaruh pantatnya yg bulat walau badannya ramping di sofa itu, sedangkan aku duduk sofa sebelahnya.

akankah Andri akan terjun ke lingkaran hitam dimana para staff tingkat tingginya memiliki affair dengan rekan kerja, seperti pak Roy yg memiliki affair dengan Astrid maupun Tony yg belum tentu dengan kebenarannya.

-BERSAMBUNG-

Hallo Bosku, Disini Admin KisahMalah
Agar Admin Semakin Semangat Update Cerita Cerita Seru Seterusnya, Bantu Klik Iklan yang Ngambang ya.
Atau Gambar Dibawah INI

Atau Bagi Kamu yang suka bermain game Poker Online atau Gambling Online lainnya, bisa di coba daftarkan ya. Banyak Bonus dan Hadiahnya Loh.
Untuk yang Kesulitan Daftar bisa Hub Admin di WA untuk di bantu Daftar.
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂