web hit counter

Whole Family Interlude Part 31

0
512

Whole Family Interlude Part 31

TEORI DAUN TEH

(POV ANDRI)

aku berdiri di depan pintu kamar mandi, bisa melihat seisi ruangan kamarku.. dengan rasa sedikit sempoyongan efek dari alkohol tadi, aku membuka mulutku untuk berbicara.
“hmm maaf, ini kamar saya, anda siapa ya?”, tanyaku.
“eh mas, saya mendapat kamar ini”, balas wanita muda yg duduk di kasur bersandar pada sandaran kasur kamar hotel ini.
“wait, mana mungkin hotel sekelas ini memberi kunci yg sama, dari resiptionis ya dapatnya”, aku sedikit emosi karena yg di dalam pikiranku hanyalah kasur dan ingin berbaring, lantas aku dihadapkan situasi dengan ada orang lain di dalam kamarku.
“enggak mas, dari bu Shelly”, balas wanita yg kutafsir masih sangat muda itu.
“haah..”, ucapku singkat. lalu aku sibuk mengeluarkan HPku dan menghubungi bu Shelly, setelah beberapa saat akhirnya aku bisa terhubung dengan bu Shelly dan dia katanya akan ke kamarku menyelesaikan masalah ini.

setelah 1 menit, tibalah bu Shelly masih mengenakan pakaian yg tadi menggunakan jeans ketat berwarna putih yg membuat pantat semoknya menonjol kebelakang dan kemeja sedikit ketat. lantas aku dan bu Shelly berbicara diluar kamar.
“bu, kok ada wanita itu siapa, katanya dari bu Shelly”, tanyaku dengan sedikit bernada tinggi.
“itu ‘selimut’ bapak, kalau bapak belum paham”, balas dia sambil sedikit memberi kode dan aku langsung paham dengan kode itu.
“lho, aku gak minta bu”, protesku.
“bukan pak, itu dari pak Roy, memang itu sudah biasa, gapapa pak, kalau bapak menyuruh dia pulang, saya yg dimarahi pak, kalau bapak tidak berkenan ya saya minta maaf, tapi itu perintah dari boss, bapak bisa tidak ngapa-ngapain, langsung tidur, ya hitung-hitung menghargai perasaan pak Roy”, terang bu Shelly.
“hmm oke deh”, aku sudah lelah.
“dia masih kinyis-kinyis lho pak hihi”, canda bu Shelly yg mengetahui aku sudah melunak.
“haha aku pilih yg seperti bu Shelly aja”, balasku canda, yg berjalan masuk ke dalam kamar dan menutupnya setelah bu Shelly memutar badannya kembali ke kamarnya.

lalu aku berjalan ke arah kasur.
“maaf ya, tadi saya defensif, saya kira siapa gitu”, ujarku sambil menaruh seluruh bawaanku ke meja samping TV.
“maaf, ini mas Andri kan yah”, ujar wanita itu.
“iya, dan kamu?”, tanyaku.
“saya Dinda, mas”, balas wanita yg menggunakan jeans ketat dan baju ketat itu, serta highheels yg gemerlap.
“kok bisa sampai sini kalau boleh saya tau, dan nampaknya kamu masih muda banget yah”, tanyaku pada Della.
“iya mas hehe, diajak temen, hmm hihi iya, masih muda banget kok, tapi udah legal hihi hmm aku masih 17 tahun”, terang wanita yg berambut panjang cantik itu.
lalu aku duduk di ujung kasur itu, aku sekarang paham, katanya setelah golf ada hadiah yg menyenangkan, ya mungkin ini yg dimaksud oleh teman-temanku di kantor. tapi katanya juga tak hanya golf, bisa olahraga yg lain juga tergantung keinginan si boss.
“masih sangat muda yah”, balasku sambil bercanda.

lantas aku berjalan ke kamar mandi untuk sedekar cuci-cuci setelah berada diluar ruangan, efek dari alkohol masih berada di dalam tubuhku, aku memandang wajah dan mataku cenderung nampak merah akibat alkohol yg belum larut, badan terasa panas. aku serba salah, jika aku menyuruhnya pindah, pasti Dinda akan cerita dan jika pak Roy mendengar pasti aku bisa dihabisi olehnya. aku masih tetap mengenakan celana jeans dan baju poloku seperti biasa, aku tak ingin membuatnya beranggapan aku siap bercinta.

aku melangkahkan kaki keluar dan bingung mau menaruh badanku dimana, yg jelas wanita itu berada di ujung kanan tempat tidur.
“capek yah mas seharian golf”, ujarnya memecah keheningan, aku heran cewek secantik ini dapat dari mana.
“haha iya, mayan ngantuk nih”, ujarku.
“hehe baiklah, hmm aku sebaiknya pakai heels saat tidur atau enggak?”, tanyanya dan membuatku berpikir, yakali masa tidur pakai heels.
“hmm dilepas aja heelsnya”, balasku singkat sambil terkadang curi-curi pandang dengan tingkah Dinda.
“heelsnya doang atau yg lain juga”, lanjutnya bertanya. yg jelas ini mulai menggoda untuk melakukan macam-macam.
“hmm heelsnya aja haha”, balasku.
lalu Dinda sibuk melepas heelsnya dan bangkit untuk membuat suasana kamar menjadi super remang dengan dia mematikan beberapa lampu kamar.

lantas dia kembali membaringkan badan, kali ini dia mulai mepet-mepet aku, memintaku untuk memeluknya. badannya yg memel dan semok ini sungguh menggoda, namun dilain sisi aku masih berusaha menjaga nafsuku, tapi alkohol dibadanku membuat dalam diri menjadi panas.
aku hanya defensif dan diam, namun Dinda sangat berusaha menggodaku, dia beberapa kali mencium leherku, namun aku tak berkutik. beberapa saat aku mendiamkan dia dengan melakukan itu.
“mas..mas Andri gak mau melakukan ini yah”, ujarnya saat mulai putus asa karena aku tak merespon cumbuan dia sama sekali.
“hmm bukan begitu, aku punya istri dan anak..”, balasku singkat.
namun serangan Dinda ke leherku tetap kembali dia lancarkan.
“gapapa mas, sekali aja..”, rayu dia sambil tangan kanannya meraba dadaku. apakah aku kuat menahan wanita secantik dan semuda dia yg sudah horny dihadapanku. dia memintaku untuk menikmati tubuhnya sekali aja, “aku udah jauh-jauh kesini hanya untuk menemani mas Andri”, lanjutnya.
“lho kamu asalnya dari mana”, tanyaku penasaran.
“Bandung mas, udah pernah kesana?” tanya dia.
“sudah dulu”, balasku singkat sambil melihat dia.
“tapi belum pernah sama cewek Bandung kan”, rayu dia kembali. tangan dan badan dia tak lepas dari terus memberi stimuli kepada badanku, yg membuat semakin panas dingin, aku membayangkan wanita berusia 17 tahun pasti memeknya renyah banget.

saat aku sudah mulai melunak, Dinda menurunkan tangannya mengarahkan pada celanaku, tanpa persetujuanku, dia berpindah posisi diantara kakiku.
“nah, gitu dong mas ganteng, kita nikmati malam ini bersama, hanya aku dan kamu..”, ujar dia dengan berani melepas dan menarik kedua celana yg menempel di tubuhku, “woohhh ohhh woooow”, dia terkaget saat mengetahui ukuran pusakaku yg tak normal itu, “gede banget”, singkat dia.
aku hanya tersenyum melihat tingkah dia.
“nah gitu dong mas, senyum, yaampun kamu ganteng banget kalau pas senyum”, puji dia sambil mendekat kembali pada wajahku.
“smoooooccccchhhhhhh smoooocchhh smoocchhh smoocchh”, bibir kami bersentuhan, rasanya seperti tersetrum, aku belum pernah membayangkan bercinta dengan yg muda seperti Dinda. tangan kanan dia sambil memberikan kocokan pada penisku yg sekarang sudah sangat tegang dan menunjukkan otot gagahnya.
bibir tipisnya menyentuh bibirku membuat semua badan terasa seperti terpengaruh ekstasi, membuat ketagihan dan ingin segera memulai. permainan lidahnya juga sungguh lihai mengingat usianya yg masih sangat muda. “sshh smoochh smoochh owwhh sehhh smooocchh srrupphh”. setelah cukup puas dengan ciuman layaknya sepasang kekasih ini, dia menurunkan badannya untuk kembali berurusan dengan penisku.

“kok bisa gede banget sih sayang?”, tanya dia yg sudah berani memanggil sayang.
“haha ya dinikmati dong”, balasku.
“pasti dong..”, balasnya sambil memasukkan penisku kedalam mulutnya.
“awwhhhhhhhhh”, desah pendekku, dengan sangat perlahan dan intim dia memainkan penisku di dalam mulutnya. aku menyaksikan penisku hanya mampu masuk separuh ke dalam mulut cewek muda itu.
“sluuuurp sluuurrp sluuuurp sluurrrpp”
“sluueehhhpp ahhh sluurrpp sluurrpppp”
tangan mungilnya memberi kocokan yg sangat erat dan mantab, sungguh enak sekali. aku menendang-nendang celanaku agar terlepas sempurna, aku melebarkan kedua kakiku dan Dinda memposisikan diri nungging diantaranya.
“aaaooohhhh fuccck enak banget sih seponganmu ahhhhhh”, ujarku sambil membelai rambutnya.
“hihi enak ya sayang, tadi aja nolak hihi”, genitnya wanita itu yg sibuk kembali memberi sepongan dahsyatnya.
“sluuurrp sluuurrp sluuurrp sluuurrrp”
beberapa kali wanita itu berusaha deepthroat namun nampaknya ia begitu kesulitan, lipstik merahnya sudah mulai hilang, makeup bercampur keringat sudah entah tak tau bentuknya namun masih memancarkan kecantikannya.
“sayang, mau gantian gak?”, tanya dia dengan lembut setelah cukup lama diantara kakiku.
“jilatin kamu?”, tanyaku.
“iya, tapi kalau gak mau langsung kentot aja gapapa”, lanjutnya.
“boleh..”, balasku singkat.

lalu aku melepas atasanku sendiri dan akhirnya aku telanjang bulat. Dinda berbading, aku melepas celana jeans ketatnya, dengan sedikit memaksa aku tarik hingga akhirnya terlepas semua, berikut juga dengan atasannya. akhirnya menyisakan hanya BH dan celana dalamnya berwarna coklat muda.
“sayang, aku boleh request gak, fotoin aku dong lagi megang penismu di dekat wajahku, soalnya gede banget, aku suka”, mintanya.
“hmm pakai HPmu yah”, balasku.
lalu aku berdiri di kasur, dan Dinda berpose di dekat penisku sambil bergaya layaknya sedang nyepong. aku mengambil setidaknya 10x pose, dia sungguh cantik.
“aaaaa bagus fotonya, thankyou sayang”, ujar dia excited.

lanjutnya dia kembali berbaring, pertama kulepas BHnya, payudara yg masih kencang dan warnanya putih flawless, aku melahapnya sejenak. aku gak sabar untuk membuka dibalik celana dalamnya. kutarik dengan perlahan..
“oh my gad”, ujarku dalam hati, vaginanya bersih tanpa bulu, masih berwarna pink, lipatannya masih rapi hanya membentuk garis, baunya wangi khas vagina, dan Dinda hanya tersenyum melihat kekagumanku pada liang surgawinya.
“kalau udah gak tahan, langsung aja sayang gapapa”, ujar dia. namun, aku ingin menikmati memeknya menggunakan lidah dan jariku terlebih dahulu.
tanpa berkata apa-apa, aku langsung membenamkan kepalaku di antara kakinya. lidahku menjulur menjilati memek indahnya tanpa ampun. Dinda mendesah keenakan layaknya Dewi Perssik sedang mendesah.
“awwrrghhh awerrgghh awwrrrghhh awrrrggghhh”
“oohhhh awwrrghhh orrgghhh orrghhh yaahh awwrrghh”
“eehhmmm yaahhhhooeerrrghhhh awwhhhh awwhhh”
desahan dia tiada henti, lidahku terus memainkan klitorisnya dengan aku buka dengan kedua jariku, karena masih sangat rapet. hingga aku berpikir wanita secantik dia kenapa terjun melakukan beginian.
“ohh sayang, aku mau aahhh oohhh sayang ayoo yangg disitu yang ahh lebih kenceng yang ahh oohh please ahhh”, dia semakin tak jelas.
permainanku semakin intens, kepalaku sudah dipegangi oleh Dinda, nampaknya dia semakin dekat.
“oohhh yeeshhh oaahhh sekali lagi ahhh aoohhh aoohhh ahhhh AWWRRGG AWGGGGHH AWOOOHHH AWERRGGGHHHH AHHHH”, desah kencang dia diiringi dengan tegangan tubuh semakin kencang dan klejotan layaknya cacing yg kepanasan, dia sungguh terbang keenakan, dia lantas melemas dan mendorong wajahku menjauh dari memeknya.
“aaarrgghhhh biasanya aku yg memberi orgasme, ini malah dikasih awwhh malu, mana baru di jilat memek awwwwhhhhhh”, gerutu dia sambil menatapku.
“haha enak kan yah, masih ada lagi lho nanti”, lanjutku.
“bentar, istirahat dulu sayang, sini peluk Dinda”, mintanya yg lalu aku menjatuhkan badanku kedalam pelukannya.

lidahku sudah cukup lelah memainkan klitorisnya yg hanya menghasilkan sekali orgasme, mungkin aku akan menyerangnya menggunakan jariku. Dinda masih pada posisi terbaring. tanpa berkata apa-apa, aku langsung memasukkan satu jari terlebih dahulu pada memek yg sudah banjir itu, dan rasanya sempit sekali.
“awwhhhhh yanggg ahhhh, kenapa pakai jari, masih mau foreplay yah, udah lama lho ini”, ujarnya, namun tak menghiraukannya. aku berusaha memasukkan jariku yg kedua namun Dinda mendesah begitu keras dan mengenggam pergelangan tanganku yg berarti enggan untuk dimasukkan. akhirnya aku harus memainkan dengan satu jari. seperti biasa aku menggunakan teknik yg biasa aku lakukan pada wanita yg tidur bersamaku.
“awwhhh owwwhhh awwhhh awwhhh ahhh”
“awwhhh ooohhh awhhmmm awhhh ooawhhhh”
Dinda hanya mendesah dan mendesah tiada henti. aku terus melakukan kobelan pada memek indahnya, Dinda hanya memejamkan mata dan menikmati moment kita berdua.
“awwhhh enaaak awwhhh aku gak pernah diginiin awwhh”
cairan vaginanya sudah membuat banjir pada jariku, kobelanku sudah cukup cepat, aku ingin dia segera squirt dan lanjut pada sesi berikutnya, aku tak sabar untuk membuatnya orgasme lagi.
“awwhhhh awooohhh awwhhh yaampuun awwhhh aooohhh”
aku fokus pada satu titik pada dinding rahimnya, aku menatap Dinda, wajahnya super sange keenakan dan menjadikan dia 2x lebih cantik, puting susunya mengencang, dia super horny.
akhirnya tak lama kemudian, tonjolan pada dinding rahim itu mulai terasa, aku tekan dengan perlahan daerah pertahanan Dinda, dia semakin klejotan gak jelas.
“AWWHHH SAYANGG AWHHH AOOOHHH AWHHH YESS AWHHHH ADA YG MAU KELUAR MAS SAYANG ASSSHHH”, desahan dia yg semakin menjadi, dan beberapa saat kemudian pancuran air beningpun keluar, CREEET CREEET CREEET CREEEET.
“ooohhh sayanggg ahh ahhh ohhh ahhh”, dia kelelahan dan melihat sendiri vaginanya mengeluarkan cairan bening tadi, dia merasa malu dan langsung bangkit dan menuju kamar mandi.
aku hanya terbaring melihat bekas pertarungan, kasur yg basah dan sprei kemana-mana. cukup lama mungkin 4 menit Dinda berada di dalam kamar mandi dengan adanya suara gemercik air, mungkin dia membersihkan vaginanya.

“Dinda, kamu abis ngapain?”, sapaku sesaat dia keluar yg tertutup handuk.
“kamu jahat sayang, kamu buat aku orgasme, bahkan sampe yg kedua tadi, yaampun aku pernah sekali orgasme itu pas masturbasi, dan enak banget, gak berharap dapetin itu dari tamu cowok, eh malah dapet dari kamu”, terangnya yg lantas duduk di kasur, nampaknya dia sibuk menggunakan heelsnya yg tinggi, “mau lanjut ngeseks?”, tanya dia padaku dengan tampang genit.
“kamu gak capek?”, tanyaku.
tanpa basa basi dia langsung menimpa badanku, handuknya juga turut dia lepas, dan highheels tingginya sudah melekat pada kakinya membuat dia semakin seksi. beberapa kali kami kembali bercumbu.
“sayang, pakai kondom yah hehe lupa”, ajak dia.
“oke, tapi aku gak bawa”, ujarku.
“aku bawa kok”, balasnya yg lalu bangkit mengambil bungkusan kondom dari dalam tasnya, saat dia berjalan telanjang menggunakan heels, aku memandanginya dia sungguh seksi, beda segment dengan pasangan barterku jadi gak bisa di bandingkan. aku berbaring sambil mengocok penisku.
lalu Dinda membuka bungkusan kondom itu, dia taruhnya di mulut, dan dia memasangkan kondomnya menggunakan mulut, pengalaman pertama. setelah terpasang, aku mengarahkan dia untuk berbaring dibawah dan aku ingin memposisikan man on top, agar aku bisa melihat wajahnya saat penetrasi pertama.

penisku sudah berada tepat di depan lubang surgawinya yg mungil, aku bahkan tak yakin bisa masuk sempurna. secara perlahan aku mendorong penisku, Dinda hanya terpejam tak mendesah merasakan gumpalan daging masuk ke dalam liang vaginanya. rasanya sangat sempit sekali, aku belum pernah merasakan sesempit ini. kepala penisku bisa masuk namun harus dengan upaya, secara perlahan aku terus mendorongnya.
“awwwwhhhh sayangggg gede bangeeeeet awhhhhh”, desah manjanya, kedua tangannya memegang pinggulku. akhirnya aku mendorong lagi pinggulku kedepan, dan terasa baru separuh lebih penisku sudah mentok.
“awwwhhhh udah masuk semua yang ahh enak banget”, ujarnya sambil tetap memejamkan mata.
aku tak tega, memek sekecil ini dikunjungi oleh penis sebesar milikku, namun persetan lah, aku mulai menggerakkan pinggulku maju dan mundur dengan kecepatan rendah.
PLOK PLOK PLOK PLOK PLOK
PLOK PLOK PLOK PLOK PLOK
PLOK PLOK PLOK PLOK PLOK
Dinda terus terbaring dan mendesah ringan.
“awwwwhhhh ooohhh awhhhhh sayangg awhhh yesss”
aku berada diatasnya bertumpu pada telapak tanganku karena harus menahan penisku yg hanya bisa masuk separuh.
“shhhh ahh memekmu sempit sekali ahhh ahhhh ooowwhhh”
aku mendekatkan kepalaku dan mencium bibirnya, “smoocchh smooochh smoocchh”.
PLOP PLOP PLOP PLOP
PLOP PLOP PLOP PLOP
PLOP PLOP PLOP PLOP
“awwhh awhhh owwwhhh awhhh”, menurutku man on top merupakan posisi terbaik untuk melakukan ikatan yg intim, bisa menatap wajahnya yg sedang keenakan, bisa saling berciuman, payudaranya bergerak naik dan turun, bisa mengontrol setiap sodokan, posisi ternyamanku melakukan hubungan seks.
hampir 5 menit aku dengan posisi yg sama, kedua tangan Dinda selalu sibuk meraba badanku, namun kali ini dia mencengkram kencang.
“awhhh yanggg ahh masa aku mau keluaraahhh lagiahhh ahhh ohhh lebih kenceng ahhh”, aku menaikkan intensitas sodokanku. Dinda semakin mencengkram erat pada lenganku.
“AWWHHH OOHHH AWWHHH SAYANGGG AWHHH AWHHH AOOHHH”, desah dia yg panjang, penisku terasa hangat nampak ada cairan yg turut keluar dari dalam tubuhnya, aku melihat selangkanganku, dan mencabut penisku, cairan demi cairan keluar dari dalam tubuh Dinda.

“awwhhhh aku maluuuuuu!! aku gak mau ngeseks sama kamu lagi! masa aku udah 3x kamu belum sama sekali”, protesnya dan aku hanya tertawa mengamati anak ABG ini protes dengan telanjang bulat.
“haha mau gantian diatas gimana?”, tanyaku sambil bercanda dan meraba tubuhnya.
“awwhhh awas aja aku keluar lagi”, hentak dia sambil tertawa.

lalu dia diatara badanku, mengenggam penisku untuk dimasukkan kedalam tubunnya yg memel itu. aku melihat dari bawah, vaginanya membuka selebar mungkin mempersilahkan aku masuk.
BLEESSS
“sshhhhh awwwwhhhhhhhhh”, desah ringan dia. lalu dia bergerak layaknya ular kobra yg sedang menari, pantatnya bergerak maju dan mundur mengikuti irama desahan dia, sedangkan aku fokus untuk segera mendapatkan orgasme bersamanya, kelihatanya rasanya akan super enak, aku terus membuka mata memandangi dia sambil menstimuli spermaku untuk naik ke puncak ujung penis.
“uuuwwwhhhh sayang, kamu pasangan terbaikku..”, ujarnya.
“hmmm kamu bilang itu ke semua pasanganmu kali”, balasku sambil kita terus ngeseks.
“engga mas, serius ahwwwhhhhhh”, balasnya yg lalu dia memejamkan mata dan menatap keatas.
“ayo lebih kenceng Dinda, aku mulai deket”, ujarku.
lalu Dinda mencondongkan badannya kedepan dan pantatnya naik dan turun dengan cepat, aku berusaha menikmatinya untuk beberapa saat.
PLOP PLOP PLOP PLOP PLOP
PLOP PLOP PLOP PLOP PLOP
PLOP PLOP PLOP PLOP PLOP
badanku mulai kencang, Dinda menggerakkannya semakin cepat dan dia semakin binal. aku mulai tak kuat menahan dorongan pejuh yg akan meledak.
“ahh aku mau keluar Dinda ahh aku udah deket ahhh keluarin dimana?”, desahku yg semakin gak jelas, namun Dinda tak berpindah posisi atau apa, berarti pejuh akan keluar dan tertampung kondom.
“AWWHWHHHHH AOOOWWHHHH YEAASHHHH AWWHHGHHH AGHHGGG”, desahku dengan kencang dan meremas badan Dinda yg memel itu.
CROOT CROOT CROOT CROOOT
semua sperma yg keluar tertampung pada kondom, Dinda menjatuhkan badannya padaku dan aku memeluknya layaknya aku memeluk Bella setelah seks.

“ahhh thankyou mas Andri sayang”, ujarnya dengan lembut. kami berpelukan dengan penis masih tertancap sekitar 10 menit, lalu Dinda bangkit untuk ke kamar mandi. dia melepas kondomku dan membersihkannya menggunakan tissue. aku tak berniat bersih-bersih, sudah terlampau capek. Dinda kembali dari kamar mandi masih tetap telanjang namun heelsnya sudah terlepas.

aku dan Dinda masuk ke dalam selimut, saling berpelukan dan tidur bersama. pertama kali aku merasakan memek ABG dan rasanya mengalihkan duniaku. emang bener kenapa para pakar maupun produsen teh hanya merekomendasikan atau mengambil bagian ujung daun dari pohon teh, emang yg muda paling sedep. PUCUK..PUCUK..PUCUK..PUCUK..CROOT

-BERSAMBUNG-

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D).

BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat. Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak

No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part