web hit counter

Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 23

0
813

Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 23

Hadiah Pijat Untukku dari Anakku

Widya Ayu Ningrum (38 Tahun)

-Seorang Janda
-Mempunyai satu orang anak bernama Evan
-Memiliki tubuh yang membuat para lelaki ingin menjamahnya

.
.

POV Evan

Hari ini gue mempunyai sebuah rencana nakal dan rencana itu sudah pasti gue tunjukan buat sang mamah. Bukan ide spontan karna memang sudah dari beberapa hari yang lalu terus terlintas di dalam kepala, namun baru gue putuskan sekarang ini. Entah kenapa setelah rentetan kejadian yang merubah kehidupan gue ini, sekarang gue mempunyai sebuah fantasi terhadap mamah gue sendiri. Dimana nanti gue bakal ajak mamah ke salah satu panti pijat yang desas-desusnya gue tahu dari salah satu teman kampus yang dia cerita bahwa di kota sebelah ada salah satu tempat panti pijat yang memang berbeda dari lainnya. Kenapa dibilang berbeda? Untuk pastinya sih belum tau, Cuma dari kabar yang temen gue ceritakan bahwa panti pijat itu menawarkan sebuah pijat plus-plus untuk perempuan juga.

Ada banyak tempat seperti itu. Memang, tapi yang membedakan bahwa di tempat itu bahwa pemilik dari tempat tersebut ternyata juga menjual tubuh pelanggan perempuannya. Maksudnya dan ambil contoh mamah gue. Mamah gue ke sana terus dipijat sampe akhirnya di pake sama si pemijat yang bukan lain pemilik tempat itu sendiri dan setelah dia pake mamah gue, dia juga suruh mamah gue buat main sama pria lainnya yang mamah gue hanya dikasih tau bahwa pria-pria itu pekerja di panti tersebut tanpa mamah gue ketahui bahwa pria-pria itu sebenarnya adalah pria hidung belang yang sudah membayar pada si pemilik tempat.

Sementara fantasi gue juga udah pernah di beberkan bahwa gue kadang menikmati saat lihat mamah di garap oleh pak Herman dan di tempat panti pijat itu selain gue mau mastiin kebenarannya, gue juga mau realisasikan fantasi bejat gue ini. Hitung-hitung sebagai bentuk hukuman buat mamah gue yang sudah berubah menjadi perempuan nakal.

Gue juga tadi habis pergi ke salah satu tempat penyewaan mobil rental. Nah disana gue sewa salah satu mobil untuk dipake nanti ke tempat yang gue ingin tuju itu. Sebenarnya ada untungnya juga buat gue ataupun buat mamah nantinya karna tempat tersebut berada di luar kota sehingga tak ada yang kenal dengan kita berdua. Kalo sampai ada yang kenal kan bisa runyam, kalo mereka jadi memperbudak mamah gue gimana? Gue emang pengen lihat mamah gue di garap orang, tapi bukan berarti gue mau mamah jadi mainan mereka secara terus terusan. Karna sepenuhnya mamah hanya buat gue seorang.

Sebenarnya tadi gue ingin ajak bu Nonik buat ke panti pijat itu tapi pas gue ada di depan pintu rumahnya gue dengar suara ribut di dalam yang gue tau bahwa bu Nonik dan pak Herman tengah berantem. Gue yang memang suka hal itu akhirnya memilih untuk membiarkan mereka terus adu mulut dan berjalan balik ke rumah.

Saat ini gue lagi nungguin mamah masak di bawah sana untuk membuat makan siang dan gue udah ajak mamah buat gue ajak pergi, untungnya mamah mau menerima ajakan gue dan karna itu kita akan berangkat setelah makan siang selesai di santap. Berada di dalam kamar lumayan lama dengan otak yang memikirkan apa yang akan terjadi nantinya membuat nafsu gue kian naik dan si Joni yang sebelumnya tertidur kini sudah terbangun dengan segarnya seakan sedang berbicara bahwa ia merasa lapar, lapar untuk di puaskan.

Hubungan yang sudah melewati garis ibu dan anak itu membuat gue keluar dari kamar dan berniat untuk menghampiri mamah yang sedang memasak di dapur. Saat itu mamah memakai pakaian rumahannya yang simpel macam ibu rumah tangga lainnya, sebuah daster. Kontol gue yang memang sudah kelaparan ini langsung gue peluk tubuhnya dari belakang. Mamah yang dikagetkan oleh pelukannya sedikit tersentak.

“ih, bikin kaget mamah aja kamu”, kedua tangannya bergerak memegang spatula dan pegangan wajan.
“Evan pengen, mah”, sambil gue gesek-gesekan tonjolan kontol gue di bongkahan pantatnya yang padat menantang.
“tapi mamah lagi masak, nak”
“kan bisa sambil masak, mah. Lagian yang mamah pake buat masak tangan mamah, buka n memek mamah”, hubungan gue dengan mamah memang sudah sangat berbeda sekali dan gue akui itu. Bagaimana bisa seorang anak mengucapkan hal sekasar itu pada mamah kandungnya sendiri kalo bukan karna sudah hilangnya batasan itu.
“Mulut kamu tuh ih, kotor banget”

Mamah hanya diam saya saat tangan masuk ke dalam daster bawahnya dan menurunkan celana dalam putihnya sampai sebatas lutut. Gue yang memang sudah tak tahan lagi ikut melepaskan celana gue sampai kontol ini terbebas lalu tanpa melakukan sebuah pemanasan terlebih dahulu gue angkat daster bawahnya sampai pinggang dan menyuruh mamah untuk sedikit menungging sehingga belahan memek mamah terpampang jelas di depan mata. Selanjutnya gue tempelkan ujung kepala kontol gue di bibir memek mamah dan gue mulai dorong masuk secara perlahan.

“naakkk….sssshhhhh….”, desis mamah dan gue mendiamkan kontol gue disana setelah semuanya terbenak masuk. Gue sangat menikmati bagaimana dinding selaput memek mamah meremas serta memijit batang gue ini. Rasanya sungguh sangat nikmat dan rasa nikmat itu bisa gue rasakan setiap saat serta kapanpun gue inginkan karna yang memberikan rasa itu tak lain mamah gue sendiri.

Mulai gue gerakin kontol ini untuk keluar masuk secara perlahan dan desahan lirih mulai gue dengar keluar dari mulut mamah bersamaan dengan suara spatula yang bergesekkan dengan wajan. Betapa masih terasa sangat sempit lubangnya ini, lembut, hangat dan mulai terasa becek.

“lubang mamah masih sangat enak, mah”
“Punya kamu aja yang gede, nak”
“Berarti punya pak Herman, pak Narto ataupun pria yang pernah entotin mamah ga gede?”
“Punya mereka gede, tapi lebih gede punya kamu sedikit, nak”
“berarti mamah suka dong sama kontol anak sendiri”
“Suka…”
“Binal banget deh mamah, Evan jadi makin nafsu”

Sambil menggenjot pelan gue remas kedua payudaranya dari luar daster sambil gue ciumi tengkuk lehernya yang sedikit berkeringat akibat panas saat memasak. Mamah terlihat menggelinjang geli saat gue ciumi tengkuknya serta gue jilati juga keringat yang ada. Sementara gue yang makin bertambah bernafsu pun mematikan api kompor, sempat ada pertanyaan dari mulut mamah tapi tanpa gue hiraukan gue bimbing mamah biar lebih menungging lagi.

Gue genjot dari belakang memeknya dengan sangat meresapi nikmat yang sedang menjalar ke seluruh batang kontol ini lalu menyalurkan ke sekujur tubuh. Keluar masuk kontol gue juga semakin di tambah ritmenya, tak cepat namun teratur dan setiap sodokan yang gue berikan terkesan penuh tenaga sehingga badan mamah ikut terdorong ke depan setiap ujung kontol gue ini masuk dalam di memeknya.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Desahan nikmat, erangan, kulit berbenturan menghiasi persetubuhan yang terlarang ini. Kedua bongkahan pantat padat yang mamah punya seakan menatang untuk dimainkan lalu di remas keras pantat mulusnya itu oleh gue sampai mamah mengaduh merasa agak sakit tapi tetap tak gue hentikan. Saat gue lepas ternyata pantat mamah sedikit memerah sambil gue tatap sekilas kontol gue yang mengkilap sedang keluar masuk di lubangnya. Betapa nikmatnya dosa ini sampai kepala gue mendongak ke atas dengan mata terpejam merasakan sansainya.

“enak banget, nak. Oouuggghhhhh….sssshhhhh…”, lenguh mamah yang memang sekarang sudah berani menunjukkan sisi binalnya secara terang-terangan sama gue.

Lubang memek mamahnya sungguh terasa basah serta sempit dan hal itulah yang membuat sensasi pijatan nikmat di kontol gue semakin menjalari ke sekujur tubuh. Dari posisi gue yang tengah menggenjot memek mamah dari belakang, gue melihat dengan jelas bahwa mamah menikmatinya juga. Gue hayati kedutan demi kedutan yang diberikan oleh liang memek mamah itu pada kontol perkasa gue yang sedang mengacak-acak lubang sempitnya. Sedang asyiknya menikmati jepitan dinding memek mamah gue merasakan rasa yang hangat, lembut dan membuat perasaan nikmat ini menjadi lebih terasa.

“Aaaakkkkhhh….Aaaakkkkhhh….”,

Terdengar pula bahwa mamah mengeluarkan suara dengan liar yang menandakan bahwa mamah memang benar keenakan menikmati kontol gue yang keluar masuk di memeknya. Gue sebagai pria merasa bangga karna bisa membuat perempuan dewasa sekelas mamah bisa mengerang dan merintih demgan nikmatnya.

Ekspresi mamah tengah menunjukkan sebuah nafsu yang tinggi, mulutnya sedikit terbuka dengan suara erangan nikmat yang keluar. Tubuh sintalnya tengah menungging dengan sangat erotis membuat siapapun yang melihatnya pasti akan tak tahan untuk ikut mencumbunya apalagi kedua payudaranya yang terimbang-ambing kesana kemari dengan sangat indah menambah kesan panas dalam sebuah persetubuhan. Baju dasternya mulai terlihat bercak-bercak basah oleh keringat yang ia keluarkan pada bagian punggung sementara rambut panjangnya kini terurai sambil mamah gibaskan ke kanan dan ke kiri.

“aaakkkkkkhhhh…..aaakkkkkkhhhh….naakkk…ssshhhhh…..”
“enak, mah?”, tanya gue singkap menyikapi desahan mamah, tapi mamah hanya memejamkan matanya sambil mulutnya terus saja meracau.

Kedua Payudara yang berguncang keras mengundang gue untuk menangkap dan meremasnya kembali lalu ku remas dengan sangat gemas. Merasa kurang nyaman, gue yang tak sabaran menarik ke berlainan arah tepat pada lingkaran besar kerah daster mamah sampai robek dan setelahnya gue keluarkan kedua payudaranya dari cup Bra hitam yang sedang ia pakai. Suasana dapur yang memang panas makin bertambah karna adanya gelora nafsu yang membara.

Kontol ini gue cabut lalu gue jongkok di depan selangkangan mamah dan disana gue lumat habis memeknya yang sudah sangat basah itu. Gue mainkan klitorisnya dengan lidah sampai gue memasukkan dua hari gue ke dalam sana lalu gue kocok dengan cepat. CLOK!!! CLOK!!! CLOK!!! Kocokkan tangan gue membuat mamah mengaduh dengan sangat nikmatnya sampai-sampai ia mendapatkan orgasme pertamanya.

“Mamah lemas, nak”
“bentar, mah Evan bakal keluarin secepat mungkin, sabar mah”

BLES!!! Gue masukan kembali kontol gue ini untuk mengocok memek mamah yang sudah sangat basah oleh cairan kewanitaannya. Gue yang memang sudah ga mau lama-lama lagi menahan laju peju ini lantas gue percepat genjotan gue. Mungkin karna baru saja orgasme sehingga membuat mamah mengadu bahwa dirinya merasakan ngilu saat gue genjot cepat. Kedua kulit kita saling bertabrakan satu sama lain dengan menimbulkan bunyi yang sangat nyaring untuk di dengar.

Sampai gue merasakan bahwa akan segera ejakulasi, gue lakukan tusukan keras beberapa kali sebelum gue cabut dengan cepat dan gue suruh mamah untuk duduk bersimpuh di lantai dan gue arahkan kontol ini ke arah wajahnya yang ayu seperti namanya.

“Buat mamahhh…..”, erang gue demgan sangat nikmat sambil mengocok cepat.

CROT!!! CROT!!! CROT!!!

Mamah hanya diam saja ketika wajahnya gue semprot dengan peju gue ini. Mungkin sekitar lima sampai enam semprotan yang gue berikan di atas kulit wajah mamah sampai di lihat wajahnya lumayan banyak tercecer cairan putih kental yang melekat. Saat memandangi wajah mamah itu yang baru saja gue nodai, gue ucapkan kalimat pujian atas kecantikannya dan gue ratakan peju yang ada di wajahnya menggunakan kontol sampai semua bagian wajahnya benar-benar mengkilap. Kurang ajar memang.

“malah diratain dong, wajah mamah jadi lengket nih”, omel mamah.

Karna gue juga masih punya bersalah, gue bantu mamah untuk bangun dan gue tuntun ke wastafel lalu wajahnya gue basuh dengan telapak tangan ini sampai semua cairan lengket itu berhasil larut dengan air yang mengalir. Wajahnya di basuh dengan handuk kecil dan mamah membenahi kembali pakaiannya lalu melanjutkan masaknya uang sempat tertunda demi memuaskan nafsu gue? Sorry, mungkin lebih tepatnya nafsu masing-masing karna memang mamah juga menikmatinya.

Sementara mamah kembali melanjutkan kegiatannya di dapur, gue hanya duduk di kursi makam sambil melihat aktivitas mamah dengan segelas kopi yang baru saja gue buat sendiri.

Mamah telah siap dengan pakaiannya yang sengaja gue suruh buat pakai tadi. Gue menyuruh mamah buat pakai gamis dengan hijab yang melekat di kepalanya dengan rapi. Kemarin gue beli itu gamis untuk di pakai mamah hari ini tentunya gue sengaja membelikan mamah dengan ukuran yang ngepas di badannya sehingga lekuk tubuh serta bentuk payudaranya bisa tercetak dengan jelas. Bukan hanya bagian payudaranya yang terlihat menantang tapi lekuk pantatnya pun juga jika dilihat dari samping akan terlihat bagaimana berisi dan padatnya pantat mamah itu.

Kita sudah siap untuk berangkat ke tempat yang gue rencanakan. Mamah hanya gue beritahu bahwa ia akan diajak ke tempat relaksasi biasa dengan beralasan bahwa gue merasa kasihan dengan mamah yang mengerjakan pekerjaan rumah tangga seorang diri dan sebagai tanda terima kasih gue.

Mamah pun otomatis merasa bahagia dengan mengucapkan terima kasih sambil mengulum senyumnya saat gue ajak karna mamah bilang bahwa dirinya sudah lama badannya tak merasakan di pijat akhirnya bisa merasakannya lagi. Walau sebenarnya tempat itu kemungkinan besar bukan hanya mamah yang akan di pijat tapi ia harus bakal memijat juga.

“wah, mamah kelihatan cantik banget sekarang deh”, puji ku melihat penampilan mamah yang terlihat sangat WOW itu.
“berarti sebelumnya mamah ga cantik dong kalo baru sekarang cantiknya”
“bukan gitu, mah. Mamah sebelumnya juga cantik tapi sekarang lebih kelihatan jadi dan juga kelihatan sangat seksi kalo pake oakaian seperti itu”
“Dasar, mamah sendiri kamu gombalin”
“Jangankan gombalin, mah. Mamah entotin juga udah sering”, mamah memukul lenganku demgan tas jinjingnya.
“mulut kamu itu. Udah, ini mau jadi berangkat apa ga?”
“Jadi lah, mah. Yaudah yuk”

Gue perlakuan mamah layaknya seorang pacar dengan menggandeng tangannya saat keluar dari rumah dan saat akan masuk mobil pun gue bukakan pintu untuknya. Sempat gue mendapatkan tatapan heran dari mamah gue tapi hanya gue jawab, “manjain mamah sendiri ga ada salahnya”. Setelahnya gue langsung me jalankan mobil menjauh dari rumah untuk meluncur ke lokasi tujuan.

POV Evan END

Evan dan Widya telah berdiri di pintu masuk yang terbuat dari kaca transparan setelah tadi menempuh perjalanan kurang lebih hampir 1 jam lamanya. Evan yang memang baru pertama kalinya datang ke tempat pijat apalagi yang berbau plus-plus pun jantungnya mulai menjadi tak karuan. Bukan karna tak tau harus apa tapi ia sibuk memikirkan apa yang bakal ia lihat nanti.

Sebelum datang, Evan sudah terlebih dahulu konfirmasi pada salah satu penjaga di sana dan ia juga sudah menceritakan niatnya pada sang pemilik tempat secara langsung lewat telepon. Evan mendapat kontak dari tempat tersebut dari teman kampusnya yang menyebarkan desas-desus tersebut padanya.

“masuk yuk, mah”
“ya ayo kenapa di pintu masuk”

Masuknya mereka berdua ke dalam ternyata cukup menjadi pusat perhatian dimana lumayan banyak terdapat pria dan wanita di kursi tunggu dan sepertinya mereka sedang menunggu giliran. Ada 2 kategori pilihan dimana pijat biasa atau yang plus. Untuk Roomnya sendiri juga dibagi menjadi biasa yang dimana ruangan itu hanya menggunakan sekat kamar biasa atau VIP yang sudah jelas lebih baik dari pada yang biasa dengan segala fasilitasnya yang lebih unggul sedikit karna memang tempat tersebut mempunyai ukuran yang sedang.

Widya yang diajak Evan pada bagian resepsionis pun hanya bisa berjalan mengikuti karna memang baru pertama kalinya. Pernah dipijit itupun hanya oleh tukang pijat biasa yang di panggil ke rumah.

“selamat siang bapak, ibu. Ada yang bisa saya bantu?”, sapa perempuan yang di tafsir usianya tak jauh beda dengan Widya namun jauh lebih fresh Widya.
“siang, mbak. Ini, mbak saya mau pijat”, ucap Evan sambil memberikan secarik kertas yang tak mamahnya ketahui. Kertas itu berisikan tulisan yang memberitahu bahwa dirinya adalah si penelepon kemarin. Saat itu si perempuan terlihat mengerti akan situasinya dan kembali melanjutkan tugasnya senormal mungkin.
“Silahkan masnya boleh pilih mau pake yang biasa atau VIP”
“oh, maaf mbak yang mau pijat bukan saya tapi mamah saya ini. Mamah pilih aja mau yang mana tapi Evan saranin sih yang VIP aja, mah”
“Saya ga terlalu mengerti soal beginian tapi mbak bisa jelaskan ga apa bedanya yang biasa sama VIP itu”, tanya Widya.
“apakah ibu baru pertama kalinya menggunakan jasa pijat seperti ini?”, Widya mengangguk.

“oh gitu. Kalo gitu saya bakal jelaskan sedikit, bu. Jadi gini, bu kalo buat yang biasa kamarnya ada di bawah dan yang namanya biasa juga pasti semuanya serba biasa, mulai dari ranjang baring uang di gunakan, tempat, serta pemijatannya pun hanya sekali tahap saja. Cuma kalo yang VIP kamarnya ada di lantai dua. Selain ruangannya yang nyaman, ruangan tersebut juga kedap suara entah itu dari luar maupun dalam, selain itu kita juga bakal manjain ibu pake aroma terapi yang bisa buat ibu rileks saat di pijat”, perempuan tersebut terus saja menjelaskan secara lebih detail lagi terkait dengan pilihan paket serta aturan-aturannya.
“Nah kebetulan buat sekarang kita lagi ada promo, bu jadi harganya tak beda jauh dengan yang biasa”
“gimana kamu aja deh, nak”, ucap Widya menyerahkan pada anaknya, Evan.
“yaudah, mbak ambil yang VIP kalo gitu”, ucap Evan.
“Baik jadi ambil VIP ya. Sebelumnya mohon maaf dengan ibu…”
“Widya”
“Oke, ibu Widya ini nomor urutnya silahkan di pegang dan mohon tunggu”

Evan mengajak mamahnya untuk duduk di salah satu bangku yang masih kosong. Ternyata jika diamati cukup ramai juga untuk ukuran tempat seperti itu. Evan sebenarnya juga menyadari bahwa pria yang duduk di sebelah mamahnya itu sering mencuri padang pada tubuh mamahnya apalagi pada bagian payudaranya yang memang tercetak mengkel dengan jelas bentuknya.

“biarlah, rezeki buat dia”, Evan membatin.

Mungkin sekitar setengah jam menunggu sampai membuat Evan hampir tertidur karna malas menunggu. Saat dirinya mulai akan terpejam tiba-tiba mamahnya menepuk lengannya beberapa kali mencoba menyadarkan Evan bahwa giliran sang mamah sudah tiba. Lantas saja Evan bangun.

“Ibu Widya, mari silahkan ikuti saya”, ajak salah satu perempuan lumayan tua menggunakan masker penutup mulut warna biru.

Evan dan mamahnya pun mengikuti perempuan tersebut naik ke lantai dua. Setiap anak tangga yang ia pijak membuat detak jantung Evan semakin naik saja ritmenya. Dari belakang, Evan menatap tubuh mamahnya itu yang sedang menggoyangkan pantatnya ke kanan dan ke kiri saat berjalan. Pikirannya sudah terbang menggapai fantasi-fantasi mesumnya.

Sampai diatas ternyata tempatnya sangatlah beda dari hang dibawah karna di lantai dua ini memang terlihat sangat terawat seperti bukan sebuah panti pijat melainkan seperti layaknya penginapan. Bai harum akan aroma-aroma terapi pun juga tercium hidung dengan sangat menenangkan.

“Sepertinya tadi saya lihat anak ibu mengantuk. Kalo mas mau, mas boleh tidur di ruangan sebelah”, ucapnya, karna memang hal tersebut sudah di rencanakan dimana ruangan yang akan di masuki dirinya bersebelahan dengan ruangan mamahnya.
“kalo gitu ibu silahkan untuk masuk”, ajaknya dengan ramah.
“Mamah masuk dulu ya”

Evan langsung masuk ke ruangan yang di tunjukan perempuan tersebut. Saat di dalam alangkah terkejutnya Evan karna apa yang di bilang kemarin ternyata memang benar adanya dimana dari ruangan itu Evan bisa melihat langsung mamahnya yang berada di ruangan sebelah, namun mamahnya tak bisa melihat ke arahnya. Suara percakapan mamahnya dengan perempuan yang akan memijat mamahnya pun juga terdengar jelas oleh Evan karna disalurkan oleh sebuah mikrofon kecil disana.

Di dalam ruangan yang mamahnya gunakan ternyata fasilitasnya lumayan lengkap dan desain ruangannya pun sangat minimalis, terkesan berbeda dari sebelum masuk ke dalamnya. Evan mendengar bahwa mamahnya di suruh untuk berganti pakaian di sebuah bilik kecil yang sudah disiapkan.

“Silahkan ibu ganti pakaiannya dengan pakaian yang sudah disiapkan di dalam sana. Sementara ibu ganti, saya mau menyiapkan peralatannya, bu”
“Oh iya, Makasih”

Widya masuk ke dalamnya dan mulai menanggalkan satu persatu pakaiannya sampai semuanya pakaian yang ia kenakan dari rumah terlepas seutuhnya. Saat itu Widya baru sadar bahwa pakaian yang disediakan ternyata hanya secarik kain tipis yang ukurannya tak bisa menutupi seluruh badannya dan satu set pakaian dalam yang modelnya juga sangat minim. Walau begitu Widya tak terlalu memikirkannya lagian ia berpikir bahwa yang akan memijatnya seorang perempuan.

Saat Widya keluar dengan pakaian yang sudah berganti, ia melihat bahwa perempuan tersebut ternyata sudah selesai menyiapkan semuanya dan Widya akhirnya tau bahwa perempuan yang akan memijatnya bernama Reni.

“Oh iya, bu sebelum saya mulai. Ibu Widya silahkan minum air racikan ini biar nanti pas badan ibu saya pijat rasanya makin tambah enak dan badan ibu setelah di pijat menjadi lebih enteng dari sebelumnya”

Di sodorkan nya gelas berisi cairan seperti jamu berwarna kuning tua pada Widya dan di terima. Sesuai penjelasan khasiat yang sudah di beberkan maka Widya dengan tanpa ragu menenggak habis jamu racikan tersebut sampai benar-benar habis berpindah ke dalam perutnya. Rasanya tak usah ditanya, sama seperti jamu-jamu pada umumnya. Terlihat juga Reni menyalakan sebuah aroma terapi yang sebelumnya ia tanyakan terlebih dahulu pada Widya menginginkan aroma yang ia inginkan. Aroma segar yang menenangkan serasa sangat pekat mulai menyelimuti ruangan tersebut, namun terkesan lembut aromanya.

“Sekarang bu Widya coba untuk berbaring naik kesini menghadap ke bawah”, ucap Reni sambil menepuk pelan ranjang panjang yang mempunyai lubang tempat wajah.

Setelah berbaring di atas ranjang tersebut, Reni dengan sopan berujar bahwa ia akan memulai proses pijatnya dan dijawab anggukan oleh Widya. Sebuah cairan terasakan dikulit betisnya saat cairan itu di tuangkan oleh Reni. Dengan perlahan Reni mulai memijat betisnya.

“Maaf, bu. Pijatan saya sudah pas apa belum?”
“sudah pas kok, bu tapi kalo bisa lebih di tekan sedikit soalnya di bagian situ kadang saya merasa pegal banget”. Sesuai permintaan Widya, Reni mulai sedikit menguatkan gerakan pijatnya.

POV Widya ON

Pijatan tangan Reni di bagian betis hingga tekukan lutut ternyata sangat enak rasanya. Rasanya aku sudah sangat lama tak merasakan nikmatnya di pijat seperti ini dan terima kasih anakku karna sudah ajak ibu ke tempat ini. Tau saja kalo ibu memang sedang menginginkan dipijat. Tapi memang serius padahal baru bagian kaki yang dipijat tapi rasanya lelah yang ada di tubuhku ini ikut mulai menyingkir secara perlahan.

Beberapa menit kakiku dimanjakan oleh gerakan gemulai tangan Reni, aku merasakan bahwa tubuhku seperti dingin apakah AC di ruangku ini suhunya terlalu rendah? Tapi kayaknya bukan deh. Aku berpikir bahwa rasa dingin yang mulai aku rasakan ini akibat minyak yang digunakan. Mungkin?

“maaf, ya bu”, ujar Reni demgan sopan dan aku rasakan pijatannya dinaikkan sedikit ke area pahaku sekarang.

Saat tangan halus Reni jatuh di atas pahaku entah kenapa aku malah merasa geli sampai tubuhku sedikit terlonjak seperti orang kaget. Reni juga menyadari reaksi ku itu dengan tertawa pelan.

“Geli ya, bu?”

Disaat jemarinya mulai bergerak menekan dan sedikit meremas pahaku, tubuhku kembali menggelinjang geli saat pijatannya sampai di daerah paha atasku karna di dukung pula oleh licin minyak yang di pakai. Walau hanya kegelian tapi aku juga merasa malu kalau sampai tergambar jelas di hadapan Reni tapi pijatannya memang bertambah enak rasanya.

Rasanya aku ingin mendesah saat itu karna secara tak aku duga ternyata Reni memijat sampai pangkal pahaku, dimana ujung jari-jarinya kadang sedikit menyentuh area selangkangan. Kenapa dipijat seperti ini saja rasanya seperti sedang di rangsang. Aku benar-benar memang sudah berubah. Kedua tanganku mencoba untuk menahan mulutku supaya tak mengeluarkan desahan dengan meremas kencang ujung ranjang dan wajahku yang tersembunyi ku gunakan untuk mengatupkan mulutku serapat-rapatnya.

Saat kucoba sebisa mungkin agar tak mengeluarkan desahan, kain tipis yang menutupi area pantat hingga punggungku di angkat oleh Reni sehingga kini aku hanya tengkurap dengan pakaian dalam mini ini saja. Sementara Reni mulai menuangkan kembali minyaknya di pantatku dan sejurus kemudian aku bisa merasakan dengan jelas bahwa tangan Reni kini masuk ke dalam kain celana dalamku hingga tangannya kini meremas pantatku secara langsung.

“Eeegggghhhhhh… “, desahku tertahan merasakan remasan lembut tangan Erni di bingkahan pantatku.

Aku sudah sungguh mulai tersiksa dengan perasaan geli bercampur nikmatnya pijatan tangan Reni itu. Sepertinya gelagatku yang sedang mencoba menahan suara desahan supaya tak keluar disadari olehnya. Dengan tenangnya Reni menyuruhku untuk santai saja.

“Ga usah ditahan, bu kalo bu Widya memang ingin mendesah lagian udah sering juga kok perempuan yang aku pijat pada mendesah. Ga usah malu, aku kan juga perempuan. Keluarin aja, bu”, saat ku coba tengok wajahnya ternyata Reni menyinggungkan senyum ramahnya.
“Tapi aku malu, bu masa dipijat aja sampe mendesah”
“Memang apa salahnya, bu? Mendesah kan bukan berarti lagi gituan juga. Mendesah menandakan kalo kita juga lagi merasa enak, entah itu enak oleh apapun”
“Jadi gapapa kalo saya mendesah?”
“ibu Widya ini lucu banget, ya jelas gapapa. Kalo bu Widya coba buat nahan bati aneh rasanya buat saya”, aku tersenyum simpul menanggapinya.
“Saya mulai lagi ya, bu”, dan aku mengangguk pelan, kembali aku letakan wajahku di atas lubang wajah.

Aku terpejam menikmati setiap pijatan yang Reni berikan dan aku juga sekarang sudah tak lagi menahan suara jika ingin mendesah. Aku keluarkan seperti kata Reni tadi. Selama beberapa menit berlalu saat pantat dan pahaku di pijat olehnya hingga aku merasakan Reni membalurkan minyaknya di bagian punggung. Tapi aku merasa minyak yang di tuangkan pada punggungku terasa berbeda dengan minyak yang ia gunakan untuk meminta sebelumnya.

Saat minyak itu jatuh di punggungku bukan serasa seperti minyak pada umumnya melainkan yang aku rasakan seperti beberapa cairan yang sedikit menggumpal. Sekitar empat sampai lima kali aku merasakan cairan menggumpal itu jatuh di atas punggungku.

“Ren, kok minyaknya kaya beda ya dan baunya juga kayaknya ga asing gitu”
“oh ibu Widya merasakannya ya. Iya bu, minyak yang saya gunakan ini memang berbeda dari yang tadi dan yang sedang saya gunakan ini minyak khusus”
“memangnya cairan minyak apa?”
“yang bu Widya rasakan minyak ini seperti apa?”, bukanya menjawab pertanyaanku malah dia balik bertanya sambil mulai memijat punggungku.
“ga terlalu cair kaya minyak yang tadi, tapi ga terlalu beda jauh sih Cuma agak lengket dan baunya agak gimana gitu”
“ada bayangan yang terlintas di pikiran bu Widya ga, minyak ini kaya apa?”

Aku mencoba berpikir sejenak menebak seperti apa tapi sekeras apapun aku berpikir, hal yang terlintas di kepalaku bahwa minyak itu rasanya seperti sebuah sperma laki-laki. Hanya itu yang memang sedari tadi mengganggu isi kepalaku ini.

“Kaya…sperma”
“salah, bu”

Salah? Tapi syukurlah kalo minyak itu bukanlah seperti yang aku bayangkan.

“Bukan sperma, bu tapi Peju”
“yaelah Ren sama aja kali sperma sama Peju”, aku tertawa pelan menanggapi jawaban Reni yang diputar itu. Eh?!! Tunggu…tunggu. Dia bilang apa tadi? Rasanya badanku sedikit melemas saat sadar akan ucapan Reni tadi. Yang benar saya minyak yang sedang di pakai untuk mengurut punggungku itu sperma alias peju?

“jangan bercanda kamu, Ren”, ucapku yang mengira bahwa Reni sedang bercanda kotor. Namun aku rasakan Reni kini berjalan dan berdiri di hadapanku sambil menyodorkan botol yang berisi cairan yang ia tuangkan di punggungku.
“Saya ga bercanda bu Widya, ini memang beneran Peju laki-laki. Coba ibu cium, kalo perlu ibu jilat semisal bu Widya masih ga percaya”

Tapi anehnya aku menuruti ucapan Reni barusan. Aku dekatkan hidungku pada ujung botolnya dan ku hirup aromanya. Sehabis itu seperti sangat penasaran, aku suruh Reni untuk menuangkan sedikit di telapak tanganku dan kemudian aku cucup cairan putih yang sedikit menggenang di telapak tangan ini seperti sedang mencicipi rasa kaldu saat memasak. Astaga! Ini beneran peju laki-laki dan barusan aku telah menelannya. Lebih parahnya aku menelan entah peju siapa itu. Astaga kenapa aku jadi semakin binal seperti ini rasanya.

“gimana, bu? Peju asli kan?”

Aku masih terdiam memikirkan apa yang baru saja aku lakukan, lebih tepatnya memikirkan peju siapa itu kenapa rasanya enak. Aduh kan…binal banget aku sekarang. Hey Widya! Kemana sosok kamu yang dulu. Aku seperti sedang merutuki dan menyadarkan diriku sendiri akan kelakuanku yang semakin nakal tanpa aku sadari sepenuhnya.

Reni kulihat kembali pada posisinya dan mulai memijat punggungku kembali menggunakan cairan peju itu. Aku memang kaget saat mengetahui cairan apa itu sebenarnya tapi saat sudah tau dan Reni tetap menyemaki punggungku dengan cairan itu aku tetap diam dan malah merasakan pengalaman pertama bagaimana aku di pijat demgan peju sebagai minyak pelicinnya.

Tali bra minim yang aku pakai ini di lepas tali simpulnya oleh Reni dan ia buang demgan begitu kini kedua payudaraku telanjang bulat tengah tergencet oleh badanku sendiri sampai meluber ke samping. Namun Reni menyuruhku untuk tidur terlentang dan aku menurutinya sehingga ketelanjangan payudaraku terumbar dengan bebas.

“Bu Widya pernah dengar ga katanya kalo peju itu punya khasiat bisa bikin awet muda dan bikin kulit tambah kencang?”
“Pernah, tapi benar atau ga nya aku ga tau”
“gimana kalo bu Widya buktikan sendiri aja sekarang dengan saya balurkan di kedua payudara ibu. Bu Widya punya payudara yang bagus loh sayang kalo sampai kendur nantinya”
“Ga ada salahnya juga sih. Yaudah deh aku mau coba”. Walau aku sendiri sekarang sudah sering bersinggungan dengan namanya peju tapi kenapa aku bisa selancar dan se-santai itu mengucapkannya.

Kedua payudaraku kemudian disiram dengan cairan laki-laki itu lalu Reni usapkan ke seluruh permukaan kulit payudaraku secara merata dan sehabis itu barulah ia pijat serta ia remas payudaraku ini dengan lembut. Kelembutannya mampu membuatku bisa menikmati perlakuannya pada tubuhku ini.

“sssshhhhh….Reeennn….”
“enak ya, bu?”, aku mengangguk lemah.

Aku tetap diam tanpa protes ketika satu tangan Reni mulai masuk ke dalam celana dalamku dan mulai menggosok kecil bibir memekku serta menusukkan beberapa jarinya ke dalam. Akibat perlakuan Reni itu membuatku tak bisa menahan suara desahanku untuk keluar dengan bebas.

Reni menarik jarinya dan menyuruhku untuk celana dalamnya di buka saja. Setelahnya Reni tuangkan cairan peju itu di permukaan intimku dan ia buka sedikit bibir memekku lalu apa yang ia lakukan membuat nafsuku rasanya kembali bangkit dimana saat memekku dibuka, Reni menuangkannya ke dalam lalu ia colokan lagi jarinya seolah-olah Reni ingin peju tersebut benar-benar masuk ke dalam memekku.

Reni memainkan lubang kewanitaanku ini dengan kocokkan jarinya yang semakin ia percepat. Desahan nikmat lolos dari mulutku memenuhi ruangan tempatku di pijat.

“Oouuggghhhhh….Reeennn….ssshhhhh….”
“gimana, bu enak ga?”, tanyanya sambil ia kocokkan terus jarinya.
“enakkk….sssshhhhh….”

Saat aku mulai sangat menikmati permainan jari Reni, dia malah menghentikan dan menarik jarinya. Rasanya nafsuku ini tengah di permainkan oleh Reni karna saat sedang mulai aku daki tali kenikmatan ini dia malah berhenti menarik talinya. Aku merasa sangat tanggung disini. Aku lihat dia berjalan ke arah ujung ruangan yang terdapat meja kecil disana seperti rak dan ia tarik salah satu rak.

Dari dalam rak tersebut ia ambil sebuah benda yang memang pernah aku lihat sebelumnya. Benda yang sama persis saat aku diajak oleh Nonik ke acara arisannya. Sebuah sabuk dengan Dildo di depannya. Reni pakai tanpa melepaskan celannya lalu menghampiri tubuh telentangku ini.

“Bu Widya mau saya bikin keluar ga?”, aku yang memang sudah diambang nafsu ini pun demgan cepat mengangguk. Masa bodo walau itu hanya sebuah Dildo dan itu tak ada bedanya kalo aku orgasme dengan jarinya.

“Kalo gitu, bu Widya coba menungging biar Dildo saya ini bisa masuk dengan enak”, aku menurut dan langsung memosisikan dirinya menungging seperti betina yang mengharapkan untuk di gagahi oleh pejantannya.

Ku lihat lagi sebelum Reni ikut naik ke atas ranjang kecil ini, ia mengolesi Dildo sintetis itu dengan cairan peju yang ia gunakan tadi untukku. Setelah cukup basah barulah Reni menarik tubuhku untuk mundur sedikit, ternyata ia tak ikut naik ke ranjang ini melainkan ia akan memasukkan Dildo bersabuknya dalam posisi ia berdiri normal karna memang posisi ku menungging dan tinggi ranjang ini sejajar dengan Dildo Reni.

“saya masukan ya, bu”

Ujung Dildo tersebut menyentuh bibir memekku ini dan dengan perlahan Reni mulai menekannya masuk. Dalam hatiku, aku tak menyangka jika aku akan kembali dipuaskan oleh sebuah Dildo. Proses penetrasi yang sedang dilakukan rasanya sungguh sangat nikmat aku rasa sampai semua Dildo sintetis utu berhasil terbenam dengan sempurna di dalam memekku ini.

Tak membuang waktu lama, Reni mulai mengerakkan maju mundur pantatnya supaya Dildo tersebut keluar masuk di dalam memekku. Aku yang sebagai wadah Dildo tersebut bergerak oun di buat mendesah dengan nikmat disertai sebuah rintihan yang tak kalah menggambarkan nikmatnya diriku saat itu.

“Aaakkkhhhh….Aakkkhhhh…..”, desahku selalu mengiringi setiap tusukan yang datang menghampiri.

Sampai beberapa menit berlalu aku mulai merasakan bahwa gelombang orgasme yang aku rasakan semakin dekat untuk diledakkan, namun hal yang tak aku suka kembali terulang dengan Reni mencabut dildonya itu. Hanya selisih sekitar dua detik saja ia kembali memasukkan dildonya, tapi aku merasakan sebuah perbedaan saat itu karna tekstur nya sedikit lebih keras dan ukurannya sedikit lebih besar dari sebelumnya. Aku yang sedang menginginkan agar aku segera klimaks tak memikirkan hal tersebut.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Oouuggghhhhh….kali ini aku merasakan bahwa nikmat yang aku dapatkan rasanya menjadi berlipat setelah Reni mencabut dildonya tadi. Aku yang penasaran kenapa Reni dengan cepat bisa mengganti sabuk dildonya pun mencoba menoleh, tapi saat aku menoleh rasanya aku seperti tersambar petir. Aku melihat dengan jelas bahwa ada sosok pria dengan tubuh lumayan gemuk tengah mengatunkan pantatnya maju mundur. Oh tidak, berarti yang sedang keluar masuk di dalam memekku adalah kontolnya.

Mengetahui bahwa aku sedang menatapnya, pria tersebut tersenyum sambil terus menggenjot memekku dengan nikmatnya.

“Aaakkkhhhh…ssshhhhh….kontol saya gimana, bu? Lebih enak dari Dildo karet itu kan? Oouugghhhssss…..memek ibu juga enak banget loh, jarang-jarang ada pelanggan yang mau pijat kaya bu Widya ini. Aaakkkkhhhhss…..”

Aku yang memang sudah kepalang tanggung pun mau tak mau harus menerimanya karna aku oun juga menginginkan hal tersebut. Tanpa aku berontak aku biarkan pria tersebut terus saja menyodokkan kontolnya di dalam memekku ini dan aku akui memang kontolnya sama enaknya seperti punya mas Herman. Masa bodo lah, yang penting aku mau kenikmatan ini.

“Aaakkkhhsssss….iya, pak… Jangan berhenti. Terusss….sodok terus memekku ini. Aaakkkkkkhhhh….Aaaakkkkhhh….”
“ibu suka kontol ya?”
“Iya, paakkk….Widya suka kontol kaya punya bapak. Sssshhhhh…..ennnakkkk….”

Saat aku sedang menggeleng meresapi kenikmatan ini aku melihat sosok anakku sudah berdiri di samping Reni. Apa maksudnya ini? Tapi aku tak bisa berhenti dan aku ingin terus merasakannya.

“Naakkk….kenapa….kenapa kamu disini? Aaakkkkhhhhss…..sssshhhhh….”

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

“Ini memang rencana anak ibu. Sssshhhhh… Anak ibu yang pengen lihat mamahnya saya entotin, bu”

Evan mendekat ke arahku dan ia berdiri di sebelahku yang sedang menungging di tusuk oleh sebuah kontol dari pria yang sama sekali tak aku kenal dan tak pernah aku lihat sekalipun. Evan mengusap wajahku dan mengatakan sesuatu demgan sangat lembut. Ia berujar bahwa inilah salah satu fantasinya yaitu melihatku di Setubuhi oleh orang lain di depan matanya dan Evan memohon padaku saat itu untuk menuruti keinginannya itu. Aku tak mau…jelas aku tak mau jika harus berhenti karna keinginan anakku itu sebuah kenikmatan yang mampu membuatku serasa terbang ke langit.

Setelah mengucapkan fantasi serta alasannya, Evan mencopot celananya dan kontolnya uang sudah tegang berdiri tepat di depan wajahku selaku mamah kandungnya sendiri. Ia belai rambutku secara lembut dan perlahan Evan menuntunku untuk mendekatkan mulutku ke kontolnya. Ia ingin aku mengulum kontolnya sambil aku di genjot oleh pria tak ku kenal itu dari belakang.

“mamah cantik banget. Mamah memang wanita tercantik dan terseksi yang pernah Evan lihat”

Ucapan anakku itu rasanya membuat hatiku menghangat dan dengan semangat aku berikan servis terbaik dari mulutku sebisa yang aku mampu.

“Aakkkhhhh….sssshhhhh….terus, mah….”, desah anakku. Sementara pria yang tengah menikmati lubang peranakanku juga dari tadi tak henti-hentinya mendesah serta meracau nikmat.
“oouuggghhhhh….mmaassss…memek mamah sampean enak banget. Sssshhhhh…. Memek ibu sampean ini memek paling enak yang pernah saya masukin dari semua wanita yang pernah saya tunggangi. Oouugghhhssss…..udah gitu cantik banget lagi”

Kondisiku kedua lubangku saat ini tengah terisi penuh oleh sebuah kontol. Memekku penuh oleh kontol pria yang tak ku kenal, mulutku penuh oleh kontol anak kandungku sendiri.

Sepertinya pria tersebut ingin menikmati memekku dengan gaya yang berbeda. Wajahku yang menempel di kontol anakku membuatku semakin terbakar oleh nafsu ini.

“nakk…mamah mau kamu…”, Pintaku pada Evan dengan wajah yang pastinya terlihat sayu.

Anakku yang sedang ku kulum tadi kontolnya dengan cepat menyuruh pria tersebut yang ternyata pak Tirta untuk menyingkir terlebih dahulu. Tanpa mengeluarkan sebuah protesan pak Tirta mencabut kontolnya dan digantikan oleh kontol anakku yang kini memenuhi lubang tempat dia di lahirkan dulu.

Urat kontol Evan bisa aku rasakan tengah menggesek dinding lubang memekku ini dan karna saking penuhnya aku merasakan bahwa selangkanganku menggelembung ketika mulai ia gerakan. Pelan namun gerakan Evan mempunyai ritme sodokan yang kuat.

“Ssshh… Pelan-pelan, nakkk….”, Desahku saat itu sehabis dihajar kasar oleh kontol pak Tirta. Aku berusaha menikmati kenikmatan yang tercipta dari persetubuhan terlarangnya ini. “Oouuggghhhhh … Enak banget, naakkk….teruussss… Enaaaak….”

Walau awalnya Evan melakukannya dengan pelan tapi setiap sodokan yang ia kasih semakin bertambah dan akhirnya ritmenya menjadi cepat. Sodokan kontol Evan yang begitu bernafsu itu terasa membuat memekku merasakan ngilu tapi tak mengurangi kenikmatan yang ada justru rasa ngilu itu seperti menjadi bumbu melengkap dalam kenikmatan yang sedang aku rasakan. Tubuhku sampai dibuat menggelinjang dan bergetar karna rasa nikmat itu.

Kedua tanganku yang bertumpu di ranjang pijat kecil ini, aku merasakan sensasi yang benar-benar berbeda. Rasanya sangat nikmat ketika aku melakukan persetubuhan terlarang dengan anakku sendiri dan di tonton oleh orang lain. Sungguh nikmat rasanya.

Dalam posisi menungging, aku dapat merasakan kenikmatan yang sangat sempurna. Nikmat yang lebih nikmat daripada kontol-kontol yang pernah menggauliku apalagi ketika aku merasakan lubang memekku yang sempit ini di sodok, di tusuk oleh batang kontol anakku sendiri yang memang ukurannya paling besar yang pernah aku rasakan. Awalnya aku dulu tak menyangka dan tak mengakui bahwa anakku mempunyai kontol yang sangat diinginkan kaum hawa, tapi aku akhirnya bisa menerima kenyataan bahwa kontol anakku sendirilah yang aku inginkan selama ini yang membuat memekku merasa menjadi sangat gatal untuk dipuaskan oleh kontolnya.

“Ayo genjot mamah terus, nak.. Teruuss genjoott….”, Racauku sambil ku coba melihat ke bawah bagaimana kontol anakku keluar masuk di memek mamah kandungnya sendiri dan disaat itu aku bisa melihat dengan jelas buah zakar anakku terumbang-ambing lalu menabrak selangkangkanku.
“Enak banget, maaaaahhh…. oouugghhhssss…. Memekmu…”, Racau anakku yang kini sudah memainkan kedua payudaraku dengan cara meremasnya.
“Ssshh….iya, nak…nikmati memek mamah ini… Ayo….nakkk….Sodok yang kuat…. Aakkkhhhh…. Aakkkhhhh….”

Aku sudah tak peduli lagi dengan keringat yang mulai membanjiri tubuhku ini, bahkan peju yang Reni oleskan tadi rasanya sangat lengket di tubuhku bercampur dengan keringat. Aku tak memedulikannya.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

“Entot terus mamahmu ini, nak…ennnakkkk… Siram rahimku dengan peju mu yang banyak…buat lubang tempat kamu di lahirkan dulu menjadi tempat untuk anakmu dilahirkan…mamah…aaakkkkhhhhss….Aaaakkkkhhh…mamah mau menampungnya….”, Aku benar-benar sudah terlena dengan keperkasaan anakku ini.

“Aaakkkhhhh…Aaakkkhhhh…mamahku memang benar-benar LONTEEE….”
“oouuggghhhhh…. Oouuggghhhhh…. sssshhhhh…. Iya, nak…mamah….mamah memang LONTE…. mamah memang LONTEEEEEmuu……”

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

“Evan mau keluar, maahhhh….”, Desah anak semata wayangku sambil kurasakan genjotannya semakin cepat. ”

CROT!!! CROT!!! CROT!!!

Setelah puas menyemprotkan semua isi buah zakarnya, Evan menarik lepas kontolnya sehingga terlihat lelehan peju nya mengalir dengan banyak dari lubang memekku.

Seperti tak mau memberiku waktu mengambil nafas sejenak dengan bebasnya, pak Tirta mengambil posisi Evan sambil mengarahkan kontolnya ke selangkangkanku. Dimasukkannya kembali ke dalam memekku dan langsung ia genjot memekku ini dengan bernafsu seolah-olah dirinya sudah sangat lama tak merasakan apa yang namanya bersetubuh. Walau batang kontolnya masih kalah dengan punya Evan tapi untuk masalah panjang lebih menang punya pak Tirta ini yang dimana setiap sodokan yang ia berikan mampu membuat rahimku kalah telak. Kontolnya selalu sukses menampar keras dinding rahimku.

“Aaakkkhhhh….akkkkhhhh… Gillaaa, pak….gillaaa….rahimku rasanya di tampar sama kontol bapak. Aaaakkkkhhh….ssshhhhh….Evan….tolonggiiinn ma…maahhhh…mamah”
“enak banget, bu….ssshhhhh….kalo ibu jadi istri saya pasti bakal saya genjot tiap hari sampai puas. Aaakkkkhhhhss….gimana bu, ibu jadi istri saya saja ya. Ssshhhh….”
“ga mau, pak… Saya…saya Cuma milik anak saya saja. Saya Cuma mau anak sayyyaaaa….aaakkkkhhhhss….enak, pakk….ssshhhhh…”
“Saya memang enak samaa…kontol bapak, tapi lebih enakkan punya anak saya…”

Mungkin karna merasa kesal atau gimana saat mendengar jawabanku, pak Tirta menggenjot memekku makin keras dan kini kedua payudaraku juga ia remas dengan kencang. Namun tak lama karna Evan bersuara dan ia meremas payudaraku tak sekeras tadi, namun genjotannya masih saja kuat menumbuk selangkangkanku ini.

“Aaakkkhhsssss….ssiaaallll….bapak ga tahan, bapak mau kkeluaarrrr….ssshhhhh….”, racaunya dengan menyentak-sentakan kontolnya dengan cepat.

“Jangan bapak keluarin di dalam, hanya saya yang boleh dan berhak buat keluar di dalam sana. Terserah mau bapak keluarin di mana yang penting jangan di memek”, ucap anakku yang membuatku semakin dibuat hangat hati ini. Walau ia mengizinkan pria lain untuk menikmati sempitnya memekku tapi ia tak mengizinkan untuk menumpahkannya di dalam. Aku tahu, aku tahu karna Evan lah yang ingin menghamiliku. Menghamili ibu kandungnya dan aku akan menerimanya dengan senang hati karna aku…aku sepertinya mencintai anakku sendiri sekarang.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Genjotan pak Tirta makin cepat dan dalam beberapa sentakan terakhir demgan keras, ia cabut langsung kontolnya lalu menduduki kedua payudaraku lalu, CROT!!! CROT!!! CROT!!! Ia semburkan semua cairan peju nya ke atas permukaan kulit cantikku ini. Jumlahnya ya ampun, banyak banget kaya peju punya tiga orang. Mata, hidung, bibir sampai rambut atasku semuanya di tembak oleh peju nya.

Apakah bagian kedua akan ada gangbang atau tidak. Silahkan tebak dengan imajinasi agan. Hehehe…

.
.
.

*Bersambung…

Daftar Part