web hit counter

Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 4

0
983

Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 4

Kepuasan Seorang Janda Bersama Pria Tua

Widya Ayu Ningrum (32 Tahun)

-Janda
-Mempunyai Anak satu bernama Evan
-Memiliki tubuh yang membuat para lelaki ingin menjamahnya

.
.

Tiga perkara bagi seorang pria meliputi Harta, Tahta dan Wanita. Hal tersebut memang tak bisa kita pungkiri lagi kebenarannya. Apalagi soal masalah wanita, pria akan sangat mendambakan hal tersebut. Mendapat seorang pasangan yang cantik dengan kulit mulus dan paras yang cantik yang terdapat nilai plus bersamaan dengan mempunyai tubuh yang ideal. Tapi angan hanyalah angan. Tiap individu mempunyai karakteristik dan bayangannya masing-masing, tapi semua itu tergantung pada benang hidup yang mengikat pada manusia tersebut

Tiga perkara dunia bagi seorang Pria pada umunya memang hal tersebut, sedangkan untuk Wanita? Mungkinkah sebaliknya? Harta, Tahta dan Pria?

Bukan hanya pria saja yang mendambakan mempunyai pasangan yang bagi menurut mata individu disebut sebagai sempurna. Seorang wanita pun juga sama akan hal tersebut. Di luar dari hal yang sudah wajar itu, bagi seorang wanita mendapatkan pasangan adalah ia bisa mendapatkan sesuatu dalam hal kepuasan batin sebagai nilai plus dari pasangan prianya. Pasangan yang dapat memuaskannya di dalam ranjang sebagai mana yang sebagian wanita inginkan.

Kembali lagi, semua sudah ada benang hidupnya masing-masing. Apa yang diharapkan hanya akan menjadi sebuah angan-angan semata atau memang hal tersebut bisa di dapatkan.

Bagi sebagian wanita mendapatkan nilai kepuasan dari pasangannya bisa mengakibatkan rasa yang kurang dalam hidupnya dan hal tersebut bisa memicu perasaan yang menyimpang atau hal lainnya. Seorang pria tak mendapatkan kepuasan dari pasangan wanitanya akan mulai melirik wanita lain sebagai jawabannya. Seperti halnya seorang pria jajan di luar dan hal itu terlihat sudah umum untuk pandangan masyarakat. Seorang pria jajan di luar dengan wanita bayaran akan tak dianggap sebagai perselingkuhan, hanya bentuk kelakuan si pria yang buruk.

Sedangkan, bagi wanita yang suka jajan di luar penilaian yang ia dapat akan jauh lebih besar. Ia akan dianggap selingkuh dan di cap sebagai wanita murahan atau sebagainya. Bukan masalah jajan untuk kepuasan. Itulah enak dan tak enaknya sosok seorang pria dan wanita.

Begitu pun dengan yang dialami Widya sekarang. Ia seorang wanita biasa yang sudah ditinggal oleh suaminya selama 3 tahun dan dalam waktu selama itu apa dia tak membutuhkan suatu kepuasan batin? Pasti ia menginginkannya. Sebaik dan sesayang apapun Widya pada suaminya, ia akan luluh juga akan sebuah kepuasan yang ia dapatkan dari seorang pria, walau kepuasan tersebut bukan dari suami sahnya.

“Aaaakkkkhhh….Aakkkhhhh…mbah….ssshhhhh”

Di bawah rimbunnya pohon bambu dan dedaunan bambu kering yang digunakan Widya sebagai alasnya untuk tiduran dengan kondisi telanjang bulat sedang di Setubuhi oleh seorang pria tua yang tengah memaju mundurkan selangkangannya ke selangkangan Widya dengan gerakan bernafsu. Di sela-sela rimbunnya daun bambu, cahaya rembulan menyinari kedua insan tersebut yang tengah menyatu tanpa sehelai benang pun mengikat di tubuhnya.

Didekat mereka terdapat dupa, kembang dan beberapa sesajen lainnya yang tergeletak. Seluruh pakaian yang Widya dan mbah Mitro kenakan juga tercecer di dekatnya.

PLOk!!! PLOK!!! PLOK!!!

Mbah Mitro memaju mundurkan kontolnya di dalam lubang surgawi Widya yang tengah mengangkang lebar di depan mbah Mitro. Bunyi kecipak basah selangkangan Widya yang tengah di tumbuk oleh selangkangan mbah Mitro mengisi alam terbuka tersebut. Desahan dan racauan turut menghiasi persetubuhan mereka di bawah rimbunnya pohon bambu di saat malam tiba.

Mbah Mitro tarik tubuh Widya untuk berganti posisi dengan menungging di hadapannya tanpa melepas keluar kontol besarnya di dalam sana. Widya yang sedari tadi terlentang dengan kedua kakinya terbuka lebar kini harus berposisi seperti merangkak di atas tumpukan daun bambu dengan sebuah kontol besar dari seorang pria tua memenuhi liang kewanitaannya.

Tubuh Widya kembali terlonjak ke depan dan ke belakang mengikuti irama sodokan yang mbah Mitro berikan pada tubuhnya. Tusukan demi tusukan yang mbah Mitro berikan membuat Widya semakin terlarut dalam persetubuhan yang terjadi. Erangan dan desahan yang Widya keluarkan semakin menambah riuh suasana malam di tempat itu.

“Ooorrrgggghhhh…sssshhhhh…. Mbah…mbah…Widya mau…keluarrrgghh…Hhhh…lagi mbah…ssshhhhh….”, racau Widya yang akan kembali merasakan nikmat untuk kedua kalinya dari persetubuhan yang mbah Mitro berikan.

“Keluarkan, bu. Sssshhhhh….keluarkan Semaumu sampai puassss….sshhhh…mbah bakal berikan kepuasan buat bu Widya…ssshhhhh…”, balas mbah Mitro dengan tetap menumbuk memek Widya dari belakang.
“Mbah bakal buat…bu Widya nikmat malam ini. Nikmati saja semuanya, bu. Ssshhhhh….nikmati kontol mbah di memekmu. Oowwsshhhh….ssshhh….”
“Aakkkhhhh…terusss mbah….terus…Aakkkhhhh…puaskan saya terus mbah. Oogggrrrhhh gillaaa….ssshhhhh….”

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

“Ibu Widya mau….mau saya bikin lebih enak? Aakkkhhhh…..sshhhh…”, tanya mbah Mitro dengan mencengkeram keras pinggang Widya untuk membantu gerakan pantatnya lebih cepat.

Widya yang pertahanannya sudah berhasil di jebol oleh mbah Mitro sedari tadi dan ia sudah larut dalam kenikmatan terlarang yang ia rasakan dari lawannya hanya bisa mengangguk menerima tawaran mbah Mitro.

Melihat jawaban Widya, mbah Mitro menghentikan gerakannya dan langsung saja Widya menoleh ke belakang menatap mbah Mitro dengan tatapan sayu seolah-olah wajahnya memberi tahu apa yang Widya rasakan, “kenapa berhenti?”. Mbah Mitro tau bahwa wanita muda di depannya sudah dalam kuasanya hanya memberi senyum yang mengandung sebuah arti. Ia menyuruh Widya untuk membenarkan posisi menunggingnya. Pikiran Widya yang tak bisa fokus tak bisa mengikuti dengan benar permintaan mbah Mitro.

“Nungging yang Bener, bu. Mbah bakal kasih apa yang belum pernah bu Widya rasakan saat ngentot demgan suami ibu. Mbah jamin ibu bakal kelojotan sampai berteriak”, ucap mbah Mitro sambil membantu Widya membetulkan posisi menunggingnya.

Mbah Mitro menekan kepala Widya hingga menyentuh tanah dan kedua bukit payudaranya mulusnya tergencet diatas alas dedaunan kering. sedangkan pantatnya ia angkat lebih tinggi dari sebelumnya. Widya yang sudah bisa mulai fokus dengan apa yang akan di lakukan mbah Mitro mulai waswas. Dadanya makin bergemuruh. Widya melihat ke arah mbah Mitro dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Wajahnya sayu dengan keringat membasahi keningnya.

“jangan, mbah saya belum pernah. Tolong pakai vagina saya saja”, ujar Widya sambil menutupi lubang pantat dengan telapak tangannya.

Pria tua tersebut sudah menduga kalo lubang pantat Widya memang masih perawan dan pasti Widya akan menolak hal tersebut. Mbah Mitro tersenyum ke arah Widya sambil mengelus rambutnya dengan lembut dan tangan satunya mengocok pelan kontolnya yang basah oleh cairan kewanitaan Widya yang sudah keluar dua kali menyembur seluruh batang kontol mbah Mitro.

“maka dari itu, bu. Pemasangan yang dilakukan justru akan jauh lebih banyak kemanjurannya setelah melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh yang dipasangkan pelaris tersebut”, tipu daya mbah Mitro semata-mata hanya ingin merasakan sempitnya lubang pantat Widya yang belum pernah diperawani siapapun.
“Lagian awalnya saja yang sakit, lama kelamaan saat pantat ibu mulai terbiasa oleh kontol saya, bu Widya pasti akan mendapatkan hal baru yang belum pernah bu Widya rasakan selama ini. Ini termasuk ritualnya, bu dan demi kelancaran pusaka yang akan ibu pakai nanti”

“Ssshhhhh…..”, desah Widya saat jari mbah Mitro berpindah mengelus lubang pantatnya.

“Tapi pelan-pelan, mbah soalnya suami saya ga pernah masuk ke dalam tempat itu”, ucap Widya mulai luluh.
“Bu Widya tenang saja mbah bakal lakukan secara pelan-pelan supaya ibu tak terlalu merasakan sakit”, ucap mbah Mitro dengan senyum semringahnya karna ia telah di perbolehkan untuk menikmati lubang pantat Widya yang menggiurkan itu.

Mbah Mitro berpindah ke depan Widya, memerintahkan wanita tersebut untuk membasahi terlebih dahulu kontolnya dengan air liur Widya. Sambil sesekali batang kontol besar tersebut di pukulkan pada bibir serta hidung Widya.

“sepong terlebih dahulu kontol mbah ini, bu. Bikin kontol mbah basah sama air liurmu supaya tak terlalu sakit saat mbah masukkan ke dalam pantat bu Widya”

Widya menuruti perintah mbah Mitro untuk memasukkan batang besar tersebut ke dalam mulutnya. Ia buka mulutnya dan langsung di masukkan bayang besar tersebut oleh mbah Mitro hingga mentok ke dalam kerongkongan. Ia gerakan sedikit kontolnya bermain di dalam mulut Widya hingga seluruh kontolnya basah oleh air liur Widya.

PUAH!!!

Mbah Mitro keluarkan kontolnya dari mulut Widya dan kembali ia pukulkan pelan ke bibir dan wajah Widya. Ia berdiri memosisikan badannya di belakang pantat Widya yang tengah menungging. Gerakan mulutnya seperti berkumur lalu mbah Mitro dekatkan kepalanya ke pantat Widya kemudian air liur yang ia kumpulkan itu diludahkannya diatas lubang yang akan ia masuki tersebut.

“Siap ya, bu. Mbah bakal mulai masukin, bu Widya tahan dan rileks aja biar proses masuknya tak terlalu sakit”, dibawah sana Widya hanya mengangguk kecil.

“memek dan mulutmu sudah mbah rasakan, sekarang tinggal lubang pantatmu ini mbah perawani menggunakan kontol mbah ini. Dengan begitu seluruh lubang di tubuhmu sudah mbah rasakan semuanya Widya ku yang cantik. Rasakan kontol mbah ini. Dengan kontol besar mbah, mbah bakal buat bu Widya kelojotan malam ini sampai berteriak meminta ampun. Hahahaha…”, batin mbah Mitro saat menempelkan ujung kontolnya di lubang pantat Widya.

Perlahan mbah Mitro mulai mendorong masuk kontolnya menembus lubang pantat Widya yang masih perawan. Senti demi senti saat kontol besar mbah Mitro memasuki lubang pantatnya untuk pertama kali, Widya mengerang merasakan sakit yang amat luar biasa di pantatnya. Ia mengerang menahan sakit sambil mengepalkan tangannya dengan sangat erat, matanya terpejam serta seluruh tubuhnya menjadi tegang. Tanpa disadari saat proses masuknya kontol besar mbah Mitro, Widya mengeluarkan air matanya saat menahan sakit yang di terimanya tersebut.

“SAAKKIITTTT MBAAHHH….UDAH HENTIKAN, SAYA GA KUAT…AAAKKKKHHH…TERLALU BESAAR…PANTAT SAYA SAKITTTT…AAAKKKKHHH….HENTIKKANNN MBAHH….”

Lolongan keras Widya membelah keheningan malam di dalam hutan. Lolongan kerasnya tak di pedulikan oleh mbah Mitro yang sedang merasakan nikmat yang teramat saat kontol besarnya mulai masuk setengahnya menerobos masuk ke dalam lubang pantat Widya. Ia tau betul bahwa wanita di depannya sedang mengerang merasakan sakit dengan tubuhnya yang menggeliat kesana kemari saat kontolnya ditusukkan secara perlahan. Ekspresi yang ditunjukkan tubuh Widya justru membuat mbah Mitro tersenyum senang dan bertambah nafsu untuk terus menusuk masuk kontolnya hingga sepenuhnya tertelan pantat Widya.

“Rileks, bu. Lemaskan otot pantatmu. Lemaskan”

Di cengkeramnya kedua pantat Widya sambil terus memajukan kontolnya untuk masuk sepenuhnya ke dalam pantat Widya. Tinggal tersisa seperempat nya yang belum masuk di dalam lubang pantat Widya. Kemudian mbah Mitro menghentikan proses penetrasinya. Dilihatnya Widya mengatur nafasnya yang tersengal, punggungnya naik turun dengan rasa lega yang Widya dapatkan karna bisa mengambil nafas.

“Bagaimana, bu?”, tanya mbah Mitro.
“Terlalu sakit, mbah. Penis mbah Mitro terlalu besar buat masuk ke dalam sana. Tolong hentikan, mbah. Masukkan ke dalam vagina saya saja. Saya ga kuat kalo harus menampung semua penis mbah yang besar itu”, ucap Widya yang merasa tak bisa melanjutkan kegiatan mbah Mitro untuk memakai lubang pantatnya.
“Kok penis sama Vagina, bu. Coba bu Widya katakan kontol sama memek, nanti saya hentikan”, ucap mbah Mitro berharap supaya Widya mengucapkan kata-kata yang vulgar.
“Ko…kontol sama memek, mbah”, ucap Widya merasa malu saat mengucapkannya.

Mbah Mitro tersenyum, “bagus, bu. Sekarang…kalo bu Widya mau mbah buat berhenti memasuki lubang pantat bu Widya ini. Bu Widya harus memintanya sama mbah, tapi…dengan ucapan yang kotor”. Mbah Mitro ingin melecehkan ibu muda tersebut untuk kepuasannya.

Widya terlihat tak menjawab. Ia hanya diam mengatur pola nafasnya yang berantakan tadi. Karna terlalu lama menanti jawaban Widya, mbah Mitro mulai melakukan penetrasinya ke dalam lubang pantat Widya. Widya yang panik langsung bersuara kembali.

“Iya, iya mbah. Tolong hentikan jangan masuk. Saya bakal meminta dengan perkataan yang mbah Mitro minta”, Widya menjawab sambil menahan perut mbah Mitro dengan tangannya. Tarikan nafas Widya lakukan sebelum mengucapkan hal kotor dan vulgar yang akan ia keluarkan dari mulutnya sendiri.

“Tolong jangan masuk di lubang pantat saya lagi, mbah. Masukan saja kontol mbah di memek saya”, ucap Widya dengan wajah memerah akibat rasa menahan nafsu yang bercampur dengan rasa malu yang ia rasakan secara bersamaan.
“jangan masukin seperti ini?”

“AAAKKKHHH!!!”

Jerit Widya saat mbah Mitro malah melesatkan kontol besarnya dengan keras ke dalam lubang pantat Widya hingga masuk seutuhnya menjebol pantat sempit Widya. Bukannya menepati janjinya, mbah Mitro sekarang malah menggerakkan keluar masuk kontolnya di pantat Widya dengan sedikit cepat. Widya yang mendapatkan perlakuan tersebut setelah dirinya dilecehkan untuk mengucapkan kata-kata vulgar hanya bisa mengerang sakit.

Tanpa menepati janjinya dan tanpa menghiraukan erangan sakit Widya, mbah Mitro terus menggerakkan kontolnya mengaduk-aduk pantat Widya tanpa memberi waktu bagi pantat Widya beradaptasi dahulu dengan semua batang kontol besar milik mbah Mitro yang telah masuk di dalamnya.

Mbah Mitro mengeluarkan desahan nikmat dari mulutnya saat menikmati betapa sempitnya pantat Widya yang tengah di perawani, sedangkan Widya sendiri mengerang kesakitan dengan gerakan kontol mbah Mitro yang masih dibilang pelan tapi karna hal tersebut hal baru baginya dan ukuran kontol yang tengah menikmati pantatnya terlalu besar untuk masuk.

“Aaaakkkkhhh…beruntungnya mbah bisa perawani pantat bu Widya ini. Aaaakkkkhhh… Tahan dulu, bu. Ssshhh…rasa sakit hanya sebentar, nanti ibu Widya bakal merasakan nikmat yang buat bu Widya ketagihan. Nikmati saja, bu. Sshhhh….”

Widya meremas dedaunan yang terserak di dekatnya menahan rasa sakit yang sedang dideritanya pada bagian pantat. Ia gelengkan kasar kepalanya sambil menangis menahan sakit dengan tubuhnya yang bergerak maju mundur oleh sodokan yang ditimbulkan oleh mbah Mitro dari belakang.

Di tengah kegiatannya menyodomi Widya, mbah Mitro meraih sebuah wadah kecil yang tak jauh dari jangkauan tangannya. Sambil terus memompa pantat Widya, mbah Mitro membuka wadah kecil tersebut yang berisi minyak. Bukan minyak biasa, melainkan minyak yang ia racik sendiri dengan bahan-bahan tertentu di dalamnya. Minyak tersebut dioleskan pada bibir memek Widya dan mbah Mitro mengoleskan ke dalam lubang memek Widya.

Pantat Widya terus saja ditumbuk oleh kontol mbah Mitro. Suara hewan kecil hutan beserta erangan Widya dan desahan mbah Mitro saling bersahutan di malam yang dingin itu, namun terasa panas oleh kedua manusia berlainan kelamin tersebut. Rimbunan pohon bambu menjadi saksi dimana sosok Widya tengah menungging dan disodomi oleh mbah Mitro yang lebih tepatnya seperti ayahnya sendiri tengah mengeluar masukkan kontol besarnya menyumpal pantat Widya.

Beberapa menit setelah memeknya di olesi minyak oleh mbah Mitro. Widya merasakan gatal yang luar biasa dan rasa panas pada memeknya. Di tambah lagi pantatnya sedang berada sebuah kontol besar yang tengah keluar masuk disana, Widya menjadi kalang kabut dibuatnya. Dengan rasa aneh yang menyerangnya, Widya meletakan tangannya sendiri pada memeknya dan ia gunakan untuk menggosok bibir memeknya. Mbah Mitro yang mengetahui hal tersebut tertawa sambil terus memompa pantat Widya.

“nikmat kan, bu sekarang. Hahaha…”, ucap mbah Mitro merasa puas telah menaklukkan Widya.
“Mau saya kasih benda yang bisa bantu ibu memuaskan memeknya? Ssshhhhh….”, sambung mbah Mitro sambil mengambil sesuatu di dekatnya.

Sebuah kayu berbentuk lonjong dan berukuran lebih besar dari kontolnya di pegang oleh mbah Mitro dan di berikan ke Widya. Widya yang sudah larut oleh permainan mbah Mitro dan rasa sakit yang ia rasakan tadi telah berubah menjadi rasa nikmat langsung menerima benda pemberian mbah Mitro tersebut.

Widya mencoba memasukkan kayu lonjong besar itu ke dalam memeknya, namun tak berhasil karna ukurannya yang besar. Mbah Mitro yang mengetahui Widya tengah kesusahan membantu memasukkannya dengan sedikit memaksakannya untuk masuk.

“AAARRRGGGHHHH!!!”, Lolong nikmat Widya saat kayu tersebut bisa masuk. Sekarang kedua lubangnya terisi penuh oleh benda besar. Dengan tenaga lemasnya, Widya menggerakkan sendiri benda tersebut untuk mengocok memeknya yang sudah sangat basah.

“Aaaakkkkhhh….enak….Aakkkhhhh…kenapa mbah Mitro lakukan ini sama saya. Ssshhhhh…ini terlalu nikmat, mbah…Aakkkhhhh….ssshhhhh….”
“mbah tau kalo bu Widya ini punya potensi menjadi wanita binal. Sshhhh….mbah hanya membantu mengeluarkan kebinalanmu saja, bu. Aaaakkkkhhh…nikmatnya ini pantat”

PLAK!!!

Sebuah tamparan mendarat di pantat Widya hingga si pemilik menjerit pelan. Namun hal tak di duga terjadi, dimana tamparan yang dilakukan oleh mbah Mitro malah mengantarkan Widya ke dalam orgasmenya yang ketiga kalinya. Rasa nikmat yang Widya rasakan tak bisa diungkapkan oleh kata-kata. Hanya sebuah lolongan panjang yang ia tunjukan. Badanya gemetar demgan hebat, punggungnya naik turun hal tersebut membuat kontol mbah Mitro yang tengah menikmati pantat Widya merasakan bahwa kontolnya serasa semakin terjepit di dalamnya.

Saat orgasme yang terjadi pada Widya terlalu nikmat hingga kayu lonjong berukuran besar yang menyumpal memeknya ikut terlepas karna kuatnya orgasme yang Widya rasakan. Saat kayu lonjong tersebut jatuh ke tanah, cairan kewanitaan Widya menyembur keluar membasahi paha mbah Mitro. Ternyata Widya mendapatkan Squirt yang aman nikmat.

“OOORRRGGGHHHH….NIIKKMAATTTGGGHHHH…SAYA KELUAR….AAAKKKHHHH!! SAYA KENCING MBAHHHH…AAAKKKKHHHH”

Mbah Mitro kembali menampar pantat Widya berulang kali hingga pantat mulus Widya menjadi merah akibat tamparannya. Tanpa memberi jeda saat Widya menikmati orgasmenya, mbah Mitro terus menggenjot kontolnya pada pantat Widya, malah kecepatannya ditambah sehingga Widya kembali mengerang lebih liar dibuatnya.

“BAJINGAN KAMU MBAHHHHGGGGHHHH… INI ENAK BANGET….AAAKKKKHHH….”, racau Widya dengan ucapan kasar memaki mbah Mitro. Sedangkan mbah Mitro malah tambah semangat membuat Widya menderita dalam rasa nikmatnya.

“bu Widya kaya pelacur sekarang. Ssshhhhh… Keluar terus kaya pelacur kamu, bu. Oowwsshhhh…nikmatnya”, racau mbah Mitro demgan menyebut Widya sebagai Pelacur.

“SAYAHHH…KAYA PELACUR GARA-GARA, MBAH…AAAKKKKHHH….BAJINGAN KAMU MBAH….SSSHHHH”, umpat Widya menikmati orgasme panjangnya yang masih menyerangnya.

Diremasnya kedua payudara Widya yang menggantung dengan bernafsu oleh mbah Mitro. Kontolnya masih keluar masuk menumpuk pantat Widya dengan keras sambil memejamkan mata menikmati keluasan yang ia dapatkan dari wanita muda yang sedang ia tunggangi seperti kuda betina.

HHHHAAAHHHH!!! HHHAAAHHHHH!!!

Mungkin karna merasa kasihan dengan Widya, akhirnya mbah Mitro menghentikan genjotan kontolnya pada pantat Widya dan memberi waktu bagi Widya untuk mengambil nafas dan menikmati orgasme panjang yang menyerangnya demgan mencabut kontolnya.

PLOP!!!

Keluarnya kontol mbah Mitro pada pantat Widya meninggalkan sedikit jejak dengan terbukanya sedikit lubang pantat Widya dari sebelumnya, tapi sedikit demi sedikit lubang tersebut mulai kembali ke dalam bentuk aslinya.

Dibiarkannya tubuh Widya tengkurap lemas diatas tumpukan daun dengan memeknya yang basah kuyup oleh cairannya sendiri, dimana sebuah kayu lonjong berbentuk seperti kelamin pria kembali dimasukkan ke dalam memek Widya yang tengah berkedut oleh mbah Mitro. Sementara mbah Mitro kini hanya berdiri memandangi tubuh lemas Widya sambil mengocok kontolnya yang mempunyai rambut kemaluan yang sangat lebat itu.

Di saat Widya tengkurap dalam lemasnya dan mbah Mitro tengah memandangi Widya sambil mengocok kontolnya, ponsel Widya berbunyi. Mbah Mitro menghampiri tempat pakaian Widya yang terserak di tanah. Saat dilihat ternyata panggilan dari ibu Nonik. Mbah Mitro mengetahui siapa Nonik tersebut karna dulu wanita tersebut pernah menemani salah satu temannya yang bernama Santi untuk melakukan pemasangan pelaris juga. Mbah Mitro menerima panggilan bu Nonik tersebut.

“Halo bu Widya. Ini saya Herman. Saya mau tanya apa minggu depan bu Widya bisa buatkan saya katering. Saya perlu buat acara desa”, bukan suara perempuan yang di dengan oleh mbah Mitro, melainkan suara seorang pria yang ditebaknya sebagai suami dari bu Nonik.

Dengan ide gilanya yang tiba-tiba muncul mbah Mitro tersenyum dengan menjawab pertanyaan dari suami bu Nonik tersebut.

“Bu Widya sedang kelelahan sekarang. Apa pak Herman ingin berbicara dan ingin mendengar suara bu Widya?”
“iya, pak tolong berikan sama bu Widya, saya mau ngomong soalnya. Tapi bapak ini siapa ya?”
“saya hanya seseorang yang membantu bu Widya sampai lemas”, ucap mbah Mitro.
“Maksudnya sampai lemas, pak?”, tanya suami bu Nonik, Herman dengan bingung.
“silahkan tunggu dan dengarkan sendiri saja, pak”

Mbah Mitro berjalan mendekati Widya yang masih dalam posisinya. Ia berikan ponsel tersebut pada Widya yang diterimanya dengan lemas. Saat Widya mulai berbicara dengan suami tetangganya itu, mbah Mitro membuka kedua paha Widya dan menempelkan ujung kontolnya di memek Widya. Widya yang tau apa yang akan dilakukan mbah Mitro langsung mencegah dengan tangannya sambil memberi kode menggeleng karna dirinya sedang berbicara bersama suami tetangganya itu. Namun mbah Mitro tak memedulikannya karna niatnya memang menyetubuhi Widya sambil Widya tengah berbicara dengan tetangganya itu.

BLES!!!

“EEEGGGHHHHH!!!!”

“Bu Widya kenapa?”, tanya Herman.
“Ga papa, pak. Untuk masalah!!… Katering minggu depan saya bisa buatkan, pak”

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Mbah Mitro menggenjot memek Widya dengan cepat dan bertenaga sehingga mau tak mau Widya harus menutup mulutnya supaya suaranya tak terdengar oleh Herman. Gempuran di selangkangannya sungguh membuatnya tersiksa. Widya ingin berteriak dalam desahannya tapi hal itu tak bisa dilakukan olehnya karna Herman bisa tau apa yang sedang ia lakukan bersama mbah Mitro sekarang.

Tangan mbah Mitro tak tinggal diam saja, ia arahkan kedua tangannya meremas bukit mengkel milik Widya. Dimainkan kedua putingnya sambil sesekali ia sentil puting itu sehingga tubuh Widya melonjak dalam menahan suaranya.

“Iya, pak. Malam…”, percakapan Widya dan Herman berakhir.

Karna rasa nikmat yang sedari tadi ia tahan selama berbicara dengan Herman, Widya melempar ponselnya ke sembarang arah dan meletakan kedua tangannya diatas tangan mbah Mitro yang sedang meremas payudaranya. Desahan kini mulai terdengar kembali dari mulut Widya yang selama ini ia gunakan untuk mengucapkan hal-hal baik. Desahannya berubah menjadi racauan dikala gerakan kontol mbah Mitro keluar masuk dengan cepat dan bertenaga kembali sehingga tubuhnya ikut tersentak- sentak. Payudaranya yang sedang diremas juga tak luput dari goyangan yang di timbulkan oleh sodokan kuat kontol mbah Mitro pada memeknya. Racauan liar Widya menggambarkan betapa nikmatnya persetubuhan yang ia terima itu. Rasa nikmat dari kontol seorang pria tua yang ia panggil sebagai mbah Mitro.

Ia remas payudaranya sendiri demgan keras menahan rasa nikmat yang menjalar keseluruhan tubuhnya. Badanya menggeliat. Nafasnya mulai tak bisa ia kontrol dan mulutnya yang sedang ia gunakan untuk mengeluarkan racauan dibarengi untuk mencari udara.

Tubuhnya dan kenikmatannya sudah dikuasai sepenuhnya oleh mbah Mitro. Remasan di payudaranya sendiri sampai mengakibatkan kulit mulus payudaranya memerah. Kepalanya ia gelengkan ke kanan dan ke kiri mencoba meresapi rasa nikmat yang dia dapatkan. Sebuah rasa nikmat yang terus-terusan ia dapatkan dari kontol pria tua yang sedang menyetubuhinya dengan buas.

“Aaaakkkkhhh….enak kan, bu. Enak?! Ssshhhhh”, tanya mbah Mitro disela genjotan cepatnya di dalam memek Widya.
“Iyaaahhh…enakkk…ssshhh…teruss mbah. Terus sodok memek Widya…Aakkkhhhh…enakkk….”

Mbah Mitro menempatkan kedua kaki jenjang Widya pada pundaknya sehingga posisinya kini menggempur memek Widya dari atas. Mata mbah Mitro menatap lekas wajah Widya yang tengah mengerang kenikmatan.

PLAK!!!

Ditamparnya pipi Widya lumayan keras. Widya terus mendesah dan mengerang, tetapi matanya mengeluarkan air mata yang mengalir ke pelipisnya. Hidungnya memerah dan seperti seseorang yang sedang pilek. Hal tersebut menandakan bahwa Widya disetubuhi oleh mbah Mitro dalam kondisi nikmat tapi dirinya menangis.

“Rasakan kontol mbah, bu. Rasakan kontolku Pelacur. Aakkkhhhh….ssshhhhh….”, umpat mbah Mitro yang juga merasa kenikmatan saat menyetubuhi Widya dengan kasar.
“Aaaakkkkhhh…ssllurrrpp…Aakkkhhhh…saya…saya bukan pelacur, mbah. Ssllurrrpp!!”, sanggah Widya bahwa dirinya bukan seorang Pelacur seperti yang mbah Mitro utarakan terhadapnya sambil menghirup lendir di hidungnya karna menangis.

“Bu Widya, Pelacur!!! PLAK!!!… Bu Widya, Pelacur!!! PLAK!!!”, Umpat mbah Mitro yang terus terusan menyebut Widya seorang Pelacur sambil menampar pipi Widya.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

“Huuuuhhuu…saya bukan…Pelacur. hhuuu …hhhuuuu….”, tangis Widya pecah bersamaan dengan rasa nikmat yang menyerang tubuhnya.

Gerakan pantat mbah Mitro pada memek Widya semakin buas dan cepat mencoba mencapai kepuasaan yang di cari dari memek dan tubuh Widya yang ia kejar sedari tadi. Di tumbuknya memek Widya dengan kuat sampai menimbulkan suara benturan kulit dan suara becek memek Widya lebih keras dari sebelumnya.

Sembari memeknya di genjot dengan celat dan kuat, mulut Widya di lumat bernafsu oleh mulut mbah Mitro. Dijilatnya wajah Widya dengan buas serta liurnya yang menetes seperti hewan buas menetes di wajah cantik Widya yang tengah menangis dalam nikmatnya.

Badan Widya dan mbah Mitro tengah bersatu dalam telanjang telah banjir oleh keringat persetubuhan panas mereka. Dedaunan kering serta tanah menempel pada tubuh Widya yang berkeringat itu. Dalam lumatan dan jilatan pada wajahnya, Widya kehabisan nafas. Mulutnya yang membuka mencoba mencari udara untuk masuk ke paru-parunya malah disumpal oleh mulut mbah Mitro sambil lidahnya bermain di di dalam mulut Widya. Nafas maupun air liur mereka saling bertukar di dalam sana.

“Aaaakkkkhhh….Aaaakkkkhhh….Aakkkhhhh….”, desah mbah Mitro di sela lumatannya.

“Ampun, mbah…Aakkkhhhh…aampuunn….Aakkkhhhh…aampuunn..”

“Sebentar lagi proses…pemasangan selesai, bu. Saya bakal isi memek ibu pakai peju mbah. Aaaakkkkhhh…mbah bakal tanamkan pusaka pelaris ini….ke dalam rahimmu lewat peju mbah. Aakkkhhhh…Aakkkhhhh….”
“cepat selesaikan, mbahhhh…saya sudah ga kuat lagi. Aakkkhhhh…”, ucap Widya dengan tubuhnya mulai bergetar dan sesaat kemudian.

“SAYAAA…KELUAARRR MBAAHHH!!! AAAKKKHHHH!!!”, lolong keras Widya saat orgasme kembali menerpa dirinya dengan hebat.

Mbah Mitro yang sebentar lagi juga akan mencapai orgasmenya terus memompa memek Widya tanpa mengurangi ritme pompaannya. Dengan nafas kasar mbah Mitro terus menumbuk memek Widya dengan cepat dan bertenaga. Dibawahnya tubuh wanita yang tengah bergetar hebat merasakan gelombang orgasme tak di pedulikan oleh mbah Mitro. Ia terus saja memfokuskan gerakannya untuk memompa keluar peju nya.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Dengan menghentakkan pantatnya dengan keras ke arah selangkangan Widya, mbah Mitro memuntahkan bermili-mili peju nya mengisi rahim Widya dengan keras menabrak dinding rahim tersebut. Seiring kedutan pantat yang mbah Mitro lakukan, ia menembakkan peju nya.

“AAKKKHHH!!! INI PEJU MBAH, BU. TERIMA SEMUA DI RAHIMMU. MBAH BUAT RAHIMMU PENUH DENGAN PEJU MBAH INI. TERIMA SEMUANYA, WIDYA SAYANG!!! AAAKKKHHHH!!!!”

“AAAKKKHHHH!!!”, Lenguh Widya karna kuatnya semburan peju mbah Mitro menghantam dinding rahimnya.

Dengan masih membiarkan kontolnya di dalam memek Widya, mbah Mitro ambruk mendekap tubuh Widya dengan kuat. Diciumnya aroma keringat persetubuhan mereka. Persetubuhan yang Widya alami telah berakhir, Widya dengan lega menikmati sisa gelombang orgasmenya sambil sesekali masih merasakan kontol mbah Mitro berkedut di dalam memeknya. Ia ambil nafasnya yang kacau dibawah tindihan tubuh mbah Mitro.

.
.

Setelah beristirahat untuk mengembalikan tenaga. Mbah Mitro menyuruh Widya untuk bangun dari posisinya. Widya yang masih sedikit merasa lemas dan tubuhnya serasa pegal hanya menurut apa yang mbah Mitro suruh.

Widya membersihkan tubuhnya dari dedaunan kering dan tanah dari tubuhnya. Terlihat pula pantat Widya berwarna merah dan pada kulit payudaranya terdapat banyak cupangan yang dilakukan oleh mbah Mitro. Pada bagian selangkangannya sedikit menetes peju mbah Mitro yang jatuh ke atas dedaunan kering.

Widya sambil sedikit membuka selangkangannya berjalan mendekati mbah Mitro yang sudah duduk bersila di dekat sesajen masih dalam kondisi telanjang bulat. Dirinya disuruh untuk duduk berhadapan dengan mbah Mitro.

“proses pemasangan sudah selesai bu Widya jalani. Sekarang proses selanjutnya sebagai proses penutup supaya pusaka yang telah mbah tanamkan di dalam rahim bu Widya tak menyakiti ibu ataupun hal yang bisa merugikan bu Widya lainnya”, ucap mbah Mitro.

“Sekarang bu Widya buka kakinya”, Widya kaget dengan ucapan mbah Mitro menyuruhnya untuk membuka kakinya yang tak memakai apapun. Widya berpikir bahwa mbah Mitro ingin menyetubuhinya kembali.
“Untuk apa, mbah? Apa mbah Mitro mau menyetubuhi saya lagi”, mbah Mitro menggelengkan kepalanya.
“tidak, bu. Silahkan bu Widya buka saja kakinya”

Dengan ragu Widya membuka kakinya mengangkang di depan mbah Mitro dengan memperlihatkan selangkangannya dengan bebas terpampang di depan mata pria tua tersebut. Terlihat bahwa mbah Mitro mengambil wadah kecil yang berisi minyak saat digunakan untuk mengolesi memeknya tadi. Dituangkannya minyak tersebut ke batok kelapa sedikit banyak, lalu ia mendekati Widya yang tengah duduk membuka lebar kakinya.

Dibukanya bibir memek Widya oleh tangan keriput itu. Widya merasakan antara kaget dan bingung dengan apa yang sebenarnya akan mbah Mitro lakukan. Kembali di lumurinya memek Widya menggunakan minyak tersebut dan dengan perlahan jari mbah Mitro masuk ke dalam lubang memeknya. Gerakan jari mbah Mitro bukanlah gerakan mengocok ataupun sedang memainkan memek Widya, melainkan jari keriput tersebut tengah mengorek peju yang berada di dalam lubang Widya itu.

Gerakan jari mbah Mitro di dalam lubang kewanitaannya membuat nafsu Widya mulai naik kembali. Ia pandangi sosok pria tua di depannya itu yang tengah memasukkan jarinya ke dalam memeknya sambil mengorek peju bersarang di dalamnya.

Sungguh pemandangan yang eksotis dimana wanita muda bertelanjang bulat bersama pria tua dengan posisinya sedang mengangkang didepanya, sedangkan pria tersebut sedang mengorek memeknya. Widya memperhatikan selangkangannya yang kini mengalir kembali lelehan cairan putih kental dari dalamnya. Sementara tangan mbah Mitro satunya mendekatkan batok kelapa yang berisi minyak, entah minyak apa itu mendekati bibir memeknya yang sedang mengalir cairan peju.

“Ssshhhhh….mbah…”, desah Widya saat jari mbah Mitro terus mengorek memeknya.

Ditampungnya lelehan peju yang keluar dari memek Widya ke dalam batok kelapa dan dicampurkan bersama dengan minyak tersebut. Setelah dirasa lumayan banyak, mbah Mitro menyudahi aktivitasnya.

“Sekarang peju yang mbah masukan ke dalam rahimmu sudah mbah bagi juga ke dalam batok kelapa ini dan campuran antara peju mbah ini dengan minyak akan mbah balurkan di bagian selangkangan sama di bagian payudara ibu”, jelas mbah Mitro sambil mencampur cairan peju nya yang dikeluarkan dari memek Widya dengan minyak.
“untuk apa itu, mbah? Kenapa harus seperti itu prosesnya”, tanya Widya merasa risih dengan penjelasan yang mbah Mitro berikan.

“dioleskan pada selangkangan bu Widya bertujuan supaya pusaka yang ada di dalam rahim ibu bisa betah dengan rumah barunya karna ia merasa bahwa rumah barunya itu ada bau bapaknya. Bau bapak yang dimaksud disini adalah bau peju mbah yang telah mengambil pusaka tersebut, maka mbah dianggap sebagai bapaknya dan rahim bu Widya sebagai rumahnya”, jelas mbah Mitro.
“dan sedangkan dioleskannya cairan minyak dan peju ini ke payudara ibu bertujuan supaya payudara bu Widya tetap kencang dan lembut. Ini bertujuan supaya pas bu Widya datang menemui mbah untuk memberi makan bulanan si pusaka, mbah bisa dengan nikmat memberikannya. Nikmat yang mbah maksud itu mengarah seperti kualitas. Mbah menikmati proses memberi makan pusaka tersebut, maka kualitas makanan yang dikasihkan bakalan bagus dan si pusaka bakalan betah dan akan memberikan pelaris yang maksimal”

Jelas mbah Mitro mulai mengolesi selangkangan Widya dengan cairan tersebut. Bukan hanya di bagian luar, tapi sampai masuk ke dalam memek Widya kembali.

“Sebaliknya, jika mbah tak menikmati proses itu maka makanan yang dikasihkan untuk pusaka tersebut tidaklah bagus. Kalo orang seperti kita menyebutnya makanan basi. Sipa sih yang mau makan makanan basi?”, sambung mbah Mitro.

Kini kedua tangan mbah Mitro di basahi oleh cairan tersebut dan tangannya memegang kedua bukit payudara Widya. Gerakan tangannya mulai bergerak memutar di seluruh area payudara Widya. Setelah bagian payudara Widya telah basah oleh cairan tersebut, kembali mbah Mitro mencelupkan tangannya ke dalam batok kelapa. Di remasnya payudara Widya dengan lembut. Sebuah remasan dibarengi dengan gerakan memijat sambil memelintir puting Widya sampai puting tersebut menonjol dengan keras.

“Aaaakkkkhhh…mbah!!!”, desah Widya dikala kedua putingnya di cubit dan ditarik ke depan.

“Biar tambah kenceng payudaramu, bu”, ucap mbah Mitro sambil membetot kedua puting payudara Widya lumayan keras.

Akhirnya proses terakhir tersebut telah selesai di jalankan. Widya beserta dengan mbah Mitro kembali pulang ke rumah, tapi dalam kondisi tetap telanjang bulat. Di jalan pulang yang gelap, hanya menggunakan senter sebagai alat bantu pencahayaan, mereka berjalan beriringan secara telanjang. Payudara Widya yang selalu bergerak saat berjalan, bergoyang kesana kemari dengan bebasnya. Sedangkan kontol mbah Mitro juga sama, kontolnya terumbang ambing mengikuti langkah kakinya.

Rumah mbah Mitro sudah terlihat di depan sana dan Widya memikirkan anaknya, Evan. Apakah anaknya tersebut sudah tidur atau belum dan Widya pun juga baru tersadar bahwa sebelum pergi tadi, mbah Mitro terlebih dahulu meminta bantuan pak Kanto, si tukang ojek untuk menjaga Evan selama dirinya dan Widya pergi.

Dengan kondisi telanjang bukat seperti itu pulang ke rumah pastinya bisa dilihat jelas oleh pak Kanto yang sedang di dalam rumah mbah Mitro. Pikiran Widya kini mulai campur aduk dibuatnya, namun dadanya kembali bergemuruh dan efek dari minyak beserta peju milik mbah Mitro yang dibalurkan pada selangkangan dan payudaranya mulai terasa. Pada kedua bagian tersebut Widya mulai merasakan kembali rasa panas yang menyerang.

“Sudah ngapain, mbah telanjang bareng kaya gitu. Enak ga dibagi-bagi”, ucap pak Kanto saat melihat Widya dan mbah Mitro tiba di dalam rumah.

“Biasa, habis ritual bantu bu Widya pasang pelaris. Kepingin kamu, to?”, balas mbah Mitro sambil meremas kedua payudara Widya dengan kurang ajarnya di depan pak Kanto.

“AAKKHHHH!!!”

Anehnya Widya tak bisa memprotes apa yang dilakukan oleh mbah Mitro barusan. Ia sebenarnya ingin marah, tapi entah kenapa dirinya enggan untuk bersuara saat dilecehkan seperti itu.

“bu Widya silahkan kalo mau mengecek nak Evan atau mau tidur terserah, tapi jangan pakai baju. Tetap telanjang seperti itu. Tapi sebelumnya tolong buatkan kami kopi terlebih dahulu, bu”, perintah mbah Mitro yang dengan entengnya Widya jawab dengan anggukan.

Dalam kondisi telanjang bulat, Widya berjalan ke arah kamar anaknya tidur dan kembali berjalan ke arah dapur membuatkan kopi untuk kedua pria tersebut. Sebelum Widya berjalan ke dapur, Widya dengan jelas mendengar mbah Mitro mengatakan sesuatu kepada pak Kanto.

“Kalo kamu pengen kocok aja kontolmu itu, to. Kocok aja, jangan kamu entotin bu Widya”, ucap mbah Mitro kepada pak Kanto.
“Masa gitu si, mbah. Mbah juga pasti udah pake memeknya dari tadi kan. Masa saya ga boleh ikut rasain memeknya juga, mbah”
“yaudah gini aja, kamu kocok kontol kamu itu, kalo udah mau keluar baru kamu boleh masukin ke memeknya, gimana?”
“yaudah lah, yang penting bisa pejuhin memeknya bu Widya”

Pak Kanto langsung mengeluarkan kontolnya yang sudah tegang dari balik celana panjangnya dan langsung ia kocok sambil melihat ke arah dapur tempat Widya tengah berdiri membuatkan kopi. Sementara mbah Mitro hanya melihat kelakuan pria tersebut sambil menggelengkan kepala.

Saat Widya kembali dengan membawa nampan berisi dua buah gelas berisi kopi, Widya kaget melihat pak Kanto tengah mengocok batang kontolnya yang tak jauh beda ukurannya dengan milik mbah Mitro. Dirinya merasa risih saat melihat pria tersebut mengocok kontolnya sambil melihat tubuh telanjang Widya. Dengan perasaan risih tersebut Widya tetap menyajikan kopi yang ia buat ke atas meja.

“bu Widya berdiri duduk sebelah bapak sini”, ucap pak Kanto sambil menepuk bangku disebelah nya. Widya melihat ke arah mbah Mitro yang ternyata ikutan mengocok kontolnya sambil mengangguk memberi jawaban pada Widya.

Widya merasa ada yang aneh dengan dirinya saat ia bisa menuruti perintah mbah Mitro dengan gampangnya. Widya berpikir bahwa apa yang sebenarnya terjadi padanya saat itu. Widya duduk terdiam di samping pak Kanto yang tengah melihat seluruh tubuh telanjang Widya sambil terus mengocok cepat kontolnya.

“Aaaakkkkhhh…mau keluar saya, mbah”, seru pak Kanto mempercepat kocokkan kontolnya.
“yaudah, masukin kontolmu”, balas mbah Mitro demgan entengnya.

Diangkatnya tubuh Widya dari posisi duduk oleh pak Kanto demgan cepat, lalu ia tunggingkan sedikit tubuh Widya untuk melakukan penetrasi ke dalam memek Widya.

“Apa-apaan ini, pak. Aaakkkkhhhhh!!!”

BLES!!!

Dengan sekali sentakan kontol pak Kanto masuk seluruhnya ke dalam lubang memek Widya yang becek dan masih terdapat lelehan peju milik mbah Mitro. Langsung ia gerakan demgan cepat kontolnya menyodok memek Widya dari belakang. Sambil terus mengeluar masukan kontolnya dengan cepat, pak Kanto meremas kasar kedua buah payudara Widya karna dirinya memang sudah sangat bernafsu akan tubuh Widya. Karna hal itulah kenapa pak Kanto tak mau menyia-nyiakan kesempatannya itu untuk menikmati sejenak memek Widya yang tengah di idamkannya itu.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

“Aaaakkkkhhh….pak….pellannnn….ssshhh…mbah kenapa disetubuhi pak Kanto, mbahhhh…ssshhhhh…”

Widya yang bertanya pada mbah Mitro tak dijawab, mbah Mitro malah tetap memperhatikan bagaimana dirinya disetubuhi oleh pak Kanto dengan bernafsu sambil mengocok kontolnya sendiri.

“saya pengen ngentotin ibu di depan anakmu, bu Widya. Ayo masuk ke kamar. Ssshhhhh…”, ucap pak Kanto sambil memaksa Widya berjalan ke arah kamar anaknya tidur sambil terus di Setubuhi dari belakang.
“Jangan, pak…Aakkkhhhh…saya mohon jangan. Saya ga mau. Aakkkhhhh….”, tolak Widya, namun kembali ia tak bisa berbuat banyak untuk mencegahnya. Widya terus didorong pak Kanto menuju kamar Evan tidur dengan genjotan keras kontol pak Kanto pada memeknya.

Dengan perlahan tubuh Widya yang tengah di Setubuhi oleh pak Kanto mendekat ke arah pintu kamar. Saat sudah di depan kamar, pak Kanto mendorong pintu tersebut hingga terbuka dan memperlihatkan sosok anak lelaki yang tengah tertidur diatas ranjang dengan lelapnya.

Pak Kanto menyetubuhi Widya tepat disebelah Evan tidur. Tanpa mengurangi kecepatan sodokan kontolnya, pak Kanto terus menikmati setiap inci rongga lubang memek Widya tanpa memedulikan anak tersebut akan bangun atau tidak. Justru di pikiran pak Kanto malah merasa bersyukur jika Evan bangun dari tidurnya, sehingga ia bisa mempertontonkan dirinya tengah menyetubuhi Widya di depan anaknya langsung.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Gerakan kontol pak Kanto di dalam memek Widya semakin buas dan kasar. Sebisa mungkin Widya menahan suara yang keluar dari mulutnya, namun berbeda dengan pak Kanto yang dengan tanpa pedulinya ia keluarkan suara desahan serta racauannya saat menikmati memeknya tanpa merasa khawatir.

“Jangan berisik…pak…ssshhh….anak saya…bisaaahhh…bangunn..Aakkkhhhh”, lirih Widya menahan suaranya supaya tak terlalu keras.
“Bodo amat!! Aaaakkkkhhh…bentar lagi bapak mau keluar di dalam memek bu Widya ini. Ssshhhhh….Aakkkhhhh…nikmatnya ini memek. Sshhhh…”, racau pak Kanto yang makin liar.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

“LIAHAT IBUMU INI. MAMAHMU SEDANG BAPAK ENTOTIN MALAH TIDUR, ANAK ******!!! KAMU SUKA MAMAHMU DIENTOTIN ORANG?!! JAWAB ANAK LONTE!!! BANGUN LU!!!”, racau Pak Kanto kesetanan saat merasakan betapa nikmatnya memek Widya itu. Untingnya memang kebiasaan Evan jika tidur memang susah untuk dibangunkan.

“KALO KAMU SUKA MAMAHMU DIENTOT ORANG, BAPAK BAKAL AJAK TEMAN-TEMAN BAPAK BUAT HAMILIN MAMAH KAMU RAME-RAME. BIAR BISA PUNYA ANAK LONTE KAYA KAMU!! ANJING ENAK BANGET MEMEK MU WIDYA. MEMEK MU MEMANG PANTES BUAT DI LACURIN. AAKKKHHH!!!!”

Genjotan pak Kanto kian tak beraturan racauannya kian liar tak terkendali. Memang sudah menjadi kebiasaan pak Kanto jika bersetubuh maka ia akan melontarkan kalimat-kalimat kasar pada wanitanya. Dengan meremas keras kedua payudara Widya, pak Kanto mengerang.

“BAPAK PEJUHIM MEMEK MAMAHMU INIM AAAKKKHHH!!! KELUAR….BAPAK KELUAR, WIDYA!!! AAAKKKHHHH!!! MEMEK LONTE!!! TERIMA PEJU BAPAK INI, MEMEK!!!”

CROT!!! CROT!!! CROT!!!

Pak Kanto menyemburkan peju nya ke dalam rahim Widya dengan sangat banyak dan bercampur bersama sisa peju milik mbah Mitro yang terlebih dahulu memenuhi rahim tersebut. Pak Kanto diam dalam posisinya sambil memeluk tubuh Widya dari belakang menikmati sisa-sisa peju yang keluar dari kedutan kontolnya di dalam memek Widya. Ia ciumi punggung mulus Widya sambil meremas kedua buah payudara besar dan lembut yang Widya miliki.

“puas banget bapak, bisa rasain memek kamu, bu Widya. Maaf tadi ucapan bapak kasar banget. Udah kebiasaan bapak juga kaya gitu kalo bapak merasa akan keluar. Maaf, bu”

CUP!!!

Pak Kanto meminta maaf kepada Widya atas ucapan kasar saat menyetubuhinya tadi dengan disertai ciuman pada punggung mulus Widya hingga meninggalkan tanda merah disana.

PLOP!!!

Dicabutnya kontol pak Kanto dari liang memek Widya dan langsung keluarlah lelehan cairan putih yang banyak dari dalam selangkangan Widya, mengalir jatuh ke lantai tanah rumah mbah Mitro.

HHHAAAHHHH….HHHAAAHHHH…

Nafas Widya berantakan setelah digempur oleh kontol pak Kanto dengan sangat buas. Dirinya punya tanpa diketahui ternyata telah meraih orgasme di tengah persetubuhan kasar tersebut. Badan Widya rasanya sangat lemas dibuatnya, dengan tenaga tersisa Widya mencoba untuk menegakkan badannya yang dimana masih dalam kondisi menungging di depan anaknya yang tengah tertidur.

Saat dirinya sudah berdiri tegak, ternyata dari arah belakang dirinya dipaksa untuk berposisi menungging kembali sambil kedua kakinya dibuka dengan lebar. BLES!!! Sesaat kemudian benda besar dan keras kembali menusuk dengan keras mengisi lubang memeknya. Benda keras nan besar itu keluar masuk memompa memek Widya dengan cepat.

“Aakkkhhhh….Aakkkhhhh…Aakkkhhhh…”, kali ini Widya tak dapat menahan rasa untuk tidak bersuara. Dirinya melepaskan suara desahannya di samping sang anak yang sedang tertidur pulas.

Dilihatnya sekilas ke belakang, ternyata sosok pemilik benda besar yang tengah mengaduk memeknya adalah mbah Mitro. Dengan ganasnya pria tua tersebut menggasak memek Widya untuk kedua kalinya dengan ritme yang berbeda dari pertama tadi. Di tamparnya kedua belah pantat Widya berulang kali dengan keras, karna hal tersebut badan Widya terlonjak dan juga membuat dirinya mendekati orgasme nya kembali.

PLAK!!! PLAK!!! PLAK!!!

“IYYAAAHHH…TAMPAS TERUS, MBAH…AAKKKKHHH…TAMPAR PANTAT WIDYA LAGI. WIDYA…AAAKKKHHH…MAU KELUAR!!! AAAKKKHHH”, dan orgasme yang nikmat kembali menjalar ke seluruh syaraf Widya. Badanya bergetar dengan hebat di pelukan pria tua yang tengah menyetubuhinya dengan kasar.

“dientot kasar malah keluar, bu Widya ini. Aakkkhhhh….mbah juga mau keluar, bu. AAKKKHHHH!!!! TERIMA PEJU MBAH LAGI….TERIMA PEJUHI DI MEMEKMU LAGI, WIDYA!!! AAAKKKHHH!!!”

CROT!!! CROT!!! CROT!!!

“Aakkhh….penuh memekmu, Widya. Ssshhhhh…memang memek kualitas tinggi. Aakkkhhhh….”

PLAK!!!

Sebuah tamparan keras mendarat di pantat Widya sesudah mbah Mitro mengucapkan hal tentang memek Widya.

Dicabutnya kontol mbah Mitro dengan kasar dan hal yang sama kembali terlihat dimana dari bibir memek Widya mengalir lelehan peju dari kedua pria tersebut yang bercampur di dalam sana memenuhi rongga rahimnya. Tubuh Widya masih bergetar di posisi menunggingnya itu. Pantatnya memerah karna tamparan yang mbah Mitro berikan.

Setelah kontolnya terlepas, mbah Mitro membuang tubuh Widya begitu saja ke samping ranjang yang digunakan oleh Evan untuk tidur. Kepala Widya berada tepat di depan wajah Evan. Jika Evan sadar mungkin dengan jelas Evan bisa merasakan dan mendengar hembusan nafas Mamahnya itu yang sehabis di Setubuhi oleh dua pria secara kasar. Pantat Widya yang memerah terduduk menempel di lantai tanah yang sudah tergenang oleh peju kedua pria tersebut yang mengalir keluar tadi.

“sebelum anak ibu bangun dan lihat mamahnya telanjang dengan peju yang mengalir, mending sekarang bu Widya bersihkan badannya terus berpakaian lagi terus tidur. Nanti pagi bu Widya pulang kan? Tidurlah, nanti mbah bangunkan”, ucap Mbah Mitro lalu pergi meninggalkan kamar dengan kedua kontol pria tersebut bergelantungan dengan bebas.

Widya yang sudah sangat lemas memutuskan hanya mengelap sisa-sisa peju kedua pria tersebut dengan pakaiannya. Serta Widya kembali mengenakan pakaian yang ia ambil acak dari tasnya lalu tidur di samping anaknya, Evan.

“Mantap banget memeknya, mbah. Makasih banget loh udah di ijinkan buat ikut mencicipi”, ucap pak Kanto di luar kamar sambil menikmati kopi buatan perempuan yang batu saja ia Setubuhi.

Karna rasa lelah yang Widya rasakan setelah disetubuhi dan rasa lelah karna mengalami orgasme berkali-kali, akhirnya dengan cepat Widya tertidur di samping anaknya dengan posisi tengkurap karna pada bagian pantatnya terasa panas oleh tamparan yang ia dapatkan dan juga rasa sakit karna lubang pantatnya telah di perawani.

“maafkan mamahmu ini, nak”

.
.
.

*Bersambung….

Daftar Part